2ND GRADE [Chapter 10] -by l18hee

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 10]

─by l18hee

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Baekhyun | [RV] Wendy

[EXO] Sehun | [BTS] Taehyung | [17] Sunyoung | [EXO] Chanyeol Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue [Welcome to 2nd Grade] | Chapter 1 [New Place] | Chapter 2 [New Team, Dream Team] | Chapter 3 [Hey, You!] | Chapter 4 [Emotion] | Chapter 5 [End of the Day] | Chapter 6 [Welcome Back, Friends] | Chapter 7 [Perkenalan Kedua] | Chapter 8 [Little Hope] | Chapter 9 [School of Art #1]

.

Now Playing ► Chapter 10 [School of Art #2]

Ketika resah yang dirasakan tak hanya menyambah satu insan.

.

.

Yang Runa sebal dari datang ke Sekolah Seni Yeonso adalah ada Kwon Sunyoung di sana. Runa bahkan tidak membicarakan perihal ia yang diundang ke sekolah itu pada ayahnya, tapi kemungkinan juga Sunyoung datang melapor nanti. Bisa-bisa Runa diceramahi perihal betapa tidak pentingnya acara itu dibanding dengan belajar lebih giat di sekolah.

“Kau terlihat waswas. Ada seseorang yang kau hindari?” Wendy yang berjalan di samping kirinya bertanya. Sebuah lolos napas Runa tunjukkan, “Aku tidak mau bertemu Sunyoung.” Tidak tahu siapa yang dimaksud, Wendy mengerut kening.

“Sunyoung, sepupu Runa yang sekolah di sini,” tambah Baekhyun setelah mengeluarkan lolipopnya dari mulut. “Runa takut dilaporkan pada ayahnya. Bisa-bisa sepulang acara dia langsung dimasukkan ke asrama untuk belajar penuh agar jadi pengacara.” Sebuah sodokan pada rusuk langsung Baekhyun rasakan. Dia hanya menunjukkan cengiran pada Runa.

“Acara pembukaan belum mulai?” ujar Runa seraya menebar pandang. “Kita kalah jumlah, ya?”

“Tentu saja, anak SMA Chunkuk hanya beberapa yang kemari.” Membenarkan ransel, Wendy bertutur begitu. Sedikit ingin tertawa karena tadi Runa terdengar seperti pengawas situasi sebelum tawuran.

Ketiganya bergabung dengan anak-anak lain. Untunglah tak perlu waktu terlalu lama hingga acara pembukaan dimulai. Berlatar suara sambutan-sambutan, mereka berjalan lebih masuk ke kerumunan. Sebenarnya Runa tak begitu suka keramaian, rasa gelisahnya bisa meningkat drastis. “Kalian bawa denah yang dibagikan tadi?” tanya Runa kemudian.

Dengan segera Baekhyun mengambil kertas yang sudah ia lipat asal dari sakunya, menyerahkan itu pada Runa, “Sepertinya ini akan sedikit lama.” Bukan sepertinya lagi, sambutan memang biasanya lama, Byun Baekhyun. Saat Runa sudah membuka denahnya, Wendy dan Baekhyun ikut memajukan kepala.

“Jadi karya seni fisik ada di aula, dan kalian akan tampil di jam ini.” Telunjuk Runa menunjuk angka yang tertera di jadwal di samping denah. Membuat kedua kawannya mengembus napas panjang, “Masih lama.” Di sini Runa bersyukur dia tidak perlu ikut tampil. Karena ternyata tak ada presentasi ulang yang harus ia paparan nanti. Dia melipat kembali denah dan menyelipkannya di saku Baekhyun.

“Eh, eh, cari kantin saja bagaimana?” Langsung saja Baekhyun bersinar. Segera Wendy berdecih kesal, “Kita bahkan baru di sini sekitar lima belas sampai dua puluh menit.”

“Jadi mau tidak mau kita harus di sini dulu.” Kedua telapak tangan Runa menepuk kedua pundak temannya, “Kuatkan dirimu, kawan.” Berbeda dengan Baekhyun yang lantas memasang muka mengenaskan dan menutup mulutnya seperti menahan tangis, Wendy memasang wajah tak habis pikirnya. Sepertinya dia tahu kenapa Baekhyun dan Runa bisa berteman. Karena jika keduanya di satukan, opera sabun yang muncul di televisi akan dapat disaksikan secara langsung.

