Jodoh – Kai

Jodoh

Kim Jongin a.k.a Kai, Shin Hyunri – Slice Of Life, AU – PG – Oneshot – Baekludeer

ยฎbaekludeer present

Banyak yang mengatakan hujan membawa sebuah kenangan. Entah itu kenangan manis, pahit, konyol, lucu dan tidak masuk akal. Sebagian orang tidak percaya dan menganggap itu hanya mitos. Yeah, setidaknya anggapan mitos itu dipercayai oleh seorang gadis, berambut sebahu, dikuncir asal dengan memakai baju cassual khas rumahan dan jangan lupakan wajah bantalnya.

Ia menutup wajahnya, bibirnya ia majukan beberapa centi. “Aku tidak bisa melupakannya, young-a. Dia cinta pertamaku asal kau tahu.” Hatinya merasa berdenyut saat mengatakan hal itu, ia ingin menangis dengan keras dan mendatangi pria itu lalu memaksanya untuk menikah. Oke, itu sedikit berlebihan.

Park nayoung, menepuk bahu hyunri dengan pelan. “Kau harus bisa melupakannya ri-ya, dia itu pria tidak baik. Buktinya ia meninggalkanmu ketika ia tahu identitasmu.” Ucapan nayoung begitu menohoknya, akal hyunri sudah menolak untuk mengingat pria itu. Namun, hatinya berkata lain. Memang wanita pada dasarnya selalu menggunakan hati.

“-memang dimana-mana pria bernama Oh Sehun itu brengsek”. Umpat Nayoung.

Hyunri memberengut, ia mengingat sekilas bayangan dalam otaknya. Ia menyukai Oh Sehun sejak 5 tahun yang lalu. Pria berperawakan tinggi tegap, kulit putih dengan tampang rupawan. Siapa yang tidak akan tertarik dan jatuh hati padanya?. Setelah 5 tahun, ia berani mengungkapkan perasaannya pada Sehun. Ia mengirimkan surat kaleng pada pria itu. Awalnya Sehun mengatakan untuk bersikap terbuka, maka mereka bisa menjadi temannya. Tetapi Ketika Hyunri mengungkapkan identitasnya, Sehun tidak pernah membalas pesannya lagi. Bahkan ketika Hyunri mengirimkan pesan singkat berupa semangat untuk ujian test universitas, Sehun bahkan tak membacanya. Mungkin. Gadis itu mendesah frustasi.

“Ya, hyunri. Temanku mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan. Kau boleh mempercayainya atau tidak, ia mengatakan bahwa jodohmu itu-” Nayoung menggantungkan kalimatnya.

Awalnya Hyunri tidak percaya karena mana mungkin ada orang yang bisa seperti itu. Tetapi ketika mendengar kata “jodoh” Hyunri begitu penasaran akan siapa jodohnya kelak.

“Katakan siapa jodohku, Nayoung?.”

“Jodohmu itu tidak jauh-“

“Cepat katakan!.”

“Tidak jauh dari teman SMA mu.”

Hyunri menghela napas berat. “Aku tidak punya teman dekat pria Nayoung.” Ia memberengut dan mengacak rambutnya.

“Gadis sepertimu, mungkin tidak ada teman dekat dalam hidupmu tetapi mungkin kalian akan bertemu dijalan atau dimana entah.” Nayoung mengangkat bahu. Kim Hyunri memang dikenal sebagai gadis nerd ketika disekolahnya dulu.

Setelah hari itu, Hyunri mencoba mengingat semua teman sekolahnya, dari yang keren dan idola sekolah sampai pria kutu buku. Selama perjalanannya ke kampus, ia memikirkan hal itu.

“Kim Minseok? Ah tidak mungkin aku bahkan tidak pernah dekat sama sekali.”

“Lee Young Jin, ah tidak mau dia sekarang jelek. Matanya bertambah sipit.”

“Byun Baekhyun? Tidak mau, dia terlalu cantik untukku.”

“Kim Jongdae? Tidak tidak, dia ‘kan teman smp ku dan juga kita berbeda agama. Aku tidak mau.”

Hyunri mendengus. “Aku berharap Oh Sehun menjadi jodohku.” Ia berjalan gontai menuju halte.

-0-

Sudah 2 hari Hyunri merasa tubuhnya lemas, keringat dingin membasahi tubuhnya. Hyunri meracau tidak jelas, hingga ketika ibunya memanggil ia tak sadar juga. Ibu Hyunri benar-benar merasa khawatir. Karena 2 hari itu pula, demam Hyunri tak kunjung turun. Maka dari itu Ibu Hyunri membawanya ke rumah sakit. Sampai dokter mendiagnosa Hyunri terkena demam berdarah, ia harus dirawat karena trombositnya begitu rendah. Dokter juga mengatakan Hyunri dalam keadaan kritis. Ibu Hyunri menangis tersedu-sedu akan nasib anaknya, membuat Nayoung-yang baru saja sampai setelah dikabari- memeluk dan mengelus punggung ibu Hyunri, untuk menenangkannya.

