[EXOFFI FREELANCE] U R (Prolog) 

image1

Title : U R

Author : REDLIGHT

Length : Chaptered

Genre : Slice of life, Romance, Comedy, Marriage life, Crime

Rating : PG-13

Cast : Oh Sehun EXO /-/ Bae Irene RV

Main cast : Park Chanyeol EXO /-/ Jung Eunji APINK /-/ Byun Baekhyun EXO /-/ Jisoo BLACKPINK /-/ HyunA /-/ Lee Kwang Soo /-/ Gong Yoo*bisa bertambah kapanpun*

Disclaimer : Hanya seorang author biasa, yang bisa saja melakukan kesalahan. Jadi mian kalo author ada banyak kesalahan di ff ini. 🙂

*

*

*

 

PROLOG 

 

Tak apa jika kamu gagal, kegagalanmu harus dijadikan sebagai motivasi untuk kedepannya. Jangan menyerah di tengah usahamu, karena usaha untuk berhasil itu tidak akan sia-sia.

Jika kamu merasa sakit, putus asa, hilang harapan, kamu harus menghilangkan semua pikiran negatif itu. Jangan terlalu memikirkan hal negatif yang membuatmu tidak bisa bangkit dalam kegagalanmu.

Bagaikan berjalan, jika kamu berhenti, maka semua akan terlihat sama, jalan kedepan hanya kau bisa ratapi. Dan jika kamu berjalan, makan jalan yang kamu ratapi itu akan terlewati dengan mudah. Jika sesuatu menghalangi atau menghambat jalanmu, sesuatu yang amat sangat kamu takuti atau yang amat sangat kamu ingin hindari, maka kamu harus menghadapinya dengan berpikir positif dan bertindak dengan benar.

 

-|||-

 

Eo, tolong siapkan ruang operasi, sekitar 5 menit lagi seorang korban kecelakaan mobil akan segera tiba” Ucap seorang dokter berkaca mata dengan terburu-buru. Ia setengah berlari menuju pintu masuk rumah sakit.

Suara sirine mobil ambulan sudah terdengar, sekitar 3 meter lagi mobil ambulan yang mengangkut korban kecelakaan mobil akan berparkir di tempat pemberhentian mobil tepat di  depan pintu masuk rumah sakit.

Seorang pasien perempuan terbaring lemah diatas ranjang lipat yang baru saja di turunkan dari mobil ambulan, siap dilarikan ke ruang operasi. Tak tunggu lama, dokter berkaca mata itu mendorong ranjang lipat menuju ruang operasi, dibantu beberapa orang suster.

 

 

Operasi berjalan dengan lancar, pasien kecelakaan mobil tadi sudah dipindahkan ke ruang rawat, dan kondisinya sudah membaik. Operasinya hanya memakan waktu satu jam, tidak banyak yang harus di obati, hanya mengeluarkan beberapa pecahan kaca mobil yang masuk kedalam kepala dan lengannya.

 

“Ahh aku benar-benar lelah” keluh Irene sambil memijat pelan bahunya, lalu ia menyenderkan badannya di kursi kerjanya sambil memejamkan mata.

 

“Kau sudah bekerja dengan baik Irene-ah” seorang laki-laki memukul Irene dengan sebuah buku yang digulung.

 

“Ya!” Irene berteriak kesal.

 

“Siapa yang baru saja kau operasi? Apa operasinya berjalan dengan lancar?” Tanya laki-laki itu.

 

“Chanyeol-ah, aku ingin beristirahat untuk sebentar saja, jadi jangan ganggu aku, Arraseo?” Irene menempatkan sebuah buku terbuka di wajahnya untuk menutupi wajahnya.

 

“Eii, setidaknya kau beri tau aku dulu, akukan rekanmu, jadi aku harus tau” Chanyeol terus meminta Irene untuk memberi tahu siapa pasien yang baru saja Irene operasi.

 

Cihh, kau. Sifatmu tidak pernah berubah”

 

“Cepat beri tau” Chanyeol mengetuk-ngetuk meja kerja Irene.