Nyatanya mereka tak pernah tahan untuk diam mendengarkan berderet-deret sambutan. Gerah karena terus berkubang dalam keheningan, Baekhyun menyodorkan kepalan tangannya.

“Ayo, suit. Yang kalah menuruti yang menang.”

Segera Runa dan Wendy memasang aba-aba. Dengan suara yang tak terlalu keras Baekhyun berucap semangat, “Batu, kertas, gunting!”

Kesialan pertama jatuh pada Wendy yang hanya bisa memandang simbol batu tangannya. Kedua temannya tertawa sebelum akhirnya memikirkan sesuatu. “Tunjukkan bagaimana para gadis kelas kita berkenalan dengan lelaki,” ujar Baekhyun. Entah manfaatnya apa, tapi yang jelas Wendy menjentikkan jari, “Meniru gadis sok manis? Gampang.” Dia mengedar pandang beberapa saat, kemudian menumbuk manik pada salah seorang lelaki yang sedang berkumpul bersama komplotannya.

Runa dan Baehyun hanya memerhatikan saat Wendy mulai mengambil langkah. Wendy terlihat mengeluarkan ponselnya, mencoba berfokus pada benda tersebut. Dengan sengaja ia menundukkan pandangan saat hampir sampai ke si target. Hampir saja Runa dan Baekhyun terbahak saat melihat Wendy menabrakkan diri ke lelaki itu, lalu terjatuh elit. Jatuhnya benar-benar kelihatan disengaja.

Dari tempat Runa dan Baekhyun berdiri, bisa dilihat bahwa lelaki tadi menolong Wendy sebelum keduanya saling bertukar kata. Wendy sendiri berlagak panik, dia menyilakan anak rambut ke belakang telinga, “Maaf, harusnya aku tidak ceroboh.”

Si lelaki hanya mengulas senyum tipis, “Tidak apa-apa. Kau dari SMA Chunkuk, kan? Sendirian?” Giliran Wendy yang menyuguh senyum, “Aku tidak sendirian, teman-temanku menunggu di suatu tempat.” Dia melirik papan nama lelaki itu, “Sepertinya aku harus segera pergi, um, Chittapon.” Susah payah Wendy mengeja. Mau tak mau membuat sang lelaki terkekeh, “Panggil Ten saja. Oh, ya, kau punya Line? Boleh minta ID-nya?”

“Um, kau tidak berencana minta ganti rugi karena aku menabrakmu, kan?” ujar Wendy. Setelah mendapat gelengan disertai kekeh ringan akhirnya gadis ini melanjutkan, “ID-ku sonwen, huruf kecil semua. Ya sudah, aku duluan.” Begitu saja Wendy pergi. Dia perlu berjalan memutar agar tidak ketahuan kembali ke arah Runa dan Baekhyun. Begitu melihat Wendy, kedua bocah kurang ajar itu membuka mulut lebar, seolah tertawa namun tanpa suara.

“Sialan, kukira hanya tanya nama atau apa. Dia malah minta ID Line.” Mendengar ini Runa dan Baekhyun makin merasa perutnya kaku. “Aku memberinya ID yang dulu, yang sudah tidak kupakai. Pokoknya kalau ada apa-apa, kalian tanggung jawab jelaskan semua pada Chen.”

“Akan kulaporkan jika kau selingkuh.” Yang berkata seenaknya itu Baekhyun.

Selang tiga detik, mereka kembali melakukan suit. Untuk beberapa lama, mainan ini manjur juga mengobati bosan. Buktinya mereka betah-betah saja saat sudah mencapai sambutan terakhir.

“Ke aula sekarang, bagaimana? Lalu ke kantin?” usulan Runa langsung disetujui. Perlahan mereka meninggalkan kerumunan. Kembali membuka denah untuk mencari lokasi aula karya seni fisik.

Aula yang digunakan ternyata lumayan luas. Ada dua layar besar yang terpampang, tapi belum menampilkan gambar. Ketiganya memerhatikan satu per satu karya dari ujung. Sampai akhirnya menonton film buatan kedua sekolah. Berhubung belum terlalu banyak yang antre, jadi mereka tak perlu menunggu lama. Lagipula ada sepuluh fasilitas yang disediakan.

