[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy #4

333

Superplayboy

#4 [The Secret]

Dinopeach

Kim Jongin. Oh Sehun. Kim Hyein. Byun Baekhyun. Park Chanyeol. Other cast.

Romance

Teen

Chapter

Selamat menikmati, dan hargai karya penulis ya.

.

 

.

 

.

 

.

 

Sore ini terlihat tenang. Lebih tenang dibanding sore-sore sebelumnya. Sehun hanya duduk diam memandang segelas bubble tea rasa coklat yang ia pesan lima menit yang lalu. Di hadapannya pun tak jauh berbeda, Kim Jongin masih belum berkutik dari layar ponselnya. Beberapa kali benda hitam itu berdering, membuat Jongin mengurungkan niatnya untuk mengawali pembicaraannya dengan lelaki pucat yang duduk di depannya.

 

Ah Jongin! Bagaimana ini?! Apa yang akan kau katakan pada Sehun?!

 

‘Diamlah! Aku akan mencoba untuk menjelaskan semuanya’

 

Lalu bagaimana jika Sehun tidak bisa menerima penjelasanmu?!

 

‘Aku akan membunuhnya’

 

Ayolah! Kau masih saja bercanda disituasi seperti ini, Kim Jongin!

 

‘Berhenti mengoceh! Aku bisa mengatasinya!’

 

Seperti apa kau akan mengatasinya, huh?

 

Kim Jongin! Jawab aku!

 

Jongin meletakkan ponselnya kasar ke meja membuatnya menciptakan bunyi yang cukup nyaring lalu mendengus kecil. Ia baru saja mengakhiri chat­nya dengan Hyein, gadis itu terus saja merengek pada Jongin. Suara yang ditimbulkan benda itu cukup membuat Sehun tersadar oleh pikirannya yang mulai melayang memikirkan apa yang dilihatnya tadi pagi di koridor laboratorium. Sehun berpaling dari gelas bubble tea-nya lalu memandang Jongin seolah ia butuh penjelasan sekarang. Jongin terlihat menggaruk tengkuknya, bingung untuk menjelaskan pada Sehun apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Sehun-ah…” Jongin berhenti menggaruk tengkuknya dan memandang Sehun dengan tangan yang dilipat di atas meja. Sehun tetap diam dengan telinga yang dipasang lebar-lebar. Ia terlihat masih sangat terkejut dengan kejadian tadi pagi. Sehun selalu diam saat Jongin mengajaknya bahkan beberapa kali menjauh saat Jongin mendekat.

 

Namun karena kali ini Jongin ingin menjelaskan apa yang terjadi, Sehun akhirnya mengakhiri untuk mendiami Jongin dengan beribu pertanyaan dan memilih untuk menemui Jongin sore ini.

 

“Aku tahu kau melihatnya tadi…” Jongin menggantungkan kalimatnya, Sehun masih diam.

 

“…kau tau, yang kau lihat tadi tidak seperti yang kau pikirkan” Jongin mengucap sambil berharap Sehun mempercayainya. Sehun menyentuh bubble tea-nya, hanya mengusap-usap titik-titik air di dinding luar gelas plastik itu.

 

“Apa benar dengan yang kulihat tadi, Jongin?” Sehun menatap Jongin, “Apa aku baru saja melihat Hye In mencium kakaknya sendiri?” Jongin terlihat tersenyum kecut lalu mengangguk kecil dengan deheman. Sehun kembali melepas kontak tangannya pada gelas, dilipatnya tangan itu di depan dada dengan wajah yang ditolehkan ke arah lain, “Gila!”

 

“Sudah kubilang… kau salah paham” Jongin menyeret kursinya mendekat pada meja.

 

“Aku dan Hye In memang sering melakukan itu…” seketika Sehun menolehkan kepalanya pada Jongin, dengan wajah terkejut luar biasa.

 

“Apa?!”

 

“Ya, itu memang sering terjadi… Tapi bukan aku yang menginginkannya… Setiap kali Hye In merasa perasaannya buruk, ia selalu ingin mencium seseorang… Dan orang itu aku, tidak mungkin aku membiarkan Hye In mencium orang lain sembarangan… Oleh karena itu aku punya tanggung jawab besar akan hal ini…” Jongin menggantung ucapannya. Sehun terlihat diam menyimak dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Jongin.

