[EXOFFI FREELANCE] Black Enchanted (Chapter 3)

enchanted-copy

BLACK  ENCHANTED  CHAPTER 3 (PURE BLOOD)

Author        : Rhifaery

FB        : Rhifa Chiripa Ayunda

IG        : @chiripachiripi

Blog        : rhifaeryworld.wordpress.com

Main Cast    : Airin (OC), Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun and Suho

Genre        :Fantasy, Romance

Rating        : 17+

Author Note    : Inspired by Diabolix Lovers

Summary    : Airin yang tak pernah tahu asal-usul keluarganya, tiba-tiba dikirim pihak gereja ke sebuah rumah berisikan enam pria menawan: Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun dan Suho yang ternyata masih mempunyai hubungan darah dengannya. Namun kenyataan mengatakan bahwa mereka adalah vampir yang haus akan darah manusia. Menjadi satu-satunya seorang mortal mampukah Carroline membebaskan diri tanpa pernah terikat dengan pesona mereka?

Semua orang hidup untuk sebuah alasan.

    Pria itu berdiri di tepi ranjang sembari memakai kembali kaos putihnya. Dia baru saja mandi dan memutuskan kesini sebelum gadis itu terbangun dari pingsannya beberapa saat lalu. Tangguh, Chanyeol tidak berhenti memujinya karena keberaniannya yang tak terelakkan. Untuk seumuran dia, biasanya para gadis akan pasrah dan menyerahkan darah mereka secara cuma-cuma.Tapi gadis ini justru memberikan permainan yang menarik. Pergolakan hebat yang membuat dirinya menjadi tertantang.

    “Pagi honey?” Sapanya begitu ia melihat pergerakan gelisah dari gadis itu. Perlahan ia membuka mata bulatnya yang berwarna kecoklatan dan terkejut mendapati keberadaan Chanyeol di kamarnya.

    Airin pada dasarnya sudah merasa tak nyaman sejak tadi. Tidurnya tak pernah nyenyak,(tentu siapa yang bisa tidur di tengah kandang vampir seperti ini). Seketika ingatannya tertuju pada kejadian yang baru ia alami. Dia berusaha kabur dan seseorang memukulnya dari belakang. Melihat Chanyeol yang tersenyum seperti itu seketika membuatnya yakin akan presepsinya dan apa yang membuatnya kembali ke tempat ini.

    “Tidurmu nyenyak sekali yah, hemm?” Chanyeol berusaha berbasa-basi walaupun Airin menatapnya dengan penuh kebencian.

    “Nyenyak sebelum kau datang!” Tukasnya cepat. Gadis yang menarik. Sebelumnya memang tidak ada yang berani menjawab seperti itu padanya.Hanya Airin. Mainan baru dan menarik baginya.

    “Kau tahu, aku memimpikanmu pagi ini?”

    “Setuhuku itu bukan urusanku.”

    “Yah benar, tapi itu membuatku menginginkanmu.”

    Sebuah Skakmat untuk Airin. Chanyeol membuka separuh selimut yang menutupi badan mungil gadis itu menampilkan gaun putih berenda yang digunakan saat tidur. Kakinya beranjak naik ke kasur, menikmati mimik ketakutan yang sengaja ia ciptakan untuk menggodanya. Barangkali dia tidak tahu, vampir sangat senang memandang wajah ketakutan dari mangsanya.

    “Menjauhlah dariku Chanyeol!” Tukasnya. Kedua tangannya ia arahkan ke dada pria itu namun segera ditahan oleh Chanyeol.

    “Tak perlu menegang, kau akan menikmatinya nanti.” Chanyeol menyila rambutnya memindahkan pada sisi kiri, secara tak sengaja dilihatnya bekas gigitan pada leher gadis ini. “Oh, ternyata aku yang ketiga yah, perlu kau sadari cantik, sebenarnya aku tidak suka mengambil mangsa dari orang lain tapi kau adalah satu-satunya yang kuabaikan hari ini.”

