[KAI BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in JUNGGU (2) — IRISH’s Tale

irish-holmes-in-junggu

HOL(M)ES

AGEN-D in Jung-gu (2)  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s D.O.

Special appearance EXO’s Baekhyun & Truwita`s OC Alessa Cho

An adventure, dystopia, family and politic story  rated by Teen served in two-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH ft. Truwita

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Kai & D.O. of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Jung-gu [Kai]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Jia-yi terdiam. Melihat keadaan City Hall dan sekitarnya yang sudah hancur. Menyisakan puing-puing bangunan yang terlihat mengerikan dengan bercak-bercak darah segar yang tercampur oleh debu. Membayangkan sedahsyat apa goncangan yang dihasilkan, mengingat tempat ini adalah tempat yang penting dan berpengaruh di Korea Selatan.

“Kau sudah melihatnya di Namdae-mun, bukan?” Kyungsoo bicara tanpa menoleh, sibuk menyentuh layar pada sebuah benda yang melingkar di tangan, seperti sebuah arloji.

“Ya, tapi ini—”

“—Tentu saja, apa yang kau harapkan dari sebuah pusat pemerintahan yang sudah jelas sebagai salah satu target penting?”

Jia-yi kembali terdiam. Enggan balas menjawab. Kyungsoo benar, dia sudah melihatnya di Namdae-mun tapi tetap saja melihat keadaan serupa meski tidak mengalaminya secara langsung, membuatnya sedikit traumatis. Membayangkan ada berapa banyak Kris yang akan mencari anaknya, dan ada berapa banyak Ren yang ketakutan menunggu ditemukan. Hal itu membawa perasaan takut dan tak nyaman. Tanpa sadar, tubuhnya juga sedikit bergetar.

“Pakai ini.” Kyungsoo melemparkan sebuah senter kecil bertali yang biasa dipakai di kepala. “Ada beberapa tempat yang belum mendapat penerangan kembali.”

“Jin-yi…” ia teringat dengan nasib adiknya. Sama sekali tidak menyimak apa yang Kyungsoo katakan. Bagaimana jika—

“Aku di sini, nona.” sebelum Jia-yi tenggelam dengan rasa takutnya, Kyungsoo menarik tubuh gadis itu, menggenggam telapak tangannya lembut seraya berkata. “Tenanglah, kita lakukan perlahan.”

Seperti sebuah mantra, Jia-yi mengerjap—meloloskan satu tetes air mata jatuh. Ada sesuatu yang cukup aneh saat tangan lelaki bernama Kyungsoo itu mengenggam tangannya, saat lelaki itu menatapnya lekat, dan saat lelaki itu bicara dengan intonasi datar tapi terdengar menenangkan.

Sebelumnya, Jia-yi belum pernah berinteraksi dengan seorang agen atau mantan agen sebuah negara. Mungkin, memang seperti itu bawaannya. Dia pasti sudah banyak melalui hal mengerikan dan jauh lebih sulit, pikir Jia-yi setelah mengamati gerak-gerik Kyungsoo yang sama sekali tak terpengaruh.

Sibuk dengan sebuah benda di tangan, sambil sesekali mengedarkan pandangan. Tentu saja Kyungsoo bukan orang sembarangan yang akan Chanyeol “pungut”.

“Bukankah kita seharusnya mencari ke posko-posko terdekat?” Jia-yi memutuskan untuk membuka suara, setelah hampir setengah jam mereka hanya berjalan dan berjalan menyusuri reruntuhan. Bahkan lelaki itu sama sekali terlihat tidak peduli apa lagi terganggu dengan para petugas yang berlalu-lalang membawa tandu dengan korban luka-luka.

“Kau yakin?” Kyungsoo balas bertanya. Alis Jia-yi terangkat kala mendengar pemuda itu bersuara.

“Akan ada banyak korban di sana, mungkin dengan berbagai macam luka yang mengerikan juga.” lanjutnya, tanpa menoleh. Ah, tentu saja. Jia-yi mengangguk sambil merapatkan mantel, meski Kyungsoo tak akan melihatnya karena posisi Jia-yi yang mengekor di belakang.

“Lalu—”

“—Aku akan menemukan temanku lebih dulu.”

“Apa?!” Jia-yi berhenti melangkah. “Kukira kau sedang mencari adikku! Tapi kau malah mencari orang lain? Kau membuat waktuku terbuang sia-sia lagi!”

Jia-yi benar-benar tak habis pikir. Suhu udara malam ini bahkan tidak lebih dari dua derajat, bahkan kaki dan tangannya sudah mulai kebas kedinginan.

“Memangnya kenapa?” mata bulat besar Kyungsoo mengerjap, terkejut dengan bentakan yang diterimanya tiba-tiba. Ekspresi yang membuat Jia-yi gemas dan ingin menendang bokongnya.

“Kau—”

“—Temanku itu, sedang bersama adikmu.”

Jia-yi yang sebelumnya sudah siap dengan serentetan kalimat umpatan yang berjejal di kerongkongan, bahkan gadis itu sudah mengacungkan telunjuk dan membuka mulut, harus terhenti dan mendadak jadi orang dungu.

“Apa kau bilang?” Jia membuang semua rasa malu dan bertanya untuk memastikan. “Aku tidak suka mengulang apa yang sudah kuucpkan.”

Kyungsoo kembali berjalan meninggalkan Jia-yi yang menyumpahinya diam-diam.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kita istirahat dulu.”

Sebuah keputusan Kyungsoo ambil sebelum pemuda itu duduk sembarangan, disusul Jia-yi yang segera meluruskan kakinya. Mereka sudah berkeliling nyaris ¾ distrik Jung-gu, tapi belum juga membuahkan hasil apapun.

“Temanmu itu,” pada akhirnya, Jia-yi tak bisa menahan rasa penasaran. “Kau yakin dia sedang bersama  adikku?”

“Tidak.”

“Apa?”

Sebenarnya, gadis itu sudah siap dengan sebongkah batu di tangan. Tapi belajar dari pengalaman sebelumnya, Kyungsoo adalah tipe orang yang gemar memancing amarah. Jadi, Jia-yi putuskan untuk sedikit bersabar kali ini.

“Aku tidak yakin dia masih bersama adikmu.”

“Bicaralah yang benar, Kyungsoo. Saat ini, hasratku bukan hanya untuk menemukan adikku tapi juga untuk membunuhmu.”

Kyungsoo tertawa. Membuat sedikit penghiburan bagi Jia-yi. Siapa sangka lelaki berwajah poker itu bisa tertawa sebegitu lucunya? Duh, sekarang Jia-yi khawatir dengan kesehatan otaknya.

“Sungguh. Setelah melihat kekacauan yang terjadi, aku jadi tidak begitu yakin. Tapi setidaknya, jika kita menemukan temanku, kita akan menemukan petunjuk lainnya, nona Wang.”

“Kau yakin?” Jia-yi tak bermaksud untuk meragukan Kyungsoo, tapi apa salahnya bersikap hati-hati? Dia sudah banyak dipermaikan hari ini. “Memangnya siapa temanmu itu?” lagi-lagi ia berucap.