 

“Ibu maupun ayah tidak ingin ada yang tahu tentang ini… Namun, karena kecerobohan Hye In, ia membuat seseorang lagi tahu tentang ini setelah Chanyeol-hyung dan Baekhyun-hyung” Sehun terlihat membulatkan matanya.

 

“Dua orang itu tau? Kenapa seorang Byun Baekhyun tahan menyimpan rahasia seperti ini?” Jongin hanya menganguk lalu terkekeh kecil dengan kalimat terakhir Sehun.

 

“Orang itu diam karena ia punya kerabat yang mempunyai masalah seperti Hye In” ucap Jongin tersenyum kecil, lalu kembali memasng wajah diam pada Sehun.

 

“Tapi Oh Sehun…”

 

“Kau bisa menyimpan rahasia ini, ‘kan?” Jongin memsang wajah penuh harap dengan tangan menggenggam tangan Sehun erat. Sehun sempat dibuat jijik oleh itu, lalu mengangguk yakin. Walau ia tidak benar-benar tau bagaimana yang Jongin rasakan, tapi ia rasa ini sebuah privasi seseorang yang harus ia diamkan.

 

“Kau bisa percayakan ini padaku”

 

Tapi bagaimana orang-orang aneh itu bisa tau?

 

~

 

Chanyeol dan Baekhyun tertawa keras di tengah deretan kursi penonton pinggir lapangan. Baekhyun menggeser-geser layar ponselnya dengan mulut yang tak berhenti tertawa lebar. Chanyeol yang duduk di samping kirinya pun tak jauh berbeda, lelaki jakung itu ikut mengarahkan pandangan pada ponsel Baekhyun lalu tertawa terpingkal-pingkal dengan tangan yang memegangi perutnya yang mulai kaku. Entah apa yang sedang mereka lihat di layar benda tipis itu, yang jelas tiap Baekhyun menggeserkan tangannya pada layar ponsel, kedua orang itu akan tertawa hebat.

 

“Apa yang kalian lihat, hyung?” sebuah suara memecah tawa Baekhyun dan Chanyeol, kedua orang itu terdiam seketika. Baekhyun dengan cepat menyembunyikan ponselnya ke belakang punggung Chanyeol.

 

“Ya! Oh Sehun! Bisa kau permisi terlebih dahulu?!” Chanyeol menarik tangan Baekhyun untuk lebih dalam masuk ke dalam belakang punggungnya, membuat kepala lelaki dengan senyum kotak itu menabrak bahu Chanyeol

 

“Ah, maaf… hyung, apa yang tadi kalian lihat? Membuatku penasaran saja” Sehun melongokkan kepalanya ke punggung Chanyeol, tempat ponsel Baekhyun disembunyikan. Kedua orang itu dengan kompak menghalangi Sehun untuk melihat apa yang ada di ponsel itu, Chanyeol melepas ponsel Baekhyun dari tangan pemiliknya dan Baekhyun mendorong-dorong kepala Sehun dengan brutal. Membuat lelaki berkulit pucat itu mendengus kasar lalu duduk di samping Baekhyun. Chanyeol dan Baekhyun masih menatap Sehun dengan tatapan waspada.

 

“Hyung!”

 

“Ah, iya?” Baekhyun mengucap cepat setelah ia dan Chanyeol kembali diam-diam mengintip ponsel dengan Chanyeol.

 

“Aku ingin bertanya sesuatu…” Sehun mengakhiri kalimatnya dengan pandangan melirik ke arah Chanyeol yang sedang mengutak-atik ponsel Baekhyun. Baekhyun mengikuti arah lirikan Sehun lalu memukul bahu Chanyeol keras, membuat lelaki tiang itu terlonjak dan langsung memasukkan ponsel Baekhyun ke dalam saku celananya.

 

“Kau ingin bertanya apa, Sehun-ah?” Baekhyun bertanya dengan nada seorang ibu yang baru saja dilontari pertanyaan anak dua tahun, Baekhyun lalu merangkul bahu Sehun, “Ya, Hun. Apa yang ingin kau tanyakan?” sang ayah-Chanyeol- menyahut.

 

“Eum… itu…” Sehun terlihat menggaruk tengkuknya yang gatal. Chanyeol dan Baekhyun masih menatapnya, menunggu apa yang Sehun ucapkan selanjutnya.

