[EXOFFI FACEBOOK] When Sehun Broken Heart

workingimage

Tittle : When Sehun Broken Heart
Cast : Oh Sehun, Nam Seo Eun.
Other Cast : Kim Jongin, Jung Soojung.
Genre : Comedy Romance, Schoollife.
Lenght : Oneshoot.
Rating : T
Author : Kaivii
Summary : berhati-hatilah dengan kata “putus”


Ini cerita enteng banget ko, jangan dianggap serius ya…

-happy reading-

Menjadi pacar seorang Oh Sehun bisa membuatmu tua sebelum waktunya, itulah yang ada dipikiran Nam Seo Eun. Jika bisa, Seo Eun mungkin sudah memutuskan Sehun saat pertama kali pria itu membuat masalah dengannya. Ya… Seharusnya Seo Eun sudah memutuskan Sehun saat itu juga, dia tahu hal seperti ini pasti akan terus terulang lagi.
Seo Eun menoleh saat dia mendengar suara seseorang berlari mendekat kearahnya, dia melihat Sehun berlari menerjang hujan yang lumayan lebat sore ini.

“Maaf Seo Eun” Sehun berkata masih dengan nafas yang putus-putus setelah sampai disamping Seo Eun.

Seo Eun berdiri dan menghadap kearah Sehun “Sekarang apa lagi alasanmu? Kau lupa lagi kalau sekarang kau sudah punya pacar? Atau kau terlalu asyik menikmati kencanmu dengan pinku pinku?”

“Tadi… Jongin, dia mengajakku mencoba Playstation 3 dirumahnya, jadi setelah piket tadi aku langsung ikut dengannya” Seo Eun menatap Sehun kesal dengan mata yang mulai berkaca kaca.

“Kenapa aku selalu kalah oleh barang-barang tidak berguna itu??? Playstation, PSP, komik, pinku pinku!! Akan lebih baik jika kau berselingkuh dengan gadis lain jadi aku bisa memarahi, menjambaki, atau bila perlu menghajar gadis itu. Tapi ini? Apa yang bisa aku lakukan pada barang barang yang sudah menarik perhatianmu itu? Aku bahkan tidak bisa memarahi mereka!! Apa mereka terlihat lebih seksi dariku??! Kau tahu berapa lama aku menunggumu di halte ini Oh Sehun??!!” Pekik Seo Eun. Sehun terperanjat mendengar pekikan Seo Eun dan sedikit bergidik ngeri melihat penampilannya, gadis berseragam sekolah dengan kulit pucat dan rambut panjang yang sedikit berantakan. Bukankah Seo Eun sangat mirip hantu?

“Maaf Seo Eun maaf aku benar benar minta maaf”

“Aku kedinginan!!! Aku kelaparan!!! Aku kehausan!!! Kau tahu itu Oh Sehun? Kita putus!” Pekik Seo Eun, Sehun menatap Seo Eun lama sebelum mengembuskan nafasnya dan membawa Seo Eun kedalam pelukannya.

“Aku minta maaf” ucap Sehun setulus mungkin, Seo Eun mendorong Sehun dan menatap pria itu tepat dimatanya.

“Kali ini aku serius, kita putus!”

“Hey Nam Seo Eun kau tahu sudah berapa kali kau mengucapkan kata ‘putus’ itu hari ini? Lima kali! Lima kali dihari sabtu ini, dan jika di akumulasikan dengan jumlah total lima hari berturut turut kemarin berarti kau sudah mengucapkan kata ‘putus’ itu sebanyak 39 kali dalam minggu ini! Dan apa kau tahu itu adalah jumlah terbanyak selama kita menjalin hubungan selama 3 bulan? Biasanya kau hanya mengeluarkan kata putus sebanyak 15 kali dalam seminggu! Apa kau benar-benar ingin putus denganku?” Sehun berkata dalam satu tarikan nafas.

“Aku. Ingin. Putus. Denganmu. Oh Sehun.” Seo Eun menekankan setiap katanya dan meninggalkan Sehun begitu saja.

“Baik jika itu maumu!! Kita putus!!” Pekik Sehun sambil menatap kepergian Seo Eun lalu pergi kearah yang berlawanan.

….

Sehun menggigit bibir bawahnya saat memasuki rumah, ekspresi wajahnya benar-benar suram membuat sang ibu khawatir.

