[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 2A)

kkm1

[Oh Sehun, Oc, And One of member EXO]

[ Romance, Hurt/comfort, Family, Drama]

[ PG.17]

[Chaptered]

[Storyline by Nano]

[Inspired from song “Kupu-kupu malam” by Noah]

[Desclaimer : Fanfic ini asli milik dan berasal dari Nano. Bila ada kesamaan alur, tokoh, tempat, dan lainnya, itu murni kebetulan. Hargai karya setiap orang, jangan pernah berniat memplagiat karya orang karena hal itu memalukan.]

 [Sorry for typo and happy reading…]

.

.

.

-Nothing’s perfect in this word, we’re just try to be perfect-

.

.

.

.

.

Onni, bisakah lebih cepat!! Teman-temanku pasti kesal menungguku!!”

Gadis itu, Sena, gadis yang berteriak dengan suara cempreng. Wajahnya merah seperti kulit yang terbakar sinar matahari, netra tajamnya menatap sinis pada kakak  sepupunya yang tergopoh-gopoh berjalan cepat ke arahnya.

“Aish! Dasar lambat!”

Tangan Sena mengambil dengan kasar sepatu yang dijinjing olehnya. Oh, kakak sepupunya itu lambatnya minta ampun, dasar lemah!! Cih, jika saja ibunya tidak berbaik hati, sudah dipastikan kakak sepupunya ini ditendang keluar dari rumah atau lebih jelasnya, diusir! Hah!!

“Maaf, Sena-ya. Onni kurang teliti dalam mencarinya, jadi membutuhkan waktu yang lama. Maaf, Sena.”

Mulut Sena berdecak dan ia menatap jengah. Ia sudah menduga kakak sepupunya ini sangat bodoh. Kurang teliti? cih.

Sena tidak tahu bahwa kakak sepupunya itu berbohong tentang dirinya yang kurang teliti. Padahal, sepatu yang dibutuhkan Sena itu terselip berjejelan diantara sepatu-sepatu yang lainnya. Sehingga sulit mencarinya akibat Sena yang menyimpan asal sepatunya.

Dengan perasaan kesal Sena memakai sepatu favoritnya. Saat kaki kanannya memakai sepatu itu, dirinya merasa ada yang aneh. Lalu ia memakai sepatu yang kiri. Ia menatapnya lama agar ia mengetahui apa yang terasa mengganjal. Ish, ternyata warnanya jelek!!

Sena melirik cepat pada kakak sepupunya. Mulutnya terbuka untuk memuntahkan berbagai sumpah serapah dan perintah untuk mengambil sepatunya yang lain jika saja Sehun tidak menginterupsinya.

“Hey, ada apa?  Sepertinya seru sekali?”

Bulu mata Sena mengerjap cepat. Sial, jika saja Sehun tidak datang, pasti kakak sepupunya ini sudah diomeli habis-habisan olehnya.

“Oh? Tidak. Bukan apa-apa kok. Biasa, girls talk…”  Ujar Sena dengan senyum dipaksakan.

Alis Sehun naik sebelah dan hal itu bagi Sena adalah sesuatu yang keren. Oh gosh! Gantengnya Sehun!!

“Hm, begitu kah? Ngomong-ngomong, Sena terlihat cocok dengan sepatu itu. Memangnya mau ke mana?”

Oh tuhan!!! Demi apa Sehun bisa seramah dan semanis ini!! Aduh tambah ganteng deh! Ini adalah salah satu hal yang langka mengingat tingkahnya Sehun itu selalu biasa _bahkan terkesan datar_ dalam setiap pertemuannya. Dengan senyum malu Sena merespon pujian dan pertanyaan Sehun.

“Ah terima kasih. Sena akan pergi keluar dengan teman-teman.”

“Aaah…” Sehun mengangguk mengerti, setelah itu ia mengernyit. “Lalu mengapa masih di sini? Apakah jadwal pertemuannya masih lama?”

Itu semua karena kakakmu yang bodoh ini lambat mengambil sepatunya, ujar Sena dalam hati. Tapi, karena Sehun menanggap dirinya cocok dengan sepatu ini, oke lah, untuk kali ini kakak sepupunya itu selamat.

“Eung… ini juga aku akan berangkat. Hm, kalau begitu, aku pamit dulu. Anyeong!”

