[EXOFFI FREELANCE] BLACK ENCHANTED CHAPTER 1 (NEW GIRL)

enchanted-copy

BLACK ENCHANTED CHAPTER 1 (NEW GIRL)

Author             : Rhifaery

FB                   : Rhifa Chiripa Ayunda

IG                    : @chiripachiripi

Blog                rhifaeryworld.wordpress.com

Main Cast       : Airin (OC), Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun and Suho

Genre              :Fantasy, Romance

Rating             : 17+

Author Note    : Inspired by Diabolix Lovers

Summary         : Airin yang tak pernah tahu asal-usul keluarganya, tiba-tiba dikirim pihak gereja ke sebuah rumah berisikan enam pria menawan: Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun dan Suho yang ternyata masih mempunyai hubungan darah dengannya. Namun kenyataan mengatakan bahwa mereka adalah vampir yang haus akan darah manusia. Menjadi satu-satunya seorang mortal mampukah Carroline membebaskan diri tanpa pernah terikat dengan pesona mereka?

 

Semua orang hidup untuk sebuah alasan.

 

“Giliranmu Chan!” Sehun menyerahkan stik biliar kepada Chanyeol agar pria jangkung itu dan langsung diterima dengan satu tangan. Matanya terfokus pada titik dimana bola putih itu berada. Dengan satu sodokan pendek bola itu berhasil memasukkan dua bola lainnya ke dalam lubang.

Chanyeol tersenyum puas. Permainannya meningkat akhir-akhir ini. Alih-alih menyerahkan tongkat pada Suho, pria itu pun seketika bertanya. “Bagaimana dengan gadis baru itu?”

“Dia masih berada di kamarnya.” Jawab Suho singkat. Menerima tongkat dari Chanyeol dan meneruskan mainanya. Ctaakk! Bunyi bola menggelinding. Tidak berhasil masuk melainkan  membentuk posisi baru yang lebih muda untuk lawan.

“Apa dia masih berusaha kabur?”

“Tentu saja. Dia berteriak-teriak sangat keras dan membuatku sangat terganggu.” Balas Baekhyun menuding dengan stik ke arah Suho. “Bukankah lebih baik kita memberitahukan apa yang terjadi?”

“Belum saatnya.” Suho memandang mereka bertiga. “Well, aku sudah memutuskan agar dia masuk sekolah besok!” Sedikit dari pembahasan sekarang adalah tentang gadis itu. Gadis baru yang mungkin saja berguna bagi mereka.

Bersamaan itu Kai datang dengan muka yang ditekuk menggambarkan ekspresi kekesalan yang nyata. Ia mengangkat satu kakinya dan duduk agak jauh dari mereka. Entah apalagi yang dipikirnya. Jika sudah begitu, maka tak ada yang berniat mengganggunya.

“Dimana gadis itu, tidak bergabung dengan kita?” Pertanyaan Kai mengundang dengusan kesal. Memangnya sedari tadi mereka membahas apa.

“Kai, berapa lama kau tak minum darah?”

“Sekitar dua sampai tiga hari.” Sehun menggeleng. Sebuah pertahanan yang hebat darinya. Ia bahkan tidak bisa sehari tak meminum darah manusia. Dan sebentar lagi gadis itulah sasarannya.

“Siapa namanya?” Kai bertanya.

“Airin. Namnya Airin.” Sahut Baekhyun.

“Mau ikut denganku?”

“Tidak. Jangan memangsanya.” Dengan cepat Suho mencegahnya. Ditahannya bahu Kai agar tidak bertindak jauh pada gadis itu. “Setidaknya tunggu sampai dia tenang.”

“Dia akan tenang jika dia ketakutan.”

Suho menatapnya kesal Kai. “Kau tidak tahu apa yang baru saja dialaminya.”

Well tentu saja Kai tidak tahu bagaimana gadis itu berteriak, menangis dan memohon-mohon untuk dilepaskan. Suaranya yang keras tentu saja mengganggu aktifitas mereka. Beruntung Suho mengunci kamarnya dengan kuat yang tidak memungkinkan vampir lain masuk ke dalam kecuali dirinya.

