[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy #5 [The Trap]

333

Superplayboy

#5 [The Trap]

Dinopeach

Kim Jongin. Oh Sehun. Lilian Kang. Kim Hyein.

Romance

Teen

Chapter

Selamat menikmati, dan hargai karya penulis ya.

Fanfic ini juga pernah dipublish di sini bersama fanfic-fanfic saya yang lain.

.

.

.

.

Jongin berjalan perlahan menyusuri koridor, dengan Hyein di sampingnya tentumya. Kakak beradik ini berjalan beriringan dengan mata yang mengitari tiap tempat yang di lewati. Beharap menemukan benda persegi panjang kecil dengan tulisan KIM HYE IN di atasnya, tagname. Hyein mengeluh pada Jongin kalau tagnamenya hilang dan ingin ditemani mencari, sekaligus membantu.

“Aku rasa kita tidak akan menemukannya di sini” Jongin mengisi keheningan.

“Kau benar” Hyein menyahut.

“Dasar gadis ceroboh”

“Sudah kubilang! Aku tidak sengaja!” Hyein memalingkan wajahnya dari tatapan geram Jongin, wajahnya ssendiri pun tak kalah geram. Kaki jenjangnya melangkah menuju ujung kornidor, meninggalkan Jongin yang masih mematung memandang adiknya yang semakin menjauh sebelum seorang laki-laki paruh banya menapuk pundak Jongin.

“Ah, Lee-saem, ada perlu apa? ”

“Panggil adikmu”

“Dia baru saja pergi” tangan Jongin menunjuk punggung kecil yang semakin mengecil di ujung koridor.

“Lain kali katakan padanya untuk menemuiku di kantor, ada yang ingin ku sampaikan” lelaki itu kembali menepuk pundak Jongin lalu berjalan menuju arah sebaliknya dari arah Hyein pergi. Kembali meninggalkan Jongin berfikir panjang tentang apa yang terjadi pada Hyein sehingga Lee-saem  yang notabennya guru konseling memanggilnya ke kantor.

~

Kim Jongin berjalan samtai menuju kelas Hyein. Ia sendiri, lepas dari Oh Sehun yang tumben tak ingin mengikutinya. Laki-laki pucat itu bilang ia tak mau lagi berdebat dengan Hyein saat bertemu nanti. Tapi yang Jongin anehkan, jarang sekali Oh Sehun akan berbicara setengah gagap seperti tadi. Entahlah, Jongin tak ingin mengungkit masalah itu lebih dalam. Yang penting sekarang ia harus menemui Kim Hyein dan menyampaikan pesan Lee-saem yang meminta gadis itu untuk menemuinya. Jongin harus tahu alasannya.

Langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu kayu hitam kecoklatan yang terbuka lebar. Suara riuh yang terdengar dari luar membuat Jongin yakin kalau kelas yang ada di hadapannya ini sedang jauh dari jangkauan pelajaran. Jamkos.

Tak ingin berlama-lama, dilangkahkan kakinya menuju tempat Hyein duduk-yang tentunya ia sudah hafal tempatnya- dan seorang gadis di samping adiknya.  Mereka berdua berbincang sebentar sebelum Hyein menghentikan dan melambai tangan pada Jongin. Lelaki itu menurut mendekat.

Ada apa ini?

Jongin memegangi dadanya ketika ia benar-benar sampai di tempat di mana Hyein dan Lilian duduk. tiba-tiba desiran halus pada aliran darahnya muncul ketika Lilian memberi salam dan senyuman kecil padanya.

“Oh, Lilian!” Hyein menyela ketika Jongin baru saja akan membuka mulut. Lilian menoleh pada Hyein setelah wajahnya menunduk dari tatapan intens Jongin yang terus mengawasinya saat ia melangkahkan kakinya masuk.

“Ah, ya?”

“Biar ku kenalkan,” Hyein berdiri, menarik lengan Jongin agar merapat padanya. Menghadapkan lelaki hitam itu pada Lilian yang bertingkah kikuk. Gadis cantik itu mengumpat dalam hati. Hentikan Lilian Kang! Bukankah ia terlalu tampan!? Kenapa kau terjerat?! Sama halnya Jongin yang terus menghujani adiknya dengan kutukan-kutukan tajam namun hanya dalam hati saja. Namun ia bersumpah akan benar-benar mengutuknya jika sampai di rumah nanti.