“Sehun kau kenapa?” Tanya ibu Sehun sambil mengelus bahu tegap anaknya itu, Sehun mengalihkan tatapannya pada sang ibu. Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca dan bibir bawahnya berkedut membentuk sebuah lengkungan kebawah.

“Oh Sehun…sekarang dia tersesat dalam labirin yang dia buat sendiri” ucapan Sehun tertahan ditenggorokannya, ibu Sehun menatap heran sang anak yang tiba-tiba saja berjalan cepat menuju kamarnya dengan kepala tertunduk.

“Bukankah itu lirik lagu?” Gumam ibu Sehun.

….

Minggu pagi memang sudah jadwal rutin Sehun untuk lari pagi ditemani Jongin dan terkadang Soojung yang selalu menempel pada Jongin juga ikut serta. Tapi hari minggu ini Sehun memilih diam di kamarnya sambil merenung memandangi ponselnya yang menampilkan wajah derp Seo Eun saat tertidur di kelas dengan sedikit liur disudut bibirnya.

“Aku percaya…ini yang terbaik untuk kita” bisik Sehun, dan dengan berat hati dia mengganti wallpaper ponselnya dengan gambar Jongin yang sedang berdandan ala Silor Moon saat halloween tahun lalu.

Sehun meraih pinku pinku dan memeluknya, menenggelamkan wajahnya didada rilakkuma berwarna pink itu.

“Neodo~~nacheoreom ireohke apeunji~~
Neodo~~nacheoreom nunmul naneunji~~

Neodo~~harujongil ireohke~chueoge saneunji kkok nacheoreom~” Sehun bernyanyi kencang atau lebih seperti teriakan, di bait terakhir lagu itu suara Sehun berubah menjadi isak tangis yang memilukan.

“Nam Seo Eun apa kau tahu aku sakit!!! Hatiku sakit Seo Eun!!!” Sehun terisak sambil terus memeluk pinku pinku untuk meredam suara tangisannya.

Setelah mengeluarkan semua kesedihannya kepada pinku pinku Sehun bangkit dari tempat tidur, dia lebih memilih pergi kerumah Jongin dari pada harus berdiam diri di kamarnya dan malah membuatnya terus terpuruk dalam masalah cintanya bersama Seo Eun.

“Sehun kau mau kemana? Ya tuhan mata mu kau simpan dimana Oh Sehun?” Ibu Sehun merengkuh wajah anaknya, menatap wajah Sehun yang terlihat bengkak dimana mana terutama matanya, mata Sehun nyaris hilang.

“Hilangnya mataku bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan, tapi hilangnya separuh hatiku…itu merupakan sesuatu yang lebih berat dari memikul beban beratus ribu ton… Ibu aku akan pergi kerumah Jongin, aku harus bermain Playstation, jangan menungguku pulang ibu… Aku pergi”

Ibu sehun menatap kepergian Sehun dengan wajah datar dan bibir atasnya yang berkedut “dia patah hati, haahhh seharusnya aku sudah tahu dari awal”

….

Jongin benci Sehun yang seperti ini, Sehun yang patah hati. Karena disaat Sehun patah hati dia akan lebih puitis dari seorang dramaqueen, dan Jongin benci itu. Mereka berdua fokus pada game sepak bola yang sedang mereka mainkan, beberapa kali Jongin berseru pada Sehun karena pria itu tidak bermain dengan benar dan membuat Jongin merasa seperti bermain sendiri, tidak ada perlawanan.

“Hey Oh Sehun kenapa kau biarkan Iniesta ku merebut bolamu?!! Ayolah Hun lawan aku, jangan diam saja” Seru Jongin.

“Saat bola itu tidak ditakdirkan untukku, untuk apa aku mempertahankannya? Itu hanya akan membuat kami berdua tersakiti. Aku akan melepaskannya bersama Andreas Iniesta asalkan bola itu bahagia”

Jongin rasanya ingin melempar stik Playstationnya ke wajah sendu Sehun saat ini juga jika saja dia tidak memikirkan kalau harga stik Playstation ini sama dengan uang sakunya selama sebulan.

“Kau tenang saja bola ini akan bahagia bersama Iniesta, jadi kau juga harus bahagia!! Tunjukan pada bola itu kalau kau juga bisa bahagia tanpa dirinya, lawan Iniesta!!” Demi tuhan Jongin sangat malu mendengar kata-katanya sendiri, detik itu juga Jongin merasa bibirnya tiba tiba pahit dan membuatnya ingin meludah.

