[D.O. BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES IN GWANAKGU (2) — IRISH’s Tale

irish-holmes-in-gwanakgu

HOL(M)ES

SCIENCE in Gwanak-gu  ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s Kai

Special appearance EXO’s Chanyeol, D.O. & Shaekiran`s OC Yara

An adventure, dystopia, family and politic story  rated by Teen served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH ft. Shaekiran

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Kai & D.O. of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Gwanak-gu [Chanyeol]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Rokok yang terselip di celah bibir Chanyeol—juga asapnya, tentu saja—agaknya jadi pemandangan yang sama sekali tidak mengganggu netra Jia-yi. Terbukti dengan bagaimana gadis bersurai kelam itu bisa betah duduk di sebelah Chanyeol, mengawasi layar berukuran delapan belas inch di hadapan mereka tanpa merasa terganggu sedikit pun.

Tak jauh dari mereka sekarang, seorang pemuda—yang tadi memperkenalkan diri sebagai Jongin—melakukan hal yang sama juga.

“Berhasil!” Jongin tiba-tiba saja berucap cukup keras ketika didapatinya layar komputernya menunjukkan sebuah hasil.

“Mana, biar kulihat.” Chanyeol dengan tenang menanggapi, pemuda itu bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menghampiri Jongin, sementara Jia-yi memilih bertahan pada layar di hadapannya.

Memang, sudah sejak tadi dua pemuda yang ditemuinya itu sibuk dengan urusan masing-masing. Yang satu sibuk lantaran berusaha meretas akun pemerintahan, satu lagi melakukan tugas barter mereka—mencari keberadaan Jin-yi, adik Jia-yi.

“Kau benar, Jia-yi-ssi, sinkhole lainnya muncul di Hongdae sore ini. Dan lihat apa yang kutemukan? Parlemen tahu tentang hal ini tapi tidak berbuat apapun. Lucu, bukan?” Jongin menuturkan, sementara Jia-yi kini mengalihkan pandang.

Apa yang sempat dicuri-dengarnya di Beijing bahkan belum ia utarakan pada dua pemuda ini, tapi sepertinya dua orang itu sudah bisa tahu lebih banyak daripada yang Jia-yi tahu.

“Menurutmu ini rencana kudeta, atau sejenisnya? Kupikir sinkhole ini bukan sekedar bencana alam.” komentar Chanyeol, diisapnya rokok yang sudah hampir habis tersebut sebelum ia membenahi posisi frame kacamata silver yang ia kenakan. Pantulan kegiatan yang Jongin tengah lakukan di monitor sekarang bisa Jia-yi lihat dari kacamata milik Chanyeol.

“Bukan kudeta, kurasa. Ini bagian dari perang.” hampir saja Jia-yi ikut berucap ketika Jongin mengambil sebuah kesimpulan.

“Sial, tidak kusangka kalau kita akan menghadapi perang di saat seperti ini.” Chanyeol terkekeh, ia padamkan rokoknya di sebuah asbak alumunium yang ada di sana sebelum maniknya kembali berfokus pada monitor.

“Coba kau cari negara mana yang sekarang terlibat. Apa pemerintah sedang berusaha mengurangi populasi penduduk? Sungguh menggelikan.” lagi-lagi Chanyeol berkomentar, agaknya pemuda itu tampak begitu kesal lantaran mengetahui secuil informasi tersebut.

“Beijing,” akhirnya Jia-yi berucap.

“Beijing?” ulang Chanyeol, dipandanginya Jia-yi dengan ekspresi menuntut, seolah gadis itu sekarang tengah menyimpan ratusan jawaban atas pertanyaan yang telah menumpuk di benak Chanyeol.

“Ya, aku berasal dari Beijing jadi aku tahu benar kalau Arshavin sedang merencanakan sesuatu dengan Beijing untuk menghancurkan Seoul. Kau tahu sendiri, apa yang pernah Korea lakukan pada negara kami.” Jia-yi menjelaskan, sengaja menekankan kata ‘kami’ agar dua pemuda di depannya ini tahu jika dia adalah satu bagian kecil dari negara yang tengah melubangi kota mereka.

