[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 4)

IMG_7057(1).JPEG

Tittle/judul fanfic                    : Reason Why I Life

Author                                     : Park Rin

Length                                     : Chaptered

Genre                                      : Romance, Family, Angst

Rating                                     : PG-13

Main Cast&Additional Cast   : Baekhyun

Park Sung Rin (OC)

Mingyu Seventeen

All EXO’s Members

Ect.

Summary                                 : Aku ingin minta tolong, putuslah dengan Baekhyun

Disclaimer                               : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

Author’s note  : Halo! Ini FF pertama author, semoga kalian suka dengan FF ini. Selamat membaca.

“[BREAKING] Girls Generation’s Taeyon dan EXO’s Baekhyun Are Reported To Be Dating.”

Berita itu mengguncangku, setelah berita itu keluar aku segera meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Tak mungkin aku bisa menahan semua perasaanku di sekolah. Saat itu untuk pertama kalinya aku kecewa dengan Baekhyun. Jadi, Selama ini ia hanya mempermainkanku?

Aku segera merebahkan diriku dikasur, mataku benar-benar panas. Kemudian ponselku berdering, aku menoleh sekilas. “Mingyu oppa calling”

“Ya, Oppa.” Kataku lemas, aku benar-benar tak ingin bicara sebenarnya.

“Kau tak apa?” Tanya Mingyu khawatir. Sepertinya, ia tahu perasaanku hancur karena selama ini Mingyu juga curiga dengan hubunganku dengan Baekhyun. Setelah itu, aku menangis. “Rin-a tunggu aku, aku akan berusaha pulang sekarang.” Mingyu kemudian mematikan teleponku, seolah ia mengerti apa yang sedang terjadi.

30 menit kemudian, aku mendengar pintu di ketok. Aku melangkahkan kakiku segera, kemudian membuka pintu itu dengan lambat. Siulet lelaki dengan pakaian tertutup terlihat, namun aku tahu benar orang ini bukan Mingyi

Laki-laki itu adalah orang yang menghilang beberapa hari ini, sekaligus orang ini adalah orang yang membuatku uring-uringan dan mempermainkan perasaanku. Segera setelah mengenalinya aku menutup kembali pintu itu rapat. Tanpa membiarkannya menjelaskan semuanya, aku merasa tubuhku tak akan sanggup untuk mendengar semua penjelasannya. Perasaanku mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan skandal ini.

Pintu itu terus menerus di ketok, aku juga dapat mendengar suara Baekhyun terus memanggilku dan ia juga mengatakan akan menjelaskan semuanya. Tapi, di dalam aku hanya berdoa tak berniat membukakan pintu. “Mingyu oppa, cepat datang…”

Tak lama setelah itu, aku dapat mendengar suara Mingyu dari luar. Ketukan pintu itu berhenti digantikan dengan pembicaraan dua orang lelaki. Suara mereka terdengar, namun aku tak yakin apa yang mereka bicarakan. Setelah itu pintu diketok kembali.

“Rin-a.” Suara panggilannya berubah

Aku lega setelah orang yang aku dapati saat aku membuka pintu adalah Mingyu seorang. Aku segera menarik Mingyu masuk, tanpa mengajaknya bicara.

“Sepertinya kau sudah tahu orang yang mengetuk pintu sebelum aku.” Kata Mingyu setelah kami sama-sama duduk di sofa.

“Aku sedang tidak ingin menemuinya.” Jawabku lemah, kemudian melipat lututku keatas dan menaruh daguku dilipatan lutuku.

“Apa karena skandal?”

Aku tak dapat menjawabnya, entah mengapa mataku menjadi berkaca-kaca. Mingyu tahu aku mulai dekat dengan Baekhyun, namun Mingyu tak tahu hubunganku dengan Baekhyun sudah mencapai tingkat yang berbeda. Mingyu hanya tahu hubungan kami sebatas fans beruntung yang bisa berteman dekat dengan idolanya.

“Rin-a, Baekhyun hyung sudah menjelaskan semuanya.” Ucap Mingyu membuatku merubah pandanganku yang tadinya melihat lantai menjadi melihatnya.

“Kau sudah benar-benar tahu semuanya?” Tanyaku setelahnya dan hanya di jawab anggukan oleh Mingyu.