 

Aishhh!! Kau membuatku kesal” Irene menyingkirkan buku dari wajahnya, menatap Chanyeol intens.

 

“Seorang perempuan cantik, seperti model, bermarga Jung. Aku tidak tau pasti namanya, Eumm, Jung Eun Gi? Ahh ani, Jung Eun Bi? Kurasa bukan, Jung Eun Ji, ahhh!! Benar itu, Jung Eun Ji” Irene berpikir keras untuk mengingat kembali nama pasiennya.

 

Dap… Dap… Dap…

 

Chanyeol berlari dari tempatnya, kencang sekali, tidak peduli menabrak pintu sekalipun.

 

Heol, kenapa dia terburu-buru sekali?” Irene membulatkan matanya, masih kaget. “Ahh, molla” Irene kembali memejamkan matanya.

-|||-

 

Kuharap itu bukan dirimu. Chanyeol berteriak-teriak di dalam hatinya. Ia berlari menyusuri koridor rumah sakit, mencari sebuah ruangan seorang pasien yang baru dotangani oleh Dr.Bae atau bisa disebut Irene.

 

Chanyeol berhenti didepan pintu sebuah kamar yang di sebelah pintu tertempel nama penghuni ruangan tersebut. Ny.Jung Eun Ji, Chanyeol merasa benar-benar terkejut ketika membaca nama itu.

 

Chanyeol membuka perlahan kenop pintu kamar itu, dan mulai masuk secara perlahan. Pasien yang bermama Jung Eun Ji itu belum terlihat, ranjang yang ditempatinya tertutupi tirai berwarna putih.

 

“Eu .. Eun Ji-ya, benar itu kau?” Chanyeol berkata lirih.

 

“k-kenapa ini bisa terjadi?”

 

//–//

 

“Dr.Bae, apa kau sudah menemui ketua?” Tanya Baekhyun, seorang dokter magang di RS. Hae Won, tempat Irene bekerja.

 

Ani, aku belum menemuinya” Irene menggelengkan kepalanya.

 

Waeyo? Ketua sudah menunggumu sedari tadi. Kenapa kau tidak langsung menemuinya?” Ucap Baekhyun sedikit kesal.

 

“Kenapa jadi kau yang kesal? Memangnya ada urusannya denganmu?” Ucap Irene ketus.

 

Aishhh jinjja.” Ucap Baekhyun lirih.

 

Ddrrrtttt…. Drrrtttt….

 Ponsel milik Baekhyun bergetar. Dengan cepat ia mengeluarkan ponsel dari saku jas dokternya lalu mengangkat panggilan masuk.

 

“Ne, ketua, akan saya beritahu kembali”

 

“….”

 

“Ne, ne arraseo” 

 

“Dr.Bae. Kutegaskan kembali, anda di perintahkan untuk menemui ketua sekarang juga” Baekhyun memegang erat ponselnya, kesal.

Arraeso, kerjakan ini, aku belum selesai mengerjakannya, dan tolong periksa pasien di kamar no 26, 58 dan 100” Irene memberikan setumpuk berkas-berkas kepada Baekhyun  dan segera menuju ruangan ketua RS. Hae Won.

 

“Kenapa ketua tidak meneleponnya langsung saja? Benar-benar merepotkan!” Gerutu Baekhyun.

 

-|||-

 

Kenapa dia selalu memanggilku? Dan kenapa disaat sibuk seperti ini? Menyebalkan!! Akan ku enyahkan kau jika aku bisa!. Gerutu Irene dalam hatinya.

 

Irene menaiki lift menuju lantai 2, setelah pintu terbuka di lantai 2, Irene keluar dari lift lalu berjalan menyusuri koridor, menuju runangan paling ujung.

 

Ketua Lee

 

Tertera sebuah papan putih berukuran sedang di depan pintu bertuliskan Ketua Song. Membuat Irene menghela nafas kesal. Membaca namanya saja ia sudah kesal, apalagi jika sudah melihat wajahnya.

