[EXOFFI FREELANCE] ONE IN MILLIONS (Chapter 2)

the

ONE IN MILLIONS

written by:

Shiraayuki

main cast:

Oh Sehun of EXO  and Son Wendy of Red Velvet

other casts:

Do Kyungsoo and Park Chanyeol of EXO

genre:

 Romance?, AU?, sad?, a little bit of funny, mystery?

length:

Multichapter

Rating:

PG-15

DISCLAIMER

Ini adalah sebuah cerita fiksi yang murni hasil kerja keras author. Terinspirasi dari beberapa drama dan film Asia. Jika ada kesamaan tokoh, alur, ataupun cerita itu adalah murni unsur ketidaksengajaan. Rating cerita akan berubah sesuai dengan jalannya cerita, hati-hati typo dimana-mana. Thankyou for reading, guys!

–♥–

 

Melupakanmu bagaikan memeluk kaktus bagiku, semakin erat aku memeluk kaktus itu maka semakin sakit pula yang aku rasakan,

 

 

–SECOND–

 

Authors side

 

Maaf, Rene. Aku tidak bisa mengantarmu ke bandara, Sehun berucap menyesal, Irene tersenyum lalu mengelus kedua pipi pria Oh itu.

Tidak apa-apa, Sehun-ah. Kau kan seorang presdir, mana mungkin kau tidak ikut rapat sepenting itu, Sehun menggenggam telapak tangan Irene yang mengelus pipinya tersebut.

Aku akan segera meneleponmu kalau aku sudah sampai disana, baik-baiklah disini, arraseo? Irene menepuk pelan kedua pipi pria yang paling dia cintai itu, Sehun tersenyum lalu mengecup singkat dahi gadis-nya.

Kau juga baik-baiklah disana, saranghae, Irene memasang senyumnya lagi, lantas dia segera masuk ke dalam mobilnya lalu melambaikan tangannya pada Sehun yang berdiri seraya menatap kepergiannya dengan bibir mengerucut.

Sehun membalas lambaian Irene kali ini dengan tawanya karena melihat tingkah laku kekasihnya, Irene mengeluarkan kepalanya dari jendela lalu memberikan flying kiss pada Sehun.

SARANGHAE, BAE IRENE!

 

BRUK!!

 

“Argh..!” ringis Wendy tertahan, baru saja tubuhnya jatuh dari kasur dan menghantam langsung lantai kamar yang dingin.

“Akhirnya kau bangun juga, nona pemalas,” seseorang berucap sinis membuat Wendy segera mendongakkan kepalanya dan matanya seketika menangkap sosok Kyungsoo yang tengah menatapnya remeh.

Wendy hanya merutuk dalam hati, dia hanya memandang pria Do itu dengan tatapan datar. Dia terlalu malas untuk menanggapi kata-kata kejam penghuni rumah ini padanya. Lantas dia bangkit berdiri lalu merapikan kasur tempat dia berbaring semalam.

“Cepat bersihkan tubuh baumu, setelah itu datanglah ke ruang makan karena Presdir ingin sarapan bersamamu,” Wendy hanya mendesah pelan mendengar kalimat atau lebih tepatnya perintah yang baru saja diucapkan oleh Kyungsoo.

“Waktumu setengah jam, nona Son,” Kyungsoo berbalik lalu melangkah keluar dari ruangan itu.

“Ah–iya, semua yang kau butuhkan sudah disediakan oleh Presdir Oh, jadi kau jangan berlagak lagi seperti semalam,” Wendy mengomat-ngamitkan mulutnya jengkel, ingin rasanya dia membotakkan alis pria Do itu.

Yah, meski perkataan Kyungsoo ada benarnya, semalam dia berniat kabur dengan cara mencuri pistol salah satu pengawal, namun yang dia dapat bukanlah sebuah kebebasan malahan dia semakin terkekang. Meski begitu, Wendy tak menyesali aksi heroik—maksudnya aksi kocaknya semalam.

 

–♥–

 

“Selamat pagi, Presdir Oh,” Sehun yang tadinya asyik mengunyah menu sarapannya kini berdalih menatap Wendy yang tengah berdiri canggung dihadapannya. Matanya menelusuri tubuh gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, dia bukannya merasa tertarik melainkan heran.

