[KAI BIRTHDAY PROJECT] The Hospital Window

1485442762692.jpg

[KAI BIRTHDAY PROJECT] The Hospital Window – yeolliecone

Cast ● Kim Jongin, Do Kyungsoo // Genre ● Angst, Friendship // R ● PG17

HAPPY READING!!!


Sudah dua hari lamanya, Jongin merasa bahwa dirinya adalah seonggok mayat hidup. Hanya berbaring, dan bernafas. Makan sendiri pun tidak mampu. Harus menunggu orang lain untuk sekedar menyuapinya, atau memandikannya.

Jongin lumpuh, benar.

Kecelakaan maut yang menderanya membuatnya dikurung dalam ruangan serba putih ini. Bersama seorang pria lain, yang juga sedang sakit di seberang. Jongin belum tahu pasti siapa orang itu dan kenapa dia bisa di sini. Yang pasti, pria itu sudah lebih dulu ada di bangsal ini sebelum dirinya.

“Rasanya ingin mati saja.” gumam Jongin, dia mulai gila. “Tuhan memang jahat. Tidak membiarkanku mati daripada harus berbaring tak bisa apapun di sini, ahaha” lanjutnya sambil tertawa sengit.

Mendengar Jongin bergumam sendiri, Kyungsoo, orang yang satu ruangan dengan Jongin, membalas, “Kau harusnya bersyukur, bodoh.”

Refleks Jongin menengok, pria di seberangnya masih dengan posisi duduk. Pandangannya lurus menatap keluar jendela. Membuat Jongin setengah geram, “Setidaknya kau masih bisa bergerak. Duduk tenang sambil melihat pemandangan di luar jendela. Sementara aku? Tak bisa apa-apa di sini.”

Kyungsoo diam.

“Tak berguna. Mau mati saja.” lanjut Jongin.

“Semudah itu kau ingin mati?” tanya Kyungsoo, kali ini dia menatap Jongin dengan pandangan kosong. “Mati itu…. Sakit.”

Jongin berjengit, “Memang kau pernah merasakannya?”

“Hampir.” Kyungsoo menjawab enteng, “Dan itu rasanya sakit sekali.”

“Hahaha, siapa namamu?”

“Kyungsoo, Do Kyungsoo. Kau?”

“Jongin, Kim Jongin. Pasien yang lumpuh dan ingin mati.”

Kyungsoo hanya tersenyum simpul.

●●●●

Hari ketiga, dan Jongin masih saja berbaring, sementara Kyungsoo duduk menatap dunia luar lewat jendela tiap terbangun dari tidurnya. Ini membuatnya jenuh setengah mati. Ia ingin keluar juga.

“Kyungsoo-ya?” panggil Jongin. “Bagaimana di luar sana?”

Kyungsoo menaikkan alisnya, “Hm? Memangnya kenapa?”

“Aku…. ingin melihatnya.” jawab Jongin, bernada penuh harap. Pria ini benar-benar ingin keluar.

“Di luar sana, hangat.” balas Kyungsoo. Senyuman terpampang di wajahnya yang gembil. “Banyak anak-anak bermain petak umpet,”

Jongin menutup matanya, membayangkan segala kalimat yang Kyungsoo katakan.

“Langitnya cerah, tidak mendung. Seorang balita menangis di gendongan ayahnya karena habis terjatuh dari sepatu roda. Lucu sekali…” lanjut Kyungsoo. Senyum masih tidak bisa hilang dari wajah pria itu.

Pria yang berbaring itu turut tersenyum, “Aku bisa membayangkannya.”

Kyungsoo menutup jendela, sebelum akhirnya ikut berbaring. “Aku lelah, Jong. Besok aku lihatkan lagi.”

●●●●

Ini sudah hari ke-7, dan Jongin masih saja seperti itu.

