[EXOFFI FREELANCE] The Headmaster #2

1484488671753

The Headmaster#2-(Chaptered)

Tittle : The Headmaster#2

Author : Angestita

Length : Chaptered

Genre : School Life – Drama – Angst

Rating : PG-13

Main cast : Oh Sehun – Baek Su Min – Kai

Diclaimer : FF ini berasal dari imaginasi aku. Apabila ada kesamaan tokoh dan alur murni ketidak sengajaan. Aku harap kalian dapat mengerti untuk tidak mencontoh karya ini tanpa izin. Cerita ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata. Ini hanya Fanfiction.

Selama tiga hari Baek Su Min bekerja di Seoul High School, selama itu pula hari-harinya berlalu dengan cukup baik. Sama sekali tidak ada masalah. Hingga menginjak hari ke empat dia bekerja disana dan mulai dari hari itulah hidup tenangnya di SHS mulai terusik. Bell berbunyi tepat pukul 07.00 dan sesuai aturan tertulis di sekolah itu bahwa guru masuk lima menit setelah bell berbunyi. Bersama guru seni -Seunwan-, Baek Su Min berjalan menuju kelasnya yang ada di lantai dua. Hari ini dia mendapat kelas XI menggantikan guru Bahasa Matematika yang pagi itu tidak bisa hadir.

“Semangat mengajar!” Ucap Seunwan ketika mereka berpisah di ujung tangga. Su Min menggangguk pelan, wanita itu berjalan ke arah yang berlawanan dengan Seunwan. Kelasnya ada di tempat yang paling ujung. XI MIPA 4. Ruangan kelas XI itu terdengar ramai daripada ruang kelas lainnya. Entah mengapa hatinya mendadak berdebar tak menentu. Bagaimanapun ini adalah hari pertamanya di kelas itu dan dia baru 4 hari mengajar di sekolah itu. Perlahan dia memutar ganggang pintu dan mendorongnya dengan pelan. Suasana didalam kelas tak kunjung hening sekalipun dia sudah mulai melangkah masuk. Anak-anak masih sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang mengobrol di pojok ruangan, ada yang bermain ps dan ada yang sudah tidur.

Berat hati Su Min memukul meja dengan penggaris. Anak-anak yang mendengar suara keras itu segera menoleh ke sumber suara. Menatap Su Min dengan pandangan heran dan terkejut. Sejenak kelas terasa sunyi. Su Min menatap sekilas ruang kelas yang akan dia ajar selama tiga jam nanti. Wanita itu mencoba tersenyum dengan lembut, berharap tindakan memukul meja tadi terlupakan. “Selamat pagi anak… senang bisa bertemu dengan kalian. Saya guru baru di sekolah ini, perkenalkan nama saya Baek Su Min. Saya guru Matematika. Guru matematika kalian tidak bisa masuk hari ini karena sakit jadi saya yang menggantikan. Saya harap saya bisa membantu kalian belajar.” Ucap Su Min ramah.

Anak-anak yang mendengar alasan ketidak hadiran guru matematika mereka merasa senang. Guru matematika mereka termasuk guru killer dan sangat membosankan, jadi wajar apabila beliau tidak datang mereka sangat senang. Kemudian suasana kelas menjadi ramai kembali. Su Min yang baru ingin mengabsen kehadiran siswanya terpaksa mengulangi hal yang sama. Sebenarnya tindakan yang dia lakukan bukan hal yang baik, tapi bagaimana lagi? Kelas akan sangat ramai apabila dia tidak menegurnya.

“Ibu akan mengabsen kalian. Dengarkan baik-baik ya…”  ucap Su Min tegas. Dia menyebutkan nama nama siswa yang terdaftar dalam buku absen tanpa mengulang, hingga dia menyebutkan absen nomer 19 dengan nama Mark, pemilik nama itu tak kunjung menjawab. “MARK LEE?” Panggil Su Min lagi dengan suara yang lebih tegas. “Kemana Mark?” Su Min bertanya kepada siswi yang duduk dimeja barisan depan.

“Belum hadir, bu.” Jawab salah satu dari mereka. Su Min menghela nafas dan memutuskan untuk melanjutkan memanggil nama anak-anak lainnya.

“Baiklah mari kita mulai pelajarannya.” Ucap Su Min, wanita itu sudah siap dengan buku ajarnya. “Buka halaman 78. Kita akan memulai bab baru tentang Aritmatika.” Perintah Su Min yang segera diikuti oleh murid-muridnya. Sudah hampir satu jam Su Min memberikan materi di kelas itu hingga sebuah pintu dibuka dengan kasar dan seorang pria masuk dengan santainya.

Su Min menatap pria itu dengan tatapan terganggu. Sementara pria itu hanya menatap Su Min dingin dan cenderung tidak peduli. “Saya terlambat.” Ucapnya santai kemudian duduk di kursi paling belakang. Sama sekali tidak ada ucapan perminta maaf yang keluar dari mulutnya. Sementara itu anak-anak lainnya terlihat tidak peduli.

