[EXOFFI FREELANCE] PROMISE (약속) (Chapter 10)

 Poster Promise (약속)1.jpg

Tittle                : PROMISE (약속)
Author             : Dwi Lestari
Genre              : Romance, Friendship

Length             : Chaptered

Rating             : PG 17+

Main Cast       :Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Chanyeol)

Support Cast   :Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae (Chen), and other cast. Cast akan bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Park Chanyeol adalah pewaris tunggal S&C Group yang baru saja kembali ke Korea setelah sekian lama tinggal di Amerika untuk mengelola perusahaannya, dan juga dalam rangka mencari teman kecilnya Minnie karena janji yang telah dibuatnya sewaktu kecil. Akankah dia dapat menemukannya dan menepati janjinya?

 

Disclaimer       : Alur dan ceritanya murni buatan saya.

Author’s note  : Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat. Sorry for typo. Happy reading.

 

 

 

 

Chapter 10 (Saera’s Story)

 

“Kenapa dengan gadis itu”, tanya Jungsoo setelah Saera tak terlihat lagi di tempat itu.

Mollayo?”, sahut Taeyeon.

“Mungkin ada masalah dengan pasiennya. Karena memang dia selalu berurusan dengan seseorang yang memiliki masalah dengan psikologisnya”, jelas Baekhyun. Ya, itu memang benar, karena memang pekerjaannya adalah seorang Psikiater.

Mereka hanya mengangguk setuju dengan pendapat Baekhyun. Mereka kembali sibuk menikmati hidangan yang tadi disajikan. Park Jungsoo melirik arloji yang melingkar pas di tangan kirinya. Sudah saatnya pembukaan retoran.

“Sudah saatnya restoran dibuka. Apa band mu belum datang Taeyeon-ah?”, tanya Jungsoo.

“Aku akan menghubungi mereka”, jelasnya. Taeyeon kemudian berlalu meninggalkan mereka.

“Ayo kita ke depan”, ajak Jungsoo pada semua orang yang ada di tempatnya berdiri sekarang. Dengan senang hati mereka segera berlalu menyusul Jungsoo.

***

Saera kini duduk tak tenang di kursi belakang sebuah taksi yang tadi dia panggil. Pikirannya tertuju pada orang yang menelfonnya tadi. Dia terus berdoa dalam hati semoga tak terjadi sesuatu yang buruk pada si penelfon. “Ahjussi bisakah anda lebih cepat”, pintanya pada sang supir.

Setelah menganggukan kepala, sang supir segera menginjak pedal gasnya. Dengan hati-hati dia mengemudikan taksinya membelah jalanan kota siang itu. Jalanan siang itu memang cukup padat, hingga mereka harus terjebak macet. Maklum saja hari itu adalah hari minggu, dimana hampir seluruh warga kota libur dari pekerjaannya begitu juga dengan siswa maupun mahasiswanya.

Setelah menyusuri jalan selama hampir satu jam, mereka telah sampai di jembatan Namsan. Taksi yang ditumpangi Saera menepi dan berhenti. “Ghamsamnida ahjussi”, kata Saera sambil membayar tagihannya. Dia segera berlalu keluar dari taksi tersebut. Taksi itu kembali melaju setelah turunnya Saera. Kembali bergabung dengan kendaraan lain di jalan tersebut.

Saera segera mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang tadi menelfonnya. Cukup lama dia mencari, hingga di melihat seorang namja tengah berdiri di pembatas pagar jembatan tersebut. Namja itulah yang Saera cari. Dia segera berlari menghampiri namja tersebut.

Sunbaenim, apa yang kau lakukan?”, tanya Saera pada namja itu.

Namja itu masih terdiam. Dia bahkan kini tengah menatap air tenang yang berada di bawahnya. Membentangkan kedua tangannya dengan kedua mata yang terpejam. Merasakan hembusan angin yang menerpa wajah tampannya.

Sunbaenim, kau baik-baik sajakan?”, kali ini Saera menambah volume suaranya. Dan itu berhasil membuat namja itu menoleh ke arahnya. Saera menatapnya dalam, ketika pandangan mereka bertemu.

“Kau sudah datang Saera. Kau benar-benar Han Saera kan?”, tanya namja itu setelah cukup lama mereka saling menatap.

Ne. Naya, Han Saera”, jawab Saera. Dia memberikan senyum manisnya pada namja itu.