Oh, ya. Tentang karya fisik, untuk bagian presentasinya terpaksa dihilangkan dan diganti dengan mengumpulkan penjelasan singkat dan mudah dimengerti saja. Mungkin karena waktunya tidak cukup atau sejenis itu. Tak apa, Runa lumayan teringankan.

Film buatan Sekolah Seni Yeonso membuat Runa ternganga, padahal baru tiga puluh detik ia melihatnya. Jika dibandingkan dengan SMA Chunkuk, lumayan jauh─walau tak jauh-jauh amat. Tapi menurut Runa pribadi, dia lebih suka konsep milik sekolahnya. Bukan karena sekolahnya, tapi dari pandangannya saja. Film milik Sekolah Seni Yeonso terlalu memiliki banyak pemain dan alurnya maju-mundur. Beberapa kilas balik sepertinya tak terlalu penting. Apalagi di bagian akhir-akhir.

Alis Runa menyiku kala melihat wajah tak asing di film. Bukan Sunyoung, tapi si langganan. Oh, iya, Runa hampir lupa jika si langganan memang pernah bilang dia sekolah di sini. Dan mari beri lemparan sandal karena lagi-lagi Runa lupa namanya. Kejadian seperti ini bisa saja terjadi ketika Runa tak memerhatikan saat pengenalan, atau kala ia tak mengulang nama seseorang untuk diucapkan. Seperti pada kasus Kim Taehyung, dia masih ingat sampai sekarang karena setelah mengetahui nama lelaki itu, ia langsung mengucapkannya pada Seulgi. Jadi semuanya menitikberatkan pada praktek, kan?

Ah, sudahlah. Paling-paling dengan ‘hei’ atau sejenisnya pun si langganan tetap akan menoleh jika dipanggil.

“Gantian, dong.” Lamunan Runa terputus ketika Baekhyun menyenggol bahunya. Kenapa juga Baekhyun tidak mengantre di barisan lain? Mengganggu saja.

Setelah memberikan headphone pada karibnya, Runa bingung sendiri mau berbuat apa. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya menunggu Wendy dan Baekhyun menyelesaikan tontonan. Maniknya berpendar menelisik setiap sudut ruangan. Mendadak sebuah suara mikrofon menusuk telinga, hanya sejemang karena beberapa detik kemudian layar besar mulai menampakkan profil singkat para siswa.

Runa membalikkan badan untuk melihat layar tersebut. Daripada tidak ada kerjaan, kan? Beberapa profil sudah ditampilkan, Runa sempat menahan tawa ketika wajah Baekhyun terpampang. Foto resmi memang kebanyakan memalukan. Namun keinginannya tertawa hilang sudah kala selanjutnya wajahnyalah yang terlihat.

“Oh, astaga. Sangat memalukan.” Runa membalikkan badan. Memastikan tak ada yang begitu peduli pada profil siswa. Namun dari sekian murid di aula yang ia perhatikan, salah seorang menarik atensinya.

Si langganan.

Earphone!” serunya. Detik selanjutnya Runa sudah memacu langkah cepat. Berhubung jaraknya lumayan jauh, napasnya agak tersengal sedikit.

“Langganan!” Panggilan ini terlontar ketika yang dipanggil sedang berdiri di depan sebuah karya seni, terlihat memerhatikan baik-baik. Runa yang baru menghentikan langkah langsung akan berucap, namun si lelaki lebih dulu mengambil garis start. Dan kenapa pula harus sambil memegang dada kiri?

“Bersikaplah lebih sopan, panggil namaku, Kwon Runa.”

Merasa disindir karena lelaki itu tahu namanya─berkat layar sialan yang menampilkan profil, Runa mencoba melirik papan nama. Dan niatnya berakhir dengan umpatan pelan di hati. Mengetahui jika alasan si lelaki dengan sengaja menutup dada kiri adalah untuk menyembunyikan papan nama.

“Aku memanggilmu langganan karena sikap sopan serta dedikasi tinggiku pada pelanggan tetap,” ucap Runa kemudian, mencoba tetap menjaga harga dirinya. “Di mana lagi kau bisa menemukan gadis sopan sepertiku? Sekarang, selagi kita bertemu di sini, kembalikan earphone-ku. Sudah lebih dari dua minggu kau janji akan cepat mengemba─”

“Oh Sehun.” Si langganan memutus kalimat Runa, mengulang lagi dengan nada pasti, “Oh-Se-Hun. Tolong panggil begitu saat kita bertemu lagi.” Lekas Runa membuat siku-siku dengan alisnya, pertanda tak setuju, “Memangnya kita akan bertemu lagi? Lagipula di minimarket aku tidak akan memanggilmu.”