“Baiklah…ayo.. Kita lawan Iniesta”

Jongin mengangguk dan tersenyum semangat, akhirnya dia mendapat lawan.
Tapi beberapa menit setelahnya Jongin dibuat jengkel, Sehun bermain sangat kasar. Tidak jarang pemain pemain Real Madrid yang Sehun mainkan dengan sengaja menjatuhkan pemain pemain Barcelona milik Jongin. Sampai akhirnya Benzema mendapat kartu kuning karena mendorong Messi yang sedang menggiring bola.

“Haa!!!!” Seru Jongin semangat dengan tawa lebar dibibirnya.

“Kurasa aku pantas mendapat pinalti atas semua tingkah lakuku selama ini. Walaupun sepertinya kartu kuning tidak akan pernah sebanding dan tidak akan pernah menghapuskan semua kesalahan yang kubuat selama ini tapi aku bersyukur dia memberiku kartu itu, karena saat kartu merah yang dia berikan maka tidak ada lagi kesempatan untukku agar bisa kembali bersamanya”

Jongin meraup popcorn dan memasukkannya sekaligus kedalam mulutnya hingga penuh, dia ingin menggigit Sehun sebenarnya tapi dia masih sangat waras untuk tidak melakukan itu, akhirnya dia melampiaskan kekesalannya pada popcorn dihadapannya.

Permainan kembali berlanjut dan semakin sengit, skor mereka hanya selisih satu poin dengan Jongin yang lebih unggul. Dan akhirnya hingga babak kedua itu berakhir kemenangan tetap ditangan Jongin.

“Yyyyaaaahhhhhaaaa aku menang!!!” Pekik Jongin senang.

Sehun menghela nafasnya dan menunduk “Sekarang aku sadar bahwa ada persamaan yang sangat besar dan jelas diantara game dan seorang wanita, mereka sama sama sulit dimengerti dan sulit ditebak.”

Jongin menatap Sehun prihatin, dia menghampiri Sehun dan mengambil stik Playstation yang Sehun genggam, setelah itu dia membopong Sehun untuk berdiri dan berjalan menuju ranjangnya. Jongin membaringkan Sehun diranjang miliknya dan menyelimuti sahabatnya itu.

“Kurasa kau butuh tidur” ucap Jongin.

“Jika tidur bisa menghentikan rasa sakit ini, bisakah aku tidur selamanya?”

“Oh Sehun itu cukup!! Bayangkan sesuatu yang indah maka kau akan bermimpi indah”

“Aku bahkan sudah lupa seperti apa mimpi indah itu, karena mimpi indahku telah meninggalkanku, kemarin…ditengah hujan lebat”

Jongin mengelus wajahnya gusar karena sikap Sehun, dia melangkah untuk keluar dari kamarnya “apa kau ingin lampunya tetap menyala?”

“Menyala atau tidak itu sama saja, karena yang bisa kulihat sekarang ini hanya kegelapan. Sampai cahaya matahariku kembali, barulah saat itu aku bi…”

“KKKKYYYYYAAAIISSSHH bocah ini! Berhenti atau ku banjur kau dengan air keras” potong Jongin dengan suara meninggi dan emosi yang sudah diubun ubun.

….

Kegalauan Sehun terus berlanjut kehari hari berikutnya, bahkan lebih parah saat dia bertemu atau melihat Seo Eun di lingkungan sekolah. Sekarang jam istirahat, seperti biasa Jongin dan Soojung selalu menghabiskan waktu istirahat bersama. Dulu…saat Sehun masih dengan Seo Eun, mereka akan menghabiskan waktu istirahat berempat, tapi sekarang sisa mereka bertiga yang menempati kursi favorit mereka itu.

“Jongin sayang buka mulut mu.. Aaaaaaa” Jongin membuka mulutnya saat Soojung menyuapinya Honey Butter Chips.

“Soojung sayang kau juga.. Aaaaaaa” Soojung tersenyum senang saat Jongin balik menyuapinya.

“Anggap saja aku hidung…yang terletak ditengah tengah sepasang mata yang saling melengkapi.”