Hyunri seakan terlelap dalam tidurnya, ia bahkan bermimpi sedang berada ditengah hamparan luas. Rumput alang-alang melambai cantik mengenai kulitnya, dibawah terik matahari dengan dilindungi sebuah pohon besar, tak membuatnya merasa kepanasan. Ia bergumam. “Dimana aku?.”

Tak berselang lama, ia melihat seorang pria mendatanginya. Dari ekspresinya dapat terbaca bahwa ia tengah kebingungan. Ia mulai mendekati Hyunri. “Hey.” Sapanya. Ia mengulurkan tangannya pada Hyunri. “Namaku-“

“-Kim Taehyung. Salah satu member dari BTS, benar?.” Ujar Hyunri, ia sangat menyukai grup tersebut.

Ia terkekeh, sebelum mengatakan. “Dan kau?.”

“Aku Shin Hyunri, fansmu.” Setelah mengatakan itu Hyunri merasa ada yang menariknya, ia harus pergi meninggalkan Taehyung. Samar-sama ia mendengar suara ibunya memanggil. Ia mengikuti sumber suara tersebut, sampai ia berada disebuah pemukiman. Di dalam lamunannya ia memikirkan banyak hal. Sampai ia dikejutkan oleh suara bass seorang pria.

“Ya!.” Sapanya sedikit membentak, ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana dan berjalan mendekati Hyunri. “Kau sadar tidak aku sudah menunggu disini lama sekali!.” Ujarnya dengan nada tinggi. “Dan kau malah berduaan dengan pria lain, cih.” Kata pria itu lagi.

Hyunri sedikit bingung, kenapa pria dihadapannya ini marah-marah dengannya. Ia bahkan tidak mengenal siapa pria itu, seorang pria dengan tinggi kira-kira 180 an, berkulit eksotis, bermata elang dan berbibir tebal. “Kenapa kau marah-marah? Aku bahkan tidak mengenalmu.” Ucapan Hyunri membuat Kai merasa tertampar. Ia diam sesaat. Namun, ada seorang pria setengah baya berjalan melewati mereka seraya mengatakan bahwa mereka berjodoh.

Hyunri masih tidak mengerti, sampai Kai menarik tangannya dan membawanya ke suatu tempat. Ia tidak tahu pasti tempat apa itu, namun tempat itu begitu indah. Sebuah taman yang dipenuhi bunga dan diujung sana ia dapat mendengar suara air terjun. Suasana yang menyejukkan. Kai mendudukkan Hyunri disebuah kursi dekat situ. Ia menggenggam tangan Hyunri.

“Hey, kau.” Ia menatap Hyunri dengan penuh arti. “Kau harus pulang dan bangun, setelah itu kita akan bertemu di dunia nyata.” Ujar Kai.

Hyunri masih tidak mengerti, ia berusaha untuk mencerna ucapan Kai. “Tapi aku tidak tahu jalan pulang.” Rengeknya.

Kai menghela napas berat. “Baiklah, aku akan mengantarkanmu.”

Sepanjang jalan Kai menggenggam erat tangan Hyunri seakan enggan melepasnya. Hingga ketika ia melewati sebuah lorong, dengan ajaibnya ia telah sampai didepan gedung rumah sakit Seoul. Kai melepas tangan Hyunri dan membuat mereka berhadapan.

“Namaku Kim Jongin, tapi kau panggil saja Kai.” Kai mengulurkan tangan pada Hyunri dan gadis itu menerima uluran tangan Kai. “Namaku Shin Hyunri.” Mereka merasa tangan mereka seakan tersengat aliran listrik. Hal itu sukses membuat Hyunri kaget dan terbangun dari tidurnya.

“Hyunri, kau sudah sadar? Akhirnya.” Ibu Hyunri bergegas memanggil dokter.

Dilain tempat Kai juga langsung terbangun dari mimpinya. Ia menatap telapak tangannya dan merasa sangat aneh. Ia merasa mimpinya sangat nyata. Ia mengetikkan sebuah nomor lalu meletakkan ponselnya ke telinganya setelah menekan tombol call.

“Yeoboseyo, Ahn mina?.”

“Ne oppa?.”

“Hubungan kita cukup sampai disini, jika kau bertanya alasan. Aku tidak punya itu.”

