Lampion-Lay

lampion lay.jpg

Lampion-Lay

Zhang Yixing / OC (You)

Vignette / AU / lilComedy / Fluff / Romance / G

.by l18hee

.

Another Lampion:

Luhan | Xiumin | Chanyeol | Kris | Kyungsoo | Suho | Kai | Chen | Tao | Baekhyun | Sehun

.

the last lampion

.

Lampion kuning itu membuatku terlalu besar kepala

.

Ada sebuah toko yang tak terlalu besar di tepi kota. Toko yang menjual berbagai barang dari kerajinan tangan sampai peralatan untuk mengurus tanaman. Toko milik keluarga Wu yang sudah diwariskan secara turun temurun punya tingkat ketenaran yang lumayan tinggi di daerah tepi kota ini, omong-omong. Jadi jangan heran, walau tak semua, banyak pelanggan dari kalangan lanjut usia. Oh, ya, ada empat pegawai yang bekerja di sana. Para pegawai yang sebenarnya baru saja menggantikan pegawai lama yang memilih menikmati masa tua dengan berleha-leha di halaman rumah mereka.

Yang sedang mengangkat barang baru itu Oh Sehun, pria kulit susu yang sangat suka mengganggu. Yang sedang menata barang baru dan membersihkan debu-debu itu Runa, pacar Sehun yang pekerjaan sampingannya sebagai penyiar radio. Yang sedang kesusahan mengusir kecoak di pojokan itu Kris, sebagai bos sepertinya dia kurang bisa memanfaatkan pegawai dengan benar. Padahal dia bisa meminta Sehun─atau yang lain─mengganti tugasnya mengusir kecoak. Namun dengan gaya sok angkuhnya ia mengumbar kata dan membanggakan diri bisa mengurus hal kecil seperti itu sendiri. Pada akhirnya toh ia juga begidik ngeri.

Oh iya, pegawai terakhirnya itu aku. Jika kuceritakan padamu tempatku yang selalu berdiri di belakang meja kasir, kalian pasti langsung tahu apa posisiku. Kris memilihku menjaga mesin kasirnya karena tak ada orang selain aku yang pantas, katanya. Melihat Runa yang walau suka dengan benda bernama uang namun rupanya benci menghitung, dan Sehun yang dikhawatirkan malah akan menyerahkan kembalian seenak perut, aku menurut saja.

Setiap hari kerja, aku akan bertemu banyak orang. Mengambil benda incaran dan mengeluarkan lembaran uang. Ada juga yang datang hanya melihat-lihat. Kris tak pernah marah, dia justru meminta kami untuk berpikir positif kalau orang-orang itu mungkin saja akan menyebarkan berita baik─tentang toko─pada teman-temannya. Penuturan ini sering membuat Runa menyikut rusuk Sehun dan berkata tanpa suara: contoh bosmu yang dewasa itu, dong. Dan Sehun hanya akan cemberut saja.

Kami punya beberapa pelanggan setia. Ada Pak Hans yang sering membeli pot baru untuk tanamannya. Ada Paman Goo yang dengan baiknya selalu mempromosikan toko kami ke rekan-rekannya. Ada juga Nyonya Yoo yang kadang datang hanya untuk menyapa Kris atau membawakan makanan. Semua tahu jika Nyonya Yoo mengincar Kris sebagai menantunya. Sayang, Kris sudah punya pacar.

Intinya selain mereka, kami punya lumayan banyak pelanggan setia lainnya.

“Selamat datang,” suara Runa membuatku menghentikan lamunan untuk menoleh ke pintu masuk.

Seorang pria baru saja melawatinya. Pria dengan senyum terpeta di wajahnya. Oh, itu Zhang Yixing. Pria baik hati yang menjadi asisten dosen di universitas kota. Hampir tiap akhir minggu, dia menyempatkan diri untuk datang. Membeli sebuah barang yang sama dengan senyuman menawan. Terkadang aku akan mendapati wajahku memanas jika ia sudah tiba di depan meja kasir.

“Kau tidak ingin warna lain?” Kupandang sebuah lampion yang ia letakkan. Lampion kuning lagi.

“Tidak. Kurasa yang warna kuning nyalanya lebih terang dan terkesan nyaman,” ucapnya seraya mengeluarkan beberapa lembar won dalam kantung dan menyodorkannya padaku.

“Ah, benar juga, ya.” Aku mengangguk sebagai tanda mengerti sebelum kembali membuka suara, “Yang ini untuk siapa?” Pertanyaanku ini merujuk pada kelakuan aneh Yixing yang entah kenapa selalu menyerahkan lampion yang ia beli pada orang lain.