Su Min menatap muridnya tadi dengan tatapan marah, dia merasa tersinggung dengan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh anak tadi. “Kamu yang baru saja masuk, maju kedepan!”perintah Su Min tegas.

Pria bernama Mark itu mendengus pelan, dengan malas dia mengangkat tubuhnya dari kursi dan berjalan menghadap Su Min. Wajah tampannya kian tidak bersahabat. “Kenapa kamu bisa terlambat?”Su Min bertanya tanpa nada kasihan yang tersirat dari suaranya.

Mark masih diam, dia malas menjawan pertanyaan tidak bermutu dari gurunya itu. Toh, yang harus dia hormati sekarang adalah Guru Lee dan bukan wanita yang sedang menatapnya marah itu.

Su Min menghela nafa, “Kamu tahu, kamu terlambat 45 menit! Saya ingin mendengar apa alasanmu terlambat seperti ini,”

Mark memutar bola matanya, ” Aku sudah menelfon Pak Sehun. Aku sudah izin dengannya.” jawaban Mark terdengar santai sama sekali tidak ada rasa takut dari nada suaranya.

Guru muda itu menghela nafas pelan, mencoba bersabar. “Saya tidak percaya!” Kali ini suaranya terdengar tajam.

“Aku tidak butuh kepercayaan anda.” Balas Mark cuek.

Su Min terlihat tersenyum kecil. “Kalau begitu keluar dari kelas saya sekarang juga!” Suaranya terdengar pelan namun mengintimidasi.

Mark menatap tajam mata Su Min untuk beberapa saat hingga senyum kecil tetukir disana, senyum mengejek. “Baiklah!” Setelah mengatakan demikian, ia berlalu dari kelas. Su Min menatap kepergian muridnya itu dengan wajah kesal.

Diam-diam anak-anak lain mendengar pembicaraan mereka dengan hati berdebar. Mereka ingin tahu seberapa berani guru muda seperti Su Min menegur cucu pemilik sekolah. Dan memdengar Su Min yang mengusir Mark dengan santai seperti itu berbuah tepuk tangan dalam hati mereka semua. Memang sejak Mark sekolah di SHS tidak satupun guru yang berani menentang perintahnya.

“Anak-anak lanjutkan kerjakan soal yang sudah saya bagikan!” Perintah Su Min sembari menuliskan sesuatu didalam bukunya. Wajahnya sudah kembali seperti biasa, sama sekali tidak ada rasa marah yang tertinggal disana.

Sehun menatap Su Min yang duduk didepannya dengan raut serius, tadi dia menerima telefon dari eyang utinya, bahwa keponakannya diusir dari dalam kelas. Mark memang nakal tetapi selama dia besekolah di sana belum ada yang berani bertindak selancang itu. Mereka semua memilih membiarkan Mark dan bersabar menunggu kelasnya berakhir atau yang lebih parah guru itu meninggalkan kelas karena sudah tidak sabar menghadapi tingkah keponakannya. Diam-diam Sehun memuji keberanian Su Min.

“Kamu tahu mengapa kamu saya panggil kesini?” Tanya Sehun setelah dua puluh menit mereka berdiam diri.

Su Min menatap atasannya sesaat sebelum mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia sebenarnya sudah bisa menebak alasan dirinya dipanggil, ini pasti tentang kejadian tadi pagi. “Saya fikir saya mengetahui alasan bapak memanggil saya kesini. Apakah ini tentang Mark?”

Sehun mendengus pelan lalu mengangguk. “Apa alasanmu mengusirnya dari ruang kelas?” Tanya Sehun kemudian.

Wanita bersurai hitam itu menatap mata atasannya dengan tatapan jujur dan berkata “Mark masuk ke dalam kelas saya setelah 45 menit jam pelajaran berlalu. Dia tidak meminta maaf dan mengatakan alasan mengapa dia datang terlambat. Saya memanggilnya dan menanyainya tetapi dia tidak menjawab sekalipun menjawab dia hanya bilang sudah izin dengan bapak. Saya fikir dia bohong karena dia tidak menyerahkan surat izin masuk kepada saya. Jadi saya menegur tindakan ini dan memintanya untuk keluar. Sebenarnya saya hanya ingin dia merenungi kesalahannya dan jangan berbuat seperti itu.”

Pria tampan itu hanya tersenyum kecil mendengar alasan yang diberikan oleh Su Min. “Kamu tahu apa yang kamu lakukan adalah kesalahan?” Kini balik Sehun bertanya kepada Su Min.

Su Min menatap atasannya dengan sedikit bingung, darimana sisi dia bersalah. “Maaf pak, apa yang saya lakukan tidak melewati batas dan saya melakukan itu karena saya punya alasan yang nyata.” Tolak Su Min heran.