“Aku tak punya wewenang apapun dan aku tidak sebrengsek Jongin yang akan menceritakan identitas orang lain begitu saja.”

Jia-yi menatap Kyungsoo sebal. Sayangnya, ia tak menemukan kesalahan apapun dari ucapan lelaki itu. Mengingat siapa Chanyeol, Jongin dan lelaki yang kini menguras emosinya, bukan hal mengejutkan jika teman mereka yang lainnya juga bukan orang sembarangan. Jia-yi seperti berdiri di sebuah lingkaran dengan banyak sekali benang kusut yang menjerat kaki di dalamnya.

Jia-yi akhirnya memilih untuk meluruskan pikiran dan mengatur pernapasannya, menggosok kedua tangan sambil meniupnya perlahan, mencoba mendapat sedikit kehangatan lebih. Berhenti bicara pada Kyungsoo dan menghemat energi sebanyak yang ia bisa.

Gadis Wang itu menengadahkan wajah sambil memejamkan mata. Ia berfirasat, malam ini tidak akan berjalan dengan mudah. Tepat setelah ia memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, sebuah goncangan besar terasa.

Permukaan tanah yang mereka pijak bergetar hebat dan secepat kedipan mata, retakan besar mulai terlihat dan siap membelah permukaan tempat Jia-yi dan Kyungsoo berpijak.

“Lari Jia-yi!” Kyungsoo menarik tangannya. Tapi tubuh Jia-yi sama sekali belum siap. Otaknya terlalu lambat untuk menangkap bahwa sinkhole lainnya akan segera muncul.

“Apa yang kau lakukan?! Cepat!” Kyungsoo memekik sambil terus menarik tangan Jia-yi agar terus menjauh dari retakan.

Goncangan semakin menghambat langkah yang mereka ambil. Jangankan untuk berlari, berusaha tetap berdiri dan menyeimbangkan tubuh saja sudah sangat sulit. Ditambah keadaan sekitar yang sudah menjadi puing-puing, menjadi kesulitan dan resiko tersendiri. Akan lebih mudah terluka jika sedikit saja mereka salah melangkah dan terjatuh.

Kyungsoo terus menyeret Jia-yi. Tapi lelaki itu hanya tahu berlari menghindari retakan di tempat mereka berpijak. Sama sekali tidak memerhatikan tempatnya sekitar. Minimnya penerangan membuat semuanya lebih buruk lagi. Bodohnya Kyungsoo, ia berlari mendekati sebuah pilar raksasa yang kini sedang terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Retakan besar juga menjalar cepat, membelah pilar itu menjadi dua bagian.

Beruntungnya Jia-yi mendongak tepat waktu. “Kyungsoo!  Awas!”

Entah dari mana gadis itu punya kekuatan untuk melepaskan tangan Kyungsoo dan mendorong lelaki itu, menghindari bongkahan pilar yang hancur. Suara bedebam terdengar memekakkan telinga. Debu-debu bangunan menyulitkan pernapasan dan memperburuk pengelihatan. Keadaan Jia-yi juga tak bisa dikatakan aman.

Tanah tempatnya berpijak sudah membelah menjadi dua. Tercipta spasi yang cukup mengerikan di antara kedua kakinya. Jia berusaha tetap tenang, berpikir langkah yang seharusnya dia lakukan. Ia sudah tidak bisa melihat Kyungsoo. Jalan di depannya sudah tertutup oleh bongkahan pilar.

“Sebelah sini! Cepat!”

Jia-yi terkejut, saat seorang gadis menarik tangannya. Tapi Jia-yi kurang cekatan dalam menerima perintah dadakan seperti itu. Salah satu kakinya tak menapak dengan baik dan—

Akh!”

—retakan itu membesar dan semakin membesar. Memerlihatkan kegelapan yang tersembunyi di dalam tanah. Suara gemuruh terdengar mengerikan.

“Fokus!” gadis yang tadi menariknya membentak. Menyelamatkan Jia-yi tepat sebelum tubuhnya terjerembab ke lubang raksasa.

“Jangan lihat ke belakang!” gadis itu bicara dengan cepat, secepat langkahnya yang terlihat tidak masalah dengan guncangan dan puing-puing sekitar yang berpotensi menimbulkan luka.

Tapi mental dan tubuh Jia-yi tak mampu untuk mengikuti langkah si gadis. Sebelumnya dia sudah nyaris jatuh dan mati sebelum bisa menemukan adiknya. Tubuhnya tak bisa berhenti bergetar dan mengigil ketakutan.

“Apapun yang terjadi, kita harus selamat! Kau dengar itu, nona?” gadis itu kembali bicara, sayangnya, lidah Jia-yi terlalu kelu untuk digerakkan. Tenggorokkannya terlalu kering untuk mengeluarkan suara.

Sebagai gantinya, Jia-yi mengangguk dengan kedua mata yang basah.

“Bagus!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kyungsoo tersungkur, tapi itu masih lebih baik dari pada tertimpa bongkahan pilar raksasa. Ia tidak peduli dengan keadaan tubuhnya. Sekarang, ia berpisah dengan Jia-yi. Hal itu lebih buruk dari luka yang ada di sekujur tubuh.

Bagaimana jika gadis itu mati? Kyungsoo tak bisa mengenyahkan pikir tersebut.

Kyungsoo segera bangkit dan kembali menjauh dari tempat sebelumnya saat suara gemuruh dan gesekan antara puih-puing bangunan berdecit terdengar menyakiti telinga. Langkah Kyungsoo terlalu lambat, sebuah sinkhole tercipta di belakangnya, besar dan semakin membesar. Menelan apapun yang ada di sekitarnya. Secepat apapun Kyungsoo berusaha untuk menghindar, sinkhole terus saja melebar.

Guncangan yang terjadi menyulitkan langkahnya. Ia tak lagi berjalan dengan dua kaki, tapi empat! Kyungsoo merangkak, sebisa mungkin untuk tak tertelan sinkhole. Jari-jarinya terasa pedih dan mengeluarkan darah dari sela-sela kuku yang terkelupas. Jangan tanyakan keadaan tubuhnya yang berdarah dan berkeringat bercampur debu sudah seperti ayam bumbu bertepung siap goreng. Oke, abaikan.

Nyawanya sedang terancam!

Napas Kyungsoo sudah putus-putus. Telinganya terasa pekak oleh teriakan dan tangisan orang-orang yang panik. Guncangan mulai mereda, sinkhole mulai berhenti melebar. Selangkah saja, atau bila guncangan susulan kembali terjadi, Kyungsoo sudah pasrah. Ia akan dengan sukarela menjadi hidangan siap santap sinkhole tersebut.

Sebenarnya dia bukan tipe orang pesimis, sudah puluhan kali ia merasakan ajal namun tak pernah berujung kematian. Ini bukanlah kali pertama, tapi ini pertama kalinya dia bertaruh nyawa di bibir sinkhole yang entah berdasar atau tidak.

