[EXOFFI FREELANCE] HAVOCH (Prolog)

havoch-cover

HAVOCH

| Cast : All member EXO-K, Kang Hye-na OC, Kim Hyun-ji OC, Cho Ji-hyun OC, Han Ji-hee OC, Park Rae-sun OC, Kwon Min-ah OC|

|Genre : Romance, Sci-fi, School life|

| Leght : Chapter |

| Rating : PG 15+ |

|Summary : “ Love, power, Sacrifice!” |

|Discalimer : All cast in this FF belong to GOD and their parent. All plot in this story belong to me and ONLY me. This story may content alot of curses, so read by your own risk. Also I publish this FF in my Wattpad Account @96dreamgirl |

EXO’s Fanfiction by Hecate Helena

 

“Life is never be fair. When you find your love, and then you realize you should let go. And I hate it!”

 

PROLOG

 

Aku terus berlari. Hanya beberapa langkah lagi menuju gerbang keluar. Aku hanya perlu melewati dua lorong ke arah kiri, maka aku akan terbebas dari tempat terkutuk ini. Di belakangku terdengar derap langkah kaki semakin mendekat. Aku mendengus, para penjaga bodoh itu ternyata cukup cepat. Dengan mengandalkan tenaga terakhirku, aku mempercepat langkahku. Menukik ke arah kiri lalu berbelok, melewati lorong gelap dan pengap yang membuat pasokan oksigen ke paru-paruku semakin menipis. Membuat langkah kakiku semakin berat. Dan akhirnya gerbang itupun terlihat. Gerbang perunggu setinggi 4 meter itu menjulang di hadapanku. Ukiran bunga-bunga di atas hamparan tubuh yang terpotong-potong membuatku bergidik. Aku tidak tahu siapa seniman yang cukup sinting menggabungkan bunga dan mayat-mayat. Aku menggelengkan kepalaku, ini bukan saatnya memikirkan hal konyol semacam itu.

Belum sempat tanganku meraih pegangan di pintu gerbang, seseorang menarik bahuku dan melemparku ke dinding lorong. Aku bisa mendengar derak tulang punggungku yang patah. Rasa sakit yang menjalar dari sana memperkuat dugaanku. Aku mengerang. Menggigiti bibir bawahku untuk mencegah teriakan kesakitan keluar dari mulutku. Tidak. Aku tidak akan membuat mereka lebih senang lagi melihat penderitaanku.

“Kau pikir kau bisa lari begitu saja? Tidak akan semudah itu gadis kecil!”

Aku mendongkak, menatap pria yang baru saja bicara kepadaku. Matanya memicing tajam ke arahku. Hidungnya yang besar kembang kempis menahan amarah. Mukanya yang buruk rupa merah padam. Membuatnya seratus kali lebih buruk rupa dari biasanya.

“Oh, hai kau di sana. Kau sudah menemukan otakmu rupanya?” Ucapku memaksakan senyum. Berusaha terdengar setenang mungkin sambil memikirkan beberapa ide untuk membodohi si buruk rupa di depanku lagi. Namun, rasa sakit di punggungku sama sekali tidak membantu.

Pria di depanku menggeram. Terdengar seperti binatang buas yang siap menerkam korbannya. Aku rasa perkataanku sudah melukai harga dirinya. Bukan salahku kalau dia dengan mudahnya percaya padaku untuk melepaskan ikatan tanganku hanya karena aku bilang padanya bahwa aku adalah tawanan istimewa dari bosnya. Salahkan dia yang tidak bisa menggunakan otaknya dengan baik. Ya, kalau saja dia memiliki otak yang kumaksud.

“Bicaralah sesuka hatimu. Karena setelah ini, aku akan memberikanmu hukuman yang sangat berat.” Pria itu menyeringai, menunjukkan gigi-gigi kuningnya yang mengerikan. Aku tahu, pria itu akan melakukan apapun yang dia katakan.

Aku mendengar derap kaki lain mendekat. Sesaat kemudian dua orang pria muncul di hadapanku. Seringai kemenangan terpatri di wajah mereka. Membuatku bergidik membayangkan hal-hal mengerikan yang akan aku terima. Mereka bisa saja menyetrumku, menenggelamkanku, atau menjadikanku santapan makan siang mereka?  Oh, sial! Aku seharusnya memikirkan kemungkinan itu. Aku pasti akan benar-benar berakhir kali ini.

