[EXOFFI FREELANCE] PROMISE (약속) (Chapter 9)

Poster Promise (약속)1.jpg

Tittle        : PROMISE (약속)
Author        : Dwi Lestari
Genre        : Romance, Friendship

Length        : Chaptered

Rating        : PG 17+

Main Cast    :Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Chanyeol)

Support Cast    :Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae (Chen), and other cast. Cast akan bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Park Chanyeol adalah pewaris tunggal S&C Group yang baru saja kembali ke Korea setelah sekian lama tinggal di Amerika untuk mengelola perusahaannya, dan juga dalam rangka mencari teman kecilnya Minnie karena janji yang telah dibuatnya sewaktu kecil. Akankah dia dapat menemukannya dan menepati janjinya?

Disclaimer    :Alur dan ceritanya murni buatan saya. Sudah pernah saya kirim ke https://exofanfiction.wordpress.com/

Author’s note    : Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komennya. No kopas, no plagiat. Sorry for typo. Happy reading.

Chapter 9 (The Trap)

Saera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saera berniat mengajak sahabatnya pergi ke pantai. Namun niatnya itu belum diutarakan pada sahabatnya. Dia terus berkonsentrasi mengemudikan mobilnya, karena memang semua penumpang dalam mobil itu memilih diam. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari ponselnya. Dia memberikan tasnya pada Baekhyun yang duduk di sampingnya.

“Baekhyun-ah, bisakah kau melihat dari siapa panggilan itu?”, pinta Saera.

Baekhyun segera mengambil ponsel dari dalam tasnya. Dia melihat layar ponsel tersebut. Disitu tertulis Taeyeon sunbae, “Ini dari Taeyeon sunbae, haruskah aku mengangkatnya?”, tanya Baekhyun.

“Taeyeon sunbae. Tidak biasanya dia menelfonku, berikan padaku”, Saera segera mengangkat panggilan itu.

Yeobseyo. Sunbaenim, wae geurae? Apa kau bertengkar lagi dengan oppaku, sampai-sampai kau menghubungiku?”, kata Saera.

Yak, diamlah bocah tengik”, kata si penelfon dengan sedikit berteriak. Hal itu membuat Saera sedikit terkejut.

Yak, bisakah kau tidak berteriak padaku. Kau membuat telingaku sakit”, kata Saera sambil mengusap telinganya. “Tapi itu memang benarkan, kau hanya menghubungiku saat kau bertengkar dengannya. Lalu memohon padaku untuk membuatnya memafkanmu. Aish”, lanjut Saera.

Dia seberang sana hanya diam, mungkin dia berfikir jika apa yang dikatakan Saera benar adanya. “Waeyo? Kenapa kau diam?”, Saera bertanya kembali karena si penolfon cukup lama terdiam.

“Iya, baiklah. Memang sebelumnya aku seperti itu. Tapi sekarang aku mau minta bantuan padamu”.

“Bantuan apa?”, tanya Saera.

“Hari ini NERO ada konser, tapi aku tidak bisa hadir. Ada hal mendesak yang harus aku lakukan, bisakah kau menggantikanku?”.

Shireo”, Saera berkata dengan tenang.

Yak, Han Saera. Jebal! Aku tak mungkin membiarkannya tampil tanpa seorang vokal”.

Neo pabboya. Ini sudah lebih dari 3 tahun. Tentu aku sudah lupa”.

“Aku yakin kau bisa melakukannya. Tidak ada yang tidak bisa kau lakukan. Aku mohon padamu, aku sudah terlambat. Kau harus menggantikanku. Akan ku kirim alamatnya padamu. Aku mengandalkanmu Han Saera”.

Yak, sunbaenim. Yeobseyo. Sunbaenim. Sunbaenim. Yak, Kim Taeyeon”, kata Saera sedikit berteriak. Namun usahanya untuk memanggil sunbaenya itu gagal karena sambungan telfonnya sudah ditutup. Saera merasa sedikit kesal hingga ia tak berkonsentrasi menyetir. Dia hampir saja menabrak seseorang yang menyebrang. Saera tidak tahu jika lampu jalanan itu sudah berubah menjadi merah.

Syukurlah, dia menginjak rem mobilnya dengan cepat. Dan alhasil semua penumpang dalam mobil tersebut hampir tersungkur ke depan, karena memang mobilnya berhenti mendadak. “Yak, kau hampir membunuh kami semua”, kata Baekhyun.