“Ada apa denganmu?” Sehun menaikkan sebelah alisnya, menunjukkan betapa herannya dia dengan tingkah Wendy yang tiba-tiba muncul dengan pakaian rapi lalu menyapanya secara tiba-tiba.

Kalau saja pengawal sialanmu itu tidak memaksaku, aku takkan melakukan hal bodoh semacam ini!” pekik Wendy dalam hati.

“Ah… tidak apa-apa presdir, maaf menganggu sarapanmu,” ucap Wendy tak ikhlas, Sehun hanya menggedikkan bahunya lalu kembali menyantap makanannya.

“Duduklah,” titah Sehun pada Wendy. Wendy hanya mampu menggerutu kesal di dalam hatinya melihat tingkahSehun yang sok bossy.

Lantas gadis itu duduk di salah satu dari sekian banyak kursi di ruang makan yang luas itu. Tanpa berlama-lama, Wendy pun ikut menyantap makanan yang sudah dihidangkan di atas meja yang lebar itu. Karena dia juga benar-benar sangat lapar sekarang.

“Kenapa kau ingin sarapan bersamaku? Kau menginginkan sesuatu, ya?” Wendy bertanya penuh selidik kepada Sehun disela-sela aktivitasnya, bukankah suatu mujizat seorang pria kelas atas semacam Sehun mau sarapan bersama dengan gadis antah-berantah seperti dirinya.

“Kau ini bodoh, ya? Aku sudah membawamu ke rumahku dan memaksamu tinggal disini, bukankah jawabannya sudah sangat jelas?” Sehun berucap datar namun kalimat datarnya itu seakan menjadi sebuah ledekan yang sangat kasar bagi Wendy.

“Hahaha … iya juga ya,” Wendy tertawa hambar, lalu kembali mengunyah makanannya dengan kesal.

Ya Tuhan, kenapa penghuni rumah ini sangat suka berkata-kata kasar?” rutuk Wendy dalam hati.

Keadaan hening, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang bergesekan dengan piring keramik di ruang makan yang begitu luas itu. Beberapa saat kemudian Wendy sibuk meneguk air putih seraya melirik ke arah Sehun dan tanpa sengaja dia melihat Sehun tengah menjilat bibirnya, dan karena tindakan Sehun tersebut tiba-tiba Wendy tersedak dan terbatuk-batuk.

Sehun hanya menggeleng pelan melihat Wendy yang tiba-tiba tersedak hanya karena air putih.

Sial, kenapa aku bisa lupa kalau semalam si psikopat itu menciumku?! lagi-lagi Wendy merutuk di dalam hatinya, dia kembali teringat kejadian dimana Sehun merenggut first kiss-nya tanpa izin yang sah.

Beberapa detik kemudian Sehun bangkit berdiri, lalu beranjak hendak meninggalkan ruang makan. Namun langkahnya mendadak berhenti, dia membalik tubuhnya dan menatap intens ke arah Wendy. Wendy yang merasa ditatap dengan seriuslantas menatap balik Sehun dengan tatapan yang sama pula.

“Hei, Son Wendy, jangan mencoba untuk melarikan diri lagi seperti semalam, karena aku tidak akan berbuat jahat padamu, dan aku saat ini benar-benar membutuhkanmu,” Wendy hanya diam tertegun mendengar kalimat Sehun.

“Ini permintaan, bukan perintah,” tambah Sehun lagi.

“Iya, aku mengerti. Maaf karena aku telah menyusahkanmu,” ucap Wendy kali ini dengan separuh tulus.

“Aku juga minta maaf telah menciummu tanpa izin semalam. Kalau begitu, aku pergi,” Sehun segera berlalu meninggalkan Wendy yang terhenyak dengan perasaannya. Wendy juga tak mengerti kenapa wajahnya terasa panas dan jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya.

Sehun hanya meminta maaf dan memintanya tinggal tapi kenapa dia malah merona seperti ini?

 

–♥–

 

“Direktur Park?” Chanyeol tersentak, lalu memasang tampang konyol di depan para rekan kerjanya.

“Kalian memanggil aku?” tanya Chanyeol dengan ekspresi bodoh miliknya.