    Kemudian Chanyeol menyikap gaun putih gadis itu sampai ke paha. Memperlihatkan kaki jenjang yang putih mulus dan tanpa bekas luka. Airin baru saja menahannya, namun Chanyeol lebih dulu menenggelamkan wajahnya di sana lantas menggigitnya, “Akkhh!”

    Chanyeol menghisap sangat kuat sehingga secara tidak sengaja Airin mencengkram rambut pria itu erat. Rasa sakit menjalar hingga ke semua bagian kakinya. Membuatnya merasa bahwa mungkin dalam waktu dekat ia akan kehilangan kakinya.

    “Chanyeol hentikan… ini sakit!”

    “Ini tidak akan sakit jika kau mengizinkanku untuk melakukan lebih!” Dan tangan Chanyeol mengerayap mengelus perlahan paha satunya tanpa melepas hisapannya.  Tahu kemana tangan itu akan berlabuh, Airin langsung mencegahnya.

    “Tidak. Tolong jangan lakukan.” Tak peduli permintaannya Chanyeol tetap tidak menghentikan aksinya. Malah dipijitnya perlahan paha gadis ini membuat lingkaran-lingkaran kecil dengan tanganya hingga sampai ke pangkal pahanya. Membuat Airin seketika melupakan rasa sakit dari paha satunya. Dan yeah, Chanyeol bisa mendengar gadis itu mendesah perlahan. Bitch girl!

    “Akan kucoba persikap profesional kali ini. You give me blood and i give you complacency.”

    “Kubilang hentikan Chanyeol!” Airin berteriak. Respek memukul kepala Chanyeol hingga pria itu tak sengaja memperdalam gigitannya. Sangat sakit. Seperti ada yang sobek dan terlihat darah segar mengalir sampai ke lututnya. Chanyeol menelusurinya dengan jarinya lantas menjilatnya, “Sweet blood!”

    Airin menggunakan kesempatan itu untuk menggembalikan letak gaunnya dan menutupi tubuhnya kembali dengan selimut. Gigitan yang sangat sakit, apalagi saat melihat ekspresi bodoh Chayeol, itu membuatnya sangat-sangat membencinya.

    “Baiklah, aku tidak memaksa jika kau tak menginginkannya!” Ujarnya sambil membersihkan sisa-sisa darah dari mulutnya. “Segeralah keluar, mereka menunggumu makan.”

***

    Airin melangkahkan kakinya menuju ke meja makan dan langsung mejadi tumpuan tatapan mata. Walau cukup lama waktunya untuk mandi, ia hanya membersihkan sisa-sisa perlakuan Chanyeol dan mengganti pakaiannya dengan pantas. Sedikit dari cara berjalan yang berbeda yakni dengan terseok-seok mengundang perhatian khusus.

    “Kau baru saja memakainya?” Bisik Sehun dan disambut cengiran tolol dari Chanyeol.

    “Aku tak bisa menahannya, she is really teasing me?” Sedikit kesal Sehun membalas dengan decakan keras. Seharusnya tidak ada yang boleh memakinya dan siapa yang tak mengenal Chanyeol, seorang vampir dengan kelakuan abnormal yang suka menghisap mangsanya di bagian paha. Seolah-olah bahwa dia sedang menggigit ayam.

    Begitu selesai makan, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing bersiap ke sekolah. Hanya Airin yang masih terduduk di meja makan. Bukan lantaran dia belum kenyang melainkan kakinya yang sangat susah untuk diajak berjalan. Benar-benar harus menunggu semuanya pergi barulah ia akan kembali menuju ke kamar.

    “Kau tidak apa-apa?” Suara D.O yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Tanpa permisi pria itu langsung memeriksa kakinya yang ternyata masih mengeluarkan darah.

