[EXOFFI FACEBOOK] From Me To You

images

 

From Me To You

Author: Devy Byun|Genre: Friendship, little bit mellow|Ratting: G|Main cast: Park Chan Yeol, Shin Chae Rin (OC)

Setelah pengakuanku ini, ayo perbaiki segalanya. Marimulai semuanya dari awal. Namaku Chae Rin. Kamu?

Senyum Chae Rin tak henti terukir di wajah manisnya. Untuk saat ini, baginya, tak ada hal yang lebih indah selain bertukar pesan singkat dengan sahabatnya sendiri. Hatinya akan membengkak menjadi ukuran raksasa ketika candaan menghiasi pesan mereka. Selalu ada senyum saat membaca sederet kalimat singkat yang terpatri di layar ponselnya.

Bagi Chae Rin, bahagia itu sederhana. Cukup Chan Yeol selalu tinggal di sisinya—walau hanya sebagai teman, Chae Rin sudah terlampau senang.

Memeluk ponselnya dengan perasaan penuh dengan bunga sembari menatap langit-langit kamarnya. Memang bagi siapa saja yang melihatnya, tidak ada yang menarik di sana—di langit-langit kamarnya, tapi lain lagi bagi gadis itu. Di sana, ia bisa melihat wajah Chan Yeol tengah tersenyum manis. Melihat wajah tampan sahabatnya. Sahabat yang entah kapan mulai ia cintai, bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang pemuda yang memiliki sejuta pesona.

Aktivitas bertukar pesannya dengan Chan Yeol sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Itulah di menit-menit selanjutnya ia habiskan dengan memikirkan arah perasaannya pada Chan Yeol. Kembali mencari keyakinan dalam hatinya. Dan, setelah ia menemukan apa yang ia cari, Chae Rin memutuskan langkah apa yang akan ia tempuh selanjutnya. Langkah apa yang harus ia perbuat pada perasaanya. Perasaan tak wajar yang belakangan ini kerap kali membuatnya gunda.

“Aku akan membuat pengakuan. Hemm…, bagaimana jika di penghujung akhir tahun ini saja? Di malam pergantian tahun. Ya, kurasa itu waktu yang tepat,” tak ada objek khusus yang menjadi teman bicaranya, tapi sejurus kemudian ia tersenyum lebar.

Sesaat setelahnya, ia kembali dilanda keheningan. Chae Rin sedikit memiringkan tubuhnya, meletakkan ponselnya di dekat bantal, lalu beralih memeluk guling dengan erat, sangat erat. Gadis itu kemudian memejamkan matanya. Lalu, kilat saat ia disoraki oleh beberapa temannya, bahwa ia memang mencintai Chan Yeol bukan sebagai teman kembali terlintas di kepalanya.

Lalu selanjutnya, kaset di otaknya kembali memutar rekaman ketika ia mengaku dengan senyum lebar pada Hae Soo. Mengaku bahwa, di akhir Desember 2014, ia mendapati dirinya telah jatuh cinta pada sabahatnya—Chan Yeol.

“Hyaaa, Hae Soo-ya, kau tahu?” Chae Rin memulai ceritanya. Cerita yang akan menjadi sangat panjang dan akan ia ulangi hingga beberapa kali. Karena, menceritakan segela hal yang menyangkut Chan Yeol terlampau mengasikkan baginya. Hingga ia tak peduli, sahabatnya itu akan merasa bosan atau tidak. Yang ia peduli adalah…, getaran aneh di hatinya, hanya itu.

“Tentu saja tidak,” Hae Soo masih sibuk berkutat dengan ponselnya. Mungkin sedang berselancar di dunia maya. Tapi, jawaban singkat dan sedikit tak acuh dari Hae Soo sama sekali tidak menurunkan semangat Chae Rin untuk melanjutkan ceritanya.

“Saat aku sedang menonton pertandingan basket antar kelas di sekolahku, aku sama sekali tidak memperhatikan permanian mereka. Aku justru memperhatikan seseorang di seberang lapangan sana yang sedang sibuk dengan permainan takraunya. Teman kelasku, Baek Hyun.”