“Hari ini pulang malam lagi?” Dia justru bertanya balik, mengabaikan pertanyaanku. Mengerti jika ia tak ingin ditanya, aku memutuskan menjawab saja, “Iya, mungkin sedikit lebih malam. Ada laporan keuangan yang harus aku selesaikan.” Pria itu mengangguk sebelum menerima uang kembalian dariku.

“Baiklah, kalau pulang hati-hati, ya? Aku pergi dulu, sampai jumpa.”

Aku memberikan senyum yang sedikit kupaksa. Kukira dia akan menawarkan untuk pulang bersama atau bagaimana. Baiklah, mungkin harapanku terlalu tinggi. Yixing baik pada siapa saja, jadi mungkin di matanya aku sama dengan yang lain. Terkadang kesal juga naksir seseorang yang terlalu baik seperti dia. Aku jadi tak bisa membedakan mana yang baik seperti biasa dan mana yang baik pertanda suka. Hah, entahlah, jika semakin diresapi justru semakin tak kumengerti.

“Harusnya kauberi dia kode.”

Hampir saja aku terlonjak kaget lantaran ucapan yang tiba-tiba Sehun lontar. Sejak kapan dia memasang wajah sok tahu dengan siku menumpu di atas meja kasir?

“Yang tadi bukan kode?”

“Jika tipikal kodemu seperti itu, kapan dia akan menangkapnya?” Sehun menggeleng miris, “Paling tidak katakan ‘aku takut pulang sendiri’ atau ‘mungkin jika ada yang menawarkan pulang bersama akan lebih baik’.”

“Aku tidak mau mengatakan hal seperti itu.” Kudorong sikunya dari meja kasir. Bersamaan dengan kekehan Runa di depan sana, “Bagus. Jangan dengarkan saran Sehun.”

“Hei, seharusnya kau bersyukur aku sangat peka, Runa.” Mulai lagi. Aku tak mengerti kenapa aku sendiri selalu tak masalah setiap kali mereka melakukan debat tak perlu. Mungkin karena toko akan sepi jika tak ada celoteh dari keduanya.

“Peka apanya? Kau itu narsis, bukan peka. Apa-apa dibilang kode, bah!”

“Kwon Runa, begitu juga kau mau jadi pacarku.”

“Kalian berdua, atau paling tidak salah satunya, lebih baik bantu aku menyingkirkan kecoak ini sebelum─ah! Ada dua! Sialan! Pergi kalian! Jangan gerogoti pot-potku!” Suara sapu mencium lantai dengan keras terdengar lagi. Baiklah, mungkin bos sudah tak sanggup mengurus hal yang katanya kecil itu.

“Dia sudah gila. Membedakan kecoa dengan tikus saja tidak bisa.” Menggerutu pelan, Sehun akhirnya mengambil sapu juga, “Bos, aku datang!” Dan pemandangan bak pahlawan yang mengusir monster raksaksa penyerang kota menjadi tontonan menarik sore ini.

Malamnya, seperti prediksiku aku pulang lebih larut dari biasanya. Sebenarnya sudah menjadi kebiasaan di akhir minggu karena aku harus mengurus laporan keuangan yang esoknya kuserahkan pada Kris. Yang tidak aku suka dari pulang larut malam adalah jalanan yang sepi. Ini bukan pusat kota, jadi aku tak bisa mengharapkan ada taksi yang lewat selarut ini. Tapi ada tidaknya taksi tak begitu berpengaruh, sih. Karena untuk menuju flatku hanya butuh jalan kaki. Melewati gang-gang perumahan yang lampunya mulai dipadamkan. Membuatku terkadang begidik ngeri dan memilih mempercepat langkah kaki.

Tapi, ada yang aneh dengan hari ini. Di setiap rumah rute jalanku, aku mendapati satu lampion di sana. Aku tak tahu lampion yang dijual di toko Kris selaris itu.

Eh, tunggu dulu. Kenapa semua lampionnya berwarna kuning. Yang selalu membeli lampion kuning, kan, hanya … Yixing. Yixing? Oh, yang benar saja?

Seketika berbagai macam spekulasi menghujani benakku.

“Apa dia melakukan ini untukku?” Kurasakan hangat menyambah pipiku. Menyadari hal ini aku tersenyum diam-diam, “Serius, aku benar-benar berpikir terlalu jauh.” Walau begitu aku tak mengelak bahwa ada harapan begitu besar dalam diriku. Berbagai ‘bagaimana jika’ mulai bermunculan menendang jauh ‘jangan terlalu berharap’ di benakku.

