[EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 1)

Havoc 1.jpg

H A V O C

| Cast : All member EXO-K, Kang Hye-na OC, Kim Hyun-ji OC, Cho Ji-hyun OC, Han Ji-hee OC, Park Rae-sun OC, Kwon Min-ah OC|

|Genre : Romance, Sci-fi, School life|

| Leght : Chapter |

| Rating : PG 15+ |

|Summary : “ Love, power, Sacrifice!” |

|Discalimer : All cast in this FF belong to GOD and their parent. All plot in this story belong to me and ONLY me. This story may content alot of CURSES, so read by your own risk. Also I publish this FF in my Wattpad Account @96dreamgirl |

EXO’s Fanfiction by Hecate Helena

— HAVOC—

Chapter 1

“Terkadang, ketidaktahuan bisa menyelamatkanmu. Maka tetaplah seperti itu.”

H Y E N A

Hal terakhir yang ingin aku lakukan di hari minggu adalah bangun pagi. Tapi sayangnya, benda kecil yang kusebut sebagai jam itu tidak setuju dengan keinginanku. Jangan salahkan aku kalau pada akhirnya benda kecil itu harus berakhir di sudut kamarku dengan bagian tubuhnya yang berantakan. Dasar jam alarm bodoh! Aku mendengus. Mengeratkan kembali selimut ke tubuhku. Mencari posisi nyaman sambil menunggu alam mimpi yang datang menghampiriku lagi.

Tapi tentu saja, takdir tak pernah berpihak padaku. Kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan “Kau tidak akan selalu mendapatkan apa yang kau inginkan?” okeh, aku rasa aku sedang dikutuk sekarang. Bahkan untuk menikmati hari mingguku saja aku tidak bisa. Kau tahu kenapa? Karena bel kematian segera memanggilku.

“Naya~ Irreona!! Cepat bangun dan mandilah. Bermalas-malasan di hari minggu itu tidak baik untuk kesehatan, sayang.

Kau dengar? Itulah bel kematian yang kumaksud. Okeh, aku rasa aku terlalu berlebihan. Sebenarnya, Itu hanya suara bibiku. Jangan salah paham. Aku sangat menyayanginya. Namun terkadang teriakannya di pagi hari mengingatkanku pada suara bel kematian—yang aku sendiri tidak tahu persis bagaimana suaranya.

Aku beringsut bangun. Beberapa kali mengerjapkan mataku yang selalu ingin tertutup. Menggeliatkan tubuhku, berusaha mengusir rasa kantuk yang masih tidak mau pergi. Kau pasti heran kenapa aku langsung menuruti perintah bibiku. Bukankah aku sudah bilang bahwa aku sangat menyayanginya? Nah ah, Sebenarnya bukan itu alasannya. Kalau aku tidak mau menurutinya, dia akan datang ke kamarku, memberikan ceramah panjang tentang kemalasan. Dan percayalah, itu bukan sesuatu yang ingin kau dengar di pagi hari yang cerah.

Aku melangkahkan kakiku ke arah kamar mandi. Hanya sekedar untuk mencuci mukaku dan menggosok gigi. Setelahnya, aku menyambar handuk putih yang bertengger di samping washtafel dan mengelap mukaku. Air segar ternyata cukup bisa menghilangkan rasa kantukku. Tanpa bersusah payah untuk mengganti pakaian tidurku, aku melangkah meninggalkan kamar.

Aku baru menuruni beberapa anak tangga saat aku mendengar dua orang yang sedang berdebat. Aku melangkah lebih jauh ke arah ruang makan. Mendapati bibiku dan sepupu tersayangku—Park Seo Jun , sepertinya anak itu berulah lagi. Bisa kupastikan, bibiku saat ini sedang mengomelinya tentang ‘betapa buruknya minuman keras untuk kesehatan’ atau ‘betapa buruknya meniduri wanita-wanita sembarangan ‘ yang tidak pernah bosan dia jelaskan pada putranya itu.