“Rin-a, sebaiknya jauhilan Baekhyun hyung.” Kata Mingyu kemudian membuat dadakku gemetar. “Aku tahu ini berat untukmu Rin-a, tapi aku merasa kau tak akan pernah bahagia dengan Baekhyun hyung. Ini bisa terlihat dari skandal itu, bahkan kalian belum ada tiga hari menjalin hubungan serius, tapi kau sudah tersakiti. Aku hanya tak mau jika adikku tidak bahagia.” Tambah Mingyu menatap mataku lekat.

Bibirku mengatup seakan tak mampu membalas semua kata-kata Mingyu. Aku tahu Mingyu tidak mengatakan hal yang salah.

“Rin-a, aku mengatakan ini serius. Aku tahu kau akan membutuhkan waktu untuk masalah ini, tapi percayalah padaku, Rin. Baekhyun tidak akan bisa membuatmu bahagia, feeling-ku benar-benar kuat untuk hal ini.” Mingyu menatapku mantap, namun entah mengapa aku merasa bimbang antara harus mempercayainya atau tidak.

“Maaf Rin, aku tak bisa lama-lama, tadi aku pergi saat jam istirahat dan sepertinya sudah habis. Aku harus segera kembali sebelum seungcheol hyung memarahiku. Aku pergi sekarang ya? Ingat pertimbangkan kata-kataku tadi.” Mingyu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia meninggalkanku dengan sejuta kebimbangan.

Ucapan Mingyu selalu terngiang dalam pikiranku. Logikaku ingin mengikuti saran Mingyu, namun persaanku berontak jika aku harus menjauhi Baekhyun. Haruskah aku mengikuti logikaku? Atau harus terhanyut dalam perasaanku?

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar, sepertinya otakku sudah tak sanggup berpikir lagi. Ia terlalu lelah untuk berpikir, aku tak bisa menentukannya sekarang semuanya sama kuat.

Mataku segera terpejam setelah kepalaku menyentuh bantal empuk bersprei putih itu. Aku harus segera tidur meskipun rasanya begitu tak nyaman. Apa yang harus kulakukan? Saat seperti ini biasanya suara Baekhyun bisa menenangkanku, atau dekapan Mingyu bisa membuatku nyaman, tapi sekarang aku bisa apa? Semuanya seakan menjauh. Aku menyalahkan diriku karena harus tergantung dengan Mingyu hingga tak mempunyai teman satupun, aku juga menyalahkan perasaanku yang harus jatuh cinta dengan Baekhyun, orang yang seharusnya tak aku miliki.

Akankah aku bisa berhenti tergantung dengan Mingyu? Apakah aku juga bisa berhenti mencintai Baekhyun? Sanggupkah aku hidup saat mereka berdua tak disisiku? Aku mungkin bisa berhenti bergantung pada Mingyu, namun aku tak yakin bisa berhenti mencintai Baekhyun. Setelahnya aku tak ingat apapun lagi, aku tertidur karena lelah memilih dan berangan-angan. Aku masuk ke alam mimpiku, berharap dimimpiku aku bisa menemukan jawaban yang pasti.

Cahaya matahari pagi itu datang masuk, mengundangku kembali kedunia nyata. Aku membuka mataku perlahan, kemudian berusaha menyesuaikan cahaya yang menyinariku. Aku tersenyum pahit saat aku masih belum bisa menemukan jawabananya.

Pagi itu terasa begitu dingin, padahal sebentar lagi musim panas. Kakiku melangkah cepat, menuju halte bis. Aku menundukan diriku dikursi tunggu, masih lima belas menit lagi sebelum bis yang mengantarkan aku sekolah datang. Mataku perlahan melihat ponselku yang layarnya masih hitam. Ponsel itu tak aku nyalakan setelah Mingyu pamit kemarin, alasannya karena aku tahu Mingyu akan menghubungiku lagi.

Aku menekan tombol pendek di sebelah ponselku, kemudian layar yang tadinya gelap berubah terang. Setelah beberapa detik, aku bisa melihat beberapa notifikasi masuk. Aku bisa melihat nama Mingyu di pesan yang masuk ke ponselku, begitu juga dengan bos tempat kerjaku. Sepertinya kemarin aku lupa minta izin tidak masuk kerja, untungnya bosku orang baik, ia sudah mengerti bila aku tiba-tiba tidak masuk. Bosku hanya mengirimi pesan menanyakan keadaanku.

