[Kai Birthday Project] Parodi Jejak Mawar Merah – HyeKim

Parodijejakmawarmerah.jpg

| Parodi Jejak Mawar Merah |

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

—Kim Jongin x Kim Haneul—

Mystery, Crime, slight! Romance — PG-17 — Vignette

standart disclaimer applied, copy-paste without permission and plagiat are prohibited

Dedicated to Jongin’s birthday and Haneul, my beloved friend. And inpiration from amazing novel ‘Sherlock, Lupin, dan Aku; Misteri Mawar Merah’ by Irene Adler

Kim Haneul merupakan detektif wanita yang menyelidiki kasus pembunuhan berantai yang pembunuhnya  belum juga diketahui. Namun yang Haneul endus dari kacamatanya, Si Pembunuh mencoba memainkan sebuah parodi dengan meninggalkan jejak mawar merah di setiap tempat kejadian perkara.


HAPPY READING

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Sebuah pembunuhan kembali terjadi. Kota Seoul yang tengah mengalami pergantian musim itu seketika digemparkan oleh sebuah berita. Angin musim dingin yang mulai berganti agak lebih sejuk itu seakan dihiraukan, tergantikan kabar yang menggempurkan jiwa rapuh yang berusaha memeluk diri dari dinginnya cuaca yang tak menentu.

Derap langkah sepatu berhak tinggi itu tersuarkan, membiaskan efek gema di lantai dingin yang sedikit bercorak darah. Tubuh ramping dengan setelan kemeja rapi juga celana kain itu terus memasuki lebih dalam rumah yang dikelilingi oleh garis polisi berwarna kuning.

Kim Haneul—wanita yang memasuki rumah kejadian perkara itu, kepalanya terangkat serta logam beriris hitamnya berkilat, menatap ke sekeliling dengan binar obsidian yang tak mau melewatkan satu hal pun—meski itu setitik debu sekalipun. Hal itu ia lakukan untuk mengidentifikasi tempat pembunuhan yang sudah terjadi sebanyak enam kali itu, termasuk yang sekarang.

Eoh? Kim Haneul hyeongsa, annyeong haseyo. (Oh? Detektif Kim Haneul, hallo)” sapaan dari salah satu polisi yang baru saja selesai menggambar sketsa tempat mayat di temukan dengan kapur itu, terdengar diiringi tubuh yang tegak serta hormat.

Namun fokus Haneul tertuju pada gambaran tempat mayat pembunuhan itu. Seperti kasus terdahulu, pembunuhnya selalu saja seorang pria tua dengan harta yang cukup berlimpah. Haneul menelengkan kepalanya dan matanya menyipit mendapati satu objek.

Tubuh wanita bersurai gelap itu merunduk, tangannya terulur mengambil objek yang menarik perhatiannya. “Jangmineun, (bunga mawar)” bibir dengan lipstick merah marun itu menggumam dengan tangan bergerak-gerak membuat bunga mawar merah itu berputar anggun dibawah kuasa tangannya.

Polisi yang tadi menyapanya mengangguk dan merespon. “Ya, lagi-lagi bunga mawar merah ditemukan di tempat kejadian. Juga…” Polisi tersebut menolehkan kepala dan menjatuhkan pandangan ke sebuah objek yang tergeletak di lantai. “… kartu dengan satu huruf pun ada di dekat mayat tersebut.”

Setelah mendengar penjelasan itu, Haneul merajut langkah mendekati tempat kartu tersebut tergeletak. Tanpa leha-leha, Haneul lantas mengambil benda tersebut. Matanya memicing tatkala menangkap huruf yang tercetak besar di situ.

“I?” baca Si Detektif wanita itu, dahinya pun berkerut bingung. Kemudian pandangannya menerawang ke arah lain, ia seperti tahu kejadian seperti ini.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

“Yuhuuu! Cheers!” pekikan tersebut terdengar dari vokal seorang wanita yang kemudian mendentingkan gelas berisi anggurnya ke gelas milik pemuda di hadapannya. Sebut saja keduanya sepasang kekasih, lantaran secara realita memang begitu adanya.

“Cah! Winenya enak sekali, sayang,” desah pemuda itu—Luhan, sambil melirik wanita tadi yang lahir dengan nama Kim Hyerim.

