[KAI BIRTHDAY PROJECT] FROM FAR AWAY – by AYUSHAFIRAA

fromfaraway1

`Hanya untuk dapat bersamamu, aku rela menjadi apapun. Bahkan menjadi ‘anjing’mu saja, aku mau. Lalu, apa yang membuatmu takut menjalani hidup bersamaku? Aku ini, anjing yang tak akan menggigit tuannya sendiri.`

FROM FAR AWAY

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Kim Jongin, Lalice Manoban as Lalisa, Ban Namgyu as Kim Rain, Park Chanyeol.`

|| Adult, Death Fic, Fantasy, Gore, Romance ||

// PG-17** // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

Wattpad◀▶Kakaostory

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

**Mengandung adegan dewasa, kekerasan dan bahasa kasar, bagi yang tidak suka / anti dengan konten berbau seperti itu harap untuk tidak membaca. Jadilah pembaca yang baik dengan memperhatikan rating cerita terlebih dahulu**

•••

Suara dentuman musik elektronik dance memecah keheningan malam di sebuah klub terbesar daerah Gangnam. Klub itu adalah surga tersendiri bagi kalangan elite Gangnam, artis populer, hingga konglomerat untuk menghabiskan malam –serta uang– mereka. Para wanita sengaja mengumbar keseksian mereka di atas lantai dansa, menguji pandangan liar pria-pria hidung belang yang menatap mereka dengan tatapan lapar ingin memangsa.

Pria bersurai coklat sedikit acak-acakan itu menari bersama para wanita seksi yang ada di lantai dansa, menggenggam secangkir kecil vodka kesukaannya. Dialah Kim Jongin, pria yang memiliki aura kesempurnaan luar biasa sebagai putra konglomerat, calon pewaris grup perusahaan raksasa yang menguasai roda perekonomian negeri ginseng Korea Selatan.

Seorang wanita yang duduk di dekat bartender menatap pria tampan itu dari kejauhan, manik coklat nan tajamnya mampu menarik perhatian pria itu hingga turun dari lantai dansa dan mendekatinya yang –kebetulan- sedang sendirian.

“Hai, cantik! sepertinya kau sendirian saja sejak tadi, boleh kutemani?” sapa pria itu sembari mendudukkan diri di samping si gadis.

Gadis cantik itu tersenyum, lalu berkata dengan nada dan tatapan menggoda, “Tentu saja. Siapa yang tidak mau ditemani oleh lelaki setampan dirimu?”

Sialan. Jongin suka dengan gadis-gadis nakal yang memujinya, terlebih, gadis yang berhadapan dengannya ini memiliki kecantikan sempurna yang tentunya mampu mengimbangi kesempurnaan Jongin.

“Siapa namamu? Sepertinya baru kali ini aku melihatmu di sini.” Jongin selalu tahu gadis-gadis yang tergolong ‘stok lama’ dan ‘stok baru’, setiap hari, ia tidak pernah absen untuk hadir di klub ini dan menikmati ‘pelayanan’ dari gadis-gadisnya yang –menurutnya- tidak pernah mengecewakan.

“Namaku Lalisa. Terserah, kau boleh memanggilku Lisa, atau kalau kau memiliki panggilan sayang tersendiri untukku…” gadis berambut pirang sebahu itu menggantung perkataannya, mengalihkan perhatian Jongin dengan menyentuh seduktif leher jenjangnya sendiri yang mampu menggoda Jongin tanpa butuh waktu lama.

Jongin meneguk salivanya, leher jenjang gadis itu seperti sudah memohon untuk diberi tanda kepemilikannya.

“Aku lebih suka memanggilmu Lisa, seperti nama gadis-gadis barat yang cantik dan juga… sedikit nakal.” Lelaki berkulit eksotis itu menyosor bibir tebal berwarna merah darah nan seksi milik Lisa. Respon yang diberikan Lisa pun membuat Jongin tak bisa lagi menahan hasratnya untuk menghabisi bibir gadis itu hingga kebas dan ia puas.

“Ah, maaf. Aku tidak sabaran ya?” tanya Jongin sesaat setelah Lisa melepaskan tautan bibir mereka.

Lisa mendekat, berbisik tepat ke telinga Jongin, “Aku suka lelaki yang tidak sabaran.”