 

“Apa kalian tahu masalah Hye In?” Chanyeol dan Baekhyun dibuat terkejut oleh kalimat yang baru saja diucapkan Sehun. Chanyeol membelalakkan matanya lalu memandang sekitar mereka. Baekhyun dengan cepat membungkam mulut Sehun dengan tangannya. Sehun hanya memandang keduanya bingung.

 

“Hnggadda apphah hngyonggh(ada apa hyung)?” Sehun berucap tak karuan dengan mulut yang masih terbungkam. Chanyeol mengangkat tubuhnya, berpindah duduk di samping Sehun. Membuat Sehun terhimpit dua orang aneh itu.

 

“Apa yang KAU bicarakan, Oh Sehun?” dengan suara kecil, Baekhyun bertanya pada Sehun sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka bertiga lalu melepas bungkaman tangannya pada mulut Sehun.

 

“Hye In punya gangguan saat gelisah dan dia akan mencium Jongin. Benar begitu?”

 

“Ssst, pelankan suaramu…” Chanyeol  makin mendekatkan tubuhnya pada Sehun. “…Kenapa kau bisa tau?” bisik Chanyeol.

 

“Aku melihatnya di koridor laboratorium, dan Jongin sudah menjelaskannya. Lalu bagaimana kalian berdua bisa tau?” Baekhyun mencolek bahu Chanyeol dari belakang tubuh Sehun. Chanyeol memundurkan kepalanya, mendapati Baekhyun yang juga melakukan hal yang sama dan ia hanya memandang Baekhyun heran lalu tersadar kalau Baekhyun memberinya pandangan, bagaimana ini?, chanyeol berfikir sebentar dengan kepala menunduk dan telunjuk yang mengusap dagu lalu kembali menatap Baekhyun,  memberi lelaki cerewet itu anggukan yakin.

 

“Mm…” Baekhyun dan Chanyeol kembali memajukan kepala sejajar dengan Sehun. Sehun hampir dibuat penasaran saat Baekhyun dan Chanyeol berdiskusi di belakang punggungnya.

 

“Saat kami berdua bermain di kamar Jongin…” Baekhyun menggantung kalimatnya, “…Tiba-tiba Hye In masuk dan langsung mencium Jongin dengan ganas. Kami sempat terkejut saat Jongin membalas ciumannya. Lalu Jongin menjelaskan semua pada kami dan meminta kami untuk merahasiakan baik-baik hal ini” Baekhyun mengakhiri kalimatnya dengan anggukan kecil bersamaan dengan Chanyeol. Sehun ikut mengangguk.

 

“Ingat, Oh Sehun. Jangan sampai orang lain tau akan hal ini, bisa kau bayangkan bagaimana Hye In selanjutnya?” kali ini ucapan Chanyeol benar, Sehun kembali mengangguk oleh ucapan hyung-nya itu.

 

“Rahasia Hye In aman”

 

~

 

“Apa kau bilang Kyungsoo pernah memberimu bunga?” Jongin mengakhiri kalimatnya dengan tawa keras. Membuat seluruh siswa yang ada di kantin siang itu menoleh padanya. Hye in hanya menatap kakaknya dengan tatapan heran lalu memukul bahunya dengan keras, membuat Jongin mengaduh kesakitan.

 

“Ya! Kenapa kau tertawa!?” Hye In melabarkan matanya, Jongin masih tertawa dengan tangan yang memegangi perutnya yang kaku.

 

“Kapan Kyungsoo memberimu bunga?” setelah selesai dengan tawanya, lelaki itu bertanya pada Hye In dengan raut muka yang masih terlihat seperti menahan tawa.

 

“Dua hari setelah ulangtahunku” tawa Jongin kembali meledak, kini ia sampai memukul-mukul meja. Membuat jus jeruk yang ia pesan sedikit terciprat keluar dari gelasnya dan membasahi permukaan meja. Hye In mulai merasa geram dengan kakaknya, ia memukul kepala Jongin tanpa rasa kasihan. Jongin terlihat mendesis kecil lalu mencondongkan kepalanya mendekat pada Hye In, gadis itu hanya diam dengan tangan mengepal. Siap memukul Jongin kapan saja, belum hilang rasa geramnya pada Jongin.

