[EXOFFI FREELANCE] BLACK ENCHANTED (BE GONE!) (Chapter 2)

enchanted-copy

BLACK ENCHANTED CHAPTER 2  (BE GONE!)

Author        : Rhifaery

FB        : Rhifa Chiripa Ayunda

IG        : @chiripachiripi

Blog        : rhifaeryworld.wordpress.com

Main Cast    : Airin (OC), Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun and Suho

Genre        :Fantasy, Romance

Rating        : 17+

Author Note    : Inspired by Diabolix Lovers

Summary    : Airin yang tak pernah tahu asal-usul keluarganya, tiba-tiba dikirim pihak gereja ke sebuah rumah berisikan enam pria menawan: Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun dan Suho yang ternyata masih mempunyai hubungan darah dengannya. Namun kenyataan mengatakan bahwa mereka adalah vampir yang haus akan darah manusia. Menjadi satu-satunya seorang mortal mampukah Carroline membebaskan diri tanpa pernah terikat dengan pesona mereka?

Semua orang hidup untuk sebuah alasan.

    Dalam hidupnya Airin tidak pernah berpikir bagaimana caranya hidup. Sejak kecil dirinya tinggal di Gereja dan terbiasa di rawat oleh para suster. Menghabiskan sebagian waktunya dengan berdoa, mengenal tuhan atau memberi pelayanan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ia menyadari bahwa semuanya itu tak lagi penting sekarang dibanding memikirkan dirinya sendiri. Perkara mati mungkin bukan hal yang paling ditakuti atau paling dihindari. Ia juga sudah mengenal berbagai roh jahat seperti iblis, monster atau vampir yang nyatanya ada di dunia ini. Hanya saja dia tidak menyangkah bahwa hidupnya yang sekarang telah berada di sekeliling makhluk-makhluk menggerikan itu.

    Terlalu banyak hal janggal akan hidupnya. Terkait keberadaan dirinya di kamar terkutuk ini atau fotonya bersama kelima vampir itu tempo kemarin. Barangkali dia boleh sedikit berharap bahwa identitasnya akan terungkap. Dia akan mengetahui perihal orang tua yang dicari-carinya selama ini.

    “Akkh…!” Airin sedikit memekik begitu tangannya menyentuh sesuatu yang ada di lehernya. Ini adalah bekas gigitan Sehun. Tepat di leher sebelah kiri. Ia masih ingat bagaimana rasa perih dan sakit yang tiada tara itu menembus kulitnya. Berpikir bahwa ia akan mati saat itu juga bukannya hidup dan kembali ke tempat yang benar-benar ia benci.

    “Kau bangun?” Suara itu tiba-tiba hadir. Berteleportasi dengan wujud seorang rupawan yang ada di sampingnya. Airin memang tidak pernah menggelak bagaimana tampannya Sehun saat bertransformasi atau lebih tepatnya berpura-pura menjadi seorang mortal. Setiap wanita pasti akan mengakuinya terlepas dari jati dirinya sebagai seorang…- penghisap darah.

    “Apa masih sakit?” Tanyanya lagi begitu melihat Arin memegangi lehernya.

    “Apa? Mengapa kau melakukan itu? Jika memang kita ada ikatan darah, harusnya kau melindungiku bukannya malah menyakitiku seperti ini.”

    “Melindungimu??” Kata-kata itu sontak membuat Sehun tertawa terbahak. Suaranya yang melengking sempat membuat Airin bergidik ngeri. Ditambah tatapannya yang seolah siap menerkamnya sewaktu-waktu. “Apa kau pikir aku akan melakukan itu, melindungimu?”

    Secara cepat Airin mengarahkan selimut untuk menutupi bekas luka yang ada di lehernya sekalipun perbuatannya tersebut mengundang tatapan geli dari Sehun. “Barangkali kau harus kembali bertanya pada Suho tentang peraturan yang ada di keluarga ini. Tak ada istilah saling melindungi disini tak terkecuali kau yang harus melindungi dirimu sendiri.”