Apakah aku pernah bilang bahwa bibiku sangat tergila-gila pada kesehatan? Ya, itulah dia. Dan terkadang hal itu sangat mengganggu. Dan melihat bagaimana Seo-jun memberengut dan beberapa kali memutar bola matanya, aku pastikan bahwa saat ini satu-satunya hal yang ingin dia lakukan adalah menghilang dengan tiba-tiba.

“Selamat pagi,” Sapaku, menarik salah satu bangku di depan Seo-jun dan mendudukkan diriku. Memotong perkataan apapun yang ingin bibiku katakan pada putranya itu.

Seo-jun menoleh ke arahku. Seketika seringai lebar terukir di wajahnya, “Pagi, Naya.” Ucapnya membalas sapaan dariku.

“Yah, kau terlihat—kacau,” komentarku setelah memperhatikan penampilannya. Rambut yang acak-acakan, lebam hitam di mata kirinya, dan juga sudut bibirnya yang terluka tidak memperbaiki penampilannya sama sekali.

“Bilang pada sepupumu ini untuk tidak berkeliaran mencari wanita murahan yang selalu siap melebarkan kakinya untuknya!” Bibiku mendengus kesal. Lalu dia melangkah ke arah dapur. Aku rasa dia ingin membawakanku Bokeumbab. Seperti biasanya. Namun, aku sangat yakin dia pergi hanya untuk mencegah dirinya untuk mencekik leher putranya yang keras kepala.

“Kau memang selalu muncul di waktu yang tepat,” gumam Seo-jun, mengambil sepotong pancake dan memasukan ke dalam mulutnya.

“Ya ya, tidak perlu berterimakasih,” ujarku padanya, “Tapi, apalagi yang kau lakukan kali ini? Meniduri wanita yang sudah bersuami lagi?” tanyaku penasaran.

Seo-jun menggeleng, “Anni. Aku tidak meniduri wanita manapun tadi malam.”

“Lalu darimana kau dapatkan lebam hitam di matamu itu?” aku menunjuk ke arah matanya.

Seo-jun hanya menaikan bahunya, “Hanya pertengkaran kecil di bar tadi malam,” ucapnya, memasukan beberapa potong lagi pancake ke mulutnya, “Aku tidak sengaja menyenggol bokong seorang wanita dan pacarnya yang sinting menghajarku.” jelasnya.

“Dan kau cukup mabuk untuk mempertahankan diri.” Aku menebak.

“Gadis pintar!”

Aku menghela nafasku, “Yak, Seo-jun~ah! Kau benar-benar harus menghentikan kebiasaan minummu itu.”

Seo-jun menatapku dan menaikan sebelah alisnya, ”Kau mulai terdengar seperti ibukku,” cibirnya, “Aku membutuhkan hal itu. Kau tahu alasannya lebih dari siapapun, naya~” gumamnya lirih. Sebelum akhirnya memfokuskan pandangannya pada sarapannya lagi.

Aku hanya bisa mendengus. Benar. Aku sangat tahu, kenapa Seo-jun tidak pernah bisa melepaskan dirinya dari minuman beralkohol. Dia tidak pernah membiarkan dirinya sadar satu malam pun. Dia lebih suka pengaruh minuman-minuman itu berkeliaran di sepanjang tubuhnya. Membuatnya sejenak lupa akan semua masalah yang dia hadapi. Setidaknya itulah yang sering dia jelaskan padaku.

Sebuah pengalihan. Aku masih ingat dengan jelas jawaban itu dia lontarkan saat aku bertanya padanya tentang hobinya terhadap minuman-minuman itu. Aku bukannya ingin menceramahinya. Aku tahu betul rasa sakit yang dia rasakan sejak–, yah pokoknya apapun alasannya kalau dia meneruskan kebiasaannya ini, masa hidupnya cepat akan lambat akan berakhir. Dan aku tidak menginginkan hal itu terjadi. Mungkin Seo-jun adalah seorang bajingan, tapi aku menyayanginya. Dia seperti kakak yang tak pernah aku miliki.