“Hati-hati Sena…”

Senyum palsu tercetak di bibir Sena mendengar kalimat perhatian kakak sepupunya. Ish, kenapa sih bukan Sehun yang mengatakannya?! Sena mengangguk dan segera melesat pergi keluar tanpa menunggu Sehun yang tidak akan mengucapkan kalimat seperti kakak sepupunya itu, karena ia tahu, ucapan kakak sepupunya itu mewakili diri Sehun juga.

Sehun dan kakaknya menatap kepergian Sena. Netra Sehun segera beralih pada kakaknya lalu ia menarik tangan kakaknya itu menuju kamar mereka. Selama perjalanan yang cepat itu tidak ada yang berbicara sama sekali, hanya hentakan kaki Sehun yang gaduh yang mengiringi mereka.

Blam!

Sehun menutup pintu kamar dengan sekali hentakan. Ia membalikkan badan menghadap kakaknya. Raut wajahnya begitu tenang bagaikan air danau, padahal Sehun tengah menatap tajam padanya. Selain itu, wajahnya perlahan-lahan menunjukan sebuah senyum hangat, sebuah senyum yang membuat orang yang melihatnya merasa tenang dan tak kuasa untuk membalasnya.

Helaan napas Sehun menandakan bahwa ia tidak bisa untuk memarahi kakaknya. Awalnya Sehun benar-benar merasa kesal dan ingin menyadarkan kakaknya untuk tidak bersikap lemah di hadapan Sena dan Bibi mereka. Tidakkah cukup bagi kakaknya menerima siksaan dari mereka?

Noona.”

Dengan tenang dan diiringi senyuman hangat, kakak Sehun menjawab,

“Ada apa Sehun?”

Bibir Sehun hanya terbuka tidak jadi mengeluarkan apa yang berada dipikirannya. Oh, Sehun sungguh tidak tega melihat wajah sang kakak. Ia tidak siap jika senyuman hangat kakaknya itu meluntur.

“Ah, bukan apa-apa.”

“Benarkah?”

Suaranya yang pelan dan lembut membuat Sehun terenyuh, begitu rapuh kakaknya itu.

“Ya. Ehm… sepertinya aku, aku, eung…. aku… ah! Aku juga harus bertemu dengan temanku. Sampai jumpa noona…”

Kakak Sehun hanya mengangguk paham menjawab perkataan adiknya yang sedikit ngaur. Sehun kemudian membuka pintu dan berjalan meninggalkan kamar. Ia pergi terburu-buru karena ia tahu perkataannya itu tidak logis. Menurutnya tingkah dirinya itu tidak jelas, apa hubungannya ia menjawab seperti itu padahal pada awalnya dia kan ingin memberi nasehat pada kakaknya_walaupun dengan sedikit kekerasan verbal. Sehun mengakui bahwa dirinya sendiri terlihat seperti orang bodoh, tapi masa bodohlah, toh kakaknya itu pasti tidak akan mengintrograsi dirinya lebih lanjut.

 

 

*****

 

Sehun sister POV :

“Candy-ah, tolong bawakan pesanan ini, mengerti?” Ujarku seraya menunjuk meja pesanan ini. Saat ini kedai tempatku bekerja pelanggannya cukup banyak. Mungkin karena akhir pekan. Biasanya aku bisa mengurus semuanya, namun kali ini aku membutuhkan bantuan Candy.

“Aku mengerti!!”

Candy menjawab dengan gummy smilenya yang membuatku ikut tersenyum. Bahkan tangannya mengepal mengacungkan jempolnya, seperti anak kecil. Aku menyerahkan nampan yang kubawa  ke tangan Candy. Dia tanpa membuang-buang waktu segera menjalankan tugas.

Aku kembali ke dapur untuk membawa pesanan-pesanan yang lain. Bisa kulihat semua yang berada di dapur sibuk dengan masing-masing tugas. Langkah kakiku menghampiri Kyungsoo yang tengah mengisi mangkuk dengan sup.

“Kyungsoo-ya… jika melihatmu entah mengapa aku seperti berkerja di restoran mewah…”

Sindiranku ternyata berhasil membuat Kyungsoo memutar mata jengah. Cukup menghibur.

“Ayolah, berhenti menggangguku. Kau tahu sendiri pembawaanku memang seperti ini. Ini, cepat pergi sana.”