“Dan bagaimana kau bisa tahu rencana mereka?” tanya Chanyeol menyelidik, pikirnya si gadis mungkin berpura-pura datang ke tempat ini untuk menjebaknya—meski kecurigaan itu sangat kecil adanya—dan akhirnya ia nanti tanpa sadar membiarkan dirinya tenggelam di sinkhole yang mungkin akan muncul di universitas.

“Ayahku bagian dari rencana ini—jika kau ingin tahu. Aku bukan tipe anak berbakti yang suka mendukung rencana orang tuaku, jadi kupikir berlari ke lahan musuh untuk menyelamatkan saudaraku adalah hal yang lebih penting daripada menonton dari seberang sana.” tutur Jia-yi membuat Jongin menyelipkan sebuah senyum kecil.

“Nah, hyung. Kau sudah dengar penjelasannya. Sekarang berhenti bermain-main dengannya dan tunjukkan saja apa yang bisa kau lakukan untuk menolongnya.” Jongin berucap.

“Apa maksudmu? Bermain-main?” ulang Jia-yi tidak mengerti.

Jongin mengedikkan dagunya ke arah monitor di hadapan Jia-yi.

“Dia sedari tadi hanya mempermainkanmu, dia sama sekali tidak mencari profil yang kau inginkan.” ucap Jongin membuat Jia-yi menatap kesal ke arah Chanyeol. Sadar jika sedari tadi pemuda itu hanya berpura-pura saja, bersikap seolah ia sibuk mencari keberadaan Jin-yi padahal ia tidak melakukan apa-apa.

“Park Chanyeol-ssi!”

“Baiklah. Maaf. Kupikir kau bukan orang baik.”

“Kau sudah membuang waktuku.” ucap Jia-yi, terlampau kesal untuk bisa marah dan minimal melempar pemuda itu dengan asbak yang ada di dekatnya karena toh, bagaimanapun ia tetap butuh bantuan dua orang ini sekarang.

“Aku tahu,” Chanyeol menyahut acuh, sekon kemudian ia menunjukkan ponselnya ke arah Jia-yi, membuat gadis itu melihat jelas beberapa buah screenshot yang ada di galeri pemuda itu.

“Aku sudah mencari saudaramu dari sini. Ada beberapa tempat yang menangkap jelas keberadaannya, tapi terakhir kali ia terlibat sebagai seorang saksi dari pembunuhan yang terjadi di Hongdae. Dan… dia terakhir kali datang ke penjara di Seodaemun, dua bulan yang lalu.” Chanyeol menjelaskan, ia kemudian menarik kembali ponselnya dan menatap Jia-yi dengan sebuah seringai.

“Aku bisa menjelaskan keberadaan saudaramu lebih jauh lagi, dan tangan kananku—Kyungsoo, akan mengantarmu ke tempat terakhir saudaramu terlihat. Dia seorang agen yang keluar dari tugasnya, omong-omong, jadi jangan khawatir karena dia pasti menolongmu.

“Dan juga, Jongin adalah tangan kiriku, jadi sebaiknya kau duduk di sebelah Jongin sekarang dan menceritakan padaku tentang apa yang kau ketahui. Bukankah kesepakatan awal kita adalah untuk saling membantu?”

Jia-yi terperangah. Ia tahu Chanyeol pasti bukan seorang mahasiswa biasa, melihat dari bagaimana ia bicara dan tahu begitu banyak hal. Dan juga, seorang mahasiswa tidak akan begitu saja bisa mengenal seorang Arshavin. Jia-yi juga yakin kalau ruangan yang ia tempati sekarang bukanlah ruangan yang bisa bebas digunakan oleh semua orang.

Kini, Jia-yi menatap Chanyeol seolah pemuda itu adalah sebuah bintang kejora yang bisa dijadikannya sebagai mata angin untuk menemukan Jin-yi. Mengabaikan fakta bahwa pemuda itu terlihat kacau—terutama dari caranya sekarang kembali mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya—Jia-yi yakin pemuda itu menyembunyikan banyak hal tidak terduga.

“Siapa kau sebenarnya, Park Chanyeol-ssi?” tanya Jia-yi akhirnya.