Mian, mian. Aku akan lebih berhati-hati”, Saera kembali melajukan mobilnya saat lampu sudah berubah menjadi hijau. Saera membuang nafas panjangnya. Dia berusaha untuk mengabaikan permintaan sunbaenya dan memilih lebih fokus pada tujuan awalnya, mengajak sahabatnya ke pantai.

“Sebenarnya dia meminta bantuan apa?”, tanya Jongdae.

“Bukan apa-apa. Dia memang selalu begitu, menghubungiku jika dia sedang membutuhkanku. Yeoja itu benar-benar”, kata Saera.

“Lalu siapa itu oppamu. Bukankah kau tidak memiliki kakak laki-laki”, tanya Baekhyun.

“Itu rahasia, kau tidak perlu tahu dan kau juga tidak mengenalnya”, jawab Saera.

“Sejak kapan kau pandai menyimpan rahasia dariku?”, kata Baekhyun.

Yak, aku juga ingin punya privasi”, kata Saera.

“Baiklah, terserah padamu”, kata Baekhyun.

Ponsel Saera berbunyi kembali menandakan adanya pesan masuk. “Bisakah kau membacakan pesan itu untukku”, pinta Saera pada Baekhyun.

“Dari Taeyeon sunbae. Sungjae street No.8, Incheon. Aku mengandalkanmu Princess…..”, Baekhyun tidak melanjutkan kata-katanya, dia malah tertawa. Tentu hal itu membuat Saera bingung.

Yak, apa yang kau tertawakan kenapa tidak dilanjutkan”, kata Saera. Dia merasa sedikit kesal dengan tingkah Baekhyun.

“Dia memanggilmu, hahahah…..”, Baekhyun kembali tertawa. “Sunbaemu benar-benar top. Dia benar-benar tahu siapa kau”, kata Baekhyun sambil mengangkat dua ibu jarinya.

“Iya, apa yang kau tertawakan?”, tanya Jongdae.

“Baca ini”, Baekhyun menyerahkan ponsel Saera. Jongdae segera membaca pesan itu yang diikuti oleh namja yang ada disampingnya. Sama seperti Baekhyun, Jongdae juga tertawa setelah membaca pesan itu.

“Memang apa yang lucu? Bukankah dia hanya memanggilnya dengan sebutan Princess Carrot”, tanya Chanyeol penasaran.

“Ah, kau belum tahu. Baiklah akan kuberi tahu”, Jongdae berbisik pada Chanyeol. Chanyeol mengangguk paham dengan penjelasan Jongdae. Tapi reaksinya tidak seheboh dua sahabat Saera tersebut, dia hanya tersenyum setelah Jongdae selesai menjelaskannya. Jongdae dan Baekhyun masih tertawa, dan itu membuat Saera bertambah kesal.

Yak, diamlah. Itu dulu, sekarang aku sudah meninggalkan kebiasaan itu”, jawab Saera membela diri.

“Tapi aku masih melihat kulkasmu penuh dengan wortel”, kata Baekhyun.

Saera hanya bisa diam mendengar kata-kata Baekhyun. Iya baiklah, dia sudah ketahuan. Saera memang memiliki kebiasaan meminum jus wortel sejak kecil. Dan itu adalah sayur yang paling Saera suka. Dia akan mencari itu dimanapun dia diajak makan oleh teman-temannya atau orang tuanya. Karena itulah dia dipanggil dengan sebutan Princess Carrot. Namun sejak ayahnya tiada, dia mulai meninggalkan kebiasaan itu. Hanya kadang-kadang dia meminumnya. Tapi tidak bisa dipungkiri juga, dia selalu menyediakan banyak wortel di kulkasnya.

“Terserahlah! Geundae, apa kalian tahu tempat apa alamat itu?”, tanya Saera.

Molla”, kata Baekhyun sambil menggeleng.

“Aku juga tidak tahu”, kata Jongdae.

Saat Chanyeol akan menjawabnya, ponselnya tiba-tiba saja berbunyi. Dia segera mengangkat panggilan tersebut.

Yeobseyo”.

“…….”.

Ne, hyung. Wae geurae?”.

“…….”

“Pembukaan restoran. Eodiga?”.

