[EXOFFI FREELANCE] More Than Beautiful – (Chapter 1)

More than beautiful.jpg

MORE THAN BEAUTIFUL

.

.

By Author Rhee

.

.

Main Cast: Byun Baekhyun (EXO) & Oh Yuri (OC/YOU) || Add Cast : Xi Luhan (Ex.EXO), Lee Ji Hyun (T-ara) & many more ||Romance, Marriage-Life || Multichapter || PG-18

Summary : “Kau lebih cantik dari bunga di musim semi, lebih cantik dari pelangi setelah hujan dan lebih cantik dari langit di sore hari.”

Disclaimer : Semua Cast milik Tuhan. Ide cerita murni milik Author, jika terjadi kesamaan karakter atau ide itu murni ketidak sengajaan. Cerita ini adalah fiksi semata, tidak ada maksud untuk menjatuhkan satu karakter… SO… ENJOY READING.. ^^

.

.

= Chapter 1 =

“…Kau harus segera memperkenalkan calon istrimu dan segera menikah!”

Baekhyun tidak henti-hentinya memijat pelipisnya sembari mengumpati sikap neneknya yang sangat kekanakan. Sudah satu jam yang lalu perdebatan antara nenek dan cucu itu berakhir tapi Baekhyun terus merasakan kepalanya berdenyut keras dan serasa akan pecah sekarang juga.

 

“Aaarrrgghh!! Aku menyerah!!” ,teriaknya – membuat seisi manusia yang berada seruangan dengannya melihat dengan tatapan heran serta ketakutan.

 

“Ya!! Kau sudah gila, eoh?!” ,bentak Chanyeol – sahabat sekaligus partner kerjanya di perusahaan – yang terkejut setengah mati dengan sikap Baekhyun tadi. “Jantungku sampai jatuh ke lambungku, bodoh!!”

 

Baekhyun menatap sinis Chanyeol yang memegangi dadanya. Detik selanjutnya Baekhyun berdecak dan membuang pandang dari sahabatnya itu. “Kau kenapa?” ,tanya Chanyeol yang melihat Baekhyun menenggelamkan kepalanya di balik tangannya di atas meja.

 

Baekhyun enggan menjawab walau Chanyeol terus memaksa untuk mendapat jawaban dengan mengulangi pertanyaannya.

 

“Ya Byun Baekhyun!! Aku bertanya! Kau kenapa?!” ,nada Chanyeol semakin meninggi tapi tetap tidak Baekhyun hiraukan.

 

Chanyeol membuang nafas berat, satu yang Chanyeol tau jika sikap Baekhyun menjadi seperti ini – itu pasti karena Baekhyun habis berdebat dengan neneknya. “Kau berdebat dengan nenekmu lagi?” ,tebak Chanyeol.

 

Beekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol, “Heol!! Aku benar?” ,Chanyeol tersenyum mengejek kearah Baekhyun yang langsung di hadiahi dengan sebuah pukulan telak di dahi Chanyeol.

 

“Kerjakan saja pekerjaanmu Chanyeol! Kau mau ku pecat?!” ,ancam Baekhyun.

 

Chanyeol meringis sembari memegangi dahinya, “Ya!! Entah itu jantung atau otakku, apa kau tidak mempedulikannya?! Pecat saja aku jika kau bisa!! Aku bekerja untuk kakakmu bukan dirimu!! Jabatan kita sama sekarang!! Jangan terlalu sombong Byun Baakhyun-ssi!”

 

Baekhyun tertawa keras, lebih terdengar seperti mengeluarkan emosinya sebenarnya. “Awas kau Park Chanyeol! Jika aku menjadi direktur nanti, akan aku pastikan untuk menendang bokongmu lebih dulu!!”

 

“Ya…ya… terserah kau saja. Itupun jika kau menjadi direktur nanti.” ,Chanyeol tertawa setelahnya, berhasil mengejek seorang seperti Byun Baekhyun sangat menyenangkan baginya.

 

Baekhyun hanya bisa bersumpah serapah di hatinya untuk sahabat sedari sekolah menengahnya itu. Chanyeol selalu bisa mengejeknya dengan telak dan membuatnya mati kutu. Hidupnya penuh dengan orang-orang yang selalu bisa menang darinya, entah itu neneknya, kakaknya, Chanyeol ataupun kekasihnya – Lee Ji Hyun.

 

Pikiran Baekhyun kembali menjadi kusut ketika mengingat tentang Ji Hyun. Ji Hyun seperti password yang langsung terekam di otaknya dan membuka ingatannya tentang perdebatan yang selalu terjadi dengan neneknya. Nenek Baekhyun sangat tidak menyukai Ji Hyun dan selalu menolak hubungan mereka. Membuat Baekhyun selalu frustasi.

~

~

“ Tinggalkan gadis murahan itu!! Dia bahkan bukan seorang gadis lagi! Apa dia tidak malu menjalin hubungan dengan pria yang berumur 7 tahun lebih muda darinya?!”

 

“Dia bahkan pernah menjadi selingkuhan hanya untuk uang! Jangan kau harap aku akan merestui kalian! Bahkan sampai di liang kuburku, aku tidak akan pernah merestui kalian!!”

~

~

Semua hinaan yang keluar dari mulut neneknya terngiang jelas di telinga Baekhyun, seperti mendengar neneknya berbicara secara langsung di hadapannya sekarang.

