[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re : Turn On] (Chapter 4)

photogrid_1480225269408

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 4

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

 

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

 

Rating                        : T

 

Length                       : Chapter

 

 

~Happy Reading~

*Hyojin POV*

 

Aku bangun dari tidur ketika Jong In menyentil dahiku dengan cukup keras. Aku menggeram kesal, masih menolak untuk sadar sepenuhnya dan malah merapatkan jaket. Heran, musim panas tapi udaranya masih sejuk layaknya hari pertama turun salju.

 

“Dia masih belum bangun?”

 

“Wah parah, padahal dia sudah tidur selama perjalanan pulang!”

 

“Mungkin dia terlalu lelah selama tiga hari ini.”

 

“Lelah? Menurutku dia sedang berlatih untuk mati.”

 

Samar-samar kudengar suara berisik dari Jong In dan Sehun. Ugh, kenapa ribut sekali sih? Memangnya kita sudah sampai ya?. Perlahan kubuka mataku sebelum Jong In sempat menyemburkan air mineral yang tersimpan dalam mulutnya itu.

 

“Telan lagi! Telan lagi!” ujar Sehun, membuat pipi Jong In yang menggembung pun kempes setelah dia mengatakannya.

 

“Sayang sekali. Padahal sedikit lagi aku bisa meludahinya.” Sungut Jong In kecewa.

 

Aku mendengus sebal, “Yak! pertemanan macam apa ini?!. Kau mau meludahiku huh?, kau yakin mau melakukannya?!” balasku seraya mengacak rambutnya yang memang sudah acak-acakan.

 

“Sebelum bicara lebih baik kau bersihkan liurmu itu, dasar gadis jorok!”

 

Aku menurutinya, mengusap ujung bibir dengan sweater yang dipakai Jong In. Sekalian, toh dia sama joroknya dengan diriku, berani sekali mengejek nona Lee dengan tak sopan. Sesuai dugaan, Jong In membentakku, tak serius memang karena dia tak mungkin bisa benar-benar marah padaku. Yah, kecuali dulu saat kami bertengkar karena aku menguntitnya berkencan dan tak jujur soal kakekku -ah! Maksudku Lee Dae Ryeong yang pernah jadi kakekku.

 

“Aisshh! Gadis ini benar-benar…”

 

Jong In keluar dari bis dengan muka kesal, melewati peserta kamping yang lain dengan langkah kasar, bahkan hampir menabrak jatuh ketua Jang yang baru turun pula. Aku menatap Sehun dengan mata yang masih sayup-sayup tertutup, bertanya padanya mengapa pria hitam yang menjadi salah satu sahabat lamaku itu menjadi pemarah sekali.

 

“Mungkin karena hubungannya dengan nona Kim masih belum jelas.”

 

Mataku sedikit melotot karena terkejut, bukannya mereka sudah putus sejak dua bulan yang lalu? Lantas kenapa masih belum jelas?. Seperti mengerti apa yang hendak aku tanyakan, Sehun mencubit kedua pipiku seraya menggerakannya ke kanan dan ke kiri dengan gaya imut.

 

“Mereka kan belum putus resmi noona-ku tersayang~”

 

“Jujur Sehun, daripada senang diperlakukan begini… aku malah merinding.”

 

Senyuman cerah Sehun perlahan luntur dan berubah menjadi poker face seperti yang biasa ia tunjukkan pada penggemarnya yang sudah menanti diluar bis.

 

“Hey! Mem-”

 

“Hey! Mama jigeum baro isungan…” mendengar suara berat khas pria yang memanggil -entah siapa- naluriku sebagai penyanyi karaoke kembali muncul. Tanganku mengepal lalu kuarahkan ke mulut layaknya sedang memegang mikrofon, “Let’s make a night!”

 

“Whoo uuu whoo uuu~”

 

“Just you and i!”