Namun, banyak kabar baik yang sudah Jongin terima selama ini. Pertama, dokter mengatakan bahwa lumpuhnya ini tidak permanen. Kedua, mulai senin depan, ia harus melakukan terapi tiap pagi agar otot dan sendi-sendinya dapat berfungsi lagi. Rasanya sudah seperti mendapat cahaya di sebuah goa tak berpintu. Yah, Kim Jongin mendapatkan kembali semangat hidupnya.

“Wow, selamat!” ucap Kyungsoo, memberi tepuk tangan kecil.

“Aku tidak jadi ingin mati. Tak sabar sekali menunggu hari Senin, hahaha!” jawab Jongin dengan nada riangnya. Kyungsoo dapat merasakan bahwa Jongin tengah bahagia sekali. Membuatnya turut senang atas banyak kabar gembira tersebut.

“Jadi Kyung, bagaimana di luar jendela?”

“Tak banyak anak kecil. Hanya beberapa pasang kekasih.” jawab Kyungsoo, pandangannya selalu berbinar memandang keluar.

“Hmm orang pacaran rupanya,” tanggap Jongin. Sedetik kemudian, cengiran iseng ia tunjukkan pada Kyungsoo. “Kau, pumya pacar tidak?”

Bola mata Kyungsoo semakin melebar mendengar ucapan Jongin barusan. Namun, ia dapat membalasnya, “Punya lah.”

Alis Jongin naik sebelah, “Eoh? Cantik tidak?”

“Tak kan kuberitahu. Nanti kau suka.” canda Kyungsoo. Dilanjut dengan kikikan pelan, “Kalau kau, punya pacar?”

Raut muka Jongin tampak sendu, lalu menjawab, “Hm, baru saja diputus karena dia memilih yang tidak lumpuh.”

Dan reaksi Kyungso adalah,

“Pfftt, HAHAHHAHA!”

Ya, tertawa terbahak-bahak sampai perutnya kaku.

“Kenapa kau malah tertawa, ya! Bocah tengik!” amarah Jongin melunjak. Ingin sekali meninju orang yang sedang menertawakannya. Tapi apadaya, Jongin masih lumpuh.

“Perempuan seperti itu, tidak pantas punya pacar,” ujar Kyungsoo setelah tawanya reda. “Setelah kau keluar dari sini, cepatlah cari pacar. Tapi tanyai dulu, terima atau tidak jika kondisimu lumpuh lagi seperti ini.”

Jongin menggeleng, “Kau ini, benar-benar ingin aku di sini tak berdaya tiap hari?”

“Hm, lagipula suster di sini juga cantik. Bodinya sexy.” lanjut Kyungsoo enteng.

“Kalau aku sembuh, mungkin yang aku lakukan pertama kali adalah meninju mukamu itu, Kyung. Lihat saja.”

●●●●

Hari ini, adalah hari yang paling Jongin tunggu. Pukul tujuh pagi, pria itu dibawa ke ruang dokter untuk menjalani terapi penyembuah. Susah memang, Jongin kadang meringis sakit saat mencoba menggerakkan tangannya. Tapi, dia berhasil tujuh puluh persen. Ia sudah mulai bisa menggerakkan tangan kanannya.

Jongin tidak sabar ingin menceritakan perkembangannya pada Kyungsoo. Sebelum ia kemari, teman sekamarnya itu masih terlelap.

“Kalau kau merasa sakit lagi, cepat hubungi kami, oke?” sayup-sayup Jongin mendengar seorang wanita berbicara dalam ruangannya. Ia dapat melihat segerombolan orang berpakaian putih di ruangannya. Tepat mengelilingi ranjang Kyungsoo.

Segerombolan orang putih itu (dokter dan suster-susternya) pada akhirnya keluar, dan membiarkan Jongin masuk. Dibantu dengan suster, dia kembali berbaring di ranjang kesayangannya. Setelah suster pergi, cepat-cepat Jongin menanyai Kyungsoo, “Tadi kau diapakan?”

