[EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 25)

my-lady-chapter-24

Title : MY LADY

Author : Azalea

Main Cast :

Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena/Kim Jisoo (BLACK PINK), Oh Sehun (EXO)

Support Cast :

Shannon Williams, Lee Miju (Lovelyz), Kim Kai (EXO), Park Chanyeol (EXO), Do Kyungsoo (EXO), etc.

Genre : Romance, Sadnes, Adult

Rating : NC-17

Length : Chapter

Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Tidak ada unsur kesengajaan apabila ada ff yang memiliki cerita serupa. Kalaupun ada yang serupa, aku akan berusaha membawakan cerita milikku sendiri ini dengan gaya penulisanku sendiri. Kalian juga bisa membacanya di wattpad. Nama id ku @mongmongngi_b, dengan judul cerita MY LADY.

Credit poster by RAVENCLAW

 

 

Cerita sebelumnya :  Cast Introduce -> CHAPTER 1 -> CHAPTER 2 -> CHAPTER 3 -> CHAPTER 4 -> CHAPTER 5 -> CHAPTER 6 -> CHAPTER 7 -> CHAPTER 8 -> CHAPTER 9 -> CHAPTER 10 -> CHAPTER 11 -> CHAPTER 12 -> CHAPTER 13   -> CHAPTER 14 -> CHAPTER 15 -> CHAPTER 16 -> CHAPTER 17 -> CHAPTER 18 -> CHAPTER 19 -> CHAPTER 20 -> CHAPTER 21 -> CHAPTER 22 -> CHAPTER 23 -> CHAPTER 24

 

Sudah  dua minggu sejak Jisoo bangun dari komanya, dan pada hari ini ia sudah diperbolehkan untuk pulang. Tidak banyak barang yang ia bawa ke rumah sakit ini, sehingga ia tidak perlu kerepotan untuk membereskannya.

Beberapa saat yang lalu Sehun meninggalkannya sendirian di kamar inapnya karena harus mengurus administrasi selama Jisoo dirawat. Setelah selesai mengemas semua barang-barangnya, Jisoo mengedarkan pandangannya ke segela menjuru kamar inap tersebut.

Jisoo sangat senang karena pada akhirnya ia bisa menghirup udara bebas semuanya. Tidak ada lagi bau obat-obat yang begitu menyengat indera penciumannya. Tidak lagi harus meminum berbagai macam jenis obat yang tidak diketahuinya. Dirinya merasa seperti seekor burung yang bisa lepas dari sangkarnya.

Jisoo lalu menolehkan wajahnya saat ia mendengar pintu terbuka. Bibirnya melengkung sempurna begitu melihat sosok yang ditunggu akhirnya datang juga. Sehun yang juga melihat Jisoo sedang tersenyum padanya, langsung membalas senyuman itu.

“Kau sudah siap?” tanyanya begitu ia sampai di depan Jisoo yang sedang duduk di pinggir ranjangnya.

“Hm.”

Kajja.”

Tangan kanan Sehun ia gunakan untuk mengangkat tas baju Jisoo, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menggenggam tangan Jisoo. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan membuat siapa saja yang melihatnya berdecak kagum karena keserasian yang terpancar dari kedua.

Begitu sampai di tempat parkir, Sehun langsung membuka kunci mobil. Menaruh tas baju Jisoo di bagasi, lalu membukakan pintu untuk Jisoo. Sedangkan ia sendiri berjalan ke arah kursi pengemudi. Sehun mengemudikan mobilnya dengan santai, karena ia ingin Jisoo menikmati perjalanannya kali ini. Tidak lupa ia juga membuka kaca jendela agar udara segar khas pinggir pantai bisa merelakskan tubuh keduanya.

Disaat Sehun sedang fokus pada jalanan, Jisoo lebih fokus pada pemandangan yang terbingkai dari jendela mobil yang dinaikinya. Sebuah senyuman tulus tidak henti-hentinya terbit dari bibir tipisnya. Ia merasa sudah sangat lama tidak melihat pemandangan ini, dan perasaannya saat ini tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Terlalu indah dan terlalu membahagiakan baginya.

“Kita akan ke mana?” tanya Jisoo setelah ia dan Sehun berkendara selama kurang lebih setengah jam tapi tidak ada tanda-tanda Sehun akan memberitahunya tentang ke mana tujuan mereka saat ini.