Dari arah lain datanglah tiga orang yang tengah berlari ke arah mereka. Seorang ahjumma paruh baya, seorang ahjussi yang seumuran dengan ahjumma tersebut. Serta seorang namja yang kira-kira berusia diawal tiga puluh tahunan, yang dari penampilannya bisa dibilang ia terlihat seperti seorang dokter atau psikiater seperti Saera.

“Kau tahu, aku benar-benar sangat merindukannmu Saera. Kenapa kau tak pernah datang mengunjungiku?”, namja itu terlihat begitu kecewa saat mengatakannya. Bukan kecewa dengan apa yang ia ucapkan namun kecewa dengan sikap Saera selama ini yang memang tak pernah mengunjungi namja itu.

Saera hanya terdiam mendengarnya. Dia hanya menatap bersalah pada namja itu. Bukan karena dia tak ingin menemui namja itu, namun memang karena orang tua dari namja itu yang melarangnya. Jangankan bertemu, mengirim pesanpun ia tak diizinkan. Alasannya sederhana, orang tuanya tak merestui hubungan mereka.

Bukan karena Saera gadis yang buruk, dia bahkan teramat baik untuk ukuran gadis sebayanya. Tapi karena latar belakang keluarganya yang merupakan seorang firma hukum negara tersebut. Mereka membenci seorang jaksa yang pernah membuat salah satu keluarganya harus mendapat hukuman dari apa yang sebenarnya tak dilakukannya, meskipun jaksa tersebut bukanlah ayah Saera. Tetap saja bagi mereka menjadi besan seorang jaksa adalah kutukan untuk mereka.

“Luhan, apa yang kau lakukan? Cepatlah turun!”, kata seorang ahjumma yang tadi mendekat ke arah mereka. Yang disusul seorang ahjussi dan seorang namja.

“Tidak, aku harus bicara dengan Saera, eomma”, namja itu tetap bersi keras dengan pendapatnya. Dia tetap berdiri diatas pembatas jembatan.

Namja yang datang bersama ahjumma itu mengangguk memberikan intruksi pada sang ahjumma. Ahjumma itu hanya bisa menuruti pemintaan namja dokter itu setelah paham dengan maksud intruksinya.

“Bagaimana kabarmu Saera?”, namja itu kini melayangkan pertanyaannya untuk Saera.

Saera masih terdiam, dia ingin sekali mengatakan betapa ia merindukan namja tersebut. Betapa ia mencintai namja tersebut. Dan juga betapa ia ingin memeluknya, melepaskan semua beban dalam hatinya. Beban yang membuatnya tak pernah bisa mencintai seorang namja dengan benar setelah perpisahan mereka.

“Apa kau hanya akan diam?”, tanya namja itu kembali.

Dan seperti perkataan itu, Saera masih bersi keras menutup mulutnya. Matanya kini mulai berkaca-kata, karena memang dia sedang menahan air matanya sedari tadi.

“Baiklah, kau hanya perlu mendengarku. Aku sangat mencintaimu Saera, sangat. Aku bahkan tak tahu cara bernafas saat kau tak ada disisiku. Apa yang harus aku lakukan sekarang Saera? Haruskan aku menjatuhkan diriku. Aku yakin aku tak akan sanggup bertahan hidup jika kau tak berada disisiku”, namja itu sangat serius saat mengatakannya. Terlihat dari raut wajahnya yang penuh keyakinan, dan juga betapa dia mati-matian menahan air matanya.

“Katakan apa yang harus aku lakukan sekarang Saera”, namja itu kembali berkata, karena Saera tak kunjung bersuara.

Untuk seperkian detik mereka semua saling diam. Tak ada yang ingin mengeluarkan suara. Semua menanti jawaban Saera. Saera sendiri bahkan bingung harus menjawab apa. Dia memejamkan matanya sejenak, membuang nafas sebelum membuka suara.

“Turunlah! Yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah turun. Kita bisa membicarakan ini baik-baik”, kata Saera dengan nada penuh kelembutan. Dia tahu jika namja itu tengah dalam masa pengobatan, karena jika sedikit saja dia membuat kesalah semuanya akan menjadi kacau.

“Baiklah aku akan turun. Tapi berjanjilah satu hal, jangan pernah tinggalkan aku lagi”, namja itu kini yang memohon.

Ne”, Saera berkata sambil mengangguk.

Orang tua namja tersebut bermaksud mendekat, namun Saera mengangkat tangan menyuruh mereka berhenti. Namja dokter yang mengerti maksud Saera menghentikan mereka. Mereka sedikit protes, namun tetap berhenti.