Hae Soo menatap Chae Rin yang kini tersenyum lebar ke arahnya.

“Lalu?” selalu respon pendek yang Chae Rin peroleh. Tapi tak apa. Gadis itu malah tersenyum semakin lebar.

“Lalu…, saat aku menolehkan kepalaku mencari kebedaan Eun Ra di lapangan futsal, aku menemukan punggung seseorang. Kau tahu sendiri, kan? Lapangan di sekolahku hanya di batasi oleh kawat-kawat yang didesain sedemikian rupa? Jadi, aku dengan bebas bisa mengamati pertandingan di tiga lapangan itu sekaligus,” Chae Rin menerawang, menatap lurus jauh ke depan, seolah berusaha mendapatkan gambaran yang tepat mengenai kondisi lapangan sekolahnya.

Hae Soo mengangguk mengerti. Ia tidak berkomentar, ia hanya menunggu Chae Rin kembali membuka mulut dan melanjutkan ceritanya.

“Dan aku tidak tahu. Sebelum aku menemukan punggung itu, aku sangat menikmati permainan menawan Baek Hyun. Tapi…, setelah siluet punggung itu tertangkap oleh manik mataku, mataku seakan hanya ingin menatap punggung itu. Pemiliki punggung itu adalah Chan Yeol, Hae Soo-ya…”

“… Hae Soo-ya, menurutmu…, apa aku mengaku saja? Sebelum aku mengosongkan hatiku dari semua nama pemuda yang kukenal, aku pernah menyukai seseorang. Tapi, sayang sekali, aku tidak punya keberanian mengungkapkannya. Hingga cintaku itu mati dengan sia-sia. Dan, dalam kasus kali ini, aku tidak ingin cintaku kembali mati sia-sia. Ya, kau benar, Hae Soo-ya. Sepertinya aku memang mencintai Chan Yeol. Apa aku mengaku saja? Atau…, menunggu musim gugur menghampiri perasaanku, kembali membiarkan cinta ini mati?” tak ada yang bersuara di detik selanjutnya.

Lalu Hae Soo tiba-tiba berteriak kegirangan, menyisakan Chae Rin yang menatapnya dengan bingung. Awalnya, Chae Rin mengira bahwa Hae Soo baru saja mendapat kabar menggembirakan mengenai idolanya. Tapi ternyata tidak. Dugaannya salah. “Ahahaha, akhirnya kau mengaku juga. Hhaa…, kenapa rasanya senang sekali mendengarmu mengakui bahwa kau jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada Chan Yeol, sahabatmu sendiri. Sudah kuduga sebelumnya.”

Chae Rin mengangguk ringan sembari tersenyum, “Ya, tebakanmu selalu benar.”

“Mengaku saja! Katakan padanya, bahwa kau tidak membutuhkan balasan. Kau hanya ingin ia tahu bahwa kau mencintainya. Bukankah memang kau sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk tidak pacaran dulu?”

“Benar. Aku bahkan berjanji untuk tidak menyukai pemuda mana pun saat ini. Tapi aku melanggar janjiku. Lucunya lagi, aku menyukai seseorang yang sebelumnya kuminta untuk membantuku menjaga hati. Ini konyol, Hae Soo-ya. Sangat konyol…,” Chae Rin tersenyum kecut sekarang. Mendapati dirinya mencintai sahabatnya sendiri membuatnya tak tahu harus melakukan apa.

“Kurasa, kau harus mengaku. Jangan menyimpannya sendiri. Cukup cintamu yang dulu-dulu mati tanpa usaha,” tepukan ringan mendarat di bahu Chae Rin. Hae Soo baru saja memberi semangat kecil pada temannya.

“Bagaimana jika ia menjauhiku setelahnya? Aku…, benar-benar tidak ingin kehilangan dirinya. Sekali pun hanya sebagai teman, aku tidak ingin kehilangan teman sepertinya. Lagi pula, jauh sebelum ia mengenalku, ia telah jatuh cinta. Menetapkan hatinya untuk seorang gadis.”