Sehun menolehkan wajahnya sejenak sambil tersenyum misterius ke arah Jisoo yang sedang menatapnya dengan pandangan penasarannya. “Ke rumah.”

“Rumah?”

“Hm. Ke rumah kita.”

Jisoo tersenyum ke arah Sehun. “Aku tidak sabar rumah seperti apa yang akan menjadi tempat tinggalku nanti.”

“Aku yakin kau pasti nanti akan menyukainya.”

“Semoga saja.”

Setelah percakapan itu, Sehun dan Jisoo kembali terdiam. Lima belas menit kemudian, Sehun memberhentikan mobilnya di depan sebuah rumah minimalis yang menghadap langsung ke laut. Tanpa menunggu Sehun untuk membukakan pintunya, Jisoo keluar dari mobil dengan sendirinya.

Matanya masih terpaku pada rumah yang ada di depannya itu. Terlalu terpesona dengan apa yang ada di hadapannya sampai ia tidak menyadari jika Sehun sudah berdiri tepat di belakangnya sambil membawa tas bajunya.

“Kau suka?” bisik Sehun di telinga Jisoo saat dirasa wanita di depannya itu tidak berbicara sama sekali.

Jisoo yang tersadar dari lamunannya langsung membalikkan badannya untuk menghadap Sehun. Senyuman bahagia tidak pernah lepas dari wajahnya. “Aku sangat menyukainya. Terima kasih.”

“Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita masuk.” Sehun menggenggam tangan Jisoo agar mengikutinya untuk memasuki rumah itu.

Seakan kejutan yang diterimanya belum selesai, Jisoo kembali dikejutkan dengan apa yang dilihatnya saat memasuki rumah tersebut. semua perabotan rumah tangga tersusun rapi dan bersih. Tidak ada debu setitik pun, menandakan bahwa rumah itu begitu terawat.

Jisoo merasakan kehangatan saat memasuki rumah tersebut. Kehangatan seperti sebuah keluarga yang menyambutnya pulang. Ia melangkahkan kakinya menuju ke sebuah jendela besar yang berlatarbelakang hamparan lautan yang begitu luas.

Sementara Jisoo mengagumi rumah barunya, Sehun meninggalkannya sebentar untuk masuk ke kamar Jisoo. Menaruh barang-barang Jisoo, lalu kembali lagi ke ruang tamu sekaligus ruang keluarga untuk bergabung bersama Jisoo.

“Kau lapar?” tanya Sehun sambil memeluk Jisoo dari belakang. Jisoo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “Tunggu sebentar. Akan aku masakan sesuatu untukmu.” Ucap Sehun sambil melepaskan pelukannya dari Jisoo.

Selepas kepergian Sehun, Jisoo menghela napasnya dalam. Entah kenapa tadi ia tanpa sadar menahan napasnya saat Sehun tiba-tiba memeluknya dari belakang. Jisoo merasakan sesuatu yang salah dan terasa asing di dirinya saat menerima pelukan itu.  Tapi detik itu juga Jisoo menghapus semua perasaan mengganjalnya dan mensugesti dirinya sendiri bahwa ia hanya belum terbiasa dengan semua ini.

Merasa tertarik dengan pemandangan di depannya, Jisoo akhirnya membuka jendela yang sekaligus pintu itu untuk keluar menikmati taman kecil yang ada di halaman rumahnya itu. Lembutnya rumput yang dipijaknya membuat sensasi geli sekaligus menyenangkan dirasakan oleh telapak kakinya.

Terpaan angin yang cukup kencang menerbangkan helaian rambut merahnya yang ia gerai.  Jisoo memejamkan matanya saat angin itu menerpa wajahnya. Rasa sejuk langsung melingkupi tubuhnya saat angin tidak juga berhenti menerpa tubuhnya.

Jisoo membuka matanya lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Entah kenapa matanya tidak bisa berpaling dari sesosok pria yang sedang duduk di atas kap mobil yang diparkir tidak jauh dari tempatnya saat ini.

Jisoo memang tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena jarak yang cukup jauh dan pria itu membelakanginya. Dilihat dari caranya duduk dan menatap lautan membuat Jisoo merasakan jika pria itu sedang menunggu seseorang yang entah siapa.