“Aku?” Chanyeol menatap Jia-yi seolah pertanyaan gadis itu adalah pertanyaan terkonyol yang pernah didengarnya.

“Apa kau pernah tahu kalau presiden negara ini punya seorang anak dari istri yang disembunyikannya, Jia-yi-ssi?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Kini Jia-yi hanya bisa terperangah lantaran takjub pada semua cerita yang Chanyeol tuturkan padanya. Bagaimana lelaki yang tadinya ia anggap gelandangan itu nyatanya adalah seorang putra presiden dari istri kedua yang dinikahi sang presiden secara diam-diam. Bahkan, lelaki Park itu tidak segan-segan saat mengakui kalau ia adalah hasil perselingkuhan presiden dengan ibunya.

“Jangan berbelas kasihan padaku, aku sudah muak mendengar semua ucapan mereka yang merasa kasihan.” Chanyeol berucap ketika kini ia melihat ekspresi muram di paras dingin Jia-yi. Ia benar-benar muak dengan ekspresi belas kasihan semacam itu.

“Tidak, aku tidak kasihan padamu. Memang takdirmu yang lahir sebagai anak simpanan, ‘kan?” mungkin perkataan Jia-yi terdengar kasar, tapi entah kenapa Chanyeol justru tidak marah. Malah, kalimat tajam itu terdengar sangat jujur di telinganya dan tanpa bisa berbohong, Chanyeol menyukai kejujuran gadis yang sempat ia ragukan itu.

“Kau lancang sekali nona Wang.” kelakar Chanyeol, berusaha memecah sebuah candaan—karena nyatanya ia memang tidak marah. Ia justru setuju dengan istilah Jia-yi, takdir.

“Jadi apa pertemuan kita ini juga takdir Jia-yi-ssi?” lanjut Chanyeol bertanya dengan sebelah alis terangkat, sementara rokoknya sudah ia anggurkan di atas asbak—menyisakan bibir merah kehitamannya yang terkulum tipis.

“Jangan mulai hyung, jangan pakai sifat mata keranjangmu itu di sini.” Jongin, yang sedari tadi menjadi pendengar setia sembari menunggu hacking-nya menunjukkan hasil kini ikut andil.

Mendengarnya Chanyeol hanya tertawa renyah. “Aku hanya bercanda, jangan dianggap serius.” lanjut Chanyeol lagi, masih dengan tawa yang mengikuti.

“Tidak, mungkin ini memang takdir. Dan aku semakin berterima kasih kalau kau ditakdirkan untuk membantuku menemukan Jin-yi.” ucapan gadis di sebelahnya itu lantas membuat Chanyeol tersadar.

Jia-yi adalah tipikal serius yang tidak bisa diajak bercanda—terlihat dari jawaban berkelas yang sedari tadi Jia-yi berikan. Berbeda dengan gadis kebanyakan. Tipe inilah yang sebenarnya paling membuat Chanyeol merasa jengah, si gadis misterius yang membosankan.

“Tenang saja, aku pasti akan menepati janji. Menemukan adikmu adalah perkara yang cukup mudah, nona.” Chanyeol menunjuk layar di depan Jongin yang kini sudah menunjukkan kata ‘complete’ yang seketika membuat mata Jia-yi membola.

“Jadi, bagaimana kalau kita mulai dengan memeriksa e-mail rahasia Arshavin?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tiga gelas coffee kalengan kini menjadi saksi bagaimana seriusnya Chanyeol mengenai ucapannya menemukan adik Jia-yi. Dan Jongin yang memang dasarnya tangan kiri yang selalu menurut pada lelaki bermarga Park itu ikut sama seriusnya, membuat Jia-yi merasa bahwa orang yang ditunjuk Kris untuk membantunya itu sangat tepat dan ia patut berterimakasih pada Kris yang mungkin sudah duduk manis di pesawat menuju Kanada bersama Ren—putri Kris.