Soojung menatap Sehun dengan tatapan jengahnya “apa yang dia maksud ‘mata’ itu kita?” Bisik Soojung pada Jongin, Jongin hanya mengangguk.

“Hey Sehun… Aaaaaaaa” Jongin menyodorkan Honey Butter Chipsnya pada Sehun dan dengan setengah hati Sehun membuka mulutnya.

“Enak?” Tanya Jongin. Sehun mengangguk pelan.

….

Sehun berjalan dikoridor sekolah bersama Jongin disampingnya, mereka baru saja selesai mengembalikan buku ke perpustakaan dan berencana pergi ke kantin untuk makan siang.

“Oh sialan” desis Sehun, Jongin mengernyitkan dahi dan mengikuti arah pandang Sehun, ternyata beberapa meter didepan mereka Seo Eun sedang berjalan dengan dua orang temannya.

“Jongin apa wajahku baik baik saja?” Bisik Sehun.

“Matamu berkaca kaca” Sehun segera menggelengkan kepalanya dan mengedip ngedipkan matanya.

“Bagaimana?” Tanya Sehun lagi yang dijawab anggukan oleh Jongin. Sehun menatap lurus kedepan dengan wajah arogan, tatapannya sangat dingin. Saat berpapasan, baik Sehun maupun Seo Eun tidak ada yang saling melirik, mereka berjalan angkuh tanpa memperdulikan masing masing.

“Dia masih dibelakang kita?” Tanya Sehun, Jongin menoleh kebelakang untuk mengecek keberadaan Seo Eun.

“Dia sudah masuk kelas” bersamaan dengan jawaban itu tubuh Sehun ambruk dan Jongin segera menangkapnya.

“Lihatlah Jongin!!! Dia bahkan tidak melirikku!!!! Seo Eun tidak melirikku!!!” Pekik Sehun sambil memegang bahu Jongin.

“Tahu dari mana kau dia tidak melirikmu? kau saja tidak melirik kearahnya!!” dengus Jongin.

“Aku bisa merasakan saat dia melirikku atau tidak, tapi tadi aku tidak merasakan lirikan itu!!! Hik hik hik Jongin sakit Jongin!!! Aku sakit!!!!” Sehun memeluk sahabatnya itu sambil meremat kemeja seragam Jongin.

“Hey bodoh hentikan!!! Sehun lepaskan aku!” Seru Jongin gusar, bagaimana tidak gusar saat siswa atau siswi yang lewat dihadapan mereka menatap dua pria ini dengan tatapan “eeww” karena posisi pelukan mereka yang sangat romantis, dia menarik narik lengan Sehun yang memeluk lehernya. Sehun bersuara seperti orang menangis tapi Jongin tidak merasakan air mata dibajunya.

“Sehun lepas!!!!! Kembalilah bersamanya jika putus membuatmu tersiksa!!” Dengan mengerahkan seluruh tenaganya akhirnya Jongin bisa melepaskan pelukan Sehun, dan benar saja… Sehun tidak menangis, hanya saja wajahnya mengkerut kerut seperti ekspresi orang menangis.

….

Tepat satu minggu sejak putusnya Sehun dan Seo Eun, dan dalam kurun waktu seminggu itu Sehun benar-benar menjadi orang yang sangat menyebalkan, khususnya bagi Jongin. Setiap hari Sehun murung dan semua ucapannya tiba-tiba saja sangat puitis, pernah suatu hari saat Sehun dan Jongin memergoki seorang balita yang mengompol ditengah jalan dan komentar Sehun adalah “hidup bebas seperti seorang balita, tidak pernah malu untuk melakukan apapun sehingga dia tidak akan menyesal setelahnya. Sedangkan aku, aku hidup dalam rasa malu. Malu untuk mengungkapkan bahwa aku masih menyanyanginya, malu untuk mengungkapkan bahwa aku masih menginginkannya dan bahkan malu untuk sekedar meliriknya sehingga membuatku menyesal hingga hari ini”

Jongin sudah lelah dengan semua ocehan berlebihan Sehun, dia hanya ingin Sehun cepat sembuh dari masa galaunya.

“Kemana bocah itu? Bukankah dia tadi bilang akan menungguku sampai selesai piket?” Gumam Sehun, dia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru sekolah yang mulai sepi. Ponselnya berdering dan dia mendapati nama Jongin disana.

