[D.O BIRTHDAY PROJECT] Awkward Proposal | truwita

1481845694557

Awkward Proposal
with truwita storyline

[EXO] Do Kyungsoo and [OC] Park Soohye
| Genres romance, lil-bit sad, and failed comedy |
Length Ficlet | Rating PG-15
cr. pict: Gxchoxpie| posted@DKFI

Disclamer: This story is mine, pure my imagination. if there’s same of plot, character, etc… it’s pure accidentally. Don’t plagiarize or copy without my permission.

“Aku hanya takut melewati batasan, yang pada akhirnya cintaku saja tak mampu untuk menahanku di sisimu…”

Happy reading!

Dering ponsel memecah keheningan. Membuat Soohye memaksa jemarinya bergerak, merogoh benda tipis dari dalam tas. Kedua matanya masih terfokus pada deretan kalimat yang tercetak rapi dalam lembaran kertas putih di tangan.

Kau sudah menunggu?
Pemotretanku berlangsung
lebih lama dari yang seharusnya.
Maaf, tapi bisakah kau
menunggu sedikit lebih lama?
Kumohon.

Soohye kembali fokus pada berkas-berkasnya setelah melirik layar ponsel dari ekor mata. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Normalnya, seorang gadis akan menampakkan ekspresi kesal, namun berbeda dengan Soohye. Seolah pesan yang masuk hanyalah pesan operator yang mengucapkan terima kasih telah menjadi pelanggan setia.

Tiga jam berlalu, Soohye telah selesai membaca dan menelaah semua berkas-berkasnya. Lima cangkir kosong sudah menghuni meja di hadapannya. Gadis itu mendengus ketika memeriksa arloji yang melingkar di tangan kiri. Suasana restauran yang semula ramai, kini perlahan menyepi. Waktu makan malam sudah berlalu sejak lama. Namun orang yang berjanji dengannya belum juga menampakkan batang hidung dengan kedua lubangnya yang besar itu.

Di luar, salju sedang turun. Memang tidak terlalu lebat, namun percayalah udara di luar sana cukup untuk membuat gigimu rontok. Soohye bergedik membayangkan giginya harus rontok akibat menahan rasa dingin, mengingat ia sama sekali tidak memakai pakaian layak. Tubuhnya hanya dibalut kemeja formal tipis yang sama sekali tidak membantu menghalau rasa dingin. Kali ini, ia benar-benar mengutuk sikap cerobohnya. Salahkan pria pendek yang menelepon dan meminta bertemu segera sehingga Soohye keliru. Ia menatap jas putih yang di sampirkan di kursi, lalu mencebik.

“Aku masih cukup waras untuk mengenakan jas dokter di luar jam dinas. Lagi pula di dekat sini tak ada klinik atau rumah sakit. Dianggap tersesat masih bisa ditolelir. Bagaimana jika dianggap sarap? Ah, Kyungsoo keparat.”

“Permisi nona, mohon maaf restaurant kami akan segera tutup.”

“Ah ya, saya akan segera pergi.”

Pelayan itu membungkuk dan pergi setelah sebelumnya meletakan bill di atas meja.

Soohye membereskan barang-barangnya dan meletakan beberapa lembar won di atas meja. Sebelum beranjak pergi, ia menatap sendu pada cangkir-cangkir kosong. Bukti nyata begitu banyaknya waktu yang telah ia habiskan hanya untuk menunggu dan bertemu seseorang.

Menghela napas adalah pilihan terakhirnya. Soohye tak lagi bisa merasa marah, sebal atau kesal. Bukannya tak ingin, ia hanya tak bisa. Terlalu sering dihadapkan pada situasi seperti ini oleh orang yang sama membuatnya kebal, atau… lelah? Entahlah mana yang benar.

“Aku hanya takut melewati batasan, yang pada akhirnya cintaku saja tak mampu untuk menahanku di sisimu, Kyungsoo.” Soohye bergumam sambil memutar-mutar cincin kecil yang menjadi gantungan di kalungnya sedangkan sepasang kakinya melangkah perlahan menuju pintu keluar. Pikirannya kalut, banyak hal yang menjadi beban otaknya akhir-akhir ini. Kesibukan Kyungsoo sebagai salah satu member EXO, boyband terkenal itu sama sekali tidak membantu. Meski keduanya telah bersama cukup lama, hubungan mereka jauh sekali dari kata normal dan ideal.