 

“Whoo uuu whoo uuu~”

 

Perpaduan yang bagus antara aku dan Oh Sehun sebagai backing vocal. Wah! Kalau ada agensi atau produser artis yang melihat kami, pasti Oh Sehun yang akan diberi kartu nama lalu direkrut oleh mereka tanpa audisi!. Bukannya aku, aku sih cukup menjadi manajer Oh Sehun itu sudah lebih dari cukup kok-

 

‘Bugh!’

 

“YAK!”

 

Mulutku tertutup sempurna setelah tahu bahwa lemparan sepatu olahraga berwarna hitam itu berasal dari ketua Jang yang menatapku -dan Sehun- tajam. Ternyata dia yang memanggil tadi, pantas seperti ada firasat buruk yang muncul setelah aku selesai bernyayi.

 

“Ya sunbae? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Sehun yang bicaranya berubah jadi sopan.

 

Dasar penjilat!.

 

Aigooo sunbae~ sepertinya kau butuh bantuan membawa tas-tas berat itu… bolehkah saya tolong, sunbae-nim?”

 

Maafkan aku ibu, anakmu harus menjadi rendah diri dihadapan ketua Jang demi keamanan bersama…

 

“Bagus kalau dua member dari trio gila sadar. Ini!…” ketua Jang melempar dua tas besar kearah kami, dan berhasil kami tangkap masing-masing satu. “…sisanya ada dibagasi. Member kalian satunya juga sudah membantu sejak tadi.” Ia menggerakan kepalanya kebawah, menyuruh kami melihat keluar bis.

 

Jong In nampak kesusahan mengangkat koper-koper milik panitia wanita yang -mengaku- lemah, dimana mereka -katanya- tak bisa mengangkut koper mereka sendiri ke ruang pertemuan.

 

“Kalau memang tak sanggup, kenapa mereka harus bawa koper yang besar sih?” gumamku kesal sambil menuruni tangga. “Memangnya kita habis liburan ke Eropa ya? Sampai satu orang bisa membawa dua koper dari rumahnya!” untuk kalimat terakhir, aku keraskan suaraku agar bisa didengar gerombolan gadis kampus yang sedang mengagumi kekuatan Jong In dari jauh.

 

“Sudah, sudah, jangan menyimpan dendam.” Sehun mencoba menenangkan.

 

“Biar saja!, toh mereka juga tidak akan peduli pada apa yang kukatakan.”

 

Kami pun segera memindahkan segala macam koper dan tas besar -yang entah apa isinya- itu ke ruang pertemuan panitia kamping. Baru saja selesai dan mengistirahatkan kaki yang pegal, panggilan ketua Jang kembali membuat kupingku panas.

 

“Ya sunbae?”

 

Tapi bagaimanapun juga dia adalah senior yang lebih tua dan mau lulus. Aku tak mau membuat masalah pada orang -ehem- baik yang sudah mempercayaiku saat dituduh kemarin.

 

“Kau tidak pergi ke ruang kesehatan?”

 

“U-untuk apa aku kesana?” tanyaku kebingungan. Tapi sebelum ketua Jang kembali menjelaskan, aku sudah paham apa maksudnya. Intinya, dia memintaku pergi ke ruangan itu untuk menemui Park Chanyeol yang sudah kulukai.

 

“Ah, sunbae, haruskah aku kesana?. Euh, maksudku… kejadiannya kan sudah lama-”

 

“Tiga hari yang lalu belum lama.” Potong Jong In dengan raut muka yang puas.

 

Aku tersenyum miring sebentar kearahnya sebelum melanjutkan, “Yah, kan lukanya juga tidak parah-”

 

“Kurasa patah tulang termasuk berbahaya.” Kali ini Sehun yang menyahut padahal aku belum menyelesaikan perkataanku. Kalau bukan karena ada ketua Jang disini SUDAH KUHABISI KALIAN BERDUA!.