 

“Asal kau tau, sebenarnya aku sangat kasihan padamu…” Jongin menggantung kalimatnya dan kembali memundurkan kepalanya.

 

“Kasihan?” Hye In menyerngit.

 

“Ya, asal kau tau… Kyungsoo memberimu bunga karena ia kalah taruhan” Jongin mengakhiri kalimatnya dengan gebrakan keras di penmukaan meja, membuat beberapa siswa menoleh padanya. Hye In masih diam, tak sedikitpun terkejutkan oleh suara keras yang ditimbulkan Jongin.

 

“Saat itu kami sedang bermain dengan peraturan yang kalah harus memberi bunga kepada gadis di sekolah yang baru saja ulangtahun, ya, Kyungsoo kalah. Dan gadis yang baru saja berulangtahun hanya kau… jadi Kyungsoo memberi bunga itu padamu” Hye In tak menghiraukan sedikitpun kalimat lanjutan Jongin. Gadis itu masih mencerna kata-kata Jongin. Taruhan? Ini semua hanya karena taruhan?! Jongin hanya diam menunggu reaksi Hye In. beberapa detik  kemudian, Hye In tiba-tiba berdiri.

 

“Kau mau kemana?” Gadis itu hnaya diam tanpa sedikitpun berniat menjawab pertanyaan kakaknya.

 

“Ya! Kau mau kemana, Kim Hye In?”

 

“Katakan pada Ibu, aku akan pulang telat hari ini… Aku akan mengarjakan tugas kelompok” Hye In dengan cepat berlalu pergi setelah mengucapkan kata terakhirnya, menghiraukan teriakan Jongin yang berkali-kali memanggilnya. Namun, Gadis itu tetap melangkahkan kakinya menjauh. Pikirannya masih kacau.

 

~

 

Sehun mengitari lapangan terburu-buru, matanya menatap setiap bangku penonton dengan harapan ia akan menemukan sosok yang ia cari sejak dua jam yang lalu. Namun, nihil lelaki pucat itu tak menemukannya. Sehun mengusap wajahnya frustasi sambil mendengus kasar.

 

“Kemana lagi aku harus mencari gadis jadi-jadian itu?!” ucapnya sedikit berteriak. Perpustakaan, aula, setiap kelas sudah ia jelajahi. Namun ia tetap tak menemukannya. Sehun merogoh ponselnya dari saku celana, bermain sebentar dengan layarnya lalu mendapati sebuah pesan dari Jongin. Sehun mengerti sangat perasaan khawatir Jongin sekarang mengingat dua jam yang lalu lelaki hitam itu menelfonnya dan mengatakan kalau Hye In belum pulang, dan ia juga meminta Sehun untuk membantunya mencari gadis itu. Parahnya, ini sudah jam sepuluh malam. Tapi karena Kim Jongin adalah sahabatnya, ia harus membantu Si Superpyalboy itu mencari adiknya. Ya, walaupun ia harus menunjukkan aegyo-nya pada penjaga yang sempat melarangnya masuk ke dalam area sekolah karena ini sudah larut malam.

 

‘Apa kau menemukannya?’

 

Belum

 

Sehun mengetik dengan hati-hati, mempertimbangkan bagaimana perasaan Jongin saat tau adiknya belum ditemukan.

 

Oh Sehun mendengus “Aku akan menemukannya, Jongin”

 

~

 

“Do…hk…. Kyungsoo Si-…hk..Sialan!…hk” gadis itu berjalan pelan dengan badan terhuyung di trotoar pinggir jalan. Tangan kanannya menggenggam kaleng minuman alkohol yang baru setengah kosong, sedangkan tangan kirinya menenteng snikers yang sebelumnya dilemparkannya ke tengah jalan raya, karena merasa ibunya tak akan memberi sepatu baru, gadis itu dengan malas memungutnya dengan tubuh yang hampir terhantam mobil.

 

“Ah!…hk…Kim Jong-…hk…Jongin! Kau juga…hk…sialan!” gadis itu mengumpat tak jelas dengan selingan cegukan beberapa kali, membuatnya susah berucap. Ia berjalan dengan seikit terhuyung sambil beberapa kali menegukkan isi kaleng yang Ia bawa ke dalam mulutnya. Matanya mengerjap mendapati sebuah bangku panjang tak jauh darinya. Gadis itu melangkah ke sana, lalu mengambrukkan tubuhnya di sana. Tetap dengan mulut mengumpat tak jelas.

