[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 3)

img_70571

Tittle/judul fanfic        : Reason Why I Life

Author                : Park Rin

Length                : Chaptered

Genre                : Romance, Family, Angst

Rating                : PG-13

Main Cast&Additional Cast    : Baekhyun

                 Park Sung Rin (OC)

                 Mingyu Seventeen

                 Ect.

Summary    : Aku mencintaimu, tapi mengapa kau malah mempermainkanku?

Disclaimer    : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

Author’s note    : Halo! Ini FF pertama author, semoga kalian suka dengan FF ini. Selamat membaca.

“Tidurlah, aku tahu hari ini adalah hari sulit untukmu… dan untuku…” Baekhyun memutus ucapannya. Suaranya mulai gemetar, tapi aku tak bisa bertanya. Mataku terasa berat, kemudian gelap membayangiku.

Aku merasakan cahaya masuk dari cela-cela jendelaku. Aku membuka mataku pelan, lalu mengucek mataku. Kemudian aku mengingat kejadian terakhir sebelum aku tertidur, mulai melihat keseluruh ruangan mencari Baekhyun. Tapi, aku malah mendapati aku tertidur dikamar bukannya di sofa. Apakah yang semalam hanya mimpi?

Aku berjalan keluar, diluar aku dapat mencium bau harum khas roti bakar menyeruak. Siapa yang memasak roti bakar pagi-pagi begini? Kakiku melangkah kedapur, bisa kulihat seorang laki-laki sedang memegang pan sambil membolak-balik roti tawar, tapi aku belum bisa pastikan siapa orang itu.

“Kau sudah bangun.” Ah, Mingyu ternyata. Entah kenapa ada setitik kekecewaan menghingapili. Semalam benar-benar mimpikah?

“Eung…” Jawabku tak bersemangat kemudian duduk di meja makan.

“Jangan marah, Rin-a. Aku benar-benar tak tahu akan ada latihan ekstra. Pelatih juga tidak memberikanku untuk mengambil telepon.” Mingyu merajuk. Mingyu mengira aku marah, sebenarnya aku tidak marah, toh aku tahu Mingyu pasti memiliki penjelasan yang jelas mengapa ia tak bisa menemuiku.

“Eung…” Jawabku sama kemudian melipat tanganku kemudian menaruh kepalaku di lipatan tanganku. Entahlah, pikiranku menjurus ke Baekhyun sekarang.

“Ya! Sebegitu marahnya kah kau? Bukannya kau semalam bersama laki-laki itu? Syukur aku cepat datang jadi ia tidak macam-macam. Bagaimana bisa kau mengajak lelaki pulang?” Kata Mingyu jengkel. Aku segera mengangkat kepalaku.

“Aku dengan siapa? Laki-laki? Baekhyun? Lalu dimana ia sekarang?” Jawabku cepat. Semalam bukan mimpikan?

“Tentu saja aku suruh pergi! Bagaimana bisa kau mengajaknya pulang? Bagaimana bisa kau mengajak laki-laki kesini? Aku tau dia idolamu, tapi bisakah kau mengontrolnya sedikit? Kenapa kau jadi segampang itu?” Mingyu meninggikan suaranya. Aku hanya melotot mendengar akhir kalimatnya. “Aku gampang?”

Ya! Kim Mingyu! Kau bilang aku gampang? Ya! Asal kau tahu saja, jika bukan karena dia mungkin pagi ini kau melihatku sudah mati!” Kataku marah, aku melupakan fakta bahwa Mingyu satu tahun lebih tua dariku. Aku melangkah dengan cepat ke kamar, tanpa mempedulikan suara Mingyu yang memanggilku.

BRAK

Aku tak peduli dengan pintu kamarku yang bisa saja akan hancur bila aku tutup sekeras itu. Air mataku mulai mengalir, “Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu padaku?” Kataku dalam hati sambil menangis.