“Kim Jongin, kakakku” Hyein tersenyum simpul pada Lilian, diikuti Jongin yang tersenyum, tapi kikuk. Apa sekarang ia salah tingkah? Sama halnya Lilian, gadis itu tersenyum alakadarnya, memasang wajah setenang mungkin. Menyembunyikan fakta kalau hatinya benar-benar meronta.

Melihat reaksi Jongin yang hanya diam, Hyein perlahan menyenggol lengan kakaknya. Sekali senggolan tak berarti, kedua berefek sama. Untuk terakhir kalinya, ia mencubit ganas pinggangnya. Membuat Jongin dengan keras menahan pekikannya. Ditatapnya Hyein dengan tatapan sebilah pedang tajam, namun gadis itu malah memasang wajah datar dan mendekatkan wajahnya pada belakang kepala Jongin.

“Jabat tangannya, kau lupa caranya jadi playboy ya?” bisik gadis itu pelan, lalu kembali mengarahkan wajahnya menghadap Lilian yang masih tersenyum kikuk. Jongin mendesis pelan.

“Kim Jongin” lelaki itu tak terima dihina adiknya sendiri, diulurkannya tangan kanannya pada Lilian dengan senyuman miring tentunya. Lilian hanya diam menatap tangan Jongin yang mengambang tak berarti sebelum tersadar lalu meraih telapak tangan Jongin.

“Lilian Kang” ucapnya tersenyum manis. Bukan kikuk seperti sebelumnya. Hei jantung! Kau kenapa!? Tanpa sadar ternyata Lilian menggumam dalam hati.

“Apa kalian akan terus berjabat tangan seperti itu?” Hyein memecah keheningan setelah hampir sepuluh menit dibiarkan berlumut oleh Jongin dan Lilian yang tak berniat sama sekali untuk mengakhiri perkenalan mereka. Jongin dan Lilian tersadar bersamaan, kontak antara mereka lepas. Menyisahkan kedua belah pihak yang berdehem salah tingkah, Hyein mendesis pelan.

Eoh? Boleh aku pinjam Hyein sebentar?” tangan Jongin meraih lengan adiknya. Matanya menatap Lilian dalam, meminta jawaban. Sesaat lalu gadis itu mengangguk singkat dengan senyuman tipis di bibir. Jongin hampir meleleh, apa ia benar-benar lupa kalau ia superplayboy?

“Memang mau ke mana?” Hyein berucap dalam seretan Jongin yang melangkah menjauhi kelas Hyein. Mata gadis itu berkilat ketika menatap pintu putih ruangan guru konseling di depannya saat Jongin menghentikan langkahnya.

“K-konseling?” Hyein bercicit. Jongin mengangguk kecil lalu menghadapkan tubuhnya pada Hyein, digenggamnya kedua bahu adiknya itu.

“Katakan apa yang sebenarnya terjadi, Kim Hyein?” Jongin berucap dingin. Memberikan kesan menakutkan pada Hyein, tatapan gadis itu memberikan sebuah kerisauan tingkat tinggi. Gadis itu hanya diam, mengorek isi otaknya, memilah-milah memori mencari kesalahan yang telah ia perbuat hingga guru konseling ingin menemuinya.

“Aku sungguh tidak melakukan apa-apa” Hyein berucap pelan dengan wajah yang ditolehkan ke arah lain, menghindari tatapan tajam Jongin yang tak berujung. Jongin pun kehabisan akal, dihempaskannya tangannya dari bahu Hyein lalu menghentakan kakinya keras pada lantai koridor tak bersalah. Hyein pun tak berbeda, gadis itu berjongkok lemas dengan tangan yang mengacak rambutnya gusar.

“Aku benar-benar tidak melakukan kesalahan apapun di sekolah! Aku anak teladan!” Jongin yang mendengar racauan Hyein hanya diam, mengakui kalau Hyein benar seorang murid teladan di sekolah sangat berbeda dengannya. Pantas saja Jongin sangat terkejut saat Lee-saem memintanya untuk mengatur janji dengan Hyein, apa yang salah dengan gadis itu? Pikirnya dalam hati.