Perlahan-lahan namja itu turun dari pembatas jembatan. Saera berjalan mendekat untuk membantunya turun. Setelah berhasil, namja itu segera memeluk Saera. Melepas semua rindu yang dirasakannya, menyalurkan semua perasaan yang ditahannya.”Aku merindukanmu Saera, sangat”, kata namja itu.

Nado. Kajja”, Saera melepaskan pelukan namja itu lalu menggenggam tangan kanannya.

“Kemana?”, namja itu kembali bertanya.

“Kau akan tahu nanti”, mereka segera berjalan meninggalkan kedua orang tua itu dan juga namja dokter.

“Tunggu, kalian mau kemana?”, tanya namja dokter tersebut.

“Aku akan menghubungimu nanti dokter Nam”, kata Saera yang tetap berjalan beriringan dengan namja itu.

“Kau mengenalku?”, teriak namja dokter tersebut, karena jarak mereka sudah lumayan jauh.

Ne. Dokter Nam Hyun Woon”, Saera juga sedikit berteriak.

“Dia benar-benar mengenalku”, kata namja dokter tadi. Dia bahkan masih termenung memikirkan dari mana yeoja yang bersama pasiennya itu mengenalnya. Dia bahkan tak sadar jika Saera kini telah menghilang menggunakan taksi.

“Kenapa kau membiarkannya pergi dokter Nam”, tanya ahjumma tersebut.

Aish, kenapa aku membiarkannya pergi. Kita harus mengejarnya”, ajak namja dokter tersebut. Namun belum beberapa langkah, ada pesan masuk di ponselnya. Dia berhenti untuk membaca pesan tersebut. ‘Jemputlah kami di Hangang Park, setelah 30 menit’, itu adalah isi pesan tersebut. Yang menjadikan namja itu heran adalah nama pengirim pesan, ia memberinya nama kutu buku.

“Kutu buku. Jadi dia benar-benar, Han Saera yang waktu itu. Astaga, kenapa aku tak mengenalinya”, namja itu terlihat mengingat Saera.

“Kenapa dokter Nam?”, kini giliran ahjussi itu yang bertanya.

“Kau mengenal gadis itu?”, ahjumma itu juga bertanya.

Ne. Dia hobaeku sewaktu di universitas”, jawab namja dokter itu.

“Jadi dia juga Psikiater?”, tanya ahjumma itu kembali.

Ne”, jawab namja dokter itu kembali.

 

***

 

Saera masih terduduk lemas disalah satu bangku di Hangang Park, setelah sekitar 15 menit yang lalu namja yang tadi bersamanya pergi bersama kedua orang tuanya. Dia menghela nafas pelan, menikmati angin sore yang sudah menjelang malam di tepi sungai Han.

Dari arah lain datanglah seorang namja dengan dua gelas minuman ditangannya. Dengan langkah pelan dia berjalan mendekati Saera. Dia melihat Saera tengah memandang sungai Han, membiarkan angin sore menerpa wajah cantik Saera. Dia duduk kemudian disamping Saera. Menyodorkan salah satu minuman yang dibawanya.

“Kau baik-baik saja?”, tanya namja itu.

Saera yang mendengar suara segera menoleh, diterimanya minuman itu. “Emh, aku baik-baik saja sunbaenim”, kata Saera. Bohong, Saera jelas berbohong. Dia bahkan tak menatap wajah namja itu, sat mengatakannya. Hatinya kini tengah gundah, masa lalu yang ingin ia lupakan datang lagi, seolah menambah masalah yang selalu silih berganti menimpanya.

Namja itu hanya membuang nafasnya. Dia kembali meminum minumannya. Dia tahu jika Saera tengah berbohong. “Kau mengenalnya?”, tanya namja itu kembali.

“Luhan maksudmu?”, Saera kembali bertanya untuk memastikan.

Namja itu mengangguk membenarkan pertanyaan Saera.

Ne. Bahkan aku sangat mengenalnya”, Saera tetap tak memandang wajah namja itu saat mengucapkannya. Dia kemudian meminum minuman yang tadi diterimanya.

“Jadi dia yang kau maksud dulu?”, untuk kesekian kali namja itu memberikan pertanyaan.

Eoh”, Saera masih tetap tak memandang namja itu. Dia kembali meminum minumannya.

“Sebenarnya apa yang membuat mereka tak menyukaimu?”, entah sudah berapa kali namja itu bertanya.

Saera baru menatap namja itu setelah mendengar pertanyaan itu. Dia membuang nafasnya, “Alasannya sederhana, karena ayahku adalah seorang jaksa”, Saera kembali menatap sungai Han yang tampak tenang. Lampu-lampu taman bahkan sudah mulai menyala.