Tut tut tut

Kai memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia lalu bergegas pergi ke suatu tempat untuk memastikan sesuatu.

Kai telah berhenti di depan gedung rumah sakit Seoul. Ia menemui receptionist untuk menanyakan Shin Hyunri berada diruangan nomor berapa.

Setelah mengetahui hal itu, Kai segera memasuki ruangan Hyunri. Dan bermaksud menemuinya, Kai sangat penasaran akan mimpinya.

Kai membungkuk sopan, seraya berkata dengan bahasa formal. “Annyeonghaseyo, ahjumma. Perkenalkan namaku, Kim Jongin. Aku adalah teman-” Kai sedikit berpikir sejenak dengan menatap Hyunri, gadis itu mendelik ketika mendengar kata “teman”. Mereka tidak saling kenal bahkan. Namun ketika mengingat nama Kim Jongin sekali lagi, memori otaknya berputar kembali mencoba menemukan siapa sosok di hadapannya yang seakan tidak asing.

“-Shin Hyunri.” Lanjut Jongin dengan seulas senyum menawannya. Hyunri terpaku beberapa saat, kini ia mengingat dengan baik siapa itu Kim Jongin atau biasa disapa Kai, seorang pria yang muncul di mimpinya.

Ibu Hyunri tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka tanpa menaruh curiga sedikitpun. Tinggalah mereka berdua -Kai dan Hyunri- di dalam. Awalnya sangat canggung dan membuat suara mesin elektrokardiografi terdengar sangat jelas dan membuatnya seperti suara latar yang mengiringi “kencan” mereka. Tidak, bahkan itu tidak pantas disebut kencan.

“Aku tidak tahu pasti kenapa kaki ku membawaku kesini, ke hadapanmu. Tapi, yang jelas aku hanya merasa penasaran dengan mimpiku. Aku bermimpi bertemu denganmu dan terakhir aku mengantarmu ke rumah sakit ini.” Ia menggenggam tangan Hyunri. “Aku juga menjabat tanganmu dan memperkenalkan namaku, sampai aku terkejut karena aku merasa seakan tersengat listrik.” Ia mengulum senyum manisnya.

Hyunri ikut tersenyum melihat senyuman kai. Ia mengucapkan hal yang membuat Kai terkejut. “Aku juga.”

Kai melongo. Berarti, tidak hanya dirinya yang merasakan hal itu. “Baiklah, berarti mungkin ah tidak tapi kita benar-benar berjodoh.” Kai mengucapkan dengan pasti. “Cepatlah sembuh dan kita harus Eumm… menikah… mungkin begitu, ku rasa. Yeah, jika kau mau-“

“-aku mau.”

“Mwo?? Apa kau tidak memikirkannya lebih dulu?.”

Hyunri mengendikkan bahu menanggapi. “Ku rasa tidak perlu, karena aku sudah yakin.”

“Baiklah, kita menikah.” Kai melepas gelang yang melingkar ditangannya dan memakaikannya pada Hyunri. “Sementara pakai ini saja sebagai tanda aku melamarmu. Cincinnya menyusul, tunggu saja.” Ujarmya seraya menepuk pelan kepala Hyunri. “Baiklah, aku pergi dulu jaga dirimu baik-baik.”

Baru beberapa langkah, sebelum mencapai pintu, Kai memutar balik menghadap Hyunri. “Aku minta nomor ponselmu, karena kita tidak mungkin punya kesempatan untuk bertemu di mimpi lagi.” Jelas Kai.

Hyunri mengangguk dan menyebutkan nomor ponselnya. Ia memanggil Kai sekali lagi dan pria itu kini menatapnya. “Omong-omong dimana kau bersekolah dulu?.” Tanyanya penasaran, mengingat ramalan teman dari temannya itu.

Kai terdiam sejenak. “Aku di Seoul Of Performing Art School.” Kai tersenyum sekilas, Hyunri mendelik karena tidak menyangka bahwa mereka satu sekolah. “Aku juga bersekolah disana dan aku baru saja lulus kemarin.”

“Aku senior 3 tingkat diatasmu.” Ujar Kai menjelaskan sebelum Hyunri bertanya, Kai dapat melihat ekspresi bingung diwajah gadis itu seolah mengatakan -bagaimana-aku-bisa-tidak-bertemu-denganmu. Dan kemudian Kai pergi berlalu dari hadapannya. Hyunri tersenyum sedikit, ia merasa ada getaran aneh di dadanya. Mungkin, semacam sugesti yang telah menempel bahwa mereka sudah berjodoh. Tapi, mungkin perasaan cinta yang sesungguhnya.