“Rin-a, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya sedang kesal karena kau membawa laki-laki lain kerumah. Aku hanya khawatir dengan keadaanmu.” Kata Mingyu dari luar sana. Nada suaranya sekarang berubah.

Aku memejamkan mataku, berusaha mengerti posisi yang di hadapi Mingyu. Namun, semakin aku berusaha mengerti, semakin deras air mataku turun. Aku mulai menangis keras, kata-kata Mingyu terlalu menyakitkan, ditambah ingatan semalam yang perlahan mulai datang.

“Rin-a, jangan menangis. Aku benar-benar menyesal.” Kata Mingyu kemudian. Setelah itu pintu kamarku terbuka. Salah diriku sendiri yang hanya membanting pintu itu tanpa menguncinya. Mingyu mulai mendekatiku dan memelukku. Pelukan lama yang benar-benar aku rindukan.

Tangisku mereda, tapi Mingyu masih setia memelukku. Entahlah, apakah ia juga merindukan saat-saat seperti ini. Terakhir kali Mingyu memelukku adalah saat kami bertemu di seoul setelah 2 tahun terpisah. Saat itu aku juga menangis, aku benar-benar merindukan sosok Mingyu, sama seperti waktu itu.

“Sekarang, ceritakan padaku apa yang terjadi semalam. Kenapa bila tidak ada Baekhyun kau bisa mati?” Kata Mingyu setelah tangisanku benar-benar reda. Ia menatapku teduh, membuatku kembali bernostalgia. Aku sungguh merindukan Mingyu yang dahulu.

Aku menceritakannya, tangan dan kakiku gemetar saat aku menceritakannya dan mataku juga kembali berkaca-kaca, aku siap menangis kapan saja. Aku hampir saja kehilangan kendali saat menceritakan bagaimana laki-laki itu mencium bibirku, untung Mingyu memengenggam tanganku. Ia memandangku, matanya memancarkan penyesalan.

TES

Mingyu menangis, tepat setelah aku mengatakan permohonanku waktu itu, permohonan sebelum Baekhyun datang menolongku. Genggaman tangan Mingyu juga semakin mengerat, seakan ia benar-benar menyesal telah membuatku menunggu hingga akhirnya mengalami kejadian semalam.

“Maafkan aku. Seharusnya aku menemuimu malam itu. Seharusnya aku mengangkat teleponmu waktu itu. Seharusnya aku mengikuti perasaanku untuk segera menyusulmu waktu itu.” Mingyu mengatakan itu sambil menangis dan tertuntuduk.

“Tak apa-apa, aku mengerti.” Kataku kemudian. Aku meruntuki diriku yang benar-benar tak bisa lepas dari Mingyu. Aku selalu mengalah dihadapannya, selalu berbuat bodoh dan akhirnya membuat diriku sendiri menderita.

Mingyu memelukku. “Maafkan aku,aku tak bisa menjagamu dengan baik. Semalam pasti terasa sangat berat, bukan? Maafkan aku, aku malah mengusir orang yang telah menyelamatkan kehidupan adikku.” Ujar Minggyu membuat air mataku ikut mengalir.

Kami bertahan diposisi itu cukup lama. Keadaan itu berakhir setelah hari mulai siang dan perut kami sama-sama kelaparan. Mingyu menggandeng tanganku ke meja makan, ia menggandengnya erat seakan aku akan pergi jauh jika ia melepaskannya. Aku tersenyum simpul, akhirnya Mingyu kembali, pikirku.

“Rin-a, aku akan pergi latihan sekarang.” Teriak Mingyu dari arah kamarnya.

“Eung…” Jawabku santai. Diriku sekarang sudah benar-benar tenang setelah hampir 12 jam Mingyu menemaniku tanpa pergi sedikitpun. Aku juga tidak boleh egois.

Mingyu udah mulai dikenal sekarang, ia bahkan sudah memiliki fans meskipun tak banyak. Hal itu yang selalu mendasariku untuk selalu memahami Mingyu, karena aku tahu ini mimpi yang selalu Mingyu inginkan sejak dahulu.

