[JONGIN BIRTHDAY PROJECT] Not Identical – haneul88

img-20170123-wa0002

Jongin & Joonmyun || AU, Crime, Dark, family, Brothership || T

Poster by cantikapark

Not Identical

Menjadi seorang pembunuh bayaran. Mungkin jalan tersebut diambil oleh beberapa orang yang memiliiki keahlian beladiri, menembak, atau keahlian lainnya. Seorang pemuda yang tinggal dipinggiran kota Seoul, memilih jalan tersebut. Pemuda itu adalah Kim Jongin, seorang pembunuh bayaran yang sudah menjadi rahasia umum akan bagaimana hebatnya ia. Hari ini, pria itu mendapatkan tugas kembali. Membunuh CEO muda yang kaya raya. Ya…. Sebenarnya Jongin tak mau tahu siapa saja yang akan menjadi sasarannya, namun pria berduit yang menyuruh Jongin memberitahunya tanpa ia bertanya.

Bulan telah merangkak menerangi kegelapan malam atas pantulan cahaya bingtang-bintang di langit. Matahari telah tenggelam dari beberapa jam yang lalu. Jika boleh jujur, satu jam lagi tengah malam datang. Jongin keluar dari persembunyian –rumahnya. Menggunakan jaket hitam dengan topi jaket yang ia tudungkan dan kedua tangan berada di saku celananya, ia berjalan dengan santai dan tenang. Bersiul sesekali dan memberikan kedipan untuk beberapa wanita yang berjalan di dekatnya. Waktunya kini telah tiba. Jongin tersenyum miring, entah itu ungkapan rasa apa sebenarnya.

Sebuah gudang lusuh dan gelap yang Jongin datangi. Ia melangkah memasuki tempat itu dengan mudah. Menurut orang yang menyuruhnya, ia harus membunuh targetnya di tempat itu. Dan kebetulan pria incaran Jongin ada di gudang tersebut malam ini.

Jongin berjalan mengendap-endap penuh waspada dengan pisau di tangan kirinya. Ia hanya sesekali menggunakan pistol, ia lebih senang menggunakan pisau agar bekas kejahatannya bisa ia manipulasi sesuka hatinya. Ketahuilah, ia kidal sebenarnya.

Di ruangan terakhir yang berada di pojok gedung, Jongin mengintip sedikit dari luar. Terlihatlah seseorang  selain dirinya di sana. Aku mendapatkanmu-batin Jongin. Ia memasuki ruangan berukuran sedang tersebut dengan sangat berhati-hati dan tetap waspada. Pria tersebut sepertinya tidak menyadari keberadaan Jongin di dekatnya. Memasangkan sarung tangan lateks pada kedua tangannya dan kemudian merangkul pria itu dari belakang ketika telah sampai di dekatnya. Jongin merangkul pria yang menjadi lawannya ini bukan pada pinggang, melainkan leher dengan tangan kanannya.

Pria yang menjadi target Jongin menahan napasnya sejenak, kemudian semuanya kembali normal seakan tidak terjadi apapun. Hanya saja, orang itu tak lagi sibuk dengan pekerjaannya yang tadi. Ia diam saja.

“Jadi, kau datang ternyata,” bukan Jongin yang mengatakanya, melainkan lawan mainnya.

“Jadi, kau sudah menduga?” Jongin berusaha tetap tenang dan normal.

“Apa kau mengenaliku? Tak merindukanku?” Jongin menggeram pelan. Ia sesungguhnya ingin hari ini berakhir cepat karena ia telah lelah menunggu seharian. Entahlah ini bukanlah dirinya yang biasanya. Namun, pria ini tampaknya ingin bermain terlebih dahulu.

“Tidak, tentu saja. Karena aku tak mengenalmu, apalagi hingga merindukanmu.” Jongin mengangkat bahunya cepat dan pria itu terkekeh mendengarnya.

“Kau masih sama, bersikap cuek dan dingin. Haruskah aku memanggangmu supaya kau tak lagi dingin seperti itu?” Pria itu tertawa cukup keras setelahnya.