Aku tidak berniat menanyainya lebih jauh lagi, sudah sering aku mengingatkan Seo-jun. Tapi, dia memilih untuk tidak mendengarkanku. Jadi aku memutuskan untuk menghiraukannya dan mengisi gelasku dengan jus jeruk kesukaanku.

“Aku tahu kau mengkhawatirkanku, tapi ini jalan satu-satunya yang bisa membuatku tetap waras.” Seo-jun berkata, membuatku menoleh kepadanya lagi, “Tapi ngomong-ngomong, terimakasih.” Seo-jun tersenyum. Senyum yang sangat jarang dia perlihatkan pada siapapun.

Di saat-saat seperti inilah aku merindukan sosok Seo-jun yang dulu. Seo-jun yang periang, Seo-jun yang baik hati, Seo-jun yang selalu hangat pada semua orang, Seo-jun yang selalu tersenyum apapun yang terjadi padanya. Tapi sejak kejadian itu, semuanya berubah. Dia berubah menjadi seseorang yang tidak aku kenal. Dia berubah menjadi seorang bajingan yang selalu mabuk dan meniduri wanita manapun yang lewat di hadapannya. Miris? Aku tahu. Dan semakin hari aku merasa semakin kehilangan sosok kakak yang aku sayangi.

Aku hanya menganggukan kepalaku, kemudian meneguk habis jus jeruk yang baru saja aku tuangkan. Aku melihat bibiku berjalan ke arah meja makan dengan piring di tangannya.  Dia kemudian meletakan piring berisi Kimchi bokkembab di hadapanku. Aku tersenyum dan mengucapakan terimakasih padanya. Dia membalas senyumanku dan mendudukan dirinya di sampingku.

“Aku sudah selesai,” Seo-jun berucap. Dia bangkit dari duduknya. Melirik sekilas ke arah ibunya. Aku hampir yakin dia ingin meminta maaf atas kelakuannya tadi malam. Namun, dia malah berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Bibiku menghembuskan nafasnya dengan berat, aku beringsut mendekat ke arahnya dan mengelus punggungnya. “Semuanya akan baik-baik saja. Suatu hari nanti dia akan berubah.” Ucapku meyakinkan. Bibiku hanya tersenyum sebagai balasan. Dia kemudian menyuruhku untuk memakan sarapanku.

Naya, apakah kau sudah mengemasi barang-barangmu?” tanya bibiku memecah keheningan.

Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk, “Ne.” Jawabku.

“Aku tidak bermaksud melakukan semua ini. Tapi kau harus pergi. Banyak sekali hal yang tidak bisa aku jelaskan padamu,”

“Yah, kau benar. Lagipula, meskipun aku memintamu untuk menjelaskannya, kau tidak akan memberitahuku.” Ucapku sarkatis.

Bibiku mengela nafasnya, “Percayalah ini yang terbaik untukmu.” Dia meyakinkan.

Aku mengangguk, tidak berniat untuk memprotes perkataannya. Terbaik? Okeh, persepsi terbaik bagiku tidak terlalu menyenangkan. Biar aku jelaskan. Aku sangat membenci hidupku? Kau tahu, kenapa? Pertama, aku kehilangan orang tuaku bahkan sebelum aku bisa berjalan sendiri. Dan bahkan sebelum aku mengerti apa itu kematian.

Dan sekarang, setelah merasakan kehidupan yang bahagia dengan bibiku aku dipaksa untuk meninggalkan rumahnya tanpa penjelasan yang masuk akal sedikit pun. Aku hanya diminta untuk pergi, meninggalkan rumah yang menjadi tempat tinggalku dan meninggalkan satu-satunya keluarga yang aku miliki. Tapi bisakah aku menolaknya? Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku bermain-main dengan sesuatu yang telah takdir tentukan? Takdir? Jangan bercanda! Ini lebih mirip seperti kutukan bagiku.