    Sungguh Airin takut bahwa pria itu melakukan sesuatu yang lebih. Bukankah vampir selalu tertarik dengan darah, D.O bisa saja memangsanya jika mengetahui ada banyak darah yang keluar melalui kakinya. Namun D.O yang bersikeras bahwa dia tidak akan menyakitinya membuat Airin akhirnya luluh juga. Ia mengizinkan D.O menaikkan sedikit gaunnya guna memeriksa lukanya.

    “Ini harus dijahit.” Ungkapnya kemudian.

    “Ini tidak apa-apa, sungguh. Aku sudah memperbannya sendiri.” D.O yang agaknya tidak setuju dengan pernyataan gadis itu. Bagaimana ini disebut perban jika kain yang digunakan saja potongan bajunya sendiri.

    “Kau mau kakimu kupotong?” Airin terdiam seolah menganggap bahwa itu adalah ancaman darinya. D.O lantas mengambil langkah selanjutnya. Menggendong gadis itu menuju ruangan yang lebih tenang. Lalu dengan perlahan didudukannya Airin di kursi malas miliknya. Mengambil alat jahit dari lemari penyimpanan dan lantas duduk di bawahnya gadis itu.

    “Naikkan bajumu sedikit?”

    “Apa?”

    “Kau harus menaikkan bajumu agar aku bisa mengobatimu.” Sial, hampir saja Airin salah tingkah atas pernyataan D.O. Chanyeol yang kelewat sialan itu, untuk terakhir kalinya ia mungkin tidak akan mengizinkan melakukan ini padanya.

    “Apakah sakit?” Airin bertanya ragu, begitu D.O mengeluarkan beberapa alat jahit termasuk suntikan dan sebagainya. Bahkan dia meragukan kemampuan D.O untuk mengobatinya.

    “Sakitnya tak akan lama.” Jawabnya cepat. Sengaja menghibur gadis itu agar tidak terlalu takut padanya. Ia melepas perban yang dibuat asal-asalan gadis itu, pantas saja ini terlalu tipis sehingga tidak bisa menghambat darahnya. “Tak perlu meragukanku, dulu sewaktu aku jadi manusia ayahku adalah pemilik rumah sakit besar sehingga aku akrab dengan alat-alat ini.”

    “Kau pernah menjadi manusia?”

    “Kau pikir kehidupan vampir dimulai dari apa?” Gadis itu menatap penuh rasa ingin tahu hingga tidak menyadari rasa sakitnya saat D.O  memasukkan jarum di kulitnya. “Aku dan Kai adalah keturunan manusia. Sementara yang lain keturunan darah murni.”

    “Darah murni?”

    “Mereka yang lahir dari pasangan vampir asli adalah darah murni.”

    Masih dengan penasaran Airin melanjutkan pertanyaannya. “Apa kalian bersaudara?”

    “Tidak. Ayah Sehunlah yang mengadopsi kami semua. Membentuk kami menjadi satu klan dan yeah, rumah yang kau tempati ini adalah rumahnya.”

    Dalam hati Airin mencibir. Rumahnya? Pantas saja pria itu sedikit arogan dibanding lainnya. “Siapa yang merubahmu?” Tidak seperti sebelumnya yang langsung menjawab, kali ini D.O terdiam. Memfokuskan dirinya untuk mengobati kaki gadis itu.

    “Sudah selesai!” Jawab D.O seketika. Sangat cepat D.O mengobatinya hingga sekarang kakinya sudah terbungkus perban dengan alat yang semestinya. “Lain kali kau harus menendang Chanyeol sebelum dia melakukan ini padamu.”

    Airin tahu ada yang tidak beres dengan hal ini. Reaksi D.O yang begitu tiba-tiba membuat gadis itu yakin bahwa D.O menyembunyikan dari apa yang ingin diketahuinya. Namun ia memutuskan untuk tidak memprovokasinya. Sedikit penjelasan darinya ia anggap cukup ditambah bantuannnya mengobati lukanya.

