[KAI BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in JUNGGU — IRISH’s Tale

irish-holmes-in-junggu

HOL(M)ES

AGEN-D in Jung-gu  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s D.O.

Special appearance EXO’s Chanyeol, Kai. & Shaekiran`s OC Yara

An adventure, dystopia, family and politic story  rated by Teen served in two-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH ft. Shaekiran

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Kai & D.O. of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Gwanak-gu (3) [D.O.]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Omong-omong Yara, apa kau masih menyukaiku?”

Pertanyaan Chanyeol seakan menohok Yara hingga mencelos. Bagaimana bisa lelaki di depannya itu begitu berterus terang? Lantas Yara berdeham sejenak.

“Memangnya kenapa?” tanya gadis itu gugup.

“Kalau kau masih menyukaiku, maka kita perlu bicara sebentar Yara-ssi, dan kuharap kau tidak menolak karena ini sangat penting.” Chanyeol berucap pasti sambil menatap intens lawan bicaranya sekarang. Yara hanya menghela nafas, kemudian mengangguk perlahan.

“Kau masih pemaksa seperti biasanya. Dan juga, memangnya kapan aku bisa menolak pesonamu? Apa pernah?” Chanyeol tersenyum, sementara kini tangannya menarik Yara menjauh dari pesta.

Taman belakang sepi seperti perkiraan Chanyeol. Hanya ada lampu taman yang bersinar kerlap kerlip serta air terjun buatan yang masih mengalir sempurna. Kini Yara memangku tangannya, menatap penasaran akan apa yang ingin dibicarakan empat mata oleh Chanyeol—mantan kekasih yang memutuskannya secara sepihak dua tahun lalu.

“Aku tidak ingin menyudutkanmu, tapi apa kau tahu ayahmu sedang berencana berkhianat pada negeri ini?” tanya Chanyeol cukup to the point membuat Yara—yang awalnya gembira karena dibawa ke tempat yang cukup romantis oleh Chanyeol setelah beretemu untuk pertama kalinya setelah dua tahun—kini mulai menatap lelaki di depannya itu dengan pandang tidak suka.

“Park Chanyeol! Apa yang kau bicarakan sekarang? Kau menghina ayahku? Setelah apa yang kau lakukan padaku?” balas Yara dengan amarah yang cukup tersirat, membuat Chanyeol hanya bisa menghela nafasnya perlahan.

“Aku bicara jujur Yara! Dan jika kau tidak percaya, buktinya ada pada ayahmu sendiri.” suara Chanyeol tak kalah naik, malah kini ia mencengkram kedua bahu Yara cukup keras.

“Ayah kita sama saja, mereka bekerja sama untuk menghancurkan negara ini. Dan tindakanmu bisa saja menentukan nasib ribuan warga Korea saat ini!” Chanyeol berusaha menyakinkan Yara, sementara batin si gadis kini mencelos.

Ayahnya berkhianat pada negeri tempatnya mengabdi selama lebih dari separuh umur? Rasanya itu tidak mungkin bagi Yara. Ayahnya, Lee Jung Shin adalah sosok Jenderal yang membela Korea di medan perang dengan bertaruh nyawa, dan kini Chanyeol mengatakan seorang Jenderal besar yang sudah bersumpah setia pada negara dan menjadi menteri pertahanan setelah pensiun dari militer itu sebagai pengkhianat.

“Kita masih bisa mengubahnya, Yara. Kita mungkin saja masih bisa mencegah perang terjadi.” lagi-lagi Chanyeol berucap, hingga tubuh Yara mulai gemetar.

“Apa itu ada hubungannya dengan Arshavin?” lirih Yara kecil—ingat bagaimana seorang dari Rusia datang ke rumahnya akhir bulan lalu—dan Chanyeol langsung mengangguk mengiyakan.

“Ya, ini semua ulah Arshavin. Kau juga tahu dia ‘kan? Kau juga pasti menaruh rasa curiga pada ayahmu karena aku tahu kau itu gadis yang pintar.” Chanyeol melepas cengkeramannya, lantas ia menggengam erat telapak tangan Yara yang mulai berkeringat lantaran gugup dan takut.

“Percayalah padaku Yara. Jawabanmu menggantung nyawa warga Korea sekarang.” Chanyeol berucap lagi, sementara air mata Yara kini sudah tergenang di sudutnya. Yara yakin itu, ia tahu ada yang salah dengan ayahnya belakangan ini dan Yara takut kalau semua ucapan Chanyeol adalah benar adanya.

“Percaya padamu? Untuk apa? Toh kau meninggalkanku juga dua tahun lalu padahal kau berjanji akan menikah denganku.” Yara mengalihkan topik pembicaraan sambil menghempas tangan Chanyeol yang menggenggamnya.

Tak ingin kalah argumen, Chanyeol kini bergerak mencengkram bahu Yara, terkesan kasar, tapi sebenarnya penuh perasaan.

“Itu masa lalu, Yara. Bagaimana bisa kau menyamakan masalah hati seorang remaja dengan masalah nurani yang menggantung kehidupan orang lain? Aku tidak pernah main-main dengan hidup Yara. Kau mengenalku, dan kau pasti tahu kalau aku mengatakan yang sebenarnya.” Yara hanya bisa terdiam sambil memejamkan mata perlahan. Ia tahu ia pasti akan dicap anak durhaka setelah ini.