    Diusapnya pucuk kepala gadis itu lembut walau gadis itu menggelak. Oh ayolah, tidak ada wanita yang menolaknya sebelumnya. “Dan yang kau bilang ikatan darah itu, Yah ku pikir kau lah satu-satunya yang masih mempunyai darah. Seperti istilah mortal, kau harus saling berbagi dengan saudaramu bukan?”

    Seketika Airin memalingkan muka. Sehun benar-benar brengsek. Iblis yang tak lain suka menyakiti manusia. Dia masih memegang kalung salip erat-erat. Seberapa kuatnya Sehun tidak akan lebih kuat dari pertolongan pemilik alam semesta. “Pergilah, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi.”

    Sedikit tercenggang dengan cara gadis ini mengusirnya. Ini adalah tempatnya, sarangnya. Gadis itu tidak boleh seenaknya mengusirnya. “Kau ingin mengusirku tapi tak memberikan apa-apa padaku?”

    “Kalau begitu biarkan aku saja yang pergi?”

    “Jika satu-satunya tujuanmu pergi adalah neraka apakah kau akan melakukannya?” Ucap Sehun semakin mengintimidasi. Memang ia ingin lebih lama bermain-main dengan gadis ini. Gadis yang dipikirnya sok pemberani dan sok kuat itu. Bahkan saat tangan dan napasnya sengaja bermain-main di tengkuknya, gadis itu sama sekali tak berkutik.  Sehun paham bahwa mainannya kini tak lagi menarik. Terlalu pasif. Jadi diapun tak berniat berlama-lama di dekat gadis itu.

    “Baiklah, pulihkan dirimu sejenak, aku akan menggunakanmu lain waktu.” Ucapnya sebegitu kurang ajarnya sebelum ia berteleport dan hilang dalam kedipan mata.

    Sungguh ini masih seperti mimpi buruk. Terkesan imajiner. Ia bahkan tak bisa membedakan antara kenyataan dan mimpi. Kenyataan bahwa dia telah di tumbalkan pada keluarga vampir dan tidak ada satu pun yang bisa menolongnya. Sehun berhasil memangsanya kemarin, tanpa belas kasihan  hingga membuatnya hampir mati kekurangan darah. Tak menepis kemungkinan bahwa saudaranya yang lain akan melakukan itu pula.

    Matahari sudah meninggi akan terlihat bodoh jika ia masih berdiam diri tanpa mandi atau kegiatan lain. Perutnya pun sudah mulai keroncongan minta diisi. Sekolah yang dilakukan di malam hari sedikit merubah kebiasaannya dari sekarang. Dari waktu tidurnya yang dimulai tengah malam atau bahkan istilah sarapan yang dilakukan tengah hari. Beruntungnya dia tidak mendapat PR dan dia pun tidak perlu belajar untuk persiapan besok.

    Sejenak Airin menurunkan kakinya dan berjalan ke arah jendela. Ini adalah favoritnya, saat ia membuka tirai dan menemukan pemandangan paling indah bahkan di neraka sekalipun. Seorang pria sedang duduk sambil bermain piano dengan jari-jari lentiknya berusaha menekan tuts dan membentuk melodi yang merdu. Terlalu indah. Bagi Airin Kai memang yang terindah diantara semuanya. Terhitung sejak pria itu melindunginya dari gigitan Sehun dia sebenarnya sudah menaruh perhatian khusus. Bahkan dalam keadaan seperti ini pun Airin bisa mengakui begitu mempesonanya vampir itu hingga tak bisa membuatnya berpikir jernih.

    “Sedang memandangiku?” Ia sangat hafal suara siapa yang tiba-tiba mengejutkannya dari belakang. Sial, Airin bahkan lupa jika mereka mempunyai kekuatan super. “Benar, kau sedang memandangiku.” Sambung Kai dengan cengiran lebar.

    Airin membalikkan badan dan memutuskan untuk tersenyum. Apa salah jika dia sekedar memandangnya. Itu bukan tindakan berlebihan mengingat bahwa mereka mungkin… adalah saudara.

    “Kita bukan saudara.” Lagi-lagi Kai berucap dan sukses membuat mata gadis itu membulat.