Seketika hilang semua risau ketika keduanya mendengan bunyi berderit pintu yang dibuka. Benar saja, pintu putih ruang guru konseling terbuka lebar, sesosok pria paruh banya muncul dari sana, Lee-saem, yang memandang Jongin dan Hyein bergantian dengan ekspresi heran.

“Apa yang kalian lakukan?”

~

“Ah, kenapa kalian berfikir terlalu jauh seperti itu? Aku hanya ingin memberikan sebuah titipan kok” Jongin dan Hyein menghela nafas berat. Kaki mereka seakan lemas mencair menyatu bersama lantai kayu yang mereka injak, pikiran-pikiran menakutkan yang menghantui mereka sirna seketika.

Lee-saem terlihat mengocok isi tasnya, lalu berhenti pada benda kecil berbentuk segi panjang. Hyein dan Jongin kompak membulatkan matanya. Tagname!? Seperti usai bertelepati dengan pikiran, kakak beradik itu saling memandang.

“Kim Hyein, ini milikmu ‘kan?”

Seperti tau pikiran Hyein dan Jongin. Lee-saem menghela nafas pelan lalu menjentikkan jari.

“Jangan berfikir negatif dulu” Jongin menunduk bersalah. Hyein masih menatap Lee-saem dengan penuh tanda tanya.

“Lee-saem..” Hyein buka suara. Membiarkan kakaknya menatap heran pada Hyein. Hilang kemana rasa takutnya tadi?

“Kenapa benda itu ada pada anda?” Hyein bertanya penuh hati-hati dengan jari telunjung mengarah pada genggaman guru konselingnya itu.

Lee-saem menatap benda itu sekilas. Lalu kembali menjentikan jari seperti sebelumnya.

“Oh, ada seorang tuan yang memberikannya padaku tadi. Dia bilang ini terjatuh dekat halaman sekolah” mulut Hyein seketikan membentuk huruf O saat Lee-saem habis dengan ucapannya.

“Siapa tuan itu?” kali ini Jongin yang berrucap. Sedangkan adiknya hanya diam, bersyukur telah menemukan tagnamenya sudah sangat cukup memenuhi pikirannya sekarang. Lee-saem menengadah sambil meletakkan telunjuk kanannya ke arah dagu. Berlagak sedang berfikir keras.

Eum.. aku tidak ingat pasti. Yang jelas ia berpakaian layaknya kolongmerat, terlihat sangat royal” Lee-saem berucap singkat setelah mengobrak-abrik isi otaknya.

Dan Jongin masih belum puas dengan jawaban tersebut.

“Apa anda benar-benar tidak mengingatnya? Namanya?” Jongin melipat tanganya di atas meja. Mengabaikan lipatan-lipatan halus yang mulai muncul di dahi Lee-saem samar. Hyein yang duduk di sampinya menggigit bibir. Gadis itu tahu gelagat gurunya yang satu ini saat marah. Dan itu sekarang.

“Kim Jongin!” Jongin lupa kalau guru konselingnya ini masuk jajaran guru killer di sekolahnya. Ia menyesal.

“Berhenti bertanya seperti polisi! Ambil ini dan keluar!” Lee-saem sedikir menggeprak meja saat meletakkan tagname tepat di dengan Jongin yang terlonjak kecil. Hyein menelan ludahnya susah payah sambil mencoba meluruskan lututnya untuk berdiri dari ruang kecil berbau neraka ini.

“B-baik, saem” Jongin berdiri dengan gerakan amat lambat lalu berbalik dan menarik Hyein menuju pintu dengan berlari kecil.

~

Maaf, nomor yang anda hubungi tidak menjawab panggilan anda. Coba beberapa saat lagi-

Pria itu memutus suara operator yang sudah sekian kali menjawab panggilannya. Pria itu mendengus pelan lalu meletakkan ponselnya ke meja di depannya. Lalu meraih gelas teh hangat di sampingnya. Menyeruputnya nikmat sebelum berucap.

“Antar aku ke rumahnya”

~

Mobil sedan hitam berhasil terparkir mulus di depan rumah Sehun. Benda itu merhenti menggeram lalu terbuka salah satu pintunya. Seorang pria dengan jas abu-abu keluar dari sana. Berbisik sebentar pada dua pelayan di sampinya lalu berjalan santai mendekati pintu rumah Sehun.

Dua kali ia menekan bel dan pintu enggan beranjak untuk terbuka.