Kini mereka bertiga tengah mengecek satu persatu sub menu e-mail di dalam akun Arshavin—yang Jia-yi sendiri tidak tahu bagaimana caranya sehingga bisa diretas oleh Jongin. Masalahnya, hanya ada satu e-mail tersisa di inbox Avhain, dan fakta itu cukup memusingkan bagi ketiganya—setidaknya, dua orang yang sama-sama memahami teknologi hacking yang ada di sana.

“Ini bukan bahasa Rusia, Inggris ataupun yang lainnnya.” Chanyeol berucap yakin sambil menunjuk e-mail yang sejak sejam lalu mereka selidiki. Beberapa deretan kata asing disertai angka yang membuat mereka pusing bukan kepalang—tapi mereka sangat yakin kalau e-mail itu berisi sesuatu yang penting.

“Apa mungkin ini kode atau semacamnya?” tanya Jia-yi, dan anggukan dari kedua pemuda yang tengah bersamanya didapat gadis itu sebagai jawaban.

Yah, tak mungkin Arshavin berbalas e-mail dengan cara biasa seperti orang pada umumnya. Tentu saja ada kode rahasia yang harus mereka pecahkan.

“Omong-omong Jia-yi-ssi, apa kau akan bermalam disini? Sekedar mengingatkan, ini sudah setengah sembilan malam.” Chanyeol tiba-tiba berucap sambil menunjuk jam di layar ponselnya.

“Menurutmu kemana aku harus pergi saat aku bahkan datang ke tempat ini hanya untuk menemukan satu orang di antara ratusan ribu lainnya? Aku sudah menghadapi satu sinkhole hari ini, setidaknya kurasa aku tidak perlu khawatir karena ini sudah malam.” jawaban Jia-yi agaknya membuat kedua pria itu mengerti kalau Jia-yi tidak keberatan bermalam di tempat kumuh mereka.

Sekon kemudian, Chanyeol mengedikkan dagunya ke arah sofa kecil yang ada di sudut ruangan.

“Kau bisa beristirahat di sofa yang ada di sudut sana. Tidurlah jika kau sudah mengantuk, aku dan Jongin akan menyelesaikan urusan ini.” Jia-yi hanya tersenyum kecil, lalu mengangguk paham. Memang, perkara bertahan di tengah sinkhole dia mungkin bisa, tapi jika sudah menyangkut perkomputeran?

“Terima kasih, Chanyeol-ssi, Jongin-ssi. Aku akan duduk di sini saja.” ucap Jia-yi sebelum ia dengan yakin menumpukan siku di atas meja, enggan menyerah pada kantuk yang sebenarnya mulai merangkul.

“Jadi Jongin, apa kita mulai kerja lembur saja?” kini mata elang milik Chanyeol sudah bersarang pada Jongin, meliriknya dengan senyum miring yang sulit diartikan meski oleh Jia-yi sekalipun.

“Kapan pun kau mau hyung, aku siap.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Suara berisik musik tempo cepat dipadu sinar mentari yang tumben-tumbennya masuk ke ruangan gelap itu sedikitnya mengusik Jia-yi. Tak lama, akhirnya gadis Wang itu terbangun dari tidurnya. Ia duduk di sofa, satu hal yang kini dibingungkan Jia-yi bagaimana bisa tubuhnya terkapar di benda putih empuk ini saat kemarin malam seingatnya ia tertidur di atas meja?

Hyung yang mengangkatmu ke sofa. Tenang saja, dia tidak macam-macam kok Jia-yi-ssi. Hanya memindahkanmu karena kemarin malam ia perlu meja yang kau tiduri.” suara Jongin yang tengah menyesap kopi hitam sambil mematikan musik yang ternyata alarm itu kini membuka pendengaran Jia-yi. Matanya melirik Chanyeol yang kini tertidur di tempatnya kemarin—meja.

“Bukannya masih ada sofa lain yang masih kosong? Kenapa dia malah tidur di meja?” Jia-yi bertanya sambil berdiri dari duduknya, menghampiri Jongin yang kembali berkutat dengan komputer di depannya. Pikir Jia-yi, Jongin pasti tipikal yang lebih membutuhkan komputer dibandingkan tidur.