 

Sunbae, apa harus sampai sejauh ini?. Toh dia sudah mendapat pertolongan pertama, diobati dan tinggal masa penyembuhan saja… ada hal lain yang harus aku urus dibandingkan dia, ada banyak tugas, ujian, kuis, belum lagi persiapan skripsi. Dia baik-baik saja sunbae, percayalah, dia tidak membutuhkanku…”

 

“Dia, dia, dia. Kau bicara seolah pria itu tak punya identitas. Dia yang kau sebut itu punya nama, Park Chanyeol, teman sekelasku dulu sebelum dia menghilang di salah satu Negara yang memiliki banyak gajah. Dia Park Chanyeol, seniormu dulu yang sudah kau patahkan lengannya.”

 

Aku menutup mataku, menahan nafas karena kesal, entah ku tujukan pada siapa.

 

“Hyojin-ah, bukankah tindakan yang benar sebagai pelakunya adalah dengan merawat Chanyeol sampai sembuh total dari sakitnya?”

 

Apa dia sakit?. Tidak, bukan dia… tapi aku.

 

*Author POV*

 

Pria yang usianya lebih dari setengah abad itu berjalan menuju ruang tamu kediamannya, melewati para pelayan yang berbaris dan menyambut kedatangannya. Begitu sampai, dia segera membenarkan posisi dasi dan merapikan jas hitam kesayangannya saat indra penglihatannya menangkap sosok pemuda yang masih memakai seragam sekolahnya, membuat sudut bibirnya terangkat.

 

Pria bermarga Lee, pemilik dari perusahaan Jaeguk yang terkenal di Korea itu mendekati pemuda tersebut, dimana ekspresi sang pemuda berkebalikan dengannya. Matanya berkilat penuh amarah, tangannya terkepal kuat, dia bahkan mengigit bibir bawahnya, seolah menahan segala macam umpatan dan makian yang siap meluncur jika dia tak bisa menahannya dengan baik.

 

“Wah, siapa ini? lama tidak bertemu cucu kakek yang satu ini…” tuan Lee merentangkan tangannya, menyambut Jinhyo, adik kandung Hyojin, dengan pelukan hangat layaknya pertemuan lama antara kakek dan cucunya.

 

Tapi Jinhyo tak berpikir demikian, tubuhnya bergeming sementara seringainya muncul tanpa bisa dia tahan.

 

“Cucu? Kakek?. Pak tua, kau anggap aku sama dengan Lee Hyojin sialan itu?. Aku bukan penjilat seperti gadis menyebalkan itu!”

 

Rentangan tangan tuan Lee jatuh sia-sia, senyumannya semakin mengembang sampai kerutan diwajahnya tampak jelas. Pria itu berjalan memutari Jinhyo, lantas duduk di atas meja kerjanya yang kosong tanpa berkas penting seperti biasanya.

 

“Kakak beradik memang selalu punya banyak kesamaan. Iya juga, kalian kan berasal dari rahim yang sama…”

 

Jinhyo mendekati tuan Lee dengan langkah lebar, tak sabar untuk menarik kerah kemejanya yang rapi tersebut serta membentak wajah tua yang sudah menyebabkan keluarganya hancur sejak ia masih kecil.

 

“JANGAN PERNAH MEREMEHKAN IBUKU!”

 

Tuan Lee memang sudah tua, tapi kekuatan Jinhyo tak melumpuhkannya begitu saja. Dengan mudah ia melepas pegangan tangan Jinhyo dan mendorongnya sampai jatuh kelantai dengan cukup keras. Setelah itu anak buah tuan Lee segera menahan pemuda itu untuk kembali menyerang sang presdir.

 

“Tempramental sekali, kau lebih pemarah daripada kakakmu.”

 

“Dia anak buahmu! Bukan kakakku lagi!”