    “Kau bisa membaca pikiran?”

    “Sedikit dari kekuatan vampir yang kuperoleh.” Dengan cepat Kai berteleport. Ke sisi kanan, kiri dan ke segala ruangan seolah-olah sengaja menunjukkan kekuatannya. Hingga terakhir pria itu justru berdiri di hadapannya. Sangat dekat dan mungkin membuat Airin kesulitan bernafas. “Dan aku juga tahu, kau sedang tertarik padaku bukan?”

    Wajah Airin memerah. Sangat bahaya jika berada di dekatnya. Airin memutuskan memalingkan muka namun Kai justru membuat suatu gerakan hingga membuat gadis itu tak berkutik. Mendorong pelan gadis itu hingga tubuhnya menyentuh tembok seperti yang Sehun lakukan kemarin. Ia mendekatkan wajahnya seolah-olah ingin….

    “Tunggu- tunggu….- Ujarnya tiba-tiba. Seolah merutuki dirinya sendiri bahwa bukankah itu sama saja memperbolehkannya.  “Ehm… Apa maksudmu jika kita bukan saudara?”

    Yang ditanya malah tersenyum. Masih tidak mau melepaskan posisi yang mengurung Airin. “Kita bangsa vampir tidak mengenal saudara. Itu hanyalah istilah bagi para mortal. Kau tahu?”

    “La-lalu mengapa kalian hidup bersama dan menerimaku di rumah ini?”

    “Airin…?” Ucapnya lembut. Napas Kai menyapu wajahnya dan mungkin saja membuatnya mabuk kepayang. “Kami tidak pernah menerimamu tapi kau sendirilah yang masuk dalam rumah ini.”

    Kai paham jika Airin sama sekali tak mengerti ucapannya. Tangannya ia gunakan memilin-milin rambutnya dan memberi sentuhan-sentuhan kecil di pipinya. “Barangkali kau tidak keberatan jika aku adalah satu-satunya yang menerimamu di tempat ini.”

    Sebelum sempat Kai membaca pikirannya lagi, Airin memutuskan untuk memalingkan muka lantaran malu. Tapi tindakan itu justru memperlihatkan bekas gigitan yang diterimanya dari kemarin. “Apa ini gigitan Sehun?” Tangannya menyentuh bekas itu. Masih tajam dan sedikit membuat gadis itu memekik.

    “Palingkan wajahmu, aku tidak mau mendapat bekas gigitannya.”

    “Ap- apa maksudmu?” Dia lupa bahwa Kai bukan tipikal yang banyak bicara. Hingga dengan cepat pria itu pun memalingkan wajahnya dengan paksa dan menggigitnya seperti apa yang diterimanya kemarin.

    “Akkhh… Kai sakittt…?” Rintihnya kesakitan. Jika dia berpikir Kai mempunyai sedikit kepedulian, ia salah. Gigitannya begitu menyengat lebih sakit dari sebelumnya. Anehnya dia sama sekali tak bisa melakukan apa-apa seolah bahwa dia menyerahkan dirinya sepenuhnya.

    “Tolong hentikan Kaiii… ini sakiittt….” Ucapnya begitu bodoh. Tentu saja ia tahu bahwa Kai tidak mungkin menuruti permintaannya. Sampai rasa dahaganya terpenuhi ia tidak akan berhenti. Mungkin sampai dia pingsan, atau juga mati memucat tanpa darah.

    “Kaaaiii….” Tak peduli apapun yang ia ucapkan itu justru semakin membuat Kai gelap mata. Menyadari tubuhnya yang mulai melemah, Kai langsung membalikkan tubuh itu menghadapnya lantas mencium bibir gadis itu.

    Ciuman pertama Airin, hangat dan lembut walau masih sedikit sisa darah di dalamnya. Apa yang diinginkan pria ini. Lumatan yang begitu menuntut membuat Airin serta merta membuka mulutnya dan mengizinkan Kai melakukan lebih. Ia bahkan tidak sadar bahwa tangannya telah menggantung ke leher pria ini.