 

“Kali ini apa yang kalian perdebatkan?” ,pertanyaan Chanyeol menginterupsi pikiran kusut Baekhyun.

 

“Menurutmu apa?” ,jawab Baekhyun dengan sinis.

 

Chanyeol menatap iba sahabatnya yang terlihat seperti prajurit kalah perang pada jaman Jonseon itu. “Lee Ji Hyun lagi?” ,Chanyeol menunggu jawaban dari tebakannya dan hanya di hadiahi sebuah anggukan yang tidak terlihat jelas. Chanyeol menghembuskan nafasnya, Chanyeol sangat tau jika perdebatan mereka selalu berawal dan berakhir dengan Lee Ji Hyun – wanita yang mereka kenal 3 tahun lalu, di sebuah club malam yang selalu mereka kunjungi dan menjadi langganan mereka sejak masa kuliah.

 

Kadang Chanyeol juga bingung dengan Baekhyun yang malah menyukai gadis seperti Ji Hyun, gadis itu benar-benar bukan tipe Baekhyun. Setahu Chanyeol, Baekhyun adalah pria yang menyukai tipe wanita yang sangat periang dan lugu tapi entah kenapa saat bertemu dengan Ji Hyun yang merupakan mantan istri kedua dari seorang pengusaha dari China, membuatnya jatuh hati kepada gadis itu.

 

Sebenarnya Chanyeol juga tidak menyetujui hubungan yang terjalin antara mereka, kadang Chanyeol berusaha untuk membuat Baekhyun meninggalkan wanita itu tapi usahanya selalu gagal karena Ji Hyun selalu bisa membuat Baekhyun kembali kepadanya. Seperti saat Baekhyun memergokinya menginap berdua dengan seorang pria di sebuah resort di pulau Jeju, saat itu Baekhyun tau dari Chanyeol yang memang selalu menyelidiki tentang Ji Hyun. Baekhyun langsung memutuskan hubungan mereka tapi tiga hari setelahnya Ji Hyun melakukan aksi nekat dengan mengiris pergelang tangannya yang membuatnya di larikan ke rumah sakit hingga membuat Baekhyun merasa bersalah dan akhirnya memutuskan untuk kembali bersama dengan Ji Hyun. Wanita gila yang mengahalalkan segala cara untuk mendapatkan Baekhyun, menurut Chanyeol. Dan sejujurnya Chanyeol mulai menyerah untuk membuat Baekhyun berhenti bersama wanita itu.

 

“Baek… aku memberitahu ini sebagai sahabatmu.” ,kali ini Chanyeol berusaha kembali untuk membuat Baekhyun meninggalkan wanita itu. “Di dunia ini kau hanya memiliki Nenek dan Kakakmu. Menurutku apa yang selalu di bilang dengan nenekmu itu adalah benar. Nenekmu itu ingin orang-orang baik yang selalu berada di sampingmu.”

 

Baekhyun membuang nafasnya kasar, “Ku harap kau juga tidak menambahkan, Park Chanyeol. Aku juga berharap sebagai sahabatmu.”

 

Chanyeol menyerah. Percuma berdebat dengan Baekhyun, saat ini cinta Baekhyun sudah semakin besar untuk Ji Hyun. Menyuruhnya untuk meninggalkan Ji Hyun tidaklah mungkin lagi saat ini. Hanya jika Ji Hyun yang meninggalkannya yang bisa membuat Baekhyun lepas dari jeratan Ji Hyun.

 

Chanyeol kembali memfokuskan matanya kepada pekerjaannya – mengabaikan Baekhyun tapi Baekhyun yang diabaikan malah tidak terima. “Kau dan nenekku sama saja.” ,ujarnya dengan sinis. “Ji Hyun sudah banyak berubah. Masa lalunya memang tidak bisa di hapuskan tapi aku sangat yakin dia sudah berubah.”

 

“Percayalah. Ji Hyun tidak seperti yang kau dan nenek pikirkan.” ,yakin Baekhyun yang masih tidak di tanggapi oleh Chanyeol.

 

Sebenarnya Chanyeol merasa tidak enak hati melihat sahabatnya itu terlalu berharap banyak dari wanita seperti Ji Hyun. Entah apa yang di pandangan ‘berubah’ bagi Baekhyun dari sosok Ji Hyun yang selalu egois, hidup dengan pergaulan bebas, berpakaian tidak sopan dan senang dengan dunia malam. Tapi sekali lagi, melawan keinginan Baekhyun itu sama saja seperti menebang pohon beringin menggunakan silet.

.

.

Baekhyun sampai di halaman rumahnya dan segera memarkirkan mobilnya, hari ini dia memilih untuk pulang larut. Bukan karena pekerjaan yang menumpuk tentunya, tapi karena dia sedang menghindar untuk bertemu dengan Neneknya. Karena Baekhyun yakin, setelah perdebatan siang tadi pasti Neneknya mengadu kepada Kakaknya dan dia akan kembali di tegur oleh Kakaknya.

 

Baekhyun melangkah seraya melepas kancing teratas kemejanya dan melonggarkan dasinya. “Baru pulang?” ,suara dengan nada datar itu menginterupsi kegiatan Baekhyun.

 

Seketika pupus sudah harapan Baekhyun untuk berbaring dengan tenang di kasurnya setelah mendapati Kakaknya duduk di sofa sembari membaca sebuah dokumen. Baekhyun hanya bisa menghela nafasnya, perdebatan akan kembali terjadi pikirnya.