Nada yang Sehun gunakan selanjutnya begitu terdengar percaya diri, “Kita akan bertemu lagi besok, di sini. Karena sekarang aku meninggalkan earphone-mu di markas.” Jadi menunggu selama dua minggu lebih masih kurang? Jelas saja Runa semakin kesal, “Kenapa tidak dibawa, sih?”

“Lho? Mana aku tahu kau anak SMA Chunkuk yang ikut acara ini.” Pernyataan ini tak dapat Runa sanggah. Lagipula dia sendiri yang tak pernah memberitahu Sehun di mana ia sekolah. Tapi bagaimanapun juga yang paling salah di sini adalah yang tak kunjung mengembalikan barang pinjaman sampai hampir satu bulan; Sehun.

“Kau tidak percaya aku tak membawanya?” Sepertinya Sehun merasa Runa meragukannya. Sedetik kemudian dia merentangkan tangan, “Mau periksa sendiri? Kau bisa meraba semua sakuku.”

Inginnya rahang Runa jatuh saja.

“Tidak minat. Ya sudah, deh. Pokoknya besok kembalikan.” Seraya membuang napas panjang, Runa menyerah. Tahu jika tak ada gunanya memaksa. Dan lagi, dia tidak suka sebagian besar usul yang diberi lelaki.

Tanpa mengucap apa-apa, dia berbalik dan melangkahkan kaki untuk pergi. Kembali menghampiri Baekhyun dan Wendy yang sepertinya baru saja selesai melihat film. Dengan gumaman mantap, dia berucap, “Oh-Se-Hun. Pokoknya tidak boleh lupa lagi. Tidak boleh terlihat bodoh lagi. Tidak boleh malu lagi. Oh Sehun. Langganan itu, namanya Oh-Se-Hun.”

Sepertinya Runa harus lebih berkonsentrasi lain kali.

.

 

.

 

.

Sampai acara hari pertama akan berakhir, Runa belum bertatap muka dengan Sunyoung. Di kantin pun ia tak melihatnya. Lumayan juga bagi sisi kemanan. Tapi nyatanya Runa mulai khawatir. Bagaimana jika Sunyoung membolos? Bocah itu bisa-bisa kembali ke kebiasaannya yang dulu.

Kini ia sedang menunggu Baekhyun dan Wendy selesai mengemas barang setelah acara penutupan. Mereka ikut naik ke panggung untuk yang kedua kali untuk bernyanyi bersama, omong-omong.

Sungguh awalnya Runa sangat ragu untuk memencet angka tiga─panggilan cepat Sunyoung─di ponselnya. Sama saja melakukan bunuh diri jika Sunyoung tahu ia sedang di Sekolah Seni Yeonso. Sia-sia sedari tadi ia merasa waswas. Tapi jika tidak dipastikan keberadaan Sunyoung di mana, Runa tidak bisa tenang. Aduh, jika menyangkut tentang Sunyoung jiwa yang lebih tua langsung menyangkut di otak Runa.

“Ada apa?”

Pada akhirnya jiwa kakak mengalahkan Runa. “Kau sekolah, kan?” Di ujung sana Sunyoung mengambil hening sesaat, membuat Runa kembali membuka suara, “Sunyoung, kau tidak bolos, kan?

“Tidak, kok.” Jeda dua detik, “Sejak pagi aku di lantai dua, di kelas. Jihoon punya game baru, jadi kami bermain sampai puas mumpung tidak ada guru pengawas.”

“Oh, begitu.” Ada lega yang Runa rasa, dia tahu Sunyoung tidak bohong.

“Eh, omong-omong, apa paman tahu jika kau ikut acara ini?”

Runa terkejut setengah mati. Yah, dia memang kaget Sunyoung sudah tahu dia satang ke Sekolah Seni Yeonso. Tapi yang lebih mengejutkan adalah suara asli Sunyoung yang terdengar, bukan lagi dari ponsel. Runa harus menjaga jantungnya tetap stabil ketika mendapati sang sepupu sudah berdiri tak jauh dari tempatnya.