“Iya Direktur, apakah anda sedang tidak enak badan?” Manager Kim bertanya dan dijawab dengan anggukan pelan dari Chanyeol.

“Aku rasa begitu, apa tidak masalah jika kita mengulang rapat ini esok hari? Karena hari ini aku tidak bisa berkonsentrasi,” ujar Chanyeol dengan nada serta raut wajah menyesal.

“Ahh.. tentu saja Direktur,” Chanyeol tersenyum tipis ke arah semua orang yang berada di dalam ruangan itu.

“Terimakasih banyak,” Chanyeol menunduk berulangkali lalu secara bertahap orang-orang yang berada di dalam ruangan itu pergi setelah memberi salam dan menyisakan Chanyeol beserta sekretarisnya.

“Apakah Direktur sedang memiliki masalah?” Chanyeol menoleh ke arah sekretarisnya lalu tersenyum hambar.

“Aku hanya kurang tidur belakangan ini, apa kau bisa membawakanku segelas susu coklat hangat?” Chanyeol memijit pelipisnya pelan.

“Baik,  Direktur,” sekretaris Chanyeol segera berlalu dan meninggalkan Chanyeol yang masih sibuk memikirkan maksud dari perkataan Sehun semalam.

 

flashback on

 

Siapa gadis itu, Hun? Kenapa bisa ada seorang gadis di rumahmu? tanya Chanyeol tak suka, Sehun menatap mantan calon kakak iparnya itu dengan penuh rasa bersalah.

Dia adalah korban yang selamat itu, hyung, jawab Sehun kemudian, Chanyeol tak mampu berkata-kata, dia hanya memandang Sehun dengan pandangan tak percaya.

Aku membawanya kemari setelah mendapat izin untuk merawatnya dari pihak rumah sakit, tambah Sehun lagi.

Kenapa kau tak biarkan pihak rumah sakit saja yang merawatnya, Hun? kali ini Kyungsoo ikut andil dalam konversasi penting antara Sehun dan Chanyeol itu.

Ada sesuatu yang gadis itu miliki dan itu sepertinya penting bagi kita terlebih bagiku, jawab Sehun jujur, Chanyeol dan Kyungsoo menatap Sehun tak mengerti.

Maksudmu, Hun? tanya Chanyeol akhirnya.

Begini, Hyung. Gadis itu mengalami amnesia tetapi ingatannya penuh dengan kenangan antara aku dan Irene, penjelasan Sehun malah membuat Chanyeol dan Kyungsoo semakin bingung.

Gadis itu mengatakan bahwa dia selalu bermimpi dan isi mimpinya adalah aku dan Irene, ujar Sehun lagi.

Jadi maksudmu meski tak pernah bertemu padamu tapi gadis itu selalu memimpikanmu, begitu? terka Chanyeol kemudian.

Benar, hyung. Pada saat kami bertemu tadi siang, dia sudah tahu namaku padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya. Dia tahu apa hubunganku dengan Irene, apa saja yang telah kami lakukan, namun dia tidak mengenal Irene,

Itu sangat tidak mungkin, dia tidak mungkin tidak mengenal Irene jika kalian berdua selalu masuk ke dalam mimpinya, Kyungsoo menimpali.

Itulah yang aku herankan, hyung. Dia bilang aku tidak pernah menyebut nama Irene dimimpinya, itu sangat aneh bukan? Sehun membuat percakapan ini semakin membingungkan.

Jadi sekarang rencanamu apa, Hun? Chanyeol bertanya lalu dibalas dengan senyuman tipis dari Sehun.

Aku akan menunggu dia menceritakan isi mimpinya kepadaku tanpa paksaan, jawab Sehun mantap.

Itu akan berlangsung kapan, Hun? Sampai kau akan menciumnya untuk kedua kalinya, hm? pertanyaan Kyungsoo membuat Sehun terdiam.

Aku tidak tahu itu akan terjadi kapan, hyung. Jadi kita tunggu saja. ucap Sehun akhirnya.

 

flashback off

 

“Ini terlalu aneh, bagaimana mungkin seorang gadis asing bisa mengetahui kenangan antara Sehun dan Irene hanya karena kecelakaan itu?” Chanyeol bermonolog seraya menutup matanya perlahan.