 

Baekhyun berjalan menghampiri Kakaknya – Byun Dae Chul – dan duduk di sofa bersebrangan dengan Kakaknya. Baekhyun hanya diam dan berencana hanya untuk mendengarkan semua yang Kakaknya akan katakan. Bukan… bukan karena Baekhyun seorang pendengar yang baik atau seorang adik yang patuh tapi Baekhyun berharap setidaknya Kakaknya akan cepat menyelesaikan pembahasan yang tidak akan ada ujungnya itu.

 

Hampir 3 menit Baekhyun menunggu tapi Kakaknya tidak juga kunjung berkata apapun, Dae Chul hanya menatapnya dengan pandangan sengit. Baekhyun tau jika dirinya saat ini salah karena selalu melawan dan tidak pernah mendengarkan, tapi… hei! Apa kalian pernah jatuh cinta? Pasti kalian akan memperjuangkannya bukan?

 

“Hyung… katakanlah, aku akan mendengarkan.” ,ujar Baekhyun pada akhirnya menyerah.

 

Dae Chul tersenyum meremehkan, “Bahkan dirimu saja sudah jenuh.” ,gumamnya yang masih bisa di dengar jelas oleh Baekhyun. “Jujur Baekhyun. Aku mulai kehilangan kesabaran untuk menghadapi sikapmu.”

 

Baekhyun membuang pandangannya dari Dae Chul, mencoba mengabaikan Dae Chul yang saat ini sedang emosi. “Apa tidak bisa kau menuruti keinginan Nenek? Kita hanya memiliki dia sekarang, Baekhyun. Dia yang merawat kita sejak orang tua kita meninggal 16 tahun yang lalu.”

 

Hati Baekhyun serasa jatuh kedasar jurang saat mendengar kembali perkataan Dae Chul. Memang benar, selama ini Neneknya yang merawat dirinya dan Dae Chul setelah orang tua mereka tiada. Tapi kembali pada ego Baekhyun yang berpikir bahwa walaupun Neneknya yang merawatnya, Neneknya tidak bisa melarang hati Baekhyun untuk menyukai Ji Hyun dan memilihnya.

 

“Aku tidak pernah lupa itu, Hyung.” ,nada Baekhyun meninggi. Mungkin karena emosinya yang mulai terpancing.

 

Dae Chul meletakan dokumen yang dipeganginya diatas meja dengan kasar, menyebabkan dentuman yang lumayan keras. “Kalau kau tidak lupa, mengapa masih saja kau egois dan selalu melawan?!”

 

“Aku egois?! Kau dan Nenek yang egois, Hyung. Kalian selalu menyuruhku untuk menuruti semua permintaan kalian.”

 

“Permintaan yang mana?!” ,Dae Chul semakin meninggikan suaranya. “Coba kau sebutkan permintaan yang mana yang kau maksud?!”

 

Dae Chul mengatur deruan nafasnya, mencoba meredam emosinya. “Nenek bahkan tidak pernah marah dengan kebiasaan burukmu dari semasa kuliah, pergi ke club malam, mabuk, berkelahi, membuat onar. Apa yang selalu diminta oleh Nenek, eoh?”

 

Dae Chul melihat Baekhyun yang menundukkan kepalanya, “Tidak pernah ada satu pun permintaan dari Nenek kepadamu, Byun Baekhyun! Tidak pernah ada!” ,tekan Dae Chul. “Dan sekarangpun, saat dirinya memiliki permintaan kepadamu – itu untuk dirimu sendiri, demi kebaikanmu.”

 

“Lalu… bagaimana dengan diriku, Hyung? Apa menurutmu… cintaku kepada Ji Hyun bukan kebaikan untukku? Apa hatiku tidak kau pikirkan juga?!”

 

“Nenek, kau. Apa kalian memikirkan sakitnya hatiku saat kalian selalu mengatakan bahwa Ji Hyun bukan wanita baik?! Kalian menghina Ji Hyun, itu tidak membuat dirinya sakit tapi diriku, Hyung!” ,sentak Baekhyun.

 

Kini emosi Dae Chul sudah mencapai puncaknya, jujur Dae Chul juga merasa lelah saat Neneknya mengatakan bahwa dirinya kembali berdebat tentang hal ini. Bahkan Dae Chul juga pernah meminta Neneknya untuk membiarkan Baekhyun bersama Ji Hyun, walau dia sendiri tidak begitu menyukainya. Tapi mengubah pemikiran Neneknya juga sangat sulit, sifat keras kepala Neneknya itu yang sekarang juga menurun pada Baekhyun.

 

Dae Chul berdiri dari duduknya, “Kau bodoh?! Semua yang di lakukan Nenek itu untuk kebaikan dirimu!! Karena dia memikirkanmu!! Demi Tuhan Byun Baekhyun!! Sebenarnya apa isi otakmu?!” ,teriak Dae Chul.

 

Sung Eun – istri dari Dae Chul keluar dari kamarnya setelah mendengar teriakan murka dari suaminya. Dia menghampiri Dae Chul yang tengah berdiri dengan wajah merah. Sung Eun mengusap lembut punggung Dae Chul, mencoba menenangkan suaminya.

 

Baekhyun yang juga tersulut emosinya mengikuti bangkit dari duduknya. “Memikirkanku?! Hal mana yang kau sebut memikirkanku, Byun Dae Chul?!”