“Kudengar kau yang membuat posternya,” ujar Sunyoung yang sudah berjalan mendekat. Tak lagi menempelkan ponsel di telinga. Ia menggores seringan, “Apa jadinya kalau paman tahu. Bagaimana ya?”

“Jangan coba mengancamku, Kwon Sunyoung.” Kesal sekali rasanya saat tahu sudah kecolongan. Runa menyimpan ponsel sebelum mendaratkan tepukan pelan di lengan Sunyoung. Beberapa siswa yang lewat hanya memerhatikan sekilas. Namun ada segerombolan─sekitar tiga atau empat─lelaki yang tertarik mendengarkan, hingga mereka menghentikan langkah.

“Sunyoung? Kau sedang menggoda gadis sekolah tetangga?” ujar salah satunya begitu saja. Yang lain menimpali, “Dia terlihat manis. Kelas berapa?”

Begitu saja Sunyoung mengibaskan tangan pada kakak kelasnya, “Kakak-kakak yang terhormat, pergilah. Jangan ganggu pacarku.” Beberapa lelaki tersebut hanya terkekeh sebentar sebelum kembali berjalan. Meninggalkan Sunyoung yang berdecih sebal dan Runa yang bercacak pinggang. “Chanyeol yang memberitahumu aku ke sini, ya?” Jadi semua tingkah waswasnya sia-sia sejak dimulai? Sialan memang.

“Dan memintaku mengaku sebagai pacarmu agar tidak ada lelaki yang mengganggu,” tambah Sunyoung, “Lumayan, aku dapat beberapa bungkus snack.”

“Astaga, bisa-bisanya kau menjualku hanya dengan beberapa bungkus camilan?” Untuk kedua kali Runa menepuk lengan Sunyoung, kali ini lebih keras. Di sudut hati sedikit merasa aneh dengan sikap berlebihan Chanyeol. Mana pernah Chanyeol bersikap seperti ini sebelumnya. Sang kekasih meminta bantuan pada Sunyoung atau tidak, nyatanya Runa memang tak pernah main-main dengan lelaki lain segampang itu, kan?

“Kau … marah sungguhan?” Tanpa diduga rupanya Sunyoung memerhatikan perubahan ekspresi kakak sepupunya yang masih terdiam. “Maaf, deh. Sebenarnya tidak disuruh Kak Chanyeol pun aku tetap memerhatikanmu, kok.” Mungkin maksudnya dia tidak melakukan semua ini semata-mata demi beberapa bungkus snack.

“Bukan karena itu. Aku hanya merasa Chanyeol sedikit aneh. Dia tidak biasanya─hei, kenapa kau memanggilnya kakak? Giliran denganku saja susah.” Mendadak topik Runa teralih. Dia harusnya ingat betapa Sunyoung menyukai Chanyeol sebagai kakak lelaki.

“Kau membahasnya sejuta kali. Aku bosan,” tanggapan Sunyoung semua akan disanggah Runa. Namun si lelaki kembali bersuara, “Sudahlah, pulang sana. Temanmu sudah datang.” Tolehan kepala Runa berdampak pada sosok Baekhyun dan Wendy yang menyambah retina.

“Kau tidak mau mengucap salam?” Balasan dari pertanyaan Runa terdengar samar, “Titip saja. Aku sibuk.”

Ah, sudahlah. Runa tak ingin berlakon lebih banyak dengan aksi seret-menyeret seperti biasa. Dia sedang ingin cepat pulang.

.

.

-0-

.

.

Hari kedua sekaligus hari terakhir acara keakraban antar sekolah, menyebabkan Runa kembali terdampar di lapangan Sekolah Seni Yeonso. Kali ini acaranya tidak seresmi kemarin, malahan sebaliknya. Perwakilan yang datang dari SMA Chunkuk lebih banyak. Jadwal hari ini terbagi dua. Sebagian untuk bidang akademik, sebagian yang lain untuk olahraga fisik. Untuk olahraga fisiknya hampir sama seperti saat festival olahraga sekolah, namun lebih sedikit. Hanya ada estafet dan futsal saja.

Berhubung Chanyeol tergabung dalam tim estafet, tentu saja Runa datang. Dia masih bisa datang karena karya fisik masih akan ditampilkan di aula. Berbeda dengan Chanyeol, kemarin dia tidak punya alasan untuk diperbolehkan bolos kelas. Mengingat SMA Chunkuk terkadang memang terlalu ketat.