“Dia tidak bisa tidur di sofa atau segala macam bentuk cara tidur yang mengharuskannya terlentang seperti orang normal Jia-yi-ssi, hyung terbiasa tidur dengan posisi bertumpu pada meja, tidur sambil duduk atau bahkan tidur sambil  berdiri. Dia memang cukup aneh.” terang Jongin ditengah kesibukannya membuka beberapa file.

“Kenapa?” tanya Jia-yi dan senyum tipis terukir di bibir Jongin.

“Dia pernah dicekik di atas tempat tidur saat ia masih kecil, dan itu membuatnya trauma. Kurasa itu yang membuatnya tidak bisa tidur terlentang.” penjelasan Jongin sedikitnya membuat Jia-yi cukup membulatkan mata.

Dibalik penmpilan Chanyeol yang urak-urakan dan terkesan gelandangan, si Park itu pasti mengalami hidup yang berat, pikir Jia-yi.

“Ibu tirinya—ibu bangsa ini—yang mencekiknya saat ia masih berumur sembilan tahun karena tahu tentang Chanyeol dan perselingkuhan suaminya. Mungkin, awalnya kau pikir dia hanya pemuda gelandangan yang berkeliaran di sekitar universitas ini. Awalnya kupikir juga begitu, tapi ternyata dia adalah putra presiden. Siapa yang sangka?” kini Jongin terkekeh. Lantas ditunjukkannya sebuah file pada Jia-yi.

Hyung berhasil menerjemahkan kodenya.” ucapnya membiarkan Jia-yi menatap lekat monitor di depannya yang malah menunjukkan sebuah foto selca seorang gadis di tengah hutan.

“ Siapa ini?”  tanya Jia-yi penasaran.

“Putri Arshavin. Gadis ini mengirim fotonya yang sedang berkemah pada ayahnya. Dan kau tahu kode apa yang kami pecahkan mati-matian kemarin malam? Ternyata itu sandi semaphore angka yang digabung dengan sandi Napoleon, hanya beberapa sandi sederhana khas anak Pramuka.” Jongin nampak kesal saat menjelaskan bagaimana sia-sianya mereka bergadang hingga dini hari, namun malah menemukan romantisme keluarga di e-mail rahasia Arshavin.

“Setidaknya kita tahu kalau Arshavin cukup menyayangi keluarganya, Jongin-ssi. Setidaknya ia masih punya hati pada putrinya.” bela Jia-yi kini.

Gadis itu cukup tersentuh saat tahu kalau e-mail rahasia itu dari putri Arshavin. Pastilah sangat sulit bagi Arshavin membagi waktu untuk keluarganya hingga ia membiarkan e-mail rahasianya diketahui sang putri. Sama seperti ayahnya yang sangat sulit meluangkan waktu demi ia dan Jin-yi adiknya.

“Dia hanya menyayangi keluarganya dan tidak mengasihi manusia lainnya, begitu? Egois sekali.” tiba-tiba sebuah suara ikut menyahut dari belakang—Chanyeol sudah bangun rupanya.

“Putrinya cukup cantik. Sayang ayahnya seorang bajingan yang berpotensi membunuh ribuan manusia.” lanjut Chanyeol lagi, dan Jongin maupun Jia-yi hanya mengangguk ringan—setuju dengan ucapan Chanyeol.

Bahkan, Jia-yi tak sungkan memberi sebuah respon.

“Kalau di bagian itu, kurasa aku bisa setuju.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hari itu Chanyeol maupun Jongin membolos. Meski tempat persembunyian mereka nyatanya masih bagian dari Seoul University tempat mereka menjabat sebagai mahasiswa, tapi kedua pemuda itu nampaknya terlalu malas untuk setidaknya datang ke kelas.

Mereka lebih tertarik dengan pertarungan politik yang bisa saja menghanguskan ribuan nyawa manusia, juga tentang bagaimana mereka bisa menemukan  Jin-yi—masalah ini mungkin lebih jadi prioritas Jia-yi.

“Jadi kau memilih menemui Kyungsoo hyung yang akan mengantarmu menemui adikmu atau menunggu kami selesai meretas akun para petinggi negara lagi Jia-yi-ssi?” Jongin bertanya di sela-sela aktifitasnya mengunyah ramen, sementara Jia-yi kini bingung sendiri.