 

Sung Eun membulatkan matanya, menatap tak percaya kearah Baekhyun yang bertindak tidak sopan dengan menyebut nama Kakaknya tanpa embel-embel Hyung. Sementara Dae Chul? Jangan di tanyakan lagi, hari ini mungkin adalah hari terakhir dirinya duduk di kursi direktur karena dia bertekad untuk membunuh adiknya saat ini juga.

 

“Byun Baekhyun!!” ,suara serak itu bergema tegas di antara mereka, menginterupsi tatapan tajam yang terjadi antara kakak beradik itu. “Mana sopan santunmu?!” ,bentak Neneknya – Ny. Kwon Bo Yoon.

 

Baik Baekhyun dan Dae Chul pun akhirnya menurunkan pitamnya setelah melihat Nenek mereka berada di ujung anak tangga. Melihat mereka dengan tatapan sedih dan marah yang bercampur menjadi satu tatapan.

 

“Ini sudah keseribu kalinya, Byun Baekhyun! Kau membentak, memaki, menuduh semua keluargamu karena gadis murahan itu!” ,habis sudah kesabaran neneknya kali ini. Mungkin setelah ini Baekhyun akan resmi di pecat menjadi cucunya dan di tendang keluar dari rumah.

 

“Aku lelah dengan sikapmu! Dengan sikap kalian berdua!” ,Dae Chul melihat neneknya yang juga sedang menatapnya, dan setelahnya Dae Chul kembali menundukkan kepalanya. “Apa ada yang salah dari caraku mendidik kalian?! Yang satu tidak tau sopan santun dan yang satu lagi tidak pernah bisa bersabar! Aku menceritakan semua ini kepadamu agar kau bisa membantu, Byun Dae Chul! Bukan malah berteriak kepada adikmu!”

 

Kepala Dae Chul kembali menunduk semakin dalam, menyesali perbuatannya. “Apa yang harus ku katakan kepada orang tua kalian saat aku bertemu dengan mereka nanti?!”

 

Sung Eun menghampiri Nenek mertuanya itu, “Nek, jangan bicara seperti itu.” ,ucapnya dengan lembut.

 

Nenek Bo Yoon berjalan ke salah satu sofa, di bantu oleh Sung Eun dan duduk di salah satu sofa single di sana. Sepersekian detik tidak ada suara dari manusia yang berada di sana. Baekhyun dan Dae Chul hanya menunduk dan menyesali perbuatan mereka, setidaknya itu yang Dae Chul rasakan. Sedangkan Baekhyun? Dirinya memang menyesali ketidak sopan santunannya kepada Kakaknya, tapi tidak dengan dirinya yang memperjuangkan Ji Hyun. Keras kepala sekali bukan?

 

“Aku sudah memutuskan…” ,suara Nenek Bo Yoon menginterupsi keheningan di ruang keluarga itu. “…maaf jika aku harus mengambil tindakan sepihak tapi ku pikir ini yang terbaik.”

 

Baik Baekhyun dan Dae Chul pun mulai dihantui rasa penasaran dengan perkataan Neneknya, sulit di tebak apa yang akan di lakukan oleh Neneknya.

 

“Aku akan memberikan Seed Power Corp kepada Dae Chul.” ,kali ini keputusan Neneknya berhasil membuat Baekhyun terkejut setengah mati.

 

Baekhyun menatap Neneknya yang hanya diam dengan wajah datarnya, “Nek, Itu tidak adil! Aku juga cucumu!” ,protes Baekhyun.

 

“Dan kau Baekhyun…” ,Nenek Bo Yoon tidak mempedulikan protes dari Baekhyun. “Aku akan mengirimmu ke Jepang.”

 

Kali ini bukan hanya Baekhyun, tapi Dae Chul dan Sung Eun yang sedari tadi hanya mendengarkan juga ikut terkejut. Dae Chul tidak mengerti dari mana ide Neneknya itu berhasil di dapatkannya, mengirim Baekhyun ke Jepang? Itu bukan hal baik bagi Dae Chul ataupun Baekhyun. Jika itu terjadi, mungkin hubungan mereka tidak akan pernah membaik.

 

“Nek, itu berlebihan –“ ,sanggah Dae Chul.

 

“Jangan ikut campur, Byun Dae Chul!” ,bentak Nenek Bo Yoon memutus perkataan Dae Chul. “Kau bisa pergi bersama gadis itu, aku akan mengizinkannya. Dan disana kau bisa mencari pekerjaan dan hidup berdua dengan gadis itu sesuka hatimu.”

 

Baekhyun tersenyum getir, jantungnya kini terasa seperti terlindas sebuah truk bermuatan 10 ton. “Jadi… Nenek membuangku?” ,tanya Baekhyun dengan suara lirih.

 

Nenek Bo Yoon bangkit dari duduknya, berniat meninggalkan tempatnya sekarang. “Bukankah itu maumu? Hidup bersama gadis itu?”

 

Kini nafas Baekhyun seperti berada di pangkal tenggorokannya, terasa tersendat di pankreasnya. “Aku mengizinkanmu untuk hidup bersama gadis itu, tapi aku tidak mengizinkanmu untuk menggunakan hartaku untuk hidup bersama gadis itu.”

 

Suara dingin dari Neneknya membuat Baekhyun seperti kehilangan nyawanya. Ini pertama kalinya dalam hidup Baekhyun, mendapati sang Nenek berkata begitu dingin kepadanya dan terlebih tidak mau menatapnya. Walau sering berdebat tapi Neneknya selalu memberikan kehangatan, kali ini sangat berbeda.