 

“Benarkah? Padahal dia sudah susah payah mencari keluarganya yang ternyata tak peduli sama sekali.” Tuan Lee berdiri, mendekati Jinhyo yang terus meronta, berusaha melepaskan diri. “Jangan begitu… kau hanya akan menghabiskan energimu.” Ia berjongkok, mensejajarkan diri dengan Jinhyo yang tangan dan kakinya ditahan oleh anak buahnya.

 

“Padahal kakakmu sudah susah payah bersembunyi dariku agar aku juga tak bisa menemukan kalian. Ternyata, tanpa menaruh umpan… ikan datang sendiri ke kail yang bahkan belum aku pasang.”

 

Jinhyo tak mengerti, dan tidak mau mengerti. Dia masih berusaha melepaskan pegangan erat dari anak buah Lee Dae Ryeong yang jelas-jelas lebih kuat darinya. Anak laki-laki yang sudah menjadi siswa SMA tingkat akhir itu berteriak marah ketika tuan Lee memegang kepalanya.

 

“Daripada kau bersikap bar-bar seperti ini, lebih baik kita makan malam bersama. Kau belum pernah mendapat asupan bergizi dari keluarga miskinmu itu kan?”

 

“JANGAN BICARA OMONG KOSONG SOAL KELUARGAKU, BRENGSEK!”

 

Tuan Lee terpaksa menutup matanya karena teriakan Jinhyo. Pria itu berdiri, menatap Jinhyo dengan kesal, tak lama ia putuskan untuk menampar cucunya itu dengan tangannya sendiri.

 

“Kau bahkan lebih menyebalkan dari kakakmu.”

 

Jinhyo terdiam karena terkejut. Selama dia hidup, belum pernah dia ditampar bahkan oleh anak-anak lain yang selalu mengintimidasinya. Tapi sekarang dia merasakannya, dari pria yang sebelumnya mengaku sebagai kakeknya.

 

Tuan Lee sendiri berbalik, hendak keluar dari ruang kerjanya dan membiarkan Jinhyo ditangani oleh anak buahnya.

 

“Bawa dia ke ruang makan. Katakan pada istriku bahwa dia adalah tamu, jangan biarkan dia mengacau atau bicara macam-macam. Karena… aku bisa saja membuat keluarganya semakin hancur.”

 

***

 

Hyojin menarik nafas panjang, berusaha tampak tenang sebelum memasuki ruang kesehatan dan bertemu dengan Chanyeol lagi. Tangannya terangkat untuk menyentuh gagang pintu, tapi dia turunkan kembali karena merasa belum siap.

 

“Ugh, tenanglah Hyojin-ah… cuma bertemu dengan Park Chanyeol, bukannya Song Jong Ki maupun Hyun Bin oppa. Stay cool okay?”

 

Setelah hembusan nafas yang kesekian kalinya, barulah gadis itu mengeluarkan tenaganya untuk mendorong pintu tersebut agar dirinya bisa masuk atau sekedar memastikan apakah pria tinggi bertelinga lebar itu masih ada diruang kesehatan. Tentu saja dia berharap pria itu sudah pergi, bukannya berduaan serta bercanda dengan gadis lain diatas tempat tidur seperti sekarang.

 

“Rae Mi?”

 

Mata Hyojin membulat, lantas berkedip cepat beberapa kali. Mulutnya terbuka namun tak sepatah kata pun keluar.

 

“Hyojin?. Kau kesini untuk menemui Chanyeol?” tanya Rae Mi, gadis yang berduaan dan bercanda dengan Chanyeol, begitu menyadari keberadaan Hyojin. “Kalau begitu biar aku pergi supaya kalian bisa bicara berdua.” Rae Mi hendak mengambil tas dan jaketnya jika saja Chanyeol tak menarik tangannya.

 

“Kenapa buru-buru?. Hyojin, ada yang perlu kau bicarakan denganku?. Katakan saja sekarang, aku mendengarkan kok.”