Hyerim pun menjauhkan gelas anggur berkadar alkohol miliknya, dahinya mengernyit dengan mata terpejam. Sungguh alkohol yang ia konsumsi itu sangatlah nikmat. Matanya kembali terbuka dan menatap Luhan dengan senyum miring. “Sudah kubilang, sepupuku itu selalu menyediakan anggur yang enak di apartemennya. Jadi kita bisa—”

“Ck! Kalian!”

“—membobolnya.”

Entah sejak kapan, sosok Kim Haneul—Si Sepupu yang Hyerim sebut-sebut, sudah ada di daun pintu dan bersender di sana dengan tangan terlipat didepan dada. Oh, tak lupa juga menyarangkan tatapan mematikan pada Hyerim maupun Luhan. Hyerim yang merasa ucapannya disela pun melirik ke arah Haneul dan lantas menampilkan cengiran.

“Oh Haneur-ah! Iriwa! Pati haja! (Ke mari! Ayo berpesta!)” dan langsung saja direspon dengusan keras Haneul, walau Hyerim mengajaknya sambil tersenyum lebar dan melambai-lambai semangat.

Tungkai Haneul mulai merajut mendekati kedua makhluk itu, masih mempertahankan tampang bengisnya. “Pesta pantatmu!” ucap Haneul dibarengi bokongnya yang menampar kursi bar dapurnya, tapi ia juga mengambil botol soju yang tinggal setengah dan menuangkannya lantas meminumnya juga.

Lebarnya senyum Hyerim tercipta  kala melihat Haneul mulai meneguk habis soju yang ia buka barusan, lalu melanjutkan acara minumnya dengan menyambar wine yang sudah dibuka juga. Tak bisa disangkal, Kim Haneul juga seorang pecandu alkohol tapi dalam kadar normal.

“Haneur-ah, tadi aku pinjam novelmu ini. Sungguh seleramu bagus sekali tentang misteri, pantas saja dirimu jadi detektif,” seketika Luhan berucap sambil mengulurkan tangan dengan satu buah novel—berniat mengembalikannya.

Mata Haneul menyipit sebentar saat membaca sampul novel itu. Sherlock, Lupin, dan Aku; Misteri Mawar Merah. Kala huruf mawar merah dibaca oleh matanya, dirinya seakan dihantar pada seuatu memori yang familier. Kasus pembunuhan berantai dengan jejak mawar merah di setiap tempat kejadian perkara. Lantas mata Haneul membulat seakan hal konyol yang melintas dipikirannya tentang pembunuhan yang sangat mirip layaknya dikemas dari novel itu, bisa menghantarkannya pada sebuah jawaban.

“Ya sudah aku mau tidur saja,” merasa Haneul tak minat menyambar novel barusan, Luhan meletakannya di meja bar lalu membalikan badan tanpa mempedulikan tatapan lekat Hyerim.

“Hei, tidur di mana? Aku juga menginap tahu di sini!” seru Hyerim dan lantas jawaban Luhan tanpa membalikan badan pun terdengar.

“Tentu saja di kamar, bersamamu.”

“Apa? Luhan sinting!” namun gadis bernama Hyerim itu tetap mengekornya di belakang menuju kamar dan entah akan apa mereka berdua di sana.

“Jangan meracau terlalu keras, aku mau bekerja!” teriak Haneul kala menyadari pasangan itu akan berbagi ranjang lagi, sial mereka berdua.

Dan Haneul hanya mendengus kala pintu kamar yang Hyerim juga Luhan pakai tertutup rapat serta terkunci. Sekon bergulir terdengar suara kasak-kusuk di sana. Namun Haneul memilih menelangkan kepalanya ke arah novel misteri barusan. Salah satu novel favoritnya saat remaja dahulu. Ia pun hanya terpaku pada sampul novel itu.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Defenisi bodoh mungkin bisa menggantikan gelar detektif yang melekat pada Kim Haneul. Nyatanya dengan pikiran konyolnya, seorang Haneul rela membuka logam beriris hitamnya sepanjang malam hanya demi seongok lembaran kertas bertinta dengan wawasan cerita detektif ala remaja. Tak luput dari ingatannya apalagi telah menelisik ulang kembali novel tersebut. Cerita Sherlock, Lupin, dan Aku—yang bertajuk pada Irene Adler. Ketiganya adalah sepasang sahabat yang suka menyelidiki kasus misterius secara iseng diumur remaja. Well, kisah Sherlock Homles saat remaja lebih tepatnya.