“Namaku Kim Jongin.” balas Jongin, menggoda telinga Lisa dengan suara beratnya.

“Aku sudah tahu, Kim Jongin-ssi. Memangnya siapa yang tidak tahu calon pewaris dari Hanin Group yang tampan rupawan ini?”

Mendengar ucapan Lisa sudah cukup rasanya untuk membuat lelaki itu semakin membanggakan diri. Tampan, muda, kaya raya, dan memiliki banyak wanita. Kim Jongin, nyaris sempurna.

 

•••

 

Ruangan karaoke dengan lampu yang disetting berkerlap-kerlip warna-warni dalam gelap. Ruangnya memang ruangan karaoke, tapi aktifitas di dalamnya jauh berbeda dari yang dibayangkan. Jongin yang duduk di sofa super empuk merangkul mesra bahu Lisa, sesekali bibir nakalnya mengecup telinga, bibir, hingga leher gadis yang baru ia temui 2 jam yang lalu itu.

“YAK! LAKUKAN DENGAN BENAR, ANJING BODOH!” bentak Jongin pada anjing-anjingnya. Bukan anjing dalam arti kata yang sebenarnya, melainkan anjing yang dimaksud Kim Jongin adalah wanita-wanita murahan yang kini sedang merangkak layaknya anjing dari sudut ruangan untuk meminum vodka yang Jongin tumpahkan sebelumnya ke asbak rokok.

“Jadi mereka anjing-anjing yang mau kau perlihatkan padaku?” tanya Lisa, tatapan gadis itu belum beralih dari anjing-anjing Jongin.

Tanpa merasa kesulitan untuk menjawab, Jongin menghentikan aktivitasnya, “Ya, mereka anjing-anjingku yang setiap hari kuberi makan. Tapi…”

“Tapi?”

“…terkadang mereka menjengkelkan.” Pria itu terkekeh pelan meski hal-hal yang dibicarakannya tidak mengandung unsur humor sedikitpun.

“Kau mau menyuruh mereka melakukan apa? Suruh mereka lakukan apa saja, mereka pasti menurut.” Ucap Jongin, menawarkan Lisa untuk menjadi sebejat dirinya.

Lisa mengepal tangannya diam-diam, “Jongin-ssi, apa kau selalu melakukan ini?” menginjak-injak harga diri wanita tanpa ampun, seolah dirinya tak pernah terlahir dari rahim seorang wanita. Suara Lisa santai-santai saja, tak berniat membuat Jongin tak suka.

“Ya, malah aku sangat menyukainya! Mereka sangat menghibur!” Jongin tertawa. Tawanya semakin keras saat anjing-anjingnya meminum vodka bercampur abu rokok dengan sangat baik.

“Uhuk!” salah seorang di antara anjing Jongin tersedak dan tak sengaja batuk di depan tuannya.

KLANG! Kaleng minuman bersoda melayang tepat mengenai kepala anjing Jongin.

“KAU MAU MATI, HUH?!”

Chu!~ Emosi lelaki itu seketika dapat meredup tatkala bibir Lisa mengecup bibirnya dan memberi lumatan-lumatan kecil setelahnya. Jongin gerah, tak sabar lagi menahan godaan dari si gadis. Namun, sebelum tangan Jongin berhasil menggerayangi tubuh Lisa, Lisa bangkit dari posisinya.

“Aku bosan di sini. Kau tidak mau mengajakku jalan-jalan keluar?”

 

•••

 

Jongin dan Lalisa berdiri di depan etalase toko pakaian dan aksesoris bermerek ternama yang masih milik Hanin Group. Jongin telah menawarkan apapun, mulai dari perhiasan, tas, sepatu, bahkan rumah hingga apartemen elite di kawasan Gangnam hanya kepada Lalisa seorang.

“Bagaimana ya? tapi sayangnya aku tidak bisa memakai semua itu lagi.” Lisa menghela nafasnya kasar.

“Kenapa kau tidak bisa?” tanya Jongin. Lelaki itu mengangguk, mengerti, “Ah, semua yang kutawarkan tak dfsesuai dengan keinginanmu ya? Sebutkan saja apa yang kau mau, aku bisa memberi semua yang kau inginkan.”