    “Terima kasih?” Kata gadis itu tulus. Memang itu adalah ungkapan manusia namun ia rasa D.O berhak menerimanya. Sebelum akhirnya Airin keluar melalui pintu ia pun mendengar samar-samar D.O memanggilnya. Dan dia pun menoleh menatap D.O dengan pandangan berbeda. Seperti seorang yang rapuh, tertahan dalam diri yang sama sekali tak diinginkannya.

    “Ada apa?” Airin menanyainya.

    “Beritahu aku jika kau ingin pergi.”

    Dreekk!

***

    Airin tak bisa berhenti berpikir. Rasa ingin tahunya memuncak seiring dengan reaksi D.O yang seolah menutupi sesuatu. Seperti ada rahasia besar yang tersembunyi dari mereka perihal kehidupan juga kehadirannya di tempat ini. Sekalipun dia membenci itu setengah mati, ia toh tetap ada hasrat untuk mengetahuinya.

    Dengan kaki terseret mungkin saja sedikit sakit, Airin memaksakan dirinya untuk berjalan mengelilingi koridor sekolah, mencari satu-satunya seseorang yang ingin dia temui atau mungkin saja ia rindukan -Kai. Sama seperti yang dilakukan D.O pria itu menyuruhnya pergi. Seolah ada hal berbahaya yang akan terjadi jika dia terus disini.Sialnya, keberadaan pria itu memang sulit ditemui akhir-akhir ini. Bahkan di rumah, di sekolah pun Kai tak nampak batang hidungnya. Sempat juga Airin mencarinya di atap namun hasilnya begitu nihil. Kai seolah menghilang.

    Frustasi karena tidak menemukannya, Airin berinisiatif kembali ke kelas. Menumpukan kepalanya pada meja kayu yang kebetulan masih tidak ada siapapun di dalamnya.

    Cklakk, Dari ujung pintu dia melihat Sehun berjalan memasukkan kedua tangan ke saku celananya yang tampak sedikit arogan. Langkahnya lurus menatap Airin yang juga berdiri memandangnya. Dia benar-benar lelah malam ini.  Jika kedatangannya hanyalah untuk menghisapnya lagi, ia mungkin bisa mati.

    “Kau mencari Kai?” Pertanyaannya langsung mengenah. Sial, lagi-lagi dia melupakan fakta bahwa vampir mempunyai kekuatan super.

    “Kau tahu kemana dia?” Kepalang tanggung Airin langsung mengutarakan maksudnya. Ia memang tipikal wanita yang apa adanya dan itu sedikit menjadi hiburan untuk Sehun.

    “Untuk ukuran gadis sepertimu, kau benar-benar berani.” Dengan cepat Sehun mengarahkan tangannya merangkul pinggang gadis itu dan menghadapkannya ke arahnya. Seperti posisi kemarin Sehun bahkan bisa mendengar jantung gadis itu berdetak tak karuan. Perasaan takut yang sengaja ia sembunyikan rapat-rapat. “Ada perlu apa kau dengan Kai?”

    “Aku hanya ingin menanyakannya sesuatu?”

    “Apa, tanyakan saja padaku.” Sehun memberikan penawaran menarik walaupun tetap dengan cara yang murahan.  Airin pikir tidak ada salahnya jika bertanya pada Sehun. Dia juga seorang vampir apalagi dengan posisinya yang tergolong murni.

    “Bagaimana seseorang bisa menjadi vampir?”

    Pertanyaan menarik dan membuat Sehun melepaskan tangan dari tubuhnya. Ia terdiam sesaat. Berpikir apakah ini waktu yang tepat untuk menjelaskan sesuatu pada gadis ini. Lagi pula ini bukan tugasnya. Namun Airin tetap menunggunya sampai pria itu bersedia bicara.