    Untuk sejenak, Airin berhasil melupakan ketakutannya. Segala pikiran tentang vampir, makhluk penghisap darah dan semuanya mendadak hilang. Tidak ada yang aneh dari dunia ini. Dan dia menemukan satu-satunya kebenaran yang biasa dirasakan oleh para manusia normal sepertinya. Kebanaran yang mungkin saja membuatnya malu mengakuinya. Kebanaran yang termasuk kedalam jenis kesalahan. Dan kebenaran itu bernama…

    Cinta.

                        ***

    Suho memanggilnya sarapan bahkan sebelum gadis itu sempat memulihkan diri. Maka dari itu segera diraihnya beberapa pil penambah darah dan menalannya walaupun itu menunggu waktu lama untuk bereaksi. Kai sudah pergi bersamaan dengan panggilan dari luar. Beruntung Suho tak mengikutinya masuk karena Airin tahu sejauh ini Suho lah satu-satunya vampir yang menjaga privasinya.

    “Kau tampak lemas hari ini, apa kau sakit?” Tanya Baekhyun begitu Airin tiba di meja makan. Langkahnya yang pelan sekaligus wajah putih memucatnya menggambarkan bahwa gadis itu tidak baik-baik saja.

    “Aku hanya terlalu stress karena terkurung di tempat ini begitu lama.” Airin selalu punya berbagai cara untuk berkelak dengan cara yang menyebalkan. Membuat suasana di meja makan itu mendadak canggung kecuali Sehun yang berusaha menyembunyikan senyumnya. Diam-diam kagum.

    Kai masih belum nampak di tempat ini sedikit menggelitik pikirannya. Jika pria itu disini, ia tentu tak dapat mengontrol detak jantungnya mengingat apa yang baru saja dilakukannya. Beruntung Airin menemukan hal menarik kali ini. Suatu hal yang baru disadarinya sekarang dan benar-benar diluar batas pemikirannya.

    “Kalian sarapan? Ehm maksudku apa kalian benar-benar memakan makanan manusia?” Ekspresi Airin bagai orang yang melihat keajaiban ke delapan. Saat disadarinya meja penuh dengan makanan lezat. Ia pikir Suho akan menyiapkannya seorang diri seperti kemarin. Faktanya dia justru melakukan sarapan bersama para vampir ini.

    “Ya. Memangnya kenapa. Kau berharap kami tidak makan sehingga kau bisa menghabiskan ini semua? Jangan mimpi.” Tukas Baekhyun sebegitu menyebalkan. Mungkin diantara semuanya memang Baekhyun lah yang paling tolol. Jelas maksud pertanyaannya tidak mengarah kesana tapi Baekhyun menjawabnya seolah dia tahu segalanya.

    Menyadari ekspresi kesal Airin, Suho berinisiatif menjawab. “Kami menganggap acara makan seperti ini menjadi cara efektif untuk mengobrol, saling bercerita satu sama lain seperti yang dilakukan oleh manusia.”

    “Tapi bisakah kalian menikmatinya?” Airin berpikir bahwa ia telah tertular sifat tolol Baekhyun. Tapi dia hanya tidak mampu mengungkapkan apa yang seharusnya menjadi pertanyaannya. Jika sudah memakan makanan manusia lantas mengapa masih mengincar darah manusia.

    “Tentu saja. D.O yang memasak. Kau tahu dia adalah koki paling handal diantara kita?”

    Seketika tatapan matanya mengarah ke D.O dan disambut pria itu dengan senyum malu-malu. Sungguh, Airin tidak bisa menghentikan tangannya untuk mencoba berbagai masakan yang tersedia di meja. Sekalipun Airin tak mengenal apa nama makanan itu, Airin tetap melahapnya dengan harapan ini terbuat dari bahan-bahan yang benar bukan daging bangkai atau manusia.

    “Serius, ini benar-benar enak. Aku boleh nambah kan?” Ucapannya disambut tawa geli dari semuanya. Tanpa menunggu persetujuan mereka Airin lantas menambahkan makanan itu ke priringnya sendiri.