 

Tok…tok…tok…

 

Irene mengetuk pintu pelan. “Masuk” terdengar suara seorang laki-laki dari dalam ruangan, jelas itu adalah ketua Lee..

Irene memutar kenop pintu lalu membuka pintunya lebar-lebar. Irene mulai melangkahkan kakinya, masuk kedalam ruangan yang amat sangat ia benci. Irene menutup kembali pintunya, ia mulai mendekati meja kerja ketua Lee, lalu berhenti di jarak 1 meter dari meja kerja ketua Lee.

 

“kenapa kau mengabaikan panggilanku? Aku sudah meneleponmu beberapa kali, dan kau tidak menjawabnya sama sekali” Ketu Lee  berkata dengan serius, menatap Irene tajam.

 

Mianhaeyo, aku sibuk” Irene membalas tatapan ketua Lee  dengan tatapan dingin.

 

“Tidak ada alasan, sebagai gantinya, kau harus temani aku makan malam ini” Ketua Lee menyunggingkan senyuman yang benar-benar membuat Irene jijik.

 

Mwo? Tidak bisa, tidak bisa begitu” Irene menolaknya.

 

“Apa kau baru saja menentangku huh?” Ketua Lee  bangkit dari duduknya, medekati Irene.

 

“Ahh, ani, mianhaeyo”  Irene sedikit membungkukkan badannya.

“Baiklah, malam ini pukul 9 di restoran Siap saji di dekat RS” ketua Lee  mengelus-elus bahu Irene.

 

Gila!! Dia benar-benar gilaa!!! Aku membencinyaaa!!!! Lihat saja kau! Ketua cabul!.

 

//–//

 

Segerombol pria bertubuh tinggi sedang mengepung seorang pria berumur sekitar 21 tahun ditengah gang sepi yang remang. Masing-masing pria yang bergerombol itu membawa pisau kecil yang mereka simpan disaku celananya. Pria berumur 21 tahun itu berdiri sambil mengangkat kepalanya, seolah-olah ia sedang menantang. Salah satu pria bertubuh tinggi nan besar dengan otot-otot tangannya maju menghadap pria 21 tahun itu dengan tatapan menyeramkan.

 

Mwo? Kau mau menantangku? Ayo, lawan” Pria 21 tahun itu mengangkat jari telunjukknya lalu menggerak-gerakkannya, menisyaratkan untuk pria tinggi itu maju.

 

“Haha! Dia menantangku! Dasar bocah!” Teriak pria tinggi itu geram. Tak sampai 2 detik, sebuah pukulan kuat ‘diterima’ pria 21 tahun di daerah pipinya, membuat pria itu sedikit terdorong kebelakang.

 

“Uhukk uhukk” pria 21 tahun itu terbatuk sambil memegangi pipinya.

“Aku berani melawanmu, dasar pengecut!” Pria 21 tahun itu menatap pria tinggi itu.

 

“Dasarr!!” Teriak pria tinggi semakin geram, lagi-lagi pria 21 tahun mendapatkan pukulan kuat namun tidak di pipi, melainkan diperut. Pria 21 tahun itu terdorong kebelakang hingga terjatuh. Pria 21 tahun terbatuk sambil memegangi perutnya yang sakit.

 

2 orang rekan pria bertubuh tinggi maju mendekati pria 21 tahun sambil memainkan pisau kecilnya, dengan kecepatan tangan 2 rekan pria bertubuh tinggi, pria 21 tahun tidak menyadari bahwa dirinya tengah berada dalam keadaan yang sangat berbahaya, pisau kecil itu sudah tertancap dilengan bagian atasnya, dekat dengan bahu. Pria 21 tahun meringis kesakitan. Bayangkan, 2 pisau kecil dan juga tajam tertancap di lengan, betapa sakitnya itu.

 

2 menit berlalu, pria 21 tahun masih saja meringis kesakitan sambil memegangi lengannya, pisau kecil itu masih tertancap dilengannya, tak sanggup untuk mencabutnya. Segerombol pria itu tertawa penuh kemenangan, sambil tersenyum meremehkan.