 

Rae Mi menggeleng sambil melepas pegangan tangan Chanyeol padanya, “Ah tidak, buat apa aku mendengar pembicaraan romantis kalian.” Kemudian terkekeh sendiri karena merasa geli dengan ucapannya.

 

“Tak perlu Rae Mi-ah…” ujar Hyojin seraya tersenyum canggung, “…aku cuma kesini atas perintah ketua Jang. Dia suruh aku memastikan keadaan Chanyeol.”

 

“Oh, aku baik-baik saja. Kau bisa katakan itu pada ketuamu.” Balas Chanyeol dengan dingin, bahkan tak melirik Hyojin sama sekali.

 

Hyojin mendengus pelan, “Eoh! Baiklah kalau begitu!. Akan aku katakan pada ketua Jang dengan jelas apa yang barusan kau katakan, tak usah khawatir!” sindirnya dengan nada jengkel, “Aku permisi.”

 

Setelah itu dia keluar dari ruang kesehatan setelah membanting pintu dengan keras. Rae Mi menatap tajam Chanyeol yang tengah menatap kosong kearah lantai.

 

“Kau puas?. Chanyeol-ah… bisa tidak kau bersikap lebih ramah kepada Hyojin?, kenapa selalu membuatnya marah seperti itu?”

 

Chanyeol berbaring, menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya, tak mau mendengar nasehat apapun lagi dari Rae Mi yang pernah menjadi gadis yang singgah dihatinya tersebut.

 

“Kau mau aku bagaimana?, memeluknya sambil bilang ‘Hyojin-ah aku sangat merindukanmu~’ begitu?. Aku tak bisa!”

 

“Kenapa tidak?!” sentak Rae Mi sambil menarik paksa selimut Chanyeol supaya pria itu bisa melihat dirinya yang kesal, “Kau pernah melakukannya dulu!. Kau selalu memperlakukan gadis yang kau sukai dengan baik, tapi pada Hyojin…”

 

Rae Mi terdiam karena kehabisan kata-kata, tubuhnya lemas setelah mengeluarkan emosinya, menyesal karena menunjukkan sisi lain dari dirinya yang dikenal polos, lagi.

 

“Apa kau tidak menyukai Hyojin?. Bukankah kau sudah memutuskan perasaanmu karena itu kau kembali ke Korea?”

 

Chanyeol tak menjawab, ia merampas selimut yang masih dipegang Rae Mi dan kembali menutupi wajahnya dengan kain hangat itu.

 

“Aku cuma tidak tahu bagaimana cara memulainya.” Ucap Chanyeol dari balik selimut.

 

Setelah itu hening, yang bisa Chanyeol dengar hanya helaan nafas, langkah kaki yang menjauh dan suara deritan pintu. Sepertinya Rae Mi sudah pergi, setidaknya itu yang Chanyeol pikirkan sebelum suara seritan pintu dan langkah kaki yang mirip kembali terdengar. Tanpa membuka selimut dan melihat sendiri, Chanyeol berasumsi bahwa yang datang pastilah Kang Rae Mi. Jadi Chanyeol putuskan untuk berpura-pura tidur agar Rae Mi tak lagi membicarakan soal Hyojin dan perasaannya lagi.

 

Chanyeol kembali mendengar suara lagi, kali ini dentingan dua buah benda yang beradu dan diletakkan diatas nakas yang berada disamping tempat tidur. Pria itu kemudian mencium aroma lezat yang membuatnya merasa lapar. Beruntung perutnya tak menimbulkan suara apapun sehingga orang yang dia anggap Rae Mi itu pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

 

Setelah memastikan telinganya mendengar suara derit pintu tanda orang tersebut telah meninggalkannya, Chanyeol menyingkap selimut dan segera menghampiri nakas dengan antusias. Sesuai dugaannya, semangkuk sup rumput laut kesukaannya tersedia lengkap dengan sendok dan nasi hangat yang ditutupi mangkuk kecil supaya tidak cepat dingin.