“………”

“Sungjae street No. 8, Incheon. Ah, ne. Aku akan kesana”. Chanyeol mengakhiri telfonnya.

Saera mengenhtikan mobilnya dengan tiba-tiba, karena merasa kepalanya pusing. Dan itu membuat seisi mobil hampir terjungkal ke depan. “Yak, kau mau membunuh kami lagi?”, protes Baekhyun sambil memegang kepalanya yang terasa sakit setelah terbentur dasbor mobil. Dia ingin memaki Saera kembali, namun niatnya itu terhalang setelah melihat Saera memegang kepalanya. Dia melihat Saera begitu kesakitan. Dia segera bertanya pada Saera.

“Saera-ya, gwenchana?”, tanya Baekhyun.

Saera tak kunjung menjawabnya, dia memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya berharap rasa sakitnya akan berkurang. Namun nihil, rasa sakitnya justru bertambah. Berkali-kali Baekhyun bertanya, namun Saera seperti tak mendengarnya. Dan hal itu membuat seisi mobil juga panik. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang menimpa Saera.

Saera masih merasakan sakit dikepalanya. Dia melihat sekelebat peristiwa-peristiwa yang belum pernah dilihatnya atau mungkin itu peristiwa yang pernah dialaminya namun dia tidak dapat mengingat karena kecelakaan masa kecilnya. Baekhyun mengguncang-guncangkan tubuh Saera, karena Saera tak kunjung menjawabnya. Dan guncangan itu berhasil membuat Saera kembali tersadar. Rasa sakit dikepalanya sedikit berkurang.

Gwenchana, ini pasti karena benturan itu”, Saera akhirnya bisa menjawab pertanyaan Baekhyun.

“Kepalamu pusing lagi?”, tanya Baekhyun. Saera mengangguk. “Apa ingatan itu muncul lagi?”, tanya Baekhyun kembali.

Eoh”, Saera masih memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.

“Seharusnya aku mencityscan kepalamu saat itu, mungkin ada syaraf pada otakmu yang terganggu karena benturan itu. Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang”, saran Baekhyun.

“Tidak untuk sekarang Baekhyun-ah, bukankah kita harus ke Incheon”, kata Saera. Dia sudah tidak lagi memegang kepalanya.

“Apa kau membawa obatmu?”, tanya Baekhyun.

Eoh, sepertinya ada dalam tasku”.

Baekhyun segera mencari obat dalam tas Saera. Setelah mendapatkannya, dia memberikannya pada Saera. “Minumlah, ini untuk mengurangi sakit kepalamu”. Saera menuruti perintah Baekhyun, dia segera meminum obat yang diberikan Baekhyun. “Sebaiknya kau jangan menyetir”, lanjut Baekhyun.

“Emmh”, kata Saera pasrah. Dia memang benar-benar merasa tidak dapat fokus menyetir selama kepalanya masih pusing.

“Biar aku yang menyetir. Aku tahu tempat itu”, Chanyeol menawarkan dirinya.

“Kau yakin?”, kata Jongdae memastikan.

Eoh, itu adalah restoran baru milik pamanku”, jawab Chanyeol.

Saera segera turun dari mobil yang diikuti oleh Chanyeol. Mereka bertukar tempat duduk. Saera yang semula duduk di bangku kemudi berpidah ke bangku belakang tempat yang Chanyeol duduki sebelumnya. Begitu juga dengan Chanyeol, dia sekarang duduk di bangku kemudi. Setelah memakai sabuk pengamannya, Chanyeol segera melajukan mobilnya.

“Apa kau sudah merasa baikan?”, tanya Jongdae pada Saera yang kini duduk disampingnya. “Emmh, gwenchana”, jawab Saera.

Obat yang Saera minum sudah mulai bereaksi. Dia mulai merasa baik, sakit yang dia rasakan sudah berkurang. Saat itu pula dia baru sadar jika di dalam mobilnya bertambah satu orang. Dia merasa sedikit heran, kenapa dia baru menyadari hal itu. Dia penasaran sejak kapan namja yang kini tengan fokus menyetir berada dalam mobilnya. Dia kemudian memberanikan diri bertanya pada Jongdae.

“Sejak kapan dia ada di dalam mobil?”, Saera berkata sambil berbisik.