Ia yakin Sehun tidak ada di rumah.

Dengan cepat pria itu menekan beberapa tombol di monitor kecil dekat pintu. Pria itu berhasil masuk setelah bunyi ‘klik’ terdengar olehnya. Pria itu tahu apa password pintu rumah Sehun.

Tentu saja.

Tidak ada yang berubah dari rumah itu. Isinya tetap sama seperti saat pria itu menjejakkan kaki di sana untuk yang pertama kalinya.

Kosong dan hampa. Seperti yang ia perkirakan sebelumnya, Sehun benar-benar tidak ada di rumah. Dengan lancang, pria itu melangkah pada pintu garasi. Ruangannya gelap. Pria iu menekan saklar dekat pintu dan benderanglah seketika. Beberapa mobil berjejer rapi di sana. Beberapa di antaranya terlihat belum tersentuh sama sekali. Ada satu mobil di paling ujung yang berhasil menyita perhatiannya, pria itu mendekat ke sana.

Mengelus permukaan mobil sebentar, mengecek apakah ada lecet di sana. Lalu membuka pintu mobil itu. Melangkah ke dalam dan duduk bersandar di kursi kemudi. Parfum Sehun masih sangat kentara. Memberi tahu pria itu kalau Sehun sudah pernah memakainya.

Oh?

Seperti menemukan bongkahan berlian di tengah lumpur, pria itu membuka matanya lebih lebar pada samping pedal rem di samping kakinya.

Benda kecil persegi panjang berkilau di sana. Seperti menggoda pria itu untuk menggapainya.

Pria itu melongokkan badannya, hampir terkantuk dasbor mobil saat ia memungut benda itu. bibirnya tersenyum miring.

~

Hyein dan Jongin berjalan beriringan menjauh dari pintu ruangan BK. Hyein menatap sumringah tagname di tangannya. Mengabaikan seorang pria yang tersenyum miring di ujung koridor.

Pria itu berguman “Jadi itu yang membuatnya menolak semuanya”

~

Jongin menendang betis Chanyeol cukup keras saat lelaki tiang itu mencoba untuk meraih sehelai rambut depan Jongin dan menariknya. Dan lelaki tiang itu memekik cukup keras.

Jongin menghentikan pandangannnya saat ujung matanya menemukan Sehun yang baru saja masuk ke kelas. Lelaki pucat itu berjalan ke arahnya. Mendekat dalam diam. Menunjukan kalau ia sedang resah.

Oh Sehun duduk di samping Jongin. Walaupun sebelumnya ia harus menarik kerah baju Chanyeol terlebih dahulu. Selain mencoba menjahili Jongin, Chanyeol juga manguasai penuh singgahsana Sehun.

“Bisa kau bersikap lebih halus, bocah tengik” Chanyeol menambah umpatan kecil di akhir kalimatnya pada Sehun yang berhasil membuat ia terbatuk lama akibat hampir tercekik oleh tarikan di bagian lehernya.

Oh Sehun diam.

Chanyeol dan Jongin bertukar pandang. Meyakinkan kalau pikiran mereka sama. Oh Sehun berbeda. Kedua lelaki itu kembali menengok pada Sehun.

Sehun diam. Kedua tangannya ia masukkan dalam saku celana sejak menginjak lantai kelas, tepatnya saat ia melihat Jongin. Kepalanya tertunduk menatap kolong bawah mejanya yang kosong. Entah apa yang ia perhatikan di sana. Yang jelas otaknya kembali memutar kejadian di mana ia sedang menyelamatkan seorang gadis setengah sadar yang mengira kalau ia Jongin dan menciumnya. Kejadian saat ia menemukan Hyein.

“Hei!” Jongin melambaikan tangannya di depan wajah Sehun. Lelaki pucat itu terhentak sejenak. Lalu menggeleng cepat. Sebisanya mengusir semua pikiran yang sudah berhasil mengganggunya beberapa menit yang lalu.

“Ada apa denganmu?” kini Chanyeol yang membuka suaranya. Lelaki tinggi itu duduk setelah menarik kursi milik bangku di seberang tempat duduk Sehun.

Setetes keringat dingin jatuh dari pelipis Sehun.

“Bukan apa-apa”

Ah! Aku bisa gila!