    “Kau benar-benar ingin tahu yah?” Pertanyaan Sehun disambut anggukan tegas oleh Airin. “Jika aku memberi tahumu sanggupkah engkau kecewa?”

    Walau mulai ragu Airin tetap mengangguk. Mungkin jawaban yang diberikan Sehun jauh dari presepsinya. Dan tidak mungkin jawabannya itu hanya sekedar digigit. Karena Airin tak menemukan perubahan itu pada dirinya walaupun dia digigit berkali-kali.

    “Tidak mudah jalan untuk menjadi seorang vampir kecuali jika vampir itu menginginkannya.” Sehun memulai penjelasannya menghadap ke arah pepohonan rindang melalui kaca jendela.“Pada malam kelahiran, Itu adalah malam kelahiran yang bisa vampir gunakan untuk merubah manusia. Para vampir baru akan diadopsi oleh klan-klan tertentu dan digunakan untuk kepentingan kelompoknya.”

    Dia mengikuti Sehun kemana arah langkah kaki itu berjalan. “Berapa lama kau hidup?” Dia bertanya.

    “Mungkin sudah 99 tahun.” Dan dia terlihat masih 18 tahun. Airin mengomentarinya dalam hati tanpa ingin melihat Sehun. Bahkan Sehun terlihat lebih muda darinya yang usianya menginjak 19 tahun.

    “Walaupun aku masih kecil tapi akulah yang memegang kendali kau tahu mengapa?”

    “Karena kau darah murni.”

    “Good Girl.” Sehun memujinya walaupun itu berwujud celaan. Menatap kembali mata kecoklatan gadis itu, “Jadi masih berani menolakku?”

    “Aku ingin bertanya lagi.” Ucap Airin cepat berusaha mengalihkan perhatian Sehun terhadap hal-hal yang tidak ia inginkan. “Mengapa kalian menahanku bukannya malah melepaskanku?”

    “Aku pikir kau sangat suka ditahan disini?”

    Sehun mencibir. Pada akhirnya dia kembali mendekatkan badannya pada gadis itu. Menguncinya dengan tatapan mematikan yang tidak bisa gadis itu mengelak. “Tidak semua hal yang ingin kau ketahui akan ku jawab.”

    Dengan kedua tangannya, Airin berusaha mendorong pria itu jauh-jauh. Namun Sehun malah mencengkram tangannya kuat. Well, harusnya dari awal tahu, mendekati pria ini adalah berbahaya apalagi  saat dia mendapatkan penjelasan penting itu. “Kau sudah bersamaku disini jadi jangan berani-berani kabur lagi.” Ucapnya pelan yang hampir menggigit lehernya.

    “Aku akan tetap pergi dari sini, kau tahu?” Elaknya cepat. Tak peduli apapun alasannya Airin sudah bertekat bahwa ia akan menjauh dari sini secepatnya. Apapun caranya.

    “Jadi kau lebih memilih mati, begitu?”

    “Dimana Kai?” Itu adalah pertanyaan untuk kata-kata penuh intimidasi Sehun. Dari awal tujuannya adalah mencari Kai. Dan rasanya muak jika menerima ancaman itu lagi dan lagi.

    “Kau berharap dia menolongmu, tidak ada yang benar-benar menolongmu disini.”

    “Seperti halnya kau yang berharap semua akan setia padamu?”

    Tampaknya Sehun mulai hilang kesabaran. Ditatapnya gadis itu dengan geram. Tangannya mencekik leher gadis itu hingga membuatnya hampir kehilangan napas. Seberapa sering Airin membuatnya kesal dia tidak akan tinggal diam jika harga dirinya terus diinjak-injak oleh gadis itu. Ia penasaran sanggupkah gadis itu hidup saat dia menggunakan cara kekerasan. Toh selama ini dia juga berusaha sabar menghadapi tingkahnya yang menyebalkan.