“Kau dimana?” Tanya Sehun langsung ke intinya.

“Apa? Kau seharusnya memberitahuku lebih awal bodoh!” Seru Sehun saat mendengar jawaban Jongin.

“Ya ya ya semoga kencanmu dengan Soojung menyenangkan. Kau tahu? Kau sudah memberikanku harapan palsu” ucap Sehun dan segera memutuskan panggilannya tanpa memikirkan Jongin yang saat ini kembali muntah karena ucapan Sehun.

Sehun melewati koridor yang sudah lumayan sepi, tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti di depan kelas Seo Eun. Bukan tanpa alasan, Sehun melihat Seo Eun yang duduk sendirian dibangkunya saat ini dengan wajah pucat. Wajah pucat Seo Eun membuat Sehun cemas dan akhirnya dia memutuskan untuk memasuki kelas Seo Eun, menghampiri gadis itu.

“Seo Eun kenapa kau tidak pulang?” Seo Eun mendongak dan mendapati Sehun dihadapannya.

“Aku..a a aku.. Aku sedang… Aku sedang menunggu mereka selesai berlatih” jawab Seo Eun sambil mengedikkan dagunya kearah para pemain basket di lapangan sekolah.

“Untuk apa kau kemari?” Sambung Seo Eun, Sehun terdiam mendengar pertanyaan itu, ya.. Untuk apa dia kemari?

“Aku hanya…” Sehun belum sempat menyelesaikan ucapannya tapi Seo Eun terlebih dulu mendesis dengan sedikit terpekik sambil memegangi perutnya.

“Nam Seo Eun kau kenapa?” Sehun menghampiri Seo Eun yang meringis.

“Aaahhh ini sakit!!!”

“Hey hey kau kenapa?” Sehun menghampiri Seo Eun dengan wajah cemasnya.

“Sehun kau tahu pembalut?? Dan obat menstruasi?” Tanya Seo Eun pelan masih dengan ringisan, Sehun menggaruk tengguknya dan mengangguk singkat.

“Sehun tolong aku”

….

“Yang mana….” Gumam Sehun sambil menatap rak penuh dengan berbagai jenis pembalut di minimarket terdekat dari sekolahnya ini.

“Oppa… Kau seorang oppa kan?” Sehun menoleh dan mendapati seorang gadis SMP sedang menatapnya.

“Tentu saja aku oppa” tanggap Sehun dan kembali memfokuskan tatapannya pada pembalut.

“Jika kau seorang oppa kenapa kau membeli pembalut? Apa asetmu terluka dan perlu diperban?” Sehun otomatis menutupi area pribadinya dengan salah satu kotak pembalut yang dia ambil asal dari rak dihadapannya.

“Kkkyyaaiissshh bocah ini, hey kau itu masih kecil, dari mana kau tahu hal hal seperti itu?” Ucap Sehun dengan intonasi tegas.

“Itu merk yang bagus, aku juga memakai pembalut itu. Kau pintar memilih yang terbaik oppa” balas gadis itu tanpa menjawab pertanyaan Sehun, Sehun segera meninggalkan tempat itu dan menuju kasir, berlama lama bersama gadis tadi membuat Sehun merasa seperti hilang keperjakaan, gadis itu sangat frontal.

“Ya tuhan Seo Eun bagaimana bisa kau mengeluarkan darah sebanyak itu??!!” Pekik Sehun heboh saat melihat rok sekolah Seo Eun yang ternodai darah menstruasinya.

“Apa kau baik baik saja? Apa kau merasa akan mati?” Seo Eun menempeleng kepala Sehun membuat Sehun meringis.

“Bagaimana ini? Aku harus pulang tapi rok ku… Aku tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini”

“Seo Eun apa kau benar baik baik saja? Kau tahu Seo Eun, itu sangat banyak!!”

“Sehun berhentilah membahas menstruasiku! Apa kau tidak tahu kalau menstruasi itu mengeluarkan darah?” Pekik Seo Eun sedikit emosi.

“Tentu saja aku tahu, tapi aku tidak tahu kalau darahnya sebanyak itu” mereka berdua terdiam setelahnya. Seo Eun bergerak gelisah karena hari semakin sore dan dia harus pulang sedangkan tim basket belum juga selesai, tidak mungkin Seo Eun melewati pria pria itu dengan keadaan roknya yang seperti ini.