 

Nenek Bo Yoon segera pergi meninggalkan Baekhyun yang masih membatu di tempatnya dengan mata memerah. Sedangkan Dae Chul dan Sung Eun hanya bisa menatap iba kepada Baekhyun. Ini pertama kalinya mereka melihat Nenek Bo Yoon begitu marah kepada Baekhyun, selama ini semua kesalahan Baekhyun tidak pernah begitu di pedulikan oleh Neneknya. Mungkin itu yang membuat Baekhyun menjadi anak yang keras kepala dan manja.

 

-o0o-

 

Yuri berdiri di depan meja kasir dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya,baginya pemandangan di hadapannya begitu indah walau tidak bagi orang lain. Mungkin orang yang melihatnya akan berkata bahwa dia orang gila yang tersenyum pada punggung seseorang. Ya… tapi itulah yang sedang di lakukan oleh Oh Yuri di minggu pagi ini, melihat salah satu karyawan café Ibunya yang sedang membersihkan kaca café.

 

“Luhan Oppa… bisa bantu kami?”

 

Seketika senyum di bibir Yuri menghilang saat mendapati sekumpulan gadis yang sangat Yuri tau adalah seorang anak sekolah menengah memanggil Luhan – pria yang di perhatikannya sedari tadi.

 

Luhan tersenyum seraya berjalan menghampiri mereka yang duduk tidak jauh dari kaca yang sedang di bersihkannya. Entah apa yang di minta oleh para gadis sekolah itu, tapi Luhan sangat serius menanggapi mereka.

 

Aigoo… lihat para gadis tidak tau malu itu!” ,umpat Yuri. “Jika aku adalah orang tua mereka, akan aku pastikan mereka menjadi biarawati seumur hidup mereka.”

 

“Seharusnya Ibu juga melakukan itu padamu.” ,balas adik Yuri – Oh Sehun yang sedari tadi melihat tingkah Kakaknya yang selalu sama sejak 6 bulan yang lalu, sejak pria yang bernama Luhan itu bekerja di café Ibunya.

 

Yuri menatap sinis Sehun, “Urus saja kulit pucatmu itu. Beri pewarna atau apapun agar tidak terlihat menyeramkan!” ,balas Yuri ketus.

 

Yuri kembali menatap Luhan yang masih asik dengan kumpulan gadis itu, sesekali bercanda dan tertawa – membuat Yuri selalu menyumpahi kumpulan gadis itu agar wajah mereka di cakar oleh serigala saat pulang nanti.

 

Sehun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Noonanya yang berumur dua tahun lebih tua darinya itu. “Apa gunanya menyumpahi mereka, Noona? Luhan Hyung tetap tidak akan melirik wanita setengah matang seperti dirimu.”

 

Kali ini ejekan Sehun berhasil mendapatkan pukulan keras di kepalanya, “Ya!! Noona!!” ,teriak Sehun kepada Noonanya yang menatapnya sinis.

 

“Apa? APA?!” ,tanya Yuri dengan nada tinggi.

 

Sehun hanya membuang nafasnya kasar, “Jika kau menjadi perawan tua di sisa hidupmu maka aku yang akan tertawa paling keras!” ,umpat Sehun.

 

“Terserah kau saja, bodoh!” ,tanggap Yuri.

 

Sehun kembali memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit sedangkan Yuri mulai tidak mempedulikan pemandangan akan Luhan yang berkumpul dengan gadis-gadis itu dan masuk kedalam dapur. Dia memilih untuk membuang sampah, setidaknya dia tidak perlu melihat Luhan yang sedang tertawa dengan gadis-gadis itu ataupun melihat adiknya yang selalu mengejeknya.

 

Yuri keluar dari dapur sembari membawa tiga kantung berukuran sedang berwarna hitam, menyeretnya keluar. “Yuri-ssi… mari ku bantu.” ,ujar Luhan yang mendapati Yuri sedang berdiri di depan pintu café dengan tiga kantung yang cukup berat.

 

Yuri hanya memutar matanya malas, “Kau kan sedang ada pelanggan, urus saja pelangganmu itu.” ,ujar Yuri dengan dingin.

 

“Aku sudah selesai dengan mereka. Mari ku bantu.” ,Luhan menarik dua kantung yang di seret oleh Yuri dan mengangkatnya, lalu dengan segera membawa keluar menuju kotak sampah di sebelah cafénya. Walau sedikit kesal tapi akhirnya Yuri tersenyum ketika mengetahui Luhan – pria yang menjadi incarannya itu memperhatikannya, atau itu setidaknya hanya perasaan Yuri saja.

 

Luhan memang pribadi yang sangat baik dan ramah kepada semua orang, di tambah dengan wajahnya yang tampan serta tampilannya yang selalu terlihat maskulin, membuatnya menjadi sosok idaman setiap gadis. Yuri salah satunya. Walau terlihat seperti wanita tomboy, tapi Yuri tetap menyukai pria-pria tampan seperti Luhan.

 

Yuri hanya tersenyum lebar nan bodoh saat mengikuti Luhan dari belakang, mungkin bukan bodoh lagi namanya saat diri kalian tersenyum lebar dengan menunjukkan deretan gigi kalian. Luhan menempatkan sampah di bak besar, lalu segera meraih kantung sampah yang di bawa Yuri. “Apa masih ada lagi?” ,tanya Luhan pada Yuri.