Mingyu juga tak kalah menderitanya denganku. Sejak kecil, ia harus merelakan waktu tidurnya terbuang hanya demi lolos audisi. Setelah lolos audisi, ia harus rela hidup jauh dari orang tua. Keluarga Mingyu yang sederhana juga membuat Mingyu terbebani untuk segera menghasilkan uang. Bukan hanya aku yang ia abaikan, tetapi juga tubuhnya, tak jarang aku mendapat laporan dari rekan satu grup Mingyu mengatakan bahwa Mingyu cedera lagi karena terlalu keras berlatih. Dalam sebulan Mingyu bisa cedera satu hingga dua kali, dan itu selalu membuatku iba.

Impian Mingyu untuk menjadi penyanyi dan membahagiakan orang tua, membuatku sadar bahwa aku tak boleh terlalu egois. Lagipula, Mingyu mengabaikanku bukan karena ia menginginkannya. Aku tak boleh merusak hidup Mingyu hanya karena aku begitu tergantung dengannya.

“Rin-a setelah aku pergi ingat kunci pintunya. O, ya sepertinya Baekhyun menitipkan pesan semalam sebelum aku usir. Aku menaruh pesan itu di atas rak buku. O ya, dan satu lagi, jika kau bertemu lagi dengannya katakanlah aku ingin menemuinya.” Celoteh Mingyu sambil mengengenakan jaket cokelatnya.

“Eung…” Jawabku asal, kemudian berjalan mengikuti Mingyu ke pintu keluar.

“Rin-a, aku berangkat sekarang.” Kata Mingyu diikuti suara pintu tertutup, setelah itu aku mengunci pintu rapat, lalu berjalan menuju rak buku.

“Rin-a maaf aku pulang tanpa pamit, semoga kau baik-baik saja setelah aku tinggalkan kau dengan laki-laki galak yang mengaku kakakmu ini. Setelah kau membaca surat ini tolong segera hubungi aku”

Senyumku mengembang, sepertinya setelah ini Baekhyun bukan hanya menjadi idolaku, tapi ia juga akan menjadi teman baikku. Aku kemudian mengetik nomor itu, lalu segera meneleponnya.

“Halo?” Jawab suara itu di seberang sana. Astaga, sekarang aku bisa berkomunikasi dengan idolaku lewat telepon?

“Halo, apakah benar ini dengan Baekhyun-ssi?” Pertanyaan bodoh keluar dari bibirku. Tentu saja ini dia, mana mungkin aku tidak tahu.

“Iya, ini siapa?”

“Ini aku, Rin.”

“O, Rin! Akhirnya kau menghubungiku, aku pikir laki-laki galak itu tidak menyampaikan pesanku.” Katanya ceria membuat jantungku berdegup kencang.

“Hahaha, dia tidak segalak yang kau pikirkan. Dia hanya mengkhawatirkanku, jadi dia marah. Dia berpesan padaku bahwa dia ingin menemuimu.” Kataku sambil tersenyum.

“Hm… dia ingin menemuiku? Kau yakin aku tidak akan di usir lagi?” Jawabnya terdengar bercanda.

“Tentu saja, dia ingin mengucapkan terimakasih padamu.” Kataku kemudian.

“Baiklah, bagaimana jika 3 hari lagi kita bertemu? Café langgananku? Aku yang menjemputmu.” Katanya kemudian. Astaga, seorang EXO Baekhyun mengajakku bertemu? Mau menjemputku pula. Ya ampun, aku benar-benar fans beruntung.

“Tentu saja, tapi aku tak yakin ia bisa datang saat itu, kakakku seorang trainee.” Jawabku setenang mungkin. Tak mungkinkan aku melompat-lompat sambil berbicara dengan Baekhyun di telepon.