Tapi ada yang berbeda dari suasana hati Runa hari ini. Dia tak terlihat bersemangat. Sunyoung yang berangkat bersamanya malah berpikir jika Runa masih marah gara-gara tempo hari. Padahal ada hal yang lebih penting sedang mencengkeram otak si gadis sekarang.

Semuanya berkaitan dengan penuturan Wendy di perjalanan pulang kemarin.

Waktu itu Runa, Wendy, dan Baekhyun sedang menunggu bus, baru saja membeli sebungkus besar camilan serta tiga kaleng jus. Kebetulan ponsel Runa bergetar, sebuah balon pesan terlihat kemudian. Rupanya pesan dari Chanyeol. Wendy yang memergokinya langsung teringat sesuatu, “Eh, apa Chanyeol dekat dengan anak kelas kita?”

Setelah mengetik pesan balasan, Runa menjawab, “Dengan Baekhyun dan komplotannya, mungkin. Memangnya kenapa?” Seraya mengambil camilan dari bungkus yang dipegang Baekhyun, Wendy berkata, “Ini sedikit basi, sepertinya. Tapi aku baru ingat, di hari aku membagikan formulir padamu─sekitar dua minggu lalu, Chanyeol datang ke kelas kita.” Memang, Runa terkadang susah mengingat sesuatu jika ia tak berkonsentrasi. Tapi jika masalah seberapa sering Chanyeol ke kelasnya, dia tahu persis. Selama di tingkat dua, lelaki itu hanya tiga kali datang ke 2-8. Dua kali mengajak makan bersama karena Runa tak kunjung muncul, sekali mengantarkan baju olahraga untuk Runa pinjam─akibat seragam si gadis terkena tumpahan saus.

Runa ingin melontar tanya, namun tak tahu bagaimana. Hingga akhirnya dengan berhati-hati Wendy mengatakannya.

“Kukira kau tahu kalau Chanyeol menemui Han Nami.”

Berkat sederet kalimat yang mampu membuat Baekhyun tersedak, kini Runa berdiri diam di tepi lapangan Sekolah Seni Yeonso, menatap Chanyeol dari kejauhan.

Untuk apa Chanyeol menemui Han Nami? Apa karena ingin menasehati gadis itu agar tak mengganggu Runa lagi? Ah, mana mungkin.

Apa Chanyeol main belakang?

Lekas Runa menggumamkan tidak dengan keras di dalam hati. Sebuah penyangkalan yang terus didukung dengan pemikiran bahwa Chanyeol memang bukan lelaki berengsek. Ditambah lagi Chanyeol memang tipe yang bisa akrab dengan siapa saja, bukan? Bisa saja dia memang sedang ada perlu dengan Nami untuk membahas hal formal.

Gadis ini baru saja akan mengambil ponsel untuk memberitahukan keberadaannya pada sang kekasih, kala tahu-tahu saja sebuah earphone yang menggantung di tangan kekar seorang lelaki tersaji di hadapannya.

Runa menoleh demi mendapati murid sekolah ini tengah memandangnya, “Seperti janjiku. Terima kasih, ya? Benda ini sangat membantu.” Lekas si gadis meraih benda kesayangannya, tak berniat bicara banyak, “Sama-sama, Oh Sehun.”

“Jadi, perlu tiga kali perkenalan agar kau ingat nama seseorang, ya?” Tadinya Sehun ingin bercanda. Sayangnya dia tidak tahu jika Runa sedang tidak di mood yang baik. Gadis itu hanya bergumam membenarkan, menyimpan earphone di saku, lalu mengambil ponsel, sama sekali tak mengindahkan Sehun.

Kwon Runa:

Chan, aku sudah sampai.

 

Mengetahui dirinya sedang tak diacuhkan, Sehun sedikit kesal, “Bukannya kau hanya ikut menyumbang karya seni fisik ya?” Tepat saat Sehun diam, sebuah pesan balasan masuk ke ponsel Runa.

Park Chanyeol:

Aku di tepi lapangan bersama yang lain. Kemari, kemari~

Kali ini Runa mau menoleh ke arah Sehun, menjawab pertanyaan yang sempat terlontar, “Iya. Tapi pacarku ikut estafet, jadi aku ke sini lagi. Aku duluan, ya?” Setelah menyempatkan menepuk sekilas lengan si lelaki, Runa bergegas melangkah pergi.