“Kau tidak tahu?”, jawab Jongdae. Saera menggeleng. “Kenapa kau baru sadar. Dia sudah ada setelah kita dari pemakaman”, jawab Jongdae.

Jeongmalyo?”, tanya Saera memastikan. Dia merasa sedikit kaget, kenapa dia tak menyadarinya dari tadi. Jongdae kemudian mengangguk. Saera juga merasa sedikit bodoh, karena tak menyadarinya. Dia kemudian menyandarkan tubuhnya ke bangku yang dia duduki. Menutup matanya dan mencoba untuk berkonsentrasi kembali. Dia terlalu banyak fikiran akhir-akhir ini, karena itulah dia sering tidak fokus dengan apa yag dia kerjakan.

Setelah percakapan antara Saera dan Jongdae, suasana dalam mobil itu tenang. Karena memang tak ada yang ingin mereka bicarakan. Hingga tak terasa mereka sampai di tempat yang mereka tuju. Chanyeol segera menepikan mobilnya ke salah satu tempat parkir yang belum di tempati. Setelah mesin mobil mati, mereka segera turun.

Belum sempat Saera keluar dari mobil, dia sudah mendapat telfon dari sunbaenya. “Yeobseyo, ada apa sunbae?”, Saera berkata sambil menutup pintu mobil.

“Kau jadi datang kan?”, kata orang diseberang sana.

Ne, aku baru saja sampai. Waeyo?”, kata Saera.

“Kau dimana sekarang?”.

“Aku baru turun dari mobil”, Saera berjalan mengikuti ketiga penghuni mobil tersebut. Dia melihat sunbaenya melambaikan tangan padanya. Dia segera memutus sambungan telfonnya dan menemui sunbaenya. Meninggalkan ketiga temannya.

Yak, sunbae. Kau membohongiku?”, Saera akan memukulnya, jika sunbaenya tidak menghentikannya.

“Tenanglah Saera. Aku bisa jelaskan”, kata sunbaenya.

Mwo, mwo? apa yang mau kau jelaskan. Kalau tahu kau membohongiku, tentu aku tidak akan datang. Kau sudah mengganggu hari mingguku”, Saera berkata dengan sedikit kesal karena telah dibohongi.

Yak, sopanlah sedikit pada sunbaemu ini. Dan beginikah caramu menyapa sunbaemu yang sudah lama tak kau temui. Apa kau tidak merindukanku?”, kata sunbaenya.

Saera membuang nafas kesalnya. Dia segera memeluk sunbaenya. “Lama tak bertemu sunbae, bagaimana kabarmu? Tentu aku merindukanmu!”, kata Saera.

Sunbaenya membalas pelukan Saera. “Aku baik-baik saja, kau sendiri? Dan aku merindukanmu juga”.

“Aku baik, seperti yang kau lihat”, Saera melepaskan pelukannya.

“Kau bersama teman-temanmu?”.

Ne”.

Baekhyun, Jongdae dan Chanyeol berjalan ke arah Saera dan seorang yeoja yang dipanggil sunbae oleh Saera.

“Taeyeon noona”, panggil Baekhyun pada yeoja yang ada disebelah Saera. ‘Baekhyun memanggilnya dengan sebutan noona. Apa mereka saling mengenal’, kata Saera dalam hatinya. Dia merasa sangat penasaran, bagaimana bisa Baekhyun mengenal sunbaenya.

“Ow, Baekhyun-ah. Lama tak bertemu! Bagaimana kabarmu?”, jawab yeoja yang dipanggil Taeyeon.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu noona?”, tanya Baekhyun.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja”.

“Kalian sudah saling kenal?”, tanya Saera.

“Tentu saja”, kata Taeyeon.

“Bagaimana bisa?”, Saera kembali bertanya.

“Coba tebak, bagaimana kami saling mengenal”, kata Baekhyun.

Saera berfikir sejenak, dia mencari-cari jawaban bagaimana Baekhyun dan sunbaenya saling mengenal. “Jangan bilang kalau dia calon noonamu?”, kata Saera.

Eottokae arra?”, kata Baekhyun. Sedang hanya Taeyeon tersenyum. “Jadi benar!”, kata Saera dengan wajah tak percayanya. “Aish, kenapa Korea sangat sempit. Dan kenapa kau tak bilang dari awal kalau yeojachingumu itu Kim Taerin”, Saera menekankan setiap katanya saat menyebut nama dari kekasih Baekhyun.