“Ini akan jadi pengalaman menakjubkan untuk menjadi sebuah kisah pengantar tidur yang akan kuceritakan pada cucuku kelak.”

“Berhenti bicara cucu, jika pacar saja kau tidak punya!”

Kyungsoo baru saja merebahkan tubuh dan menutup matanya, mengistirahatkan tubuh setelah sebelumnya menghadang maut, ketika suara familiar itu terdengar.

“Alessa!”

“Bagus, kau masih bisa berteriak.” gadis bernama Alessa itu berjalan mendekat, dengan mengukir langkah yang hati-hati, tentu saja.

“Pertama, jangan banyak bicara. Bangunlah. Kita harus segera pergi dari sini. Tergelincir sedikit saja, kau bisa jatuh dan mati!”

O, ya, tentu saja. Kyungsoo sedang merebah tepat selangkah dari bibir sinkhole.

“Aku lelah.”

“Aku tidak bertanya.”

“Aku tak bisa lagi berjalan. Kakiku rasanya mati rasa.”

“Kalau mau mati, seharusnya sejak tadi, Kyungsoo. Jangan tunggu aku menemukanmu. Aku tak suka masuk kantor polisi dan jadi saksi. Kau tahu itu.”

“Aku senang kau banyak bicara, Al.” Kyungsoo tersenyum.

Alessa bukan tipe orang yang akan bicara banyak. Meski nadanya selalu terdengar sarkas, Kyungsoo tahu, gaadis itu sedang khawatir setengah mati. Di lain sisi, Kyungsoo tidak keberatan jika sinkhole itu akan menelannya sekarang. Ia bahagia karena mati setelah melihat wajah Alessa.

“Berhenti berpikiran konyol!”

“Aku tidak berpikir apa-apa.”

Tiba-tiba sebuah guncangan terjadi, sinkhole itu kembali menelan permukaan dalam radius satu meter.

“Alessa! Pergi dari sini! Jangan mendekat! Cepat!” Kyungsoo berteriak sampai suaranya serak. Ia tidak peduli lagi dengan tubuh bagian bawahnya yang mati rasa. Yang ia takutkan gadis sarkas itu akan melakukan hal-hal gila seperti biasa.

“Tidak!” Alessa tak bisa menyeimbangkan tubuhnya untuk tetap berdiri, dia terjatuh dengan benturan di kepala lebih dulu. Tak cukup keras untuk membuatnya kehilangan kesadaran, tapi cukup untuk membuat kepalanya berdarah dan rasa sakit menderanya. Senter di tangannya terlepas, jatuh masuk ditelan lubang gelap.

“Alessa!” Kyungsoo terlalu panik melihat cairan gelap mengalir dari tengkuk gadis itu. Ia tak peduli dengan kakinya yang beku, ia juga tak memerhatikan pijakan, sehingga kakinya tergelincir dan tubuhnya terperosok masuk ke dalam sinkhole.

Arghh!”

“Kyungsoo!!”

Seseorang mencekal pergelangan tangan Alessa tepat sebelum gadis itu mendekat ke bibir sinkhole.

“Lepas!!”

“Tidak. Bahaya!” adalah Jia-yi, gadis berdarah China itu mencekal pergelangan tangan Alessa lebih erat di satu tangan, dan tangan lainnya berpegangan pada sebuah kain gorden yang sebelumnya telah disulap menjadi tali penyambung hidup.

Garis wajahnya menunjukan ketidaksukaan. Menolak apapun tindakan gadis itu untuk mendekat. “Tunggu sampai guncangannya berhenti.” Jia-yi berkata lagi.

Bukan Alessa namanya jika ia mendengarkan kata-kata Jia-yi. Ia mengigit lengan Jia-yi dan segera merangkak ke bibir sinkhole begitu cekalan terlepas.

“Kyungsoo! Do Kyungsoo!!” Alessa tak bisa melihat apapun, hanya gelap dan gelap sejauh matanya memandang.

“Al—”

Rupanya, Tuhan masih membiarkan Kyungsoo hidup. Guncangan terhenti tak lama kemudan. Tubuh lelaki itu kini menggantung di sebuah pipa beton, yang ujung lainnya tertimbun reruntuhan bangunan.

“Do Kyungsoo!!”

“Men—jauh, Al!”

Hati-hati sekali Alessa melangkah ke bibir si lubang biadab—begitulah Alessa memberinya nama—sambil terus mengumpat.

“Bicaralah! aku tak bisa melihat apapun.”

“Aku akan melamarmu kalau aku selamat kali ini. Peduli setan dengan ayahmu atau sekolahmu!”

“Jangan bicara hal tolol!” Alessa melotot. “Bertahanlah, aku akan menyelamatkanmu.”

Diulurkannya tangan ke dalam kegelapan yang dicurigainya tengah berusaha merenggut Kyungsoo dari muka bumi, sementara ia sendiri berusaha beradaptasi dengan pencahayaan minimal yang kini jadi kawan. Siapa tahu dia tiba-tiba saja bisa melihat dengan jelas keberadaan Kyungsoo sekarang.

“Kau bisa meraih tanganku?”

“Jadi, kau ingin mati bersama? Jatuh ke dalam sinkhole?” sahutan dari Kyungsoo terdengar.

“Aku tak tahu masih ada pasangan idiot seperti kalian.” entah bagaimana, Jia-yi sudah berdiri di samping Alessa, membuat gadis itu menyipitkan mata menghalau cahaya dari senter kepala yang dikenakan Jia-yi.

“Kami bukan pasangan, nona China, dan aku benci orang sok tahu!” Alessa berucap cukup keras, enggan kalah pada harga dirinya sebagai gadis berselera tinggi yang sekarang tengah dipertaruhkan hanya karena spekulasi dari orang asing.

“Orang sok tahu ini, akan menyelamatkan pangeranmu.” Jia-yi menyahut, disunggingkannya seulas senyum mengejek meski sebenarnya dia juga tak punya niat untuk tersenyum.

Alessa mendesis, dan hendak membalas ucapan Jia-yi—Alessa benci kalah, omong-omong. Tapi teralihkan saat suara derakan terdengar. Pipa beton yang menjadi tumpuan Kyungsoo retak dan bisa kapan saja terbelah.

“Kalau kau tak bisa menyelamatkannya, aku akan memotong lidahmu!” ancam Alessa. Segera Jia-yi melemparkan kain gorden yang sekarang bisa berubah jadi penyambung nyawa seseorang itu.

“Cepat Kyungsoo! Ambil kain nona China ini!”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sesaat setelah kedua gadis itu berhasil menarik Kyungsoo dari lubang kematian, mereka segera menjauh dari bibir sinkhole. Mencari sebuah tempat yang cukup lapang. Keadaan sekitar semakin kacau. Sudah tidak ada lagi gedung-gedung maupun bangunan yang masih berdiri utuh. Semuanya rata, ambruk. Dari kejadian terakhir, sinkhole kali ini lebih banyak menelan korban jiwa dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar.