Pandangan Kyungsoo tampak lurus ke arah luar jendela. Lagi-lagi pandangan kosong, punggungnya bersandar pada ranjang yang dinaikkan. “Disuntik,” jawabnya kemudian. “dan diberi obat baru.”

Jongin sedikit merutuki dirinya sendiri karena tak pernah menanyakan sakit apa teman barunya ini. Ia akhirnya bertanya, “Sakit apa, Kyung? Kau tidak pernah cerita denganku.”

“Nanti kau juga tahu,” jawab Kyungsoo sambil tersenyum kecil. “Sepertinya taman kali ini sepi, Jong. Tidak ada anak kecil, bahkan orang pacaran. Hanya ada air mancur yang menyala sendirian.”

Jongin mengerutkan dahinya bingung. Ia tidak bertanya apapun tentang kondisi di luar.

“Istirahatlah, Jong. Aku juga mau istirahat.” lanjut Kyungsoo sebelum akhirnya mengambil posisi untuk tidur.

●●●●

Keesokan paginya, Jongin mendapati kamarnya ramai. Banyak petugas berpakaian putih di sana. Tidak, tidak karena dirinya yang kenapa-kenapa. Tapi kawannya, Kyungsoo.

Belum sempat membuka mulut untuk bertanya, seorang suster yang melihatnya langsung menghampiri. Memberi senyuman hangat di pagi hari seperti biasa. Suster itu lalu berkata, “Selamat pagi, bagaimana kondisimu?”

Jongin tidak menjawab. Pandangannya hanya terfokus pada tim medis yang membawa ranjang Kyungsoo keluar, dan pria itu… tertutup selimut?

“Mau dibawa kemana Kyungsoo?” tanya Jongin, tidak paham.

Senyuman sang suster seketika menghilang. Wanita itu lalu menjawab, “Pasien baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. Pagi tadi.”

Bibir Jongin menganga kaget seketika. Tak menyangka, dua minggu lebih ia ditemani Kyungsoo di sini, dan dia tiba-tiba pergi. Siapa yang tidak terkejut, kan?

Jongin meminta pindah ke ranjang dekat jendela keesokan harinya. Tempat di mana Kyungsoo melihat keramaian dan merasakan hangatnya sinar mentari, sebelum akhirnya menceritakan bagaimana keadaan di luar pada Jongin. Sekarang, Jongin harus melakukannya sendiri. Berbekal tangan dan punggungnya yang mengalami banyak peningkatan.

Segera ia menyibak tirai dengan tak sabaran. Sorotan mentari mulai terpantul lewat kaca bening, tepat mengenai muka Jongin. Pada awalnya, dia senang bisa merasakan hangatnya matahari. Akan tetapi, pemandangan di luar jendela sungguh di luar dugaan.

Hanya ada tembok lusuh, dengan coretan tangan usil sana-sini. Kotor, bercat dasar hitam dengan pagar kawat runcing di atasnya. Jauh seperti yang Kyungsoo ceritakan setiap ia melihat keluar jendela. Pria ini sampai bergumam sendiri, mengucek matanya, “Mungkin aku salah lihat!”

Setelah Jongin membuka mata, tembok lusuh tetaplah tembok lusuh.

Tak ada taman bermain, anak-anak, air mancur, bahkan orang berpacaran.

Tidak ada sama sekali.

“Selamat pagi, Tuan Jongin. Bagaimana kondisimu?”

“Suster, sebenarnya Kyungsoo sakit apa?”

“Kanker otak, stadium akhir. Bulan lalu, kankernya menyerang saraf matanya. Sehingga, pasien bernama Kyungsoo ini mengalami kebutaan.”

Well, terlambat bagi Jongin untuk mengetahuinya.

– THE END –

Iklan

Satu pemikiran pada “[KAI BIRTHDAY PROJECT] The Hospital Window

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s