“Tenanglah Kai, aku bisa memberikanmu prey. Kau bisa memilih dari sekedar yang bisa dinikmati atau dicicipi?” Sambung Baekhyun menepuk pelan pundaknya walaupun Kai sama sekali tak peduli dengan celotehnya. Ia toh lebih memilih menerima apa yang dikatakan Suho layaknya saudara tertua yang wajib untuk ia hormati.

“Baiklah, aku akan mengincar rusa saja. Nampaknya rusa di hutan sudah mulai membesar.” Kai tersenyum disambut anggukan dari Suho.

“Aku tak tahu sudah berapa lama kau jadi vegetarian?” Cibir Sehun.

“Entahlah, mau ikut denganku, itu menyehatkan?” Kai tentu tidak serius dengan ajakannya hingga Sehun menolaknya dengan gedekan ngeri. Dengan langkah cepat, ia pun segera meninggalkan ruang tengah itu. Berjalan melalui lorong-lorong di rumah besar. Rasanya aneh saat terlalu lama tak menggunakan kemampuan manusiawinya. Berjalan tentu menjadi alasan bahwa ia merindukan kehidupan mortalitasnya dulu. Itu membuatnya sadar betapa besarnya rumah ini dibanding dengan berteleport dan tidak melihat sisi ruang dengan baik.

Hingga sampai pada ujung, dia mendengar suara keras dari salah satu ruang. Pintu yang digedor sangat kuat juga suara khas wanita yang berteriak.

“Lepaskan aku… Lepaskan aku dari siniiii!!!”

Kai menggeleng kepala. Gadis baru itu sama sekali belum menyerah. Pemikiran bodohnya membuat ia melengkahkan kaki menuju pintu ruangan. Yeah, pintu yang dikunci erat dan tak memungkinkan seorangpun membukanya kecuali Suho.

“Tolong lepaskan aku?” Suaranya yang kini terdengar lirih. “Seseorang, kau mendengarku bukan. Aku benar-benar ingin keluar dari tempat ini….”

Teriakan lemah itu terus terdengar dari balik pintu tempat ia berdiri. Kai mematung disana tanpa tahu mengapa ia menjadi begitu. Ada sesuatu dari suara gadis itu yang membuatnya merasa begitu sesak. Hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya saat ia sendiri bersikap tak pernah peduli pada masalah ini. Tapi suara gadis itu membuatnya tak bisa berpikir waras.

Apa yang dia rasakan? Terjebak bersama monster-monster pengincar darah? Well, Kai tahu seratus persen bahwa gadis itu tidak baik-baik saja. Bahkan mati pun ia rasa jauh lebih baik karena itu menghindarkannya dari monster-monster seperti mereka. “Tidur yang baik yah?” Ucapnya pelan, begitu suara itu tidak terdengar lagi. Dia pasti kecapekan. Teriakan yang dilakukan sepanjang hari namun tak ada seorangpun yang mau memahami. Kai pernah mengalaminya. “Stop crying dan semoga tidurmu nyenyak.” Ucapnya sangat pelan dan tentu saja tak dapat didengar oleh gadis itu.

***

Airin mendengar derap langkah kaki yang mulai mendekat pada pintu kamarnya, menanggalkan kunci lalu masuk ke dalam dengan senyum mengembang. Dia Suho, vampir pria yang mengurungnya hingga berhari-hari di kamar ini. Menyaksikan kondisi kamar yang berantakan juga makanan yang tak tersentuh membuat pria itu menggeleng pelan. Dia gadis kasar. Namun tentulah Airin tak mau peduli. Yang ingin ingin lakukan hanyalah menyusup keluar melewati punggung pria itu. Namun sadar hal itu mustahil ia lakukan.