Belum sepuluh detik Chanyeol menutup matanya, dia sudah terjaga lagi karena pintu ruangan itu tiba-tiba digebrak dengan kasar.

Oppa!dan seketika ingin rasanya Chanyeol berkata-kata kasar melihat senyuman dari sosok yang tengah berdiri di hadapannya sekarang ini.

 

–♥–

 

Moshi-moshi..”

Ini saya, tuan.

“Oh– apa sudah ketemu?”

Belum, tuan.Tapi kami sudah mendapatkan petunjuk,

Baguslah, temui aku di café biasa jam tiga sore nanti,”

Baik, tuan,”

 

–♥–

 

Ahjumma, kau sudah lama bekerja disini?” Wendy melirik singkat wanita paruh baya yang tengah sibuk menata hidangan untuk makan malam di atas meja makan itu.

“Ah.. sepertinyabaru enam tahun, nona,” jawab wanita itu dengan sedikit tersenyum.

“Apa kau tidak pernah merasa tertekan di rumah ini, ahjumma?” Wendy kembali bertanya seraya mengangkat beberapa piring ke atas meja makan.

“Tentu saja tidak, nona. Tuan sangat baik pada saya, semua pengawal juga memperlakukan saya seperti eommamereka,” Wendy tersenyum tipis mendengar jawaban dari wanita yang hampir menyentuh usia kepala enam itu.

“Menurut ahjummaPresdir Oh itu jenis orang yang suka bersikap kasar?” tanya Wendy, lagi. Kali iniahjummamenjawab pertanyaan Wendy dengan sebuah pukulan cukup kuat dipundaknya.

“Argh.. ahjumma!” ringis Wendy tak terima seraya mengusap pundaknya yang nyeri.

“Tuan itu orang yang sangat baik, dia juga sangat lembut, memang semenjak kepergian nona Irene, tuan berubah sedikit,” ahjumma nampak tersenyum hambar, membuat Wendy penasaran siapa sebenarnya sosok Irene, gadis yang selalu masuk ke dalam mimpinya ini.

Dan sebenarnya, Wendy membohongi Sehun mengenai Irene. Dia mengatakan pada Sehun bahwa dia tidak tahu nama gadis yang masuk ke dalam mimpinya namun nyatanya dia tahu, gadis itu bernama Irene.

“Irene itu siapa, ahjumma?” tanya Wendy, agaknya dia pura-pura tak tahu.

“Sudah, sudah, kau bertanya terus sedari tadi. Ayo, cepat selesaikan ini, tuan akan pulang sebentar lagi,” Wendy mengerucutkan bibirnya kesal tapi dia tidak mau memaksa ahjumma karena hanya ahjumma-lah temannya satu-satunya di rumah ini.

 

–♥–

 

Jika kau rindu padaku, berdirilah di balkon kamarmu pada malam hari lalu pejamkan matamu. Biarkan angin berhembus menerpa wajahmu. Kemudian bayangkan wajahku dan kau akan merasa bahwa aku tengah berdiri di depanmu sambil mengelus pipimu,

Sehun tersenyum sendiri mengingat kalimat Irene itu, itu memang hal konyol namun buktinya dia mempraktikkannya juga. Berdiri di balkon kamarnya seraya memejamkan matanya. Tapi nyatanya, dia tidak bisa merasakan kehadiran Irene di depannya.

Hiks.. hiks..

Irene-ah, kau kenapa?

Aku.. aku..

Ada apa, Rene?

Aku lapar,

Lagi-lagi, Sehun tersenyum dan tertawa sendirian mengingat berbagai kenangannya dengan Irene. Dia masih belum bisa melupakan gadis itu, gadis yang selalu mampu membuat senyumnya mengembang kapanpun dan dimanapun. Dan akhirnya tanpa Sehun izinkan, kenangan itu mulai terputar kembali di kepalanya.

 

Hun, kau suka taruhan? tanya Irene disela-sela aktivitasnya bermain game zombie tsunami di ponselnya.

Lumayan, memangnya kenapa? Sehun menggeser tubuhnya sehingga dia menatap langsung Irene yang sedang telungkup di kasur miliknya.

Mau taruhan denganku? tanya Irene antusias, Sehun hanya tersenyum jenaka mendengar ajakan Irene.