 

Bukan menjawab, Yuri malah hanya menatap Luhan tanpa berkedip dan jangan lupakan senyum idiotnya itu. Luhan menautkan alisnya saat melihat ekspresi wajah dari Yuri yang bisa di bilang menjijikan. “Apa… ada sesuatu di wajahku?” ,tanya Luhan ragu.

 

Yuri menggelengkan kepalanya cepat dan masih tersenyum lebar, “Sempurna.” ,gumam Yuri yang sangat jelas sekali.

 

“Hah?”

 

Yuri tersadar dari lamunan bodoh yang menampar harga dirinya itu, bagaimana bisa dirinya begitu bodoh menyebut Luhan ‘sempurna’? Air wajah Luhan yang sedikit kebingungan dan mungkin sekarang menganggap Yuri adalah makhluk aneh membuat Yuri terus merutuki kebodohan otaknya yang bekerja di luar kendalinya itu.

 

Yuri membuang pandangnya dari Luhan dengan seraya mengedarkan pandanganya ke kanan dan ke kiri, mencari suatu alasan untuk memperbaiki kebodohan spontannya itu. “Maksudku…” ,Yuri masih memikirkan alasan tepat dan logis. Jangan sampai pria incarannya ini benar-benar bilang bahwa dia adalah gadis aneh.

 

“Maksudku…” ,Luhan menatapnya dengan tatapan yang masih sama – bingung dan… eerrr, entahlah apa. “Kau membuang sampahnya dengan sempurna!”

 

‘Oh Ayolah Kim Yuri!! Bahkan seekor kutu pun lebih pintar dari dirimu!’ ,umpat Yuri dalam hati.

 

Yuri masih menatap Luhan sembari menyumpahi dirinya yang jika akan mendapat sebuah catatan hitam dari Luhan, maka dia akan benar-benar mengirim dirinya sendiri menjadi biarawati.

 

Luhan tertawa setelah sepersekian detik terdiam dengan wajah bingungnya, tawa yang lumayan lebar walau tidak mengeluarkan suara yang keras. Kalian harus bayangkan betapa tampannya dia saat tertawa lepas seperti saat ini. Bahkan jika otak bodoh Yuri betindak di luar kendali lagi dengan meraih ponsel Yuri dan memotret Luhan itu adalah tindakan yang benar sekali.

 

“Benarkah?” ,ujar Luhan setelah menyelesaikan tawanya. Yuri hanya mengangguk dan Luhan kembali tertawa setelahnya. “Terima kasih, Yuri-ssi. Ayo kembali kedalam, cuaca sangat terik.”

 

Cuaca memang sedang terik tapi berada di dekat Luhan membuat udara begitu sejuk bagi Yuri. Berlebihan memang, tapi itu adalah hal wajar karena jantung Yuri berdetak lebih cepat dua kali lipat bahkan saat hanya melihat punggung Luhan.

 

“Oh. Yuri-ssi.” ,panggil Luhan seraya memutar tubuhnya kembali menghadap Yuri.

 

“Ya?”

 

Luhan merogoh saku depan sebelah kiri di celananya, mengeluarkan kertas berbentuk persegi panjang yang terlipat menjadi dua. “Aku memiliki tiket ini.” ,ujar Luhan seraya menyerahkan kertas itu ke pada Yuri.

 

Yuri menerimanya dengan rasa penasaran, “Ini apa..?”

Seketika mata Yuri membulat saat melihat tiket yang di berikan oleh Luhan tadi, “YA TUHAN!” ,pekik Yuri. “Dari mana kau…?!!!” ,teriak Yuri.

 

Luhan tersenyum melihat Yuri yang terkejut, “Bagaimana kau bisa mendapatkan tiket ini?” ,tanya Yuri setelah mencoba menetralkan keterkejutannya itu.

 

“Dari temanku.” ,jawab Luhan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Dia tau aku menyukai pameran foto seperti ini jadi dia memberikanku tiket ini, dia memberikanku dua tiket. Aku ingat jika kau kuliah di jurusan fotograffi jadi aku berniat untuk memberikan tiket ini kepadamu.”

 

“Untukku?! Benarkah?!” ,mata Yuri berbinar saat ini, membuat Luhan tersenyum kembali. “Wah… ini adalah pameran mahal, kau tau? Temanmu itu benar-benar kaya sekali ya?”

 

“Kau mau pergi bersamaku?”

 

Yuri membatu di tempatnya sesaat setelah mendengar tawaran Luhan. Bahkan matanya tidak bisa beralih dari wajah tersenyum Luhan, dia hanya mencekram erat kertas tiket itu. Yuri berpikir tentang adanya kelainan pada jantungnya karena rasanya sekarang jantungnya berdetak di pangkal tenggorokannya. Dan jangan lupakan udara yang menjadi sedingin malam pertama turun salju di musim panas ini, bahkan tangannya terasa kaku seperti baru menyentuh salju selama berjam-jam.

 

Apa yang menghipnotis Yuri sebenarnya? Kakinya terasa di lem, mulutnya seperti di ganjal oleh besi dan terus menerus menganga, dan matanya terkunci pandangan Luhan. Sedikit berlebihan mungkin, tapi percayalah selama 20 tahun baru kali ini Yuri mendapatkan tawaran kencan – mungkin.

 

“Yuri-ssi…” ,panggil Luhan dengan melambaikan tangannya di depan wajah Yuri.