“Karena ku pikir kau tidak mengenalnya. Aku akan mengenalkannya, setelah dia pulang dari Inggris”, kata Baekhyun.

Taeyeon melihat ke arah dua teman Saera. Dia berjalan mendekati namja yang dikenalnya. “Kau pasti Park Chanyeol”, tanya Taeyeon.

Ne, majayo. Dan kau pasti Kim Taeyeon”, kata Chanyeol.

Taeyeon tersenyum, dia lalu mengulurkan tangannya. “Senang bertemu denganmu”, katanya.

Chanyeol membalas uluran tangan Taeyeon. “Senang juga bertemu denganmu noona”.

“Ini siapa?”, tanya Taeyeon sambil melepas tangannya.

“Kim Jongdae imnida”, Jongdae mengulurkan tangannya. Taeyeon membalas uluran tangannya. “Kim Taeyeon imnida”, kata Taeyeon. Setelahnya, dia mengajak semuanya masuk ke tempat diadakannya pembukaan restoran.

Di depan pintu berdirilah seorang namja yang menunggu kedatangan mereka. Dia tersenyum melihat mereka semua telah datang. “Kalian sudah datang”, tanya namja itu setelah Saera dan teman-temannya datang. Saera melihat ke arah sumber suara. Dia tersenyum melihat siapa yang menyapanya. Dia segera menghampiri namja itu.

Oppa, bogoshipoyo”, Saera segera memeluk namja yang dipanggil oppa olehnya. Namja itu membalas pelukan Saera. “Nado. Bagaimana kabarmu?”, kata namja itu.

“Aku baik-baik saja, kau sendiri?”, tanya Saera sambil melepas pelukannya.

“Aku juga baik”, jawab namja itu.

“Bagaimana bisa oppa ada disini?”, tanya Saera heran.

“Kau pikir tempat ini milik siapa?”, kata Taeyeon yang tiba-tiba sudah didekat mereka.

Saera menatap namja yang tadi dipanggilnya oppa olehnya. Saera menatap dengan tatapan minta penjelasan. Namja itu seolah mengerti arti tatapan Saera, sehingga dia tersenyum. Saera lalu membuang mukanya karena kesal.

“Jadi kalian menjebakku, agar aku datang kemari”, kata Saera.

“Bisa dibilang begitu. Ku pikir kau tidak akan mau menemui kami kembali. Karena itu, aku menggunakan cara ini agar kau mau datang”, Taeyeon memberi penjelasan.

“Dan kau membiarkannya oppa. Aish, jika memang kau memintaku untuk datang tentu akan datang oppa, tidak perlu dengan cara seperti ini. Aku sakit hati”, kata Saera.

“Aku tidak bermaksud se…..”, namja itu belum menyelesaikan kalimatnya, namun Saera sudah menyelanya, “Molla molla molla, molla molla molla”, Saera kemudian masuk ke restoran itu.

Yak, Han Saera. Aku belum selesai”. Saera tetap tak mendengarkan namja itu. Dia berjalan menjauhi mereka. Namja itu akhirnya tersenyum melihat tingkah Saera, “Aish, jinja”.

“Bukankah dia lucu saat sedang marah”, kata Taeyeon sambil menatap kepergian Saera.

Eoh, dia memang lucu saat sedang marah”, kata namja itu, dia juga melihat ke arah yang sama dengan Taeyeon.

Dan ketiga orang yang datang bersama dengan Saera juga melihat kearah yang sama. Hingga Saera sudah tak terlihat lagi karena pintu sudah tetutup. Namja itu kemudian menoleh untuk menyapa ketiga orang yang datang bersama Saera. “Kalian datang bersama?”, tanya namja itu. Mereka bertiga mengangguk. “Kalian sudah saling kenal?”, tanya namja itu kembali.

“Tidak secara langsung, hyung”, kata Chanyeol.

Baekhyun dan Jongdae menatap mereka heran. Bagaimana Chanyeol dan namja itu saling mengenal, mengapa Saera memanggilnya dengan sebuatan oppa dan masih banyak pertanyaan yang terdapat dalam fikiran Baekhyun dan Jongdae.