“Baiklah, kuanggap aku percaya padamu Chanyeol. Jadi apa yang harus kulakukan?” Chanyeol tersenyum senang, sementara kini Yara hanya tersenyum kaku lewat sudut bibirnya.

“Ada e-mail yang dikirim Arshavin pada ayahmu. Aku ingin melihat isinya tapi hanya ada satu kali kesempatan memasukkan password. Bisa kau ambil ponsel ayahmu dan mengecek e-mailnya? Kupikir kau pasti tahu semua beluk ponsel ayahmu karena kau sering memakainya ‘kan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Disinilah Chanyeol sekarang, memanjat tembok rumahnya sendiri dibantu Kyungsoo—tangan kanannya. Yara hanya menatap Chanyeol yang berpamitan dari atas tembok setinggi tiga meter di atas sana, berharap kalau pemuda itu tidak salah mendarat dan berakhir patah tulang.

Ya, Chanyeol baru saja mendapat sandi password Arshavin, tertulis jelas di note rahasia ponsel ayahnya yang memang suka ia utak-atik. Harus Yara akui ia cukup durhaka karena mencuri ponsel milik ayahnya hanya demi seorang lelaki yang berstatus mantan kekasih.

Namun gadis itu tidak menyesal, ia menggenggam erat ponsel ayahnya di tangan, sementara tangan lainnya melambai pada Chanyeol yang kini turun melompat dari ketinggian. Sebenarnya, sikap mereka cukup terlihat dramatis bak drama dimana si kekasih melepas kepergian prianya ke medan perang. Namun, suara hempasan cukup keras berbunyi sedetik setelahnya—tanda kalau Chanyeol sudah berhasil mendarat di luar tembok—diikuti suara mengaduh yang membuat Yara sedikit terkekeh kecil.

Setidaknya dia tahu Chanyeol tidak mendarat dengan baik.

Di balik tembok itu, Kyungsoo terlihat dengan cepat berusaha membantu Chanyeol yang baru saja terjerembap jatuh. Kyungsoo mungkin terbiasa berada di medan sulit, Chanyeol tidak begitu.

“Apa kau mendapat apa yang kau cari?” Kyungsoo bertanya sembari melihat sekitar, sementara Chanyeol kini membersihkan bokongnya yang kotor dan terasa terasa cukup sakit karena baru saja mendarat di tanah.

“Ya, dan aku yakin kalau itu password yang benar.” Chanyeol berucap sembari berdiri, dan detik selanjutnya ia maupun Kyungsoo sudah berlari terburu-buru.

“Kau sudah mengamankan daerah sini ‘kan?” tanya Chanyeol meski kini nafasnya terengah-engah, dan anggukan singkat Kyungsoo yang ia tangkap lewat sudut matanya cukup membuat Chanyeol lega.

“Lima belas menit. Hanya lima belas menit sebelum mereka sadar kalau aku sudah menyabotase CCTV dan membuat penjaga gerbang belakang tidak berdaya. Kau tahu pengamanan rumah presiden bagaimana, cukup sulit mengulur waktu lebih banyak lagi.” Kyungsoo menjelaskan sementara Chanyeol menggangguk mengerti. Lantas kedua pemuda itu berbelok ke sebuah gang sempit.

Sebuah mobil hitam nampak terparkir di sudut gang yang gelap, hanya bercahayakan lampu jalan yang hidup remang-remang. Tak menunggu lama, Chanyeol dan Kyungsoo langsung masuk ke dalam mobil dimana Kyungsoo duduk di  bangku kemudi.

“Jongin, buka akunnya sekarang. Kita hanya punya waktu lima belas menit.” titah Chanyeol cepat dan sama cepatnya pula Jongin mematuhi perintah pemuda Park itu.

O, jangan lupakan siapa yang juga jadi tamu mereka malam ini. Jia-yi, si gadis asal China itu duduk di sebelah Jongin, tatapannya pada Chanyeol benar-benar tidak bisa diartikan. Tanpa bisa berbohong, Jia-yi lumayan takjub dengan penampilan Chanyeol sekarang. Pemuda Park itu benar-benar terlihat berbeda saat ia merawat tubuhnya dan mengenakan pakaian semestinya.

Ingin Jia-yi memuji Chanyeol yang pernah ia panggil gelandangan itu, namun niatnya urung saat Chanyeol nampak begitu serius dan seruan Jongin yang menyuruh Chanyeol memasukkan password-nya.

Dengan cepat Chanyeol memasukkan password yang diberikan Yara. Sebuah kumpulan angka rumit yang terlalu malas untuk Chanyeol maupun Jongin terjemahkan. Dan bingo! E-mail itu terbuka sudah.

“Apa ini?” Jia-yi bertanya, karena kini laptop kecil Jongin sudah menunjukkan sebuah file gambar yang ternyata berisi sebuah peta.

“Ini peta buram Korea Selatan, dan beberapa tempat sepertinya sudah ditandai.” Kyungsoo berucap, sedikit melirik ke bangku belakang. Ia yakin kalau itu memang peta buram. Saat ia masih menjadi agen dulu, ia punya banyak peta buram seperti ini untuk misinya.

“Dia menandai Seoul University hyung, mereka menandai kampus kita.” tiba-tiba Jongin berucap di sela rasa terkejutnya mengenai e-mail Arshavin. Dan benar saja, sebuah tanda kecil tertoreh di lokasi universitas terkemuka di Korea Selatan itu.