“Suatu hari kau akan mengerti, Naya,”

“Yah, aku juga berharap begitu,”

Bibiku tiba-tiba menarikku ke pelukannya,”Aku sangat menyayangimu. Kau tahu’kan?” bisiknya tepat di telingaku.

Ne, aku tahu,” Jawabku membalas pelukannya.

Beberapa saat kemudian dia melepaskan pelukannya dan menyuruhku untuk bersiap-siap. Aku kembali ke kamarku. Mendudukan diriku di tempat tidurku, aku mengedarkan pandanganku ke penjuru kamar. Yah, kamarku memang tidak besar, tapi tempat ini adalah tempat yang menemaniku hampir sepanjang hidupku. Aku yakin, aku akan sangat merindukan tempat ini.

Aku menghela nafas berat. Merasakan air mata yang mulai mengalir di pipiku. Aku tidak tahu kenapa hidupku tidak beruntung. Seolah aku tidak pernah dibiarkan untuk merasakan kebahagiaan. Dan ketika aku merasakan itu, semuanya harus direnggut dariku. Aku menghapus air mataku. Sudah cukup. Sudah cukup banyak air mata yang aku keluarkan. Sudah cukup permohonan yang aku ucapkan. Tapi ternyata Tuhan tidak sebaik hati itu, apapun yang aku lakukan pada akhirnya aku selalu merasa tidak berdaya.

Sekitar satu jam kemudian, bibiku memanggilku. Aku melihat pantulan diriku di cermin. Setelah merasa semuanya siap, aku menyambar koperku dan keluar dari kamar. Entah kenapa setiap anak tangga yang aku turuni membuat beban di hatiku semakin berat. Aku masih tidak tahu kenapa aku harus meninggalkan rumah ini dan pergi kemana pun orang asing yang akan menjemputku nanti pergi. Tapi seperti yang bibiku bilang ini yang terbaik untukku. Ya, semoga saja.

Aku menghentikan langkahku saat aku melihat Seo-jun berdiri di ambang pintu. Menghalangi pandanganku dari siapapun yang sedang berdebat dengannya.

“Kau yakin kau bisa melindunginya?” tanya Seo-jun, dari nada yang dia gunakan aku tahu bahwa dia tidak menyukai orang yang berdiri di depannya.

“Kau bisa mempercayakannya padaku,” jawab orang itu.

Aku mengerutkan kening, melangkah lebih jauh ke arah Seo-jun untuk melihat lebih jelas orang yang menjemputku. Dan di situlah dia. Berdiri di samping sebuah mobil SUV hitam dengan tangan yang dimasukan ke dalam saku celananya. Aku membayangkan bahwa orang yang akan menjemputku adalah seorang pria paruh baya dengan setelan jas yang rapih. Namun, yang ada di hadapanku saat ini jauh dari perkiraanku.

Dia—Orang itu memakai kaus hitam dengan leather jacket berwana coklat. Jeans hitam yang robek di bagian lututnya dan sepatu sport yang senada dengan jaketnya. Dia menoleh ke arahku saat aku sampai di samping Seo-jun. Orang itu menaikan alisnya dan menyunggingkan senyum tipis ke arahku. Tampan. Yah, harus aku akui. Pemuda di depanku sangat tampan. Tapi image cute yang ditampilkan lebih mendominasi dari sosoknya.

Satu hal yang menarik perhatianku adalah rambutnya. Rambut pirang merah mudanya membuat sosoknya terlihat lebih menggemaskan. Aku perkirakan umur pemuda itu tidak terlalu jauh dari umurku. Mungkin sekitar satu atau dua tahun lebih tua dariku.

Naya, ini Byun Baek-hyun. Dia yang akan mengantarmu.” Ucap bibiku, membuyarkan pikiranku.