Meninggalkan Sehun yang termenung sendiri. Lelaki ini lantas membenarkan topi, menggosok bawah hidungnya sebentar seraya berdehem, “Oh, sudah punya pacar.”

Apa ada yang sedang sedikit kecewa di sini?

Baiklah, tidak kecewa berat, sih. Sehun sendiri berkata pada dirinya, jika ia belum menyukai gadis lain setelah acara move on-nya dari Junrim tuntas. Untuk masalah dengan Runa, entahlah, sedikit rumit dijelaskan. Sehun cuma tertarik untuk mencipta obrolan dengan gadis itu. Padahal jika dipikir-pikir obrolan mereka tak pernah penting. Hanya saja Sehun kira akan sangat mengasyikkan bertukar kata lebih lama dengan sang gadis. Menurut ekspektasinya, sih.

Sehun sendiri tidak merasa kesal melihat Runa disambut senyum lebar seorang lelaki─kekasih, tentu, walau dalam hati ia mengunggulkan diri dengan berkata dirinya lebih tampan. Sampai akhirnya ia menyudahi sesi memandang sepasang kekasih dengan wajah kami-bahagia-loh, yang sepertinya terlalu lama dilakukan.

“Aku bukan tipe perusak hubungan orang,” ujarnya sembari mengedik bahu. Memilih mencari sosok Taehyung atau Irene. Pencariannya terhenti ketika estafet dimulai. Tidak karena menemukan Taehyung, tapi karena ia tertarik pada para peserta estafet. Dia memaku kaki untuk berdiri di tepi lapangan bersama yang lain. Menyedekapkan tangan di depan dada dan menatap lurus pada sosok-sosok di lapangan lari sana.

Pistol tanda dimulainya lomba berbunyi. Sesungguhnya Sehun mencoba fokus pada para pelari yang memegang tongkat. Namun beberapa kali ia kedapatan melirik ke arah Runa yang tengah berjingkrak seraya bertepuk tangan. Apalagi ketika giliran lelaki rambut berdiri dimulai.

“Chanyeol, ayo cepat!”

“Chanyeol! Chanyeol! Chanyeol!”

Oh, sialan. Sehun merasa ketampanannya sedang dijajah terang-terangan, karena banyak anak perempuan menyerukan nama kekasih Runa.

Kendati begitu, ia terkekeh juga melihat Runa yang sepertinya mengerahkan seluruh tenaga untuk berteriak. Gadis itu melambaikan tangan tinggi-tinggi ketika Chanyeol hampir sampai pada pelari berikutnya, yang berada tepat beberapa meter di depan si gadis.

Sehun pikir, ia bisa membuktikan bahwa dirinya tidak menaruh rasa khusus pada Runa. Dia bahkan menyuguh senyum, walau Chanyeol yang baru saja tuntas mengoper tongkat langsung menghampiri Runa. Meraih botol minum yang disodorkan sebelum akhirnya bertukar kata dengan senyuman lebar.

“Lihat apa?” Senggolan mendadak di lengannya hampir membuat Sehun tersedak liurnya sendiri. Dia menoleh, membiarkan sosok Taehyung tergambar di otaknya. Giliran tidak dicari, muncul sendiri.

“Kau lihat gadis yang mana?” ujar Taehyung lagi. Dia menebar pandang, sementara Sehun kembali mengamati bagaimana Chanyeol dan Runa keluar dari kerumunan. Ketika Taehyung menemukan arah pandang karibnya, ia lantas berkata semangat, “Hebat, kau naksir pacar orang.”

“Kau pikir aku tipe yang seperti itu?” Satu alis Sehun terangkat, sedari tadi masih bersedekap, Taehyung mengedik bahu, “Cinta bisa mengalahkan segala tipe yang dibangun, man.” Tadinya Sehun ingin menyanggah, tapi yang selanjutnya ia lakukan adalah menahan gelak tawa, “Sejak kapan berengsek sepertimu berubah puitis?”

Dengan gaya sok, Taehyung memasang tampang bijak berlebihan, “Sejak seorang gadis mencuri hatinya. Membuatnya berbunga-bunga. Berbeda dengan wajah berengsek sok dingin yang kau pasang.” Masih saja Sehun tergelak, “Aku harus berterima kasih pada Sera telah menjadikanmu pujangga.”

“Hentikan tawamu. Kita harus bersiap untuk tanding futsal.”