Sinkhole, aku rasa ada sinkhole di sana.” kali ini Jia-yi yang bersuara sambil menduga-duga. Dan dengan cepat Jongin mengerakkan jariya di atas keyboard.

“Benar saja, ada sinkhole besar muncul di kampus beberapa menit yang lalu hyung.” Jongin meretas akun stasiun televisi terbesar di Korea, dan sinkhole di Seoul University menjadi salah satu berita terpanas yang akan ditayangkan di stasiun TV nasional beberapa saat lagi.

Chanyeol terkekeh, nampak sudut matanya mulai berair.

“Jadi karena ini ayah menyuruh mereka menjemputku? Seumur-umur ia bahkan tidak pernah mengajakku ke pesta pemerintahan seperti ini karena statusku yang hanya anak haram.” ucapnya getir, bibirnya mulai gemetar.

“Ayahmu menyanyangimu, itu satu bukti yang harus kau tahu Chanyeol-ssi.” Jia-yi berucap sambil menepuk punggung pemuda itu pelan dan Chanyeol hanya tersenyum tipis. Fakta kalau sang ayah menamparnya sesampainya di rumah tadi masih menyayangi hidupnya sungguh mencubit hati kecil Chanyeol.

“Chanyeol, perhatikan waktu. Sepertinya beberapa menit lagi mereka sudah ke sini.” kali ini Kyungsoo yang sedang memperhatikan keadaan rumah berucap, karena kini alarm sudah terdengar dibalik earphone yang ia pakai.

Chanyeol hanya menghela nafasnya, kemudian mengeluarkan dua buah chip kecil. “Kyungsoo, antar gadis ini ke tempat adiknya, dan kau Jongin tolong retas chip ini. Ini duplikat memori ponsel Lee Jung Shin dan ponsel ayahku.” ccap Chanyeol sambil menyerah kedua benda micro itu pada Jongin.

“Darimana kau dapat kedua benda ini hyung?” kali ini Jongin yang bicara sambil mengamati kedua benda mungil itu. Chanyeol tersenyum tipis.

“Kau bilang aku pandai mencuri hati gadis ‘kan? Aku baru saja menipu Yara dan membuatnya mencuri ponsel ayahnya sementara aku mencuri ponsel ayahku sendiri. Yara terlalu polos untuk tahu kalau aku tidak hanya mengambil password ayahnya, tapi juga mencopy semua isi memori ponsel ayahnya.”

Penuturan Chanyeol sekarang membuat Jongin terkekeh. Harus ia akui, Chanyeol sudah membuat putri seorang menteri tergila-gila dan itu ada gunanya juga. Chanyeol si cassasnova.

“Lalu bagaimana denganmu?” kali ini Jia-yi yang bersuara, nampak bingung karena Chanyeol tidak menyebut namanya sama sekali padahal gadis itu pikir Chanyeol akan melarikan diri karena sudah mencuri datang penting bersamanya dan kedua tangan kepercayaannya.

“Aku akan tinggal disini. Akan kuyakinkan ayah untuk menghentikan perang yang hanya akan menghancurkan bangsa ini. Setidaknya, aku ingin menganggapnya ayah dengan cara yang benar, dan kuputuskan menjadi anak baik yang menyadarkan ayahnya yang salah jalur.” Chanyeol menjawab sambil menerawang jauh, sementara tangannya kini bergerak membuka pintu mobil.

“Apa kau akan baik-baik saja?” Jia-yi berucap khawatir.

Bagaimanapun juga Chanyeol tengah bertaruh nyawa karena telah mencuri data rahasia. Jika ayahnya tahu kalau Chanyeol sempat mencuri ponsel dan menduplikat isinya, serta berhubungan dengan peretasan akun pemerintahan, mungkin Chanyeol tidak akan baik-baik saja dan bisa saja masalah besar menghampiri lelaki mantan gelandangan itu.

“Aku akan baik-baik saja, jadi sekarang Jia-yi, pergilah. Dua orang ini akan membantumu, dan kuharap kau menemukan adikmu sebelum terlambat.” Chanyeol berucap pelan, lalu menutup pintu mobil ketika gadis Wang itu mengangguk kaku.

Tak berselang lama—hanya jeda sedetik—Chanyeol kembali membuka pintu mobil hingga menimbulkan tanda tanya bagi ketiganya.

“Ada apa?” tanya Kyungsoo.

Chanyeol, tersenyum kecil sementara ia melempar pandang ke arah Jia-yi.

“Kau harus tetap hidup sampai perang ini berakhir, nona. Aku mungkin bisa membawa dua temanku ini berlari ke luar negeri dengan uang yang kumiliki tapi kau berjuang sendirian.

“Tidak banyak gadis cerdas yang pemberani sepertimu. Meski awalnya kau terlihat membosankan dan kaku, tapi ternyata kau menarik juga.” Chanyeol tersenyum, sekon kemudian dia kembali berucap. “Kuharap kita bisa bertemu lagi di lain waktu, Jia-yi-ssi. Senang bertemu denganmu.”

Chanyeol mengulum senyumnya lebar sebelum akhirnya mengacak-acak ambut Jia-yi pelan. Gadis asal Beijing itu hanya terdiam dengan perlakuan Chanyeol, sementara si pemuda Park kini sudah berlanjut pamit pada kedua temannya.