Aku mengambil nampan yang Kyungsoo berikan dengan cemberut. Tanpa menengok pun aku tahu Kyungsoo tengah mentertawakanku. Maksud hati ingin berbuat jahil, tapi ujungnya diri sendiri yang kena jahil. Hm, senjata makan tuan. Kyungsoo tahu bahwa salah satu sifatku yang tidak suka diabaikan oleh orang lain selalu membuatku merengut dan dia melakukannya. Terkadang aku ingin menangis sendiri. Hueee.

Tapi sekarang aku harus menyingkirkan raut cemberutku karena banyak pelanggan yang masih harus kulayani. Tidak mungkin kan aku melayani mereka dengan merengut? Hal itu bisa-bisa membuat pelanggan kabur.

Tidak sulit untuk membuatku tersenyum secerah matahari kembali. Entah mengapa aku mudah sekali tersenyum, bahkan adikku_Sehun_ menganggap aku mengidap penyakit happy virus. Syukurlah jika aku bisa membuat orang di sekitarku tersenyum.

Langkahku pergi menuju meja yang isinya para siswa SMA, sepertinya.

“Selamat menikmati. Jika ada yang kurang, panggil saja kami.” Ujarku riang setelah meletakkan pesanan yang kubawa untuk mereka.

Yes miss!!”

Aku sedikit terkejut tatkala mereka menjawabnya dengan serempak layaknya anak TK. Aku tersenyum malu karena sekarang semua pandangan terfokus padaku. Sedikit risih, tapi tak apa. Aku memakluminya, karena aku tahu maksud mereka pasti baik.

Masih dengan senyuman, aku mengangguk dan hendak pergi ke dapur untuk membawa pesanan lainnya jika saja salah satu siswa tadi tidak menahanku.

Noona, bisa kulihat tanganmu?”

Meskipun kebingungan, aku mengangguk dan mengulurkan tangan kananku karena tangan kiriku tengah memegang nampan. Oh ayolah, Kyungsoo akan marah jika aku lambat mengantar pesanan yang lain. Jadi kuikuti saja kemauan salah satu tamu ini agar masalahnya cepat selesai.

Uluran tanganku disambut oleh siswa yang bertanya tadi seraya memberikan kertas kecil ke telapak tanganku. Aku mengerjap pelan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Netraku dengan netra siswa tadi bertemu, dan dia mengucapkan sesuatu yang lagi-lagi tidak kumengerti.

“Untukmu, noona cantik…”

Aku tersenyum pada siswa tadi.

“Terimakasih…”

Siswa itu mengangguk dan tersenyum tiga jari sembari menggaruk kepalanya yang mungkin gatal. Ada-ada saja. Aku segera kembali ke dapur guna menyelesaikan pekerjaan.

 

*****

 

Onni…”

Bibirku terangkat tatkala mendengar panggilan Candy yang kini menggelayut manja pada lenganku. Hal ini biasa dilakukan olehnya jika ada sesuatu. Hm, apakah Candy ingin aku menemaninya berbelanja atau dia ingin kubelikan boneka? Sepertinya opsi kedua jawaban yang paling tepat.

“Ada apa Candy?”

Kedua tanganku berada di pipinya sebab aku gemas setiap kali menatap Candy. Aku berusaha untuk memenuhi saat Candy meminta tolong padaku, aku sama sekali tidak keberatan, malahan aku senang, Candy sudah kuanggap sebagai adikku sendiri.

“Berhenti menggelayutinya Candy, kau mirip anak anjing dengan wajah memelasmu… ”

Candy menjulurkan lidahnya menanggapi kata sinis Kyungsoo yang notabenenya adalah kakak kandungnya, dan atensinya kembali padaku.

Onni tak apa kan, jika onni pulang sendiri? Aku dan Kyungsoo oppa harus mengikuti acara keluarga.”

Acara keluarga? Tentunya aku baik-baik saja walaupun aku pulang sendiri.

Gwaenchana…”

Dia lagi-lagi tersenyum manis, ah membuatku semakin gemas.

“Kalau begitu, anyeong!!! Pai-pai onni!!!