Kemasan novel yang berpredikat favorit untuk Haneul itu, bercerita petualangan ketiga sahabat itu kembali—mengingat seri Misteri Mawar Merah adalah seri ketiga. Ketiganya berada di London dan saat itu Holmes menemukan keganjalan pada iklan catur di koran. Saat ditelisik lebih rinchi, iklan tersebut menunjukan lokasi-lokasi yang hebatnya terjadi pembunuhan dengan jejak mawar merah di tempat kejadian.

Novel yang mengagumkan sebenarnya, dengan pemecahan misteri yang ternyata berawal dari sebuah balas dendam anak-anak mantan ketua komplotan mawar merah yang dulu tertangkap. Haneul menyarangkan tatapan lekat pada novel itu, tangannya terangkat mengelus dagunya.

Sekon mendatang, pakuan pandangan pada objek novel itu beralih pada komputernya yang menyala di ruang kerjanya sekarang. Hanya cahaya dari komputer itu yang ada di sini. Persetanan dengan kesehatan mata bila begini, yang penting Haneul merasa nyaman berkerja demikian.

“Hum,” bibirnya bergumam saat menscroll down file yang tertera di komputer putihnya itu. Data pembunuhan berantai yang menjadi fenomenal tahun ini. “Kartu ini ada K, I, M lalu K lagi, kemudian berlanjut ke A, dan terakhir kemarin adalah I.” ujar Haneul saat berada di halaman yang menampilkan potret kartu-kartu yang ditemukan di tempat pembunuhan.

Sejenak, Haneul menyenderkan punggung ke sandaran kursi pegasnya dan dengan jahil memutar-mutarnya ke kiri dan kanan sambil otaknya berkerja guna memikirkan perkara yang sedang ia selidiki. “Bunga mawar merah ini fenomenal sekali, ditambah korban pembunuhannya pun para orang tua usia lanjut yang memiliki kekayaan lumayan cukup berlimpah…”

Mata Haneul sebentar melirik novel Sherlock, Lupin, dan Aku yang ia elu-elukan dalam hati selama beberapa menit terakhir. Senyum tersungging dibibirnya. “… seperti di novel itu saja sih korbannya.”

Kepala Haneul menggeleng, terasa terkontaminasi terlalu lanjut pada novel menajubkan itu. Lalu kembali tubuhnya condong ke monitor komputer dan tangannya bersedekap dibawah dagu. Kembali ia mengiring diri ke halaman kartu dengan setangkai bunga mawar merah.

“Kalau dibaca-baca, kartunya menjadi…” kerutan sejenak terlihat didahi perempuan ayu itu, dan dengan iseng dirinya menyerukan kartu-kartu huruf yang merangkai sebuah frasa. “Kim Kai?” satu alisnya berjungkit.

Akan tetapi, seuntas senyum tipis dari hasil isengnya untuk membaca lantas tersapu digantikan paras wajah menampilkan keterkejutan luar biasa. Netranya membola seakan ingin melepaskan diri dari sarangnya. Mulut Haneul pun tak kuasa tak melihatkan celahnya sangking keterkejutan menjajahnya detik ini. Kelereng hitamnya mulai bergerak-gerak. Tangannya mekomando dengan menggerakan mouse untuk menzoom kartu tersebut. Frasa yang terangkai dari kartu itu tidak asing, tentu karena Haneul pun terkejut seketika oleh itu. Frasa itu secara otomatis menghantarkan kepingan memori masa lampau menggerogoti otak miliknya.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Walau bulan juga bintang tergantung damai di langit. Hitam pekat malam menyebabkan peminiman cahaya di luar. Wanita dengan nama Kim Haneul itu tetap menderap langkah dengan tungkainya menuju satu lokasi. Pikiran konyol dan bisikan keras dalam sisi lainnya akan semuanya yang tak mungkin itu terus mengiringnya sepanjang perjalanan.