Lalisa berpaling menatap Jongin, “Kau.”

“Ye?”

“Aku menginginkanmu, Kim Jongin.” tangan Lisa melingkar di pinggang Jongin, bersandar di dada bidang sang pria. “Aku tidak menginginkan barang-barang tidak berguna itu, aku hanya menginginkanmu seorang.”

Jongin tersenyum menang. Tanpa harus dirinya yang merayu Lisa untuk bercinta dengannya, Lisa sudah lebih dulu secara sukarela menyerahkan tubuhnya pada sang calon pewaris harta kekayaan Hanin Group.

“Kalau begitu, jangan salahkan aku kalau aku menyiksamu sampai pagi.” Ucap Jongin dengan senyuman lebar sebelum akhirnya mengecup puncak kepala Lisa.

Lisa spesial bagi Jongin. Entah kenapa, niat awal Jongin yang hanya ingin mencicipi tubuh Lisa kini berubah menjadi niatan menjadikan Lisa miliknya seutuhnya. Jongin jatuh cinta pada Lisa, pada tubuhnya, pada wajah cantiknya, pada setiap sentuhan lembut Lisa saat memanjakannya. Lisa sempurna bagi Jongin yang sempurna.

“Aku suka bibirmu yang merah semerah darah itu, Lisa.” Gumam Jongin. Rasa kantuk dan lelah sehabis bercinta dengan Lisa beronde-ronde dengan berbagai macam gaya setidaknya cukup untuk membuat Jongin membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size, di samping Lisa.

Lisa menyeletingkan kembali celana Jongin dan membiarkan tubuh bagian atas lelaki itu terekspos dengan indahnya. Jika kalian tahu bagaimana agresifnya seorang Christian Grey saat bercinta dengan Anastasia Steele dalam trilogi Fifty Shades of Grey kalian pasti langsung dapat menyimpulkan dengan benar kalau Kim Jongin adalah Tuan Grey-nya dan Lisa adalah Anastasia-nya Korea Selatan.

Luka memar membiru hasil dari kekerasan yang dilakukan Jongin saat bercinta pada tubuh Lisa seakan tak terhitung lagi. Bibir Lisa yang kebas tak luput juga dari luka bekas gigitan kasar Kim Jongin saat menciumnya penuh nafsu. Lisa tersenyum memandangi Jongin yang terlelap tanpa dosa, tangannya lalu menarik kaki Jongin, menyeret Jongin yang tak sadarkan diri keluar dari kamar hotel.

“Kau mau membawaku ke mana, Lisa?” Jongin mengigau tanpa memiliki tenaga lagi untuk bangun dan menyaksikan tubuhnya yang diseret Lisa seperti anjing yang sudah mati.

BRUK!

Lisa menjatuhkan tubuh lemas Jongin setelah mereka sampai di atap hotel yang gelap dan sepi. Dinginnya udara dini hari serta angin yang bertiup kencang tanpa henti membuat Jongin meringkuk memeluk tubuhnya sendiri di lantai dingin rooftop, namun udara yang terlalu menusuk itu akhirnya memaksa Jongin untuk membuka matanya, bangun dari tidur untuk menghadapi mimpi yang lebih buruk.

“Lisa… kau cantik sekali.” Puji Jongin yang masih belum sadar sepenuhnya.

Tatapan yang tak kalah dingin dari seorang Lisa seketika mampu membuat bulu kuduk lelaki itu bergidik.

“Kau bilang, kau suka bibirku yang merah ini kan?”

“Bibir ini merah oleh darahku sendiri.” Lanjut Lisa masih dengan tatapan dinginnya.

.

.

.

.

.

.

Bola mata Jongin melebar selebar-lebarnya, “Li… Lisa? K-kau?”

Jongin ingin berteriak, namun tenggorokannya tiba-tiba saja tercekat dan tak bisa mengeluarkan suara apapun. Tangan dan kaki Jongin pun terasa seperti tertahan, tak mampu beranjak pergi ke manapun.

“CIH, DASAR SETAN TAK TAHU DIRI! LEPASKAN AKU SEKARANG JUGA!” sekalinya mulut itu bisa bicara, mulut Jongin hanya mampu mengumpat, berteriak dengan kata-kata kasarnya.