“Jangan berlagak kau mengenalku sebelumnya padahal kita baru bertemu hari ini!” Ucap Jongin dengan suara rendah tepat di telinga si pria penuh dengan penekanan tiap katanya dan rangkulannya makin erat, tak peduli jika targetnya itu akan kehabisan napas.

Ah… aku sangat sedih Kai.” Jongin rasanya ingin mengumpat keras-keras. Bagaimana bisa orang lain mengetahui julukan menggelikannya itu. Ia lebih menyukai nama aslinya sendiri – Jongin – dibandingkan nama panggilan yang menggelikan seperti itu.

“Sial!” Jongin memutar pisaunya sesaat kemudian menempatkan ujungnya tepat didepan jantung pria itu.

“Ternyata kau benar-benar tak mengenaliku. Aku…. Aku merindukanmu Jongin, aku kakakmu jika kau lupa.”

Tubuh kai menegang sesaat. “J-Joonmyun?” rangkulannya mengendur. Pria yang ternyata bernama Joonmyun itu memutar tubuhnya, membuat mereka berhadapan dengan jarak yang tak seberapa.

“Kau tak merindukanku? Betapa kau tahu tiap malam aku selalu memikirkanmu? Hanya kita berdua yang tersisa disini Jongin, hanya kita berdua.” Entah mengapa Jongin luluh setelahnya. Kejadian pahit dimasa lalu membuatnya tidak dengan mudah melupakannya.

“Aku juga merindukanmu hyung,” ucap Jongin lemah dengan senyum manis setelahnya.

“Baiklah, maukah kau memulai semuanya dari awal lagi? Mari kita buat hidup kita yang lebih baik. Tinggalkan pekerjaan kejimu ini.” Joonmyun mengusap-usap belakang kepala Jongin.

“Tentu hyung. Tentu. Mari kita buat hidup kita lebih baik” Jongin tersenyum tulus dan lebar, hingga matanya tampak menyipit. Ia merentangkan tangannya mencoba untuk memeluk Joonmyun. Namun tanpa Jongin sadari Joonmyun tersenyum licik dibelakangnya.

Akh

Jongin merintih kesakitan. Kepalanya terangkat untuk melihat Joonmyun dengan tatapan tajamnya. “KAU!”

“Kau terlalu bodoh Jongin!” Joomnyun tersenyum jahat. “Hidupku sudah lebih baik sekalipun hanya tinggal seorang diri. Tak taukah kau betapa tenarnya diriku? Untuk apa aku harus repot-repot menghidupimu hah!

Joonmyun menendang Jongin yang merintih kesakitan dibawahnya kemudian berjalan untuk keluar tempat itu. Akan tetapi ketahuilah, Jongin sudah berpengalaman. Tentu saja ia tak ingin mati sendirian. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Jongin mengambil sebuah pistol kecil dari sakunya dan, dor! Tepat sasaran. Mata kaki Joonmyun.

Jongin berdiri kemudian menghampiri kakaknya yang kesakitan akibat luka dikakinya dengan Napas  pendek-pendeknya. Ia kemudian mengambil pisau yang tergeletak dan menancapkannya tepat pada jantung Joonmyun. See you in the hell Hyung. “Aku tahu kau tak pernah bisa menyayangiku sebagai adikmu. Kuharap dikehidupan seanjutnya kita tidak dilahirkan dalam rahim yang sama.” Jongin berkata pelan namun sarat akan emosi.

Jongin dan Joonmyun, mereka berdua adik kakak, namun mereka tak pernah akur. Kisah kelam masa lalu membuat mereka berdua terpisah. Joonmyun dengan kehidupannya yang mewah dan menyenangkan, Jongin dengan kehidupannya yang buruk dan menyedihkan. Namun yang pasti, Joonmyun dengan beberapa bawahannya memang berencana menjebak Jongin, membuat pemuda yang merupakan adiknya itu musnah dari muka bumi ini supaya ia tak selalu terbayangi ketika malam tiba. Namun sialnya, ia kena batunya. Mereka berdua meninggal, ditempat yang sama, dan diwaktu yang sama. Seperti mereka berdua lahir, diwaktu yang sama dan tempat yang sama. Ya. Mereka adalah saudara kembar namun tak identik.

-Selesai-

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s