Setelah seminggu Hyunri dirawat, akhirnya ia diperbolehkan pulang. Sejak hari itu, ia tidak tahu-menahu tentang Kai, kabar tentangnya, apa yang dilakukannya dan juga rencana Kai untuk melamarnya. Hyunri sempat merasa itu tidak masuk akal dan bodoh. Tentu saja. Dan Hyunri merasa semakin bodoh karena telah percaya pada mimpi aneh itu. Tetapi itu tidak berlangsung lama karena beberapa hari setelahnya, Kai datang ke rumahnya bersama orangtuanya untuk melamar Hyunri. Dan itu sudah pasti.

Kai datang menghampiri Hyunri yang berada di depan cermin tengah mematut dirinya. “Mungkin Tuhan sengaja mempertemukanku denganmu dan mengirimkan diriku padamu pada hari itu di dalam mimpiku, untuk memberitahukan bahwa calon istriku telah mengalami masalah yang besar.” Ia tersenyum melihat pantulan bayangan Hyunri yang tampak cantik. Kai tidak berniat menghampiri, ia hanya diam ditempat. “Shin Hyunri yang sebentar lagi akan berganti menjadi Kim Hyunri, aku tertarik padamu, aku suka ketika melihatmu. Dan cinta? Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menilai, apakah ini semacam delusi atau memang benar, mengingat kita baru bertemu di mimpi dan dua kali di dunia nyata. Tetapi mungkin ini sudah takdir dan mungkin juga aku akan mencintaimu lebih dalam lagi. Jadi, ayo kita mengenal lebih dalam lagi, kita bangun bersama dan mari kita menikah.”

Hyunri berbalik, menatap manik mata Kai. Ia berjalan mendekat, Kai mengulurkan tangannya pada Hyunri dan Gadis itu menerima uluran tangan Kai.

Tangan yang lembut nan kecil telah berada di genggaman Kai setelah ayah Hyunri memberikan tangan anak gadisnya pada seorang pria bernama Kim Jongin. Air matanya mengalir begitu saja, ayah Hyunri sudah merasa telah selesai tanggung jawabnya pada anak gadisnya dan sekarang tanggung jawab itu telah digantikan oleh Kai.

“Saudara Kim Jongin, apakah anda akan berjanji setia pada istri anda? Menemaninya saat sakit, disaat suka maupun duka? Apakah anda bersedia.?”

“Ya, saya bersedia.”

“Saudari Shin Hyunri, apakah anda akan berjanji setia pada suami anda? Menemaninya saat sakit, disaat suka maupun duka? Apakah anda bersedia.?”

“Ya, saya bersedia.”

Kai dan Hyunri saling melempar pandang dan tersenyum simpul. Mereka bahagia. Kai hendak mendekatkan wajahnya pada Hyunri sebelum ada suara yang menginterupsinya. Suara itu berasal dari kursi tamu.

“Ya, pastur belum menyuruh kalian untuk berciuman. Apakah kalian sudah tidak sabar huh?.” Celetuk Kim Joonmyeon, teman Kai yang diikuti suara tawa gemuruh seisi gereja hari itu.

Hari yang cerah.

Kata orang, jodoh tidak akan pergi kemana. Semua orang mempunyai jodohnya masing-masing. Karena kodratnya manusia adalah berpasang-pasangan. Dan jodoh tidak akan bergerak maju jika kita bahkan hanya berdiam diri tanpa mencari. Tetapi ada kalanya jodoh juga akan datang sendiri tanpa disadari. Dan jodoh juga tidak akan datang jika manusia tersebut belum siap dari segi mental maupun material.

END

-Jodoh-

A/N : Sebelumnya selamat ulang tahun kai oppa semoga makin sukses, makin cemerlang karirnya. Emang agak telat sih, bukan agak lagi tapi telat banget malah wkwk. Gapapa lah ya hehehe.

Aku mau sapa-sapa Hay Hay Hay, aku baru muncul lagi maaf maaf. Dan mungkin kalian udah pada lupa, baiklah tidak masalah. Ff ini sebenernya mau aku post waktu kai birthday. Cuma ya, ketika mau ku post ada pesan masuk “kuota anda sudah habis” tepat di jam 22.30 aku tidak mungkin keluar buat beli kuota wkwkwk. *curcol dikit* dan sampailah akhirnya dihari ini baru bisa post. Oh iya, rencana, ini baru rencana hanya rencana dan belum pasti sih, aku mau bikin ff ini jadi series dengan cast anak exo yang lain. Tapi entah akan bagaimana nanti, kita lihat nanti saja. Baiklah sekian dan terimakasih.

Iklan

2 pemikiran pada “Jodoh – Kai

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s