“Ah, masuklah. Kalian pasti memiliki banyak pertanyaan. Akan kujelaskan nanti”, kata namja itu, seolah paham dengan apa yang ada difikiran Baekhyun dan Jongdae. Mereka semua akhirnya masuk ke restoran tersebut. Suasana tempat itu cukup sibuk oleh pegawai yang mendekorasi serta menata perabot untuk pembukaan restoran.

Sementara itu Saera sudah bertemu dengan kedua orang tua serta adik perempuannya namja yang dipanggil oppa olehnya. Dia tengah mengeluh karena telah dijebak untuk datang. “Bagaimana bisa mereka menjebakku dengan cara seperti ini. Ini membuatku sakit hati”, kata Saera.

“Tapi hanya dengan cara ini, eonni mau datangkan”, kata sang adik.

“Jika memang Jungsoo oppa meminta baik-baik, aku juga pasti akan datang Minsoo-ya”, kata Saera.

Jinja? Kupikir kalian bertengkar, karena sudah lama sekali eonni tidak main ke rumah”.

“Kami tidak bertengkar. Aku hanya terlalu sibuk untuk dapat berkunjung”.

“Sesibuk itukah!”.

Saera lalu mengangguk.

“Bagaimana kabar ibumu?”, tanya sang ibu.

Eomma sedang sakit Park ahjumma”, kata Saera, raut wajahnya berubah sedih.

“Sakit! Sakit apa?”, tanya sang ayah.

“Dia koma setelah kecelakaan yang menimpanya. Jika saja aku mendengarkan ceritanya sampai akhir, mungkin dia akan baik-baik saja sekarang dan dia…”, Saera tak bisa melanjutkan kata-katanya. Air matanya telah jatuh membasahi pipinya. Melihat hal itu, Minsoo segera memeluk Saera untuk menenangkannya.

“Tenanglah eonni”, kata Minsoo sambil mengusap pelan punggung Saera.

“Karena mengejarkulah eomma mengalami kecelakaan”, kata Saera sambil terisak.

“Tenanglah sayang. Mungkin ini memang jalan yang dipilihkan Tuhan untukmu”, kata sang ibu pada Saera. Dia juga mengusap pelah punggung Saera.

Setelah mendapat nasehat dari sang ibu, Saera menghentikan tangisannya, dia segera menghapus air matanya dan melepas pelukan Minsoo. Tak lama setelahnya datanglah Taeyeon dan keempat namja yang dikenal Saera.

Apeoji, kau masih ingat dengannya kan?”, kata namja yang tadi dipanggil oppa oleh Saera, lebih tepatnya dia bernama Park Jungsoo. Dia menunjuk ke arah Park Chanyeol.

Ayah Jungsoo melihat ke arah yang ditunjuk oleh putranya. Dia merasa sedikit asing dengan wajah tersebut, namun setelah diingat-ingat itu adalah wajah keponakannya. “Park Chanyeol?”, tanya sang ayah memastikan.

Ne, annyeong haseyo samcheon”, kata Chanyeol sambil membungkukkan badannya.

Segera saja ayah dari Park Jungsoo memeluk keponakannya setelah cukup lama tak bertemu. “Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu nak?”, tanya sang paman.

Chanyeol membalas pelukan sang paman, “Aku baik-baik saja samcheon. Bagaimana dengan anda?”, tanya Chanyeol.

“Aku juga baik”, tuan Park melepaskan pelukannya. “Tak disangka kau sudah sebesar ini. bagaimana kabar orang tuamu?”.

“Mereka baik-baik saja. Seperti biasa appa sibuk dengan bisnisnya, eomma hari ini pergi ke Jepang untuk menjemput harabeoji dan halmoni”, kata Chanyeol. Chanyeol juga memberi salam hormat pada bibinya. “Annyeong haseyo ommonim”.

“Wah tak disangka kau sudah sebesar dan setampan ini. Bagaimana Korea menurutmu? Tentu beda dengan Amerika bukan?”, kata sang bibi.

It’s charming. Dan tentu beda dengan Amerika, tapi aku lebih suka disini. Meskipun kadang aku masih tersesat saat berpergian”, kata Chanyeol.

Mereka semua tertawa mendengar pernyataan Chanyeol. Tiba-tiba saja ponsel Saera berdering, hingga membuat mereka semua menatap ke arah Saera. “Jeoseonghamnida, aku akan mengangkat telfon sebentar”, Saera meninggalkan mereka semua dan pergi ke tempat lain untuk mengangkat telfon. Mereka semua melanjutkan percakapannya, menanyakan kabar masing-masing. Dan juga berkenalan saat mereka belum mengenal satu sama lain.