“Lain kali, aku akan membunuhmu lebih dulu sebelum kejadian seperti tadi terjadi lagi.” Alessa bicara sebelum kembali bangkit, setelah mereka beristirahat selama kurang lebih lima menit.

“Kau mau kemana?” Jia-yi bertanya.

“Aku akan pergi ke posko terdekat, dan memberitahu mereka kalian ada di sini dan butuh pertolongan.”

“Kepalamu berdarah. Diamlah.” kali ini Kyungsoo yang bicara.

“Lalu kau ingin—”

“—Aku yang akan pergi.” Jia-yi menengahi sebelum cekcok dua sejoli itu terjadi. Dari beberapa menit yang dilalui Jia-yi dengan penelitian kecil di sini, disadarinya kalau dua orang yang sekarang bersamanya ini sama-sama keras kepala.

Jujur, Jia-yi juga keras kepala, sih.

“Kau tidak bisa pergi, nona China.”

“Aku bisa.”

Lihat? Jia-yi enggan membiarkan harga dirinya jatuh dan lantas membuatnya terlihat lemah.

“Kau pikir begitu?” Alessa bertanya, dibalasnya senyum mengejek yang tadi sempat Jia-yi berikan padanya.

Seumur hidupnya, Jia-yi tak penah mendapat tatapan meremehkan seperti itu. Mereka belum bertemu lebih dari dua puluh empat jam, tapi gadis bernama Alessa itu sudah berani membentak-menggigit-mengancam, dan sekarang melemparkan tatapan seperti itu.

“Dia sedang mengkhawatirkan keadaanmu, nona Wang.”

Jia-yi tidak menjawab, hanya mengalihkan pandangan. Lagi pula, dia hanya ingin menjadi penengah dan terlalu lelah untuk berdebat atau sekedar mendengar perdebatan.

“Kau pasti merasa mual ‘kan sekarang? Merebahlah, sebelum kau terkena vertigo.”

“Sebelum kabur dari sekolahnya, dia sempat menyandang status sebagai mahasiswi kedokteran.” terang Kyungsoo.

“Aku tahu—” Jia-yi menyahut. “—Aku juga tidak bodoh soal kesehatan.” sambungnya. Agaknya, sejak berada di Seoul Jia-yi mulai lupa tentang siapa dia di kehidupannya yang normal.

Jika saja Jia-yi tidak memutuskan untuk berlari ke Seoul tanpa tujuan yang jelas, dia mungkin sekarang sedang bekerja dan menghabiskan waktu dengan santai di Beijing. Tapi di satu sisi, Jia-yi menyukai keputusannya. Paling tidak, dia sedang memperjuangkan nyawa seseorang yang berarti untuknya.

“Aku belum bisa beristirahat—karena Jin-yi. Chanyeol bilang dia mungkin berada di sekitar sini. Aku tak bisa mengenyahkan pikiran-pikiran buruk tentang kemungkinan yang bisa terjadi padanya. Dan Kyungsoo—dia bilang temannya sedang bersama adikku. Kau… kau teman yang dimaksud? Apa kau bersama adikku sebelumnya?” rentetan kalimat itu lolos dari bibir Jia-yi tanpa bisa gadis itu cegah.

Gadis itu tak bisa menunggu lebih lama lagi. Setelah banyak hal terjadi hari ini dan mentalnya yang juga sedikit terguncang. Dia benar-benar kelewat cemas. Jika benar Jin-yi berada di sekitar sini, apa dia selamat?

“Ah, jadi kau orang yang Chanyeol maksud.” Alessa menggumam.

Mendengar itu, Jia-yi sadar jika gadis di hadapannya ini juga tahu tentangnya, maupun Chanyeol.

“Katakan sesuatu tentang adikku!” tanpa sadar nada suara Jia-yi naik satu oktaf.

“Tenanglah, nona China. Dia bersamaku hingga siang tadi,” Alessa menghela napas. “Aku sedang—”

Ucapan Alessa terhenti saat sebuah lampu tembak menyorot wajah ketiganya. Membuat mereka mau tak mau memejamkan mata untuk menghalau sinarnya masuk. Suara langkah terdengar mendekat perlahan.

“Wah, lihat! Siapa gerangan yang kutemukan ini?”

Kyungsoo membuka matanya lebih dulu, menghalau sinar lampu dengan telapak tangannya. Dan betapa terkejutnya ia, ketika menyadari siapa orang yang baru saja bicara.

“Kau…” Alessa orang kedua yang menyadarinya. Disusul Jia-yi yang menampakkan wajah terganggu dan sorot mata tak bersahabat.

“Katakan! Dimana adikku sekarang?” desak Jia-yi, mencoba untuk tidak terganggu pada eksistensi seseorang yang baru saja hadir diantara mereka.

“Byun Baekhyun.” gumam Kyungsoo.

“Kau mengenalnya?” Alessa bertanya, mengabaikan desakan Jia-yi, ia justru menatap Kyungsoo dengan pandang penuh tanya.

“Putri penasehat Presiden, mantan agen Korea utara, dan… kita punya tamu spesial lainnya juga, ternyata.” Baekhyun menunjuk Alessa dan Kyungsoo bergantian, kemudian menunjuk Jia-yi sedikit lebih lama.

“Wang… Jia-yi, putri sulung sang Jenderal yang dielu-elukan di Beijing sana?”

Alessa membelalak tak percaya. “Putri Jenderal?”

“Aku harap kau tak punya urusan lain, selain denganku, Baekhyun.” Kyungsoo bicara lebih dingin dari biasanya.

Pemuda berwajah pucat itu mengusap tengkuknya sembari menyelipkan sebuah senyum kecil. Dipandanginya tiga orang yang ada di sana sebelum akhirnya bibir pemuda itu berucap.

“Sebenarnya, aku punya banyak sekali urusan. Aku benar-benar berterima kasih nona Cho. Kau membuat pekerjaanku lebih mudah.”

Tatapan Alessa kini membulat. Dia tahu benar siapa pemuda di depannya ini. Ia hanya tidak tahu jika pemuda itu juga mengenal Kyungsoo yang sekarang berdiri di sebelahnya.

Dan dari cara dua orang itu berinteraksi, Alessa bisa menarik sebuah kesimpulan jelas dari ketidak tahuan yang selama ini membelenggunya dan menjadikan Alessa sebagai orang bodoh.

“Sial, Do Kyungsoo. Seharusnya aku tahu kau orang Korea Utara!”

“Tak ada waktu untuk mengomel padaku tentang itu, Alessa.” Kyungsoo berkata, perlahan dinginnya nada suara Kyungsoo berhasil menggiring empat orang yang ada di sana dalam suasana yang tidak lagi santai.

Ketegangan terjadi. Meski butuh sedikit waktu bagi Jia-yi memahami situasi. Tak ada yang bicara selama beberapa menit. Lelaki bernama Baekhyun itu menatap tajam Kyungsoo, pun sebaliknya.

“Nona China,” Alessa menoleh dan berbisik. Merogoh sesuatu dari saku mantelnya, secarik kertas yang dilipat asal. “Jin-yi, aku memintanya datang ke tempat itu. Pergilah, semoga kau bisa bertemu dengannya.”