“Begini saja…” Sehun melepas almamaternya dan menghampiri Seo Eun yang berdiri didekat jendela, dia memasang almamaternya mengelilingi pinggang Seo Eun sehingga menutupi area bokong Seo Eun dan mengikat bagian tangannya didepan perut Seo Eun. Seo Eun menatap Sehun dalam diam saat Sehun melakukan itu untuknya, jujur saja perlakuan Sehun itu membuatnya berdebar dan gugup, dia kembali terpesona pada Oh Sehun.

“Bagaimana? Aahhh kenapa aku tidak memikirkannya dari tadi?” Sehun menggumam diakhir kalimatnya.

“Ayo kita pulang” Sehun mengamit jemari Seo Eun dan menariknya keluar kelas, mereka berjalan beriringan di koridor sekolah yang sepi tanpa ditemani pembicaraan apapun. Seo Eun mengeratkan genggaman tangannya saat melewati lapangan basket yang masih dipenuhi oleh tim basket sekolah.

Mereka berdua sampai di halte yang sama seperti saat mereka putus seminggu yang lalu, menunggu bus di halte yang sedang sepi. Benar-benar situasi canggung.

“Terima kasih” Seo Eun membuka suara.

Sehun berdeham sebelum menjawab “itu bukan apa apa”

“Bagaimana kabarmu Sehun?”

“Aku baik baik saja” AKU SAKIT NAM SEO EUN!! HATIKU SAKIT!!. Pekik Sehun dalam hati.

“Benarkah? Baguslah” SIALAN KAU OH SEHUN!! AKU MENDERITA KARENAMU SEMINGGU BELAKANGAN INI TAPI KAU BAIK BAIK SAJA??? . Dan ini pekikan Seo Eun di dalam hatinya.

Hening lagi, keheningan terlalu banyak mengambil alih saat ini, tidak tahukah suasana kedua manusia ini sedang canggung?

“Bagaimana kabar pinku pinku?” Seo Eun tahu itu pertanyaan bodoh, sangat tahu. Tapi dia harus bicara dan menghilangkan suasana canggung itu.

“Dia… Dia masih sama… Dia masih pink” positif, mereka berdua sangat bodoh.

Tidak lama setelah itu bus mereka datang, Sehun dan Seo Eun mendengus malas saat melihat bus yang penuh sesak oleh karyawan kantoran. Mereka memasuki bus lebih dalam dan menemukan satu kursi kosong, mereka saling bertatapan sebelum akhirnya salah satunya menduduki kursi itu.

“Kau akan mengotori almamaterku kalau kau yang duduk, jadi kau berdiri saja”

Rasanya Seo Eun ingin memenggal kepala Sehun saat ini juga, bukankah seharusnya pria ini mengalah?? Seperti di dalam drama drama yang sering dia tonton? Oh ayolah Seo Eun….hidupmu bukan drama, ini dunia nyata dan Sehun bukanlah seorang pria seperti Lee Minho yang rela berdiri demi seorang wanita.

Sampai satu persatu kursi mulai kosong pun Sehun tidak mengijinkan Seo Eun untuk duduk karena alasan almamaternya akan kotor, sebagai gantinya Sehun menggenggam tangan Seo Eun sepanjang perjalanan.

Ingatkan Seo Eun untuk menghajar pria ini besok karena sudah membuat kaki Seo Eun pegal bukan main, dan jika kakinya tiba tiba membesar seperti pemain bola Seo Eun bersumpah akan membuat wajah tampan Sehun menjadi lebih buruk dari zombie paling jelek sekalipun.

Mereka berdua turun dari bus dan harus kembali berjalan untuk sampai ke rumah Seo Eun, bisa kau bayangkan bagaimana pegalnya kaki gadis manis ini?

“Sehun aku pegal”

“Aku tidak mungkin menggendongmu, kau sedang berdarah bisa bisa aku disangka pembunuh”

“Aku tidak memintamu menggendongku, aku hanya ingin duduk sebentar”

“Tidak bisa, ini sudah malam”

“Sehun….” Baiklah Sehun menyerah, Seo Eun merengek sambil menggoyangkan tangannya yang berada didalam genggaman Sehun dan menghentak hentakkan kakinya pelan.

“Baiklah baiklah duduk disana” Sehun mendorong Seo Eun ke arah trotoar.