“Hanya itu?”.

Saera mengangguk.

“Itu tidak masuk akal. Memangnya mengapa jika kau putri seorang jaksa?”.

“Mereka sangat membenci seorang jaksa, karena dulu salah satu keluarganya harus mendapat hukuman dari apa yang sebenarnya tak dilakukannya”, jelas Saera.

“Tapi itukan bukan ayahmu, Saera”.

“Ya, itu memang bukan ayahku. Tapi tetap saja sunbaenim, itu tak merubah apapun”, Saera kembali membuang nafasnya.

Mereka diam sesaat setelahnya. Menikmati angin sore yang berhembus sepoi-sepoi. Awan yang semula berwarna jingga kini perlahan berubah menjadi gelap. Dan mereka masih betah duduk berlama-lama ditempat itu.

“Sudah berapa lama dia dirawat”, tanya Saera memecah keheningan diantara mereka.

“Ini sudah sekitar dua minggu. Sejak istrinya memilih meninggalkannya, karena dia tak pernah lepas dari bayang-bayangmu”, jawab namja itu.

“Apa istrinya tahu jika dia dirawat?”.

“Ya, orang tuanya sudah memberitahunya. Tapi tetap saja di tak datang”.

“Memangnya dimana dia sekarang?”.

“Dia pulang ke rumah orang tuanya di Beijing”.

“Sebenarnya apa yang Luhan lakukan padanya, bagaimana bisa gadis itu sampai meninggalkannya. Aku tahu gadis itu sangat mencintai Luhan”.

“Entahlah. Mungkin dia sudah tak tahan dengan sikap Luhan, kau tahukan ini sudah tahun ketiga pernikahan mereka. Apa dulu kau belum menyelesaikan masalahmu dengannya?”.

“Seingatku tak pernah punya masalah dengannya. Aku putus baik-baik dengannya. Awalnya dia memang menolak, namun setelah aku menjelaskan semuanya dia menerimanya”, Saera diam sejenak, mengingat-ingat masa lalunya. Ini memang sudah hampir tujuh tahun sejak mereka memutuskan untuk berpisah. “Ah, mungkin kau benar sunbaenim, dia mungkin memang tak tahan dengan sikap Luhan. Luhan memang keras kepala”, lanjut Saera.

Mereka terdiam kembali, tenggelam dalam fikiran masing-masing. Suara dering ponsel Saera terdengar kemudian. Saera segera merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya. “Owh, oppa. Ada apa?”, kata Saera setelah menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.

“Kau tak datang kemari lagi?”, kata orang diseberang sana.

“Bukankah pembukaan restoran sudah selesai?”, Saera balik bertanya.

“Ya, tapi mereka semua ingin melihatmu”.

“Siapa?”.

“Teman bandmu dulu”.

“Bagaimana jika aku menolak?”.

“Owh ayolah Saera. Sebentar saja”.

Saera membuang nafasnya. “Iya, baiklah. Aku akan segera kesana”.

“Kami tunggu”.

Eoh”, Saera kembali memasukan ponselnya ke dalam tas. “Sepertinya aku harus pergi”, kata Saera pada namja itu.

“Emh, pergilah!”, kata namja itu.

“Terima kasih untuk minumannya sunbaenim”, Saera berdiri dan berjalan meninggalkan namja itu, namun baru beberapa langkah dia berhenti ketika mendengar suara namja tersebut.

“Tunggu!”.

Saera menoleh ke arah namja itu. “Ne, sunbaenim. Ada apa?”, Saera kembali bertanya.

“Em, bolehkah aku bertanya sesuatu?”.

Mwoga?”.

“Kau sudah menikah?”.

Saera tersenyum mendengarnya. Itu pertanyaan teraneh yang pernah dia dengar dari namja itu. Bagaimana mungkin dia memberikan pertanyaan seperti itu, hubungan mereka tak terlalu dekat. Bahkan namja itu terkesan tak peduli padanya. “Waeyo?”, Saera kembali berjalan mendekati namja tersebut. “Kenapa kalau aku sudah menikah?”, Saera menatap dalam namja itu.

“Bukan apa-apa, hanya ingin tahu. Jadi jawab saja”.

“Belum, aku belum menikah”.

Namja itu tersenyum mendengarnya. “Baguslah! Kau boleh pergi”.

“Hanya itu?”, Saera kini meniru kata-kata namja itu.

Namja itu menggangguk.