“Setidaknya, jika dilihat dari matamu, kau butuh. Benar-benar butuh ia tahu mengenai perasaanmu…”

***

Liburan tahun baru Chae Rin habiskan dengan berdiam diri di rumah. Malam minggu kemarin, ia sempat bertukar pesan dengan Chan Yeol. Dan, ia benar-benar menggunakan kesempatan itu untuk mengikat Chan Yeol. Membuat Chan Yeol berjanji untuk selalu menjadi temannya, apa pun yang terjadi.

Di malam itu pula Chae Rin mengungkapkan bagian kecil dari perasaannya. Mengatakan pada Chan Yeol bahwa ia sangat senang bisa berteman dengan pemuda itu. Dan ketika pesannya yang berisikan sebuah kalimat tulus dari hatinya terkirim pada Chan Yeol, hati Chae Rin menjerit. Ia tersenyum bersamaan dengan air mata yang mendesak keluar dari pelupuk matanya.

“Aku senang memiliki teman sepertimu.” Seperti itulah isi pesan Chae Rin. Lalu gadis itu melanjutkan kalimat berikutnya dalam hati, “…Lebih senang lagi jika seandainya kita bisa lebih dari teman.”

Pesan itu masih membekas di ingatan Chae Rin. Layaknya sebuah ukiran di atas batu, sulit untuk hilang.

***

Hari-hari berikutnya, di tengah-tengah liburannya yang sedikit membosankan, Chae Rin tidak lagi menyibukkan diri dengan memikirkan perasaannya pada Chan Yeol. Ia mengesampingkan rasa sakitnya sejenak. Membiarkan hatinya merana. Karena mulai hari ini dan hari berikutnya, Chae Rin akan menghabiskan waktunya untuk menyusun sebuah buku.

Dan, hari inilah awalnya.

Setelah selesai dengan ritual mandinya, ia kemudian duduk bersila di depan laptopnya. Dengan cekatan jari-jari mungkilnya menari di atas keyboard. Kata demi kata terangkai menjadi sebuah kalimat. Kalimat yang semakin banyak membentuk beberapa paragraf.

Nantinya, buku itu akan Chae Rin berikan pada Chan Yeol. Buku yang berisikan semua tumpahan asanya. Segala rasa sakit yang ia dapat sebagai balasan dari mencintai sahabatnya sendiri.

Awalnya memang hanya setitik. Tapi, sekecil apa pun titik itu, jika terus dibiarkan menumpuk, maka akan menjadi sebuah lubang besar suatu saat nanti. Namun…, sungguh, Chae Rin sama sekali tidak keberatan saat air matanya jatuh karena perasaannya yang semakin dalam.

Chae Rin benar-benar merutuki takdir cintanya. Belum lagi, musim gugur seakan enggan mengampiri perasaannya. Membiarkan perasaan itu terus mekar dan bersemi di tengah musim semi yang panjang.

***

Sekarang sudah tahun 2015. Masuk sekolah dengan perasaan berbeda membuat Chae Rin sering tersenyum diam-diam—diam-diam mengulas senyum kecut. Senyum lambang kesedihan, rasa sakit, perih, dan terluka. Sebuah senyum yang menyayat hati.

Chae Ri benar-benar harus diberi penghargaan sebagai artis terbaik sepanjang masa. Karena, ketika ia tak sengaja berpapasan dengan Chan Yeol, gadis itu tersenyum amat manis. Menunjukkan wajah yang luar biasa bahagia. Seolah ia melalui libur tahun barunya dengan tersenyum tanpa henti. Kenyataannya, libur tahun barunya ia habiskan untuk menyusun sebuah pengakuan yang membuatnya sering kali menangis dalam diam. Dengan perasaan teriris menyusun sebuah buku untuk Chan Yeol.

“Hai?” Chae Rin cukup senang saat Chan Yeol menyapanya terlebih dulu. Tak seperti di tahun sebelumnya.

“Euumm, hai. Apa kabar, Chan Yeol-ah?” pembuka percakapan yang membosankan dan monoton. Tapi, berbicara seperti ini bersama Chan Yeol saat berada di sekolah adalah momen yang langkah.

Chan Yeol tersenyum manis, “Baik. Bagaimana denganmu?”