~

Warna cahaya televisi terus bergantian menerpa wajah Hyein dan Jongin. Jongin terus saja mengobrak-abrik saluran televisi dengan alasan tidak ada yang sukai. Demi dewa televisi-itu juga kalu ada- hyein sunggu mengutuk Jongin.

“Bisa kau hentikan itu?! Televisinya akan meledak” Hyein meletakkan semangkuk snacknya di atas meja, membiarkan kedua tangannya yang kosong ia gunakan untuk menghatam bahu Jongin dengan beberapa pukulan keras.

“Bisa kau hentikan itu?! Lenganku hampir patah!” Jongin mengulang nada ucapan hyein sebelumnya. Membuat Jongin melempar remote ke sofa kosong sampingnya. Menghentikan Hyein untuk memukul bridal pada lengan Jongin.

Hyein dan Jongin kembali pada posisi mereka masing-masing.

Jongin menatap televisi dengan santai, di sampingnya Hyein mengeturkan alis saat terpampang di monitor televisi sebuah iklan singkat Bubble Tea. Ia ingat sesuatu.

“Apa kau yakin malam saat kau menemukaku kau tidak minum bubble tea?” Hyein menatap Jongin.  Lelaki itu menghentikan kegatannya memainkan ponsel, menoleh pada Hyein dan menggeleng.

Kim Hyein kembali mentap layar televisi. Mengabaikan hal yang baru saja mengusiknya.

“Ah, filmnya sudah dimulai” Hyein membenarkan posisi duduknya, mencari posisi paling nyaman. Jongin melakukan hal yang sama sambil memeluk bantal kecil.

Keduanya menatap hikmat film Action yang ada di monitor televisi. Diawali dengan adegan balapan mobil lalu tabrakan mobil dan perkelahian antar pengemudi mobil tadi. Dan adegan terakhir itu berhasil membuat Hyein kembali memikirkan hal yang sama seperti yang sebelumnya ia tanyakan pada Jongin.

Sebelum ia kembali bertanya, gadis itu alih-alih memandang wajah Jongin, tepat di bibir.

Tidak ada luka seperti yang ia pikirkan.

Kenapa bibirmu berdarah, Oh Sehun?

Hyein hampir saja menumpahkan semangkuk snacknya karena terkejut. Gadis itu berfikir keras mengingat kalau ia pernah melihat luka kecil di bibir Sehun saat ia dan kakaknya berjalan menuju ruang konseling.

Apa mungkin..

Ah! Aku terlalu mabuk malam itu!

~

“Jadi bagaimana?” pria dengan jas beludru abu-abu itu tersenyum meyakinkan Lee-saem yang duduk berfikir di hadapannya menyeruput kopi dingin.

“Apa anda serius, tuan?” Lee-saem meletakkan kopi dinginya saat tuan yang ia maksud mengangguk mantap.

Pria berjas itu tersenyum miring saat matanya menangkap Sehun berjalan dengan Hyein di sampingnnya yang terlihat dari jendela kantor siang itu.

“Laksanakan secepatnya” pria berjas itu berdiri sekilas membenarkan posisi topi dengan warna senada dengan jasnya.

Lee-saem mengangguk sekilas lalu ikut berdiri dan membungkuk hormat saat pria berjas itu melangkah keluar kantor.

~

Jongin hampir saja menjitak tengkorak Hyein sebelum Lilian terdengar menyetujui ide konyol adiknya. Sehun terlihat mengangguk di tengah kegiatannya menyeruput bubble tea coklat kesukaannya.

Jongin dan Lilian duduk bersampingan, berhadapan dengan Sehun dan segelas bubblenya. Sedangkan Hyein berdiri di ujung meja. Tak sudi untuk duduk bersampingan dengan mahluk pucat yang paling dibencinya.

“Jadi bagaimana? Apa semuanya setuju?” Hyein menunjuk Jongin, Lilian, dan Sehun bergantian.

Jongin sungguh mengutuk adiknya. Ide gila macam apa lagi ini. Menghabiskan hari minggu kesayangannya dengan berputar-putar tidak jelas di dalam taman hiburan. Itu memang menyenangkan, tapi tidak untuk akhir minggu ini. Jongin sungguh butuh istirahat.

Tapi setidaknya Lilian akan ikut. Bukannya ia akan menyesal jika melewatkannya? Jongin harus ikut.