“Sebentar” Sehun mengeluarkan tiga lembar tisu dari dalam sakunya dan menggelarnya diatas trotoar.

“Duduki tisu itu, jangan menduduki almamaterku”

Seo Eun memutar bola matanya lantas duduk diatas lembaran tisu dan meluruskan kakinya diikuti Sehun yang juga duduk disampingnya. Hening beberapa saat, mereka menyelami pikiran masing-masing ditemani hembusan angin malam.

“Maaf” Seo Eun memecah keheningan.

“Tidak masalah, kau tidak mengotori almamaterku”

“Bukan almamatermu…”

Sehun menoleh kearah Seo Eun dengan alis terangkat “lalu?”

“Seminggu yang lalu, di halte bus….aku minta maaf karena egois saat itu”

Sehun terdiam, dia bingung harus menjawab apa karena dia merasa memang Seo Eun egois saat itu, dia tidak menyadari bahwa yang egois disini sebenarnya adalah dirinya sendiri. Seo Eun melirik Sehun saat pria itu tidak menanggapinya.

“Sehun?”

“Tidak apa apa, aku memaafkanmu” setelah kalimat itu terucap hening kembali mendominasi.

Seo Eun menghela nafasnya, malam hening dan dingin benar-benar mendukung suasana hatinya saat ini yang sedang tidak karuan.

“Aku tidak bisa berbohong lagi…” Bisik Seo Eun dengan suara lirihnya, Sehun tahu pembicaraan ini kearah mana.

“Aku tidak bisa berpura-pura lagi saat kit…”

“Aku juga, putus denganmu bukan suatu hal yang baik untukku.” potong Sehun, Seo Eun menoleh dan menatap Sehun.

“Itu bahkan lebih sulit dari trigonometri….asal kau tahu aku banyak menangis setelah hari itu, hari saat kita putus” baiklah si bodoh Sehun bersikap seperti idiot, untuk apa kau mengumbarnya idiot???!!! .Batin Sehun.

Seo Eun tersenyum tipis dengan jantung yang mulai berdebar “aku bahkan hilang nafsu makan selama tiga hari”

Mereka berdua terkekeh pelan, menertawai kebodohan masing-masing.

“Jadi…seminggu ini apa kau dekat dengan pria lain?” Tanya Sehun, Seo Eun mengernyitkan dahinya dan menggeleng pelan.

“Tidak, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan pergi ke salon dan kegiatan penghilang stress lainnya. Kau? Apa kau dekat dengan gadis lain seminggu ini?”

“Bagaimana aku bisa dekat dengan gadis lain saat waktu seminggu itu aku habiskan untuk terpuruk dalam penyesalan”

Oh Sehun kau memang pandai mengambil hati para gadis remaja seperti Seo Eun.

“Aaahhhhh!!! Aku dekat dengan seorang gadis, ya…pinku pinku!! Dia menenemaniku menangis seminggu kemarin”

“Jadi pinku pinku itu seorang gadis?” Tanya Seo Eun dengan sedikit mendengus malas.

“Tentu saja…Tidak mungkin aku memberi jenis kelamin pria pada pinku pinku sedangkan aku sering menciumnya, memeluknya, mencintainya, menyayanginya, ingin selalu menjaganya, ingin selalu disampingnya. Aku tidak homo”

Seo Eun mencibir mendengar ocehan Sehun “lalu gadis seperti apa pinku pinku itu?”

“Sepertimu”

Yah itu cukup mengejutkan Seo Eun.

“Oleh karena itu aku selalu ingin menciummu, memelukmu, mencintaimu, menyayangimu, ingin selalu menjagamu, ingin selalu disampingmu”

Baiklah sekarang Seo Eun mulai berdebar.

“Karena kau adalah pinku pinku, pinku pinku yang aku sayang, dalam wujud asli. Karena aku selalu merindukanmu jadi aku membeli rilakkuma itu dan menjadikannya replika dirimu yang bisa aku peluk saat aku tidur. Menamainya pinku pinku, sama seperti nama kontakmu diponselku”

Tidak Seo Eun tidak begitu gugup, jantungnya baik-baik saja iya kan?? Baiklah jantung….tenang. Tapi JANTUNGNYA TIDAK BISA TENANG SEKARANG INI.