Tungkai yang berpijak di tanah Bumi itu terhenti. Logam netranya bergerak lalu terjatuh pada satu objek menonjol, apalagi warna merah elegannya itu mencolok di tengah kedamaian malam. Mawar merah, lebih tepatnya setangkai mawar merah. Alat jalannya tergerak mendekati mawar merah itu. Tubuh Haneul merunduk, tangannya terulur mengambil mawar merah itu.

Setelah tubuhnya tegak dengan satu tangkai mawar merah terselip disela jari-jarinya. Kepala Haneul mulai beraksi dengan menengok ke sana-sini, turut andil juga bola beririsnya itu bergerak liar dengan binar berkilat-kilat. Tempat ini, tempat yang selalu menjadi tempat dirinya membaca novel Misteri Mawar Merah itu. Lalu seorang pemuda datang mengusiknya saat ia sibuk membaca, pemuda yang sangat terobsesi padanya.

“Akhirnya kamu datang juga, Haneulku sayang,” bariton pemuda yang sangat kental diindranya itu menyeruak masuk secara paksa. Tanpa menunggu lama, Haneul sudah menatap pria itu.

Tubuh pemuda yang melihatkan senyum miring diparas tampannya itu berjalan mendekati Haneul. Pemuda itu mengenakan topi beludru berwarna hitam serta jubah terjuntai panjang berwarna sama. Di balik jubah tersebut, pemuda tampan itu mengenakan setelan kemeja berwarna putih dipadukan oleh celana kain berwarna hitam. Sepatu pantofel yang mengiringnya mendakti wanita beberapa jengkal di depannya, memecah kekelaman malam.

Saliva Haneul tertelan menelusuri kerongkongan. Jantungnya bertalu. Irisnya berkilat. Tangkai mawar merah yang untungnya tak ada durinya itu, ia remas dalam genggamannya. Cahaya malam bulan membiaskan diri keparas pemuda yang sekarang berada tepat di hadapan Haneul, walau masih sedikit berjarak.

“Jo… ng… in.” lafal Haneul dengan suara bergetar tertera jelas.

Senyuman miring itu kian mengembang. “Kai, panggil aku begitu. Itu nama bekenku, bukannya begitu?” ujarnya agak sarkastik dengan memiringkan kepalanya.

Kim Jongin yang mengaku Kim Kai inilah yang dulu sangat terobsesi memiliki Haneul sebagai kekasihnya. Mendambakan Si Gadis untuk mengisi harinya dengan cinta. Tapi Haneul menampik keras uluran cinta yang diserahkan Si Pemuda dengan segala kesumpurnaannya, bahkan dengan bakat dance yang mencetuskan nama panggung berupa Kai itu. Alasan yang membelungi Haneul untuk menolak Jongin adalah lelaki itu playboy. Dirinya tak percaya pada cinta Jongin dulu saat menginjaki kaki di Sekolah Menengah Atas.

“Jangan bilang kau—”

Seketika tubuh Jongin bergerak maju, telunjuknya bersarang dibibir manis Haneul sambil kepalanya mengangguk-angguk. “Benar sekali, Haneulku sayang. Akulah dalang pembunuhan berantai dengan jejak mawar merah itu. Dan kartu huruf itu adalah kode bahwa akulah pelakunya, aku bermaksud begitu agar dirimu menyadarinya, darl.”

Hitungan sekejap, mata Haneul memerah dengan hidung layaknya kempas-kempis. Tangkai bunga mawar yang ia genggam terhempas jatuh dengan malang di aspal dingin tungkainya berpijak.

“Kenapa kau melakukannya bodoh?” suara Haneul tercekat sementara Jongin layaknya pasien sakit jiwa, tertawa hambar lalu sedikit melangkah ke belakang dan melipat tangan didepan dada.

“Kau sendiri yang membuatku begini. Orang yang menyukaimu pasti mau melakukan apapun untukmu…” kutipan kata itu membuat netra Haneul melebar, memorinya terbang ke masa lalu layaknya mesin waktu berkerja mundur diotaknya. “… aku hanya menginkan dirimu menjadi milikku, mendekapmu dengan cintaku selamanya. Hanya dirimu yang aku jadikan wanita dengan hubungan serius, tapi sayang kau tetap tak percaya.”