DOR!

Suara tembakan terdengar. Membuat Jia-yi dan Alessa reflek memekik. Bau mesiu tercium samar. Disadari maupun tidak, Baekhyun baru saja melepaskan sebuah peluru ke arah Kyungsoo dan berhasil melukai wajahnya. Meski begitu, Kyungsoo tetap berdiri kokoh, tak bergerak sedikit pun.

“Apa yang kau lakukan?!” Jia-yi maju selangkah.

“Apa yang putri Jenderal lakukan di tempat berbahaya seperti ini? Haruskah aku membawamu kembali ke rumah agar kau bisa berlindung di balik kungkungan ayahmu?” alih-alih menjawab, Baekhyun malah balik melempar tanya.

“Bukan urusanmu.” Jia-yi menyahut singkat, tanpa sadar ia paham jika pemuda asing ini sedari tadi melontar kalimat penuh intimidasi.

“Kalau begitu, apa yang sedang kulakukan juga bukan urusanmu.” jawaban Baekhyun membuat Jia-yi menggeretakkan gigi, kekesalannya menghadapi Kyungsoo jika dibandingkan dengan pemuda ini, bisa jadi dua atau tiga kali lipatnya.

“Dia mengincarku,” Alessa memberitahu Jia-yi keterangan singkatnya, “Dia menginginkan data yang ayahku simpan.”

“Kalian, pergilah.” titah Kyungsoo, “Aku akan mengurusnya.”

“Oh, kalian pikir kalian akan pergi kemana?” Baekhyun berucap, ditodongkannya senjata ke arah—

“Kenapa kau menodongkan senjata itu padaku?”

—Jia-yi.

Senyum samar Baekhyun selipkan, lagi-lagi. Sementara Kyungsoo justru jadi melempar pandang curiga. Diam-diam berspekulasi jika gadis Wang itu bukan sekedar putri Jenderal seperti yang Chanyeol utarakan.

“Aku hanya penasaran, mengapa seorang yang selama ini selalu sibuk bekerja di rumah sakit bisa membuang diri ke lahan yang terancam hancur? Menyabung nyawa padahal kau sudah jelas tahu jika negara ini tak punya harapan untuk bertahan.

“Jika bukan karena menebus dosa, mana mungkin kau sedang berpiknik ria ke tempat ini? Kau mencari seseorang, atau kau sedang berlari dari seseorang. Mana dari dua dugaanku yang sesuai denganmu?”

Jia-yi terdiam. Dia sudah berhadapan dengan beberapa orang yang tidak mudah dipahaminya dalam beberapa hari ini. Dan karakter misterius pemuda di hadapannya sekarang serupa dengan Kyungsoo.

Pemuda itu, lantas dengan santai melepaskan mantel yang sejak tadi melindungi lehernya. Bisa Jia-yi lihat—meski samar-samar—sebuah tatto ada di leher pemuda itu, melingkar di sisi kiri lehernya sampai ke rahang, sementara dua buah anting terpasang di telinga kirinya, dengan sebuah rantai kecil yang menghubungkan keduanya.

Lingkar gelap yang terlihat samar di bawah kedua kelopak mata pemuda itu, dan caranya menatap seseorang yang dinilai Jia-yi terlihat seolah ia ingin membunuh siapapun yang masuk dalam pandang, Jia-yi tahu dia tengah berhadapan dengan seseorang yang bisa berbuat lebih mengerikan daripada dugaannya.

Jika dia sama seperti Kyungsoo, maka Jia-yi tahu pemuda di hadapannya adalah pendosa. Caranya menatap sekarang jelas merupakan tatapan seorang pembunuh yang ingin memuaskan hasrat iblis dalam diri.

“Kau mengenalku, padahal kita tidak pernah bertemu. Dan kau tahu tentang kehidupanku. Pada siapa kau bekerja?” pertanyaan itu akhirnya Jia-yi utarakan.

“Kenapa? Kau khawatir aku akan memberitahu Jenderal Wang jika putrinya ada di sini? Jangan khawatir, aku memihak orang-orang yang ingin melihat kematianmu, Nona.”

Sekarang, Jia-yi mengerjap cepat. Kemunculan pemuda ini sudah cukup mengejutkannya, ditambah lagi, sekarang pemuda ini tidak jelas tujuannya. Dia menargetkan Alessa—dari cara Alessa berucap khawatir—tapi dia punya urusan dengan Kyungsoo.

Dan sekarang dia berkata kalau dia adalah salah seorang yang ingin Jia-yi mati. Sekarang, Jia-yi tak bisa menarik garis besar tujuan pemuda ini. Apa dia mencegah mereka hanya untuk membuang waktu dan bermain-main saja?

“Sudahi ucapan konyolmu, Baekhyun. Kita tak lagi berlayar di kapal yang sama. Dua orang ini di bawah tanggung jawabku. Jadi jika kau ingin menyentuh salah seorang dari mereka, kau harus melangkahi mayatku dulu.” ucapan Kyungsoo menjadi sebuah penjelasan, tentang jalan akhir yang harus Baekhyun ambil untuk keinginannya.

“Kau masih pintar bermain kata, Agen-D. Ah, atau haruskah kupanggil kau sebagai Do Kyungsoo, sekarang?”

Kyungsoo memilih bungkam. Tak ada candaan Baekhyun yang berniat dia balas. Tidak satupun. Dia tahu dengan siapa dirinya sekarang tengah berhadapan. Byun Baekhyun, seorang yang selama bertahun-tahun sudah tumbuh besar bersamanya.

Jika Kyungsoo adalah seorang yang dipaksa oleh takdir untuk menjadi agen di Pyongyang sana dan diharuskan membunuh orang-orang tak bersalah, maka Baekhyun terlahir untuk jadi seorang pembunuh.

Pemuda Byun itu berulang kali masuk kantor polisi sejak usianya enam tahun. Dan saat usianya dua belas tahun, pemerintah merekrutnya sebagai seorang agen sekaligus pembunuh.

Pertama kali, pemuda itu membunuh ayahnya sendiri. Disusul dengan pembunuhan terhadap saudara-saudara tirinya. Bukannya membunuh dengan racun, atau rencana lain, Baekhyun lebih suka membunuh seseorang dengan tangannya sendiri.

“Haruskah kucoba untuk melangkahi mayatmu?” pertanyaan Baekhyun menyadarkan Kyungsoo dari lamunan, dipandanginya pemuda berbalut pakaian gelap itu dengan sebuah senyum sinis.

“Membiarkanmu melawanku yang datang dengan tangan kosong sementara kau menyimpan belasan senjata? Kau pasti tak ingin dua gadis ini menertawai kecuranganmu, bukan?” sengaja Kyungsoo menabuh genderang untuk memulai sebuah perang.

Mungkin juga, ini bagian dari rencananya yang ingin melepaskan diri dari penghalang tidak terduga yang sekarang muncul di depan mereka padahal ketiganya tengah tergesa-gesa.