Sehun belum menghentikan tawa. Namun ia masih sempat melirik sekilas ke arah Chanyeol dan Runa.

Benaknya bergumam mantap, sekali lagi, dia bukan tipe perusak hubungan orang.

.

.

.

.to be continue

WAW WAW WAW pada akhirnya Sehun tau kalok Runa udah punya pacar, sini sama aku aja mas/digulingin/

Lumayan panjang chapternya wkwk Terus, dengan Sehun tau Runa udah punya hubungan, lalu cerita kunjungan ke Sekolah Seni Yeonso resmi berakhir. Hmm, bakal ketemu lagi di mana ya mereka? :3 wkwk (gaje banget aku the, ah bodoamat wkwk)

Gitu aja deh gabanyak-banyak 😀 Makasih udah ngikutin sampe sini, terus ikutin sampe end yah :3 Bocoran, tiga chapter terakhir rencananya mau aku kasih pw, dan syaratnya tentu aja ninggalin komen di setiap chap ehe.

Oiya, gatau kenapa aku suka banget bagian pas Sehun liatin estafet itu wahaha apalagi pas Chanyeol sama Runa /tampar diri sendiri/

.salam sayang; nida

37 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 10] -by l18hee”

  1. Astaga kak aku tinggal 1-2 bulan langsung numpuk chapter 2nd gradenya.
    Aku ngiranya 1 bulan bakal publish 1 chapter. Eh ternyata tau tau udah chapter 14 ^^
    Mana chapter yg ini panjang jadi puas bacanya. Sukaaa.
    Tbh aku agak lupa sih sera itu siapa, sunyoung itu siapa, nami itu siapa. Aku awalnya ngira si sunyoung cewe astaga >.< aku terpaksa buka lagi chapter awal.
    Aku ngerasa nyesel banget nggak ngecek blog ini T.T

    And finally Sehun tahu runa udah punya cowo. Sehun juga modusnya yahut banget. Terus si Runanya jg udah mulai curiga sama si Chanyeol. Btw enak kali ya punya saudara sepupu kaya sunyoung, diem2 perhatian gitu.
    Okay next chapter bakal aku baca^^ (bacanya marathon)

  2. Ihhhh… Jadi penasaran deh ama Chan Yeol. Apakah dia beneran selingkuh ama Han Na Mi itu ya??? Klo pun beneran kayak gitu, si Ru Na tenang aja… Kan udh ada Se Hun… Hehehehehe… (*evil laugh*) 😈😈😈😈😈 Btw ada abang Chittapon~ 😍😍😍 Nyasar kesitu dia yakk… 😁😁😁

  3. Bingung mau coment kayak gimana, pinginnya sehun runa aja, moga moga aja mereka berjodoh deh.. hahahaha aku tunggu next chapternya yaa

  4. dihhhh gk mau ganggu pacara orang tapi masih tertarik aja..
    gk apa lu hun, lu udh godain aku yg secara udh sma baekhyun.. emng dasar lu… kkkkkk~~~
    mreka msh bisa ketemuu di tempat kerja runa kan..
    next dah…

  5. Penasaran sama next chapnya, kayanya tokoh utamanya utu si Sehun deh. Kayanya jg Sehun ada rasa sama Runa. Penasaran jg sama Chanyeol yg ngedatengin si Nami, sepertinya ada yg di sembunyikan sama Chanyeol, jangan2 si Chan di jodohin sama Nami. Next chap sangat ditunggu. Salam kenal readers baru author nim

  6. annyeong… aku mau nanya thor ituuu oh seunghee lg kemana ya? kok dia nggak diceritain pas di acara 2 tahunannya? terus runa tiba-tiba jadi deket sama wendy ini akunya yang emang kurang ngeh atau gimana?
    but, dari semua itu jalan ceritanya makin ke sini makin asik. si ceye bikin penasaran juga dia sbnrnya selingkuh ap ga? lucu deh kalo runa sama sehun satu scene terus… wkwk.
    itu dulu thor, ditunggu terus lanjutannya. hwaiting, keep writing! ^^

  7. Hohoho ada yang katanya sedikit kecewa karna runa udah ada pacar, sabar dulu hun kalau jodoh pasti ketemu sama runa wkwk.. jan jadi pho hun hahaha..

    Semangat buat upload chapter selanjutnya
    Ff fav wkwk 😄😄😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s