Belum sempat kedua pria itu melangkah, tiba-tiba pintu perunggu di samping kami meledak. Membuat para penjaga di hadapanku ikut terpental jatuh. Meninggalkan teriakan kesakitan tertahan sebelum akhirnya mereka tergeletak tak bernyawa di hadapanku. Serpihan perunggu menancap tepat di jantung mereka. Well, tembakan yang bagus. Siapapun yang melakukannya, dia sudah membuat penjaga-penjaga bodoh itu mati. Dan itu artinya aku bebas sekarang.

Aku menggerakan badanku. Masih berusaha menahan rasa sakit yang semakin menyiksa dari tulang punggungku yang patah. Belum lagi rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalaku. Membuatku tersadar bahwa kepalaku terluka. Aku menggerakan tanganku, beberapa serpihan perunggu menancap di pelipisku. Aku mendengus. Dasar penyelamat yang bodoh! Dia harusnya memastikan dulu aku berada di posisi yang aman dari penyerangan, baru meledakan gerbang perunggu itu. Siapapun yang menyelamatkanku, aku ingin sekali berkata padanya.

“Tuan penyelamat, terimakasih kau telah membantuku melenyapkan para penjaga bodoh itu. Dan ya, terimakasih juga berkat seranganmu korban yang harus kau selamatkan pun ikut terluka. Banggalah pada otakmu yang bodoh itu!”

Aku mendengar beberapa langkah kaki mendekat. Membuatku keluar dari pikiran-pikiran bodohku. Aku menoleh, berusaha memperjelas penglihatanku. Namun, titik-titik hitam bermunculan di hadapanku. Kepalaku yang terasa semakin berat tak membantuku sama sekali. Hal terakhir yang aku lihat adalah cahaya biru terang yang memancar dari sesuatu seperti simbol? Tidak. Sebuah tatto. Tatto yang terukir di leher seorang pria. Sebelum aku sempat melihat dengan jelas, kegelapan menarikku.

 

—HAVOCH—

 

“Menurutmu berapa lama lagi dia akan sadar, hyong?” tanya seorang pria yang sedang duduk di samping jendela kamarnya. Kedua tangannya dia masukan ke saku celana. Matanya tidak pernah lepas dari sosok gadis yang sedang terbaring di tempat tidurnya saat ini.

Pria lain yang diberikan pertanyaan menoleh. Sambil membereskan peralatan medisnya, dia menjawab, “Tidak akan lama lagi. Mungkin beberapa jam dari sekarang. Aku tidak tahu pasti. Luka di kepalanya cukup parah,” Jawabnya dengan santai sambil memasukan peralatannya ke dalam tas yang dia bawa.

“Ini semua gara-gara si bodoh itu!”

Yakk! Kim Jong-in! Tidak baik mengumpat di belakangku!” ucap pria lain yang baru saja memasuki ruangan. Sebuah Crosbow tersampir di belakang punggungnya. Matanya memicing ke arah pria yang sedang duduk di samping jendela.

“Aku tidak pernah bilang kalau umpatan itu aku tujukan untukmu,” kilah Jong-in.

Pria itu—Baek-hyun, tidak menghiraukan perkataan Jong-in dan melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur, “Apa dia akan baik-baik saja, hyong?” tanyanya pada pria yang masih duduk di samping tempat tidur—Suho.

“Dia akan baik-baik saja,” Suho meyakinkan. Melihat dari raut kekhawatiran yang tergambar di wajah Baek-hyun, Suho tahu bahwa pria itu merasa bersalah.

“Kalau bukan karena Chan-yeol dan radar bodohnya itu. Semuanya tidak akan seperti ini,” Ucap Baek-hyun kesal. Dia menggerakan kakinya ke arah sofa, dan mendudukan dirinya dengan nyaman di sana.

“Aku mendengar itu, tahu!” Sebuah suara mengintrupsi mereka. Seorang pria dengan rambut pirang keperakan memasuki ruangan, “Kau sendiri yang menyuruhku segera meledakkan gerbang itu, bodoh!”

“Itu semua karena kau bilang bahwa gadis itu tidak ada di sana. Tidak bisakah kau melihat perbedaanya? Warna aura kita dan aura makhluk jadi-jadian itu berbeda.” protes Baek-hyun tidak terima.

“Aku sudah bilangkan, ada yang tidak beres. Aku hanya mengatakan padamu bahwa mungkin saja gadis itu tidak ada di sana. Aku tidak bisa melihat warna auranya dengan jelas,” Chan-yeol balik memprotes, “Terlalu terang.” Lanjutnya lirih.

“Apa aku melewatkan sesuatu?” sebuah suara mengintrupsi perdebatan mereka.