Sehun menarik dagu Seo Eun dan menghadapkan wajah gadis itu kewajahnya “itulah alasan kenapa aku sangat menyayangi pinku pinku, karena pinku pinku itu adalah kau. Wujud lain dirimu yang bisa aku peluk saat aku tidur. Jadi jangan pernah cemburu lagi pada dirimu sendiri.”

“Kurasa kita sudah kembali kan?” Tanya Sehun dengan senyuman manis dibibirnya. Seo Eun hanya mengangguk sebagai jawaban, dia tidak mampu berkata-kata.

“Bagus” gumam Sehun dan setelahnya dia mendaratkan sebuah kecupan dibibir Seo Eun. Oooouuhhh Sehun sangat merindukan bibir manis gadis ini, seminggu tidak merasakan bibir itu di bibirnya benar-benar membuat Sehun frustasi, dan saat mereka bersentuhan kembali Sehun rasanya ingin sekali melakukan ciuman yang lebih dari ini tapi dia masih sadar kalau sekarang ini tempatnya sangat tidak memungkinkan ditambah lagi mereka masih berpakaian seragam lengkap. Sehun melepaskan kecupannya dan beralih mencium kening Seo Eun lembut, setelahnya dia tersenyum sangat tampan sambil mengelus puncak kepala Seo Eun.

“Kita pulang sekarang?”

Seo Eun mengangguk cepat saat mendengar ucapan Sehun. Dia bangkit berdiri dan mengambil lembaran tisu yang terkena sedikit noda darah lalu membuangnya ketempat sampah. Sehun merangkul pundak Seo Eun dan mereka berdua mulai berjalan beriringan menuju rumah Seo Eun.

“Ada bagusnya Jongin meninggalkanku hari ini”

“Ya…ada bagusnya juga aku menstruasi hari ini”

“Hey Sehun apa kau benar menamaiku pinku pinku di ponselmu?” Tanya Seo Eun seraya mendongak menatap Sehun yang lebih tinggi darinya.

“Ya…kau mau lihat?” Sehun mengeluarkan ponselnya dan menunjukan nama kontak Seo Eun.

~My Pinku Pinku ;* ~

Dengan foto Seo Eun yang sedang mencium pipi Sehun sebagai foto kontak. Uugghh ini berlebihan, bahkan menurut Seo Eun sendiri, lihatlah emot kecupnya, menggelikan. Mereka seperti remaja labil. Well…mereka memang remaja labil sebenarnya.

“Itu sedikit…”

“Cheesy?” Potong Sehun dengan Senyum anehnya “ya aku tahu…tapi aku suka”

Sehun mengecup pipi Seo Eun dan mengeratkan rangkulannya dipundak Seo Eun.

Sehun sialan!! Dia selalu menyerangku tiba-tiba!! Apa dia tidak memikirkan jantungku??!!. Pekik Seo Eun dalam hati.

Sehun memang sialan, bagaiman bisa dia memikirkan jantung Seo Eun sementara jantungnya sendiri sedang dalam keadaan darurat. Debaran itu masih sama seperti saat mereka pertama bertemu. Masih sangat kuat dan bergemuruh. Meyakinkan mereka berdua kalau mereka masih tetap saling mencintai. Atau akan selalu saling mencintai.

-end-

Bhaaaqq cheesy banget njjirr >.< Suka kenapa ini ff -__-

Iklan

6 thoughts on “[EXOFFI FACEBOOK] When Sehun Broken Heart

  1. Gila,, klo aku jdi jongin bakal ku celupin sehun dirawa2 seriusan,, setiap ucapan jongin disahut puitis ala patah hati seorang oh sehun wkwk

  2. Anjirrrr sehun mendadak alay:3 sudahlah hun ngapain pacaran kalo bisa sekalian nikah *eh/
    Kan enak nanti ciuman dimanapun aman *eh
    Ah sudahlah pikiran ini sedang ‘liar’ seliar anu sehun *eh
    :3

  3. Ommooo keren sekali..
    Lucu klok liat sehun
    ngomong puitis kyakk gtu,
    ahhh anak SMA memang seperti itu.
    Tpi yg lebih lucu nya lagi klok sehun beneran belik pembalut wanita hahah

  4. ahh ini keren !! aku ktawa ngakak pas sehun ngomong puitis bner2 gk kebayang bneran sehun lgi patah hati ngomongnya gitu, mereka pasangan labil

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s