Aku membalas lambaian Candy, yang kini sudah duduk manis di bangku bus berdua dengan Kyungsooo. Dia lagi-lagi melambai dengan kepalanya berada pada jendela bus, aku tak bisa untuk tidak tersenyum.

Bus yang ditumpangi kakak beradik itu pergi meninggalkanku sendirian di halte. Aku teringat kata-kata Candy tadi bahwa acara keluarga yang harus dihadiri berada di rumah sepupu mereka, dan rumah sepupunya itu berlawanan arah dengan jalur perumahan kami.

Biasanya kami selalu pulang bersama karena jalur yang diambil untuk pulang olehku dan mereka memang searah, akan tetapi kami tidak bertetangga, rumah mereka beberapa komplek dari rumahku.

Dan ya, sekarang aku sedang menunggu bus jalur menuju perumahanku, tapi, di mana busnya? Mengapa lama sekali? Apakah bus itu sudah lewat? Atau masih menuju ke halte ini? Kulirik jam tangan hitam pemberian Sehun sudah menunjukan waktu hampir tengah malam, hanya kurang tiga puluh menit untuk tengah malam. Jika bus tak kunjung datang juga, bibi pasti akan memarahiku.

Bukannya tanpa sebab aku pulang larut, hari ini kedai tempatku bekerja pelanggannya memang banyak, tempatnya penuh, bahkan meja setiap pengunjung yang telah selesai akan langsung diisi oleh pengunjung lainnya.

Untuk menghilangkan bosan, aku mulai mengklasifikasikan dan menghitung kendaraan yang melintas di depanku.

Satu mobil sedan berwarna merah. Hm, mobil yang bagus, kurasa Sehun akan menyukainya mengingat ia suka bermain PS di rumah temannya.

Lalu tiga mobil yang _tidak kuketahui jenisnya apa_ berwarna hitam meluncur dengan kecepatan yang lumayan tinggi.

Satu truk besar berwarna hijau.

Dan satu mobil yang berwarna biru tua melambat dan berhenti di depan halte yang kutempati. Aku juga melihat sebuah bus yang melintasi halte ini tanpa berhenti di sini. Kurasa itu bus yang seharusnya kutumpangi. Tapi, astaga. Ternyata penuh, pantas saja. Bus penuh di tengah malam? Menurutku itu terasa janggal.

Noona cantik!! Butuh tumpangan?”

Aku menoleh ke sumber suara yang ternyata berasal dari mobil biru tadi yang berhenti. Pengemudi mobil itu menyangga kepalanya di jendela mobil dengan raut wajah yang lucu. Astaga, apa yang kupikirkan? Lucu?

Aku sekarang ingat, pengemudi itu adalah siswa yang memberiku kertas kecil atau stick note yang berisi nomor ponselnya.

“Hey, jangan melamun noona. Nanti jantungku semakin tidak karuan.”

Aku mengerjap cepat, apa maksudnya?

“Lupakan saja. Ayo masuk, kurasa noona harus menunggu sampai pagi jika ingin memakai bus. Bus yang tadi adalah bus yang terakhir loh…”

Aku benar-benar bingung dan tidak mengerti pada laki-laki ini. Pertama, bukannya bermaksud kasar, tapi laki-laki ini seperti sudah mengenalku sejak lama, padahal aku sebelumnya tidak mengenal dia. Lalu, dengan waktu yang tepat, laki-laki ini menawarkanku tumpangan. Aku merasa aneh.

Noona? Aku salah satu temannya Sehun, aku tidak akan berbuat buruk…”

Teman Sehun? Benarkah? Bagaimana jika dia ternyata berniat buruk? Tapi, tidak mungkin dia mengaku-mengaku teman Sehun hanya untuk memanipulasiku, kan?

Baiklah, kuputuskan untuk ikut dengannya. Aku berdiri, bangun dari kursi halte yang kududuki tadi, melangkah mendekati mobil itu.

Tanganku sudah menyentuh pintu mobil belakang dan membukanya jika saja laki-laki yang mengaku sebagai temanya Sehun itu tidak menginterupsi.

“Jangan duduk di belakang, noona. Aku mempunyai trauma jika ada yang duduk di kursi belakang.”

Kasihan sekali laki-laki ini. Masih muda tapi mempunyai trauma, rasanya pasti tidak nyaman. Aku menurut duduk di depan di samping laki-laki ini. Dilihat dari dekat laki-laki ini ternyata berwajah tampan. Aduh, apa yang kupikirkan? Ingat, dia temannya Sehun.