Terbukti, Baekhyun agaknya juga terpancing emosi. Dilepaskannya mantel yang ia kenakan, menampakkan sebuah kaos tanpa lengan berwarna hitam yang membalut tubuh.

Sejenak, Jia-yi dan Alessa sama-sama terpana melihat untaian tatto yang nyatanya juga membalut kulit pucat pemuda itu. Berlawanan dengan wajahnya yang memberi kesan ramah namun mematikan, tubuh Baekhyun agaknya bisa bercerita tentang kehidupan pemuda itu.

Berturut-turut, Baekhyun mengeluarkan senjata-senjata kecil yang diselipkannya di saku celana. Sementara Kyungsoo sendiri memutuskan untuk melakukan hal yang sama.

Keduanya sekarang tampak seolah tengah mengadu otot, meski keadaan Baekhyun lebih terlihat mengerikan karena tatto dan bekas-bekas luka kentara di permukaan kulitnya.

Mungkin, Kyungsoo sudah cukup lama terlepas dari dunia gelap yang membuat luka fisik berbekas seperti itu hingga kini pemuda itu terlihat layaknya pemuda lainnya yang hidup dengan normal.

“Haruskah kita mulai?”

Tak ada aba-aba untuk memulai, tidak juga salah satu dari mereka merasa ragu. Baekhyun mulai menyerang segera setelah dia berhenti berucap. Sementara Alessa—yang paham tentang situasi di hadapannya—menarik Jia-yi untuk menyingkir dari medan perang.

Hantaman dan pukulan saling dilemparkan oleh Kyungsoo maupun Baekhyun. Erangan kesakitan juga lolos berulang kali dari mulut mereka. Tanpa alasan memang, mereka berkelahi seperti saat ini. Tapi ada tujuan pasti yang menanti, mayat siapa yang akan dilangkahi?

“Kau seorang pengkhianat!” teriakan Baekhyun terdengar menggema, seiring dengan pukulan dia berikan di wajah Kyungsoo dengan penuh kemarahan. Mungkin, tak hanya nyawa yang jadi taruhan mereka sekarang, tapi juga kenangan masa lalu yang menyakitkan.

Tak ada yang tahu seperti apa kehidupan mereka sebelumnya, tapi Jia-yi yakin, dua orang itu sama-sama merasa sakit secara mental. Satu berusaha berlari dari gelapnya kehidupan, satu lagi terus bertahan dengan membawa kesakitan lainnya.

“Kau yang terlalu bodoh karena terus ada di pasukan itu!” Kyungsoo balas berteriak dengan geram, dihempaskannya tubuh Baekhyun ke tanah, sebelum pemuda itu menginjak dada Baekhyun dengan cukup keras, membuat Baekhyun memuntahkan darah tapi tak juga ingin menyerah.

Pemuda Byun itu menarik kaki Kyungsoo, membuat keseimbangan Kyungsoo hilang sebelum dia menggerakkan kakinya untuk menendang Kyungsoo. Kini, Kyungsoo terjerembap ke tanah, dan Baekhyun menguasai medan. Pemuda itu bangkit dengan cepat, berbalik menginjak Kyungsoo dengan umpatan dan teriakan kemarahan yang tak lagi bisa Jia-yi maupun Alessa pahami.

Masih tidak kehabisan akal, Kyungsoo mengambil pasir dari tanah yang sekarang jadi tempatnya telungkup dan menerima bombardir injakan dari Baekhyun. Dilemparnya pasir itu hingga mengganggu pandangan Baekhyun.

“Ugh!” begitu Baekhyun terpejam, Kyungsoo lekas bergerak.

Pemuda itu mendorong Baekhyun cukup keras, menarik pemuda itu dengan paksa untuk berdiri sebelum dia menyarangkan pukulan-pukulan lain dengan cukup keras. Jia-yi tidak lagi bisa membedakan darah siapa yang sekarang mengotori tanah, keduanya sama-sama terlihat menyedihkan.

“Argh!!” teriakan kesakitan terdengar lolos dari bibir Baekhyun saat Kyungsoo mendorong pemuda itu cukup keras ke runtuhan bangunan. Jia-yi tahu, sesuatu pasti melukai punggung Baekhyun dengan cukup dalam hingga membuat pemuda itu tersungkur dan tak lagi berdaya.

Darah kemudian mengalir ke permukaan tanah, sementara Kyungsoo masih tak mau kalah. Pemuda itu terseok-seok mendekati sebongkah runtuhan pilar yang ada di dekatnya, membawa beban berat itu dengan kedua tangan untuk mendekati Baekhyun yang masih berusaha mengatur nafas di posisi yang sama.

“Tidak.” tanpa sadar Jia-yi mencicit, membayangkan seseorang terbunuh karena bencana saja sudah cukup menakutkan untuknya.

Sekarang, dia harus melihat adegan pembunuhan secara langsung di depan mata? Jangan harap Jia-yi akan tinggal diam. Dengan membabi buta, gadis itu menyingkirkan lengan Alessa yang melingkar erat di tangannya, sebelum ia berlari ke medan perkelahian dan meletakkan diri di antara kematian.

“Tidak!!” pekikan Alessa kini mendominasi.

Baru saja, gadis itu akan menyaksikan bagaimana kepala Jia-yi kemungkinan akan dihancurkan oleh Kyungsoo dan bongkahan pilar yang dibawanya di tangan, jika saja pemuda Do itu tidak sadar tentang siapa yang sekarang ada di hadapannya.

“Apa yang kau lakukan!? Menyingkir!” Kyungsoo memerintah.

“Kau tidak datang ke sini untuk membunuh, Kyungsoo.” Jia-yi mengingatkan, dia tahu, tahu benar apa alasan Kyungsoo memilih untuk membelot dari negaranya dan bekerja untuk seseorang seperti Chanyeol.

Mengingat bagaimana Kyungsoo bercerita tentang Chanyeol yang bisa menyiksa seseorang, sudah pasti, Kyungsoo bukanlah seseorang yang menyukai kekerasan. Dia dipaksa oleh takdir untuk menjadi seorang pembunuh karena dia berpotensi bisa melakukannya, bukan karena dia ingin.

“Kau tidak harus jadi pembunuh…” lagi-lagi bibir Jia-yi berucap, tangan gadis itu terentang membuat batas antara tubuh tak berdaya yang ada di belakangnya sementara Kyungsoo masih siap dengan bongkahan pilar di tangan.

“Menyingkir.” lagi-lagi Kyungsoo berucap.

Mengabaikan sikap keras kepala si pemuda, Jia-yi juga tidak ingin kalah. Dia tahu, dia akan kalah tenaga jika melawan Kyungsoo. Tapi dia tahu setidaknya Kyungsoo tidak akan melukainya. Untuk apa pemuda itu repot-repot membantu Jia-yi jika dia tega melukai?

BRUGK!

Akhirnya, Kyungsoo memilih untuk menyerah. Dia tak berkesempatan untuk melangkahi mayat Baekhyun, tapi setidaknya perkelahian mereka sudah memberi kemenangan telak.