 

“Bagaimana Rae Mi bisa tahu makanan kesukaanku?” tanya Chanyeol pada diri sendiri dengan senyuman bahagia, “Setahuku hanya orangtuaku, Yoora noona, dan Hyojin-”

 

Lidah Chanyeol kelu seketika, dia tak bisa melanjutkan ucapannya sendiri karena dia mulai berfikir ulang tentang siapa orang yang tadi datang dan menaruh makanan kesukaannya ini di nakas. Ia mendongak, menatap langit-langit yang kosong sambil tersenyum lebar.

 

“Selamat makan, Chanyeol-ah!”

 

Setelah suapan pertama Chanyeol tidak bisa berhenti tertawa sendiri seperti orang gila. Dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya, yang jelas, sup rumput laut itu kembali mengingatkannya pada kejadian dimasa lalu. Saat pertama kali dia kembali merayakan ulang tahun dengan makanan favoritnya tersebut. Ulang tahun pertama dan terakhir sebelum dia pergi ke Thailand.

 

“Eoh!, kapan hari ulang tahun gadis itu ya?, eung… sepertinya aku pernah ingat, atau memang sama sekali tidak tahu?”

 

***

 

Rae Mi bersiul senang sepanjang perjalanan menuju rumahnya, kediaman pengusaha kaya yang ternyata merupakan ayah kandungnya yang baru dia ketahui beberapa tahun silam. Senyumnya merekah saat mendapat pesan dari ibunya. Ia pikir sang ibu akan memintanya untuk cepat pulang sebelum makanan yang sudah beliau siapkan menjadi dingin tak enak lagi. Namun pesan dari ibunya kali ini malah memintanya untuk pergi ke suatu tempat, kemanapun selain rumah.

 

“Memangnya terjadi sesuatu kah? Perasaanku jadi tak nyaman.”

 

Rae Mi tak mau berfikir buruk dan menganggap ayahnya tengah memarahi pelayan seperti biasanya, karena itu sang ibu tak mau Rae Mi melihat kemarahan sang ayah makanya menyuruh Rae Mi menunda kepulangannya.

 

“Eoh?”

 

Baru hendak berbalik untuk menunggu di café dekat rumah, Rae Mi malah berpapasan dengan seseorang yang ia kenali sebagai adik sahabatnya, datang dari arah yang sama dengan tempat tinggalnya. Rasa penasarannya berubah menjadi cemas saat melihat memar di wajah orang tersebut.

 

“Jinhyo-ya!”

 

Pria itu menoleh, menatap Rae Mi kebingungan karena merasa tak ingat pernah bertemu gadis itu sebelumnya. Jinhyo memiringkan kepalanya, menguatkan ingatannya soal Rae Mi tapi tak mendapatkan hasil apapun. Dia tak tahu bahwa Rae Mi merupakan teman Hyojin yang datang ke sekolahnya bersama pria-pria lain saat pertama kali Jinhyo bertemu dengan Hyojin waktu itu.

 

Bahkan tidak tahu kalau gadis tersebut adalah anak dari kakek yang dibencinya.

 

“Kau… baik-baik saja?”

 

“Anda siapa?”

 

Rae Mi terdiam, memikirkan respon apa yang akan dia dapat jika dia mengaku pada Jinhyo bahwa dia adalah teman kakaknya, anak Lee Dae Ryeong yang berarti… bibinya.

 

“Euhm… sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya.”

 

“I-iya, aku teman kakakmu, Hyojin…”

 

“Dia bukan kakakku!” tegas Jinhyo dengan muka sebal.

 

Rae Mi tak acuh dengan sikap benci Jinhyo pada kakaknya, yang ia pikirkan adalah hal apa yang membuat siswa SMA kelas tiga sepertinya pergi ke perumahan elit, terlebih datang dari arah rumahnya, tidak, dari rumah kakeknya.