“Pasang sabuk pengamannya, noona.”

“Ya?”

Aku sedikit terkejut ketika laki-laki ini berbicara padaku. Apa katanya?

“Pasang sabuk pengamannya.”

Suaranya begitu lembut membius pikiranku. Aku tersenyum malu karena dia mengetahui aku yang tengah memandanginya. Sepertinya aku mulai gila.

Tanganku menggenggam sabuk pengaman yang belum terpasang, dan kabar buruknya, aku tidak tahu bagaimana cara memakainya. Dengan berdasarkan naluri hatiku, aku mencoba memasangnya, tapi tidak berhasil. Aku hanya menunduk tanpa menoleh sedikitpun pada teman Sehun itu, mungkin ia berpikir jika aku sedang bermain-main dengan sabuk ini.

Aku merasakan sengatan listrik kecil manakala jemari teman Sehun ini menyentuh jemariku, otomatis aku menatapnya dan netra kami saling bertemu.

“Jika tidak bisa, bilang. Jangan malu-malu, santai saja.”

Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya anggukkan kecil yang_anehnya_ membuat laki-laki ini tersenyum.

“Sini kubantu.”

Aku sedikit memundurkan tubuhku ke belakang sebab jarak teman Sehun ini terlalu dekat denganku. Aku tidak terlalu memperhatikan langkah-langkah memakai sabuk pengaman yang diberikan olehnya, lebih memerhatikan wajahnya yang tidak terlalu tirus, hidung mancung, serta bibir tipisnya. Mengapa detak jantungku tiba-tiba menjadi cepat?

“Sudah selesai. Mudah kan?”

Aku segera mengangguk mengiyakan. Jaraknya denganku masih sama dan dia menatapku lama. Memangnya ada yang salah dengan wajahku?

Aku tidak jadi bertanya tatkala teman Sehun ini kembali ke posisi sebelumnya, bibirnya terangkat sedikit dengan tangannya yang berada di kemudi. Ia menghidupkan mesin lalu mulai menggerakkan mobil.

Selama perjalanan sepuluh menit yang terasa seminggu, tidak ada konversasi yang menemani. Aku tidak berani bertanya karena aku takut dinilai buruk olehnya. Pasti Sehun juga yang kena imbasnya. Bagaimana jika aku terlalu banyak bicara akan membuat dia jadi jengah, lalu Sehun akan dijauhi dan dikucilkan, atau mungkin Sehun dikeluarkan dari sekolah?

Aku hanya menatap keluar jendela, menghitung bangunan-bangunan yang terlewati. Saat ini jumlahnya 63 bangunan, dan pada saat aku membaca tulisan rumah makan, aku teringat aku tidak menyebutkan alamat, ah atau dia sudah tahu?

“Maaf, kamu tahu alamat rumahnya?”

Dia hanya menoleh sekilas dan menjawabnya dengan santai.

“Tentu. Aku dan teman-teman lainnya tahu di mana rumah Sehun.”

Aku mengangguk mengerti lalu menatap jendela lagi.

Noona, mengapa diam saja? Noona tidak penasaran bagaimana aku mengenal noona?”

Aku menatapnya kembali sembari merekam wajahnya di memoriku. Tidak lupa senyuman yang biasa kulakukan.

“Sehun pasti menceritakan banyak tentang noona, ya?”

“Woah, bagaimana noona tahu? Noona seperti cenayang saja.”

Raut terkejut yang terkesan dibuat-buat olehnya membuatku tertawa kecil.

“Kau ini lucu sekali.”

“Ah, terimakasih. Aku memang lucu.”

Suara Bass yang bercampur dengan tawa kecilnya semakin membuai pikiranku. Apa yang terjadi denganku?

Konversasi mengalir begitu saja antara aku dengannya. Tadinya seputar bagaimana kehidupan Sehun di sekolah, namun entah mengapa sampai pada topik ini.

Noona, sebenarnya aku menyukaimu sejak lama…”

Tawaku terhenti mendengar pengakuan darinya. Terkejut? Itu sudah pasti. Tapi ada sesuatu yang aneh pada jantungku, detaknya tidak normal, terlalu cepat, hingga membuatku cemas dan lemas.