 

~

 

Sehun menghentikan mobilnya saat melihat siluet seorang gadis yang sangat mirip dengan Hye In yang sedang duduk di tepi jalan. Sehun sempat tak yakin kalau itu benar Hye In, namun semakin ia mendekatkan mobilnya ke arah gadis itu, matanya menyipit lalu melebar ketika ia menyadari bahwa gadis itu benar-benar Hyein yang berhasil membuat waktu tidurnya berkurang.

 

Baru saja Sehun mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu. Terlihat olehnya seorang pria yang mendekat pada Hye In, pria itu menatap Hyein lalu duduk di sampingnya. Sehun sontak menggeram saat pria itu dengan lancang menyentuh dagu Hyein. Dengan cepat Sehun membuka pintu mobilnya dan berlari ke arah gadis itu. Dia sudah berdiri agak jauh di depan Hyein dan pria itu, Hyein terlihat memejamkan matanya, Sehun yakin Ia sedang terlelap sekarang. Sehun hanya diam, lalu melonjak ketika tangan pria itu dengan lancang menyingkap rok Hyein.

 

“Lepaskan!” Sehun menarik kasar tangan Hyein, membuat gadis itu bangkit dan seketika terbangun. Sisa alkohol masih belum hilang di tubuhnya. Pria itu terlihat membelalakkan matanya lalu berdiri di depan Sehun dan menghantam pipi lelaki pucat itu dengan sekali pukulan keras. Meninggalkan segaris kecil luka di bagian wajah dekat bibirnya.

 

“Ya! Kenapa kau memukulku!” Sehun menatap geram pria itu lalu membalasnya dengan pukulan yang sama. Sehun tersenyum miring saat ia berhasil membuat pria itu tersungkur dan pipinya berdarah. Pria itu mengusap darah di pipinya lalu bangkit dan berlari pergi.

 

“K-kau datang… Jongin-ah…” Sehun tersadar kalau Hyein masih ada di sampingnya sekarang. Gadis itu meraba wajah Sehun, lalu berhenti ketika cairan merah pekat mengotori tangannya. Sehun hanya diam, ia benar-benar tidak dapat melakukan apapun selain diam ketika di depannya terpaut jarak yang cukup dekat dengan wajah Hyein.

 

“Oh? Ujung bibirmu berdarah, kau berkelahi lagi? Aku yakin ibu akan memarahimu nanti” Hyein berucap kacau namun masih sangat jelas di telinga Sehun. Gadis itu tiba-tiba terhuyung dan hampir jatuh sebelum Sehun menangkap tubuhnya. Membuat Hyein menyandarkan kepalanya di bahu Sehun.

 

Sehun susah payah menelan ludahnya sendiri ketika merasakan sentuhan lembut nafas Hyein di telinganya yang membuatnya geli. Sehun hampir saja berfikir yang tidak-tidak sebelum Hyein kembali terhuyung dan membuat Sehun tersadar lalu menggendongnya menuju mobil. Baru saja Sehun akan membuka pintu, dengan tiba-tiba Hyein memukul bahunya. Mengisyaratkan Sehun untuk menurunkannya, Sehun menuruti. Diturunkannya gadis itu menyandar pada pintu mobil.

 

“Mm…” Hyein berfikir sebentar dengan tubuh membungkuk, ia memasang kembali snikers-nya dengan susah payah. Sehun hanya menatap diam gadis di depannya yang sedang membungkuk sambil beberapa kali terhuyung, lalu lelaki pucat itu menjongkokkan tubuhnya tepat di depan Hyein lalu membantu gadis itu memasang snikers-nya. Bukankah aku baik dalam hal membantu musuh taruhakku?  Hyein sempat terkejut lalu terkekeh kecil dan kembali menegakkan badannya.

 

“Tidak biasanya kau baik pada adikmu” ucap Hyein saat melihat samar Sehun-yang dikiranya Jongin- kembali berdiri setelah selesai membantu Hyein memasang benda berwarna abu-abu itu di kakinya. Hyein menatapnya dengan tatapan bodoh ala orang mabuk biasanya, Sehun hanya membalasnya denga tatapan diam.

 

“Kau tau Jongin-ah…” Hyein mendekatkan tubuhnya pada Sehun dengan telunjuk yang bermain di lengan kaos hijau bergaris yang dikenakan Sehun.

 

“Hyein-ah, aku buk-” Sehun belum selesai dengan ucapannya dibuat terdiam tak berkutik saat Hyein memeluknya dengan tiba-tiba.

 

“Kau tau… Aku benar-benar sakit hati saat kau mengatakannya padaku… Aku hampir saja ingin menceburkan diriku saat melewati sungai Han, namun aku teringat bagaimana bodohnya aku jika melakukan itu… Apa hanya karena sebuah harapan palsu aku akan mengakhiri hidupku?” Sehun tetap diam. Ia sudah mulai bisa mengatur tubuhnya sekarang ketika mendengar semua penuturan Hyein. Tangannya yang semula menggantung kaku di samping badan, kini ia angkat dan berhasil melingkar di punggung Hyein dengan sesekali mengelusnya.

 

“Ayolah, masih ada masalah yang lebih besar dibanding itu. Benar begitu, Jongin-ah?” Hyein mengangkat wajahnya menatap Sehun yang juga sedang menghadapnya. Lelaki itu berdehem memberi jawaban.

 

“Aku butuh ketenangan”

 

Apa itu artinya ia ingin sendiri?

 

Sehun berucap dalam hati lalu melepas pelan pelukan Hyein. Namun Hyein menahanya dengan kembali menarik lengan Sehun. Membuat lelaki itu kembali berdiri di depannya setelah sempat menjauh memunggungi Hyein.

 

“Kau bilang kau ingin sendiri?” Sehun berucap sambil berusaha melepas pegangan Hyein pada lengannya. Namun nihil, kekuatan gadis yang mabuk lebih besar dari seorang lelaki, kini Sehun mempercayai ucapan Chanyeol.

 

“Kenapa kau tiba-tiba bodoh, ha?” Hyein mengakhiri kalimatnya dengan menarik Sehun untuk mendekat. Gadis itu berhasil menghapus jarak diantara mereka dengan menyatukan bibirnya dengan bibir Sehun. Sehun terdiam dengan mata membulat sempurna. Ia tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi.

 

Harusnya Jongin saja yang menemukanmu!

 

~

 

Matanya mengerjap perlahan mendapati tusukan sinar matahari pagi. Matanya mengawasi ruang sekitar, ia ada di kamarnya. Dia mencoba mengangkat tubuhnya lemah, rasanya seperti ia baru saja terhantam truk semalam, tulang-tulangnya seperti remuk, ah, ia lelah sekali. Ia memijat keningnya dengan harapan hal itu bisa mengurangi sakit kepalanya.

 

“Oh? Kau sudah bangun?” Jongin yang baru saja menengok lewat pintu kamar yang sengaja di  buka langsung masuk saat melihat adiknya sudah terduduk di atas ranjang.

 

“Kau minum berapa kaleng semalam, Hyein-ah?” Jongin duduk di tepi ranjang. Hyein masih memijat keningnya.

 

“Ah, entahlah, aku lupa…” dengan tangan yang mengusap kening Hyein, Jongin berdehem sebentar.

 

“Demammu sudah turun…” Jongin bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu, berniat keluar. Hyein masih diam memandang pungggung kakaknya yang semakin menjauh lalu terheran saat ingat tidak ada satu luka pun di wajah Jongin,

 

Bukankan semalam pipinya berdarah? Hyein menggelangkan kepalanya cepat.

 

Ah! Aku terlalu mabuk semalam!.

 

“Jongin-ah…” baru saja Jongin memegang gagang pintu kamar, berniat menutupnya. Panggilan Hyein membuatnya berhenti dan menengok ke belakang menatap adiknya.

 

“Mm… Apa kau minum bubble tea semalam?” Jongin benar-benar memutar tubuhnya sekarang, lelaki itu terdiam bingung sebentar lalu melangkah kembali mendekat pada Hyein. Sedangkan gadis itu terdiam, menunggu apa yang akan kakaknya itu katakan. Namun tiba-tiba Jongin mencubit ujung hidung adiknya, membuat yang dicubit hanya mendengus dengan kedua tangan mengusap hidung.

 

“Apa aku masih sempat minum bubble tea saat kekhawatiranku padamu ada di puncaknya? Kau berkhayal, adik manis” lagi-lagi Jongin mencubit hidung adiknya itu gemas tepat setelah mengakhiri kalimatnya.