Aku hanya mengangguk. Sesaat tatapan mataku bertemu dengan mata pemuda itu. Pemuda itu menyeringai, membuatku mengalihkan pandanganku darinya.

“Maaf, nyonya. Tapi sepertinya kita harus segera pergi. Kami harus sampai di sana sebelum sore.” Pemuda itu berucap, aku melihatnya beberapa kali mengecek jam di tangannya.

Seo-jun tiba-tiba menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan yang bisa dibilang sangat erat. Well, terlalu erat, “Ak- tidak bisa bernafas,” gumamku sambil menepuk-nepuk punggungnya.

Seo-jun meminta maaf dan sedikit melonggarkan pelukannya, “Aku akan sangat merindukanmu. Segera kabari aku saat kau sampai di sana.”

“Aku juga akan sangat merindukanmu,” balasku

Seo-jun melepaskan pelukannya, dia menatapku. Aku bisa melihat kesedihan di matanya. Aku tahu dia sangat menyayangiku seperti aku yang sangat menyayanginya, “Kau akan baik-baik saja. Setelah ini, semuanya akan baik-baik saja.” Seo-jun meyakinkan. Dia kemudian mencium pipiku. Aku hanya mengangguk mengerti.

Setelah berpamitan kepada bibiku, Baek-hyun membantuku untuk memasukan koperku ke dalam bagasi dan aku pun masuk ke dalam mobilnya. Dengan lambaian terakhir kepada bibi dan sepupuku, mobil pun mulai melaju.

Selama 15 menit perjalanan tidak ada satupun dari kami yang membuka mulut. Aku menoleh ke arah Baek-hyun yang sedang menyetir. Matanya fokus ke jalanan di depannya, terlihat tidak berniat untuk melakukan pembicaraan apapun denganku. Yah, sepertinya pemuda ini tidak terlalu ramah.

“Suka dengan apa yang kau lihat?” tanyanya tiba-tiba.

Aku mengerutkan kening, “Apa maksudmu?” aku balik bertanya.

Baek-hyun terkekeh dan menoleh ke arahku, “Daritadi kau memandangiku. Tapi aku tidak bisa menyalahkanmu kalau kau menyukaiku. Aku ini terlalu tampan,” ujarnya.

Aku mendecih dan  memutar bola mataku, “ Pfft, kau terlalu percaya diri. Tuan rambut merah muda,” kataku.

Sebenarnya aku tidak bermaksud kasar pada Baek-hyun. Aku hanya sedikit tidak nyaman kalau berhadapan dengan seorang namja. Seperti— trauma masa lalu? Aku rasa seperti itu.

Dia mengerucutkan bibirnya, “Jangan mengejekku. Rambutku ini sangat modern, asal kau tahu.”

“Ya ya, terserah kau saja. Lagipula mungkin hanya kau yang memilih warna itu untuk rambutmu. Untuk ukuran seorang pria.”

“Memang apa salahnya dengan warna ini? Ini terlihat—sangat keren,” ucapnya sambil mengusap rambutnya.

Aku memutar bola mataku lagi, “Terserah kau saja,”

“Tapi ngomong-ngomong, kita belum berkenalan.”

“Aku sudah tahu namamu,” ucapku sekenanya. Aku melirik ke arah jendela. Dari gedung-gedung baru yang aku lihat sepanjang perjalanan. Aku pastikan bahwa orang di sampingku membawaku ke luar kota.

“Wah, untuk ukuran seorang gadis cantik, kau tidak terlalu ramah.” Komentarnya.

Aku menoleh, “Namaku Kang Hye Na.” Balasku singkat.

“Nama yang indah. Tapi sangat bertolak belakang dengan sifat kasarmu itu,” Aku mendelik ke arah Baek-hyun, dia hanya menaikan bahu dan menatap lurus ke jalanan di depannya lagi.

Aku mendengus, berusaha menghiraukan apapun yang Baek-hyun katakan. Aku merogoh saku jaketku. Mengeluarkan ponsel dan headset dari sana. Berusaha menyibukan diriku dengan bermain game di ponselku.