Kau yakin, aku takut nantinya kau menangis karena kalah, ledek Sehun kemudian.

Kita lihat saja, siapa yang akan menang nantinya, ucap Irene seraya tersenyum simpul.

 

 

 

Ya, ini yang kau sebut taruhan? Kekanakan sekali, tanya Sehun menahan tawa. Irene hanya mendengus sebal, karena Sehun selalu mengatainya kekanakan.

Semua hal kan bisa dijadikan taruhan, Sehun sayang. ucap Irene seraya merapikan ikatan tali.

Yah, Irene memilih lomba makan kerupuk sebagai taruhan mereka. Tentu saja hal itu menjadi sebuahlawakan bagi Sehun.

Jadi siapa yang kerupuknya lebih dulu habis, dia yang menang taruhan, ucap Irene kemudian.

Taruhannya apa, Rene? tanya Sehun masih dengan senyum jenakanya.

Yah, kalau aku kalah, aku akan menari dengan menggunakan bikini di depanmu, ucap Irene mantap.

Menarik juga, kalau aku yang kalah? tanya Sehun kemudian.

Hukumanmu akan kuberitahu setelah permainan berakhir, ucap Irene seraya tersenyum licik.

Baiklah, karena aku laki-laki sejati maka aku akan menerima tawaranmu, ucap Sehun sombong.

Kalau begitu, kita mulai permainannya, ucap Irene dengan semangat 45.

 

 

Sehun-ah, kau sudah selesai?

Ya, Bae Irene! Apa aku harus memakai pakaian konyol ini? teriak Sehun frustasi dari dalam kamar mandi.

Tentu saja, kau kan kalah. Makan kerupuk saja kau tidak bisa, ucap Irene penuh kemenangan.

Aku tidak mau memakainya! rengek Sehun kesal.

Harus, katamu  kau adalah  laki-laki sejati, ucap Irene kemudian.

Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan sosok Sehun dengan kostum kelinci seksi yang sudah dipersiapkan Irene sebelumnya.

HAHAHAHAHAHA..! tawa Irene meledak, melihat Sehun yang sombong memakai kostum kelinci yang mengekspos paha pria itu.

Tunggu pembalasanku, Bae Irene! pekik Sehun kesal karena Irene terus-terusan menertawainya.

Irene hanya menjulurkan lidahnya pada Sehun dan hal itu membuat Sehun semakin jengkel.

 

“Hahahaha..” Sehun tertawa keras mengingat kenangan itu, dia tidak bisa melupakan bagaimana malunya dia menggunakan kostum kelinci yang sangat seksi itu.

“Hun-ah, gwenchana?” Sehun tersentak kaget lalu menoleh ke belakang mendapati sosok Kyungsoo tengah menatapnya takut-takut.

“O-oh, hyung?” Sehun tersenyum malu ke arah Kyungsoo, karena pria Do itu pasti tengah mengiranya gila karena dia tertawa sendiri dengan suara yang cukup keras tadi.

“Kau tidak sedang kerasukan ‘kan?” tanya Kyungsoo memastikan.

“Tentu saja tidak, hyung. Aku masih seratus persen normal,” ucap Sehun seraya mengacungkan ibu jarinya.

“Baguslah, akhirnya kau tertawa juga,” Kyungsoo tersenyum lega, disusul dengan Sehun yang hanya mampu tersenyum tipis mendengar kalimat Kyungsoo.

“Maaf, membuatmu khawatir, hyung,” lirih Sehun pelan.

“Yah.. tidak apa-apa. Paling tidak sekarang kau sudah mampu untuk tertawa,” ucap Kyungsoo dengan suara lembut.

“Ngomong-ngomong, ada perlu apa hyung ke kamarku?” tanya Sehun seraya menutup pintu balkon kamarnya.

“Hm.. gadis itu berulah lagi,”

 

–♥–

 

“Astaga..” Sehun menatap pemandangan di depannya dengan mata lebar sedangkan Kyungsoo, pria itu segera menghindar karena paling anti dengan pemandangan seperti ini.

Ya, Son Wendy, kau ini sudah gila, ya?!” pekik Sehun kesal kepada gadis yang tengah tergeletak tak berdaya di lantai kamar itu dengan sepuluh botol soju di sekitarnya.