Ck”, dan itu berhasil membuat Saera sedikit kesal. “Aish, seharusnya aku tak menjawabmu, Nam Hyun Woon sunbaenim”, Saera kembali berjalan meninggalkan namja tersebut. “Aku pergi!”, Saera melambaikan tangan meski kini tengah berjalan memunggungi namja tersebut.

Eoh, hati-hati”, namja itu tersenyum. Dia juga melambaikan tangannya meski Saera tak melihatnya.

 

***

 

Saera berjalan pelan memasuki restoran milik Park Jungsoo. Restoran itu sudah tampak sepi, tentu saja pembukaannya sudah berakhir sekitar dua jam yang lalu. Dan juga mereka belum menerima pelanggan hari ini. Dia mendorong pelan pintu restoran tersebut. “Kemana semua orang?”, tanya entah pada siapa. Ruang itu memang tampak sepi, tak ada seorangpun disana.

Saera mendengar suara tawa dari ruangan lain. Dia segera menuju ruang itu, membuka pelan pintu yang menghubungkannya. Dia melihat banyak orang tengah berkumpul dan mengobrolkan sesuatu yang mungkin lucu. Karena memang mereka tak henti-hentinya tertawa. Dia diam sejenak di pintu tersebut, memperhatikan semua orang yang tengah berkumpul di ruang tersebut.

Sejauh ini belum ada yang menyadari kehadirannya. Saera tersenyum kecil kala mengabsen setiap orang yang ada diruang tersebut. Dari ujung selatan sofa yang muat untuk 4 orang, ada sunbaenya Taeyon sang vokalis Nero band. Disebelahnya ada kekasihnya, Park Jungsoo yang tengah merangkul bahunya. Sebelahnya lagi ada Park Minsoo adik dari Park Jungsoo, dia terlihat tengah bersandar pada sofa sambil memaikan ponselnya dan memakan camilan yang ada di meja. Di ujung sofa ada Shim Changmin sang gitaris. Dia juga terlihat sibuk mengobrol.

Di sofa sebelahnya yang muat untuk 2 orang terdapat Baekhyun dan Jongdae. Dia sofa depannya, yang juga muat untuk 4 orang, dari yang paling selatan, ada Lee Jinhwa sang bassis, Choi Youngsoo sang drummer, Kim Jiwon gitaris yang juga baking vokal, dan yang paling ujung adalah Cho Kyuhyun, namja evil yang menjadi pianis band tersebut. Owh, Saera begitu merindukan mereka semua. Rindu saat-saat bernyanyi bersama serta tertawa bersama.

Masih ada satu orang yang belum tersebut. Dia duduk di sofa untuk satu orang dengan gaya angkuhnya. Tapi harus diakui dia memang terlihat keren. Dia tengah meminum segelas wine. Untuk seperkian detik Saera termangu menatapnya. Namja itu kembali meletakkan gelasnya ke meja. Namja itu menyadari kehadiran Saera, karena memang dia tepat menghadap Saera. Mereka saling menatap untuk beberapa saat, sampai namja itu mengeluarkan suara.

“Kenapa kau tak masuk Han Saera-ssi?”, hal itu membuat semua orang menoleh padanya. Saera yang sudah tertangkap basah mengawasi mereka, akhirnya berjalan pelan mendekati mereka.

“Kau sudah datang”, kata Park Jungsoo sambil melambaikan tangan.

Saera bermaksud duduk di sofa yang masih kosong, namun dia berhenti kala seorang namja yang dia kenal bernama Cho Kyuhyun berdiri dan menghampirinya.

“Kau benar-benar Han Saera?”, namja itu berjalan mengelilinginya.

Saera yang masih berdiri cukup tak nyama dengan tingkah namja itu. “Iya, ini aku Saera”.

“Waw, kau terlihat sangat berbeda. Sejak kapan kau suka dengan rambut panjang”, namja itu menyentuh rambut Saera. “Dan lihat, kau bahkan mewarnainya”.

Saera melepaskan tangan namja itu dari rambutnya. “Aku juga tak yakin, kenapa aku mulai membiarkannya sepanjang ini”.

“Dan lagi, kau….. Kau memakai dress. Owh Ra-ya, kau benar-benar menjadi yeoja sekarang”, namja itu kembali bersuara. Dia bahkan membolak-balik tubuh Saera, seakan dia adalah patung pajangan di toko pakaian.