“Apa tidak terlihat dari wajahku? Aku baik-baik saja, Chan Yeol-ah. Senang betemu denganmu lagi.”

“Syukurlah.” Chan Yeol berdehem kecil, lalu kembali berujar, “Ah, kenapa jadi canggung seperti ini?”

Chae Rin tersenyum riang, bertepuk tangan kecil lalu menengadahkan tangannya ke arah Chan Yeol. Membuat pemuda itu memandangnya dengan alis yang saling bertaut.

Senyumnya belum hilang ketika ia berujar semangat, “Ice cream! Aku mau ice cream, Chan Yeol-ah…, hum? Hum? Belikan untukku…” Chae Rin menunjukkan puppy eyes andalannya.

“Kau ini,” sebenarnya Chan Yeol benar-benar gemas ingin mencubit pipi sahabatnya itu. Hanya saja, ia tak ingin orang yang melihat mereka jadi berpikiran negatif.

“Ayolahh…, aku bahkan memintanya sejak tahun 2014, dan sekarang sudah tahun 2015. Terhitung satu tahun aku meminta ice cream padamu.”

“Jangan berlebihan, Chae Rin-ah. Belum genap satu tahun, okay?”

“Ck! Tapi tetap sajaCha—”

Chan Yeol tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu, benar-benar kekanakan. Sangat gemas dengan Chae Rin sampai-sampai Chan Yeol tak memberikan kesempatan bagi Chae Rin untuk menyelesaikan kalimatnya. “Baiklah, ayo…” dan mereka berjalan menuju kantin dengan Chan Yeol yang menggenggam tangan Chae Rin.

Tatapan Chae Rin tidak lepas dari sisi wajah Chan Yeol. Terus menatap pemuda di sampingnya dengan senyum lembut. Ia kemudian menurunkan pandangannya ke arah tangannya yang sedang digenggam oleh Chan Yeol.Chan Yeol-ah, jika kau tahu mengenai perasaanku, apa kau akan tetap bersikap seperti ini padaku?

Gadis itu tak tahu jika jarak kantin yang terletak di lantai dasar dan kelas mereka yang berada di lantai dua ternyata sedekat ini. Rasanya, ia masih ingin merasakan genggaman hangat dari sahabatnya. Sekali lagi, Chae Rin kembali tersenyum getir.

“Tunggu di sini, biar aku yang masuk. Di dalam banyak orang. Jangan ke mana-mana, okay?” kemudian pemuda itu berlalu, masuk ke dalam kantin dan bergabung dengan orang-orang yang mengisi ruangan yang relatif sempit itu.

Tidak, Chan Yeol-ah. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Selama itu kau yang memintaku, maka aku akan tetap menunggu di sini, walau tanpa jangka waktu yang pasti, akan tetap menunggumu, di sini, di tempat yang kau maksud—di mana pun itu…

.
.

Beberapa menit lalu cupice cream itu sudah kosong. Tapi tak ada yang membuka suara di antara keduanya. Mereka sama-sama memilih diam. Seolah salju membekukan keduanya.

Setelah sejak tadi menatap lurus ke depan seolah tengah menenggelamkan dirinya pada dimensi yang berbeda, kini Chae Rin menatap lamat sisi wajah Chan Yeol. Saat ini mereka berdiri di koridor depan kelas Chan Yeol, menumpukan tangan mereka di dinding pembatas koridor  setinggi perut di hadapan keduanya. Detik selanjutnya, Chan Yeol membalas tatapan Chae Rin.

Dan mereka saling memandang dalam diam untuk beberapa saat. Membiarkan orang-orang yang berada di sekitar mereka bersorak mengejek—untuk sekarang, keduanya tidak peduli dengan ejekan itu. Jika sebelum-sebelumnya mereka akan langsung saling menjauh, kali ini mereka tetap diam tanpa memutuskan kontak mata sedikit pun. Seakan mereka sengaja menulikan indera pendengarannya.

Chae Rin tersenyum lembut, “Aku punya sesuatu untukmu.”

“Apa?”

Chan Yeol masih terus menatap Chae Rin. Hingga gadis itu kembali bersuara, “Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana,” kemudian Chae Rin berlari kecil masuk ke dalam kelasnya.

Kelas mereka berdampingan, jadi Chae Rin tidak butuh waktu terlalu banyak untuk kembali di hadapan Chan Yeol dengan sebuah benda persegi panjang berukuran kecil—seperti novel- yang dibungkus dengan kertas kado.

“Ini. Bacalah ketika kau benar-benar sendiri.”

“Apa ini?”

“Sebuah buku. Itu…, pokoknya baca saat kau sendiri, mengerti?”

“Chae Rin-ah…”

“Hmm?”

“Tidak. Tidak jadi. Ohya, kau tidak pulang?”

“Sebenarnya ingin pulang sedari tadi. Tapi karena bertemu denganmu, aku jadi ingin makan ice cream. Dan aku tidak menyangka menghabiskan satu cup ice cream benar-benar memakan waktu sebanyak ini jika bersamamu, hahaha…”

***

Sudah satu minggu setelah buku itu sampai ke tangan Chan Yeol, dan Chae Rin terus menghindari pemuda itu. Sebisa mungkin ia tidak bertemu dengan Chan Yeol di sekolah, sebisa mungkin ia menahan keinginan untuk membalas atau memulai perkacapan melalui pesan singkat dengan Chan Yeol.

Ia sudah berjanji untuk meredakan gejolak yang bersemayam di hatinya. Itulah sebabnya ia ingin berhenti sejenak. Karena langkahnya hanya menoreh luka.

Sementara Chan Yeol, ia tak tahu harus melakukan apa. Setelah mengetahui perasaan Chae Rin ia benar-benar gunda. Tidak bisa tidur dengan nyenyak di setiap tidurnya. Ia merasa…, bersalah. Walau tanpa alasan yang jelas, entah mengapa ia merasa telah menyakiti perasaan sahabatnya selama ini.

Ketika ia terus mencoba untuk memperbaiki keadaan, Chae Rin justru terang-terangan menghindari dirinya. Lalu Chan Yeol bisa apa sekarang?

Banyak yang ia kutip dari isi buku yang bertajuk ‘From Me To You’ itu. Buku di mana Chae Rin mengibaratkan dirinya sebagai Tinkerbell, dan ia adalah Peter Pan. Gambaran perasaan gadis itu.

“Karena aku tidak ingin merusak hubungan pertemanan kami, maka biarlah aku sakit, merintih seorang diri di sudut malam yang dingin…”

Kata-kata itu… Apakah gadis itu—sahabatnya telah benar-benar jatuh cinta padanya. Dilihat dari caranya menuangkan perasaan di atas kalimat itu, ia benar-benar terluka akibat perasaanya sendiri. Memikirkan itu membuat Chan Yeol tidak tenang.

“Oksigen, vitamin, energi. Kurasa itu sudah cukup menggambarkan betapa ia sangat berharga untukku. Bagiku…, ia semangatku, inspirasiku, mimpiku…”

Dan Chan Yeol tidak pernah menyangka jika gadis itu sangat menghargainya. Sangat bergantung padanya, dan sangat…, mencintainya. Chan Yeol tidak pernah tahu, tidak pernah menyadarinya.

“Andai mengutarakan perasaan semudah menuangkan air ke dalam sebuah gelas…”

Kalimat itu… Hanya satu kalimat, tapi entah mengapa seperti ada palu besar yang menghantam hatinya. Tiba-tiba saja…, ia juga ikut terluka karena kehadiran cinta di hati sahabatnya itu—cinta untuknya.

“Sekali pun sayapmu telah menyatu dan mengepak merdu bersamanya…, bisakah aku menitipkan satu sayapku padamu? Untuk saat ini, aku ingin melihatmu menggenggam selebah sayapku. Bisakah?”