 

Yuri mengerutkan keningnya, dia bersumpah kali ini akan meminum air suci dari kuil di ujung dunia agar otaknya tidak selalu membeku dan membuatnya bertingkah bodoh dengan mulut menganga yang lebar.

 

“Kau tidak mau, ya?” ,gumam Luhan pelan dengan nada kecewa.

 

“Tidak!” ,seru Yuri dengan teriakan cukup nyaring yang mengundang beberapa mata yang lewat dekat mereka. “Aku mau!!” ,tambahnya dengan semangat.

 

Yuri tersenyum lebar – bahkan sangat lebar – senyum ala lima jari yang sangat di benci oleh Sehun. Menurut Sehun senyum itu adalah senyum untuk orang yang memiliki kelainan otak sejak lahir – idiot.

 

Luhan terkekeh melihat Yuri, entahlah – Luhan selalu merasa senang melihat reaksi spontan dari Yuri yang tidak bisa di bilang menarik atau malah sangat buruk. Tapi sejak melihat Yuri saat dirinya mulai bekerja paruh waktu di cafe milik orang tua Yuri dan mengenal Yuri yang berkepribadian lucu, sangat menarik perhatian seorang Luhan.

 

Luhan memasukkan kedua tangannya kedalam saku, “Baiklah, akan aku susul rabu sore pukul 7 malam. Kau harus izin dengan Ibumu.”

 

Yuri mengangguk dengan cepat dan bersemangat, berlebihan sekali Oh Yuri ini. Untung saja tidak ada adik sekaligus musuh abadinya, jika tidak maka Yuri dapat di pastikan akan menjadi bahan ejekan adiknya itu selama sebulan penuh.

 

–o0o–

 

Baekhyun duduk di salah satu kursi bar yang memang selalu di tempatinya saat memasuki club malam langganannya.

 

“Kau datang?” ,tanya salah satu seorang bartender yang berada di depan Baekhyun. Baekhyun hanya mengangguk, “Sendiri?” ,tanya sang bartender lagi.

 

“Aku sudah menghubungi Chanyeol, mungkin sebentar lagi dia akan datang. Hyung, bisa berikan aku Whiskey?”

 

“Whiskey? Tumben sekali?” ,bartender itu langsung mengambil gelas dan dengan ahli menaruh whiskey kedalam gelas dan memberikan beberapa campuran lain ke dalam gelas. Baekhyun hanya memperhatikan dari tempatnya. “Kau bawa mobil?” ,sang bartender menyerahkan segelas whiskey yang di raciknya kehadapan Baekhyun.

 

Baekhyun mengambil gelas itu dan meminumnya dalam sekali tegak, sedikit mengernyit karena rasa dingin yang menyengat memasukin tenggorokannya dengan kasar. “Bawa.” ,jawab Baekhyun setelahnya.

 

“Satu lagi, Chen Hyung.” ,pinta Baekhyun kembali menyodorkan gelas kosong ke arah sang bartender yang melihatnya sedari tadi.

 

Chen – sang bartender – mendesahkan nafasnya, “Baekhyun-ah, jangan terlalu banyak minum, kau menyetir sendiri. Lagi pula kau tidak pernah memesan whiskey sebelumnya.”

Baekhyun mengusap wajahnya gusar, “Kumohon jangan bertanya, Chen Hyung.”

 

Chen diam dan menuruti permintaan Baekhyun untuk membuatkannya whiskey lagi, setelah satu gelas selesai kembali, Baekhyun kembali menegaknya cepat dan sampai habis. Dan kembali memberikan gelas kosong untuk di isi kembali oleh Chen. Chen tidak menanggapi kali ini, dia memilih diam dan menatap Baekhyun yang menurutnya sedang dalam kondisi terburuk.

 

“Hyung~” ,rengek Baekhyun sembari menunjuk gelas memakai dagunya.

 

Chen berdecak, “Kau ini kenapa?”

 

Baekhyun memejamkan matanya, entah mengapa setiap ada orang yang bertanya kenapa padanya malah berhasil membuatnya merasa panas di hatinya.

 

“Dia bertengkar dengan Neneknya dan bahkan di usir – bukan dari rumahnya saja tapi dari Korea. Oh… Satu lagi! Dia dikeluarkan dari daftar ahli waris.” ,Chanyeol menginterupsi keheningan yang terjadi di antara Baekhyun dan Chen. Chanyeol menempatkan dirinya duduk di samping Baekhyun yang menatapnya agak sedikit terkejut – bagaimana Chanyeol tau?

 

Mengerti dengan tatapan Baekhyun, Chanyeol pun melanjutkan. “Sung Eun Noona menelponku.”

 

Baekhyun membuang wajahnya dan menatap kedepan, sejenak dia berpikir jika menelpon Chanyeol bukanlah tindakan yang tepat saat ini. Dia juga termasuk salah satu yang ikut bagian dalam misi memisahkan-Ji Hyeon-darinya.

 

“Ji Hyeon lagi ya?” ,tanya Chen yang melihat Baekhyun sedang menatap kosong ke depan.

 

Baekhyun mendengar, tapi dia lebih memilih untuk diam dan tidak merespon. Chen cukup tau beberapa masalah yang terjadi pada Baekhyun, karena memang sejak awal Baekhyun kenal dan bahkan jatuh cinta pada dunia malam – orang pertama yang di kenalnya adalah Chen dan hal itu yang membuat Baekhyun menjadi lebih dekat dengan Chen.