“Ya sudah, kita berdua saja yang bertemu.” Katanya santai. Ya ampun, apakah benar aku di alam nyata, atau aku masih bermimpi?

“Tentu saja.” Aku menjawabnya tanpa berpikir. Bagaimana bisa aku menolak penawaran dari seorang EXO Baekhyun?

“Oke, untuk waktunya nanti akan aku hubungi lagi. Sudah ya, aku harus latihan lagi. Sampai bertemu lagi.

“Oke.” Aku kemudian mematikan teleponku. “Sungguh beruntungnya diriku.” Kataku dalam hati.

Hari ini adalah merupakan salah satu hari terbahagia dalam hidupku. Aku mulai mengoleskan BB cream di wajahku kemudian meratakannya, dilanjutkan dengan eye shadow cokelat tipis, blush-on pink, dan terakhir liptint pink. Rambutku yang bergelombang aku biarkan tergerai. Aku kemudian mengenakan baju kaos cokelat muda, dipadukan dengan celana pendek kain berwarna cokelat tua dan jaket tipis berwarna cokelat muda namun tak semuda bajuku. Kemudian aku mengambil tas selempang panjang berwarna cream dan mulai menggunakan ankle bootie berwarna cokelat tua. Astaga dandananku seperti orang yang akan kencan.

Ting Tong

Bel pintu depan berbunyi, aku segera membuka pintu. Terlihat Baekhyun menenakan sweeter cokelat tipis dengan kerah baju yang keluar berwarna putih dipadukan celana jeans hitam dan sepatu sneaker berwarna hitam putih. Ia juga mengenakan topi hitam dan masker hitam, ah… tentu saja ia harus menyamar.

“Kau cantik sekali.” Kata Baekhyun dibalik maskernya. Entah dia mengejekku atau memujiku, aku tak bisa melihat ekspresi mukanya dibalik masker itu.

“Terima kasih.” Jawabku asal, tentu saja karena aku sudah sibuk ber-blushing ria. Bagaimana tidak ber-blushing ria, kau dikatakan cantik oleh idolamu sendiri meskipun kau tak tahu itu serius atau hanya bercanda.

“Ayo berangkat!” Katanya Baekhyun kemudian.

Beberapa menit berjalan, kami sampai di café langganan Baekhyun. Awalnya aku tak menyangka ini café langganannya, karena ini hanya sebuah café kecil yang dari luar tak begitu menarik. Aku yang tinggal di dekat sinipun tak pernah tertarik untuk memasuki café ini. Penjaga café ini adalah juga seorang ibu-ibu umur 30an.

Ahjuma, aku pesan ice Americano satu. Kau ingin apa Rin?” Tanya Baekhyun, membuyarkan lamunanku tentang café ini.

“Ah, samakan saja denganmu.” Kataku asal.

“Oke, aku pesan 2 ice Americano, ahjuma.” Kata Baekhyun kemudian. Ahjuma itu kemudian tersenyum lalu menyuruh kami untuk duduk.

Aku dan Baekhyun memilih tempat duduk di pojok dekat dengan dapur, namun disebelah kami ada semuah jendela yang memperihatkan taman kecil dan lorong sempit. Tak lama ibu itu datang dengan dua es kopi dinampannya.

“Siapa dia? Apakah pacar barumu?” Kata ibu itu setelah menaruh dua es kopi di meja kami. Setelah itu dapat dipastikan wajahku memerah seperti tomat.

“Menurut ahjuma?” Kata Baekhyun dengan senyum jahilnya membuatku tambah memerah. Ibu itu hanya menggeleng, sambil tersenyum.

“Jadi, bagaimana tempat ini bisa menjadi langgananmu, Baekhyun-ssi?” Kataku kaku, astaga padahal semenjak aku menelponnya waktu itu, kami terus berhubungan melalui kakao talk, namun tetap saja rasanya masih kaku.