Brengsek! Jadi tadi Jongin bercinta dengan setan?!

“Kim Rain,”

Jongin mengangkat kepalanya, menatap wajah menyeramkan penuh darah Lalisa sesaat setelah nama yang familiar di telinganya itu disebut.

“Kau ingat nama itu?” lanjut Lisa.

“Kenapa?! Gadis sialan itu yang merasukimu, eoh?!”

Gadis sialan…

Gadis… sialan…

Lisa menjilati darah yang mewarnai bibirnya, “Bajingan sepertimu memang tidak pantas hidup lebih lama.”

Pandangan mata Lisa menguat, mentransfer ingatan seorang wanita bernama Rain ke dalam ingatan Jongin. Lelaki itu terhipnotis, yang ada dalam pandangan lelaki itu saat ini adalah bayangan pertama kali Kim Rain mengenal Kim Jongin.

•••

 

“Rain! Cepatlah turun, Sayang!”

Mendengar panggilan sang ibu, gadis cantik itu keluar dari kamarnya di lantai dua, menuruni tangga dengan anggun untuk bertemu keluarga konglomerat pemilik Hanin Group yang menaungi namanya juga sebagai model.

Saat itulah, Kim Rain bertemu dengan Kim Jongin. Pemuda tampan yang mampu membuatnya jatuh cinta sejak pandangan pertama. Beruntung sekali, perasaan Rain pada Jongin tak bertepuk sebelah tangan.

Sayangnya, kesempurnaan Jongin tak mampu menutupi sikapnya yang bejat. Jongin menjadikan Rain sebagai anjing peliharaannya. Dan bodohnya, Rain tak keberatan diperlakukan seperti anjing oleh Kim Jongin karena cintanya yang lebih besar mengalahkan harga dirinya.

“Lakukan dengan benar, anjingku sayang!”

Mendengar itu, Rain justru semakin bersemangat melakukan apa yang diperintahkan Jongin sebagai tuannya. Rain kini sedang merangkak ke arah Jongin dengan kedua tangan dan kaki yang diborgol untuk mendapat secangkir vodka dari lelaki itu.

Cur!

Jongin menumpahkan minuman kesukaannya itu ke lantai, lalu memberi isyarat pada Rain untuk menjilati cairan yang tergenang di lantai hingga habis.

“Anjing pintar!” sebuah kecupan di bibir dan di puncak kepala menjadi hadiah Rain karena telah berhasil menyenangkan hati Jongin.

Rain tahu hubungannya dengan Jongin akan semakin erat dengan hadirnya janin buah cinta dari benih yang Jongin tanamkan di dalam rahimnya, namun tak pernah sama sekali terpikir olehnya kalau Jongin nyatanya juga tak pernah menginginkan kehadiran dirinya maupun janin yang dikandungnya.

Oppa, kau mau membawaku ke mana? Apa kita akan pergi ke suatu tempat yang indah?” tanya Rain tanpa sedikitpun menaruh curiga.

Malam itu, Jongin memberikan senyuman terbaiknya. Sebelah tangan Jongin bergerak membelai rambut Rain dan sebelah lagi memegang kendali kemudi mobil sportnya.

Di tengah jalan, mobil Jongin tiba-tiba berhenti.

“Ada apa? Aku baru tahu kalau mobil mewah pun bisa mogok.”

“Sepertinya bukan mogok, Rain. Kulihat dulu sebentar ya?” Jongin keluar dari mobilnya dan tak berapa lama ia kembali untuk memberi tahu Rain kalau ban mobilnya kempes.

Rain ikut keluar, memastikan kondisi ban mobil Jongin. “Tapi ban-nya baik-baik sa-“

PRAK!

Pria itu telah berhasil mengayunkan besi pompa angin ke kepala Rain hingga Rain jatuh terkapar di tepi jalanan sepi itu dengan kepala bocor, berlumuran darah.

Oppa… tolong selamatkan aku… jangan bunuh aku…” pinta Rain di antara kesakitannya, lirih. Tangan gemetar Rain memegangi kaki Jongin yang hendak melangkah pergi, namun sang empunya kaki malah menendang wajahnya tanpa ampun.