 

Chen menghela nafasnya, “Kurasa ini lebih dari keseribu kalinya.” ,ujarnya.

 

“Dan ini yang terparah.” ,timpal Baekhyun.

 

Chen menganggukkan kepalanya, menyetujui hal yang di ucapkan Baekhyun. “Lalu apa yang akan kau lakukan?”

 

“Memangnya apalagi, Hyung?” ,Chanyeol membuka mulutnya setelah diam beberapa saat. Baekhyun seperti tidak menanggapi kehadiran Chanyeol, “Dia pasti akan memilih Ji Hyeon di banding Neneknya.”

 

“Ya! Park Chanyeol!” ,sentak Baekhyun.

 

“Chanyeol-ah…” ,tegur Chen. “Apa kau sudah menceritakan ini pada Ji Hyeon?”

 

Baekhyun menurunkan pitamnya saat mendengar Chen bertanya, bahkan ini sudah 3 hari Baekhyun tidak menghubungi Ji Hyeon. Baekhyun pikir akan lebih mudah untuknya berpikir jika Ji Hyeon tidak tau mengenai ini tapi hanya kebuntuan yang di terimanya sampai saat ini.

 

Baekhyun akhirnya menggeleng pelan, sedikit ragu untuk menjawab.

“Kurasa tidak perlu bercerita dengan Ji Hyeon, dia pasti tidak akan mau menerima pria miskin.” ,ejek Chanyeol yang langsung di hadiahi pukulan di kepalanya oleh Chen.

 

Chen mengumpat tanpa suara kepada Chanyeol yang menatapnya protes karena pukulan Chen yang cukup keras. “Jangan dengankan si tiang listrik itu.” ,geram Chen. “Baekhyun-ah, kurasa ini harus di bicarakan pada Ji Hyeon jadi kalian bisa menyelesaikannya bersama. Menurutku…” ,Chen sedikit ragu dengan perkataan yang akan di katakannya. “…diri Ji Hyeon yang seperti sekarang pasti akan mendapat nilai buruk dari orang tua manapun.”

 

Kini Baekhyun merasa dirinya seperti merasa disudutkan, dia hanya menatap dengan wajah tidak percaya atas perkataan Chen. Dia pikir Chen adalah satu dari sejuta orang yang mendukungnya disaat hampir seluruh orang yang di kenalnya meragukan penilaiannya tentang Ji Hyeon. Chen menjadi salah tingkah karena perkataannya, tapi itu memang kenyataan.

 

“Maksudku, mungkin jika Ji Hyeon berubah maka keputusan Nenekmu juga akan bisa berubah. Seperti itu.” ,jelas Chen dengan cepat.

 

Baekhyun menatap Chanyeol yang menyeringai puas karena pada akhirnya semua orang setuju dengan kesalahan penilaian Baekhyun, termasuk Chen yang selama ini selalu mendukug hubungan mereka.

 

Mungkin kata patah semangat adalah hal yang paling pas untuk menggambarkan diri Baekhyun saat ini, karena Baekhyun sangat tau bahwa Ji Hyeon tidak akan mau hidup dengannya tanpa adanya harta yang di warisinya. Bukan… Bukan karena Ji Hyeon adalah wanita matrealistis tapi itu memang karena Ji Hyeon yang sudah lelah hidup dengan kemiskinan sejak kecil – atau setidaknya itu yang Ji Hyeon katakan.

 

Satu yang Baekhyun lewatkan tentang sesuatu yang di sebut cinta, yaitu merelakan apapun untuk bisa bersama dengan orang yang di cintainya bahkan jika itu adalah nyawanya.

.

.

TBC

 

 

Akhirnya….!!!! ↖(^▽^)↗
Bisa kelar juga Chapter pertama ff yang idenya pasaran ini….
Hahahaha!!!
BTW… Ini ff pertama yang ku publis lhoooo….

Gimana??? Gimana???

Gpp kok kalo di bilang jelek, tapi kalo bisa di ksh saran yaaa….
Pengen jadiin ff ini pelajaran buat nulis2 ff selanjutnya…

 

Terima kasih…

 

Iklan

8 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] More Than Beautiful – (Chapter 1)

  1. udah berapa kian kali aku nemu cerita saingan baekhyun itu luhan tapi biasanya cerita yg kaya gini yg berakhir menjadi ff favoritku *aminnnn (doa author) ehehehe
    aku kira waktu baca summary nya si baek sm yuri ini udh jadi pasangan kekasih dan ternyata aku salah. penasaran gimana pertemuan baek sm yuri ini apa baek bakal tersepona sesuai judulnya “more than beauty” atau lebih dari cantik ini maksudnya cantik hatinya. pkoknya ditunggu chapter ke dua… yeayy

  2. merasa terpanggil wkwkwk
    haduuh cinta emang buta y hmm..t*i kucing pun rasa coklato_O
    haduu kenapa jd saya yg baper y hahaha#teamgagalmupon wkwj abaikan ahh
    wah gasabar nunggu mochiku ketemu yuri uuu pasti nanti triangle nih kek judul lagu aja ya haha…aduuh maapkeun daku comment gaje ye 🙂 pokokny dtunggu next ny fighting!

  3. Kapan baekhyun sadar kalo ji hyhn itu nggak baik sama dia dan pilihan nenek baekhyun itu yang terbaik. Thor nama lrngkap yuri disini kim yuri atau oh yuri ?

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s