Mwo?”, Saera nampak kaget. Lalu dia pikir selama ini dia bukan seorang yeoja. Owh, namja ini benar-benar. “Lalu kau pikir selama ini aku apa, hah? Kau memang menyebalkan sunbae”, Saera berniat memukul namja itu, namun dengan sigap namja itu menangkap tangan Saera. Menariknya hingga Saera jatuh ke dalam pelukannya.

“Aku merindukanmu Ra-ya. Bagaimana kabarmu?”, namja itu memeluknya dengan erat, menyalurkan rasa rindunya pada gadis itu.

Saera yang telah terperangkap dalam dekapan namja itu hanya terdiam menikmati pelukan itu. Ya, harus diakui dia juga merindukan namja itu, namja yang sering mengganggunya itu.

“Hei, ini bukan reoni mantan kekasih”, gadis yang bernama Kim Jiwon ikut bersuara.

“Jangan pedulikan mereka Ra-ya”, namja itu masih tetap memeluk Saera. “Yak, kenapa kau diam saja. Kau baik-baik saja?”, namja itu merasakan kemejanya mulai basah. Mungkinkan Saera menangis? Namja itu segera melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah Saera. Ya, Saera tengah menangis. “Kau menangis, wae? Apa ada masalah?”, tanya namja itu kembali.

“Bisakah kita hanya bicara berdua?”, Saera berkata dengan suara lirih.

Ne, kajja”, namja itu segera mengajak Saera meninggalkan ruangan itu.

“Kalian mau kemana?”, tanya Jungsoo.

“Hanya sebentar hyung. Aku harus bicara berdua dengannya”, kata namja itu dan segera berlalu meninggalkan mereka semua dengan menggenggam tangan Saera.

Mereka memilih taman belakang restoran tersebut. Mereka duduk di salah satu bangku taman. Saera masih menangis, namja itu meraih bahu Saera dan menyandarkan kepalanya di bahunya. Mengusap lembut lengan Saera. “Wae? Kenapa kau ingin bicara berdua denganku?”, namja itu kembali bersuara.

“Aku bertemu dengannya lagi sunbae”, kata Saera. Dia masih mengeluarkan air matanya.

Namja itu masih diam. Dia masih mengusap lembut lengan Saera. Dia tahu jika Saera kini tengah gundah. Dia juga tahu jika Saera masih memiliki perasaan pada orang yang Saera maksud. Dia bahkan tahu jika Saera tak pernah bisa mencintai namja lain setelah putusnya hubungan itu.

“Kenapa rasanya masih sakit, saat aku melihatnya? Kenapa sunbae? Aku selalu ingin melupakan perasaan ini, tapi kenapa aku tak pernah bisa, kenapa?”, Saera berkata sambil menepuk-nepuk dadanya. Rasanya begitu sakit, seperti ada pisau yang tengah menusuknya.

“Kau harus merelakannya Ra-ya, hanya itu yang perlu kau lakukan. Aku tahu kau masih mencintainya. Tapi kau tahukan, dia sudah meiliki istri sekarang. Apa kau ingin merusak rumah tangganya?”.

“Tidak”, Saera menggeleng. “Aku hanya ingin melihatnya bahagia”. Mereka terdiam untuk beberapa saat. “Dia sekarang dalam masa perawatan, sunbae”.

“Dia sakit?”.

“Emh, tapi bukan tubuhnya yang sakit”.

“Maksudmu dia dirawat di bagian psikologis?”.

Ne”, Saera terdiam kembali. “Dan itu terjadi sejak istrinya pulang ke Beijing. Mungkin istrinya tak tahan dengan sikapnya, kau tahu sendirikan jika dia sangat keras kepala”, lanjut Saera kemudian.

“Jiwon-ah, kenapa kau menyebutnya reoni mantan kekasih, apa mereka pernah berkencan?”, tanya Taeyeon yang kini tengah menikmati segelas wine.

Eoh, kenapa kau menyebutnya seperti itu?”, Park Jungsoo ikut bersuara.

“Iya mereka memang pernah berkencan”, jawab Jiwon singkat. Dia kembali memainkan ponselnya.

Jinjayo! Bukankah sebelumnya dia berkencan dengan Lee Donghae?”, Taeyon kembali bersuara dengan raut wajah tak percayanya.

Ne. Dia berkencan dengan semua orang. Kau juga pernah berkencan dengannyakan, Shim Changmin”, Jiwon menunjuk ke arah Changmin. “Choi Youngsoo juga. Dan aku yakin Jungsoo oppa juga pernah berkencan dengannya”, lanjutnya.