 

“Ya!” baru saja Hyein mengangkat bantal guna melemparkannya pada Jongin, lelaki itu sudah lebih dulu hilang di balik daun pintu kamar.

 

“Aku benar-benar merasakan bubble tea semalam”

 

~

 

Sehun berjalan tergessa menuju perpustakaan setelah berusaha menghindari teriakan Jongin yang memanggil-manggil namanya. Oh Sehun sudah sampai di perpustakaan sekarang. Tubuhnya langsung ia dudukkan sanan dengan pipi yang menempel pada meja. Matanya terpejam dengan pikiran yang masih berputar oleh kejadian semalam.

 

“Argh!” lelaki pucat itu mengacak rambutnya kesal, “Apa yang harus ku lakukan?! Apa aku harus mengatakan semuanya?! Ah! Aku bisa gila!!” Sehun baru selesai dengan kalimatnya dan langsung mendapat sorotan tajam dari penghuni perpustakaan yang lain. Ia baru saja mengucap dengan sedikit teriakan.

 

“Aku tidak bisa terus menjauhi Jongin seperti ini… Aku harus mengatakannya!” Sehun berjingkat bangik dari duduknya dan bejalan menuju intu perpustakaan, dengan perasaan gundah. Apa aku benar-benar akan mengatakannya? Sehun berjalan dengan kepala bimbang dan tak memperhatikan jalan di depannya. Membuatnya menabrak seseorang yang baru saja akan ia cari.

 

“Sehun? Kau kenapa?” Sehun terdiam, tekadnya yang sebelumnya sangat kuat, kini menciut perlahan. Mengurungkan niatnya untuk jujur pada Jongin yang sekarang berdiri bingung di depannya.

 

“T-tidak apa-apa,” dengan tangan yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Sehun memaksakan senyumnya “Aku duluan” Sehun mengarahkan ibu jarinya ke arah punggungnya lalu membalikkan badan dan berjalan menjauh, nemun tangan Jongin lebih cepat menarik lengannya. Sehun hanya terdiam dengan mata terbelalak, ia gematar sekarang.

 

Apa jongin tau? Aku bisa mati! Dengan susah payah Sehun mengumpulkan mental untuk membalikkan badannya menghadap Jongin, betapa terkejutnya ia.

 

Sejak kapan Hyein di sini?!

 

Gadis yang ditakutkan Sehun sedang berdiri di belakang tubuh Jongin. Gadis itu terlihat menyipitkan matanya menatap Sehun.

 

Oh tidaaak!!

 

“Sehun-ah…” Jongin berucap menatap penuh wajah Sehun. Lelaki pucat itu benar-benar terlihat pucat sekarang.

 

‘Apa dia benar tau kalau aku baru saja berciuman dengan gadis yang paling kubenci dan adik sahabatku ini?’

 

Jongin mengangkat tangannya menunjuk bibir Sehun. Jantung Sehun hampir copot sekarang.

 

“Itu…” Sehun menautkan alisnya. Ayolah Jongin!

 

“Kenapa bibirmu berdarah, Oh Sehun?” sehun menurunkan bahunya lemas. Baru saja ia merasa akan mati sekarang.

 

Aku akan membunuhmu, Kim Jongin!

 

“A-ah, ini…” aku tidak bisa mengatakannya “Aku harus pergi… daah” setelah melepas paksa tangan Jongin di lengannya, lelaki itu berjalan cepat menjauhi adik kakak itu. Meninggalkan Jongin yang mengerjap bingung dan Hyein yang masih meyakinkan otaknya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

 

Luka itu…

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

.

 

TBC

 

.

 

Untuk para reader! Dimohon lebih aktif lagi di kolom komentar ya~ aku selalu nunggu notif dari kalian lohh T^T

 

.

 

Selamat kembali beraktifitas setelah sekian lama liburan!

 

Dan selamat tahun baru!

 

.

 

Tinggalkan komentar yaa, sebagai apresiasi kalian serta penilaian tersendiri bagi penulis. Komen kalian sangat berharga loh, beneran ._.v

 

Kalo ada kesalahan entah typo(s) atau lainnya, mohon koreksinya semuaaa.

 

Sekian, terima kasih.

 

-Dinopeach-

 

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy #4

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s