“Kita pergi, sekarang.” kali ini Kyungsoo memberi perintah mutlak yang tak bisa dibantah. Setelah melempar bongkahan pilar tersebut, Kyungsoo mengusap sudut bibirnya dengan menggunakan punggung tangan, mengabaikan luka dan darah juga debu yang sekarang mengotori tubuhnya, Kyungsoo melangkah pergi.

Alessa sendiri sudah mengekor mengikuti kemana Kyungsoo pergi. Tatapan gadis itu sarat akan kekhawatiran.

“Cepat!!” teriakan Kyungsoo mendominasi, tapi Jia-yi masih bergeming.

Tidak, dia bukannya masih terperangah pada perkelahian baru saja terjadi. Gadis itu, tak bisa—tidak, dia enggan—berpijak. Pasalnya, seseorang kini mencekal pergelangan tangan Jia-yi.

Baekhyun, tangan pemuda itu lah yang menahan Jia-yi. Membuat Jia-yi tanpa sadar melempar pandang dan menyernyit ngeri saat melihat luka robek di punggung pemuda itu.

Saat Jia-yi mengedarkan pandang, didapatinya ada dua buah patahan kayu bernoda darah. Pasti dua benda itu telah melukai Baekhyun hingga menguras tenaganya yang tadi sekuat tenaga berusaha merobohkan Kyungsoo.

Terkesan konyol, memang. Dia tidak ambruk karena pukulan bertubi-tubi Kyungsoo, tapi justru ambruk karena dua buah kayu.

“Aku… akan membunuh kalian…” sempat sayup-sayup kalimat itu Jia-yi dengar dari bibir Baekhyun. Hal yang membuat Jia-yi mengesampingkan rasa kasihan yang tadi sempat mendominasi.

“Siapa yang mencoba membunuh siapa?” Jia-yi bertanya, tangan gadis itu kemudian bergerak melepaskan cekalan Baekhyun padanya.

Jia-yi memutuskan untuk bangkit, mengabaikan saja tubuh tak berdaya yang kemungkinan besar akan berubah status menjadi mayat dalam beberapa waktu. Karena luka di tubuh, atau gempa lainnya.

“Nona China, ayo pergi!” teriakan Alessa sudah memanggil Jia-yi, tapi gadis itu masih bergeming.

Dilihatnya, Kyungsoo sudah menguntai langkah tanpa menoleh ke belakang, sementara Alessa masih mengekor dengan sesekali melihat keberadaan Jia-yi.

Tanpa sadar, Jia-yi menatap sekeliling. Meski tanah sudah hancur, tapi dia tahu dimana mobil Kyungsoo terparkir. Jika beruntung, mobil itu mungkin tidak ditelan bumi. Tapi, masa bodoh dengan mobil itu sekarang.

Dia bisa berjalan kaki.

Perlahan, Jia-yi menguntai langkah. Tapi baru saja dua langkah diambilnya, rintihan kesakitan Baekhyun sudah menghentikan usahanya.

Jia-yi bukan wanita kejam. Sisi manusiawinya terkadang mendominasi lebih dari apapun, bahkan ketakutan. Dia tak bisa melangkah pergi sementara dia tahu seseorang tengah meregang nyawa di belakangnya.

Gadis Wang itu kini dihadapkan pada dua pilihan, menyelamatkan seorang pembunuh yang tengah terbunuh, atau melangkah pergi demi menemukan sang adik yang masih tak jelas keberadaannya.

Lantas, Jia-yi harus bagaimana?

please wait for the next story: Hol(m)es in Jung-Gu (3)

Truwita’s Fingernotes:

Sebelumnya, puji syukur buat Allah SWT, yang ngasih ide keren ini buat Ririseu yang keren juga. :v thankseu beb, udah ngajak ane kolab meski  keknya ane ga banyak bantu dan malah ngehambat yang ada. /dibalang/ eksaitid banget waktu diajak, dan sayangnya gak bisa maksimal waktu ngerjainnya. Huhu

Untuk kali ini, the power of kepepet tidak bekerja dengan baik :’’’ kuhaturkan maap sebesar-sebesarnya. /bow/ ane harep ente gakan kapok buat kolab lagi sama ane, beb. /lemparJhonny/ pesanku, titip ChanJi, persatukan mereka.

Abaikan tentang Alessa yang ceritanya putri penasehat Presiden, aku kobam abis mau jadi anak siapa dia. 😄 buat yang tahu siapa bapaknya, harap tenang. ini hanya fiksi belaka. Jangan terlalu dibayangkan /bhay/ buat semua readers, stay tune pokoknya. Ini cerita keren abis! peace and love, tata :*

IRISH’s Fingernotes:

KETAHUILAH, kawan. Kalau 90% cerita ini diketik sama Tata. GILA. GILA. SUNGGUH GILA. Ane udah enggak sanggup berkata-kata. Mau nambahin sampe adegan mereka ketemu sinkhole lain kok bakal jadi nembus 6000 words dalem satu series, akhirnya aku potong ke bagian Xiumin, deh, terpaksa. BIKOS TATA AND EKI JADI DAREAL MVP GITU.

Ini ane heran, genre politik perasaan ya berat, tapi ternyata eksekusinya bisa cantik begini aku bangga kucinta kalian semua gaes. Huhu. Masih ada beberapa kolab yang harus kuselesaikan sampai series ini bisa kubilang sukses.

Dan juga, series ini nanti masih bakal berlanjut jadi Jung-gu versi tiga yang bakal barengan sama Umin /BHAK/ /TERUS AE RISH BERLANJUT/ karena tadi… ini series enggak bisa terselesaikan di sini. Umin harus turun tangan dan terlibat dalam kancah politik juga. Siapa tau Umin besok-besok bisa jadi Walikota.

KEMUDIAN, sekali lagi aku haturkan matur nuwun buat Tata atas persetujuan dia buat mau kolab sama diriku yang nista ini. Sesungguhnya kolab kami berjalan dengan proses yang begitu ajaib dan emejing dan… ah sudahlah biar malekat yang mencatat…

ENIWEI, ITU SI CABE… SELAMETIN GAK YA… SELAMETIN GAK YA…

P.s: ini bener-bener besdey project yang kebalik ya Lord T.T

Iklan

12 thoughts on “[KAI BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in JUNGGU (2) — IRISH’s Tale

  1. Aigooo…wae…dari semua org kenpa Baekhyun yg jadi antagonis sih…hidihhh kalah pula…TT….
    Kalau menang mending….
    Aduh Jia yi selamatin dong…itu org sekarat loh.. bagaimanapun juga jahatnya dia manusiakan…(kecuali tiba2 berubah jadi Monster,wkwkkwkw tambah fantasi di genrenya..ngayal…)

    Bkn penasaran sekali birthday project ini…
    Kmrn bunuh2an sekarang juga sama tapi pakai taktik…..(jd inget tactixnya exo… suara d.o keren abizzzz) dan lbh manusiawi dr pada bc crt kanibalnya oh bersaudara. (Emgnya pembunuhan massal itu manusiawi?)
    Pokok nya collabnya The best..idenya The best…
    Ditunggu next seriesnya..