Tak berapa lama Chanyeol kembali menutup pintu mobil. Kali ini tanpa berbalik lagi, karena Jia-yi sudah menangkap sosok Chanyeol yang hilang dibalik kegelapan gang.  Tak lama, beberapa bodyguard nampak berlari mengejar Chanyeol.

“Ia akan baik-baik saja. dia sering kabur seperti ini jadi Presiden mungkin mengira Chanyeol hanya kabur seperti biasanya.” Kyungsoo berucap sembari melirik Jia-yi yang masih setia memandangi Chanyeol yang sudah pergi, sementara pemuda Do yang duduk di bangku kemudi itu mulai menghidupkan mesin mobil.

“Apa kau siap pergi Jia-yi-ssi? Bukankah kau ingin mencari adikmu?” Kyungsoo bertanya memastikan, sementara Jia-yi kini mengangguk yakin. Ia tahu Chanyeol pasti akan baik-baik saja, dan Jin-yi menjadi prioritasnya sekarang. Jadi Kyungsoo dengan cepat menekan gas, membawa mobil audi itu menjauh dari gang sempit rumah Chanyeol—mulai menghilang dalam kegelapan malam menuju tempat adik Jia-yi mungkin berada.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

 Perpisahan adalah sebuah awal dari pertemuan yang baru.

Perumpamaan itu sekarang patut Jia-yi percaya. Bagaimana tidak, dalam dua hari ini, dia sudah bertemu dengan sebuah keluarga kecil dan kemudian berpisah. Di hari yang sama ia juga bertemu dengan dua orang yang saling melengkapi kekosongan dalam hidup mereka.

Di hari berikutnya, Jia-yi bertemu dengan seorang pria misterius yang menutu diri dari semua keingin tahuan orang lain terhadapnya. Do Kyungsoo, agaknya telah menjadi bukti hidup bagi Jia-yi tentang bagaimana setidaknya ada satu dari sekian banyak orang di dunia ini yang bersikap tertutup pada orang lain dan benar-benar enggan membuka diri.

Sudah dua jam berlalu sejak terakhir kali Jia-yi bertemu dengan Chanyeol—pria yang senyatanya punya fakta hidup begitu mengesankan sekaligus menyedihkan—sebelum Jia-yi terjebak dalam sebuah mobil dengan dua pria tanpa suara.

Sungguh. Jia-yi bahkan bisa menghitung berapa banyak kata yang terlontar keluar dari mulut dua orang itu sejak tadi. Hanya sekedar saling berbalas kata singkat dan sahutan-sahutan pendek seperti ‘Ya’ atau ‘Tidak’ saja.

“Kalian tidak lapar?”

Tidak tahan dengan kebekuan yang tercipta, akhirnya Jia-yi berucap. Dipandanginya dua pemuda itu bergiliran sementara ia menunggu jawaban. Harapannya, konversasi kecil akan dimulai dalam mobil itu, atau minimal dia bisa berhenti di sebuah minimarket untuk mencari makanan.

“Ada beberapa bungkus roti di tas hitam yang ada di belakang.” sahutan Kyungsoo di kursi kemudi menjadi jawabannya.

“O, aku tidak tahu kalau kau membawa perbekalan.” Jia-yi berucap, sekedar menyindir kecil Kyungsoo lantaran sedari tadi terus memilih bungkam tanpa peduli kalau setidaknya ada seseorang yang kelaparan bersamanya.

“Kau tidak lapar, Jongin?” lagi-lagi Jia-yi bertanya, menatap Jongin yang masih sibuk dengan laptop berukuran empat belas inch miliknya sedari tadi.

Melihat gelengan pelan yang Jongin berikan sebagai jawaban, Jia-yi putuskan untuk tidak bertanya atau bicara lebih jauh lagi. Diam-diam dia membatin dongkol juga, heran sekali bagaimana seseorang bisa betah menghadapi komputer seperti yang Jongin lakukan.

Pikir Jia-yi, organ dalam tubuh Jongin pasti sudah ada yang memekik kesakitan lantaran hancur ditelan radiasi selama bertahun-tahun.

Akhirnya, Jia-yi bergerak meraba-raba ruang kosong di belakang sandaran kursinya, menghembuskan nafas lega saat ditemukannya sebuah tas kecil ada di sana. Saat Jia-yi mengambil tas tersebut dan membuka resletingnya, benar saja beberapa bungkus makanan ada di sana.

Setidaknya makanan-makanan kecil itu bisa mengganjal perut.

“Omong-omong, kau bisa menurunkanku di tempat biasanya, Kyungsoo hyung. Kupikir lebih baik kalian melanjutkan perjalanan ini berdua saja. Aku ingin membereskan barang-barangku di universitas.”

“Apa kau gila?” tanya Kyungsoo, diliriknya Jongin dari spion depan mobil dengan pandangan tak suka. “Kau sudah tahu Seoul University jadi sasaran mereka juga, dan kau masih ingin ke tempat itu?” sambungnya.

Jongin, tersenyum kecil sebelum ia lantas menyahut.

“Apa yang perlu kutakutkan? Sinkhole? Mereka tak akan menciptakan gempa itu di malam hari. Mengapa? Karena mereka tak bisa melihat bagaimana efeknya dari gedung pencakar langit di sana.”

