[KYUNGSOO BIRTHDAY PROJECT] Miss U

[KYUNGSOO BIRTHDAY PROJECT] Miss U – Cho Fira

1485442102726

‘Aku merindukanmu, Cho Kyura.’
Angin malam berhembus pelan. Bulan tak menampakkan dirinya dan lebih memilih bersembunyi di balik kabut. Seorang lelaki sedang duduk di atas atap apartemennya. Rambut hitam pria tersebut teracak karena tiupan angin yang menerpa wajahnya. Mata bulatnya menyipit, mencoba mencari-cari sinar bulan meski hanya tampak sedikit. Tangannya mengikat kedua lututnya seolah tak membiarkan angin masuk ke dalam tubuhnya. Dia hanya memakai piyama, padahal dia tahu bulan ini semakin dingin mengingat waktu pergantian musim. Ia membiarkan tubuhnya sedikit menggigil. Mencurahkan isi hatinya pada angin berkembus dan menyampaikan pesannya kepada Tuhan. Matanya terpejam, kemudian menghirup banyak udara yang terus berdatangan entah dari mana.


Lama bertahan dengan posisi yang seperti ini, tiba-tiba dia merasakan matanya tertutup oleh kedua tangan dari belakang. Ia bisa merasakan permukaan halus kulit tangan itu dan bentuknya yang panjang. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Ia melepaskan tangannya sendiri yang sedari tadi mengalung pada lututnya, beralih menggenggam tangan mungil itu. Matanya terbuka, kecupan manis mendarat di pipinya menghantarkan rasa hangat dan melancarkan seluruh peredaran darahnya seketika.
“Oppa kenapa tidak memakai jaket?” Kyura bertanya memarahi Kyungsoo. Menarik diri dari belakang Kyungsoo kemudian duduk di sampingnya.
Cho Kyura, gadis cantik berusia 22 tahun tersebut adalah kekasih dari Kyungsoo. Ia adalah aktris yang sedang naik daun berkat kemampuan aktingnya yang cukup bagus.
“Aku bahkan lupa. Aku terlalu sibuk sampai aku lupa memakai jaket.” Kyungsoo memanyunkan bibirnya kesal dan mulai berakting marah meskipun dia tahu Kyura tidak menanggapinya.
“Kenapa?” Kyura memandang manik mata Kyungsoo dalam, menyiratkan perhatiannya hanya pada Kyungsoo.
“Aku memikirkanmu. Aku merindukanmu.” Kyungsoo mengalihkan pandangan matanya dari Kyura, menatap langit lagi seolah ada yang menarik perhatiannya disana.
“Kau sedang berbohong.” Didorongnya bahu Kyungsoo pelan.
“Apa aku sedang berbohong?” Kyungsoo bertanya pada dirinya sendiri, masih mengacuhkan Kyura dan tetap memandang kabut. Perlahan, kabut itu hilang tertiup angin dan menampakkan sinar bulan sebagai gantinya.
“Oppa, tatap aku.” Kyura tahu Kyungsoo sedang tidak berakting. Mata Kyura bisa menatap kejujuran-kejujuran dari Kyungsoo, walaupun dia tahu orang lain tidak ada yang mempunyai kemampuan seperti itu. Hanya Kyura yang bisa melakukannya pada Kyungsoo.
Bibir Kyungsoo mulai bergetar. Kyura memasangkan mantel pada Kyungsoo yang ia bawa tadi sebelum menghampiri kekasihnya. Kyura bukanlah orang bodoh seperti Kyungsoo yang rela mengorbankan waktu tidurnya hanya untuk melamun di atas atap ditambah cuaca yang buruk.
“Kau kedinginan.”
“Kenapa kamu baru pulang sekarang? Ini sudah lewat tengah malam.” Kyungsoo akhirnya mau berbicara dan mulai berani menatap Kyura. Tubuhnya mulai menghangat.
“Syutingku memang selesai lewat tengah malam. Oppa lupa?” Kini berbalik Kyura menggigit bibir bawahnya. Sekarang dia yang kedinginan.