Tujuan awalnya adalah menemukan Jin-yi, namun fakta bahwa dua orang yang ia temui sekarang cukup kompeten untuk memuaskan rasa penasaranya mengenai perang cukup membuatnya bimbang.

“Aku—”

“—Lebih baik kau ke tempat Kyungsoo, adikmu adalah prioritasmu, bukan?” potong Chanyeol cepat sambil menyudahi suapan terakhir ke mulutnya. Ia menatap Jia-yi intens.

“Mungkin kau akan menyesal kalau terlambat menjemput adikmu dan sesuatu yang buruk sudah terjadi padanya.” lanjut Chanyeol yakin berhasil membuat Jia-yi kini hanya bisa menghela nafas panjang.

“Ya, benar. Mungkin lebih baik aku pergi. Toh, tujuanku menemui kalian memang untuk menemukan keberadaan Jin-yi.” Jia-yi bermonolog sambil berdiri dari duduknya.

Ramennya tidak ia sentuh sama sekali, sementara coffee di gelasnya sudah tandas hingga tetes terakhir. Tak berselang lama setelahnya, Chanyeol menyerahkan sebuah kertas dengan sebarit kalimat—alamat Kyungsoo.

“Aku tidak bisa mengantarmu karena kesibukan di sini. Tempat ini tidaklah jauh jadi kupikir kau lebih senang berpetualang untuk mendatanginya.” Chanyeol berkelakar.

Sebuah anggukan setengah hati Jia-yi berikan sebelum ia menerima kertas tersebut. Secepat mungkin gadis itu meraih tasnya, meyakinkan diri kalau Jin-yi benar-benar prioritas yang jadi tujuannya sebelum akhirnya Jia-yi menatap dua pemuda itu.

“Terima kasih.” ucapnya dijawab dua pemuda itu dengan seulas senyum.

“Terima kasih juga. Kalau begitu, selamat tinggal nona Wang, semoga kau menemukan adikmu.” ucap Chanyeol sambil mengantar gadis yang sudah kembali memakai mantel merahnya ke pintu, sementara Jongin memilih tetap duduk di depan layar komputer.

Baru satu langkah Jia-yi untai keluar dari ruangan tersebut, sebuah suara gaduh tiba-tiba saja mengejutkan dirinya dan Chanyeol. Lebih tepatnya, baru saja Jongin tersentak dari tempat duduknya sementara netranya membeliak menatap layar di hadapannya—

Hyung, ada e-mail yang baru dikirim Arshavin!”

—dan salam sekejap, Jia-yi memutuskan untuk tinggal.

please wait for the next story: Hol(m)es in Gwanak-gu (3)

IRISH’s Fingernotes:

EH KYUNGSOO ANAK IMUT-IMUT NAN UNYU MAAFKAN DAKU YANG LUPA KALO ULANG TAHUNNYA ITU KAMU DULU BARU KAI. WKWKWKWKWK. Efek kebanyakan beban hidup dan beban tubuh, akhirnya diriku ngebuatnya series Holmes buat Kai dulu baru D.O.

Terpaksa deh rombak habis-habisan di endingnya cerita ini supaya nanti peran si Kyungsoo bisa mazok dan bikin kalian mabok.

Itu di atas sedikit oot, gak oot sih tapi sebenernya emang ane aja yang lupa kalo Kyungsoo dulu yang ulang tahun. LOLOLOL.

Terus ceritanya, dengan sedikit meminta maap ane ucapin terima kasih buat Eki alias Shaekiran yang udah berbaik hati mau kolaborasi sama ane buat ngebikin series ini. BIKOS DIA ANE AJAKIN KOLAB CAHYO KEMARIN BARENG CHRISTY TAPI ENGGAK TEREALISASI T____T nangis dulu dong ane ceritanya.

Tapi alhamdulillah yang ini JADI! BARAKALLAH!

Ekiiiiiiiiiii ~ meski dirimu belum bikin notes gapapa deh kudahului. Thanks a lot karena udah mau berkolaborasi dengan diriku meski kita modal nekat karena sama-sama ngerjain ngebut macem bis. Alhamdulillah enggak kecelakaan ya. WKWK.