Kyungsoo terdiam mendengar penuturan Jongin. Pria itu tengah berspekulasi, bukan mengutarakan sebuah fakta. Tapi jika dipikir-pikir lagi, cukup masuk akal bagi mereka yang ada di atas sana untuk duduk santai di pagi, siang atau sore hari dengan menyeruput kopi dan menonton kehancuran yang mereka ciptakan dari gedung tertinggi.

Malam hari sebenarnya jadi waktu yang paling tepat untuk menghancurkan sebuah tempat. Apalagi, jika kehancuran itu terjadi di larut malam. Jia-yi sendiri memejamkan mata, berhenti mengunyah sejenak lantaran benaknya sekarang tengah dipenuhi oleh bayangan mengerikan tentang bagaimana tubuh-tubuh tak bernyawa mungkin dilihatnya tengah berpiyama.

Gempa di siang hari atau pagi hari, terdengar lebih masuk akal di telinga Jia-yi karena setidaknya di waktu-waktu itu, orang-orang masih terjaga. Lamunan Jia-yi akhirnya terhenti ketika mobil yang dikendarai Kyungsoo terhenti di tepi sebuah jalanan kosong.

Jia-yi sempat menatap ke luar kaca jendela mobil, meski kegelapan mendominasi, tapi agaknya Jia-yi mengenali tempat ini sebagai jalan yang pernah dilewatinya. Mungkin kemarin, saat dia berjalan ke Seoul University untuk menemui Chanyeol.

Tapi tunggu, bukankah tadi Jongin berkata kalau universitasnya juga jadi incaran? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan pemuda Kim itu saat dia ada di sana?

“Kau yakin akan bermalam di sini?” tanpa sadar pertanyaan itu terlontar dari bibir Jia-yi. Entah mengapa, ada sebersit rasa khawatir yang melingkupi batinnya ketika membayangkan pemuda itu sendirian di universitas, dan kemungkinan besar, hal yang buruk akan terjadi.

“Jangan khawatir, nona. Jika dugaanku tentang mereka yang sengaja membuat pembunuhan massal ini terlihat layaknya bencana, maka mereka tidak akan menghancurkan universitas di malam hari. Tidak akan ada banyak korban dan kuyakini, bukan itu yang mereka harapkan.” lagi-lagi pendapat Jongin terdengar begitu masuk akal dalam pendengaran Jia-yi.

Tentu saja tidak akan ada banyak orang di universitas saat malam hari seperti ini. Sedangkan pelan-pelan Jia-yi resapi, kalau konversasinya bersama Kyungsoo dan Jongin tadi entah mengapa membawanya pada sebuah alur yang jelas.

Menurut Jongin, munculnya sinkhole di Seoul bukan semata-mata karena bencana alam. Selain tidak adanya berita-berita sehubungan dengan bencana alam, atau cuaca, bencana yang hanya terjadi di Seoul agaknya terlihat begitu janggal.

Bagi orang awam, mungkin mereka menerimanya sebagai sebuah bencana. Tapi Jongin yakin, ada banyak orang di luar sana yang yakin jika bencana ini bukan sekedar katastropis, melainkan pembunuhan massal berencana.

“Akan kutemui kau besok, Jongin.” Kyungsoo berucap.

Jongin sendiri sudah sibuk dengan tas ransel kecil yang dibawanya tadi. Laptopnya sudah dia masukkan ke dalam tas sementara Jongin sekarang mengeratkan jaket yang ia kenakan.

“Jangan tergesa-gesa, hyung. Aku bisa menunggu.” ucap Jongin, ia menepuk bahu Kyungsoo sebelum akhirnya tatapannya bersarang pada Jia-yi.

“Sampai bertemu lagi,” ucapnya sembari mengulas sebuah senyum kecil.

Dan ya, satu lagi perpisahan Jia-yi dapatkan hari ini.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Bagaimana kau kenal dengan mereka?”

Pertanyaan itu Kyungsoo utarakan, setelah sekian lama dia dan Jia-yi saling berdiam diri di dalam mobil. Agaknya, Jia-yi kali ini merasa jika pemuda di sebelahnya—Jia-yi sudah berpindah duduk ke depan saat Jongin tadi pergi—benar-benar sosok dengan sifat bertolak belakang dari dua orang yang tadi bicara dengannya.

Meski Kyungsoo menyanggupi perintah Chanyeol yang tadi memintanya untuk mengantar Jia-yi ke City Hall—tempat terakhir Jin-yi terlihat dan terbukti sekitar tiga atau empat kali gadis itu terlihat datang ke sana—tapi tetap saja, ada rasa canggung yang tercipta sekarang lantaran Jongin yang tidak lagi ada.

Hey, kau melamun?” Kyungsoo lagi-lagi berucap, diliriknya Jia-yi sekilas sebelum ia kembali fokus pada jalanan di depannya.

“Aku hanya tahu Chanyeol dari salah seorang kenalan.” Jia-yi menyahut, gadis itu bergerak mengusap tengkuknya saat dirasanya Kyungsoo tidak memberi komentar apapun. Diam-diam, Jia-yi menyesal juga menyetujui tawaran baik Chanyeol yang meminta Kyungsoo untuk mengantar gadis itu.

“Siapa?” lagi-lagi pertanyaan dingin Kyungsoo terdengar.

“Kris, seorang fotografer freelance.” sahut Jia-yi, tahu jika bicara panjang lebar dengan pemuda di depannya tidak akan membuatnya memenangkan apapun.