Jisoo merasa ia mengenal pria itu, tapi saat ia mencoba untuk mengingatnya, semuanya seakan berputar dan kepalanya kembali sakit. Hingga pada akhirnya ia hanya bisa menatap punggung penuh kesepian itu dari jauh. Sekeras apapun Jisoo mencoba untuk mengalihkan pandangannya, pada akhirnya matanya tetap tertuju pada punggung itu.

Lamunan Jisoo kembali terputus saat ia mendengar Sehun memanggilnya karena makanan yang ia buat sudah matang. Dengan berat hati Jisoo memasuki rumah tersebut. Tapi sebelum ia sepenuhnya memasuki rumah, matanya kembali menatap punggung pria itu untuk yang terakhir kalinya. Hatinya sakit saat melihatnya tapi sekali lagi, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak mengenal siapa pria itu. Bahkan ia juga tidak mengenal siapa dirinya sebenarnya.

 

 

***

 

Baekhyun yang hampir gila karena mencari Sena, akhirnya menepikan mobilnya di tepi jalan yang menghadap ke laut. Dirinya sudah tidak tahu lagi harus mencari ke mana. Seluruh penjuru pulau Jeju sudah didatanginya tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Sena.

Ia lalu keluar dari mobilnya dan duduk di atas kap mobil sambil menatap kosong ke arah lautan yang ada di depannya. Rasa rindu dan khawatir begitu menyesakkan dadanya selama tiga bulan ini. Jika memang Sena tidak selamat dari kecelakaan mobilnya dulu, ia berharap bisa menemukan jasadnya dan itu lebih bisa membuatnya tenang dan fokus membalas dendam pada siapa saja yang melukai wanitanya.

Tapi saat ini kasusnya berbeda. Baekhyun tidak mengetahui kalau Sena sudah meninggal atau belum. Dan itu membuatnya begitu frustasi. Tanpa sadar ia meninjukan tangannya pada kap mobil yang didudukinya itu. Melampiaskan kemarahan sekaligus rasa frustasinya selama ini.

Rasa sakit di tangannya tidak seberapa sakit dari pada rasa sakit yang didera hatinya. Dipaksa menikah dengan wanita yang tidak dicintainya dan harus kehilangan dua orang yang begitu dicintainya membuat hati Baekhyun begitu beku.

Mungkin kejadian tujuh tahun bisa lebih disyukurinya dari pada kejadian saat ini. Terlalu menyiksanya sampai ke tulang-tulangnya. Dan Baekhyun seakan tidak sanggup lagi untuk melanjutkan sisa hidupnya jika ia sampai tidak bisa menemukan Sena. Rasa cintanya yang begitu dalam terhadap Sena dapat membunuhnya secara perlahan-lahan.

Baekhyun merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan benda yang ada di dalamnya. Ia memperhatikan kalung dengan bandul dari cincin pernikahannya dengan Sena. Baekhyun mengangkat bandul tersebut ke depan matanya, dan mengamati tulisan yang terdapat di dalam lingkaran dalam cincin tersebut.

Di sana tertulis S&B, S untuk Sena dan B untuk Baekhyun. Cincin yang sudah lama sekali ingin Baekhyun sematkan di jari manis Sena tapi keinginannya tidak pernah kesampaian. Selalu saja ada halangan agar ia tidak bisa menyematkan cincin itu.

Baekhyun tersenyum kecut saat memikirkan semua kejadian yang sudah berlangsung di antara dirinya dan Sena selama ini. Setelah puas memandang cincin tersebut, Baekhyun pun memasang kalung tersebut di lehernya untuk mengingatkan Baekhyun jika Sena selalu ada di hatinya.

Baekhyun kembali mengalihkan pandangannya ke arah lautan yang ada di depannya. Terpaan angin yang begitu menyejukkan sedikit bisa merilekskan tubuhnya yang tegang dan stres. Setelah sekian lama memandang apa yang ada di depannya sambil berpikir keras, Baekhyun pun akhirnya memutuskan jika ia tidak akan pernah menyerah.

Membalas dendam telah menjadi tujuan hidupnya saat ini. Baekhyun lalu masuk kembali ke dalam mobilnya dan mengendarainya ke mana pun hatinya membawanya, karena ia memang tidak punya tempat tujuan yang pasti.