Dia menghentikan mobil di sisi jalan. Aku tidak berani menoleh ke arahnya, kepalaku menunduk sedalam-dalamnya. Aku tidak mengerti dengan semua ini.

“Aku jatuh cinta pada noona tanpa tahu bagaimana wajah noona. Setiap Sehun bercerita tanpa sengaja pada kami tentang noona, aku mengingatnya baik-baik dalam otakku. Aku bahkan mengawasi noona dari kejauhan, maafkan aku jika tidak sopan. Tapi bagaimana lagi? Aku benar-benar jatuh cinta pada noona…”

Meskipun ragu, aku bertanya padanya.

“La-lalu?”

Kedua tangannya menangkup pipiku, aku semakin gemetar. Oh, ada apa dengan tubuhku? Kurasakan kedua pipiku yang memanas tidak tahan oleh tatapan intensnya.

“Aku ingin noona menjadi kekasihku.”

Itu pernyataan, bukan pertanyaan, jadi apa yang harus kujawab?

“Mengapa noona harus menjadi kekasihmu? Noona bahkan tidak tahu namamu.”

Aku tidak bisa mengendalikan ucapanku, tatapan seriusnya semakin membuatku meleleh.

“Urusan nama itu perkara mudah. Noona harus menjadi kekasihku karena aku tahu noona juga menyukaiku, kan?”

Noona ti-tidak tahu,”

Aku benar-benar tidak tahu. Aku berusaha melepaskan kedua tangannya yang menangkup pipiku, namun kedua tanganku kini beralih dalam genggamannya.

Tangan kananku yang ia genggam didekatkan pada bagian dadanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya, sama persis sepertiku, berdetak cepat.

“Bagaimana noona? Detak jantungku selalu berdetak lebih cepat setiap aku memikirkan noona, apalagi sekarang noona berada di hadapanku.”

Aku melepaskan tanganku dari genggamannya dengan kikuk. Sehun, tolong noona. Mengapa sampai ada temanmu yang seperti ini?

“Maaf, noona tidak bisa.”

Kulihat sinar matanya meredup, tapi satu detik kemudian dia tersenyum canggung.

“Tidak apa-apa, noona. Jangan merasa bersalah, ini salahku.”

Dia mengalihkan pandangannya ke depan, jemarinya mencengkram kemudi. Oh, apa yang telah kulakukan? Apakah aku menyakitinya?

“Aku terlalu percaya diri menyatakan perasaanku. Aku sudah menduga pasti akan jadi seperti ini. Apakah aku tidak pantas untuk mendapatkan seorang kekasih? Semua hubunganku berakhir berantakan, dan kini, bahkan belum dimulai, aku ditolak,” dia tersenyum pahit, begitu banyak luka yang dialaminya, dan aku ironisnya menambah luka di hatinya. Aku tidak bermaksud seperti itu.

Kusentuh bahunya dengan maksud memberi semangat, akan tetapi langsung ditepisnya pelan.

“Maaf membuat suasana canggung. Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan.”

Bibirnya tersenyum namun di dalam hatinya tidak, dia berusaha untuk tidak membuatku merasa bersalah, aku seperti orang jahat sekarang.

Mobil kembali meluncur. Kini aku tak menghitung berapa jumlah bangunan lagi, pikiranku penuh dengan rasa bersalah pada teman Sehun ini. Tentunya kami saling diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing.

 

Sehun sister POV END

 

*****

 

Sebuah mobil sport keluaran terbaru dengan warna dasar lautan, indigo, biru tua, berhenti di persimpangan perumahan tempat Sehun tinggal. Di dalamnya terdapat sepasang insan yang berada dalam atmosfir yang kurang sedap. Keduanya saling berdiam.

Kakak Sehun, gadis yang berada dalam mobil itu, mengeluarkan suaranya.

“Terimakasih atas tumpangannya. Maaf merepotkan…”

Meskipun tidak rela, laki-laki yang memegang kemudi itu menetralkan suaranya agar terdengar biasa.

“Sama-sama…”

“Kalau begitu, noona pamit. Sekali lagi terimakasih…”

Laki-laki itu mengangguk dan hal itu cukup menjadi alasan kakak Sehun untuk segera keluar dari mobil ini karena sang pemilik sudah mengijinkan.

