[EXOFFI FACEBOOK] This Is Not The End

10350418_734843483299705_2670555359755924939_n

 
Tittle : This Is Not The End
Cast : Han Chaerin, Park Chanyeol, Zhang Yixing.
Author : K-Writer

Cover I by : Pink Sky Art
Cover II by :Ravenclaw Design @Request Cover FF


Warning!
.
.
Alur maju-mundur-cantik!
.
.
Alur sangat membingungkan!
.
.
Alur sangat amat panjang!
.
.
Dimohon amat sangat untuk para pembaca agar meninggalkan review yang lengkap. Please, Don’t be a SIDERS!
.
.
Cari posisi & suasana yang sesuai dengan alur cerita.
.
.
.
Enjoy it!

—o0o—

Wanita itu terduduk pada sebuah sofa merah marun klasik. Binar mata dibalik lensa minus itu berkilat menyiratkan perasaan yang sulit diartikan. Bibir bawahnya tergerak perlahan mendengungkan kata-kata pada sebuah buku yang sampulnya lebih dominan berwarna gelap.

Ia menghela napas panjang lalu menutup lembaran terakhir buku itu.

“Inilah akhirnya,” Ia bergumam lalu meletakkan buku tersebut ke meja di hadapannya. Setengguk cairan bening—yang sedikit berbuih di bagian atasnya—berada di dalam gelas tulip transparan  mengisi tenggorokannya yang terasa kering.

Ia tersenyum simpul.

“Ya, aku akan kaya dengan ini.”

[STORY BEGIN]

Malam itu, seorang wanita menata rambut lurus-nya di depan lensa yang memantulkan bayangan dirinya mengenakan dress putih berpadu cardigan coklat tua. Ia menyolek pipi tirusnya dengan blush on, sangat tipis ia menggunakan pemanis pada pipinya tersebut, namun efek-nya sudah bisa membuat wajahnya lebih merona. Ia tersenyum bangga.

“Bukankah aku ini sangat cantik, hm?” ia bermonolog, menatap pantulan dirinya di cermin dari ujung rambut hingga ujung kakinya. Semuanya begitu sempurna.

“Ya, kau sangat cantik,” suara berat mengintrupsi. Menjawab pertanyaannya—yang sejujurnya adalah untuk dirinya sendiri—tiba-tiba.

Seseorang melingkarkan lengan kekarnya  pada pinggang ramping wanita itu dari belakang. Menarik wanita itu pada dada bidangnya yang terbalut kaos V-Neck putih santai dengan gambar tengkorak hitam ditengahnya. Menumpu dagu-nya pada bahu kanan wanita itu, menghirup wangi parfum J’Adore dari perpotongan leher wanita yang ada di dekapannya.

“Hei, apa yang kau lakukan?” ketus wanita itu yang sebelumnya sempat tersentak menerima perlakuan mengejutkan dari pria tinggi di belakangnya.

Pria itu terus saja mengendusi leher jenjang wanita-nya, menghirup lebih dalam aroma memabukkan tersebut, tak ingin terlewat satu inchi-pun. “Aku merindukanmu.”

Jawaban tersebut cukup membuat wanita itu terpaku sejenak. Ia menghembuskan napasnya kasar sembari berusaha melepaskan kekangan yang melingkar di pinggangnya. Ia berbalik dan menatap wajah seorang pria tinggi—dan luar biasa tampan—intens.

“Apa?” pertanyaan bodoh—menurut wanita itu—. Oh, pria-nya terlihat polos dengan wajah sepertI itu sekarang.

“Jangan sekarang. Aku sudah bersiap-siap untuk hari ini,” tutur wanita itu menjelaskan.

Pria di hadapannya memutarkan bola mata dengan malas. Ia berdecak sinis. “Karena dia lagi,” desisnya.

“Kenapa?” kini wanita itulah yang nampak bodoh, melontarkan sebuah perkataan yang menurutnya sangat ambigu. “Ini semua untuk kita,” lanjut wanita itu.

Pria itu hanya terkekeh mendengar penuturan tersebut, ia mencubit gemas hidung berukuran bangir milik wanita di hadapannya dengan simpulan senyum. “Kau sangat pintar.”

“Aku tahu. Jika aku tidak pintar, tidak mungkin aku bisa sampai ke titik sejauh ini,” sela wanita itu lalu kembali berbalik, bercermin ditemani dengan satu bayangan lain di belakngnya kini. “Dan… aku sudah memiliki dia sebagai kuncinya,” imbuhnya.

“Kau benar-benar wanita yang menarik, Han Chaerin,” sahut pria itu dengan menjuntaikan lengannya ke atas bahu wanita bernama Han Chaerin tersebut. Menyibakkan rambut Chaerin yang tergerai di kedua bahu-nya, menyatukan rambut hitam legam itu menjadi satu lalu mengikatnya dengan ikat rambut yang entah ia dapatkan darimana.

“Hei! Aku sudah menatanya, Park Chanyeol!”

“Diamlah. Seorang pria lebih menyukai wanita yang memperlihatkan leher mulus-nya. Kau tahu itu, Chaerin?”

Chaerin terkesiap. Mendengarkan setiap bisikan lembut disertai napas hangat Chanyeol yang sedikit membuat ngilu area lututnya. Kulit-kulit sensitif-nya cukup peka menerima sengatan-sengatan listrik yang diberikan oleh si pemilik suara bass tersebut.

Chanyeol mengecup lembut leher itu sekilas, membuat Chaerin mau tidak mau membelalakkan matanya melihat perlakuan Chanyeol dari pantulan cermin.

“Kau milikku. Hanya milikku, Chaerin. Bukan milik yang lain.”

***

Han Chaerin mengingat semuanya. Sepuluh tahun lalu ia hanya seorang gadis yatim-piatu yang besar di sebuah panti asuhan sederhana pinggiran kota Seoul. Usianya yang saat itu baru menginjak pada angka 16 tahun, membuatnya menemukan sebuah jati diri lain yang terpendam dalam sugesti-nya.

Dan pada hari itulah, semuanya berawal.

“Dia tampan,” Chaerin berucap pelan. Bersembunyi di balik pohon akasia kokoh yang tumbuh di belakang taman panti.

Obisidian hitam miliknya menelisik. Pergerakannya terpaku, ia hanya fokus memandangi seorang pria yang tengah duduk di bangku taman panti seorang diri.