Bau alkohol menyeruak begitu pekat di kamar itu, membuat Sehun terpaksa menutup hidungnya. Tak tahan, Sehun pun mengambil pengharum ruangan dan menyemprotnya ke seluruh ruangan. Setelah itu dia mengumpulkan botol-botol soju tadi dan meletakkannya di luar kamar.

“Kau mendapat soju sebanyak ini darimana, huh?” Sehun tetap bertanya meski gadis itu tak kunjung menjawab.

Ya, Son Wendy, bangun. Kau mau tidur di lantai sepanjang malam? Ya,” Sehun menepuk-nepuk pipi gadis itu yang dingin.

Mata Wendy tiba-tiba terbuka, memperlihatkan bola mata jernih gadis itu yang menatap Sehun dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Sehun memang sempat merasa janggal namun diabaikannya karena merasa hal itu adalah efek samping dari keadaan mabuk gadis ini.

“Wendy, tidurlah di atas kasur jangan dilantai seperti ini,” ujar Sehun dengan nada yang cukup lembut seraya membantu gadis yang tengah mabuk itu berdiri.

“Sehun-ah..” Sehun tersentak, panggilan dengan nada seperti itu tidak asing baginya.

“Jangan bicara, nafasmu membuat bau alkoholnya kembali muncul,” tukas Sehun berusaha mengabaikan panggilan Wendy barusan.

Bruk!

Sehun terjatuh ke lantai karena Wendy tiba-tiba saja menabrak lalu memeluknya dan pelukan Wendy begitu erat di tubuh Sehun.

Ya, Son Wendy, berhenti melakukan hal-hal yang aneh!” Sehun berusaha melepaskan pelukan itu namun semakin dia berusaha melepas pelukan itu semakin erat pula Wendy memeluknya.

“Son Wendy, le–”

“Aku merindukanmu, Sehun-ah…” ucap Wendy tepat di telinga Sehun, membuat tubuh Sehun menegang seketika.

“Aku sungguh merindukanmu, Sehun-ah…”

“I-Irene-ah?

.

Kau tahu, Sehun-ah.. Irene yang tengah memeluk Sehun berucap pelan tepat di telinga pria itu.

Tahu apa, Rene-ah?” Sehun merespon ucapan Irene seraya mengelus pelan rambut halus gadis itu.

Jika suatu saat nanti kita berpisah, suatu hari aku akandatang menemuimu kemudian aku akan memelukmu dengan erat dan mengatakan, aku sangat merindukanmu, Sehun-ah, ucap Irene penuh kasih sayang.

Meskipun nantinya aku sudah menikah dengan wanita lain? tanya Sehun separuh bercanda.

Tentu saja, jawab Irene seraya mempererat pelukannya pada Sehun.

 

 

 

 

to be continue

 

 

 

cuitcuit:

Ciee udah duaributujuhbelas ajah, tahun udah berganti tapi perasaan belum/? Wkwkwk 😀

PROMOSI NYOK MAMPIR DI WATTPAD AKUUHH /Diserbu/ usernamenya @shiraaayuki, siapa tahu kalian kesemsem sama aku /plak/ thankyouuu ❤

5 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] ONE IN MILLIONS (Chapter 2)

  1. Halo Shiraayuki authornim, aku baru baca fanficnya, salam kenal 😀
    Seneng banget akhirnya ada ff wenhun *berasa oase soalnya jarang banget*
    plus salah satu ot3 favorite derp squad ChanHunSoo
    Di prolog kenapa Sehun sangat tidak gentleman sekali, minta dikeplak banget kepalanya tuan Oh, mana di chapter sebelumnya enak banget cium anak orang
    Kyungsoo berasa saudara tiri jahatnya wendy ya
    Kalo Chanyeol masih belum kebaca nih karakternya
    Walaupun ga ngeship hunrene, tapi irene kekanakan banget, gemes tiap baca adegan sehun sama irene
    Wendy sama Irene ada hubungan kah? Kok kayaknya agak ga mungkin Wendy bisa mimpiin Irene kalau sebelumnya ga pernah ketemu
    Ditunggu kelanjutan ceritanya authornim ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s