 

“Apa tujuanmu datang ke markas kami? Dan tiba-tiba saja menantang kami bertarung?” Kata pria yang tadi menonjok wajah pria 21 tahun.

Pria 21 tahun diam.

 

“Jawab!” Kata pria tinggi setengah berteriak.

 

“Aku ingin membalas dendam!” Teriak pria 21 tahun penuh amarah, ia bangkit lalu segera ‘memberikan’ pukulannya, tepat di pipi pria tinggi itu. Sontak perbuatan pria 2- tahun membuat pria tinggi marah, pria tinggi itu membalas pukulannya, hingga akhirnya terjadi keributan.

 

“Hey! Ada apa ini! Hentikan sekarang juga!” Teriak seorang pria dari belakang sana. Pria itu berjalan mendekati keributan, dengan perawakan yang tegap dan gagah.

Pria itu menghentikan keributan.

 

“Ada apa ini? Kenapa kalian begitu ribut sekali?” Tanya pria gagah itu.

“Ntahlah, bocah itu menantang kami duluan” pria tinggi itu menunjuk pria 21 tahun.

 

“Hey! Kenapa lau menantang mereka?” Tanya pria gagah kepada pria 21 tahun.

 

“Meraka bodoh! Mereka pengecut! Mereka pura-pura tidak tau!” Teriak pria 21 tahun itu. Teriakannya membuat pria tinggi itu kesal dan hampir memberikannya pukulan lagi, tetapi pukulan itu ditahan oleh pria gagah.

 

“Sebaiknya kalian pergi dari sini, jika kalian tidak pergi, kalau begitu kami saja yang akan pergi” pria gagah itu menarik lengan pria 21 tahun untuk menjauh dari kerumunan preman itu.

 

Setelah keluar dari gang itu, pria 21 tahun melepaskan pegangan tangan pria gagah.

 

“Siapa kau? Kenapa kau mencampuri urusanku?”

 

“Kau hampir mati disana bocah, sebaiknya kau pergi kerumah sakit! Ayo, akan aku antar.” Pria gagah itu kembali menarik tangan pria 21 tahun menuju mobil yang terparkir di depan sebuah mini market.

 

-|||-

 

Pria 21 tahun duduk diatas sebuah ranjang kosong, lengan bajunya dilipat keatas, beberapa perban tergeletak di atas meja stainless kecil yang berada di dekat pria 21 tahun. Kapas penuh darah tercecer tiak beraturan diatas meja stainless yang sama.

 

Seorang wanita bepakaian dokter menghampiri pria 21 tahun, membawa sebuah obat merah dan juga plester. Wanita itu kembali mengobati si pria 21 tahun.

 

“ahh, sepertinya ini sangat sakit bukan?” Dokter itu seakan berbicara sendiri, dokter itu menatap pria 21 tahun sekilas lalu kembali fokus ke pekerjaannya.

 

Dokter ini … Batin pria 21 tahun.

 

“Sudah selesai, tidak akan terlalu sakit sekarang, karena sudah diobati” Dokter itu tersenyum.

 

Pria 21 tahun memasang wajah datar, walaupun di dalam hatinya ia sangat bahagia sudah diobati oleh dokter secantik itu walaupun memakai kacamata bulat seperti Harry poter. 

 

“Irene-ah!, apa kau sudah selesai dengan pasienmu?” Seseorang berteriak memanggil dokter diahadapannya itu.

 

“Sudah! Aku akan segera kesana” balas dokter itu.

 

“Baiklah, silahkan urus registrasinya bersama walinya” Irene berbalik badan sambil mendorong  meja stainless itu, bejalan menjauh.

 

“Jadi, namamu siapa?” Tanya pria gagah yang tiba-tiba sudah berada disampingnya

 

“Oh Sehun” jawab pria 21 tahun itu datar.

 

“Aku Gong Yoo” .

 

 

//–//

 

Eomma, kau mau pergi kemana?” Tanya Irene terburu-buru ketika melihat ibunya yang sudah hampir membuka pintu rumah.