Tangan gadis itu membuka sabuk pengamannya. Tapi, seperti sebelumnya, dia tidak bisa melakukannya, memakai dan melepaskan sabuk pengamannya. Memalukan memang, jika dia meminta bantuan teman Sehun ini, tapi akan lebih memalukan lagi jika teman Sehun ini menyadarinya sendiri.

Chogiyeo,” laki-laki itu, yang sedang melamun, menoleh dengan raut sedikit terkejut. Ia melihat tangan gadis itu berusaha melepaskan sabuk pengaman. Jujur, dalam hati ia tertawa. Ada-ada saja kakaknya Sehun ini. “Bisakah membantu noona melepaskan sabuk ini?”

Senyap. Senyap dan senyap. Laki-laki itu terdiam, mulutnya rapat seperti diberi lem.

Tak kunjung mendapat jawaban, gadis itu mengalihkan pandangan kembali menuju sabuk pengaman. Mungkin laki-laki itu marah karena ditolak olehnya. Tapi tidak apa, ia yakin ia bisa membukanya sendiri.

Laki-laki itu mendekat pada gadis itu dengan tatapan yang tertuju pada netra sang gadis, sayangnya Sang gadis tidak menyadarinya, dia sibuk sendiri dengan dunia sabuknya.

Tangan laki-laki dan gadis itu saling bersentuhan, dan si laki-laki menyingkirkan pelan tangannya seraya melepaskan sabuk pengaman.

KLIK

Dan terlepaslah.

Tapi laki-laki itu tidak beranjak sedikitpun, gadis itu menatap bingung padanya. Kakak Sehun mendorong dada laki-laki itu yang semakin memojokannya. Akan tetapi yang terjadi adalah tubuh kakak Sehun semakin terjepit.

Noona, izinkan aku memelukmu…”

Tanpa meminta persetujuan, laki-laki itu memeluk erat kakak Sehun. Laki-laki itu hanya terdiam cukup lama.

“Pelukanmu bahkan lebih hangat dari pelukan ibuku.”

.

.

.

.

.

Tibisi

Bonus next Chap :

 “Sehun…”

Tidak ada jawaban. Hanya dengkuran halus Sehun yang terdengar.

“Maaf. Seharusnya noona menghubungimu. Tadi benar-benar sibuk, dan juga ponsel noona baterainya habis. ”

“Maaf, noona. Maaf karena membuatmu menangis.” Bisik Sehun pelan di telinga Sang kakak.

.

“Aku… Aku ingin bekerja di Seoul. Kyungsoo menawarkannya padaku, ia berkata di sana aku akan mendapat gaji yang lebih besar. Jadi, bagaimana menurut kalian?”

Krieet!!

Kursi Sehun berdecit kasar, menimbulkan suara yang mengerikan. Apalagi Sang empu rahangnya mengeras, jelas sekali menahan emosi.

“Aku sudah selesai makan. Selamat malam.” Ujar Sehun sebelum ia membungkuk dan pergi ke kamarnya. Kakak Sehun menatap nanar kepergian adiknya.

“Sepertinya oppa kesal.” Sena berujar santai. Bibir manisnya tersenyum penuh kemenangan, lalu ia mengikuti apa yang Sehun lakukan. “Aku juga sudah selesai. Selamat malam.”

.

.

Keuut!!!

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Kupu-Kupu Malang (Chapter 2A)

  1. Teman sehun yg dimaksud adalah chanyeol ya?? Huaaah makin keren dan ini membuatku makin penasaran! Ohh tidak eonnienya sehun akan ke seoul? Jangan bilang disini awal dari ‘kupu2 malang’ tapi!! Kyungsoo? Jangan bilang soo yg membuatnya bgitu! ANDWAE!! Semoga tidak! Sebenarnya masi ada yg mau kupertanyakan tapi sudahlah.. Next!

    • Yakin chanyeol?
      Bwuahaha, seneng deh ada yang penasaran. Semoga tetep suka ya sama cerita ini, walo apdetnya lama *watados/kemudian ditabok
      Silahkan di next, terimaksih ya…

  2. Ditamabah karakter baru dan karakter baru ini nggak disebutin nama nya suka banget sih kak nama dalam cerita ini dirahasiakan. Makin suka sama cerita nya.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s