Senyumku berubah pahit saat tak satupun nama Baekhyun muncul di layar ponselku, apakah Baekhyun hanya ingin mempermainkanku saja kemarin dengan tiba-tiba muncul?

Mataku kemudian terfokus lagi saat aku men­-scroll­ ulang orang-orang yang mengirimiku pesan. Sebuah nama familiar, tertangkap. Chanyeol mengirimiku pesan?

”Tak bisakah kita bertemu?” Tulisnya di pesan itu. Aku kemudian sadar, ia ingin bertemu denganku pasti ada hubungannya dengan Baekhyun. Aku masih menimbang-nimbang apakah harus membalas pesan itu atau tidak.

Tak lama bis yang kutunggu datang, membuatku harus menunda kegiatan menimbang-nimbangku. Aku masuk kebis itu, kemudian duduk di deretan tengah. Tanganku mengeluarkan buku berukuran sedang dan mulai membaca, tak berniat membalas pesan Chanyeol.

Waktu menunjukan pukul lima sore, aku melangkahkan kakiku keluar dari gedung sekolah menuju halte bis. Saat ditengah-tengah menunggu bis aku teringat dengan pesan dari Chanyeol. Aku membuka kembali ponselku setelah lama menanggur selama jam sekolah tadi.

“Bisa, aku ada waktu setelah bekerja nanti.” Balasku, aku kemudian menyelipkan lagi ponselku di kantong jasku, setelah beberapa saat ponselku bergentar kembali.

“Jam berapa kau selesai bekerja?” Pesan dari Chanyeol ternyata.

“Jam 8 malam.” Balasku, tak lama setelah aku mambalas bisku datang.

Diperjalanan pulang aku enggan membuka ponselku, meskipun aku sudah dapat merasakan benda persegi itu bergetar semenjak tadi. Pikiranku mulai menjurus ke Baekhyun, member EXO sepertinya sedang tidak sibuk, tapi mengapa Baekhyun tak menghubungiku?

Sesampainya aku dirumah, aku segera mengganti baju dan melangkahkan diriku tiduran di sofa. Sepuluh menit lagi aku harus segera pergi bekerja, namun aku masih malas untuk makan, selera makanku hilang semenjak berita dating kemarin. Tadi disekolahpun aku juga tidak makan siang, aku yakin aku akan terserang penyakit bila terus-terusan tak nafsu makan seperti ini.

Benda itu bergetar kembali, sebuah pesan masuk, aku melihatnya sekilas kemudian tergerak untuk membalas pesan itu.

“Rin-a, kau dimana?” Pesan itu berasal dari Mingyu.

“Aku dirumah, mau berangkat kerja. Ada apa?” Balasku asal, kemudian membuka pesan lain. Aku baru ingat pesan Chanyeol belum aku balas dari tadi.

“Temui aku di café dekat apartemenmu, setelah pulang kerja. Ada yang harus kubicarakan denganmu.”

“Oke.” Jawab singkat.

Tak lama, Mingyu mengirimiku pesan balasan. Tak biasanya Mingyu membalas cepat, biasanya ia membutuhkan waktu 2-3 jam atau bahkan lebih saat aku mengiriminya pesan.

“Tidak, hanya ingin bertanya saja. Hati-hati dijalan, jangan pulang malam.”

“Baiklah.” Balasku, kemudian beranjak dari tidurku.

Waktu menunjukan pukul delapan malam, aku bergegas ganti baju dan merapikan barang-barangku. Sebelum pergi, aku berpamitan kepada bosku dan meminta maaf karena kemarin tiba-tiba tidak bekerja. Bosku hanya mengangguk dan memberikan senyuman ayahnya. Aku selalu bersyukur karena aku diberikan bos sebaik dirinya.

Tempat bekerjaku hanya berjarak beberapa meter dari apartemenku. Aku selalu merasa beruntung mendapatkan apartemen di sekitar sini, karena semuanya ada di sekitar sini. Tempat latihan Mingyu, taman, asrama Mingyu, tempat kerja, hingga café langganan Baekhyun semuanya ada disekitar sini, meskipun tempat ini akan menjadi sangat rawan jika melewati pukul sepuluh malam, namun aku tidak pernah menyesal untuk tinggal disini.