“Kau tidak bertanya kemana aku akan membawamu?” tanyanya tiba-tiba.

“Itu tidak penting bagiku.” Balasku tanpa menoleh.

“Benarkah? Kau tidak mencurigaiku sebagai pembunuh bayaran?”

Aku menoleh, “Kau terlalu feminime untuk ukuran seorang pembunuh bayaran.” Ejekku.

Aku mendengarnya mendengus kesal dan menggumamkan sesuatu seperti ‘kekuatanku ini lebih hebat dari penampilanku’ atau semacamnya , tapi aku memutuskan untuk menghiraukannya. Aku memasang headset di kedua telingaku. Memutar lagu kesukaanku dan memejamkan mata. Berharap waktu segera berlalu dan aku bisa terbebas dari tuan rambut merah muda di sampingku ini.

Aku tidak tahu berapa lama waktu telah berlalu ketika aku merasakan tubuhku terlonjak ke depan dan membentur dashboar mobil. Ya, cara membangunkan yang sangat keren. Terimakasih pada si bodoh di sampingku ini. Aku menoleh ke arahnya dengan cepat.

Yak! Aku tahu kau tidak menyukaiku. Tapi bisakah kau tidak menginjak rem dengan mendadak? Kau itu bodoh atau tid—“

“Tunggu di sini!” potongnya dengan tegas. Menghentikan umpatan apapun yang sudah siap aku lontarkan padanya.

Aku mengerutkan keningku. Tidak mengerti dengan apa yang baru saja dia katakan padaku. Baek-hyun terlihat kesal. Rahangnya mengeras dan pegangannya di stir mobil sangat erat sampai buku-buku jarinya memutih. Seolah seseorang telah mengusik emosinya. Apa dia marah padaku? Tapi apa yang aku lakukan?

Dia menoleh ke arahku, “Tunggu di sini. Aku akan segera kembali. Dan jangan pernah keluar dari mobil ini apapun yang terjadi. Kau mengerti?”

“Kau ini bicara apa? Aku tid—“

Dia tiba-tiba menarik lenganku dengan kasar,  membuatku meringis kesakitan. “Turuti saja perkataanku dan jangan pernah keluar dari mobil ini!” ucapnya sedikit membentak. Dia terlihat sangat marah, dan aku tidak tahu apa sebabnya.

Aku menelan ludahku dan mengangguk. Yah, apapun itu yang bisa aku lakukan hanya menuruti perkataanya. Baek-hyun melepaskan tanganku dan keluar dari mobil. Aku mengikuti gerakannya dengan mataku. Aku melihatnya pergi memasuki sebuah swalayan kecil di sebuah POM bensin.

Aku melihat sekeliling tempatku berada. Baek-hyun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan besar dekat POM bensin. Gedung-gedung yang aku lihat sebelum aku tidur sudah tidak terlihat lagi. Yang aku bisa lihat hanya pohon-pohon besar mengelilingi jalan. Satu-satunya bangunan yang terlihat hanya POM bensin dan swalayan kecil yang Baek-hyun masuki.

Aku punya firasat buruk dengan tempat ini. Keadaan ini hampir mirip dengan film horor yang sering aku tonton. Di setiap film horor, orang yang ditinggalkan sendiri selalu jadi yang pertama mati. Sial! apakah aku juga akan bernasib seperti itu? Haruskah aku mengikuti Baek-hyun? Oh tidak! Okeh, aku tidak boleh memikirkan hal-hal mengerikan seperti itu. Lagipula Baek-hyun tidak akan mengijinkanku pergi dari mobil ini. Melihat dari caranya memperingatiku tadi, aku rasa dia akan menghukumku kalau aku tidak menurutinya.