    “Kau tidak memintah tolong pada Si Kai-mu itu, kau hampir mati sekarang?” Cibirnya yang tentu saja tidak memberi kesempatan Airin untuk menjawab. Sebelum tangan kanan gadis itu memukulnya Sehun kembali mencengkramnya hingga membuatnya meringis. “Semakin kau memberontak maka kubuat kau semakin sakit.” Katanya dingin. Tidak Sehun tidak seperti ini. Sekalipun dia menggigitnya dia tidak mungkin menggunakan cara menyakitkan yang seperti ini. Setidaknya itu sudah menjadi pendapatnya.

    Maka dari itu sebelum Sehun semakin jauh bertindak, dia mengambil kesempatan untuk mengangkat kakinya bebas dan menendang selangkangan pria itu sekuat mungkin. Dan dia berhasil. Untuk pertama kali Airin mendengar teriakan pria seperti itu. Apa vampir juga bisa merasa sakit? Tapi sungguh itu bukan pemikiran yang tepat karena satu-satunya yang tepat adalah menjauh dari pria itu secepat mungkin.

    “Fuck You!” Pria itu mengumpat. Bahkan sebelum menggunakan kekuatannya untuk menutup pintu, Airin sudah lebih dulu kabur. Ia tahu dia bahwa melakukan hal itu pada Sehun sama saja dengan mengundang kematian. Ia menyesal atas perlakunya yang terlalu berani. Tidak ada jalan untuk kabur jika ini masih dalam kawasan kandang vampir. Sekalipun banyak orang yang memandangnya aneh, ia toh tetap tidak tertolong jika itu menyangkut masalah dengan Klan Kletern.

    Ditengah-tengah kekalutannya, sebuah pikiran baru mendadak muncul. Ia ingat tadi D.O menawarkan sesuatu yang mustahil. Beritahu aku jika kau ingin pergi. Dia mengatakannya seperti itu seolah-olah bahwa D.O akan membantunya keluar dari tempat ini. Untuk itu, secepat mungkin Airin memutar halauan. Mencari D.O di seluruh ruangan sekolah. Syukurlah pria  itu tidak sulit untuk ditemui karena dia melihat D.O yang beru melangkah keluar dari ruang laborotorium.

    “Ada apa?” D.O sedikit bertanya sekaligus kawatir dengan ekspresi wajah itu. Ayolah, gadis itu terlihat berantahkan. Rambutnya terurai dengan pakaian yang compang-camping. Bahkan gadis itu tidak sadar bahwa kancing atasnya sedikit terbuka.

    “Aku ingin pergi.” Katanya seketika. Menatap D.O dengan tatapan memohon. Berharap agar dia membantunya kali ini. “Sekarang!” Sambungnya sebelum D.O sempat mengatakan kapan atau apalah, yang membuat waktu mereka menjadi semakin sedikit.

    “Ikuti aku.” Jauh dari presepsinya D.O malah langsung bertindak. Mengingat betapa baiknya pria itu. Dan Airin tak akan melupakannya seumur hidupnya.

TBC

Suka banget kalo kalian ngikutin ff ini hingga sekarang, apalagi buat kalian yang nyempatin like+komen. Meskipun saya jarang balas tapi saya selalu baca kok dan sedikit ketawa ketiwi juga ngelihat tebakan kalian yang salah besar!! Untuk chapter selanjutnya, di password yah, soalnya ada scene2 yang bikin risih dibaca banyak org.  Cukup ngisi komen apa yang kalian suka dari chapter ini, sertain alamat email biar aku bisa ngirim paswordnya. Atau bisa juga kalo kalian nanya di sosmed aku ☺

Sekian, gomawo☺

Iklan

118 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Black Enchanted (Chapter 3)

  1. Semoga d.o tidak sepeti mereka yang lain. Entah apa alasan atau pun rahasia merka itu aku membenci mereka . Tolong selamatkan baekhyun dan d.o dari kenistaan para vampir😢😢😢jebal😵😵

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s