Chaerin remaja tahu, pria itu pasti seumuran dengannya. Tentu, pria itu memakai seragam sekolah menengah atas yang seharusnya ia juga mengenakannya.

Kelopak mata yang terpejam itu, kulit putih bersih itu, rambut yang ditata rapi itu, bibir yang menggumam melantunkan sebuah lagu yang ia yakini tersalur dari sebuah MP3 di telinganya, menghipnotis Chaerin remaja sesaat.

Chaerin mengulaskan senyuman penuh arti. “Dia juga kaya,” lalu terkikik kecil.

Dengan ragu, kaki jenjang Chaerin mulai melangkah keluar dari persembunyiannya. Ia melangkah hati-hati menuju bangku taman yang diduduki oleh remaja pria tersebut.

Langkah Chaerin terhenti tepat di hadapan pria yang duduk tenang tersebut. Menyembunyikan kedua tangannya di belakang, sekedar untuk menahan rasa gugup yang bergemuruh di dada.

Merasakan kehadiran seseorang, pria itu membuka matanya perlahan. Menangkap siluet wanita remaja—cukup rupawan—tengah berdiri tegap sembari menatapnya intens, sedikit membuatnya tersentak. Ia melepaskan kabel tipis yang menyumpal telinganya kemudian mengangkat punggungnya yang bersandar pada bangku taman.

Chaerin remaja tersenyum kecil. “Hai!” sapanya manis.

Pria remaja itu mengedipkan matanya beberapa kali, tak lantas menjawab.

“Aku tahu kau berasal dari China. Aku bisa berbahasa Mandarin, kok,” sela Chaerin beralih bahasa menjadi Mandarin dengan pelafalan yang terbilang cukup bagus dan lancar. Pria itu mengulum senyum saat Chaerin memperlihatkan deretan gigi kelincinya yang menggemaskan.

“Bertemanlah denganku. Namaku Chaerin. Han Chaerin,” ajak Chaerin masih berbahasa Mandarin. Ia bersyukur dibekali otak jenius.

Pria remaja itu berdiri dari tempatnya, tersenyum lugu dengan kedua lesung pipi-nya yang ikut menyelingi. Menambahkan kata menawan dalam diri pria itu.

“Namaku Yixing.”

Chaerin remaja tidak akan pernah lupa nama pria itu. Selain mengukir nama indah pria itu di buku hariannya, ia juga akan mengukir nama pria itu di hatinya.

***

“Bagaimana kau tahu kalau waktu itu dia adalah putra dari seorang presdir perusahaan besar?” Chanyeol kembali membenarkan beberapa anak rambut Chaerin dari belakang, anak rambut itu sempat tergerai sembarang saat sebelumnya ia mengikat rambut halus tersebut menjadi satu.

“Sudah jelas, dari tatanan rambutnya saja aku sudah bisa memprediksinya. Lagipula, waktu itu dia datang dengan menyumbangkan keperluan-keperluan panti,” Chaerin menjelaskan, menatap pantulan bayangan Chanyeol yang telaten merapikan tatanan rambutnya.

“Aku hanya berpikir, apakah itu sebuah kebetulan? Atau memang keberuntunganmu?” Chanyeol tersenyum saat dilihatnya tatanan rambut Chaerin begitu menawan. Ia beralih menatap manik mata Chaerin yang terpantul dari cermin.

“Ya, aku tahu maksudmu. Entahlah, waktu itu aku memang entah sengaja—atau tidak—tertarik untuk mempelajari bahasa Mandarin. Dan… Bingo! Aku mendapat jackpot!” seru Chaerin.

Getaran suara ponsel di atas nakas membuat Chaerin menyudahi cerita lama-nya—yang ia anggap sebagai sebuah dongeng pengantar tidur—. Wanita itupun beranjak dari cermin di hadapannya untuk mengambil ponsel pintar persegi panjang.

.
.

From: Yixing
Aku menunggumu di luar. Sudah siap pergi, princess?

.
.

Chaerin sesegera mungkin memasukkan ponselnya ke dalam tas gucci elegan yang juga pemberian dari pria bernama Yixing saat merayakan tahun ke-lima mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

“Dia datang?” seloroh Chanyeol yang melihat wanita-nya sudah mengaitkan tas bermerek ternama itu di bahu kanannya.

Chaerin berdehem lalu mulai melangkahkan kakinya untuk keluar bilik kamar tersebut. Dengan sigap, tangan kekar Chanyeol mencekalnya lagi. Membuat Chaerin terhenyak dan melemparkan tatapan yang mengartikan lepaskan-aku-sekarang-juga.

“Aku mencintaimu. Aku selalu ada di belakangmu,” tutur Chanyeol lembut lalu menyesap bibir ranum milik Chaerin singkat.

Chaerin hanya membalas dengan sebuah senyuman tipis. “Ya, aku tahu itu. Aku juga mencintaimu,” kemudian kembali berjalan keluar menuju sebuah pintu penghubung dirinya dengan dunia-nya yang lain.

Menjadi Han Chaerin lain.
Untuk seorang pria bernama Zhang Yixing.

***

Han Chaerin mengingat cerita lama-nya lagi. Saat dirinya telah mengenal Yixing selama tiga tahun belakangan. Saat pria itu pulang dari sekolahnya—yang seringkali tanpa mengganti seragam—dan langsung pergi menuju panti asuhan dimana keberadaan Han Chaerin si wanita manis pujaan hatinya berada.

“Jadilah pacarku,” ucap Yixing lancar dengan aksen Korea-nya sembari memegang kedua bahu Chaerin.

“Apa?” obsidian hitam itu sedikit melebar mendengar perkataan Yixing. “Kau pasti salah mengucapkannya, Xing. Jangan bercanda. Aku sudah sering mendengar kau salah melafalkan sesuatu dalam bahasa Korea.”

“Sungguh, kali ini aku yakin tidak salah menyebutkan kata-kata,” sanggah Yixing kukuh. Sorot mata teduh itu membalas tatapan penuh arti Chaerin. Kedua manik bercahaya itu menyelami rahasia di relung hatinya, menyiratkan keseriusan tanpa ada sedikit-pun kebimbangan. Mematahkan harapan palsu-nya, menggantikannya menjadi harapan baru yang lebih sempurna dan nyata.

“Aku hanya wanita yang besar di panti asuhan. Sedangkan kau—“

“Tapi aku mencintaimu, Chaerin,” potong Yixing. “Kau cantik, kau juga pintar. Salahkah aku menyukaimu?” Chaerin remaja tak berani menatap bola mata keseriusan di hadapannya. Ia terlalu takut jika mantra penghipnotis itu merasuki alam bawah sadarnya.

Tanpa pikir panjang, Yixing sesegera mungkin memagut dagu Chaerin mendekat ke wajahnya. Mempertemukan kedua bibir tipis mereka dengan sentuhan lembut dan bermakna. Menyesapnya perlahan di atas rerumputan basah taman belakang panti.

Hanya 5 detik.
Yang diselingi suara merdu burung gereja.

“Aku sangat menyukaimu, Chaerin.”

Chaerin membalas tatapan penghipnotis itu. “Ya, aku mau. Aku juga sangat menyukaimu, Xing.”

Chaerin juga akan terus mengingat tentang memori ini. Karena, semua memorinya selalu tersusun apik dalam buku harian.

***

Tiga tahun yang lalu, seorang pria berumur 24 tahun duduk termangu. Menyesap secangkir cairan hitam kafein yang mengepulkan uap panas di udara dingin. Pandangannya mengarah ke kaca transparan kedai kopi yang didiaminya, memandang sendu jutaan kristal putih halus yang turun dari langit, berterbangan terbawa angin. Ia mengulum senyum kecut, lalu melirik ke kantung mantel bulu yang dikenakannya.

Benda kubus berwarna netral itu berada dalam genggamannya. Senyum bahagia itu belum pudar, justru kian melebar saat ibu jari kanannya membuka tutup kotak kecil tersebut.

Kilauan samar terpancar pada mutiara putih dengan platina mengkilap yang tersambung di bagian atasnya, kembali dihubungkan dengan seuntai emas putih yang kedua bagian ujungnya memiliki pengait kecil.

Dan apabila kedua ujung dari pengait tali emas putih itu disatukan; kalung indah berbandul mutiara akan tertangkap pada setiap retina yang merefleksikannya.

Pemuda bernama Yixing itu menampilkan lesung pipi-nya, lalu bergumam. “Maukah kau menikah denganku, Han Chaerin?” dengan aksen Korea.

Ia kembali membuang pandangan keluar kaca kedai kopi, berharap siluet pujaan hatinya kembali datang menghampirinya.

Namun nyata-nya, hanya ada kristal-kristal lembut dari langit yang menyambutnya.

***

Han Chaerin memandang langit malam dengan sunggingan senyum tipis di balik kaca transparan kedai kopi. Ia meletakkan tas gucci miliknya lalu melemparkan pandangan ke sosok di seberang meja yang membatasi tempat duduknya. Lesung pipit itu kembali menyapa-nya, membuatnya terkikik geli.

“Kau masih ingat?” ujar Yixing sekilas, memandangi helaian rambut hitam legam milik Chaerin yang terikat malam ini. Tidak seperti Han Chaerin yang selalu menggerai rambut panjangnya.

“Tentu. Aku menulis semua yang perlu kujadikan memori dalam sebuah buku,” jawab Chaerin lalu menyesap caramel machiato miliknya. Ia bukan pecinta kopi seperti Yixing.

Yixing tak lantas menanggapi, terlalu gemar memperhatikan bibir ranum itu tengah bersentuhan dengan bibir cangkir putih tersebut. Cepat-cepat ia menyapu semua pikiran kotor yang sempat terlintas dalam benaknya. “Kau memang cantik, Chaerin.”

Chaerin sudah cukup bosan mendengar pujian dari semua pria yang pernah bertemu dengannya. Namun jika itu dia yang mengucapkannya, hormon endorfin-nya serasa bereaksi lebih.

Chaerin hanya tersenyum sebagai sebuah jawaban.

Dilihatnya lengan Yixing membuat gerakan kecil di bawah. Pria itu tersenyum nyinyir saat menerima tatapan menyelidik dari Chaerin. Dengan satu helaan napas, tangannya yang sedari tadi bertumpu pada paha terangkat dengan memegang sebuah kotak kecil berwarna senada dengan jas yang dikenakannya.

“Sudah saatnya kau memakai ini,” sanggah Yixing mendekatkan kotak kecil itu ke sisi meja Chaerin. Lesung di pipinya itu selalu membius Chaerin untuk terus menatapnya. Membuatnya mau tak mau harus membalasnya dengan sebuah senyuman pula.

Telapak tangan Chaerin beralih untuk membuka kotak berbeludru hitam tersebut. Sengatan-sengatan pada setiap jari-jarinya masih terasa sama seperti tiga tahun yang lalu, saat ia juga menyentuh kotak hitam tersebut. Sebuah kalung berbandul mutiara itu masih nampak sempurna. Masih seperti saat pertama kali ia melihatnya. Masih seperti penggambarannya pada sebuah buku.

Chaerin lagi-lagi tersenyum tipis, ia menutup benda kubus itu—yang terdapat kalung indah di dalamnya—lalu mendekatkannya lagi ke sisi meja Yixing. Pria di hadapannya terhenyak untuk beberapa saat.

“Sebentar lagi, Xing. Besok. Besok aku bisa memakainya,” terang Chaerin mengambil jeda lalu mengulum senyum—palsu—.

“Saat aku benar-benar menjadi istrimu.”

***

Tiga tahun yang lalu, sepasang kekasih bersanding dengan kedua tubuh yang berhimpitan nyaris tak ada celah pada bangku halte. Dingin yang menyergap membuat mereka saling menghangatkan satu sama lain. Sang pria yang bertubuh lebih tinggi menangkup kedua tangan kecil wanita-nya, menggesekan-gesekan telapak tangannya yang besar, lalu mencondongkan wajahnya dan meniupkan udara hangat ke tangan kecil wanita itu.

Wanita itu terkekeh. “Kau sendiri tidak kedinginan?” ujarnya yang langsung ditanggapi oleh gelengan si pria.

“Bagaimana hasilnya?” ujar pria itu memecah keheningan yang tercipta beberapa saat. Pria itu memandang lurus, menyelami sepasang manik rusa dengan penuh ke-ingin-tahuan.

Cukup lama tak ada reaksi yang ditimbulkan wanita-nya, pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali.

“Aku menolaknya,” tandas wanita-nya lalu memandang lurus ke arah jalan besar yang pinggirannya mulai tertutupi kristal-kristal halus bertimbunan.

Kornea coklat sang pria sedikit membesar. Ia memandangi wajah wanita-nya intens. “Sungguh?”

Wanita itu mengangguk beberapa kali. “Aku mengatakan kepada-nya agar dia lebih bersabar,” mengambil napas beberapa detik. “Aku bahkan sudah berjuang  selama 7 tahun, aku tidak akan membiarkan dia mendapatkanku begitu saja dengan mudah.”

“Aku tidak mau mengalah. Dia juga harus merasakan bagaimana rasanya bersabar dalam sebuah penantian,” lanjut wanita itu tertawa dibuat-buat memprihatinkan.

“Lagipula, aku masih harus kuliah 2 tahun lagi.”

Pria di sampingnya menarik sudut bibirnya perlahan, tangannya terjuntai ke atas lalu mengelus surai kehitaman milik wanita-nya. “Pintar. Masa depanmu tergantung di tanganmu sendiri,” ucap pria itu.

Untuk beberapa detik, wanita bersurai kehitaman itu bergelut dengan pemikirannya sendiri. Menanggalkan semua hal tabu yang ia lakukan dengan pria di sampingnya; di belakang dia. “Lalu bagaimana dengan masa depanmu?” wanita itu berseloroh. Memandang mata hazel pria di sampingnya itu dengan tatapan penuh canda; meremehkan.

Pria itu tersenyum tipis. “Kedepannya, aku akan selalu ada untukmu. Aku akan selalu mendukungmu. Mengubah garis takdir yang diberikan Tuhan kepada orang-orang seperti kita. Aku akan menaklukan dunia bersamamu,” tegasnya. “Dan… aku akan selalu mencintaimu.”

Wanita itu tidak bergeming. Menatap rahang tegas pria di sampingnya lamat-lamat. Menatap hidung proposional kesukaannya. Menatap telinga lebar menggemaskan milik pria-nya. Menatap mata hazel bersinar penuh arti—yang hanya ditujukan untuknya—.

“Berjanjilah hanya untuk selalu mencintaiku. Tidak yang lain,” tukas pria itu membuat kornea hitam si wanita mengecil.

“Bagaimana, Han Chaerin?”

Han Chaerin terdiam. Dadanya bergemuruh tak menentu. Napasnya terasa pendek di tenggorokan, membuat lehernya seperti terlilit rantai besi panjang yang membuat sulit untuk mengeluarkan sebuah jawaban.

Diam.

Berpikir.

Tersenyum.

Dan… pertanyaan pria tersebut tak pernah terjawab.

***

Setelah resepsi panjang yang memakan waktu hampir tujuh jam lamanya, Han Chaerin yang masih terbalut gaun pernikahan sutra mewah berwana putih, dibawa pergi oleh seorang pria dengan setelan jas yang senada dengan gaun cantik-nya. Rambut pria di sampingnya hari ini begitu menawan, senyum pria itu terus terpancar saat bersapaan dengan para tamu—yang sebagian besar adalah keluarga dan kerabat pria itu sendiri—.

Mobil porsche silver metalik berhenti pada pekarangan sebuah bangunan semi-kontemporer dengan arsitektur California. Sentuhan-sentuhan keajabian—tangan si perancang—memenuhi setiap sisi-sisi dinding bangunan megah tersebut, serta merta pohon-pohon maple yang memang sengaja ditanam melingkar pada area pekarangan juga menambah kesan asri yang menyejukkan hati. Jangan lupakan luapan air yang meluncur ke atas dan jatuh indah pada sebuah kolam berpatung dewi-dewi.

“Dimana ini?” tanya Cherin memandang wajah pria di jok sampingnya dengan bingung.

“Tentu saja. Rumah kita.”

Chaerin belum sempat lagi berkata-kata. Setelah kalung berbandul mutiara itu mengitari lehernya sejak di atas altar, dan mendapat sebuah kecupan singkat—di bibir yang didasarkan cinta—oleh pria di sampingnya, ia cukup bangga atas semua yang didapatkannya saat ini.

God! 10 tahun yang lalu ia hanyalah seorang gadis yang besar di panti asuhan pinggir kota.

“Kau melakukan semua ini lagi?” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut manis Chaerin.

“Aku sudah mengatakannya, bukan?” pria di sampingnya mengulum senyum tipis. “Seorang Zhang Yixing akan melakukan segalanya untuk orang yang dicintai-nya.”

“Terlebih, orang yang dicintainya saat ini telah menjadi miliknya seutuhnya.”

Chaerin merasakan kelu pada indera pengecapnya. Saat senyuman penuh arti itu selalu mengisi setiap celah di hatinya, nama orang lain selalu saja sempat menyelinap masuk  dalam benaknya. Memaksa masuk ke sisa-sisa celah sempit—di hatinya—, membuat hatinya terasa sesak dan sakit.

“Setidaknya, pria bernama Zhang Yixing itu tidak akan pernah tahu yang sebenarnya,” batin Chaerin tersenyum getir.

***

“Tidak kusangka kau akan benar-benar menikah hari ini,” ucap Chanyeol tersenyum nyinyir melihat Chaerin yang tengah berdiri tegap di depan cermin panjang mengenakan gaun putih yang terlihat ramping dan serasi dengan tubuhnya.

“Ya, aku juga tidak menyangkanya.”

Chanyeol berjalan mendekat. Lalu menarik bahu wanita yang tengah bercermin itu ke arahnya. Memeluknya erat-erat sembari menghirup aroma yang selalu menjadi candu untuknya.

“Jangan lakukan ini, Yeol. Aku akan segera naik ke altar.”

Chanyeol menjauhkan wajahnya lalu memutar tubuh sebatas bahu itu agar pandangan mereka bertemu. Chanyeol menelungkupkan satu telapak tangannya di dada. Ia meringis.

“Rasanya sakit,” lirih Chanyeol menekan kuat dadanya yang terbalut setelan jas hitam.

Chaerin mengerti lalu terkikik sekilas. “Untuk yang kali ini, kumohon bertahanlah,” pinta Chaerin.

“Tetapi, aku ada satu permintaan.” Chanyeol mengerlingkan matanya.

“Apa?” Chaerin bertanya ragu.

“Berkatalah jika kau—Han Chaerin—akan selalu menjadi wanita yang hanya dimiliki oleh pria bernama Park Chanyeol. Menemaninya di saat duka, dan tertawa bersamanya di saat bahagia. Apapun yang terjadi, kita—kau dan aku—harus tetap berjuang untuk menaklukan dunia, sampai maut memisahkan kita berdua. Maukah kau berjanji seperti itu di depan Tuhan sekarang?”

Aura yang terpancar dari mata Chaerin meredup. Indera pengecapnya akhir-akhir ini sering matI rasa tiba-tiba. Memori-memori perjuangan hidupnya selama 10 tahun belakangan ini—saat ia berjuang di tengah kerasnya dunia—berputar cepat. Melimbungkan jiwa-nya beberapa saat ke masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam tak berbekas.

Menganggap semuanya tidak pernah terjadi.
Sekarang hanya ada Han Chaerin yang baru.

“A-a-aku….” Chaerin tergagap. Napasnya serasa putus-putus.
Pintu bilik bernuansa putih itu terbuka. Menampilkam siluet seorang pria bersetelan jas putih dengan sepatu pantofel hitam yang selaras dengan tubuhnya.

Han Chaerin cepat-cepat menjauh dari tubuh tinggi Chanyeol saat mengetahui tatapan tidak suka itu tertuju pada dirinya yang berdekatan dengan Chanyeol. Saat pria itu berjalan mendekat dan melemparkan tatapan siapa-dia?.

“Dia teman lama-ku saat di panti. Baru beberapa hari ini pulang dari Paris Aku mengundangnya saat kutahu dia telah di Korea. Aku sangat akrab dengannya,” jelas Chaerin cepat. Chanyeol hanya diam, menyunggingkan sebuah senyuman penuh kepalsuan kepada pria—yang paling ia benci—di hadapannya ini.

Chaerin tahu, Yixing bukan-lah pria bodoh. Tidak mungkin semudah itu ia percaya akan alibi-nya yang sangat kekanak-kanakan begitu saja. Ia tahu, bahwa dirinya harus lebih waspada.

“Baiklah,” Yixing meraih tangan kanan Chaerin yang bergantung. “Ayo kita naik  ke altar,” ucapnya tegas. Menekankan setiap perkataannya dengan maksud lebih—menyindir serta memperingatkan seseorang—.

Chanyeol hanya diam meredam perasaannya dengan tangan terkepal saat kedua insan itu berlalu begitu saja di hadapannya. Ia akan mengingat, bahwa hari ini adalah hari pertamanya bertatapan langsung dengan dia. Dan mungkin juga, akan menjadi hari terakhir-nya.

Sedangkan dalam pemikiran Chaerin saat ini, ia bersyukur.
Setidaknya, ia tidak berjanji di hadapan Tuhan.
Yang mungkin akan menambah dosa-nya—lagi—.

***

Yixing merasa semua saraf-saraf tubuhnya putus satu persatu. Saat air bening itu meleleh melewati sudut matanya yang sudah terasa berat untuk terbuka. Saat wajahnya kian memucat, sesosok wanita yang memangku wajahnya mengedipkan mata rusa-nya untuk beberapa kali. Menahan air mata dan mengantikannya dengan sebuah ekspresi datar yang tidak berarti.

“Maafkan aku, Xing. Maafkan aku,” wanita itu meminta maaf berkali-kali dengan suara parau. Ia mendekatkan wajahnya ke arah pria di pangkuannya.

Ia menempelkan bibirnya kepada bibir yang membiru itu perlahan. Akhir dari sebuah rencana yang membawanya pada cerita sedih. “Aku mencintaimu, Zhang Yixing.”

Kemudian, jiwa itu pergi dengan tenang, ke alam baka.

***

Malam pertama pasangan itu dihabiskan untuk melepas kepenatan dari acara yang memakan waktu hingga siang hari tadi. Sepuluh tahun mereka saling mengenal dan selalu bersama, dan pada malam inilah mereka akan di pertemukan pada satu ranjang.

Chaerin terduduk pada kursi mahoni, dirinya yang tengah membaca sebuah buku sedikit terusik saat mendengar deheman lembut seorang pria yang juga duduk di sampingnya; tengah menatap intens dirinya.

Menyadari sesuatu hal yang janggal, Chaerin menutup buku tersebut lalu meletakkannya di atas nakas. Ia menatap suami-nya lamat-lamat. “Mau kubuatkan kopi?” tawarnya.

Yixing mengangguk mantap. Memandang balik istrinya dengan mata berbinar dan senyuman lebar.

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

Chaerin beranjak dari dudukannya. Membuat hati Yixing terasa hampa sesaat; melihat punggung wanita-nya hilang di balik pintu bilik kamar.

Bosan yang melanda batinnya, membuat Yixing melirik ke atas nakas yang didapati sebuah buku—yang dibaca Chaerin tadi—. “Mungkinkah buku itu yang dia maksud?” tanya Yixing dalam hati.

Namun, ia hanya terus memandangi buku itu dari dekat sembari menunggu istrinya datang membawakan secangkir kopi.
***

Chanyeol melempar puntung rokok miliknya ke seseorang yang diam bagaikan patung. Ia menatap iba sebujur tubuh kaku yang tengah tergeletak mengenaskan di ubin dingin hadapannya. “Inilah akhirnya?” gumamnya.

Chaerin memandangi tubuh tinggi itu dari kursi mahoni, kemudian berganti menatap ke tubuh pria yang memucat dan tergeletak tersebut. Seorang pria yang telah menjadi mayat beberapa menit yang lalu.

“Mungkin. Aku akan kaya. Mewarisi segalanya. Aku telah menaklukan dunia,” Chaerin tertawa di tengah kegiatannya memandangi tubuh dingin Yixing. Ia tertawa sumbang lalu berdiri dari singgasana-nya tersebut.

“Perjuanganmu selama 10 tahun telah berhasil. Masa depanmu telah kau dapatkan, Chaerin. Kita benar-benar akan bahagia,” tutur Chanyeol menekuk lututnya, memandangi mayat itu dari jarak yang lebih dekat.

Chaerin kemudian berdiri di samping Chanyeol yang berjongkok lalu melipat kedua tangannya di atas dada. “Hampir semuanya aku yang mengerjakan. Bahkan untuk membunuhnya-pun harus aku,” Chaerin mendesis, mengingat berapa banyak racun tanpa rasa maupun bau itu ia campurkan ke dalam cairan hitam dalam cangkir yang bahkan saat ini masih mengepulkan sedikit uap panas.

“Seharusnya hanya aku yang berbahagia untuk ke depannya.”

Chanyeol menoleh ke arah Chaerin cepat. Langsung berdiri dan meraih bahu wanita itu agar ia bisa menyiratkan pertanyaan apa-maksud-dari-perkataanmu? lewat tatapannya.

Chaerin tertawa jenaka lalu memutar bola matanya malas. “Aku hanya bercanda.”

“Tapi bisakah kau urus yang satu ini,” melirik ke arah mayat di bawahnya. “Bisakah kau membuangnya?”

Chanyeol tersenyum tipis lalu mengerlingkan matanya. “Aku selalu ada untukmu.”

Chaerin mengulum senyum tipis, lalu menarik leher belakang Chanyeol untuk mendekat ke wajahnya. Mempertemukan kedua bibir mereka dalam cumbuan panas. Sebuah lumatan intim hadiah kemenangan. Rasa bangga yang tinggi atas kegigihannya selama ini.

Melupakan fakta, seseorang tengah menjadi saksi bisu adegan tersebut.

***
Chanyeol memberhentikan mobil porsche tersebut pada pinggiran sungai yang entah apa namanya. Ia cukup tahu tentang tempat-tempat terpencil untuk membuang sesuatu agar keberadaannya sulit ditemukan.

Ia membuka bagasi mobil-nya, menatap seonggok mayak dengan tampang meremehkan serta muak. “Kukira waktu itu, adalah hari terakhirku bisa melihat wajah memuakkan ini,” cela-nya.

“Han Chaerin bukanlah seorang wanita biasa. Kau tahu itu?” desisnya perlahan.

“Aku mungkin akan kalah jika bertarung dengannya,” Chanyeol tergelak mendengar monolog-nya sendiri. “Itulah yang membuatnya berbeda dari yang lain. Ia sangat menarik.”

Saku mantel bulu Chanyeol bergetar, menandakan sebuah panggilan dari ponselnya. Ia sesegera mungkin mengambil ponsel dari dalam saku-nya dan mengangkatnya.

“Halo?”

“Aku mencintaimu, Park Chanyeol. Maafkan aku,” lalu terputus secara sepihak. Membuat Chanyeol bergelung dalam pemikirannya sendiri. Beradu argumen dengan segala hal yang mengganjal di otaknya.

Suara gema sirine terdengar nyaring di gendang telinga Chanyeol. Kelap-kelip sinar menghujam tubuhnya yang terpaku membisu di depan bagasi mobil.

Sekitar tiga mobil polisi berhenti di depan posisinya terpaku, diikuti oleh acungan sekitar delapan senjata api ke arah tubuhnya.

“Jangan bergerak! Kau dilaporkan dalam kasus pembunuhan!” sentak salah satu diantara orang-orang yang memegang senjata api tersebut.

Pada akhirnya, Chanyeol saat ini tahu tentang semua fakta yang ada. Bahwa akhirnya sebuah cinta tidak akan pernah menjembataninya ke masa depan yang bahagia. Semuanya palsu dan penuh kebohongan. Saat ucapan-ucapan manis yang terekam di masa lalu, menjadi abu yang terbakar bersama sejuta kepahitan dan kepedihan di dadanya dalam sekejap.

Semua pertanyaan-pertanyaannya itu, kini telah terjawab.

Chanyeol mengangkat kedua tangannya di udara, ia tertunduk lalu menyimpulkan senyum. “Karena aku pernah berjanji untuk selalu mencintaimu, maka aku akan memaafkanmu.”

“Kau benar-benar wanita hebat, Han Chaerin,” lalu tubuhnya terasa berat untuk berdiri tegap.

Dan sebuah borgol besi mengunci pergelangan tangannya.

***

Chaerin keluar dari sebuah taksi yang menurunkannya di area kompleks pemakaman. Pakaian serba hitam ia kenakan untuk berkabung ke makam seseorang. Langkah kecil yang terasa berat menuntunnya melewati setiap gundukan tanah yang diselimuti rerumputan kering. Menggiringnya lebih jauh untuk melanjutkan sebuah tragedi yang berawal dari rencana apik dan memuaskan untuk dirinya sendiri.

Aksara Mandarin tertoreh pada sebuah batu nisan di depan gundukan yang masih jarang terselimuti rerumputan pemakaman. “Aku datang,” ujarnya parau lalu menekuk lututnya.

Suara gagak beberapa kali terdengar bergema saling bersahutan. Dedaunan kering yang terbawa semilir angin dingin berjatuhan, serta merta ilalang-ilalang yang juga saling bergesekan menimbulkan bisikan-bisikan halus di telinga.

Hening. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut manis wanita itu.

Perlahan ia merogoh tas gucci—kesayangannya—dan mengeluarkan sebuah buku. Meletakkan buku tersebut di depan nisan, lalu mengambil benda lain di dalam tas-nya dan kembali meletakkannya di atas buku tersebut.

Kalung berbandul mutiara.
Ia tersenyum miris. “Untuk yang ini, aku akan mengembalikannya.”

***

Malam itu, sekitar 15 menit setelah kepergian Chanyeol yang membawa raga Yixing pergi. Chaerin memandang langit kelam tak berujung yang dinaungi bulan purnama terang dari jendela kamar—tempat ia melakukan aksi-nya—. Ia menatap sendu bola bulat bersinar itu sembari terus berpikir. Semuanya telah berakhir sampai di sini. Semua rencananya telah berhasil dengan sukses. Tetapi, kenapa—

Ia menghela napas kasar dan berat. Menyibakkan tirai keemasan kamar tersebut lalu berjalan ke arah nakas, yang terdapat sebuah buku tergeletak di atasnya.

Ia memandang gusar buku tersebut, kemudian mengambil buku tersebut dan berniat kembali membaca catatan-catatan serta skenario cerita yang sempat ia tulis di bukunya.

Aku sangat membenci Zhang Yixing. Aku membenci semua orang kaya. Aku sangat membencinya hingga aku ingin membunuh dan mengambil semua hartanya.

Dia berkata bahwa akan melakukan apapun demi aku. Kuharap aku bisa memegang setiap perkataannya.

Aku mencintainya? Entahlah. Biarkan semua ini berakhir dan biarkan sebuah akhir yang menjawab semuanya.

Manik mata rusa itu membulat saat melihat sesuatu yang janggal dalam buku tersebut.

Saat aksara China bertinta biru—yang jelas bukan tulisannya—tercantum pada lembaran terakhir buku miliknya.

***

Yixing kembali melirik ke arah buku di atas nakas tersebut semenjak kepergian Chaerin. Giginya bergemeletuk tak kunjung berhenti. Ia meminimalisirkan rasa jenuhnya dengan melantunkan sebait lagu, namun hal itu tak bisa mengusir perasaan gundahnya.

Dan pada akhirnya ia mengalah pada rasa ke-ingin-tahuan. Ia meraih buku tersebut dari nakas dan duduk pada kursi mahoni di depannya. Menelisik sampul polos buku tersebut dengan hati-hati.

Dan, lembaran awalnya-pun terbuka oleh tangannya sendiri.

.
.
.

Yixing akan mengingat semua lika-liku kehidupannya karena sesaat  lagi malaikat maut mungkin akan segera datang dan membawanya pergi. Saat dengan sengaja ia membubuhkan beberapa kalimat  berbentuk aksara-aksara China ke lembaran terakhir buku tersebut menggunakan pena bertinta biru.

Ia menutup buku itu rapat-rapat dan kembali ke kediaman awalnya terduduk. Menarik napas panjang untuk menetralkan dadanya yang terasa dihujani paku besar berkarat berkali-kali.

Dan sosok yang ia tunggu datang, membawa secangkir kopi panas yang dimintanya.

“Ini,” tandas wanta itu menyodorkan secangkir kopi ke arahnya.

Yixing menerima dengan hati-hati. Ia memandang wajah istrinya dengan mata teduh penuh arti. Ketika itu juga, istrinya ikut membalas tatapannya dengan wajah berseri-seri. “Tidak kau minum?” tanyanya.

Ah, ya. Ia harus meminum kopinya. “Oh, baiklah. Terima kasih.”

Yixing memandang sesaat cairan hitam yang terkumpul tenang dalam sebuah cangkir putih tersebut. Dengan perlahan, ia mendekatkan bibirnya pada cangkir tersebut. Menyesapnya beberapa kali yang nyatanya memang terasa seperti kopi biasa.

Yixing tersenyum simpul menatap istrinya. “Enak,” ujarnya. Istrinya membalas dengan sunggingan senyuman bahagia pula.

“Aku sudah mengatakan bahwa aku akan melakukan apapun demi orang yang kucintai,” batin Yixing dalam hati. Ia menahan napas saat dirasa denyut nadinya terasa bergejolak tak stabil. Saat dirasa oksigen di dalam paru-paru terus berkurang diikuti pandangan di matanya yang memburam.

Ia meletakkan cangkir tersebut pada pinggir nakas terdekat darinya lalu memejamkan matanya rapat-rapat menahan perih yang seakan-akan terdapat seribu pisau belati tengah mengulitinya saat ini juga.

Pada akhirnya, Yixing jatuh meringkuk di ubin dingin. Meringkuk dan berlutut di bawah orang terkasihnya.
Yang malam itu ternyata adalah malaikat mautnya.

.
.
.

Bukankah aku sudah mengatakan padamu? Bahwa aku akan melakukan apapun untukmu. Saat satu ucapan cinta yang keluar dari bibirmu itu tertangkap pada gendang telingaku, seketika membuat dunia serasa menjadi milikku. Saat kau tertawa lepas bersamaku selama 10 tahun terakhir ini, seketika membuatku sedikit demi sedikit melupakan yang namanya takdir buruk di masa mendatang. Saat kau datang menguatkanku yang tengah terpuruk, seketika membuatku selalu berpikir bahwa aku akan selalu baik-baik saja jika bersamamu.
Aku akan melakukan apapun untukmu. Hanya untuk mendengar ucapan cinta yang tulus keluar dari mulutmu. Yang tidak ada secuil kepalsuan dan kebohongan. Dan jika sebuah pengorbanan nyawa perlu dilakukan agar kau bisa mengatakannya sekali saja secara tulus. Maka aku akan memberikannya.
Aku mencintaimu, Han Chaerin

Zhang Yixing; Orang yang sangat kau benci.
***

Han Chaerin berjalan anggun ke atas altar dengan puluhan pasang mata yang memandang terkesima ke arahnya menggunakan gaun pengantin. Iringan melodi-melodi yang berasal dari dentingan piano dan biola berpadu dengan nyanyian burung gereja di luar mansion. Saat kelopak-kelopak bunga bertaburan pada setiap langkah yang menuntunnya kepada seseorang di depan sana—tengah tersenyum bahagia—.

Ia tersenyum manakala melihat lelaki yang sudah menunggunya di atas altar. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama saat dirinya sempat melirik ke arah lain—ke sebuah bangku panjang di sudut depan ruangan—. Saat lelaki lain tengah memberikan sebuah ekspresi datar—yang mengartikan sebuah ketidak-relaan—ke arahnya yang terus berjalan elok ke arah altar.

Saat kedua tangan itu saling bertemu di atas altar, dan Chaerin bersanding dengan menggenggam telapak tangan hangat calon suami-nya, ia hanya dapat tersenyum tipis—lagi-lagi—. Ia menghela napas pendek, melirik wajah calon suami-nya sebentar yang berdiri tegap bersamanya di hadapan pendeta.

Serta di hadapan Tuhan.

Saat puncak dari acara dimulai, dan sebuah ikrar suci mulai dibacakan. Tangan seorang pria mengepal geram, sedangkan satu tangan seorang pria lainnya lebih dieratkan genggamannya pada orang terkasih.

“Ya, aku bersedia. Menjadi istri dari Zhang Yixing. Berbagi suka di saat bahagia, dan berbagi tangis di saat duka,” sumpah Chaerin mengakhiri. Membuat semua orang tersenyum ikut berbahagia—kecuali satu orang—.

Yixing meraih bahu Chaerin agar berhadapan dengannya. Menatap obsidian hitam itu dalam, kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jas-nya. “Kau harus memakai ini,” titah Yixing melingkarkan sebuah kalung di leher Chaerin.

Han Chaerin tidak melawan. Ia tahu, ia telah terikat pada detik itu juga. “Aku mencintaimu, Han Chaerin.”

Lalu kedua bibir itu bertemu dalam satu pagutan intensif. Menimbulkan suara riuh dari beberapa orang yang bertepuk tangan bahagia melihatnya. Dan juga, menimbulkan sebuah amarah terpendam di lubuk hati seseorang.