“Ya, sudah aku bilang panggil aku oppa, bukankah kau bilang kau fansku, masa kau selama ini tidak memanggilku oppa. Setiap kau memanggilku dengan akhiran –ssi, aku merasa kita baru pertama kali bertemu.” Kata Baekhyun kesal, dengan bibir di pout-kan. Astaga dia begitu imut, lupakan jarak dari umur kami yang mencapai enam tahun.

“Ah, ya… Jadi, oppa bagaimana kau tahu tempat ini?” Kataku kemudian.

“Aku tahu tempat ini semenjak aku debut, waktu itu aku tidak bisa menemukan café yang membuatku nyaman karena aku sudah mulai dikenal. Setiap aku masuk ke sebuah café, pasti penjaga café atau pengunjung café akan histeris dan itu membuatku tak nyaman. Lalu, Chanyeolie mengajakku kesini karena ia tahu café ini sepi saat sore hingga malam hari, selain itu ahjuma adalah sahabat baik ibu Chanyeolie, jadi ahjuma akan selalu menjaga privasiku dengan baik.” Jelas Baekhyun panjang lebar.

“Berarti kau sering kesini?” Tanyaku yang dibalas anggukan Baekhyun. “Tapi, bagaimana bisa aku tak pernah melihatmu dekat sini? Café ini dekat sekali dengan apartemenku.” Kataku heran.

“Kau tak pernah melihatku karena penyamaranku yang bagus.” Katanya bangga membuatku terkekeh.

Kemudian ponselku berdetar… Mingyu mengirimiku pesan.

“Maaf aku tak bisa datang, ada latihan malam hari ini dan pelatih tak memberiku izin. Kalian mengobrolah, sampaikan salamku pada Baekhyun Hyung.”

Ya, sekarang Mingyu juga dekat dengan Baekhyun. Setelah aku mengatakan Baekhyun memberikanku nomornya, Mingyu langsung menghubunginya dan minta maaf. Kemudian, mereka mulai dekat.

“Siapa?” Tanya Baekhyun penasaran.

“Ini dari Mingyu oppa, katanya ia tak bisa datang hari ini karena ada latihan malam. Minggyu oppa juga menitipkan salam untukmu.” Kataku pelan, tiba-tiba mood-ku rusak. Terakhir aku bertemu Mingyu adalah saat ia menemaniku dirumah waktu itu dan sekarang aku benar-benar merindukannya.

“Kehidupan trainee memang seperti itu, maklumi saja.” Kata Baekhyun seperti perubahan ekspresiku. Aku hanya mengangguk.

Kemudian, malam itu aku habiskan dengan mengobrol bersama Baekhyun mengenai banyak hal. Asal-usulku bagaimana bisa aku menjadi adik Mingyu, bagaimana aku bisa mengikutinya ke seoul, bagaimana aku bisa menjadi penggemar berat Baekhyun, hingga bagaimana sikap Mingyu sekarang. Aku menceritakan semuanya. Baekhyunpun begitu, meceritakan keluarganya, ia juga meceritakan masa traineenya, menceritakan bagaimana kehidupannya di EXO, hingga cerita tentang Kris yang keluar.

Setelah malam itu, aku dan Baekhyun menjadi sangat dekat. Bahkan aku sudah tak canggung lagi berada di dekat Baekhyun, aku dengannya sudah seperti teman dekat. Malah sekarang terkadang aku lupa bahwa temanku ini adalah seorang member dari boyband terkenal dan aku begitu mengidolakannya, dulu. Aku juga sudah sempat bertemu dengan member yang lain, saat aku menjadi undangan khusus Baekhyun saat konser pertama EXO.