Seorang pria lain memasuki ruangan. Sambil melepaskan masker yang menutupi wajahnya, pria itu berjalan santai ke arah Suho. Menghiraukan Baek-hyun dan Chan-yeol yang masih melanjutkan perdebatan mereka tentang ‘siapa yang lebih bodoh’nya itu.

“Hanya pertengkaran bodoh. Tidak usah dihiraukan,” jawab Jong-in.

Matanya masih tertuju pada gadis di tempat tidurnya. Ada sesuatu dari gadis itu yang menarik perhatiannya. Namun, dia tidak tahu apa jelasnya. Yang dia tahu bahwa dia tidak bisa melepaskan pandangannya pada gadis itu.

“ Kau sudah membereskan sisanya?” tanya Suho.

Pria yang baru datang itu—Sehun, mengangguk, “Sudah, hyong. Aku sudah membereskan semua yang berada dekat dengan perbatasan. Dan Hyun-ji membereskan sisinya dengan mengubah arah aroma kita. Aku pastikan, mereka tidak akan menemukan kita di sini.” Sehun meyakinkan.

“Syukurlah,” Suho mengalihkan pandangannya pada gadis yang terbaring di sampingnya,”Kita tidak bisa membiarkan mereka mendapatkan gadis ini.”

Sehun hanya mengangguk, melangkahkan kakinya lebih dekat ke arah tempat tidur. Dia menatap sekilas gadis yang sedang terbaring di sana, sebelum akhirnya menggerakan tangannya untuk menyentuh kening gadis itu. Beberapa saat kemudian dia menarik tangannya kembali.

“Aku tidak bisa merasakan kekuatannya,” gumam Sehun terdengar terkejut. Keningnya berkerut bingung.

“Apa maksudmu?” tanya Suho, “Dia makhluk seperti kita, bukan?”

Sehun mengusap dagunya ragu, “Aku tidak yakin,” jawabnya.

“Bagaimana mungkin?” Tanya Jong-in yang entah bagaimana sudah berdiri di samping Sehun.

Sehun menggeleng, “Aku tidak tahu. Biasanya aku bisa merasakan kekuatan makhluk seperti kita. Para Mutans. Tapi entah kenapa aku tidak merasakan apa-apa saat aku menyentuh kening gadis itu,” Sehun menoleh ke arah Jong-in, “Seperti aku yang tidak bisa merasakan kekuatanmu.” Lanjutnya.

“Dan seperti aku yang tidak bisa melihat dengan jelas auramu,” Chan-yeol menimpali. Tampaknya perdebatan kecilnya dengan Baek-hyun sudah selesai, “Kau. Auramu terlalu gelap, Kai. Dan gadis itu. Auranya terlalu terang.” Chan-yeol berucap. Bergantian menunjuk ke arah Jong-in dan gadis yang masih berbaring dengan tenang di tempat tidur.

“I-ini tidak mungkin,” gumam Jong-in.

“Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?” Sehun bertanya, “Kita tidak bisa membiarkan gadis itu berkeliaran tanpa perlindungan. Kita tahu bukan apa akibatnya kalau dia sampai tertangkap?”

“Malapetaka!”

“Kehancuran!”

“Akhir dari segalanya!”

Sesaat kemudian, keadaan menjadi hening. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka mulut. Masing-masing dari mereka sibuk dengan pikirannya. Saat keheningan terasa semakin tidak nyaman, Jong-in memutuskan untuk berbicara.

“Kita harus melindunginya,” potong Jong-in, “Kembalikan dia ke rumahnya dan setelah dua tahun, bawa dia kembali ke sini. Hanya sampai perjanjian gencatan senjata dengan para pemburu selesai.”

“Aku setuju,” Baek-hyun berucap sambil mengangguk-anggukan kepalanya, “Biar aku yang menjadi gurdian untuknya selama dia ada di luar area perlindungan.” Usulnya.

“Berarti sudah diputuskan. Kita akan mengembalikan gadis ini,” Ujar Suho,  “Sehun-ah, bisakan kau melakukan tugasmu?”

Sehun mengangguk, dia menyentuhkan kembali tangannya pada kening gadis itu, lalu menariknya kembali, “Setelah ini, dia tidak akan mengingat apapun.”

“Aku dan Baek-hyun akan mengembalikan gadis ini. Ya, bagaimanapun kita yang menyebabkan dia tidak sadar seperti ini.” Ucap Chan-yeol. Nada penyesalan tergambar dalam perkataanya. Yang lainnya hanya mengangguk setuju.

Jong-in tidak berkomentar apapun. Bahkan saat Chan-yeol  mengangkat tubuh gadis itu, dia masih tetap diam. Entah kenapa, dia tidak mau gadis itu pergi dari tempat ini. