[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 24)

draft

Tittle: DRAFT
by Tyar
Chapter | School life, Friendship, Romance | T
Cast
Sehun – Irene – Kai – Seulgi – With SM Artists.
Disclaimer
2016 © TYAR
Don’t claim my fiction!!

Find my another story – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

Enjoy^

List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 23]

-24-

Mimpi. Juga jati diri. Keduanya adalah hal terpenting bagi anak remaja menjelang dewasa seperti Irene. Tanpa mimpi, seseorang tidak akan menemukan jati diri, begitupun tanpa jati diri. Mimpi hanya akan menjadi angan belaka. Pada kenyataannya, untuk saat-saat seperti ini, meyakinkan diri pada suatu impian tidaklah semudah mengatakan ‘aku ingin menjadi dokter’ ketika masa kecil dahulu. Bahkan Irene, sejak kecil tidak pernah mempunyai satupun jawaban ketika pertanyaan mengenai cita-cita menghampirinya. Ketika teman-teman sebayanya dulu begitu semangat dan penuh gairah menjawab bahwa mereka ingin menjadi dokter, insinyur, tentara, polisi bahkan presiden. Irene hanya bisa duduk membisu di kursinya dan tak tertarik pada profesi apapun yang terlintas dalam benaknya.

Dan hari ini masa depan sebagai orang dewasa itu tanpa terasa semakin dekat dan terus mendekat. Namun tak satupun mimpi dapat Irene cita-citakan. Impian Irene saat ini hanyalah satu; memiliki mimpi.

Hari berikutnya, hari berikutnya, dan terus hari berikutnya berlalu dengan seperti biasa. Tidak ada kendala-kendala rumit atau apapun. Semua berjalan menyenangkan, melelahkan, dan membosankan seperti hari-hari sebelumnya. Oh, apa yang bisa diharapkan dari menjadi siswa masa akhir? Pada kenyataannya, bahkan sesuatu tengah menurunkan semangat Irene saat ini.

Di akhir masa sekolah seperti ini, hanya orang-orang tidak punya masa depan yang tak memikirkan rencana apapun setelah lulus dari SMA. Teman-teman di sekitar Irene selalu terdengar asik dan antusias membicarakan universitas-universitan ternama di Seoul yang menjadi incaran banyak siswa. Mereka sibuk saling menceritakan apa saja jurusan yang akan dituju, juga apa saja impian-impian mereka jika sudah berhasil menjadi mahasiswa.

Sementara Irene, kembali menjadi gadis yang hanya bisa duduk di tempatnya tanpa tau apa tujuan hidupnya yang sebenarnya. Rencana yang akan dilakukannya setelah ini adalah tujuan ayah, cita-cita sang ayah, dan bukannya murni milik Irene. Dan tiap kali dia bertemu dengan Sehun, maka satu impian pun mulai tumbuh dalam dirinya –impian yang konyol.

Irene berjalan menyusuri rak-rak kayu perpustakaan sekolah dengan santai. Jemari dan matanya fokus membaca satu-persatu judul-judul yang tertera di samping buku. Sampai akhirnya tiba-tiba dia merasakan seseorang berada tidak jauh dari tempatnya melangkah. Orang itu berdiri tepat diujung rak dengan serius. Junmyeon. Ya, Junmyeon lah orang yang saat ini tengah diperhatikannya. Entahlah, Irene tidak tertarik pada Junmyeon sama sekali. Hanya saja, yang menarik perhatiannya kini adalah buku yang sedang lelaki itu baca. Buku inspiratif mengenai profesor. Tanpa disadarinya, kaki Irene sudah mendekat. Dengan tatapan yang penasaran dan heran, akhirnya Irene berada di dekat Junmyeon. Gadis itu mengangkat kedua alis.

“Profesor? Kupikir kau akan menjadi penerus perusahaan ayahmu.”

Lelaki yang tak menyadari keberadaan Irene sejak tadi tersentak lantas segera menutup buku yang digenggamnya dan meletakannya kembali di tempat semula. Junmyeon kemudian mendelik pada Irene.

“Bukan urusanmu.” Dia baru saja hendak berlalu pergi sampai Irene tiba-tiba tersenyum tulus padanya.

“Itu mimpi yang sempurna, Kim Junmyeon. Meskipun kau tidak tau mimpi itu akan tercapai atau tidak. Setidaknya itu lebih baik ketimbang tidak punya mimpi sama sekali.” Ujar gadis itu.

Junmyeon diam tak bergeming, masih menatap lawan bicaranya dengan tatapan sebal. Dalam hatinya dia tersentuh dan membenarkan perkataan Irene. Menjadi pembisnis dan penerus perusahaan hanyalah cita-cita ayah, bukan dirinya. Namun kemudian dia tanpa sengaja memberi tatapan sinis pada Irene.

“Ya, tentu saja aku tidak sepertimu, Bae Irene.” Lelaki itu lantas melangkah meninggalkan tempat itu.

Irene mendengus sebal, kemudian melipat tangannya di depan dada. “Ck. Aku sudah bersikap ramah padanya, tapi dia masih bertahan dengan sikap angkuhnya itu? Menyebalkan sekali! Aku memang tidak seharusnya bicara padanya.”

XxxxX

Dua puluh menit berlalu dengan amat lambat. Sejak tadi, Irene begitu setia menopang dagunya dengan tangan kiri. Sembari mencatat atau membaca beberapa materi yang dia butuhkan dari buku-buku di salah satu meja perpustakaan.

Entah sudah berapa kali, gadis itu menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan malas. Tatapan kedua netranya sama sekali tidak berpaling kemanapun. Bahkan beberapa pasang mata yang sejak tadi berlalu lalang memperhatikannya pun tidak berhasil membuat Irene terusik.

Dan disanalah pria itu. Oh Sehun. Lelaki yang menjadi penarik perhatian pengunjung perpustakaan karena tingkahnya yang membuat orang-orang gemas. Sedari tadi Sehun hanya duduk di hadapan Irene dengan tenang dan tatapan damai. Tangan kanannya menopang dagu, dan perhatiannya terpusat hanya pada gadis manis di depannya.

Oh sungguh, siapa yang tidak gemas dan iri? Mereka berdua tampak seperti sepasang kekasih yang super manis. Duduk di meja perpustakaan bersama seorang pacar yang terus memandangimu tanpa terlihat bosan, siapa yang tidak mau berada dalam posisi Irene? Meskipun pada kenyataannya mereka hanyalah teman, tidak lebih.

“Kau tampak tidak bersemangat, Irene?” sahut Sehun pelan. Jemarinya menari-nari kecil di atas meja, dan tatapannya masih tak berpaling seolah-olah tak ada yang lebih menarik dari seorang Bae Irene.

Sementara gadis itu masih tak melirik sedikitpun, dia lantas lagi-lagi hanya menghela nafas malas sebagai jawaban. Dan hal kecil sesederhana itu bahkan sangat cukup untuk membuat Sehun tersenyum tipis.

“Setelah kupikir-pikir, sepertinya aku tidak perlu lagi menjadi guru dadakanmu, iya kan?”

“Hmmm.” Jawab Irene lagi malas.

“Bisakah besok-besok kau bersikap seperti ini saja? Kau sangat manis jika tetap diam seperti ini dan tidak berisik apalagi mengonel ini-itu.” Sehun melirik ke arah lain, dan melipat kedua belah bibirnya, “Ya! Aku hampir tertawa, kau tidak tertarik melihatku sama sekali, oh?”

Akhirnya gadis itu pun menghentikan aktifitasnya, kemudian benar-benar menatap Sehun kali ini. Dan oh, sektika darahnya berdesir begitu cepat saat dia menemukan ekspresi teduh Sehun, tatapannya tampak hangat dan bibirnya tengah menyunggingkan seutas senyum tipis yang manis. Sekali lagi, Irene harus menarik nafas dam menghembuskannya sekaligus sambil mengedipkan mata beberapa detik. Dia pun kembali menatap Sehun.

“Kau… Punya mimpi, Oh Sehun?” tanya Irene akhirnya.

“Mimpi?” Sehun tampak berpikir, “aku jarang sekali mengingat mimpiku. Memangnya kenapa?”

Jawaban polos Sehun membuat Irene mendengus dan mengedipkan mata dengan gemas. “Ck! Apa gunanya iq-mu yang di atas rata-rata itu, oh? Maksudku impian  Sehun. Impian, cita-cita, tujuan hidup atau apapun itu. Aku menanyakan megenai itu. Bukan soal mimpimu yang semalam.”

Sehun mengerjapkan mata beberapa kali seperti anak kecil. “Oh? Mimpi yang itu maksudmu? Hmm.” Sehun kembali tampak berpikir. Kemudian kembali menatap Irene dengan tenang. Sebelum memberi jawaban, dia memberikan senyum tipisnya dulu sekali lagi.

“Kalau kau tanya apa cita-citaku di masa depan, dan akan menjadi apa aku nanti. Aku tidak akan menjadi apa-apa selain menjadi seorang suami dan seorang ayah.”

Irene tersentak. Dia bersumpah dirinya hampir saja tersedak ludahnya sendiri kala mendengar jawaban Sehun yang terdengar konyol itu.

“S-suami? A-ayah? Kau tidak salah? Maksudku.. Oh ayolah.” Irene menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh, perkataan Sehun tadi berhasil membuat dirinya terbawa perasaan dan tiba-tiba gugup.

Sehun menggeleng mantap. “Cita-citaku sederhana, Irene. Menjadi bahagia. Dan aku memilih jalan sebagai suami dan ayah lah jalan yang paling sempurna untuk menuju kebahagiaan itu. Aku ingin memiliki keluarga sederhana yang bahagia. Memiliki lebih dari 2 anak, supaya anak-anakku tidak akan kesepian. Dan aku ingin menjadi suami dan ayah yang akan selalu ada untuk keluarganya. Aku tidak ingin di masa depan, nasib hidup sepertiku terulang kembali.”

Irene membisu, tak dapat berkata-kata. Keinginan Sehun amatlah sederhana. Cita-cita itu akan terdengar konyol bagi seorang laki-laki, tapi itu impian yang menakjubkan, bukan? Hanya ingin menjadi bahagia dengan menjadi seorang kepala keluarga. Itu manis. Sangat manis.

“Kalau kau sendiri?” Sehun akhirnya bertanya balik.

Aku? Impianku adalah dengan terus bersamamu, Sehun.

“Kau tidak berniat menjadi dancer, kan?”

“Oh? Dancer?” Irene tertawa kaku mendengar itu, “tidak, tidak. Meskipun pada awalnya memang begitu. Tapi aku sadar ada tempat lain yang harus aku isi di masa depan.”

“Hm. Tapi itu mimpi ayahmu, Irene.”

Gadis itu diam, tidak dapat mengelak bahwa perkataan Sehun barusan memang benar. Lantas dia pun tersenyum dan tampak berpikir sejenak.

“Kurasa cita-citamu itu sudah menginspirasiku, Sehun.”

“Oh, ya?”

Irene mengangguk mantap. “Aku juga ingin sepertimu. Menjadi bahagia dengan memiliki keluarga kecil yang utuh dan menyenangkan. Memiliki anak lebih dari 1 supaya mereka tidak kesepian. Dan aku juga tidak ingin nasib sepertiku kembali terulang.”

Keduanya kini saling melempar senyum. Irena seolah-olah mendapatkan kembali semangat dan pikiran positif pada kehidupannya di masa depan. Menjadi apapun dia nanti, yang terpenting adalah dia harus mendapatkan kebahagiaan. Bukankah itulah mimpi setiap orang di dunia ini?

Heol.” Entah sejak kapan, Kai sudah berdiri di samping meja mereka dengan tatapan menggelitik. Wajahnya mengkerut dengan gemas, kedua tangannya terlipat di dada.

“Kalian –“ Kai mengerjap lalu menggelengkan kepala perlahan. “Errr. Sadarkah kalian dengan apa yang baru saja kalian bicarakan? Astaga.”

Sehun dan Irene tak menjawab, hanya membalas menatap Kai dengan wajah tak berdosa.

“Kalau mimpimu apa, Kai?” tanya Irene kemudian.

“Pergi sejauh mungkin dari kalian.” Balas lelaki itu gemas.

XxxxX

Rasanya memang menyenangkan ketika dia mulai menjadi siswa normal yang tidak banyak macam-macam. Tetapi ada satu hal yang paling menyebalkan bagi Irene. Penggemar Sehun. Lelaki muka es itu masih saja memiliki beberapa penggemar setia. Dan diantaranya adalah dari kalangan angkatan baru, yaitu kelas 10. Irene yang selalu tampak akrab dengan Sehun lagi-lagi harus menjadi sasaran termanfaatkan bagi para kaum Sehun-ers. Seperti pagi ini.

Irene bersenandung kecil sembari meletakkan beberapa buku miliknya ke dalam loker yang berjejer di koridor dekat kelasnya. Setelah dia selesai dengan aktivitasnya, Irene pun menutup kembali pintu loker.

“Astaga.” Pekik gadis itu terkejut ketika tiba-tiba mendapati 2 orang siswi sudah berdiri tepat di sampingnya. Irene menatap dua gadis di hadapannya dengan bingung. Sementara keduanya malah saling mendorong dan berbisik, tampak takut dan segan untuk mulai berbicara pada Irene.

“Apakah kalian membutuhkan sesuatu?” tanya Irene akhirnya.

“Um, anu –“ gadis yang tidak familiar di mata Irene itu bergumam. Suaranya begitu lembut nan merdu. Dengan rambut bergelombang sepundak dan mata yang indah. Di detik pertama saja Irene sudah tau bahwa mereka adik kelasnya dari kelas 10.

“Apakah aku boleh bertanya?”

“Tentu saja. Sebelum bel pertama berbunyi.”

“Anu –“ keduanya masih tampak ragu dan takut untuk bertanya, membuat Irene sedikit gerah. Namun apa boleh buat, sebagai senior dia harus bersikap baik pada juniornya.

“Apakah kau pacarnya Se-Sehun sunbae?” tanya salah satu di antara mereka dengan super hati-hati. Namun cukup membuat Irene nyaris tersedak ludahnya sendiri.

Gadis itu diam menatap kedua juniornya dengan kaku. Sadar-tidak sadar dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan padanya.

“Ng.. Maksudku.. Karena kalian selalu terlihat bersama jadi kita.. Kita –“

“Tidak.” Jawab Irene akhirnya dengan singkat. Wajahnya kini tampak tenang seperti biasa, namun bagi teman-teman Irene, itu adalah ekspresi terdatar yang pernah dia miliki.

“B-benarkah?”

“Tentu saja. Aku dan Sehun, juga Kai hanya berteman. Biar kutebak, salah satu di antara kalian menyukainya? Atau teman kalian menyukainya? Terserah saja. Sehun itu jomblo abadi. Belum pernah punya pacar dan tidak akan pernah punya pacar.” Irene segera menghentikan kalimatnya. Tidak sadar dengan apa yang baru saja dia katakan. Sehun? Jomblo? Dan akan terus seperti itu? Irene tertawa dalam hati. Tentu, tentu saja. Selama Irene masih berada di samping Oh Sehun, lelaki itu tak akan pernah bisa mendapatkan seorang pacar. Kecuali.. –ah, Irene terlalu berharap.

Kedua junironya itu tampak sumringah dan lebih semangat, mereka memekik gembira. Kemudian salah satunya segera menarik paksa tangan Irene dan menjabatinya dengan senang hati. “Terima kasih, Irene sunbae. Lain kali, semoga kau bisa membantu kami lagi.”

Irene mengangkat kedua alisnya, membantu lagi? Apanya?

“Kalau begitu, bolehkah aku menitipkan ini untuk Sehun sunbae?” sepucuk amplop biru muda pun tersodor di depannya. Irene meraih amplop itu dan menatapnya semakin bingung.

“Tolong pastikan dia membacanya, sunbae. Kau bisa membantuku, kan?”

Oh. Irene mendengus dalam hati. Menjijikan, pikirnya. Kenapa pula dia harus melakukan itu?

“Kenapa tidak kalian selipkan saja di lokernya seperti yang orang-orang lakukan?” tangan Irene masih kaku mengenggam surat cinta itu, merasa belum rela untuk melakukan hal semacam itu. Oh ayolah!

“Karena Sehun sunbae selalu membuangnya ke tong sampah bahkan tanpa tertarik membaca salah satunya sama sekali. Jadi kupikir, kau bisa membantu. Hanya untuk memastikan dia membaca isinya. Boleh, ya?” dengan wajah penuh memelas, juniornya itu memohon dengan sok manis.

Irene ingin memutar bola matanya saat itu juga, ingin mendengus sebal dan melempar surat itu ke lantai. Namun dia tidak sanggup melakukan hal sejahat itu. Maka dia hanya menyengir kaku sambil mengangguk pelan. “Akan a-aku coba.”

Si pemilik amplop itu memekik girang lagi, “terima kasih sunbae! Kau memang terbaik.”

Irene mengomel dalam hati, terbaik apanya?!

Seiringin dengan itu, bel pertama pun berbunyi nyaring. Dua junior itu pun segera meninggalkan Irene dengan perasaan berbunga-bunga hanya karena merasa Sehun akan membaca isi surat itu. Sementara Irene hanya memandangi amplop itu dengan tatapan menjijikan.

“Jaman apa ini? Kenapa orang-orang senang sekali membuat surat cinta? Menggelikan!” Gerutunya.

XxxxX

Seperti biasa, tiga sekawan itu duduk bersama di kantin ketika jam makan siang berlangsung. Dan sejak tadi Sehun terus memandangi Irene dengan curiga. Baiklah, dia sama sekali tak bisa menjelaskan sejak kapan dia senang sekali memperhatikan wajah Irene setiap hari. Menebak-nebak dengan semua ekspresi itu. Hingga dia begitu mengenal ekspresi seperti apa yang akan keluar ketika Irene sedang marah, atau sedang sangat bahagia dan bersemangat. Dan kali ini, Irene tampak tidak nyaman. Tak bicara apapun selain melahap makan siangnya seperti orang kelaparan yang tidak makan seminggu penuh.

“Irene, katakan. Pasti terjadi sesuatu.” Sahut Sehun pada akhirnya.

“Eh apanya?” Irene mengangkat kepala, membalas tatapan curiga Sehun dan Kai dengan polos. “Terjadi sesuatu apa?”

“Tuh, kan.” Kai menggelengkan kepalanya. “Aku berpikir apakah Iq-mu itu sudah naik atau masih stuck disitu?”

Irene mendengus sebal, alhasil sebuah jitakan melayang mulus di atas kepala Kai. “Tidak ada sesuatu yang terjadi. Aku baik-baik saja.”

Gadis itu kemudian kembali melahap isi menu makan siang miliknya, sambil merogoh saku. “Dan oh! Ada titipan untukmu, Sehun.”

Irene menyerahkan amplop kecil biru muda itu untuk Sehun. “Apa ini?”

“Surat cinta? Kau memberinya surat cinta, Irene?” nyaris saja suara Kai menggelegar mengisi penjuru kantin. Namun beruntunglah dia hanya mengatakan itu dengan bisikan terkejut. Membuat Irene lagi-lagi menjitak kepalanya.

“Tidak mungkin. Ini memang tidak mungkin dari Irene, Kim Kai. Nama pengirimnya ada disini.” Sebelum Irene yang mengelak, Sehun sudah menjawab pertanyaan Kai lebih dulu. “Kenapa harus kau yang memberikannya?”

Sehun tampak tak tertarik sama sekali setelah meletakkan secarik amplop itu di atas meja. Dia lebih tertarik pada alasan si pengirim yang menggunakan Irene sebagai jalan pintas. Dia merasa, bukankah itu sedikit tidak sopan?

“Karena kau selalu membuang semua amplop dari loker tanpa membacanya sedikitpun. Jadi dia ingin aku memastikan bahwa kau membacanya. Jadi, Oh Sehun. Ba-ca-lah, mengerti?” Irene meraih kembali amplop itu dan membukanya dengan paksa kemudian menyerahkan pada Sehun untuk segera di baca olehnya.

“Aku tidak tertarik.”

Irene memutar bola matanya, “Ba-ca!”

Kai menggelengkan kepala, meraih amplop itu dan mulai membacanya, namun Irene segera merebutnya kembali dan menyodorkan kertas itu dengan paksa pada Sehun. “Sekali saja membuat anak orang senang, apa salahnya sih?”

Sehun menatap Irene dengan teduh lalu meraih kertas itu dengan malas.

“Lagipula, aku malas sekali berhubungan dengan penggemarmu itu, Sehun. Jadi aku harap dia hanya meminta bantuanku satu kali ini saja.”

“Tidak. Kau cemburu.” Celetuk Kai asal. Berhasil membuat Irene tersedak dengan mkanannya sendiri.

Sementara Sehun masih tenang dan fokus membaca bait-demi bait indah yang tertulis rapi di dalam kertas itu. Di dalamnya berisi pengungkapan perasaan dengan manis dan sederhana. Setiap kalimatnya begitu indah untuk dibaca, Sehun akui.

“Sembarangan.” Setelah menghabiskan segelas air putih, Irene segera mencubit lengan Kai dengan keras hingga lelaki itu meringis menjerit. “Kenapa kau selalu mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, hah?!”

Irene mendelik sebal pada Kai kemudian segera membawa nampan miliknya pergi dari sana, meninggalkan kedua sahabatnya tanpa peduli.

Lantas bergumam dalam hati, Iya aku cemburu. Aku tidak suka ada perempuan lain yang berani mengungkapkan perasaannya pada Sehun semudah itu. Sementara aku…

XxxxX

Seulgi begitu asik merapikan buku demi buku di rak-rak perpustakaan itu sepulang sekolah. Sudah menjadi jadwalnya sebagai anggota perpustakaan. Ya, di tahun kedua ini Seulgi memutuskan selain berada di klub dance, dia juga akan menjadi anggota baru perpustakaan. Tempat favoritnya.

Gadis itu kemudian membawa rak dorong hitam berisi tumpukan buku ke koridor selanjutnya. Mulai merapikan dan memasukkan buku-buku ke tempat yang seharusnya. Sampai dia menemukan sesuatu yang mencurigakan terselip di antara buku. Lantas dia menariknya dan mendapati kertas kecil persegi dengan sebaris kalimat, “Jika kau mendapatkan kesempatan untuk hidup kembali di masa yang akan datang, kau ingin menjadi apa?”

Kedua alisnya saling bertautan. Apakah itu tertuju padanya? Dia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tak mendapati siapapun di dekatnya, selain beberapa kertas yang tampak terselip di bagian-bagian rak selanjutnya.

Seulgi melanjutkan langkah, kemudian meraih kembali kertas berikutnya yang ia temukan.

“Apakah kau ingin menjadi seorang laki-laki yang siap jatuh cinta pada gadis yang lebih menawan dari Kang Seulgi?”

Entah kenapa, Seulgi kemudian tersenyum. Ya, itu tertuju untuknya. Dan dia tau betul siapa yang melakukan itu.

Kertas selanjutnya, “Atau menjadi putri raja pemberani yang sempurna?”

Seulgi melangkah lagi dengan penasaran, menemukan kertas selanjutnya, “Atau mungkin menjadi seorang dancer dan anggota girlband akan menyenangkan untukmu?”

Gadis itu tertawa kecil sambil menggeleng dengan refleks. Tidak, tentu tidak. Dia tidak pernah tertarik untuk menjalani hidup sebagai seorang idol.

“Jika kau be-reinkarnasi, jangan lupa untuk mencari reinkarnasi dari seorang Kim Kai.”

Benar, kan, tebakannya? Itu Kim Kai.

“Jika aku mendapat kesempatan untuk hidup kembali di masa yang berbeda, akan aku pastikan untuk mencarimu dan jatuh cinta padamu untuk kali yang kedua.”

Seulgi tersenyum tipis. Lantas baru menyadari kini dirinya sudah di ujung koridor, kemudian meraih kertas terakhir. “Mana yang akan kau pilih? Aku teraktir ramen besok sore? Atau menunggu reinkarnasiku menemukanmu?”

Sekali lagi, gadis itu tertawa kecil. Kemudian di saat yang sama sosok Kim Kai mencul di hadapannya dengan senyum yang tersungging manis.

“Bagaimana?” bisik Kai.

Seulgi tersenyum, “hmm.” Matanya menatap keatas, seolah-olah tengah berpikir dengan keras. Namun kemudian dia menatap Kai penuh arti.

“Jam 4, di halte tempat kita pernah bertemu dengan tidak sengaja.”

Kai tersenyum lebar. Tidak akan ada yang tau seberapa bahagianya dia saat ini, dan sebetapa berbunga-bunga hatinya kini. Tanpa basa-basi lagi, Seulgi segera kembali melanjutkan aktivitasnya dengan senang hati.

| to be continued |

| tyar’s note |

OKE OKEEE TYAR TAU INI PENDEK BANGET DAN KURANG GEMEZIN HUAHAHAHAHAHAHH. But yeah. Aku sengaja bikin pendek karena ini chapter ga terlalu penting /kemudian di lempar/. Tapi sih, alasan sebenarnya adalah karna aku mau ijin hiatus dulu yak bentar. MINGGU DEPAN UAS TJUUY GIMANA NEE. LOL. Parah nih tyar slow updatenya kebangetan, mana pake tebar janji mulu pula. WKWK. Aku akan kembali 2 minggu lagi setelah UAS, tepatnya saat liburan semester. Bentar, kan ya bentar. /plak/. Jadi jangan cari-cari draft dulu sampe akhir januari nanti /geer sih ini/. Dan selama liburan aku akan tamatkan DRAFT dan Philosophy of love /tebar janji again/.

ENDEEEN AKU MO PROMOSI NIEH. /plak plak plak/

Draft sukses menjadi ff debutku di awal tahun 2016 kemarin. Dan di 2017 ini aku punya FF spesial yuhhuu. FF Fantasi pertama tyar! IYA, FANTASI! Meskipun bukan hunrene pairingnya, tapi siapa tau reader draft ini ada yang wenyeol shipper juga? Atau bukan dari kaum shipper-shipper-an pun gak papa. Ini ff rekomendasi dari tyar lol. Tapi, karna aku udah punya lapak sendiri. Jadi setelah draft dan philosphy beres, aku tidak akan ada di EXOFFI lagi untuk sementara. Aku akan fokus dengan ff fantasi ini di lapak sebelah, di EXOFFKingdom dan di wattpad tyar. FF spesialku ini udah publish dari trailer-#0-#1. Jadi boleh dicek kalau mau ngintip-ngintip silahkan visit ini aja [lapak sebelah] or [wattpad] or [tyar’s wordpress]