 

“Jinhyo-ya, a-apa yang kau lakukan disini?”

 

‘Kumohon jangan katakan kau pergi kerumah Lee Dae Ryeong, jangan katakan bahwa luka di wajahmu itu kau dapat dari ayahku… kumohon… jangan…’

 

“Aku habis berkunjung…”

 

“Y-ya?”

 

“…dari rumah pak tua brengsek yang sudah menghancurkan keluargaku.”

 

Tanpa sadar Rae Mi ikut mengikuti arah pandangan Jinhyo yang menatap tajam rumah besar nan mewah yang merupakan tempat tinggalnya beberapa tahun terakhir. Mata gadis itu memanas, dan tanpa sadar sudah meneteskan air mata yang tanpa bisa dia cegah. Pandangannya kosong, menatap lurus kearah rumahnya lalu pada Jinhyo yang terluka serta penampilannya yang acak-acakan.

 

“Nona muda?. Sedang apa anda disini? Bukankah sudah waktunya makan malam keluarga?”

 

Tubuh Rae Mi menegang saat suara pak Nam, selaku supir dan pengawal pribadinya datang menghampiri gadis tersebut. Jinhyo terkejut mendengar panggilan anak buah kakeknya kini sedang menyapa penuh hormat pada gadis yang mengaku sebagai teman dari kakaknya itu.

 

“Kau bilang kau teman dari Lee Hyojin…”

 

“Ji-Jinhyo-ya-”

 

“Apa Lee Hyojin tahu tentang ini dan masih berteman denganmu? Atau kau merahasiakannya demi mendapat informasi tentang keluarga kami?”

 

“Bu-bukan seperti itu kejadiannya!, apa kakakmu belu menceritakannya? Eoh? Ka-kami sudah berteman lama bahkan sebelum-”

 

Jinhyo tersenyum dengan angkuhnya, meski belum jelas tentang siapa sebenarnya gadis tersebut dan apa hubungannya dengan sang kakek yang sudah berbuat kejam terhadapnya, tapi Jinhyo sudah memutuskan untuk menambah Rae Mi dalam daftar orang yang dibencinya.

 

“Jika kau ini ada hubungan darah dengan Lee Dae Ryeong sialan itu, dan Lee Hyojin masih berteman denganmu setelah tahu kebenarannya… berarti kalian sama, sampah!”

 

Rae Mi menarik tangan Jinhyo, mencegahnya untuk pergi jauh sebelum dia bisa meluapkan kekesalannya akibat makian Jinhyo pada sang ayah, serta sahabatnya, Hyojin.

 

“Jangan bicara hal buruk tentang ayahku.”

 

“Apa?”

 

Jinhyo sedikit terkejut karena tatapan gadis polos yang dia lihat tadi berubah menjadi sorot mata yang dingin, persis seperti tadi saat sang kakek menatapnya dan menamparnya dengan kejam.

 

“Kau bicara seolah ayahku adalah seorang pembunuh, padahal tidak!”

 

Jinhyo mendengus tak percaya akan apa yang dia dengar barusan, “Begini NONA MUDA, apa kau tahu sebrengsek apa ayahmu itu huh?!”

 

“Apapun yang kau katakan aku tidak mau percaya. Omongan orang yang sedang emosi hanyalah bentuk kekesalannya pada orang yang dia benci.” Balas Rae Mi.

 

“Terserah kau mau percaya atau tidak, dan mungkin Lee Hyojin masih belum menceritakannya secara jelas padamu. Tapi tak masalah, aku bisa mendongengkan kisah tragis keluarga kami kepadamu dengan senang hati, NONA MUDA.”