Setelah konser petama EXO dimulai, Baekhyun memang menjadi sangat sibuk. Namun, ia tak pernah lupa untuk memberiku kabar, bahkan saat diluar negeri sekalipun. Baekhyun juga selalu mengingatkanku untuk jangan pulang malam-malam lagi. Sedangkan Mingyu, hanya bisa menghubungiku beberapa kali karena jadwal latihannya yang mulai sangat padat. Saat aku merindukan Mingyu, dengan cepat Baekhyun akan menteleponku dan menenangkanku. Begitu pula dengan Baekhyun, saat ia merasa kelelahan dan jenuh, aku juga akan segera meneleponnya dan memberikannya semangat. Hubunganku dan Baekhyun terus tumbuh dan aku sadar perasaanku ikut tumbuh perlahan, bersamaan dengan kedekatanku dengan Baekhyun.

Senja itu aku berjanji dengan Baekhyun di apartemenku. Sekarang Mingyu juga tak mempersalahkan jika Baekhyun sering bermain ke rumah, semasih Baekhyun pulang sebelum pukul 11 malam.

Ting Tong

Suara bel pintu berbunyi, aku segera membuka pintu. Tentu saja Baekhyun datang lengkap dengan penyamarannya. Namun, aku merasa Baekhyun berbeda, ia terlihat lebih pendiam dan melenggang masuk dengan seenaknya, tanpa menyapaku.

“Kau kenapa, oppa?” Tanyaku langsung saat Baekhyun langsung duduk di sofa.

“Tidak apa-apa, hanya sedang tidak mood.” Kata Baekhyun kemudian. Ia melepas penyamarannya, kemudian menyuruhku duduk disebelahnya.

Kepalanya bersender di bahuku sesaat setelah aku duduk, jantungku langsung berdegup kecang. Aku tahu aku memiliki perasaan yang berbeda setelah baekhyun selalu memberikan perhatian yang menurutku berlebih kepadaku. Tapi, aku selalu mencoba menahannya, aku tahu aku tak pantas untuk Baekhyun.

“Kenapa?” Tanyaku sambil berusaha menahan diri.

“Aku benar-benar bingung, perasaan selalu susah dimengerti, dulu aku begitu menginginkannya, setelah aku mencapainya aku malah menginginkan yang lain.” Kata Baekhyun. Kemudian bangun dari bahuku lalu memengang pipiku dan mengarahkan ke wajahnya.

“Apa kau sakit?” Tanyaku heran, setelah melihat perlakuan Baekhyun. Dalam posisi seperti ini, bagaimana bisa aku menahan perasaanku?

“Ya, aku sakit. Aku sakit karena aku bingung, aku bingung mau yang mana.” Kata Baekhyun menatapku lekat. Aku berusaha menghindar dari tatapan lekatnya. Aku takut tak bisa mengontrol perasaanku.

Oppa, kau kenapa?” Tanyaku tanpa memandangku.

“Rin-a, apakah setelah kejadian malam itu, sudah ada yang menghapus jejak preman itu di bibirmu?” Tanya Baekhyun tiba-tiba. Ini pertama kalinya ia mengungkit masalah itu setelah hampir sebulan. Baekhyun tahu aku sangat trauma dengan kejadian itu, jadi kami tak pernah membahasnya. Aku menggeleng.

“Haruskah aku mengikuti perasaanku?” Bisik Baekhyun pelan, namun aku bisa mendengarnya. Saat aku akan menanyakan maksud perkataannya, tiba-tiba…

Cup

Mataku membulat, bibir Baekhyun sekarang mengecup bibirku. Jantungku berdebar kencang, aku benar-benar tak bisa mengontrol perasaanku. Ciuman itu semakin dalam, aku bahkan tak sanggup untuk menolaknya. Aku tahu aku sudah benar-benar jatuh dengan pesona Baekhyun.

Ciuman itu berlangsung cukup lama, hingga kami benar-benar kehabisan oksigen. Baekhyun melepas ciumannya, kemudian menatapku. Jantungku berdegup kencang, aku benar-benar tak sanggup mengontrol perasaanku.

“Rin-a, dengarkan aku baik-baik.” Baekhyun menatapku lekat dan aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.