Angin berhembus sesaat setelah Soohye melangkah ke luar dari pintu restaurant. Kedua tangannya reflek menyilang, memeluk tubuhnya sendiri. Berharap dengan begitu rasa dingin bisa sedikit teratasi. Untunglah salju tak lagi turun.

Soohye berdiri di pinggir jalan. Menunggu sebuah taksi lewat. Tubuhnya bergetar, pun terdengar suara gemeletuk dari giginya. Ah, Soohye benar-benar benci udara dingin. Karena dingin selalu membuat tubuhnya gemetar dan kulitnya berubah warna kemerahan seperti babi.

Semenit menunggu taksi di tengah udara dingin serasa satu abad. Soohye menggerutu, lalu menendang-nendang udara yang berujung dengan terlepasnya flatshoes dari salah satu kakinya. Alas kaki itu terlepas, terbang dan mendarat begitu saja di pipi salah seorang pengendara skuter  yang kebetulan lewat.

Oh-My-God!” Soohye menutup mulutnya yang membentuk huruf O dan segera berbalik. Namun…

Duk.

“Ah—”

Hidungnya terbentur sesuatu yang cukup keras.

Aish, jinja!”

“Y-yah! Park Soohye, kau tak apa?” suara seseorang mengintrupsi dan menyentuh kedua bahunya.

Soohye berhenti meringgis dan mengusap-ngusap hidungnya, gadis itu membenarkan posisi berdiri lalu menatap seseorang di hadapannya dengan mata menyipit.

Seorang lelaki dengan topi dan masker berwarna gelap yang menutupi hampir seluruh bagian wajahnya. Tubuh kurus yang tak terlalu tinggi itu dibalut celana jeans dan sweeter biru gelap yang tertutup mantel berwarna serupa.

“Do Kyungsoo, kau—”

Kyungsoo memasangkan mantel di sekitar tubuh Soohye setelah melepaskannya dari tubuh. Lelaki itu menatap khawatir sambil merapihkan anak rambut yang tak terikat di wajah gadisnya. “Apa yang kau lakukan? Mana mantelmu?”

Soohye hanya mendengus, tak berniat menjawab.

“Maaf aku—”

“SIAPA YANG MELEMPAR SEPATU KE WAJAHKU?!”

“Astaga!”

Kyungsoo menghela napas, lalu tersenyum dibalik maskernya. Meski tak begitu yakin dengan apa yang terjadi, ekspresi Soohye saat ini sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mengerti.

Kajja!” menyelipkan jemari pada telapak tangan Soohye, menggenggam, dan menariknya. Membawa gadis itu bersembunyi sesegera mungkin.

***

“Hah, aku hampir gila!” ujar Soohye sambil menyentuh dadanya. Gadis itu mengintip dengan hati-hati dari balik dinding. Waspada terhadap seseorang yang mungkin mengejarnya. Kini mereka tengah bersembunyi di sebuah gang sempit yang menjadi gudang penyimpanan gerobak-gerobak para pedagang kaki lima.

Soohye menghela napas lega saat yakin tak ada seorangpun yang mengejar. Tubuhnya ia sandarkan pada dinding. Rasa dingin yang tadi menggerogoti tubuhnya sudah hilang entah kemana. Mungkin karena kini sebuah mantel tebal terpasang apik membalut tubuhnya. Mungkin juga karena sentuhan lembut yang menggengam satu tangannya sejak beberapa waktu lalu.

Soohye menoleh yang otomatis disuguhi senyum menawan dari pria yang memiliki sepasang bibir berbentuk hati. Wajah lelaki itu kini terekspos sempurna. Tak ada topi ataupun masker yang semula menutupinya. Membuat Soohye bisa dengan leluasa menatap wajah  Kyungsoo yang diam-diam begitu dirindukannya. “Kau pikir dengan tersenyum seperti itu  membuatmu lolos dari neraka, hah?”

Soohye hendak melepaskan genggaman tangannya, namun Kyungsoo lebih gigih dari apapun mempertahankan tautan keduanya. “Dengar, maafkan aku. Dan kau tidak perlu memaafkanku jika kau tak ingin melakukannya.”