Choi Youngsoo yang duduk disebelah Jiwon menjitak kepalanya. “Paboya! Bagaimana bisa kau menyebutnya berkencan dengan semua orang! Kau pikir dia apa! Jalang!”, Youngsoo kembali mengacak-acak rambut Jiwon. “Pikirkan dulu sebelum bicara”, protesnya.

“Tapi itu benar, Youngsoo-ah. Kalian menonton ke bioskop bersama, makan bersama, jalan-jalan bersama, ke pantai bersama, main ski bersama, bahkan tidur bersama”, jawab Jiwon kembali dengan wajah tak berdosanya.

Ye~, tidur bersama”, jawab mereka serempak. Mereka bahkan terlihat sangat kaget. Namun tidak dengan Jiwon dan juga namja yang tadi menyadari kehadiran Saera pertama kali.

“Kapan kami pernah tidur bersama?”, kata Youngsoo setelah sadar dari rasa terkejutnya.

“Saat kalian pergi ke sauna, bukankah kalian menginap disana?”, jawab Jiwon kembali.

Raut wajah mereka jadi terlihat aneh. Ini bukan tidur seperti yang mereka maksud, namun hanya benar-benar tidur. Apa Jiwon benar-benar sepolos itu. Ah, bukan. Lebih tepatnya dia benar-benar tak mengerti apa itu berkencan. Mereka bernafas lega setelahnya.

Uri Jiwonie, memang imut. Itu bukan kencang sayang, itu hanya persahabatan”, gadis bernama Lee Jinhwa yang juga duduk disebelah Jiwon ikut bersuara. Dia bahkan memegang kedua pipi Jiwon gemas. Jiwon berusaha melepaskan tangan gadis itu. Namun tak berhasil. “Dulu mereka semua belum memiliki kekasih. Karena Saera yang paling cantik diantara kita, jadi mereka mengajaknya berkencan agar mereka tak malu dengan orang lain saat tahu siapa yang tengah bersama mereka. Dan juga Saera lah yang paling tak bisa menolak permintaan mereka semua, kau harus tahu itu, Jiwonie”, gadis itu kemudian melepas tangannya dari pipi Jiwon.

Majayo. Aku memang pernah memintanya jalan-jalan denganku”, Choi Youngsoo membenarkan perkataan Jinhwa. “Ah, Changmin-ah, apa kau juga pernah meminta Saera hal yang sama. Jungsoo sunbae juga?”, lanjutnya sambil melihat kearah Changmin lalu beralih ke Jungsoo.

Changmin mengangguk setuju. “Pernah, tapi seingatku hanya sekali”.

Eopso”, jawab Jungsoo singkat.

Gojima. Bukankah kau yang paling sering mengajaknya jalan-jalan. Awalnya ku kira kalian benar-benar berkencan, tapi ternyata Saera eonni malah memperkenalkan Taeyeon eonni padamu”, Minsoo yang tadi sibuk memainkan ponsel juga ikut bersuara.

“Bukan seperti itu, Minsoo-ya. Kami memang sering jalan bersama, hanya jalan bersama tak lebih. Karena dia sudah menggapku seperti oppanya”, Jungsoo mengacak pelan rambut adiknya.

“Jadi sebenarnya siapa yang benar-benar berkencan dengan Saera?”, Baekhyun yang tadi diam kini ikut bersuara.

“Kau tak tahu? Bukankah kau dari kecil bersamanya?”, Jongdae juga ikut bersuara.

“Tidak. Sejak kita bertengkar dulu, aku tak lagi dekat dengannya. Aku pergi ke Jepang setelah lulus SMA. Dan aku baru bertemu dengannya lagi, setelah mendengar berita kematian ayahnya,” jelas Baekhyun

Jongdae hanya menggangguk paham mendengarnya. Mereka kembali memandang semua orang untuk mendengarkan jawaban dari pertanyaan Baekhyun. Namun mereka hanya saling menatap. Tak yakin dengan jawaban yang akan mereka utarakan.

Eopsoyo”, terdengar suara dari arah lain yang menjawab pertanyaan Baekhyun. Mereka semua menoleh ke arah suara. Itu adalah suara Saera yang baru memasuki ruang yang diikuti oleh Kyuhyun dibelakangnya. “Aku tak berkencan dengan siapapun setelah lulus dari universitas”, lanjut Saera. Dia ikut bergabung dengan mereka dan duduk di sofa untuk satu orang. Yang juga diikuti Kyuhyun yang duduk ditempat semula.