Setelah berjalan sebentar, akhirnya aku sampai di café “Reason café” itulah nama café ini. Jujur saja, ini pertama kalinya aku melihat nama tempat ini. Biasanya, aku hanya masuk saja ke café ini tanpa melihat namanya.

Aku melihat lelaki tinggi duduk di ujung depan café, lengkap dengan jaket, topi, dan masker. Didepannya ada sebuah es kopi yang masih penuh, sepertinya dia juga baru sampai. Aku segera melangkahkan kakiku ke meja itu.

“Apakah kau sudah lama menunggu, oppa?” Tanyaku basa-basi kemudian menundukan diriku di kursi hadapannya. Chanyeol hanya menggeleng, kemudian membuka semua alat penyamarannya.

“Kau ingin pesan apa? Biar aku yang pesankan.” Tanya Chanyeol kemudian, aku kemudian melihat menu sebentar.

“Pesankan aku ice tea saja, oppa.” Jawabku kemudian yang dibalas anggukan dari Chanyeol.

“Sepertinya kau sangat sibuk, sehingga tidak bisa membalas pesanku.” Kata Chanyeol setelah datang kembali ke tempat duduk.

“Aku hanya sedang malas membuka ponsel.”

“Kau malas membuka ponsel atau kau tak mau melihat berita dating?” Tanya Chanyeol tersenyum.

“Mungkin keduanya.” Jawabku ambigu. Selain dekat dengan Baekhyun, aku juga dekat dengan Chanyeol. Kedekatanku dengan Chanyeol karena ia adalah sahabat terdekat Baekhyun. Tak jarang Chanyeol juga ikut saat aku dan Baekhyun bertemu. Chanyeol dan aku juga sering saling mengirimi pesan, namun tak sesering diriku dengan Baekhyun. Mungkin itulah sebabnya mengapa aku bisa bicara lebih leluasa mengenai hubunganku dengan Baekhyun kepada Chanyeol.

“Ini minumannya.” Ahjuma pemilik café datang dengan senyuman keibuannya.

“Terima kasih, ahjuma.” Kataku tersenyum sambil menundukan kepala. Ahjuma hanya membalasku tersenyum kemudian melangkah pergi.

“Sanyangnya aku menemuimu kali ini untuk membahas kabar dating.” Ujar Chanyeol, setelah membiarkanku meminum beberapa teguk ice tea-ku.

“Aku tahu, itu juga salah satu alasan mengapa aku membalas pesan oppa lama.” Jawabku jujur.

“Baekhyun mengatakan padaku bahwa kalian berdua sudah berpacaran semenjak beberapa hari yang lalu, apa itu benar?” Tanya Chanyeol dan aku membalasnya dengan anggukan. “Kau berencana untuk serius dengan Baekhyun atau hanya akan bermain-main dengannya?” Tanya Chanyeol serius.

“Menurut oppa aku akan serius atau hanya bermain-main?” Tanyaku balik sambil mengaduk-ngaduk ice tea-ku.

“Entahlah, tapi apapun jawabanmu aku hanya ingin meminta tolong.” Chanyeol menatapku serius, hingga membuatku mengalihkan perhatianku dari ice tea ke mata Chanyeol.

“Minta tolong apa?”

“Putuslah dengan Baekhyun.” Minta Chanyeol yang seketika membuat dadaku bergetar. Mengapa semua orang memintaku untuk putus dengan Baekhyun?

TBC

Iklan

7 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 4)

  1. Makin shock ><
    Aelah baek kemana di kau? Sudah berkata manis malah menyakiti hati permpuan mu
    Plis jd lah lelaki yg bertanggung jawab, dan yeol semoga alasan mu masuk akal ya!
    Sing sabar rin huhu

  2. sial kenapa semua orang ingin sekali sungrin mengakhiri hubungannya dengan baekhyun sih, what’s wrong? apa chanyeol akan jadi orang ketiga yang berusaha memiliki sungrin wahwahwah. aih kan kesel ahjumma taetae emang err aih kak aku jadi pengen gigit sesuatu… kenapa sih kak ko gitu. pendek ya chapter ini kak. semangat next chapternya ya buruan di update yes aku nunggu terus aih

    • Terima kasih sudah membaca!! Jawabannya ada di chapter selanjutnya ya… maaf banget chapter yang ini singkat 😦 sabar ya, ditunggu next capther minggu depan. 😙😙😙

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s