“Meski tetap saja aku berharap kau mau memaafkanku. Ah, tapi aku takkan memaksa.”

Soohye berdecak mendengar kata-kata Kyungsoo yang menurutnya berputar-putar, dan terkejut di detik selanjutnya sampai-sampai rahangnya terasa kaku untuk kembali menutup.

Kyungsoo menyelipkan sesuatu di jari manisnya, menggenggam tangannya dengan kedua tangan, lalu mengecup punggung tangannya lembut. “Aku sedang melamarmu. Jadi menikahlah denganku!”

“Kali ini aku akan memaksa. Tak peduli apapun alasanmu. Aku hanya menerima jawaban yang ingin kudengar.”

Mendadak Soohye terkena stroke. Tubuhnya mati rasa dan kaku. Otaknya kosong, pun lidahnya kelu. Kesempatan ini Kyungsoo gunakan untuk mendekatkan wajah keduanya, lalu mengecup sebelum akhirnya melumat bibir si gadis beberapa saat.

Setelah berhasil menguasai diri, Soohye mendorong tubuh Kyungsoo. Dan pergi tanpa mengatakan apapun. Belum jauh ia melangkah, Soohye menghentikan ayunan kakinya. Ia meringgis sambil mengangkat satu kaki yang tak beralas. Sebuah kerikil kecil menempel di sana. Soohye berdecak, lalu menyingkirkan kerikil itu.

Entah sejak kapan Kyungsoo bergerak dari tempatnya semula. Tahu-tahu lelaki itu sudah berlutut menyodorkan sepasang sepatu miliknya di hadapan Soohye. “Ayo cepat lepaskan sepatumu, dan pakai punyaku. Kau tidak bisa pulang ke rumah dengan satu sepatu. Bukan, bukan tidak bisa. Aku tak mengizinkannya.”

“Aku tak bisa membiarkan kaki pengantinku terluka dan berjalan picang saat menghampiriku di upacara pernikahan nanti.”

DUAK.

“YAK! PARK SOOHYE! KENAPA KAU MEMUKUL KEPALAKU?”

“BERHENTI BICARA BEGITU MANIS! KAU MEMBUATKU MUAL!”

“Aku suka saat kau mual, Hye. Wajahmu matang sih, terlihat manis. Merah merona.”

“YAK! KAU MAU MATI SEBELUM MENIKAH YA?”

Lalu, tanpa menunggu jawaban dari Kyungsoo, Soohye segera memakai sepatu lelaki itu dan melangkah lebar-lebar. Sedikit menyesal dengan kalimat terakhir yang dilontarkannya. Jangan tanyakan bagaimana malunya Soohye sekarang.

Sementara itu, Kyungsoo tak mampu menahan rasa senangnya. Lelaki itu meloncat-loncat kegirangan sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara yang hendak keluar. Kyungsoo juga nyaris berguling-guling saking bahagianya. Setidaknya Kyungsoo tak mau terlihat kekanakan setelah berhasil melamar seorang gadis.

Hey, Park Soohye! Aku tak bisa berjanji untuk selalu datang tepat waktu, atau menemuimu di saat kau ingin menemuiku. Tapi kekasih, aku akan selalu datang dan menemuimu dalam keadaan sama. Mencintaimu. –Do Kyungsoo

 

-FIN-

cuap-cuap gak penting:
selamat ulang tahun, sayangku. Kuswandi Munggaran a.k.a Do Kyungsoo 😉
flashback sebentar waktu kamu lamar aku yaa, beb.
ohyess, makasih buat yang udah baca kisahku, (uhuk) semoga kalian para joms yang dari lahir terutama, disegerakan menyusul :v /delusimodeon/
well, ini cerita pernah kupost di wp sebelah, jadi buat yang udah baca dan sengaja atau tidak, baca ulang ya… selamat! muehehe.
aku gak sempet bikin yang baru, duh. akhir semester yaa beginilah, mendadak jadi kuncen kampus dan perpus :’) tapi, meski begitu, cintaku tetap tersalurkan kok. lopyu all ❤
terakhir, makasih banyak buat bebeb Gece yang kecee, udah bikinin moodbooster buat fictnya hihiw, badai pisan siah ce, :*

Iklan

2 pemikiran pada “[D.O BIRTHDAY PROJECT] Awkward Proposal | truwita

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s