 

Jinhyo menyentak tangan Rae Mi dengan keras, hampir membuat Rae Mi terjatuh jika saja gadis itu tak bisa menjaga keseimbangan. Pak Nam mendekat, mencoba menghajar Jinhyo tapi Rae Mi memberi isyarat agar beliau meninggalkannya. Pria itu awalnya menolak, sampai Rae Mi harus bicara dengan tegas dan akhirnya pak Nam pun membiarkan Rae Mi berbicara berdua dengan Jinhyo.

 

“Hebat! Pria itu bisa menurut padamu, memang, pewaris tahta grup Jaeguk eoh!” sindir Jinhyo yang tak direspon oleh Rae Mi, “Aku jadi penasaran, apa kakakku dulu juga bisa mengendalikan pria-pria berpakaian hitam itu? bagaimana perasaannya ketika tahu kalau seseorang yang dia anggap TEMAN malah merebut mahkota yang harusnya dia miliki.”

 

“Berhenti bicara omong kosong!. Lebih baik kau tarik ucapan burukmu tentang ayahku, yang juga merupakan kakekmu!”

 

Jinhyo mendengus, lantas terkekeh menertawakan ucapan Rae Mi yang sama sekali bukan candaan dan tak ada niat melucu sama sekali.

 

“Kakek? Hahahahaha!. Apa orang yang tega mengusir anak angkatnya dan memisahkannya dari anak perempuannya, lalu menghancurkannya sampai titik terendah masih pantas aku sebut kakek?!” bentak Jinhyo, “Kau tahu betapa sengsaranya kami waktu itu?. Ibuku yang paling menderita! Terpisah dari anaknya serta merta menghadapi usaha ayahku yang terus digagalkan oleh Lee Dae Ryeong itu!”

 

“Oi! Anak presdir Lee!. Apa kau pernah tidur di jalanan lalu diusir bahkan diludahi oleh orang-orang sombong itu?!. Aku bahkan harus melihat ibuku menangis tiap malam karena merindukan anaknya yang bersenang-senang didalam istana mewah. Dan sekarang apa? Kau marah karena aku menghina ayahmu?”

 

Jinhyo mendekat, langsung mendorong Rae Mi sampai menabrak dinding, menimbulkan bunyi berdebum yang cukup keras dari benturan tubuh Rae Mi. gadis itu merintih kesakitan, sakit badannya dan sakit hatinya karena cerita dari Jinhyo. Dia tak ingin mempercayainya, meskipun sudah banyak fakta yang menyebutkan bahwa ayahnya-lah penyebab Hyojin sengsara selama ini.

 

“Aku!… AKU YANG SEHARUSNYA MARAH WANITA BRENGSEK!”

 

Tangan Jinhyo beralih ke leher Rae Mi, mencekiknya dengan keras dan penuh amarah. Rae Mi berusaha melepasnya, meronta, memukul, segala hal berusaha ia lakukan agar bisa bernafas lega kembali. Tapi Jinhyo seorang pria yang mana kekuatannya lebih besar dari gadis lemah seperti Rae Mi, belum lagi pria yang terkontrol emosi tenaganya jauh lebih besar dua kali lipat.

 

“Jika aku tak bisa membunuh Lee Dae Ryeong itu, berarti kau adalah target utama yang bisa kugunakan untuk membuat pria tua itu jatuh sakit dan mati!”

 

 

 

~To Be Continue~

 

 

Iklan

4 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re : Turn On] (Chapter 4)

  1. Akhirnya update juga 😀 wkwkwk. Udah ditunggu dari dulu ih…
    Kangen sama chanjin :v hee
    Chanyeol mah gituu.. kasian hyojin’nya kan..
    Next part, dicepetin ya kakk.. 🙂
    Banyakin momen chanjin yaa
    Aku chanjin shipper-_ wahahaha

  2. Serem juga adenya hyojin. Oohh chanyeol, kasian hyojin. Jadi salah paham mulu. Sok jual mahal nih chanyeol wkwkwk
    Ditunggu chapter selanjutnya kaaa 💪💪💪💪💪

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s