“Aku sudah memperhatikanmu sejak dulu, sejak kita bertabrakan waktu itu. Aku kira perasaanku tak sampai sejauh ini, namun ternyata aku salah. Aku mulai memperhatikanmu dari kejauhan, tepatnya melalui café itu. Sampai akhirnya kejadian mengerikan itu tejadi, kejadian itu yang membuatku semakin dekat denganmu. Semakin aku dekat denganmu membuatku semakin yakin dengan perasaanku. Park Sung Rin, saranghae.” Katanya lekat. Aku berusaha mencari kebohongan dari matanya, namun tak dapat kutemukan. Haruskah aku menerimanya?

Oppa, aku hanya gadis biasa, aku tak cocok dengan seorang…” saat aku akan bicara lagi, bibir itu mengecupku singkat. Aku terdiam.

“Aku tak menerima penolakan, katakanlah kau juga mencintaiku. Aku tahu itu, aku bisa merasakannya, Rin. Kau juga mencintaiku.” Ia begitu serius, membuatku tak bisa mengelak selain mengakui perasaanku.

Nado.” Kataku setelahnya. Aku menyerah, tak sanggup melanjutkan pertarunganku dengan perasaanku.

Gomawo.” Ia memelukku.

“Aku tak akan melepasmu.” Bisik Baekhyun pelan di tengah pelukan kami.

Baekhyun kemudian berpamitan setelah jam menunjukan pukul 9 malam. Ia pulang lebih cepat, entah apa alasannya. Ia memelukku begitu erat sebelum ia pergi, membuar hatiku tak enak, tapi aku berusaha positif, mungkin karena mereka jarang bertemu maka Baekhyun memelukku erat. Apalagi jadwalnya setelah ini juga bertumpuk, dan malam itu aku membiarkan Baekhyun pergi.

Esoknya Baekhyun tak menghubungiku, ia tidak membalas pesanku maupun mengangkat teleponnya. Baekhyun seperti hilang tertelan bumi. Member EXO yang lain juga tidak membalas pesanku. Aku mulai takut, apakah semalam Baekhyun hanya mempermainkanku?

“[BREAKING] Girls Generation’s Taeyeon dan EXO’s Baekhyun Are Reported To Be Dating.”

Berita itu mengguncangku, setelah berita itu keluar aku segera meminta izin untuk pulang terlebih dahulu. Tak mungkin aku bisa menahan semua perasaanku di sekolah. Saat itu untuk pertama kalinya aku kecewa dengan Baekhyun. Jadi, Selama ini ia hanya mempermainkanku?

TBC

Iklan

10 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 3)

  1. BAEKYEON LAGI, hatiku ngilu pas ngeingat masa-masa BAEKYEON itu aku nggak fokus belajar buat cari buktinya sampai ke dasar, sampai peringkat aku turun dan terlempar dari kelas unggul yang aku pertahankan 2 tahun ke kelas reguler gara gara berita itu~ smeoga di ff ini Baekhyun jadinya sama Rin! BaekRin fighting!!!!!!!!!!!!!!

    • Terima kasih sudah membaca!!! Sekali lagi author minta maaf karena mengungkit skandal baekyeon. Maafkan author yang membuka kembali luka kalian 😭😭

  2. sakit sakit sakit sialll aku udah feeling bakal ada adegan baekyeon dan aku benci baekyeon kakak maafkam aku karena aku salah satu haters baekyeon😭😭😭😭😭😭😭 aku jadi njlebb banget kak langsung pecah seluruh jiwa raga ini.lebay biarin. huuh kakak author kenapa harus beginiii hiks hiks hiks huwaaaa ah gatau baperlah kalo dah baca yg menyangkut baekhyun. cepet dilanjut ya kak aku tunggu next chapternya SEMANGAT

    • Terima kasih sudah membaca!! Wah, kok bisa sama gitunya cerita sama pengalamanmu… semoga ending dari cerita ini tidak sama sama pengalamanmu ya…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s