Bagaimana jika Yixing yang melakukannya? Bagaimana jika nanti aku mendapati Yixing berkata ini kejutan untukku? Bagaimana jika nanti Yixing menyatakan perasaan padaku?

Baik, baik, aku terlalu besar rasa sekarang. Sebaiknya kubuktikan saja dengan cepat-cepat melangkah pulang ke flat. Seraya menepis harapan-harapan manis, tentunya.

Sampai di depan flat, kudapati sebuah lampion kuning di sana. Semakin membuatku ingin meledak saking senangnya. Rasa-rasanya perutku seperti diaduk, wajahku semakin merah sampai-sampai telingaku juga begitu. Inginnya berteriak girang, tapi aku tahu, yang ada para tetangga akan melayang protes jika kurenggut waktu istirahat mereka yang jarang.

“Ah, kau juga dapat lampion?”

Kutolehkan kepala demi mendapati Bibi Cha─tetanggaku─yang baru saja meletakkan sampah tengah menatapku. Setelah aku menganggukkan kepala, Bibi Cha kembali membuka mulut, “Kupikir ini semacam promosi. Bukankah pemilihan wali kota sebentar lagi?”

“Wali kota?” Rahangku seperti akan jatuh saja.

“Iya, kau sering dengar beberapa wali kota membagikan barang─atau uang─pada warga, bukan?”

“Oh, i─iya, kurasa begitu.” Nadaku menurun di akhir kalimat. Setelah saling bertukar salam perpisahan kecil, manikku kembali jatuh pada lampion kuning itu.

“Aku dibuat ge-er oleh barang promosi. Lucu sekai.” Kutiup udara dengan cepat dan segera masuk ke flat. Mungkin aku harus lebih banyak istirahat agar otakku berhenti berpikir yang tidak-tidak.

Walau mungkin saja Yixing sedang memerhatikanku dengan senyum di bawah sana dan memasang tampang lega karena perasaanku lebih baik berkat lampionnya.

Yah, hanya mungkin, sih.

.

.

.

“Aku ingin tahu, hal apa lagi yang kau takutkan selain berjalan pulang sendirian di tengah kegelapan?”

Nyatanya kemungkinan itu memang ada, walau hanya Yixing yang mengetahuinya.

.end

Ah, padahal lebih enak lagi kalok misal Yixing bilang langsung ya. Kan kalok pedekate diam diam gitu si ‘aku’ gak bakal tau. Siapa pun tolong tampar yang nulis. Sekian.

.

.

AKHIRNYA HARI INI LAMPION RESMI SELESAI YEAY ❤ ❤ ❤

MAKASIH BUAT YANG UDAH NGIKUTIN (dari setahun belakangan) DAN MAAF JIKA ADA BEBERAPA ALUR YANG MENGECEWAKAN ❤

Pokoknya makasih banyak, lain kali aku bikin lagi series per member gini ya wkwk

Sejujurnya ini udah aku selesein dari tahun lalu wkwk Jadi alur juga udah selesai sejak lama :’) Tapi keknya aku antara mau nundua post karena ragu atau lupa post malahan ya :’v sedih kadang :’)

Syuda, begitu sajaa…

p.s: besok 2nd grade chapter 9 insyaAllah rilis

.salam sayang; nida

4 tanggapan untuk “Lampion-Lay”

  1. Jadi yg masang lampion2 kuning tu beneran Yixing?
    Kenapa aku ngrasa ini manis gtu ya kya senyumnya Yixing 🙂
    Good job !! SemanGat terus Nida !!!! 😀

    1. Iyaaa xD jadi beneran yixing cuma gak ada yg tau wahaha kasian/nid
      kalok senyum yixing mah emang manis dari sananya x3
      makasih yaa, semangat jugaa xD ❤

  2. Hi Nida, too good to be true this sweet romance of Lay 🙂 & it feels so real. I forgot udah ninggalin jejak di tiap Lampion series ini/blm cz ada yg ku bc & komen di blog pribadi kamu jg kyny. Sblm series yg Lay ini, bc yg Sehun sedih bgt 😥 itu bnrn lupa kyny dah prnh bc/blm gt di blog kamu. & ada Hun-Run couple lg plus my ultimate bias of Exo, Kris di sini jd + sk & brasa special serial penutup Lampion ini. Yg dikisahkan jd pcr’ny disini itu saya kan ^^ /iya aja please../ Ditungggu bgt ur other works yg mmbr series ky gini #missing_ot12 >//< so~ much!! Ditunggu jg update 2nd Grade'ny jg yg LDA ya 😀 pkk'ny ku sbr & stia mnanti many of great ff(s) of Exo dimarih 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s