Saera memilih pergi ke taman belakang restoran tersebut. “Yeobseyo, Lee harabeoji”, kata Saera.

“Hallo dokter Han. Bagaimana kabarmu?”, tanya orang yang menelfon Saera.

“Aku baik-baik saja, bagaimana dengan anda harabeoji?”.

“Aku juga baik-baik saja. Tentu semua itu berkat anda dokter Han”.

“Aku hanya sebagai perantara saja harabeoji, ini semua berkat Tuhan”.

Aish, kau ini. Selalu saja begitu”.

“Tapi itu memang benar bukan. Emh, bagaimana kabar Lee halmoni?”.

“Dia juga baik-baik saja”.

“Syukurlah, bagaimana liburan harabeoji. Apakah menyenangkan?”.

“Tentu saja, seharusnya kau ikut dokter Han. Jepang sangat indah, akan ku kirim foto-foto kami nanti”.

“Jika aku ikut, kalian tidak akan merasakan bulan madu yang kedua. Karena aku pasti akan mengganggu kalian, haha….”, Saera berkata sambil tersenyum. “Aku juga menunggu foto-fotonya, harabeoji”.

“Kau bisa saja. Nanti akan ku kirim. Ow ya, besok aku dan istriku akan pulang ke Korea”.

Jinjayo. Jangan lupa oleh-oleh untukku, harabeoji”.

“Tentu saja. Ow, satu lagi. Cucuku yang dari Amerika sudah kembali ke Korea. Akan aku memperkenalkan denganmu nanti”.

Harabeoji”, dengan nada protesnya.

“Kau pasti akan menyukainya. Aku harus menyelesaikan jalan-jalanku yang terakhir. Annyeong dokter Han”.

Harabeoji. Yeobseyo”, Saera bernafas pasrah saat sambungannya sudah diputus. “Selalu seenaknya sendiri”, kata Saera entah pada siapa. Saera kemudian berjalan lemas masuk ke ruang tempat teman-temannya.

Saera melihat mereka semua telah duduk sambil menikmati hidangan yang disediakan. Saera kemudian memilih duduk di sebelah Baekhyun, karena kursinya masih kosong. Saera duduk dengan sedikit lemas.

Waeyo?”, tanya Baekhyun setelah Saera duduk.

“Mukamu kusut sekali. Siapa yang tadi menelfonmu?”, tanya Taeyeon.

“Iya, seperti dapat kabar buruk saja”, kata Jongdae ikut menyela.

Harabeoji yang menelfonku”, kata Saera.

Harabeoji”, kata Baekhyun dengan wajah kagetnya. “Bukankah kakekmu sudah tiada?”.

“Iya, bukankah kau bilang kalau kakekmu sudah tiada sejak kau kecil”, kata Jungsoo.

“Bukan kakek kandungku. Dia pasienku”, kata Saera sambil membuang nafas lemasnya.

“Kenapa memangnya?”, Baekhyun.

“Besok dia akan kembali ke Korea”, kata Saera.

“Memangnya kenapa kalau dia pulang ke Korea, eonni?”, tanya Minsoo.

“Masalahnya, dia selalu menyuruhku menikah dengan cucunya. Padahal cucunya masih di Amerika.”, kata Saera.

Mereka semua tertawa. “Kenapa kalian semua tertawa”, protes Saera.

“Bukankah itu bagus”, kata Jungsoo.

“Iya, bagus itu. Geundae, seberapa kaya kakek itu?”, tanya Taeyeon.

Yak, Taeyeon sunbae. Kau selalu menanyakan kekayaan orang lain. Sama seperti saat aku mengenalkanmu pada Jungsoo oppa, kau juga bertanya seberapa kaya dia?”, kata Saera.

“Bukankah itu wajar. Di zaman sekarang ini, kekayaanlah yang jadi tolak ukur yang paling utama”, kata Taeyeon dengan PD-nya.

“Itu kau bukan aku”, bantah Saera.

Jeongmalyo. Lalu kenapa waktu itu kau menolak lamaran Donghae sunbae? Bukankah karena dia tak sekaya kau. Benar bukan”, bantah Taeyeon.