“Ah, pria beranak satu itu.” gumam Kyungsoo, diselipkannya sebuah tawa bermakna kemudian, membuat Jia-yi menatap pemuda itu dengan pandang bertanya-tanya tapi tidak juga berkeinginan untuk bersuara.

Kyungsoo terlampau dingin, menurut Jia-yi. Mengingat pemuda itu adalah seorang mantan agen rahasia, pikirnya seseorang seperti Kyungsoo memang cocok untuk menjadi seorang agen rahasia.

“Bagaimana denganmu? Bagaimana bisa kau mengenal Chanyeol?” tanya Jia-yi akhirnya menemukan bahan pembicaraan.

“Dia menyelamatkanku. Kau tahu, di balik sikap konyolnya itu dia bisa menjadi seorang yang mengerikan.” jawab Kyungsoo.

“Benarkah?” tanya Jia-yi tidak percaya.

“Hmm. Saat itu dia menculikku, menyiksa tubuhku yang sudah sekarat ini hingga kupikir aku mungkin memang pantas mati. Dan kemudian dia memberikanku tawaran untuk bekerja padanya, tidak menjadi seorang Agen-D yang dikenal orang-orang di Pyongyang sana, tapi sebagai seorang dengan identitas baru.

“Dia bisa mengubahku menjadi seseorang yang membelot dari negaraku sendiri. Tidakkah kau pikir dia begitu hebat?” penuturan Kyungsoo sekarang membuat Jia-yi terperangah.

Tidak pernah diduganya kalau seorang seperti Chanyeol akan bisa melakukan hal-hal berbau kekerasan, apalagi menyiksa seseorang. Tapi sepertinya, apa yang Kyungsoo ceritakan juga bukan sebuah kebohongan.

“Benarkah?” tanpa sadar pertanyaan itu lolos dari bibir Jia-yi, membuat Kyungsoo menghela nafas panjang sementara Jia-yi masih menatapnya dengan pandangan yang sama, menunggu.

“Dia bahkan membuatmu menceritakan semua yang kau ketahui tentang negaramu tanpa kau merasa dipaksa. Kuyakini, jika kau ingat-ingat lagi apa yang sudah kau katakan padanya, pasti ada beberapa hal yang sebenarnya tidak ingin kau ceritakan, bukan?” pertanyaan Kyungsoo sekarang membuat Jia-yi teringat.

Memang benar, ada beberapa hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan pada Chanyeol, tapi apa yang Chanyeol tawarkan justru membuat Jia-yi membuka mulut tanpa paksaan. Meski Kyungsoo menceritakan bagaimana dia dipaksa untuk tunduk pada pemuda Park itu di bawah tekanan, agaknya yang terjadi pada Jia-yi juga tidak berbeda.

“Ah, sepertinya kita sudah terlambat.” perkataan Kyungsoo kini menyadarkan Jia-yi dari lamunan.

Dialihkannya pandangan dari Kyungsoo hingga kini sebuah pemandangan mengerikan menyambut netra Jia-yi. Sebuah police line melingkar sepanjang jalan, dengan asap mengepul dari gedung-gedung runtuh tidak jauh di belakangnya.

Terlihat belasan orang terluka parah di sana, duduk di bawah naungan penerangan minimal sementara polisi tidak melakukan apa-apa. Yang mereka lakukan hanya berkeliling dan mencegah orang-orang masuk ke dalam area tersebut.

“Ada sebuah sekolah seni kecil di dekat City Hall. Chanyeol katakan padaku kalau saudaramu mungkin ada di sana. Kita tidak bisa masuk dengan mobil ini, tapi bisa dengan berjalan kaki—walau aku sebenarnya tidak yakin—kau mau coba?” tawar Kyungsoo, menatap Jia-yi sementara ia sendiri bersiap-siap.

Sekarang, Jia-yi sadar kalau Chanyeol tidak hanya meminta Kyungsoo untuk mengantarkan gadis itu sampai ke tujuan tapi juga menemani si gadis sampai ia benar-benar mendapatkan fakta tentang keberadaan saudaranya.

Meski Jia-yi tidak tahu apa yang akan Kyungsoo lakukan jika nantinya mereka tidak berhasil menemukan Jin-yi di sana, tapi selama pemuda itu mau membantu, Jia-yi pikir tawarannya bukanlah hal yang buruk.

“Baiklah, dimana kau akan menyembunyikan mobilmu? Bagaimana jika ada sinkhole lain yang muncul? Kau mungkin akan kehilangan mobil mewah ini.” Jia-yi berucap, ia masih ingat jelas tentang bagaimana Kyungsoo membanggakan mobilnya tadi.

Kyungsoo, tersenyum kecil sebelum ia menjawab ucapan si gadis.

“Tenang saja, ada belasan mobil mewah lain yang Chanyeol tawarkan padaku jika aku membawamu dengan selamat sampai ke tempat ini. Kau mungkin tidak tahu, tapi sejak tadi kita sudah melewatkan dua tempat yang terancam musnah dan kita baik-baik saja.

“Ada banyak hal yang tidak kau tahu tentang perang politik ini, Nona Wang. Dan jika kujelaskan satu persatu, kau mungkin akan menyesali keputusanmu datang ke tempat ini.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Jung-Gu (2)

IRISH’s Fingernotes:

AKHIRNYA, series ini menunjukkan tanda-tanda keberhasilan semu (LOLOL BAHASA ENTE, RISH). Dan ya, kerjasama dengan Eki juga ada di cerita ini (yaampun iya banget kolab sama Eki sampe jadi tiga part gini, WKWK, saking semangatnya) dan besok akan ada hasil kolab eyke sama yayangnya Kyungsoo.

Oh iya, btw hari ini selain Kai yang besdey tapi ada seorang lagi yang besdey. Namanya Leo, kekasih baru eyke yang bakal ngegantiin Violet yang udah kena kanker stadium akhir /kemudian dibalang/. Berhubung Leo masih baru, jadi dia belum ane cekokin sama banyak hal berbau fanfiksi (intinya itu semua file fanfiksi masih dalem Violet yang sekarat, belum sempet pindah memindah) tapi ya… mungkin kalau ada waktu dan rejeki nanti Violet kukemoterapi :”) bagaimanapun Violet udah jadi soulmate eyke sejak tujuh tahun silam gaes.

Kembali ke storyline, eyke sedikit mikir-mikir mau ngebuatin Jia-yi romance-line gitu meski tetep aja ane menitik beratkan cerita politik. Secara, genre politik ini belum banyak disentuh dan ane tergelitik buat ngebikin cerita dengan genre ini :”) pengen liat seberapa jauh keberhasilan ane ngebuat genre yang sedikit berat ini, WKWKWKWK.

Sekali lagi, thanks a lot buat Eki yang udah meluangkan waktu untuk ngegarap cerita ini meski ane termasuk dalam yang muepet banget kasih storyline-nya. Semoga kita punya kesempatan untuk kolab lagi di waktu yang akan datang.

See you tomorrow, gaes.

P.s: tau enggak kalo ane abis kena musibah part dua yaitu secara enggak sengaja hampir minum porstek (ituloh yang buat bersihin kamar mandi) yang ditaruh si emak di dalem kolkas dan efeknya, selama seminggu suara ane bener-bener ilang, terus sekarang suara ane belum balik T.T jadi serak gitu dan kadang-kadang ilang, kan sedih ya. Kagak bisa konser dan kagak bisa telepon-telepon bikos mau ngomong aja setengah idup susahnya… duh, Rish, mohon bersabar, ini ujian.

ANYWAY, PIBESDEY JONGEK ITEMKUH! Stay healthy{}

9 thoughts on “[KAI BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in JUNGGU — IRISH’s Tale

  1. Ping-balik: [KAI BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in JUNGGU (2) — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  2. AKHIRNYA KELAR JUGA SM KAK EKI SAKING SEMANGAT. 3 PART PUN JADI HAHAHAHA.

    KOK AKU RASA SI JIAYI TERTARIK SM CEYE WKWKWKWK. KALO GITU YARA GIMANA?!

    VANGZAD SI CEYE CASANOVA ABIS EMANG. I AGREE SEKALI PAS ADA KATA2 CHANYEOL SI CASANOVA. NGACAK2 RAMBUT JIAYI SEGALA, SEKKKK MENTANG2 BISA MEREBUT HATI PEREMPUAN

    DAN ANE NGAKAK PAS ADA KATA2 “MANTAN GALANDANGAN” EBUZET ANJIR 😄 😄 😄 DAN AGAK NGEKEK JG PS NYINGGUNG KRIS “PEMUDA BERANAK SATU” BUAKAKAKAKAKAK.

    Balik ke storyline, mungkin karena mepet jadi banyak taipo dibanding beberapa series kebelakang dr kemarin. Tapi tapi yaa. Ini tetep keren. Kok ya Ayah Yara sama Bapaknya Ceye tega khianatin negara? Bahkan presiden mau warganya mati?! Apa mereka dijebak Arshavin sampai akhirnya setuju atas pembunuhan masal? Jadi kasian sama warga korselnya kalo begini.

    Dan semoga si Jiayi nemuin petunjuk lebih jelas akan keberadaan Jinyi dan yang penting si adeknya selamet. Dan Kyung, ya lord masih agak gimana bayangin sosok bantet kek dia /disambit/ tp mantan agen korut wkwkwkwkwk /disambit p2/ tapi utg sih aslinya si kyung agak datar jd dia dingin kek gini gak jd hambatan bayanginnya.

    Romensnya udh kerasa btw kak rish, si Jiayi sprt kubilang, keknya tertarik sm ceye ahahahak /disambit Yara/

    NEXT NIH SM KAK TATA, AKU TUNGGU YUHUY

    • Gak bakal disambit kok els, kan Yara cuma MANTAN kekasih cy, itupun cy udah gak Cinta lagi, dia pan cassanova/digampar oc sendiri /plakk/😂
      Ane juga awalnya pengen buat bagian yara cy itu balikan, tapi ane lebih emesh ama jia-yi bhuakaka,maaf yar, tapi untuk epeep ini ane lebih demen cy ama jia-yi/yara nyundek di sudut kamar/😂
      GO JIA-YI CEYE!😆

  3. CHANYEOL SUKA NYIKSA, ANE NGEKEK 😄
    KYUNGSOO YANG SABAR YA MAS, YG ULTAH WAJIB SABAR, SI KAI JUGA KUDU SABAR ITU DEPAN KOMPUTER MULU, KAN LAGI ULTAH /PLAKK/ 😄
    “Chanyeol sudah membuat putri seorang menteri tergila-gila dan itu ada gunanya juga. Chanyeol si cassasnova.” –> MAAF YARA, KAMU KU NISTAKAN DISINI WAHAI OC-KU SAYANG, CHANYEOL EMANG BEJAT DISINI, SUKA MAININ CEWEK/PLAKK/ 😄