“Ya, aku mencintai—”

“—kalian,” batin Chaerin sembari menutup kedua bola mata-nya rapat-rapat.

.
.
.

THE END

.
.
.

THIS IS NOT THE END

.
.
.
Wanita itu membalas setiap senyuman yang tertuju ke arahnya dengan ramah. Saat jepretan-jepretan yang berasal dari lensa mengambil gambar-gambar tentang dirinya. Para orang yang lapar akan berita tentu saja akan rela melakukan apa saja demi bisa mewawancarai wanita itu.

Orang-orang yang mengaku sebagai fans wanita tersebut tengah mengantri sembari membawa buku-buku bersampul hitam yang terdapat tiga gambaran tokoh; seorang wanita dengan dua pria di kanan-kirinya.

“Nona Park Hyora, bagaimana anda dapat membuat cerita yang memancing setiap pembacanya terbawa suasana dan emosi dengan konflik rumit seperti ini? Mungkinkah anda pernah merasakan cerita ini secara langsung?” Seorang wartawan berargumentasi dengan candaan, berdiri di samping wanita bernama Park Hyora yang tengah menanda-tangani novel terbarunya yang dibawa oleh seorang gadis remaja pada antrian.
“Tentu saja tidak. Ceritaku kali ini terlalu dramatis. Aku bahkan sempat tertawa saat membacanya sendiri,” jawab Park Hyora dengan senyuman ramah.

“Berbeda dengan novel-novel karya anda sebelumnya yang rata-rata bertemakan percintaan para remaja yang lovely dan fluffy, kali ini sepertinya anda ingin mengekspresikan sesuatu yang baru, hm?” tanya salah satu lebah penyerap berita itu.

“Ya, begitulah. Aku hanya ingin membuat suatu gebrakan. Dan begitulah—” wanita itu berdehem. “Responnya sangat baik dan membuatku benar-benar kaya kali ini,” diiringi tawa konyol. Orang-orang di sekitarnya-pun ikut tertawa, tak menyangka dengan pola pikir sang penulis muda berbakat tersebut.

“Hal lainnya yang membuat beberapa orang tertarik adalah, mengapa anda memberikan judul novel ini dengan ‘Ini Bukanlah Sebuah Akhir’?”  timpal wartawan lainnya.

“Ya, aku hanya beranggapan, dari cerita Han Chaerin si wanita yang bisa segalanya dan egois tentang cinta, Zhang Yixing si pria yang mengorbankan segalanya dan mengerti tentang cinta, serta Park Chanyeol si pria yang menghalalkan segalanya dan belajar tentang cinta, bahwa ketiga tokoh itu masih mempunyai cerita lain untuk perjalanan hidupnya—kecuali Yixing—ke depannya. Jujur, aku tidak suka sesuatu yang berakhir sedih. Jadi, aku sengaja memberikan akhir yang tabu agar para pembaca bisa berekspetasi tentang bagaimana akhir yang tepat untuk setiap tokoh,” jelasnya diiringi kekehan ringan.

“Kami dengar, novel ini akan diangkat ke layar lebar.”

Hyora memasang ekspresi terkejutnya yang polos. “Benarkah?! Ah, aku pasti benar-benar kaya nanti,” kembali tertawa renyah.
“Baiklah. Kami sebagai pembaca, akan kembali menunggu cerita lainnya dari anda, Nona,” tukas seorang wartawan dan suara riuh kembali terdengar di sana-sini. Membuat Park Hyora cukup bangga akan karya-nya tahun ini.

.
.
.

“Ya, aku akan kaya dengan ini.”

.
.
.

Pada malam dimana aku membawa mereka pergi,
Aku akan selalu mengingat bahwa kepuasaan dunia bukanlah segalanya,
Aku akan selalu mengingat kata-kata cinta yang mereka berikan padaku,
Aku akan selalu mengingat bahwa aku adalah seorang wanita yang pernah dicintai.
Kepada dunia baru yang menyambutku tanpa seseorang di sisiku,
Aku mengucapkan cinta untuk diriku sendiri,
Kepada kegelapan yang membawa cintaku pergi,
Aku terlelap dengan tangisan menyedihkan di malam purnama.
Saat tidak ada lagi yang mengucapkan kepadaku seuntai kata cinta,
Biarkan aku terpaku di sini seorang diri,
Di ruang hampa yang diselubungi oleh penyesalan,
Membayar dosa dengan airmata yang terbuang sia-sia,
Tersiksa perlahan karena sebuah kerinduan.
Ketika suatu saat nanti aku menemukan cinta lain,
Aku ingin menjadi orang yang lebih mencintai,
Agar aku bisa merasakan apa yang namanya,
Pengorbanan, kesetiaan, kebahagiaan, dan rasa sakit
Yang murni karena didasari cinta.
Terima kasih untuk kalian yang mengajariku tentang apa itu cinta.

Penulis
-PARK HYORA-

.
.
.

This Is Not The End
Hai, all! Begimana? Absurd + membingungkan sekaleee bukan? *cieleeee*. Saya gak nyangka bisa bikin FF ‘dosa’ macem ginian loh dikala kesibukan pelajar akhir tahun-___-

Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih dan beribu maaf untuk kedua artworker yang sudah mau bikinin cover buat nih FF abal. Bukan tanpa alasan saya menyertakan dua cover sekaligus. Kemarin, saya bener-bener gak tau jika cover-nya akan jadi diwaktu yang berbarengan *ugh! Jujur ini kesalahan saya yang gak sabaran T^T*. Maka dari itu, saya menyertakan keduanya untuk menghargai para artworker yang mau bikinin ini. Thank so much and please don’t blacklist me of subscibers list T__T

Kedua, terima kasih untuk kalian semua para pembaca—khususnya untuk teman-teman seangkatan saya yang tak perlu disebutkan namanya XD. *Ini dah gue buatin FF, puaskan lo-lo pada anak RT-_-*

Terakhir—duh panjang gile ini curcol-nya—, bagi yang ingin kenalan lebih dekat ama saya*saya gak lagi cari jodoh loh yah. Jangan disalah-gunakan-_-* Langsung aja follow > @k_writer99 . Insyaallah ntar di polbek :3

DAN… JANGAN LUPA REVIEW-NYA DI BAWAH INI! *muka kak ros*

Salam hangat,
K-Writer

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s