Beberapa menit berlalu dengan kegelisahan yang semakin menyelimutiku. Aku berusaha mengalihkan pikiranku dengan bermain game di ponselku. Namun, pikiran-pikiran buruk itu tidak mau pergi. Tiba-tiba aku mendengar suara ledakan dari arah swalayan. Aku cepat-cepat menoleh. Berpikir akan mendapati swalayan yang telah terbakar atau hancur. Namun, tidak ada apa-apa yang aku lihat.

Aku mengerutkan keningku, aku sangat yakin kalau suara ledakan itu berasal dari sana. Dan- Baek-hyun! Ya, apa telah terjadi sesuatu padanya? Apa ledakan itu adalah suara tembakan atau semacamnya? Aku memang tidak menyukai Baek-hyun, tapi setidaknya aku membutuhkan pemuda berambut merah muda itu untuk mengembalikanku ke rumah bibiku.

Aku telonjak kaget saat pintu mobil terbuka. Aku cepat-cepat menoleh. Mendapati Baek-hyun yang masuk kembali ke dalam mobil. Dia kemudian melemparkan sebuah kantong plastik ke jok belakang. Tanpa menoleh ke arahku dia melajukan mobilnya lagi.

“Ka-Kau membeli sesuatu?” tanyaku ragu-ragu.

“Tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu?” jawabnya tanpa menoleh.

“Lalu kau membawa apa tadi?”

Baek-hyun menoleh, “Aku yakin kau tidak akan suka kalau aku menjawab pertanyaan itu.”

“Ap-apa maksudmu?”

Baek-hyun hanya tersenyum dan menghiraukan pertanyaanku. Dia hanya menaikan bahunya dan fokus pada kegiatan menyetirnya lagi. Di sisa perjalanan aku tidak menanyai dia lebih lanjut tentang suara ledakan atau apa yang dia lakukan di swalayan tadi. Aku ingat sebuah pepatah yang mengatakan ‘Rasa penasaran akan membunuhmu’ jadi aku memutuskan untuk menutup mulutku dan berharap bahwa aku bisa melupakan apapun yang aku alami hari ini.

Setelah melewati beberapa tebing curam dan beberapa jam perjalanan agak menegangkan. Akhirnya, kami sampai di depan sebuah gerbang. Aku membeliakan mataku takjub melihat gerbang tinggi di depanku. Melihat dari sinar keperakan yang terpancar, aku perkirakan gerbang itu terbuat dari perunggu. Setiap batang perunggu berbentuk sulur-sulur tanaman dianyam dengan teknik yang rumit. Seolah ditujukan untuk menyembunyikan apapun yang ada di balik gerbang ini.

Aku menoleh ke arah Baek-hyun yang keluar dari mobil. Pemuda itu bergerak ke sisi kanan gerbang. Aku melihatnya menggambar sebuah simbol dengan tangannya. Ada sesuatu berbentuk cawan yang tiba-tiba muncul dari dinding di samping gerbang. Setelah itu dia mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. Sesuatu yang tajam. Sebuah belati! Dia menggerakan belati itu ke telapak tangannya. Lalu menggerakan tangannya ke arah cawan yang muncul tadi. Aku tahu, dia mengisi cawan itu dengan darahnya. Dan gerbang pun terbuka dengan perlahan. Aku menelan ludahku. Tempat apa sebenarnya yang aku datangi? Tempat macam apa yang harus terbuka dengan pengorbanan darah?

Baek-hyun masuk kembali ke dalam mobil. Aku tidak menanyainya lebih jauh. Cukup pintar untuk menyembunyikan rasa penasaranku. Mobil melaju lebih jauh memasuki gerbang. Membawaku ke sebuah pelataran parkir di depan sebuah gedung terindah yang pernah aku lihat. Warna putih keemasan mendominasi gedung itu. Dengan ukiran-ukiran patung-patung bergaya Yunani kuno mengelilingi setiap sudutnya. Sebuah kubah berbentuk mahkota besar dipasang dipuncaknnya. Membuatku penasaran bagaimana bentuk gedung ini dari dalam.