“Apa yang kamu lakukan mungkin benar. Tetapi tidak apabila kamu lakukan itu kepada keponakan saya dan salah satu pewaris dari Louis Crop.”

Su Min mendengar ucapan Sehun dengan sedikit terkejut namun kemudian wajahnya berubah menjadi sedikit garang. “Maaf pak,…” ucap Su Min pelan, dia masih menghormati Sehun sebagai atasannya walaupun tindakan pria itu salah. Sementara itu Sehun bersiap melihat Su Min mengiba maaf kepadanya. “Apa yang bapak ucapkan barusan mengejutkan saya, tetapi saya tidak pernah menyesal melakukan itu. Saya malah semakin merasa bersyukur. Setidaknya saya sudah memberinya didikan tentang arti sopan santun dan tepat waktu. Bapak sebagai pamannya seharusnya tidak memarahi saya karena meminta Mark keluar dari kelas. Bapak seharusnya lebih memahami arti sopan santun dan bagaimana mendidik anak dengan benar.

Maaf bukannya saya lancang, tetapi tindakan bapak seperti ini menunjukkan bahwa bapak yang salah. Saya paham betul bapak berkuasa disini, tetapi seharusnya bapak lebih bisa mengatur kekuasaan bapak dengan baik. Apalagi bapak adalah kepala sekolah. Bagaimana bapak akan memajukan sekolah ini dengan baik apabila bapak saja tidak bisa berbuat adil. Jadi saya tidak akan meminta maaf atas perbuatan saya karena apa yang saya lakukan adalah sesuai dengan kewajiban saya sebagai guru yang mendidik muridnya.”

Sehun menatap Su Min dengan tatapan tidak terbaca. Bagaimana mungkin karyawan baru berusia 4 hari menceramahinya seperti ini? Dia tahu tindakannya salah tetapi tidak ada yang pernah memarahinya seperti ini. Entah mengapa sebagian dari hatinya tersentil dengan ucapan Su Min.

“Kamu tahu kesalahanmu berlipar ganda….”

“SEHUN!!!”

Sebelum Sehun menyelesaikan ucapannya seorang wanita sudah memanggilnya. Dia adalah Irene-tunangannya. Entah sejak kapan wanita bersurai merah itu sudah ada diruangannya. Tanpa aba-aba Irene mendekati Sehun dan mengecup bibirnya pelan. Bahkan wanita itu seolah tidak menyadari keberadaan Su Min disana.

Dilain sisi, Su Min merasa kaget dan syok melihat keintiman Sehun dan tunangannya. Wanita itu segera memgingat tentang berita-berita yang dibisikkan oleh Seunwan beberapa hari ini. Ah…. pantas saja Sehun mencintai wanita itu. Bagaimana tidak, Irene terlihat sangat cantik denga  pakiannya dan tentu tubuhnya yang menggoda. Apalagi tampaknya wanita itu tak sungkan-sungkan melakukan skin-ship dengan Sehun dihadapan umum.

“Kenapa kamu tidak menjemputku?” Tanya Irene manja setelah kecupan mesranya.

“Aku sudah bilang bahwa aku ada urusan dengan karyawanku sebentar saja.” Bals Sehun sembari menarik tubuh Irene untuk duduk di pangkuannya. Jadi sebenarnya tidak hanya Irene saja yang suka dengan adegan intim di depan umum, Sehun ternyata sama saja. Su Min diam-diam jadi menyadari bahwa jodoh kita cerminan diri kita sendiri.

“Jadi kamu memilih dia daripada aku.” Irene berkata sembari mengerucutkan bibirnya.

Sehun hanya terkekeh pelan sebelum mencium bibir merah kekasihnya lembut. Tak lama kemudian ciuman itu menjadi pagutan penuh perasaan. Perasaan nafsu tentunya! Su Min yang merasa hanya menjadi kambing congek segera berdiri dan meninggalkan tempat itu. Masa bodoh dengan hukumannya. Toh dia juga sudah siap apabila harus dipecat.

Dalam hati dia mengomeli kelakuan atasannya yang semena-mena itu, “Bagaimana bisa seorang kepala sekolah berciuman di lingkungan sekolah seperti itu? Apa itu juga tindakan bermoral? Bahkan itu lebih parah dari tindakanku! Dasar pria hidung belang! Haus belaian!”

TBC

 

 

 

Iklan

7 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The Headmaster #2

  1. sumpah pasti bakal kesel banget kalau aku jadi Su min, rasanya aku mau jitak palanya Se hun apalagi irene, datang2 langsung maen nyosor aja.. ikh please deh
    Tapi aku suka sama ff nya baru baca tapi udah menarik jarang2 nemu karakternya sehun yang seperti ini biasanya jadi anak sekolahan mulu
    Next lanjut..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s