    [yaampun iya banget kolab sama Eki sampe jadi tiga part gini, WKWK, saking semangatnya]
    –> kita semangat empat limah sih kak, ampe 8k XD/PLAKK/

    [Sekali lagi, thanks a lot buat Eki yang udah meluangkan waktu untuk ngegarap cerita ini meski ane termasuk dalam yang muepet banget kasih storyline-nya. Semoga kita punya kesempatan untuk kolab lagi di waktu yang akan datang.]
    —> justru eki yang makasih sekalee sudah diajak kollab kak Rish, bhuakaka, dan eki berharap kak irish gak kapok kollab ama eki /plakk/ 😄

    KAK RISH GEBETAN BARU, VIOLET DIDUAIN ACIEHHH, TUNGGU KAMU KEMO DULU YAW VIOLET, MUNGKIN KAMU BAKAL BERSTATUS MANTAN SEPERTI YARA DISINI/DIBALANG/ 😄
    MOGA MAKIN ROMENS AMA SI LEO YE KAK RISH /DIBALANG/ 😄 ❤
    DAN ANE KADANG MIKIR, KAK RISH KOBAM KAH KARENA KEBANYAKAN MIKIR GENRE POLITIK? HAMPIR AJA KAKAK MASUK UGD EGEN KALO BEGITU CERITANYA MAH/DIBALANG/ 😄
    GWS PITA SUARANYA KAK, WAJIB ADA KONSER DI KAMAR MANDI, KALO NGGAK GAK GREGETZZZ ._.

    AND ROMENS?
    sebenernya eki mau ngusuin ini waktu itu kak, bhuakka, tapi karena eki inget pas dulu kakak minang eki dengan nih project pas awal kakak mulai nih series , ane inget ada kata-kata 'ini nitikberatin genre politik dan adventure dystopobia' dan eki langsung mikir kak rish pasti gak minat romens si jia yi ini, mana kalau romens mau di romens ama siapa nih cewek yang bakal ketemu12 cogan? /dibalang/ 😄
    AND KALO KAKAK NAK BUAT ROMENS jia yi, ane ngusulin ceye /digampar/ 😄
    sebenernya pas itu cy ketemu yara mau dibuat cy minta maaf udah minta ptus dulu dan dia itu cinta beut ama yara, ceritanya mantan mau dibuat balikan di lapak orang/dibalang/ tapi karena ada eksistensi jia yi yang gemesin eki kdang ngebut eki kilap dan ngebuat cy udah gak cinta yara, cuman sekedar manfaatin doang/digampar yara/
    dan bikos ceye tertarik ama jia-yi, kenapa gak dilanjutin ke suka aja? eki gemes liat mereka/seketika dibalang karena ngusulin suami sendiri/ 😄

    HAPPY BIRTHDAY KAI TEMSEK MESKI LEBIH TEMSEK EKI/PLAKK/ 😄
    WISH YOU ALL THE BEST WAHAI KAMU YANG UDAH TAKEN AMA SE -AGENSI/DIBALANG/ 😄

  4. YES! REALISASIKAN BEB. REALISASIKAN JIA-CHAN! ANE DUKUNG! ANE CHANJI HARD SHIPPER!!! /dibakareki/
    VANGZAT VANGET YEOL SEKSI BEB ANE BAYANGIN DIA SEKSI BANGET, SIAL. SIAL. SIAL.
    ROMENNYA UDAH KERASA BAHKAN SEBELUM HAKIM KETOK PALU AAAAAAAAAKKKK,
    LANJUTKAAAAN! /dibakarekipartdua/

    Dan… btw, aku udah baca semua, tapi belum sempet komen yg sebelumnya hehe
    Well, INI MAKIN GEREGET AJAAAA. CHANYEOLNYA APALAGI /dibuang/
    Duh, ane masih salpok, gak bisa mengenyahkan fantasi anak presiden. Jadi kusudahi, /bhay

    /komentarmacamapaini/

    • gak bakal dibakar kok kak, tenang aja, eki kalem/digampar/ 😄
      justru eki setuju ama kakak, eki shiper CHANYEOL JIA-YI juga, bhuakaka 😄
      Mereka emes gitu, mana perpisahan chanyeol ama jia-yi yang udah tutup pintu tapi balek lagi cuma buat ngacak rambut jia-yi, YALORD EKI BAPER SENDIRI JADINYA KAK/plakk/ 😄

      • NOH BEB UDAH DIRESTUIN WKWKWK
        sial emang si yeol setelah tebar kissu, dia masih tetep bikin hati perawan cenat cenut aja,
        Yekaaaan, mereka cucok kaaaaan?
        Sebenernya ane udah feel pas dari pertama jia ketemu yeol, ITU LOH PAS SI VANGZAT NGEROKOK. AAAAAK,
        “Keknya mereka cucok kalo dibikin pair….” hmm hmmm pikir ane sepihak.
        Lalu didukung dengan adegan ACAK RAMBUT, ADEGAN JIA KHAWATIR YEOL KENAPA-NAPA. ADEGAN JIA NGAKU YEOL GANTEN. ANJAY, PEN JEDOTIN PALA KAI KAN JADINYA, /nahloh
        Duh, masih pagi, ta.
        Yess ki, mari dukung CHANJI!😎

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s