“Bagaimana kau tahu Donghae oppa pernah melamarku? Seingatku, aku tidak pernah memberitahu pada siapapun”, kata Saera.

“Tidak ada yang tidak aku ketahui darimu, Han Saera”, kata Taeyeon.

“Terserah padamu, tapi bukan karena kekayaan aku menolak lamaran Donghae oppa”, kata Saera. Dia kemudian mengambil minuman yang akan diminum Baekhyun, dengan tanpa dosa dia meminum minuman itu sampai habis.

Yak, itu minumanku”, protes Baekhyun.

“Aku hanya sedang haus. Tidak bisakan kau berbagi”, kata Saera dengan entengnya tanpa perasaan bersalah sedikitpun.

“Lalu kenapa kau menolaknya?”, tanya Taeyeon kemudian, setelah Saera meletakkan gelasnya di meja.

“Karena….”, Saera tidak melanjutkan kata-katanya. “Aniya, aniya. Aku tidak bisa bilang padamu. Aku sudah berjaji pada Donghae oppa, untuk meyimpan baik-baik rahasia ini”, lanjut Saera.

“Baiklah, terserah padamu”, kata Taeyeon.

“Lagipula itu bukan sesuatu yang penting untuk dibicarakan”, kata Saera.

Taeyeon mengangguk setuju dengan penuturan Saera. Dia kemudian meneguk minumannnya sampai tak tersisa. Sementara semua orang yang di ruang itu hanya diam mendengar obrolan dari dua gadis yang mengaku sebagai sunbae dan hobae. Mereka lebih memilih menikmati hidangan yang disajikan.

Ponsel Saera kembali berbunyi menandakan ada pesan masuk. Dia segera membaca ini pesan tersebut yang ternyata dari harabeoji yang tadi menghubunginya. Pesan itu berisi foto-foto liburan yang tadi dimaksudkan oleh orang yang Saera panggil harabeoji. Dia tersenyum melihat foto-foto tersebut. Di foto-foto itu bahkan diberi nama tempat dimana foto-foto itu diambil. Dan foto yang terakhir adalah foto dari cucu kakek tersebut, belum sempat Saera melihatnya, layar ponselnya telah berubah tanda ada panggilan masuk. Saera segera mengangkat panggilan tersebut.

Yeobseyo?”, kata Saera sesaat setelah dia mengeser tombol warna hijau di ponselnya. Tidak terdengar suara dari seberang sana, dan hanya Saera yang mendengarnya. “Andwe”, Saera berkata dengan sangat kencang, bahkan dia juga berdiri. Dan itu membuat semua orang menoleh padanya. “Diamlah disitu, aku akan segera kesana”, Saera segera mematikan sambungan telfonnya.

Saera panik setelah mendapat telfon tersebut, dia bahkan lupa dengan foto cucu kakek tersebut yang selama ini membuatnya penasaran. Dia segera mengambil tasnya dan memasukan ponselnya ke dalamnya. “Jeoseongheyo semuanya, aku harus pergi. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus ku urus. Selamat tinggal”, Saera segera berlari meninggalkan ruang itu.

“Apa perlu ku antar”, tawar Baekhyun.

“Tidak perlu, aku akan naik taksi”, kata Saera sambil berlalu.

Semua orang yang ada di rungan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Saera.

— TBC —

Terima kasih buat yang sudah setia nunggu dan sudah kasih masukan maupun komennya. Komen kalian sangat berarti buat author.

Salam hangat: Dwi Lestari

Iklan

10 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] PROMISE (약속) (Chapter 9)

  1. yah, padahal dikit lagi tahu siapa si cucunya Lee haraboji…..
    kayaknya bang CY ya cucunya Lee haraboji, iyakan authornim?

    next, ditunggu banget ni ff….

  2. cucunya harabeoji lee itu bang ceye kah???? wkwkwk^^

    iya saera benar. dunia memang sempit.~~

    Saera mau kemana tah? apa ada kaitannya sama ibu nya?? eummm…

    nextnya ditunggu kak tariiii^_~

  3. Lanjut kaaa. Aku penasaran banget sama ff ini. Btw jangan kelamaan buat update ya wkwkwk 😁😁😁
    Semangat kaaa !!!💪💪💪💪💪

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s