Walau keparatnya hatinya berdesir hebat, ekspresi yang ia cetak malahan bengis. Haneul tak boleh lengah, tidak. Dirinya bahkan bisa menjaga hati disisi Jongin, coret, saat didekati Jongin layaknya bakteri. Walau nyatanya ia kalah, kala dirinya memutuskan kuliah di Oxford, Haneul merasakan percikan cinta pada lelaki di depannya sekon ini. Ia kalah tapi ego mengerubungi, ia tak mau tertipu seperti bekas gadis-gadis pemuda itu.

“Kau.. gila..” desis Haneul namun yang ada Jongin hanya tersenyum tipis dengan binar tajam berkilat.

‘Ckrek!’

“Kejahatan tetaplah kejahatan Kim Jongin!” seru Haneul diiringi tangannya yang secara cekatan mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya pada Jongin. Siap mencetuskan peluru dari sana untuk menembus ongokan daging pemuda di hadapannya.

Jongin bersikap santai dengan senyum mautnya, membuat kupu-kupu dalam perut Haneul dengan brengseknya berkeliara menggelitik runggu. Juga darahnya memompa cepat jantungnya. Ia tahu, ia juga mencintai lelaki ini. Saat ini, Jongin melangkah mendekatinya lalu meraih tangan Haneul yang memegang pistol dan mengarahkannya kepelipisnya.

“Tembak saja,” ujar Jongin sarat akan nada santai, lalu bahu pemuda itu terangkat acuh. “Toh, aku melakukannya demi cinta.”

Cinta? Persetanan dengan itu. Lelaki ini pembunuh, dirinya termasuk satu kumpulan busuk yang membunuh jiwa tak berdosa. Kembali mata Haneul memerah, napasnya memburu dengan dada naik turun. Tangan bergetar dalam pegangannya pada pistol miliknya.

“Berani-beraninya kau membuat parodi dengan pembunuhan seperti ini. Dan alasanmu karena cinta? Cih!” ejekan terlontar dari bibir Haneul, tak habis pikir oleh pemuda ini.

Kepala Jongin ia miringkan dengan tatapan menghunus berusaha merobohkan pertahanan Haneul. “Parodi jejak mawar merah ini yang kau inginkan bukan? Aku sudah melakukannya, dan apa kau mau menerima cintaku?”

Bajingan, liquid bening itu lolos merembes kepipinya walau hanya satu tetesan. Haneul seketika tergetar, tidak, ia seorang detektif yang harus menangkap dalang pembunuhan berantai ini. Akan tetapi, saraf tubuh Haneul kaku didetik selanjutnya. Matanya melebar, pistolnya terjatuh membanting aspal hingga menyerukan suara sedikit nyaring. Penyebabnya adalah bibir milik Jongin yang menyapa bibir miliknya.

Mata Haneul berkedip hingga lumatan terjadi ditengah ciuman itu. Namun Haneul membungkan mulutnya rapat, tak membalas hingga gigitan kecil dibawah bibirnya ia rasa. Dirinya terbuai dengan membalas ciuman itu. Membalas lumatan Jongin bahkan mengalungkan tangan dileher pemuda itu. Kepala keduanya memiring ke kanan dan kiri secara berlawanan. Decakan keluar dari ciuman itu hingga pangutan itu terlepas. Dan logam milik Haneul menatap lekat Jongin.

Senyum tipis itu terukir diwajah Jongin yang lantas berucap. “Tangkap aku dan setelah itu hiduplah denganku.” napas Haneul terus berderu tak teratur. Otaknya berputar-putar mencernanya. “Aku  tetap mencintaimu sampai detik ini.” lanjut Jongin.

Detik berikutnya, Haneul menjuntaikan tangannya dari leher Jongin. Kemudian menatap lekat pemuda itu. Dirinya mengeluarkan borgol dari balik jas hitamnya. “Kau akan membusuk di penjara pada intinya.”

Tangan Jongin pun terborgol dan dirinya pun mengekori sosok wanita yang memimpin jalannya. Dalam hati tersenyum, walau harus menodai diri, pada akhirnya Jongin mendapatkan cinta gadisnya dengan parodi jejak mawar merah yang ia buat sendiri, bukan?