“Ini seragammu. Kau akan bersekolah bersama kami sekar….-

“Aku tidak mau.” Jawaban cepat diserati gerakan tangan yang membuat seragam itu tercecer. Sungguh, seumur hidup Suho tak pernah melakukannya. Ia memungguti seragam meletakkannya di tempat tidur. Wajah geram gadis itu memaksanya untuk memandang sekilas. Selalu tak mudah membujuk slave barunya. Beratus-ratus tahun, Suho selalu mengalaminya.

“Baiklah, lalu apa maumu?”

“Bebaskan aku dari sini.” Airin menatap penuh harap. Setidaknya ia berharap jika ia bermimpi. Terjebak dalam dunia gelap hingga ia ingin cepat-cepat keluar di dalamnya.

“Apa hanya itu keinginanmu?”

“Ya!”

“Kalau begitu bersiaplah untuk menerima kekecewaan.” Suho tersenyum sedangkan Airin menelan senyum kecut. Apa salahnya hingga dia mengalami nasib seperti ini. Ia tidak pernah melakukan dosa besar kecuali membenci kedua orang tuanya yang membuangnya di waktu kecil.

“Kenapa aku?”

“Kupikir ini sudah menjadi takdirmu.” Jawab Suho singkat dan seketika membuat mata gadis itu memerah.

Sesungguhnya Suho selalu membenci pemandangan semacam ini. Dia membenci setiap tugas yang dibebankan padanya. Menenangkan tawanan dan membujuk tawanan itu agar tidak merengek keluar dari rumah ini. Mungkin itulah alasannya mengapa tugas ini cocok baginya. Dibanding Chanyeol atau Sehun yang melakukannya, dia mungkin berani bertaruh bahwa gadis ini akan tewas jika di tangan mereka.

“Jika aku melepaskanmu kemana kau akan pergi?” Tanyanya lembut.

“Aku bisa kembali.”

“Pada gereja yang telah menyerahkanmu pada kami?”

“Apa maksudmu?”

Suho mengambil jarak untuk sedikit dekat dengannya walaupun gadis itu sedikit risih dan memilih memundurkan badannya, “Kau diserahkan Airin. Kepada kami. Jika bisa kukatakan lebih baik, kau telah ditumbalkan kepada kami.”

Nyatanya Airin tidak sedikit pun kaget dengan istilah itu. Ia sudah menduga dari awal perjalanannya kesini memang tidak beres. Tangisan hebat suster Choi sebelum dia pergi juga pesan Suster Lee yang menyuruh sering mengonsumsi tablet penambah darah. Sampai akhirnya dia menyadari dirinya telah berada di sarang vampir. Hidupnya begitu menyedihkan. Pada gereja yang ia dedikasikan hidupnya justru memberikan pilihan kematiannya.

“Apa kau akan membunuhku?” Pertanyaan polosnya membuat Suho tertawa. Apa yang dipirkan gadis ini hanyalah sebatas kematian.

“Aku bukan jenis vampir yang membunuh manusia.”

“Mengapa?”

“Apakah kau selalu membutuhkan alasan?” Ungkapnya sedikit kesal. Airin lantas berdiri menyingkap tirai dari jendela kamar. Pandangan matanya menerawang dan dia sama sekali tak bisa berpikir jernih sekarang.

“Aku melihat foto masa kecilku disini, diantara kalian semua. Aku benar-benar ingin mendengarkan penjelasan itu darimu tapi bisakah kau memperjelas semuanya hingga…-

“Maksudmu apa kau mau bertanya apakah kita saudara atau tidak?” Potong Suho sejenak. Gadis itu mengangguk ragu dan menatapnya dengan tatapan memohon. Semoga tidak, Bahkan jika iya, pastinya dia lebih memilih melompat dari jendela ini dibanding kenyataan terburuk.

“Aku bahkan tidak tahu bahwa gadis di foto itu kau, tapi sepertinya iya. ”

“Sepertinya?” Penjelasannya membuat Airin jengkel. Ia bohong. Tidak mungkin dia berkata seperti itu jika tidak menyembunyikan sesuatu seperti alasan mengapa dia di bawah ke sini.

“Jika kau benar-benar ingin tahu jawabannya, tinggallah di sini lebih lama.” Ungkap Suho selanjutnya. Ia mengulum bibir dan menunjukkan senyum semenawan mungkin. Tanpa sadar itu malah menunjukkan betapa merahnya bibir pria itu karena terlalu sering minum darah.

“Aku tidak begitu gila hingga aku memutuskan tinggal bersama monster sepertimu.” Jawabnya sadis.

“Terserahmu saja.” Suho merasa capek. Dia sudah berusaha sehalus mungkin tapi gadis ini selalu membuat emosinya naik. Untungnya dia cukup punya pengendalian diri yang baik. “Aku sudah memberikan penawaran sebaik mungkin, jika kau masih tak terima lebih baik kau bersiap-siap menerima resikonya.”

Mau tidak mau ucapan Suho membuatnya berpikir dua kali. Bagaimana mungkin dia sebodoh ini. Segentar apapun dia menyerang tetap merekalah yang menjadi pemenang. “Berjanjilah padaku.” Ucapnya seketika.

“Apa?”

“Aku memintamu berjanji padaku?”

Senyum kecil mengembang di bibirnya. Siapa dia hingga harus menyuruhnya berjanji dan memegang komitmen. Barangkali gadis itu tidak tahu, janji bagi vampir adalah suci. Tidak ada pengingkaran kecuali dia harus mati.

“Berjanjilah untuk tidak menghisap darahku.” Airin menuntut. Dua matanya menatap Suho lekat-lekat hingga membuatnya terdiam. Bahkan jika ia mengatakan tidak, gadis ini akan berontak dan memilih pergi menjauh darinya. Namun ia pun tak dapat menjamin atas apa yang terjadi kemudian. Bisa saja dia hilang kendali dan memangsa gadis itu tiba-tiba mengingat aroma darah gadis itu yang begitu menggoda.

“Ya, aku tidak akan menghisap darahmu.” Katanya pada akhirnya.

“Benarkah?” Suho mengangguk. Harusnya Airin bisa mengerti dia bukan tipe yang melanggar janji. “Sekarang cepat ganti pakaianmu. Kau harus sekolah.”

Airin terlihat senang. Hampir-hampir memekik dan ditahan lantaran malu pada Suho. Semuanya beres hingga Suho memilih untuk cepat beranjak dari ruangan itu. Sekali lagi ia menatap gadis itu ragu. Kekhawatiran yang tersembunyi di otaknya. Ia mungkin tidak akan pernah mengigitnya namun belum tentu lainnya melakukan hal yang sama.

***

Keenam pria turun dari mobil Marasetti-nya, lantas berjalan beriringan menuju gerbang sekolah Venill. Sudah menjadi pemandangan sehari-hari jika para wanita berjejer dan tersenyum ramah menyambutnya. Seolah bahwa mereka siap dijadikan santapan berikutnya. Suho, Baekhyun, Chanyeol, D.O, Kai dan Sehun merupakan satu klan yang menyebut diri sebagai Kletern. Sebutan dari satu kesatuan yang tak terkalahkan juga tak tertandingi bagi keturunan vampir manapun.

Sehun yang berjalan di tengah, menjadi center bagi pemilik wajah luar biasa itu. Disampingnya Kai, semuanya pun mengakui bahwa dia yang paling sexy. Abs sempurna juga senyuman maut yang jarang ia umbar. Tak ketinggalan  Chanyeol. Si jangkung rupawan yang selalu menunjukkan deretan gigi putih bersihnya. D.O yang meskipun paling kecil masih bisa digolongkan rata-rata atas karena mata jernihnya. Baekhyun Sang Penebar kharisma dan yang terakhir Suho yang menjadi pangkal dari semua makhluk-makhluk sempurna ini.

Gadis terakhir yang keluar dari mobil itu justru merusak angan dari wanita-wanita di sekitarnya. Gadis baru yang seketika menjadi pembicaran hangat bagi Venill. Sedikit risih, Airin memilih untuk mengacaukannya. Perhatiannya terfokus pada kegiatan yang dilakukan orang-orang sekitar. Tentu saja karena dia belum pernah merasakan apa itu sekolah. Sebelumnya dia hanya belajar dibimbing para suster yang ada di gereja.

“Apa sekolah ini khusus vampir?”  Tanyanya begitu ingin tahu.  Bersama lainnya dia sedang berada di kantor tata usaha untuk mengurus pendaftarannya. Suho yang mengurusnya dan dia hanya duduk ditemani lima vampir lainnya.

“Ya. Hanya para vampir dan para slave yang bersekolah disini.” Jawab Baekhyun.

“Slave?”

“Semacam budak, tawanan atau orang yang ditakdirkan di pihak vampir untuk memuaskan dahaganya.”

“Oh… aku tidak pernah berpikir bahwa orang semacam itu ada.” Airin menjawab dengan santainya dan melanjutkan aksi melihat-lihat sekitarnya.

Tentu itu membuat Baekhyun sedikit shock hingga menyelah,“Kau slave.”

“Aku bukan slave.” Tukas Airin tegas. Baekhyun baru saja melanjutkan kalimatnya sebelum Suho kembali dan memberinya isyarat untuk diam, tidak memperpanjang masalah.

“Ini jadwalmu. Kau akan sekelas dengan Sehun dan D.O!”  Suho berjalan ke arahnya sekalipun tak ada komentar yang keluar dari bibir gadis itu. Ia toh, tetap tak peduli ia nanti belajar apa.

“Ayo pergi!” Sehun merangkul pundaknya dan segera disambut hentakan keras dari gadis itu.

“Aku tidak suka dipegang!”

Perbuatannya seketika membuat tawa tercipta. Well, pengalaman pertama Sehun ditolak seorang wanita. Saking jengkelnya ia memutar matanya dan berjalan mendahuluinya sekalipun itu sama sekali tak berpengaruh bagi Airin.

“Hei tunggu!”

Airin menoleh ke belakang dan dilihatnya Kai sedang berjalan ke arahnya. Entahlah tiba-tiba saja saat-saat mendebarkan itu terjadi. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia mendadak diam. Saat Kai mengarahkan tangannya, melepas kunciran ekor kuda hingga menjadikannya rambut Airin terurai. Really, dia kelihatan lebih manis sekarang. “Kau harus pintar-pintar menyembunyikan aromamu.” Kata Kai lembut. Masih dalam posisi stuck yang lagi-lagi tak membuatnya berkutik. Ayolah, pria ini bahkan menyentuh dirinya dan ia tak menampik seperti yang ia lakukan pada Sehun.

“Dan bilang padaku jika ada seseorang yang menyakitimu.”  Di akhir kalimat Kai mengelus pipi Airin dan membuatnya memerah.

Tentu saja Suho, Chanyeol dan Baekhyun yang melihat langsung peristiwa itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Well, ternyata dia sama seperti gadis lainnya.

***

Airin merasa bahwa dia sudah setengah bosan menunggu pelajaran ini berakhir. Tak ada yang menarik bagi sekolah vampir. Kegiatannya hampir sama dengan sekolah manusia, kalkulus, biologi atau pelajaran menghitung lainnya yang sangat ia benci. Tak ayal jika setengah waktu pelajarannya ia habiskan untuk memperhatikan orang sekitar. Termasuk Sehun yang duduk tepat di sampingnya. Entahlah, dia bukan murid yang cukup pintar untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan guru. Tapi dari cara pria itu menulis, dia tahu bahwa Sehun termasuk tipikal murid yang serius. Sementara D.O yang duduk agak jauh darinya hanya tersenyum ringan saat sadar bahwa Airin menatapnya. Sure, benarkah vampir memiliki kekuatan? Jika begitu harusnya dia lebih berhati-hati akan tindakannya barusan.

Jadi sedikit lucu jika dia merasa bahwa di sekolah ini dia akan diajari cara hidup vampir seperti mengigit, mencari mangsa ataupun menarik perhatian.