“Baiklah” Jongin berucap terpaksa.

Sehun hampir tersedak oleh tetes terakhir bubblenya.

“Tumben sekali, mimpi apa kau?!”

“Lilian-unnie benar akan ikut?” Hyein menatap Lilian yang duduk paling ujung dekat dengannya. Lilian mengangguk mantap. Wajahnya berbinar membayangkan pergi ke taman hiburan yang masuk dalam daftar kegiatan yang jarang untuknya. Apalagi beramai-ramai seperti ini. Jangan lupakan juga tentang Jongin.

Lilian selalu berdebar saat mengingat nama lelaki hitam itu dipikiranya.

Seharusnya ia tak perlu mengelak kalau ia menyukai Jongin.

~

Mobil hitam Jongin berhasil terparkir rapi. Jongin muncul pertama dari pintu kemudi disusul Lilian dari sisi yang lain. Di belakang, Sehun dengan terpaksa mengurung niat untuk keluar setelah tangan Hyein mengurung mergelangan tangannya. Melarangnya untuk keluar.

“Lepaskan” Sehun mendesis menatap Hyein. Gadis itu tak melepas pandangan pada Lilian dan Jongin yang berdiri di depan mobil. Entang berbincang apa, Hyein tak perlu memikirkan itu.

Yang harus ia lakukan hanya mengawasi keduanya. Bukan tidak ada apa-apa Hyein mengusulkan untuk mengajak Sehun, Jongin, dan Lilian untuk pergi ke taman hiburan hari ini. Mengawasi kedekatan Jongin-Lilian, tidak ada alasan selain itu. Gadis itu hanya memastikan hasil taruhannya dengan lelaki pucat di sampingnya. Memastikan Jongin dan Lilian tidak ada hubungan dan ia tidak perlu mendapat akibat perjanjian taruhannya dengan Sehun.

“Ada apa sih?” Oh Sehun mengikuti arah pandangan Lilian. Lelaki Oh itu hanya menyipit dan kembali menatap Hyein dengan kerutan tipis di dahinya.

Sehun hanya mendengus menatap Hyein yang sama sekali tak mereaksi. Tangan kirinya membuka pintu mobil, lalu mendorongnya pelan. Lelaki itu menatap tangan kanannya yang masih diapit kuat lengan Hyein. Sehun mendengus.

“Hei, Kim Hyein” Oh Sehun memanggil.

Hyein berdehen sebagai jawaban, tanpa melepas target pandangannya. Oh Sehun mendengus pelan.

“Ah, lupakan” Sehun baru saja menendang pintu mobil dan bangkit berniat keluar mengabaikan Hyein. Namun apa dayanya ketika Hyein menarik tangan Sehun dalam genggaman. Lelaki itu berbalik kasar dan berakhir dengan tersungkur di lantai mobil dengan Hyein di bawahnya. Syukur saja Sehun mau menahan tubuhnya dengan dua tangan di samping Hyein, jika tidak, mungkin Hyein sudah kejatuhan lelaki pucat itu dan berakhir pingsan mengenaskan. Sehun tak sampai hati membayangkannya.

Kedua tangan Hyein mengepal tegang di depan dada. Matanya melebar hebat. Sehun bersikap sebelas duabelas, matanya ikut melebar seperti yang Hyein lakukan.

Dan yang harus Sehun bingungkan.

Apa barusan darah di dalam tubuhnya berdesir hebat?

“Sehun, Hyein, apa kalian tidak keluar-” Jongin  hampir saja tersedak ludahnya sendiri ketika matanya menangkap pemandangan janggal yang tersaji di dalam mobil lewat pintu yang terbuka lebar.

Sehun bangkit lalu melompat keluar sambil menggaruk tengkuk, “Aku tadi tersandung” Sehun mengucap gugup. Jongin memiringkan kepalanya bingung. Di samping Jongin sudah ada Lilian yang mengikuti Jongin untuk melangkah menyusul Hyein dan Lilian.

“Iya, Sehun tersandung. Dia ceroboh” Hyein menimpali tak kalah gugup seperti yang Sehun ucapkan sebelumnya. Gadis itu memelintir ujung terusan bermotif bunga yang dipakainya. Sehun hanya memberi decakan setelah mendengar kalau Hyein menyindirnya. Tak bisa marah, setidaknya itu bisa membantunya menghindari kesalahpahaman Jongin dan Lilian.