Pandangan mereka kini semua tertuju pada Saera. Mereka menatap tak percaya padanya. “Kenapa kalian menatapku seperti itu? Aku berkata jujur”, kata Saera kemudian yang merasa sedikit tak nyaman dengan tatapan mereka.

“Kau pikir kami akan percaya. Lalu kemana saja kau selama tiga tahun ini?”, tanyaTaeyeon kemudian.

Saera bernafas sejenak, “Ada beberapa hal yang tidak bisa aku ceritakan pada kalian. Geuraeso, berhentilah merasa penasaran dengaku. Kenapa kalian tak menikmati hidangannya?”, Saera mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan Saera”, Taeyeon kembali bersuara.

“Ah, Jiwon-ah. Boghosipeoyo?”, Saera berjalan ke arah Jiwon dan memeluknya, yang dibalas oleh gadis itu. “Nado”, kata gadis itu.

Taeyeon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau semakin imut saja”, kata Saera kembali setelah melepaskan pelukannya. Dia bahkan mencubit gemas pipi Jiwon.

“Sakit, eonni”, protes Jiwon.

Mianhae”, raut wajah Saera sedikit menyesal.

“Gwenchana. Kau terlihat semakin cantik, eonni”, kata Jiwon lagi.

Saera hanya tersenyum. Dia beralih menatap namja yang duduk disampaing Jiwon. “Youngsoo-ya, bagaimana kabarmu? Apa kau mendapatkannya!”, Saera melayangkan tangannya yang disambut oleh Youngsoo.

“Aku baik-baik saja. Kau masih mengingatnya?”, tanya Youngsoo kemudian.

“Tentu. Bagaimana mungkin akau bisa lupa!”, jawab Saera.

“Bagaimana menurutmu?”, Youngsoo memberikan pertanyaan pada Saera.

“Aku tak yakin, tapi kurasa iya”, jawab Saera.

Youngsoo kemudian mengangguk. Saera terkejut mendengarnya, “Jinjayo?”. Youngsoo kembali menggangguk. Saera beralih menatap gadis yang duduk disebelah Jiwon. Mereka yang tak mengerti arah pembicaraan Saera dan Youngsoo, hanya menatap dengan tatapan penuh tanya.

“Sebenarnya apa yang kalain bicarakan?”, Jinwha kini bersuara.

“Jinhwa-ya. Kau sudah terlihat lebih dewasa sekarang. Apa kau sudah menghilangkan kebiasaanmu yang itu?”, Saera kini mengulurkan tangannya pada Jinhwa.

Jinhwa membalas uluran tangan Saera. “Belum sepenuhnya, tapi kurasa aku akan bisa menghilangkannya”, jawabnya, lalu tersenyum ketika mengingat kebiasaan yang Saera maksud.

Saera kini beralih menatap namja yang duduk disamping Minsoo, sang gitaris band. Dia berjalan kearahnya. “Lama tak bertemu Changmin”, Saera melayangkan kepalan tangannya ke arah Changmin yang disambut baik olehnya.

Eoh, Princess Carrot”, jawab Changmin. Dia berkata sambil tersenyum mengingat alasan Saera dipanggil seperti itu. Mereka semua juga tertawa mendengar pernyataan Changmin

“Yak, berhentilah memanggilku seperti itu. Aku sudah menghilangkan kebiasaan itu”, Saera membela dirinya sendiri karena malu mendengarnya.

Gojima. Aku masih melihat kulkasmu penuh dengan wortel”, Baekhyun kini ikut bersuara.

Raut wajah Saera menjadi aneh. Dia ketahuan telah berbohong, “Baekhyun-ah. Seharusnya kau dia saja”, katanya sedikit kesal.

Suara ruang itu terlihat hidup semenjak kehadiran Saera. Mereka saling menyapa ria menyalurkan kerinduan, selama beberpa tahun tak bertemu. Mereka bahkan melayangkan candaan yang tokoh utamanya adalah Saera.

 

to be continue…

 

Hai, semuanya. Saya kembali lagi. Maaf ya, lama updatenya. Lagi banyak kegiatan akhir-akhir ini. Terima kasih untuk yang sudah setia menunggu dan memberikan masukannya.

Mungkin sudah terlambat, tapi akan tetap saya ucapkan. SELAMAT NATAL bagi yang merayakan dan SELAMAT TAHUN BARU 2017. Semoga apa yang tak bisa kita capai ditahun sebelumnya dapat tercapai di tahun ini. Amin.

Tetap tinggalkan jejak kalian. Salam hangat: DWI LESTARI.

 

Iklan

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] PROMISE (약속) (Chapter 10)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s