Astaga… Airin hampir terjungkal memikirkan itu. Menarik perhatian? Memangnya siapa yang dia maksud. Sejujurnya Airin merasa tidak tenang semenjak kejadian tadi. Jantungnya berdegup memikirkannya. Oh ayolah, dia sadar itu hanyalah hal kecil. Bisa juga ini hanyalah sebatas rasa euforia di lingkungan barunya.

Untuk itu begitu jam istirahat, Airin segera menghambur keluar dengan cepat. Ia mungkin tak tahu dimana letak kelasnya, tapi setidaknya jika takdir berpihak padanya ia pasti akan bahagia bertemu dengannya.

“Kau mau kemana?” Sapa Chanyeol yang tiba-tiba saja sudah dihadapannya. Sedikit kecurigaan bahwa pria ini sengaja mengikutinya.

“Ehm… kantin?” Jawabnya asal. Sekalipun perutnya tak mengatakan begitu. Padahal sebelum berangkat Suho sempat memberikan sarapan.

“Kau serius mau kesana?”

“Ya, pelajaran hari ini sangat sulit. Membuatku cepat sekali merasa lapar.”

“Ayo biar kuantar.” Tawaran yang benar-benar ingin ia tolak. Tidak bisakah dia pergi sendiri. Ia tidak akan kabur dari gedung yang ia sendiri tak tahu pintu keluarnya. Tapi pria jangkung ini sepertinya memaksa untuk mengikutinya.

“Ini adalah kantinnya.” Ucapnya. Membuat Airin seketika melongak ke dalam ruangan.

Astaga!

Kaki Airin seketika lemas. Terkejut dengan pemandangan di dalamnya. Ia hampir lupa di dunia mana dirinya sekarang. Jauh dari ekspektasinya, kantin yang dimaksud bukanlah tempat yang dipenuhi dengan makanan. Melainkan para vampir yang sedang menghisap mangsa di sana. Sekitar puluhan vampir sedang melakukan hal sedemikian rupa. Mereka menghisap, berteriak kesakitan membuat Airin hampir saja pingsan jika tangan Chanyeol tidak memapahnya.

“Mau masuk bersamaku?” Chanyeol menawarkan hal bodoh dan tentu saja disambut pelarian cepat ole gadis itu.

Ketakutan itu hadir lagi. Memberi stimulasi pada otaknya bahwa ini benar-benar bukan tempatnya. Suho mungkin sudah berjanji untuk tidak menyakitinya, tapi bagaimana dengan yang lain. Ia toh, tidak hidup hanya dengan satu monster saja. Belum lagi vampir-vampir di luar sana yang pastinya haus akan darah pula.

Begitu ia sampai di depan pintu kelasnya, ia pun melihat pemandangan yang tak jauh beda. Seorang vampir pria yang mendekati seorang gadis untuk dijadikan mangsa. Melihat dari ciri-cirinya, gadis itu adalah manusia sama seperti dirinya. Dan Airin tentulah tak akan seterkejut ini jika orang itu tidak dikenalnya.

“Hentikan Sehun!” Teriaknya. Tanpa sadar dia berlari ke arahnya dan tangannya mendorong badan Sehun hingga sedikit terjungkal di lantai.

Jantung Airin berpacu cepat. Saat mata legam Sehun menatap tajam menembus maniknya. Sudah tentu jika amarahnya akan meledak. Dilirik seorang gadis yang ternyata sudah menghilang. Melalui kekuatannya Sehun menutup pintu, jendela, juga tirai-tirai sehingga terhalang cahaya yang masuk. Menjadikan suasana sedikit temaram hingga menjadi menyeramkan baginya.

“Kau menghirup bau kematian sekarang.” Ucap Sehun sakartik. Dengan cepat ia bangun dan perlahan mendekati gadis di depannya yang sudah pucat pasi.