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

EPILOG

“KIM JONGIN! JANGAN GANGGU AKU TERUS!” teriakan menggelegar diterima Jongin dari Haneul, gadis itu tampak menyender di tembok sambil menatapnya kesal lalu kembali membaca novelnya.

Jongin tampak acuh dan mendekati gadis itu. “Panggil aku Kai, itu stage nameku!” Jongin pun menyolot membuat Haneul mendengus. “Sampai kapan kamu menolak cintaku sih, Haneulku sayang?”

Bola mata Haneul berputar. “Sampai kau bisa membuatku menyelidiki kasus mawar merah seperti Sherlock Homles di novel ini.” sengit Haneul namun membuat alis Jongin berjungkit.

“Jadi begitu?”

“Dungu,” sambar Haneul secepat guntur lalu menyarangkan tatapan pada Jongin. “Kau harus tahu, orang yang menyukaimu pasti mau melakukan apapun untukmu. Dan selama ini kau selalu melakukan sesuatu yang tidak kusukai, dengan sok-sokan menjadi pengawalku lah, inilah, membututiku juga! Itu modusmu pada semua wanita, aku tidak pernah percaya kau serius padaku kalau begini.”

Jongin bergeming sementara Haneul kembali fokus pada bacaan novelnya, raut wajahnya pun jadi takjub berbeda saat menghadapi Jongin dengan wajah jengkel. Diam-diam, Jongin membaca judul novel itu. Sherlock, Lupin, dan Aku; Misteri Mawar Merah. Dalam hati dirinya akan membeli itu, merelasasikan keinginan Haneul sebagai detektif yang menangani kasus serupa. Bermain-bermain dalam parodi tidak ada salahnya kan? Untuk mendapatkan cinta gadisnya juga tidak masalah bukan, karena obsesi sudah memenuhi runggu.

—Fin—


INI-APA-YA-TUHAN

/NYEMPULING DIRI DIRAWA-RAWA HATI MAS LUHAN/ GAK AH MALES MAUNYA KE OM LEE DONGWOOK AJA ATAU GAK BEBEB BOGUM /SEKETIKA BAPER SAMA BOGUM YANG FANMEET/

HANEUL ATAU WAWA, MAAFIN AKUH LOH BUAT KEK GINI. TADINYA MAU TEMBAK-TEMBAKAN AJA TAPI BIARLAH AGAK TWIST DAN SEDIKIT MANIS BIAR ENTE GAK DENDAM SAMA LUHAN-HYERIM NANTI HUAHAHAH /KETAWA SETAN/DISAMBIT/

Well, FF ini terinspirasi atau gak terlalu juga sih aslinya. Dari novel Sherlock, Lupin, dan Aku karya Irene Adler. Seriously, aku lagi kangen banget pas itu sama novelnya dan cuman bawa 1 ke Spanyol. Ya udah buat aja. Dan setiap seri novelnya emang keren, bahasanya berat tapi patut diacungin jempol, misteri yang dikuak itu gak sederhana dan intinya so amazingRecommended sekali untuk kalian yang suka detective teenager, karena ketiga pemeran utamanya itu berusia remaja. Menceritakan juga Sherlock Homles yang udah jenius dari remaja.

Dan tau gak dengan FF birthday ini dengan dudulnya salah perkiraan, ane kira akan telat post, buahahahah /apa/

Jadi intinya di sini Jongin suka Haneul dan Haneul ragu, dan celatak-celutuk tentang novel yang ia baca. Lalu beginilah jadinya….

Btw, gak sempet edit mo langsung cus publish. Typo tercemar, bahasa tak jelas, alur berantakan.

Terimakasih sudah membaca ❤

[ http://www.hyekim16world.wordpress.com ]