Tengkyuuh, tunggu aku di liburan semester nanti. Muah~

Iklan

17 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 24)

  1. SEHUUUNNN NIKAH YUK SAMA GUA (maaf capslock jebol akibat kebaperan). Jeh bisa ae nih bangkai ralat bang-kai, setelah sekiaan lama aku menunggu (malah nyanyi). Setelah sekian lama pas di cek nih ff udah ada chapter terakhir aja aaaaa 😄

  2. Rindu padamu eonn,,, entah sudah berapa kali aku bolak balik kayak setrikaan buat cari updatean draft. Ngak sempet komen d chapter kemaren tapi seperti biasa love love di udaralah ke ff ini mah. Filosofi cinta kapan?? Aku selalu menantimu di sana. Ea,,, ea,,,, baper aku. Oke fix komen gajenya ku akhiri sampai di sini. Love you eonn,,,

  3. pendek gimana… aku bacanya aja sampe 2 hari..
    gk ding.. bacanya pas lg istirahat kerja.. jadi kepotong”
    ini baru abis, jadi baru bsa komen..kkkkk //gk tanya//
    kai kerennnn… ciiieeeeeeee
    sehun kadang oon ya /ooppss maap//
    orang kalo kepinteren ya gitu, kadang” suka gk konek…
    next..

  4. Ditunggu yaa akhir januari plus chapter2nya sampe selesai. Semangat uasnyaa.
    Maaf baru komen padahal udah ngikutin ini dari lama hehe.

  5. Yahhh kenapa pendek banget:v padahal masih mau baca:v
    Kai sama seulgi udah deket banget hunrenenya kapan?:v
    Ditunggu banget kelanjutannya thor^^

  6. aih seruuu, wkwk. greget sendiri sama hunrene jadinya haha. btw semangat thor buat UASnyaa! aku masih nunggu lanjutan draft sama philosophy of love kok /asek/ wkwk😂😁

  7. Gak panjang memang tapi cukup manis dan bikin senyum2 sediri. Apalagi part terakhir.
    Eiih gue harap bneran 2 minggu. Dan seenggaknya postjng 1 chapter aja untuk POL. Pleaseee..
    Sblm lu hiatus.
    Dan tpatin jga jnji2 lu.
    Fighting untuk UAS!!!

  8. Tetep bisa bikin aku ketawa ko kak wkwkwkw. Kai emang ckckck
    Semangat buat UASnya kaaakk. Semoga lancar biar bisa cepet update hahaha 💪💪💪💪💪💪👏👏👏👏

  9. ALWAYS BILIN BAPER DAN GEMESH SENDIRI >…<
    ITU KAI NAPA SOK ROMANS BEGITU? JADI PEN NGARUNGIN :3
    SEHUN, PEKALAH DIRIMU NAK, DAN WAHAI PARA GADIS, JAN GANTUNG COGAN TERLALU LAMA/PLAKK/😂
    astaga, ternyata udah kepslok dari tadi tanpa sadar, maap ye kak tyar😂😂
    Ditunggu next chapnya kak. Hwaiting buat ff-nya yg baru (*ekhmm, wenyeol,😍) , dan HWAITING BUAT UJIANNYA kak,😄😆

  10. Aaaaaaaahhhh makin so sweat aja kai sama seulgi. Irene mending cepet kasih tau tu sehunnya, supaya gak diambil orang duluan.
    Smangat thor, lanjutkan ff ini,aku bakal nunggu dngan sabar (walau gak sabar amat)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s