    • 😄 karena ane sayang cabe jadi dia kubuat antagonis yang berperan penting dalem cerita ini dong 😄 wkwkwkwkwkwkwkwkwk yaamsyong kumenjerit sendiri karena abis ini bulan maret T.T

  2. KAMPRET ANE GAK NGEH SAMA SEKALI. BEKYUN MONSTER MODE ON SYIAL. AAAAAAAKKK

    Dilepaskannya mantel yang ia kenakan, menampakkan sebuah kaos tanpa lengan berwarna hitam yang membalut tubuh. (THE POWER OF MID NIGHT EMANG DEH. ANE BAYANGINNYA PAKE SLOW MOSYEN LAGIH. SIAL. SIAL. CONGRATS BEB. KAMU MENANG, AKU KALAH. TERIMA KASIH SUDAH MENGUBAH MINDSETKU BUAT CABE SATU INI. AAAAAAAK)

    Sejenak, Jia-yi dan Alessa sama-sama terpana melihat untaian tatto yang nyatanya juga membalut kulit pucat pemuda itu. (NGACAY BEB. MEREKA NGACAY! PASTI! BANGSATIN AJA TERUS ZEMUAHNYAH)

    Ohyess. Yayangku menang dong yaa, MATIIN AJA BEB. MATIIN BEKYUN /ditabok/
    Biar di series selanjutnya dia jadi goblin dan ternyata pengantin iblisnya adalah jin-yi /nahloh/

    Huft. Menguras banyak energi banget ane bacanya. Dan apaan itu 90% apaan. Duzta!
    Kutunggu kolab2 selanjutnya beb :*

  3. Sebuah kehidupan terancam hanya sebuah sinkhole dan keegoisan manusia dan mereka nggak mikirin orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban. Konflik nya makin menegangkan, aku kira baejhyun mau membantu mereka. Semoga baekhyun berubah pikiran dan menjadi orang baik

  4. BAPAKNYA ALESSA BUKANNYA KYUHYUN YE KAK? BERARTI KYUHYUN NTU PENASEHAT PRESIDENKAH?/PLAKK/😂😂
    ANE MASIH BINGUNG INI AMA UCAPAN KAK IRISH ‘DAREAL MVP’ NTU APAAN KAK? EKI BLM NGEH 😂
    Pesan kak tata ngakak eui, ‘pesanku titip ChanJi’, wokeh kak rish, kalo eki bisa berpesan eki pesan yg sama kek kak tata ‘pesanku titip ChanJi (2)’/dibalang/😂😂
    ITU CABE SELAMETIN DUNK KAK, MASA SERIES DIA BLM UDAH KOID AJA. KAN GAK UCUL KAK IRISH NAMBAHIN GENRE SUPRANATURAL DI GENRE POLITIK KARENA NGECERITAIN HANTU GENTAYANGAN/PLAKK/😂
    TERNYATA KYUNGSOO LEBIH JAGO BERANTEM. EH KAMU BAEK, NGAPAIN TANGAN DITATO SEGALA? NANTI GAK BISA MANGKAL/DIBACOK BAEKHYUN AMPE KOID /😂 /CANDA BAEKHYUN, CANDA/PLAKK/😂
    ENIWEI, BIKOS INI JIA-YI SEORANG PERAWAT REAL LIFENYA, KOK EKI JADI BERASA JIA-YI ITU KAK IRISH?/PLAKK/😅😂
    DITUNGGU next seriesnya kak, HWAITING!!😆

    • IYE HUAHAHAHA😂😂😂
      ANE BERUSAHA MENGENYAHKAN SOSOK KYUHYUN WAKTU MUTUSIN PERANNYA. beruntung dia kagak ikut ngeksis, jadi readers lainnya gak perlu susah2 buat bayangin kek apa jadinya negara kalo penasehatan setan. :v

      Btw, ane juga gak ngeh apa itu ‘daeal mvp’ wkwkwk
      YEAH! CHANJI HARD SHIPPER!

      iya dong, kyungsuku, yayangnya siapa dulu atuh, /dibalang

      Ane waktu bikin gak ngeh sama profesi jia-yi loh, eh? Irish perawat? Dia bukannya bu bidan?

      • Wkwk, devil kyuhyun,😂
        Untung gak eksis ya kak/plakk/😂
        Eki gak tau tepatnya kak irish perawat keuh bidan keuh, cuman jia yi emang perawat disini ceritanya kak, bhuakaka.😂
        Deal mvp, mungkin cuma kak irish yg tau artinya kak, BHAKS,😂
        CHANJI, KUDU INI MAH/DIBALANG/😂

  5. “Abaikan tentang Alessa yang ceritanya putri penasehat Presiden, aku kobam abis mau jadi anak siapa dia. 😄 buat yang tahu siapa bapaknya, harap tenang. ini hanya fiksi belaka. Jangan terlalu dibayangkan /bhay/” <– anyway ane udh bayangin duluan ahaha. BUZET KYUHYUN JADI PANESEHAT PRESIDEN AHAHAHA

    “Aku akan melamarmu kalau aku selamat kali ini. Peduli setan dengan ayahmu atau sekolahmu!” <– dan secara otomatis wajah Kyu mendadak muncul dan membuat ngekek. Si Kyung juga ah tauk ah malah ngekek liat interaksi sama Alessa udh aku Alessa-Kyung shipper /plakplak/

    Eh serius ya ini ane kerasa ba-nget. Pas ada shinkhole lalu adegan berantem dan yang lainnya. Ane berjengit ngeri. Duh ah benci kak rish sm kak ta bisa buat epep eksekusi cantik yg suasananya hidup banget kayak gini

    Dan pas Baekhyun muncul muka kocak cabeablenya berubah jd orang haus darah /vampire kalek/ kamsudnya seorang pembunuh. Ya lord, ternyata dia orang Korut jg tp ane yakin dia gak akan metong ntar bday series dia gimana, apakah di bday series baek bakal banyak tumpah darah karena dia mau ngebunuh Jiayi? Oemji

    Dan Jiayi belum bisa ketemu adeknya karena member lain masih ngantre nunggu jatah. Dan ntar Umin dapet peran apa yak, sumpah si Jiayi dikelilingin org elit di Korsel. Anak presiden, panasehat presiden, dll :3

    Btw kok ane malah ngebayangin kalo di 1 series Jiayi ketemu adeknya mereka bakal berlari-lari menghindari sinkhole dan susah pulang ke china 😄 udah sip tunggu maret yuhuyyy dan nanti april hunhan

    • ADAW, ente dalam bahaya els. Imajinasimu bakalan rusak karena bayangin papih yg notabene mantanmu itu si setan mesum jadi penasehat presiden wkwkwk

      Muehehe itu aslinya mau ada adegan jia-yi dorong mereka ke sinkhole. soalnya mereka kalo interaksi mancing emosi sih, tapi gak jadi. Nanti jia-yi ganti peran antgonis kalo gitu :v

      Mereka bukan orang elit, tapi gembel elit yg bener els. 😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s