Dua tahun kemudian….

Suara bising begitu memekakan telinga siapapun yang masuk ke ruangan tersebut, tapi herannya tidak ada satu orang pun yang protes dengan suara bising tersebut. Mereka begitu menikmatinya. Bergoyang meliukkan tubuhnya di atas lantai dansa mengikuti alunan musik, ada juga yang hanya minum di depan meja bar, dan ada juga yang asyik bercumbu di mana pun yang mereka inginkan.

Semua aktivitas ini tidak ada yang melarangnya. Mereka bisa berbuat sesuka hati mereka di tempat itu. Tidak jauh berbeda dengan sebagian pengunjung di sana, di salah satu pojok ruangan terdapat sepasang manusia sedang asyik bercumbu.

Si pria dengan leluasanya memegang anggota tubuh apapun dari si wanita yang bisa dipegangnya. Tidak ada yang protes dengan hal itu. Bahkan terkadang si wanita akan melenguh dan mendesah saat si pria memberikan kenikmatan pada dirinya.

Entah sudah berapa lama mereka bercumbu mesra hingga tali spagetti dari gaun yang digunakan si wanita sudah merosot ke bawah, memperlihatkan apa yang ia sembunyikan dari balutan gaun seksinya. Si pria pun akhirnya menjauhkan tubuhnya dari tubuh wanita yang ada dipelukkannya itu.

“Kau memang tidak pernah mengecewakan.”

“Untukmu akan selalu aku berikan yang terbaik.”

Si pria langsung tertawa lepas saat ia mendengar jawaban dari wanita itu. Lalu ia mengambil gelas berisi vodka yang ada di atas meja. Menegukkan dalam sekali tegukan, kemudian menuangkannya lagi.

“Sepertinya istrimu akan meledak sebentar lagi.”

“Hm… memang itulah tujuanku selama ini.”

“Kalau begitu, kenapa kau tidak sekalian saja membawaku ke ranjangmu?”

“Kau masih jauh dari katagoriku dalam hal urusan ranjang, Yura-ya.”

“Tsk, bilang saja kau masih belum melupakan wanita sialanmu itu.” ucap Yura yang pada detik selanjutnya langsung disesalinya.

Baekhyun mencengkram kuat rahang Yura hingga membuat Yura membeku di tempatnya. “Jaga mulut sialanmu itu, wanita jalang.” Desis Baekhyun dengan nada dinginnya penuh amarahnya.

“M-maafkan a-aku….” ucap Yura terbata-bata saat ia merasakan Baekhyun menatapnya dengan pandangan tajamnya, berbanding terbalik dengan beberapa saat lalu kala ia dan Baekhyun sedang bercumbu mesra untuk membuat cemburu Shannon, istri Baekhyun.

“Kau seharusnya bersyukur karena masih aku anggap sebagai simpananku selama ini. Kau ingin menghangatkan ranjangku?” Baekhyun menggantungkan ucapannya sambil tersenyum menakutkan ke arah Yura. “Dalam mimpi pun kau tidak akan pernah merasakannya.”

Tubuh Yura bergetar hebat saat mendengar ucapan Baekhyun yang sedingin es. Wanita mana pun akan terluka jika mendengar ucapan yang dilontarkan Baekhyun beberapa saat lalu. “Dan aku peringkatkan sekali lagi padamu, jika kau berani menghina wanitaku lagi, ucapkan selamat datang pada neraka yang akan aku buat untukmu. Bahkan itu akan lebih mengerikan dari neraka yang aku buat untuk istriku sendiri. Apa kau mengerti?”

I-iye, a-algeuseumnida…”

“Bagus. Sekarang layani aku sesuai dengan apa yang telah aku bayarkan padamu.”

Baekhyun langsung mencium bibir Yura dengan kasar. Yura yang ingin memberontak pun tidak bisa berbuat banyak karena rahangnya masih dicengkram kuat oleh Baekhyun. Walaupun sakit dan harga dirinya benar-benar diinjak-injak oleh Baekhyun, Yura tetap menerima setiap sentuhan Baekhyun pada tubuhnya, karena memang inilah yang ia inginkan selama ini.

 

~ tbc ~

 

Iklan

55 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] MY LADY (Chapter 25)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s