“DASAR ANJING TIDAK BERGUNA! MATI SAJA KAU!”

“Tapi aku sedang mengandung anakmu…”

“CIH, KAU PIKIR AKU MAU MEMILIKI DARAH DAGING DARI ANJING GILA SEPERTI DIRIMU?!”

Terluka parah di bagian kepala memang cukup untuk membuat seseorang mati, namun Jongin merasa belum puas kalau belum menyaksikan sendiri terpisahnya nyawa dengan raga seorang Kim Rain. Jongin kemudian tanpa belas kasih menyeret Rain yang tak berdaya masuk ke dalam hutan di tepi jalanan sepi itu.

Oppa…”

Mulut Rain yang tak mau berhenti bicara itu sangat mengganggu sistem pendengaran Jongin. Jongin mengeluarkan pisau lipat miliknya dan…

BLES!

BLES!

BLES!

Berulangkali Jongin menusuk leher Rain sampai-sampai darah gadis itu memuncrat ke wajah tampannya. Melihat Rain tak berkutik lagi dengan mata dan mulut yang terbuka, Jongin hanya tertawa seperti orang gila setelahnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia membunuh salah satu anjing tak berguna miliknya dengan tangannya sendiri.

Angin bertiup kencang menggoyangkan pohon-pohon di sekitar Rain. Seorang malaikat maut datang menghampiri Rain yang sekarat sendirian menghadapi kematiannya. Malaikat maut bermarga Park itu berdecak kesal karena lagi-lagi ia harus dihadapkan dengan ‘kematian tak wajar’ yang pastinya akan melahirkan arwah penasaran.

“Kim Rain, seorang wanita berumur 20 tahun. Mati karena dibunuh oleh kekasihnya yang tak mau bertanggung jawab akan kehamilannya?” Malaikat maut itu membacakan takdir Rain yang tertulis jelas di tabletnya.

“Kau tahu? Aku paling tidak suka mengurusi arwah penasaran! Arwahmu tidak akan pernah diterima surga jika dendammu belum terbalaskan!”

“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Rain pada sang malaikat.

Malaikat itu menatap Rain, gadis bernasib malang yang kini terlihat begitu menyedihkan di hadapannya. Melihat jasad Rain yang mengenaskan juga membuat bulu kuduknya bergidik.

“Selagi aku masih berbaik hati, akan kuberi kau satu kesempatan untuk membalaskan dendammu pada pria itu dalam satu hari. Tapi sebagai arwah, kau tidak mungkin bisa balas dendam begitu saja.” Sang malaikat mengulurkan tangannya dan tanpa harus berpikir dua kali, Rain menerima uluran tangan malaikat mautnya.

Malaikat Park membawa arwah Rain dalam sekejap ke ruang mayat sebuah rumah sakit dengan kemampuan teleportasi, ia lalu menunjukkan tubuh tanpa jiwa mana yang paling tepat untuk Rain masuki.

“Namanya Lalisa, usianya sama denganmu. Dia seorang anak baik-baik yang meninggal karena sakit tanpa meninggalkan dendam kepada siapapun. Aku sudah mengantar jiwa aslinya ke surga beberapa jam yang lalu. Jadi sekarang tubuh ini sudah kosong, kau boleh menggunakan tubuh ini untuk membalaskan dendammu.” Jelas malaikat tampan itu sebelum akhirnya membantu Rain untuk masuk ke dalam tubuh kosong Lalisa.

 

•••

 

“Hanya untuk dapat bersamamu, aku rela menjadi apapun. Bahkan menjadi ‘anjing’mu saja, aku mau. Lalu, apa yang membuatmu takut menjalani hidup bersamaku? Aku ini, anjing yang tak akan menggigit tuannya sendiri.” Kini giliran suara Rain yang berbicara pada Jongin melalui Lalisa.

Lelaki itu tertawa sekeras-kerasnya, “Kau hanya seekor anjing bodoh, Rain! KAU HANYA ANJING BODOH YANG DENGAN TAK TAHU MALUNYA MENGINGINKANKU! KAU ANJING TAK TAHU DIRI, RAIN!”

Lisa membuka choker yang menutupi luka robek di lehernya, memperjelas luka yang Jongin buat sendiri di leher Rain malam kemarin.

“Kau tahu rasanya saat pisau tajam menusuk lehermu, Kim Jongin? rasanya sakit sekali. Bahkan menjerit hanya untuk melampiaskan rasa sakit pun kau tidak akan bisa karena tenggorokanmu sudah dirobek paksa oleh orang lain.”

“Ah, aku lupa sesuatu. Pompa angin? Ya, benda itu yang kau gunakan untuk memecahkan tengkorak kepalaku.”

Tubuh Jongin terpaku, tak bisa bergerak sama sekali. Tangan dan kakinya serasa diikat oleh tali yang sangat kuat.

Tap… tap… tap… langkah kaki Lisa yang mendekatinya membuat Jongin ketakutan setengah mati.

“Ja-jangan bunuh aku! jangan bunuh aku, Rain! Kau tidak boleh membunuh satu-satunya calon pewaris Hanin Group!” bahkan di saat seperti ini, Jongin masih sempat menyombongkan diri.

PRAK!

Sebuah tabung pemadam api dilayangkan Lisa ke kepala Jongin hingga bercucuranlah darah segar dari kepala lelaki itu.

“Bagaimana rasanya, Kim Jongin?” tanya Rain.

“Ampuni aku, Rain! Saat itu a-aku ketakutan mendengarmu hamil, a-aku belum siap menerima kenyataan itu.” ucap Jongin menyesal. Namun bagi Rain, penyesalan Jongin sudah terlambat. Ia dan janin yang dikandungnya sudah mati, oleh kebiadaban lelaki bermarga sama dengannya itu.

“Kalau saja saat itu kau meraih tanganku, Kim Jongin. Aku dan bayiku pasti tidak akan mati. Mata harus dibayar mata, jari harus dibayar jari, dan nyawa… harus dibayar nyawa.”

Lisa mengeluarkan pisau lipat milik Jongin, pisau yang juga digunakan Jongin untuk merobek leher Rain berkali-kali.

“A-apa yang akan kau lakukan?! Ja-jangan! Jangan, Rain!”

“Seekor anjing hanya akan menurut dan setia pada Tuan yang mau menghargainya. Jika Tuannya sudah tak menghargainya lagi, mungkin sudah saatnya bagi si anjing untuk merobek leher tuannya sendiri.”

“RAIN!”

BLES!

BLES!

BLES!

“Ohok! Ohok…” cairan kental berwarna merah pekat keluar dari mulut Jongin setelah tenggorokannya ditusuk secara sadis berkali-kali menggunakan pisau lipat miliknya sendiri. Akhirnya, tubuh lelaki itu terkapar bersimbah darah, mati dengan cara mengenaskan di lantai rooftop hotel milik keluarganya untuk membayar dosa-dosa dari perbuatannya semasa hidup. Tak ada lagi yang bisa Kim Jongin banggakan, karena semua harta miliknya pun tak sanggup untuk mengganti nyawanya sendiri.

 

•••

 

Eomma… Appa… ini aku, putri yang selalu kalian banggakan, Rain.

Maafkan Rain, Eomma, Appa… Rain tidak bisa menjadi anak yang berguna bagi kalian. Rain kotor. Rain malah mau-maunya dijadikan anjing peliharaan oleh putra pemilik Hanin Group yang kalian perkenalkan waktu itu. Rain terlalu bodoh untuk bisa jatuh cinta pada Jongin Oppa.

Saat surat dari Rain ini kalian baca, Rain mungkin masih tergeletak tak berdaya di hutan di tepi jalan xxx. Jongin yang membunuh Rain karena Jongin tahu Rain mengandung anaknya. Tapi jangan khawatir, Eomma… Appa… Rain sudah membalaskan dendam Rain pada Jongin. Rain sekarang bisa pergi dengan tenang.

Oh iya, tolong sampaikan rasa terimakasih Rain pada keluarga mendiang Lalisa… karena tanpa Lalisa, Rain mungkin tidak akan pernah bisa membalaskan dendam Rain.

Sekali lagi, maafkan Rain. Dan terimakasih telah merawat Rain hingga tumbuh dewasa dengan cantik.

Eomma… Appa… selamat tinggal. Rain mencintai kalian 

-Kim Rain.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s