~

“Apa tak apa kita meninggalkan Sehun dan Hyein?” Lilian bertanya hati-hati pada Jongin yang sedang menggenggam benang bertaut balon merah muda yang mengambang anggun di udara. Jongin menoleh lalu tersenyum ringan.

“Aku hanya ingin mereka terlihat akrab setelah terlalu sering bertengkar” Jongin mengakhiri dengan kekehan diikuti Lilian yang tertawa renyah.

“Oh, es krim” seruan kecil yang dilantunkan Lilian memberi perintah pada Jongin untuk mengitu arah pandangan Lilian tertuju. Kedai es krim di dekat bianglala kecil.

Jongin tiba-tiba berbalik dan memberikan benang pengikat balon pada genggaman Lilian, “Tunggu di sini,” Jongin berlari kecil menyibak orang-orang yang berlalu lalang. Melambai pada Lilian yang memmbisu ketika kakinya berhenti tepat di depan kedai es krim yang sebelumnya jadi penarik perhatian Lilian. Gadis itu terkekeh.

~

Sehun dan Hyein berjalan bersama. Sehun melipat tangan di depan dada dengan mata yang mengitari sisi lain taman hiburan selain menatap mata anjing Hyein yang memohon padanya untuk menguntit Jongin dan Lilian.

“Lihat itu! Jongin pasti membelikan es krim-” Hyein tiba-tiba menghentikan langkahnya. Tepat setelahnya Sehun tak sadar kalau gadis yang berjalan dua langkan di depannya berhenti, Sehun menabrak bahu Hyein.

Sehun memandang wajah Hyein dari samping serta merta. Tampangnya tak terbaca oleh Sehun yang akhirnya lebih memilih untuk bertanya, “Ada apa?”.

Hyein membisu di tempat. Kecerewetannya tiba-tiba hilang menguap entah kemana. Sehun menatap gadis itu lamat-lamat. Setelah mengetahui kalau Hyein menaruh perhatian pada sesuatu yang lain, Sehun segera mengikuti arah pandangan Hyein. Sudah sejak Hyein berhenti, gadis itu tak lagi parno pada Lilian-Jongin.

Sehun berhasil mengikuti tatap Hyein tertuju.

Tiga kios di samping kiri kedai es krim yang sedang Jongin kunjungi, berdiri ruang kecil bertuliskan ‘Photo Box’ di atasnya. Keberadaan kios itu tidak penting sekarang, yang jelas Sehun menangkap sepasang kekasih yang jelas-jelas sedang berkencan di depan kios tersebut. Do Kyungsoo dan kekasihnya.

Sehun kembali menatap mimik wajah Hyein. Sehun akui, ia mendapati kilatan bening di ujung mata Hyein. Sehun tersentak ketika Hyein tiba-tiba dengan cepat meniti langkah sedikir berlari mendekat pada Jongin. Beberapa kali tubuh kecilnya menabrak orang-orang. Membuat Sehun khawatir.

Yang aneh, entah mengapa tubuh dan pikiran lelaki pucat itu tak membela hatinya yang sangat ingin melindungi dari tatapan marah orang-orang yang berhasil tersenggol cara jalan tergesa Hyein. Tapi buktinya, Oh Sehun tetap diam di tempat.

Jongin sempat melonjak ketika Hyein menepuk bahunya dan memtar tubuh besarnya dengan terpaksa. Apa yang dilakukan Hyein setelahnya membuat tiga pasang mata yang menatapnya terbuka lebar dan beberapa pasang yang lain menatap kejut.

Sehun berdiri tegang.

Lilian yang tak sengaja melihatnya hanya menutup mulut dengan tangan.

Kim Jongin hanya membulat membiarkan Hyein merasakan manis es krim coklat yang baru ia jilat di bibirnya.

.

.

.

.

.

.

TBC

Tinggalkan komentar yaa, sebagai apresiasi kalian serta penilaian tersendiri bagi penulis. Komen kalian sangat berharga loh, beneran ._.v

Kalo ada kesalahan entah typo(s) atau lainnya, mohon koreksinya semuaaa.

Sekian, terima kasih.

-Dinopeach-

Iklan

3 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy #5 [The Trap]

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s