 

“Pergi” Jawab ibu Irene singkat.

 

“Kemana?” Tanya Irene lagi.

 

“Kau tidak perlu tau” ibu Irene membuka pintu dan keluar dari rumah,mlalu menutup pintunya dengan sedikit keras, membuat Irene terkejut.

 

“Bahkan kau tidak menyambutku datang” Gumam Irene.

 

Irene kembali menuju ruang tv, duduk di sofa tepat dihadapan televisi yang menyala, menayangkan sebuah acara variety show terpopuler di Korea Selatan.

 

5 menit … 10 menit … 15 menit … 

“Hoamm.. Kenapa aku mengantuk? Aish, aku tidak boleh tidur! Aku harus menunggu Appa pulang” Irene menepuk pelan pipinya, lalu segera bangkit dari duduknya, mulai berkeliling rumah.

 

Sudah hampir 3 tahun Irene tidak tinggal di rumah milik orang tuanya, karena kesibukan dunia pekerjaanya, Irene harus rela pindah ke tempat yang dekat dengan tempat ia bekerja, RS. Hae Won.

 

 

Omo omo omo, apa eomma tidak membereskan kamarnya? Yaampun, berantakan sekali” Irene menggelengkan kepala sambil memungut baju-baju yang berhamburan di lantai.

 

Irene memunguti baju milik ibunya yang berhamburan di lantai, satu persatu, lalu melipatnya asal. Tidak hanya di lantai saja, baju-baju itu juga berhamburan diatas ranjang dan lemari-pun terbuka, isinya benar-benar berantakan.

 

Ketika sedang membereskan baju di dalam lemari, Irene tidak sengaja menyentuh sesuatu, seperti kardus kecil, Irene mengambil benda itu lalu melihatnya.

 

“Apa ini?” Ucap Irene pelan sambil membolak-balik sebuah benda berbentuk segi empat gepeng yang cover luarnya di tutupi oleh selotip berwarna hitam. Irene membuka penutupnya dan mengeluarkan isi dari benda itu.

 

Betapa kagetnya Irene ketika melihat isi dari benda itu, tak bisa dipercaya. Irene menjatuhkannya, Irene benar-benar terkejut. Irene kembali meraih benda itu lalu segera mengembalikannya ke tempat semula, dengan cepat Irene berlari keluar kamar orang tuanya dan …

 

Brukk!! 

 

Irene menabrak sebuah tempat sampah, isi tempat sampah itu tumpah, berserakan. Irene berdiri lalu ia mendekati tempat sampah itu dan apa ini? Apa benda yang sama?, batin Irene dalam hatinya.

 

Tertulis sebuah tulisan di sampah yang berserakan itu k***om. Dan beberapa buah tissu yang warnanya tidak putih lagi.

 

Ada apa ini? Kenapa benda itu ada di rumah ini? Bukankah Appa jarang pulang? Kenapa Eomma membeli begitu banyak benda itu?. Apa Eomma belum membuangnya? Ahh tapi tidak mungkin. Tunggu! Tadi Eomma akan pergi kemana? Dan… Pakaiannya?. 

 

To Be Continue 

Halo! Seneng ya bisa gabung disini. Ini bukan ff pertama author, tapi hasilnya begitu-begitu ajaa T_T. Rame ga rame ga rame ga? Engga_-./apasih/. Semoga kalian para readers sukaa, sebelumnya author mau terimakasih sama admin EXOFFI INDONESIA. Karena sudah luangin waktunya buat publish ff sederhana ini;’ /Uhuy sederhana;v/, terus kalian para readers, makasih banget sudah luangin waktunya buat baca ff ini, dan jan lupa like and comment yooo~.  Thanks!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] U R (Prolog) 

  1. heol daebak ada gong yoo pula.. hahahahah siip siiip
    oh pria 21 thn itu sehun too kirain yg pria gagah yg nyelametin… eaaakkkk gagah! ahjussi gagah… ahjussi goblin.. tapi ini genrenya gk fantasi kan.. haha

    next…..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s