-HyeKim, Kekasih Bogum Yang Sedang Merana-

Iklan

5 thoughts on “[Kai Birthday Project] Parodi Jejak Mawar Merah – HyeKim

  1. OMAYGAD ELSAA….. DEMI APA AKU KETAWA GA JELAS DARI AWAL BACA INI…. NGERASA KALO YG JD CEWENYA ITU AKU SENDIRI….😂😂😂🔫 dan wuttt itu apaan ada kissing scene yakk… :”v tanganku pegang hp gemeteran gajelas sumpahh…. *entarkrnefekblmsarapan :”v yang jelas ini bikin aku cem orang gila wehhh…. trus itu hyerim lu ngapain jugakkk… saolohh😂😂🔫 uda gitu itu kekamar mau ngapain wehh?? V”: elsss…. 😂😂😂🔪 awal aku uda nebak penjahatnya pasti ongen, :v soalnya castnya ada si ongen 😂😂🔪🔫 tapi apa apaan alasannya wehh… 😂 uda gitu pas akhiran ngerasa di tembak ongem sumpahhh jadi feel bangedd 😂😂🔫 bikin fly fly ga jelas dan cekikikan mulu dikelas 😂😂😂🔫 demi apa elss… ini cerita kebalik di dunia nyata 😂 gue yang ngejar kai didunia nyata wehh :”v tapi setidaknya bikin ane seneng gegara gantian si ongen yang ngejar ane meskipun didunia ff 😝😂😂 tp entah knp aku masih kegoda buat yg lu-hye aku buat ada yg mati bah :v atau kubuat crack pair ajah/? 😂😂🔫 soalnya aku gabisa bikin yg sweet sweet 😂🔪 last, omegaddd… ITU YANG TERAKHIR BIKIN NGAKAK SUMPAHHH… KEKASIH BOGUM YABG SEDANG MERANA *LOL 😂😂🔫 jadi sekarang ceritanya pindah nih dari luhan? Wks.. 😂😂 pokoknya thanks banged els uda bikinin ff ini, dan bikin fly gajelas, bhayy😂😂😂🔫

    • YA BEBAS SANA MO ANGGEP SIAPA ITU HANEUL :V MAU ANE SEKALIAN JG GAK APA

      Iya ane coba ngasih gambaran kiss scane ke ente biar entar rikues ane lancar kissingnya. Itu baru gitu doang loh kissingnya blm ke mana-mana

      Awas gila beneran. Itu Hyerim-Luhan mau enaena lah wakakakak, mau nganu di ranjang :v bersyukurlah ane gak khilaf lanjutin adegan mereka berdua lebih rinci di ranjang wakakakak.

      Iya emang ongen iseng ngabulin permintaan haneul. Ya baguslah ente ngefeel bakakak padahal mau lelepin diri baca ulang wakakak.

      Di dunia nyata kan ongen …. :v

      Jangan buat mrk mati lagi males bacanya. Kalo mereka berakhir mati ente buat genrenya scifi-fantasy-adventure :v 3 genre tantangan, mau? Wkwkwkwk karena ane sendiri aja baru mau buat genre politic buat hyerim-luhan

      Dih siapa yg pindah hati. Pan udh ane blg luhan mah beda lagi, dia mah emang suami ane one and only. Tapi kekasih, selingkuhan, suami kedua itu banyak tp luhan tetep no.1 kok :v itu blg kekasih bogum sedang merana karena bogum fanmeet ke indo buat mimisan. Dan tetep ayang luheen dihati

      Yoi sama-sama beb 😚 mampir lagi ya pankapan

  2. Elsaaaaa *dateng *ngelabrak *ditimpuk
    Yaampun elsa gakuku aku tuh gakuku. Lama ga main ke wp kenapa tb2 tulisanmu jadi sangat expert gini sih els aku menangos:” mba haneul sih ini juga kalo ngomong suka ga direm eh mas Jongin beneran ngabulin kampret emang kamu mas:”) gitu ya jong kalo udah cinta banget:”) /kemudian baper/ /lari /dikejar elsa /g
    Au ah els akutu gabisa diginiin:”) /kabur

    • Jan labrak-labrak elsa. Ntar kamu dikutuk om goblin, sukurin loh BUAKAKAKAKA.

      Expert apaan ini ngaco, abal, abstrak, astral. Pen banting lappy ngokkksss. Kamu nangos aja sana aku mo ngedate sama Bogum aja kalo kamu nangos wakakaka.

      Kan Haneul gak punya rem wakak /gak gitu/ditabok/
      Tapi jong di ril lyfe sama mba soojung, ati-ati ya bapernya. Ngapain aku kejar kamu hyeon? ;( aku mo bobo aja bareng luheen

      KAMU KENAPA GAK BISA DIGINIIN APANYA? /LEMPAR KUTANG

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s