“Ka-ka-kau tidak boleh membunuh manusia yang tidak berdaya.” Dengan segenap kekuatan Airin benar-benar ingin mencegah Sehun. Cerita-cerita fiksi menyebutkan bahwa seorang vampir bisa membunuh manusia dengan menghisap habis darahnya. Bukan lain jika hal itu tidak terjadi di dunia ini. Dunia yang sekarang menjadi dunianya.

“Jika tidak membunuh manusia, bagaimana caraku hidup honey?”

Sungguh, demi tuhan Sehun benar-benar menyeramkan. Layaknya seorang iblis, dia memasang seringai yang masih memperlihatkan taring tajamnya. Badan Airin mundur ke belakang seiring dengan posisi Sehun yang semakin dekat. Saat ia telah mencapai dinding Airin tidak tahu apa yang benar-benar ia lakukan kecuali berdoa banyak-banyak.

“Haruskah aku membunuhmu sekarang?” Jilatan pertama Sehun pada leher jenjangnya. Sama halnya kemarin suaranya begitu menggoda membuatnya lupa bahwa yang sebenarnya berkata adalah monster.

“Kau tahu dari awal darahmu memang menggodaku. Darah Eve. Aku mencoba mencari mangsa lain agar aku bisa sabar dengan darahmu tapi kau malah melepaskan mangsaku.” Hembusan napasnya menerpa lehernya. Rasanya ia ingin berteriak namun buru-buru ia tahan mengingat tangan Sehun yang sekarang ada di lehernya. Airin bisa menduga sekali ia berteriak maka tangan kekar itu pasti sudah mengoyak lehernya. “Bolehkah aku mencicipinya?”

“Tidak, kumohon lepaskan aku!” Katanya cepat hampir saja menangis.

“Melepaskanmu… tapi bagiku sudah terlambat!” Untuk selanjutnya Sehun lalu menancapkan taringnya tepat pada leher gadis itu bersamaan dengan suara pekikan yang keluar dari mulutnya. Dia menghisapnya dalam membiarkannya untuk mengisi kerongkongannya yang kering. Lagi dan lagi, seolah dia baru menemukan rasa yang paling enak di dunia.

“Darah ini…- Ucapan Sehun terpotong begitu melihat kondisi letih gadis ini.

“Lepaskan aku…” Suara lirih Airin tidak serta merta membujuk Sehun. Malah ditariknya tubuh gadis itu semakin dekat dan menghisapnya kembali.

Sementara itu bulan purnama bersinar terang dengan suara hewan-hewan malam yang keluar dari sarangnya. Angin bertiup cukup kencang menerbangkan daun-daun musim gugur di sekitar area sekolah tersebut. Barangkali Sehun tak terlalu fokus pada kejadian alam. Namun sebuah tanda-tanda telah ia temukan. Apalagi Airin yang mulai tak sadarkan diri terhadap aksi brutal Sehun.

Setengah dari darahnya telah dihisap oleh Sehun, akan ada kesempatan baginya untuk melanjutkan hidup dan mengisi ulang darahnya untuk bisa dinikmati lain  waktu. Sampai Sehun mengantarkan dan menidurkan gadis itu di kamarnya, tidak ada tanda-tanda gadis itu akan akan bangun. Untuk saat ini, Sehun telah mengubah takdirnya. Dan Airin mungkin kehilangan kemortalitasnya.

TBC

 

Iklan

23 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] BLACK ENCHANTED CHAPTER 1 (NEW GIRL)

  1. Kayaknya terinspirasi dari diabolik loversya thor. Tp gak papalah. Kan baru chapter 1. Nanti mungkin chapter selanjutnya udah beda☺

  2. Niatnya ke kantin mau makan beneran makan makan angin sih kantin isinya penuh dengan …. ah sudahlah😆😆
    Keep writing kak✊✊✊

  3. Mungkin airin bukan sekedar mangsa untuk mereka pasti ada maksud lain. Terus maksudnya Sehun telah mengubah takdirnya. Dan Airin mungkin kehilangan kemortalitasnya, itu apa ?
    Sumpah thor penasaran nunggu selanjutnya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s