Hati Chan Yeol mencelos mengingat kalimat itu. Maafkan aku, Chae Rin-ah. Maafkan aku…

“Peter Pan, bantu Tinkerbell menghapus perasaannya padamu. Layaknya air yang mencapai suhu 100° C, bantu Tinker menyusutkan suhu air itu hingga sampai pada 0° C. Sama seperti kali pertama kalian mulai berteman…”

Chan Yeol tidak bisa menjanjikan hal itu. Karena sekali pun ia sangat ingin, pemuda itu tak tahu bagaimana cara untuk melakukannya.

Yang lebih membuatnya ingin mencaci maki dirinya sendiri adalah…, beberapa kalimat yang tertulis apik di bagian belakang sampul buku itu. Chan Yeol tak tahu bagaimana bisa Chae Rin menemukan kata-kata seperti itu. Kata-kata sederhana yang membuat hati Chan Yeol berkedut pilu.

“Setelah pengakuanku ini, ayo perbaiki segalanya. Mari mulai semuanya dari awal. Namaku Chae Rin. Kamu?”

Kalimat serupa juga Chan Yeol temukan pada surat yang Chae Rin tulis untuknya. Surat yang terselip di pertengahan buku itu. Tapi, di surat itu, ada lagi yang membuat Chan Yeol tersenyum kecut. Kalimat sederhana itu…

“Ayo sambut uluran tanganku. Mari perbaharui janji pertemanan kita. Mana kelingkingmu? Nah, sekarang kita berteman. Nama yang bagus, senang berkenalan denganmu, Chan Yeol-ah…^^”

***

Chae Rin menggeser tubuhnya ke sebelah kiri, namun, seseorang di hadapannya ikut melakukan hal yang sama. Ketika ia bergeser ke sebelah kanan, orang itu juga melakukan hal yang sama. Seperti itu seterusnya. Hingga Chae Rin mendongak, menatap tepat di mata sosok pemuda yang ada di hadapannya.

“Kau menghalangi jalanku, menyingkirlah…,” tidak. Chae Rin yang kini ada di hadapannya bukan Chae Rin-nya.

“Namaku Chan Yeol.” Terdiam beberapa saat hingga Chan Yeol kembali melanjutkan perkatannya,“Ayo sambut uluran tanganku. Mari perbaharui janji pertemanan kita!” Chae Rin terpaku ketika tangan hangat Chan Yeol meraih tangannya. Membuat tangan mereka kini saling berjabat.

Ada kehampaan di hati Chae Rin saat Chan Yeol melepaskan jabat tangan mereka. Chan Yeol tersenyum lebar, menatap wajah Chae Rin yang membeku—seakan gadis itu baru saja dibekukan oleh salju. Pemuda itu kemudian mengacungkan kelingkingnya tepat di depan wajah Chae Rin. “Mana kelingkingmu?”

“Chan Yeol-ah…,” Chae Rin tentu tidak lupa dengan setiap kalimat yang ia tulis dan serahkan pada pemuda itu.

Air mata Chae Rin sudah menggenang sempurna. Terjatuh begitu saja ketika sekali lagi Chan Yeol dengan tiba-tiba menarik sebelah tangannya—mengepalkan sebelah tangan Chae Rin, menyisahkan jari kelingking. Detik berikutnya, Chan Yeol menautkan jari kelingking mereka. Tersenyum hangat dan berkata, “Namamu juga bagus, senang berkenalan denganmu, Chae Rin-ah…”

END

Kyaaaa, aku nangis pas ending -_-/apa dehh/ karena sebagian dari cerita ini adalah kisah nyata, kisah aku. Dan selebihnya, itu adalah gambaran imajinasi aku tentang bagaimana reaksi teman aku saat tau kalau aku suka sama dia. Mengenai buku yang judulnya sama dengan ff ini, itu akan benar-benar ada nantinya. Karena aku sedang menyusun buku itu sekarang. /hhaaa, nyesekk -_-/ Kata-kata yang Chan Yeol kutip dari buku itu juga nyata, itu benar-benar aku ambil dari buku yang nantinya bakal aku kasi ke teman aku.
Nah, karena ini udah kepanjangan. Aku cuma mau bilang terima kasih buat kalian yang udah mampir dan baca ff ini, jangan lupa tinggalkan jejak.

 

Iklan

2 thoughts on “[EXOFFI FACEBOOK] From Me To You

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s