Aku merasakan mobil berhenti. Aku menoleh ketika Baek-hyun menyenggol lenganku, “Sangat indah, benar’kan?” tanyanya.

Aku mengangguk, “Ya,” jawabku singkat.

“Yah, Selamat datang di Aspalis Highschool. Setelah ini hidupmu akan berubah, Kanghye. Akan banyak sekali hal-hal luar biasa yang terjadi di sini. Tapi satu nasihatku tentang tempat ini adalah ‘Terkadang, ketidaktahuan bisa menyelamatkanmu. Maka tetaplah seperti itu’ “ Baek-hyun menyelesaikan ucapannya dengan mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Makna tersembunyi dalam perkataanya membuatku bergidik ngeri.

Aku hanya tersenyum kikuk sebagai balasan atas perkataanya. Menebak-nebak akan seperti apa hidupku di tempat ini. Lagipula, Kenapa aku harus ada di tempat ini? Dan yang terpenting adalah bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini?

Well, Sial!

-TBC-

Author Notes~

Part yang membosankan. Benarkan? Hhehe Tapi aku pastikan part awal ini adalah kunci untuk part-part selanjutnya. Jadi aku harap kalian menahan rasa bosan kalian dalam membaca ini. Dan lagi-lagi aku belum bisa menjelaskan makhluk seperti apa Baek-hyun itu. Aku akan menjelaskannya perlahan-lahan. Aku harap kalian masih bersedia membaca ceritaku ini.

Jeongmal Ghamsahamnida

Jangan lupa like dan komentarnya ya

^^

Iklan

9 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 1)

  1. Bagus thor ceritanya sukaa bgt 💘💘💘 ga bisa nahan ketawa pas ngebayangin baekhyun rambutnya pink hahahahaha
    Itu pasti sekolah vampire aaaah penasaran
    Yg baekhyun bwa dikantong plastik itu apa dan munculin kai donk thor hehe
    Ditunggu bgt next chapnya semangat author 😆😆😆

  2. Kenapa bibinya tiba tiba bilang dia harus pergo teruss yang ada dalem kantong yang baekhyun lempar itu apaaa, ini tuh vampire atau mutan atau gimanaa segala pake darah:( penasaraaaan di tunggu next nyaaaa

    • Di kantong plastik kira-kira apa ya? hayoo~ wkkwk di part selanjutnya (gak tau part berapa) bakal dijelasin kok apa yang baekhyun bawa dan kenapa harus ngorbanin darah pas mau masuk gerbang. Dan yang pasti ini bukan cerita vampire. Mereka pure meta human (bocoran). anyway, makasih banyak ya udah nyempetin baca dan komen. Ikutin terus ya ceritanya ^^

  3. KEREN KAK!! betewe en de baswey tu sekolah serem amat yak.. masuk gerbangnya harus pake darah. Baekhyun tadi bli apaan suh kak? Kok sampe ada suara ledakan? Apa dia nembak situkang kasirnya ya gragra gak punya uang?*ehbego:v
    Kak bole nanya 1? Sehun peran penting gak? hehe maklum lakik aye kan rada” irit ngomong*ganyambung
    GOODLUCK YA QAQA:*

    • Hmm Sehun? dia punya peran penting di cerita ini. Semua anggota EXO juga punya peran penting sih sebenernya. Cuman siap-siap ajah bakal banyak scene yang bikin baper soal ntu anak atu wkwk (bocoran dikit) Makasih ya semangatnya, makasih juga udah nyempetin baca dan komen. Ikutin terus ya ceritanya ^^

  4. Nggak bosan kok kak, mungkin diawal-awal nya aku aak kurang ngeh rapi lama-lama aku ngerti kok dan cerita nya sungguh membuataku makin penasaran kenapa hye na harus pergi dari rumah bibi nya, siapa sebenarnya kang hye na, siapa baekhyun dan tempat apa yang didatangi nya semuanya buat aku penasaran lanjut terus kak.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s