“Aku tahu. Kau sekarang lebih dekat dengan lelaki lain dan melupakanku,” Kyungsoo mengeluarkan isi hatinya.
“Oppa, bukan begitu.”
“Kau sekarang sibuk. Kau selalu pergi saat aku masih tidur dan pulang saat aku sudah terlelap. Selalu seperti itu. Bahkan kupikir kau mulai membuka hatimu untuk namja lain,” ucap Kyungsoo tajam membuat mata Kyura sedikit berkaca-kaca. Kedua mata mereka bertemu. Kyungsoo bisa mengartikan rasa bersalah yang besar dari tatapan mata Kyura.
“Oppa, kau berpikiran terlalu jauh,” kata Kyura. Dia tidak tahu dari mana datangnya setan yang merasuki pikiran Kyungsoo. Pria dengan rambut hitam dan tubuh mungil tersebut hanya diam mematung, menyaksikan gadis manis dihadapannya mulai mengeluarkan air mata. Apa kata-katanya itu tidak keterlaluan?
“Maafkan aku,” sesal Kyungsoo kemudian. Dia mulai bisa mengendalikan emosinya. Jangan lupakan bahwa tangan mereka masih saling berpegangan. Kyungsoo menarik dirinya, memeluk Kyura seerat mungkin yang dia bisa dan menyalurkan kehangatan.
“Tapi kau mulai melupakanku dengan segala kesibukanmu. Kau tahu? Rasanya seperti ingin mati saat mendengar suaramu di radio, di televisi dan di acara mana pun kamu mempromosikan film-mu tapi tidak bisa melihatmu beberapa hari ini.” Kyungsoo mengangkat wajah Kyura yang memucat kedinginan dan air matanya yang tak berhenti mengalir.
“Aku minta maaf. Semenjak aku syuting drama, aku mulai sibuk. Aku menyayangimu Kyungsoo Oppa.”
“Tapi tolong jangan mengatakan bahwa aku melupakanmu, apalagi ketika kau bilang aku mencintai lelaki lain. Bagiku, mencintai Oppa itu sangat bahagia menurutku,” tambahnya lagi.
Kyungsoo menarik napas, “Aku tarik kata-kataku kembali.”
Kyura melepaskan pelukannya dari Kyungsoo dan membersihkan pipinya yang basah. “Aku merindukanmu Oppa.”
Kyungsoo hanya tersenyum. Tangannya beralih mengacak rambut Kyura. Kemudian dia menempelkan tubuhnya menjadi satu dengan Kyura, menutupi tubuh kekasihnya dengan mantel yang digunakannya lalu mengingat Kyura dengan sebuah kehangatan. Berbagi kehangatan.
“Kau belum menghapus make up-mu.” Kyungsoo merarahkan ibu jarinya mengusap eyeliner yang jatuh di bawah kelopak mata Kyura.
Kyura tersenyum. Masih terasa dingin meskipun Kyungsoo mengeratkan pelukannya. “Oppa, ayo masuk.”
“Tidak mau.”
“Wae?”
“Ada yang ingin kukatakan.” Kyungsoo membiarkan kepala Kyura bersandar pada dadanya. Kyura kemudian mendongak untuk menatap wajah Kyungsoo.
“Aku akan ke Beijing besok,” kata Kyungsoo.
“Mwo?”
“Apa kamu lupa?” tanya Kyungsoo.
“Oh, aku ingat kalau kau akan mengadakan konser di Beijing. Apa itu artinya, kita disini untuk menghabiskan malam terakhir Oppa di Seoul?” tanya Kyura. Matanya merajuk. Dia tidak suka ini. Terlalu mendadak untuknya.
“Menurutmu?” Kyura menarik napas. Kyungsoo kemudian menangkupkan kedua pipi Kyura dengan kedua tangannya.
Kyura menurut. Dia hanya menatap mata Kyungsoo, menyalurkan kerinduannya dari sepasang mata hitam bulat tersebut. Kedua mata mereka saling menghipnotis satu sama lain. Lama mereka saling berpandangan, menghantarkan kehangatan pada tubuh mereka masing-masing. Angin malam makin menusuk sekalipun kedua insan itu berbagi mantel. Mereka hanya tidak peduli.

TAMAT

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s