Dan sekali lagi, pibesdey Kyungsoo si pendek bulet putih separo item yang sempat memikat hatiku tapi karena ente pendek-ane pendek aku tahu kita enggak sejalan dan enggak akan menghasilkan keturunan yang berkualitas jadi aku menikung Bogum yang bibit-bobot-bebetnya bagus. MUAH DEH KYUNGCU. SI OPPA RASA DEDEK GEMESH.

Anyway, besok masih post satu lagi Gwanak-gu-nya LOLOLOLOLOL.

P.s: Eki itu emejing sekali dia ngetik sampe nembus 5000 kata dalam waktu sehari WKWKWK. Ini cerita ketambahan dari ane jadi berapa besok ya Lord T.T

~

~

~

[    IRISH SHOW    ]

Iklan

15 thoughts on “[D.O. BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES IN GWANAKGU (2) — IRISH’s Tale

  1. Ping-balik: [D.O. BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES IN GWANAKGU (3) — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  2. YA ALLAH YA ALLAH KUTEREAK TEREAK AJA KALI YA. CANYUL… TERNYATA… KAMO… ANAK PRESIDEN. ADUH KASIAN, DAKU JD SALFOK KE DIA ADUH ADUDUHHH /? Dikirain dia anak urakan wkwk /plak/ga/

    Ciee sandi morse pramuka, mentang-mentang kak eki anak pramuka nih 😄 /PLAK/ DAN SO DAEBAK 1 HARI KAK EKI SANGGUP NULIS SEGITU. ANE JUGA PERNAH SIH DAN LANSUNG TEPAR SUSUDAHNYA WQWQWQWQ.

    Dan ini…. email apa kira-kira yang masuk di email Arshavin? Duh kepo kepo kepooo, ditunggu ya besyok :3

    • Ekhm, pramuka-nya dinotis,😂
      Ini sebenernya curhat juga, soalnya sandi semaphore angka digabung napoleon itu susahnya nauzubillah els meski udah tau kunci-kuncinya, tetep aja susah diterjemahin tuh kumpulan angka/plakk/gananyakki-,-/dibalang/😂
      ITU 5K WORDS SEHARI BIKOS EKI KILAP ELS, SYUMPEH, EKI KILAP GEGARA CY TERLALU MENGGODA DISITU DAN PENGENNYA CY JANGAN JADI MINOR CAST, TAPI ANE TERSADAR KALO INI ULTAHNYA SI BABANG SEKSEH KAI DAN KETIKAN ITU TERJADI BEGITU SAJA/PLAKK/😂
      ANE JUGA TEPAR ELS, TEPAR EGEN,😂
      ATAU KARENA SEMANGAT UGHA KALI YA? SOALNYA EKI UDAH NUNGGU KOLAB INI DAN EKI PERNAH GAGAL SEKALI GEGARA ULTAH CY DULU EKI ADA DI BUMPER DAN KAK RISH JUGA KATANYA LAGI STUCK WAKTU ITU/HIKSEU, SYEDIH EUI INGET MASA LALU/DIBALANG/😂

      • CIE CURCOL NIH YEEE ANAK PRAMUKA BUAKAKAK. ANE JG DULU BELAJAR SANDI2AN ANE DULU ANGGOTA PRAMUKA INTI DI SD TP SKRG MAH OGAH, MALES AKU JD ANAK SILAT DAN PNDH KE SPANYOL JD ANAK KANG GARY SM SONG JIHYO /DITABOK/GAK NYAMBUNG/OOT/BAKAR ELSA/ GAK DING JANGAN NTAR RUSA PENGGODA HAWA NAPSU MAU GIMANA?

        SAMA KAK EKI. ANE NYELESEIN FF KOLAB SM TEMEN, 1 CHAPTER BERES 1 MALEM GILS MATA ANE UDH BERAPA WATT ANJR WKWKWKWK. ITU SANGKING KHILAP DAN MO NISTAIN LUHAN WQWQWQ.