    “Ya, kau bisa tambah sesukamu. Karena sebentar lagi kaulah yang menjadi santapan kami…” Ujaran Sehun yang awalnya dengan tujuan bercanda justru membuat gadis itu tiba-tiba mematung. Makanan di mulutnya menjadi susah untuk ditelan.

    “Hey, lanjutkan makanmu, jangan hiraukan Sehun.” Tukas Baekhyun.

    “Aku sudah kenyang.” Tanpa melanjutkan makannya Airin lantas berjalan dan kembali ke kamarnya. Bahkan ia tak memperdulikan bujukan lainnya yang menyuruh untuk melanjutkan makannya. Mereka menganggap Sehun sebagai perubahan drastis gadis itu.

    Ucapan Sehun yang benar adanya, membuatnya berpikir bahwa dia bukanlah apa-apa disini. Senyaman apapun tempat ini tentulah akan tiba saatnya rumah ini berubah menjadi neraka. Dua kali sudah dia mencicipi kematian dan ini adalah yang terparah. Saat dirimu benar-benar tak mempunyai alasan untuk hidup, apakah yang kau jadikan alasan untuk bertahan.

    Hingga sampai dia berangkat sekolah dengan lainnya, pikiran itu masih berkecamuk. Memberikan bayangan-bayangan kelam akan dunia juga takdir yang akan ia hadapi nanti.

    “Ini untukmu.” Tiba-tiba saja D.O memberikan sesuatu dalam perjalanannya menuju kelas. Sebuah kotak makan yang di dalamnya berisi makanan tadi pagi. “Kau bisa memakannya nanti karena kudengar kemarin kau kelaparan dan mencari kantin sekolah.”

    Airin merasa malu dengan pembahasan itu dengan ragu-ragu dia lantas menerima kotak yang diberikan D.O, “Terima kasih.”

    “Tak perlu memikirkan ucapan Sehun, aku justru senang melihat seseorang yang memakan masakanku dengan lahap.” D.O tersenyum tulus seolah memberikan sedikit kenyaman pada diri gadis itu sehingga dia bisa mensejajarkan langkahnya untuk menuju ke dalam kelas.

    “Masakanmu memang yang paling enak. Aku suka.” Puji Airin tulus. Bahkan masakan suster Choi saja tidak pernah seenak ini. “Kau belajar dari mana?“

    “Aku hanya menonton dari acara TV, bagaimana para manusia itu memasak.”

    “Harusnya kau memang jadi manusia saja.”

    Astaga. Rasanya Airin ingin merutuki dirinya sendiri. Harusnya dia bisa menjaga mulutnya pada saat-saat seperti ini. Beruntungnya saat melihat ekspresi D.O, dia sama sekali tak menunjukkan ekspresi kemarahan. Justru senyum manis yang tersungging di wajahnya. “Ehm… maaf.” Ucapnya benar-benar menyesal.

    “Kau tidak salah, untuk apa memintah maaf?” D.O malah terlihat santai. “Tapi kusarankan agar kau tidak mengatakannya lagi. Itu mungkin akan membuat vampir sedikit marah dan membuat lehermu semakin merah.”

    Lekas Airin menjadi panik dan menata rambutnya sedemikian rupa agar menutupi lehernya. Ia paham, kesialannya adalah bahwa dia memiliki bauh darah yang begitu anyir dan mengundang para vampir untuk memangsanya. Jika D.O sudah mengatakan itu tentu D.O tahu pula atas apa yang terjadi padanya. “Maaf, aku tidak benar-benar berniat menakutimu?”  Ucap D.O seketika. Kakinya melangkah lebih dulu sebelum gadis itu memanggilnya kembali dan memaksanya berbalik.

    “Kau tahu dimana Kai?” Dalam hati Airin panik. Apakah dia terlihat sebegitu murahannya hingga D.O menatapnya seperti itu. Kai tidak terlihat di meja makan juga pada saat berangkat sekolah. Tapi melihat ekspresinya, D.O malah jauh memberikan ekspresi yang berbeda.

    “Aku tidak bisa memastikannya, tapi di jam segini Kai selalu berada di atap.”

    “Baiklah, terima kasih.”

                        ***

    Tanpa masuk kelas terlebih dahulu, gadis itu berlari kecil menelusuri anak tangga yang menghubungkan pada lantai atap. Rambutnya yang berkibar memberikan aroma khas dari darah lezatnya. Well, tidak ada yang berhak menyentuhnya selama dia gadis milik Kletern. Walaupun gadis itu membenci posisinya setengah mati, sebagai gadis baru dan menjadi bulan-bulanan mereka, ia toh tetap mengakui bahwa Klan Kletern memberikan keuntungan juga. Hanya sedikit.

    Airin mengambil satu langkah terakhir dan percaya bahwa Kai memang ada di tempat itu. Posisinya yang membelakanginya tidak bisa membuat Airin melihat atas apa yang dilakukan pria itu. Lantas badannya pun tiba-tiba membeku melihat pemandangan apa yang disaksikannya. Kai yang dalam posisi –sulit untuk dipercayai- bahwa dia sedang bercumbu dengan seorang gadis yang ia pastikan manusia.

    Airin bahkan melihat jelas bagaimana dua kancing atas gadis itu terbuka. Rambut mereka acak-acakan dan desahan kecil yang keluar dari mulutnya. Dan selain dari melakukan itu rupanya Kai juga menggigitnya. Karena dia melihat noda merah juga tetesan darah yang keluar dari leher gadis itu.

    “Kau disini mau mengantre yah?” Ucapan Kai yang tiba-tiba, sontak menghentikan pemandangan atas lamunannya tadi. Airin memalingkan wajah seolah-olah jijik dengan perlakuan pria itu. Jadi inikah yang setiap hari dilakukannya di atap. D.O benar-benar memberi saran yang baik untuk mengetahui betapa bajingannya pria ini.

    “Seberapa sering kau melakukan ini?” Tanyanya acuh.

    “Sesering kau yang mengikutiku diam-diam.” Kai menjawab dengan tenang. Disuruhnya gadis itu pergi sementara dia mengancingkan kembali bajunya dan berjalan menuju Airin. “Well, apa yang membuatmu datang kesini?”

    “Kau tentu bisa membaca apa yang kupikirkan saat ini.”

    “Aku tak bisa membacanya karena matamu berair.”

    Benar-benar menyebalkan karena Kai mengucapkan begitu apa-adanya. Airin mengusap air mata yang mengenangi pelupuknya. Ia bahkan tidak tahu alasan dia menangis. Semua harapan ternyata tidak sesuai ekspektasinya. Harusnya dia tidak terlalu bermimpi karena Kai tetaplah sosok vampir yang benar-benar bajingan untuknya. Penghisap darah. Benar-benar menjijikkan.

    “Aku membencimu.” Ungkapan itu melucur begitu saja. Menatap tajam Kai yang malah menatapnya penuh iba.

    “Apa yang mendasarimu hingga berhak mengatakan itu padaku?”

    “Aku berhak mengatakannya pada makhluk menjijikkan sepertimu.” Airin mengungkapkannya dengan lantang dan seketika membuat tatapan pria itu berubah. Ia bahkan tidak tahu apa kesalahannya namun dengan beraninya gadis itu berucap tidak sopan.

    “Luar biasa, kau bahkan tidak tahu sekarang berhadapan dengan siapa?” Ungkapan Kai seolah-olah menegaskan tidak ada lagi rasa kasihan terhadapnya. Pria itu kemudian menarik dagu Airin agar gadis itu melihat ke arahnya sekalipun tidak ia temukan tanda-tanda ketakutan dari wajah gadis itu.

    “Kau hanyalah seorang monster yang lebih rendah dari manusia…-

    “DIAM!” Hampir lepas kendali Kai melempar tubuh Airin membentur tembok dan membuatnya meringis kesakitan. Seolah belum cukup pria itu kembali mencengkram pergelangan tangan gadis itu. Sangat kuat dan mungkin bekas merah akan membentuk disana. “Kuperintahkan kau untuk diam atau aku akan menyobek mulutmu….”