        NAH ITU ANE MALAH NGERASA INI MAIN CASTNYA SI CEYE MASA BUKAN KAI AHAHAH UDHLAH GAK APA YG PENTING FFNYA JADI /DIBALANG RIDERS/

        AKU JUGA NUNGGU KOLAB YG INI BARENG KAK RISH KYAAAAA, BAGIAN LUHAN KYAAA /DIBALANG

      • KITA PERNAH ADA DI ORGANISASI YANG SAMA TERNYATA ELS. SAYANGNYA EKI BARU IKUT PRAMUKA SETELAH KAMU PINDAH HALUAN KE SILAT. EKI BARU JADI ANAK PRAMUKA PAS SMP DAN SMA SEKARANG 😄
        GARY JIHYO KOK KU BAPER? ._.
        RUSA PENGGODA ~
        KADANG KALO UDAH BIAS EMANG BEGITU ELS, SUKA NAPSU NISTAIN DAN TANPA SADAR BERIBU KATA UDAH SELESAI DIKETIK/PLAKK/ 😄
        BETEWE KOLLAB, NASIB SI WINTER BEGIMANA ELS?
        ASTAGA, CEYE , MAAP KAI, EKI NISTA AMPE ORANG MIKIR INI MAIN CASTNYA CEYE -____-
        LUHAN MASIH LAMA, APRIL MASIH JAUH/DITABOK/ 😄

      • WKWK IYA NIH TAPI SKRG MALES BANGET PBB. PANAS2AN AHAHAHA. MAMAKU JG BEKAS ANAK PRAMUKA DULUK WKWKWK.

        UDAH JAN BAPER, KITA INGET YG MANIS AJA :”8 AS WELL MEREKA ITU ORTU VIRTUAL ANE.

        IYA NAPSU KEK NAENA /DITABOK/
        NTAR KAK EKI ANE ADA PROJECT FF BRUNTUN DI BLOG SEBELAH, DIUNDUR JD MAU PREPARE DOLOEH NTAR KULANJUT KOLAB KITAH.

        WKWK APRIL JG AKU ULTAH /KODE/LEMPAR BOM/LARI

      • PRAMUKA EVERY WHERE😂😂
        PBB PANAS, KAN GREGETS GITU ELS/PLAKK/😂
        AKU IYAIN AJA DEH YA ELS BIAR CEPET/DIGAMPAR /😂
        NAENA, EKI MASIH POLO S PLISS,😂😂
        BHUAKAKA, GPP ELS, LANJUT AJAH, SI WINTER BISA MENUNGGU ITU,😂
        KODENYA KERAS YE ELS,😝
        PEKA GAK ITU SI LUHAN,😂

      • FF KOLAB BERES KOK ASEEKKK TINGGAL CH.2NYA BUAT ENDNYA

        KAK EKI SOK POLOS DEPAN CEYE BARU YAK

        LUHAN MESTI PEKA, ULTAH ANE KAN 4 HARI SESUDAH SEHUN DAN 4 HARI SEBELUM LUHAN AKAKAK

    • BUAKAKKAKAKAKAKAKAKAKAKAKKAKAK SESEKALI CHAN DAPET PERAN KEREN GITU BIAR DIA ENGGA MELULU TERANIAYA DI CERITA ANE 😄 😄 😄 WKWKWKWKWKWKWK eki noh yang pake sandi morse 😄 gaya dia 😄

  3. KUBAHAGIA SEKALI KETIKA INI DIRILIS KAK RISH 😄
    MAAP KARENA EKI BARU BUKA JAPRI KAKAK CUZ EKI TADI NGERJAIN PR FISIKA DAN HP DI SILENT T.T (balada anak sekolahan/plakk/ XD)
    TENGKKYUU SANGAT UDAH AJAK EKI KOLAB KAK, EKI BENER BAHAGIA SYUMPAH >.<
    .
    Pibesdeh Kai & Kyungsoo yang kilapnya kami buat Kai duluan/plakk/ ❤ T.T
    Tenang aja Kyung, kak Rish udah nyiapin yg lebih emejing buat kamu, gidaryeo ajahh /dibalang/ 😄

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s