    Kai menghimpit badan itu ke tembok hingga hampir tidak ada jarak diantaranya. Rasa sakit yang begitu parah membuat Airin tak kuasa membendung air matanya. Ia bahkan menduga ada sebagian tulangnya yang retak akibat dari perbuatan setan jahannam itu.

    “Tak kuduga, kau lebih berani dan murahan dari perkiraanku.” Kai kembali melampiaskan kekesalannya dengan membuka kancing atas gadis itu. Menghembuskan napas di antara leher dan telinga gadis itu hingga Airin merasakan sesuatu. “Sekali lagi aku menggigitmu, apakah kau masih kuat untuk hidup?”

    Antara menyesal dan tidak yang dilakukan Airin hanyalah menangis. Ia terlanjur membenci pria ini setengah mati sekalipun kata-katanya tadi begitu keterlaluan. Kai bukanlah penolongnya. Barangkali ia terlalu berlebihan mengartikan ciuman kemarin. Bukan ciuman yang penuh dengan cinta melainkan nafsu bejat pria itu sesaat. Dan apa yang lebih menyakitkan dari rasa sakit hatinya.

    Sementara itu, cengkraman Kai yang semakin kuat justru membuatnya semakin sulit bergerak. Bahkan bernafas pun terasa sulit. “Jika aku melepaskanmu, maukah kau menuruti perkataanku?”

    Airin mengangguk dengan cepat.

    “Karena ini benar-benar perintah yang harus kulakukan maka aku ingin…- Ucapan Kai memelan seolah ingin mengutarakan rahasia terbesarnya. “Pergi dari sini secepatnya.”

    Gadis itu hampir tak percaya. Walaupun Kai sudah membebaskannya dia masih menatap Kai yang penuh tanya.  Hingga pria itu terpaksa menyentaknya dengan kasar, “KUBILANG PERGI!!!”

    Teriakannya mungkin membuatnya terkejut setengah mati dan memutuskan untuk lari dalam kondisi apapun. Dari nada suaranya terdengar bahwa Kai tidak baik-baik saja. Ia tidak sekedar menyuruhnya pergi karena ia toh bisa langsung melepaskannya tanpa berteriak-teriak seperti tadi. Ia menduga ada yang tidak beres dengan semuanya. Instingnya mungkin tidak setajam vampir tapi firasatnya mengatakan bahwa ia harus lari dari sini. Dari para vampir ini secepatnya.

    Tanpa menunggu banyak waktu, Airin mempercepat larinya, menelusuri lorong demi lorong untuk mencari jalan keluar. Ia toh sudah pernah keluar masuk dari gedung besar ini dan tidak sulit menuju gerbang untuk melarikan diri. Sialnya Airin lupa bahwa ini masih jam pelajaran sekolah. Gerbang dikunci, dengan posisinya yang begitu tinggi ia tidak mungkin dapat memanjatnya.

    Tak mau kehabisan akal, dipilihnya gerbang belakang yang disana masih terdapat pohon-pohon yang mengarahkannya ke jalan keluar. Airin memilih dahan yang kuat dan berusaha memanjat. TIdak mempedulikan roknya yang berkibar tertiup angin toh disini tidak ada yang melihatnya. Hanya tinggal satu panjatan lagi maka Airin akan benar-benar bebas. Sayangnya sebelum keinginannya terwujud sebuah benda menyentuh tengkuknya dengan keras keras dan membuatnya pingsan seketika.

    Badan Airin terhuyung dan dengan sigap ditangkap seseorang di bawahnya. Seseorang yang sedari tadi melihat aksinya (berlari-lari di koridor juga aksi memanjatnya) namun berpura-pura tidak mengetahuinya. Sedikit senyum dari pria itu tersungging menangkap tubuh lemas.

    “Kau tak akan bisa pergi semudah itu honey.”

                        TBC

Iklan

18 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] BLACK ENCHANTED (BE GONE!) (Chapter 2)

  1. Barusan mau milih kai tp gak jadi deh. Walu pun sehun agak main2 tp dia sepertinya gak pernah main sam perempuan(dalam arti itu). Cocok sama lagu exo monster nih

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s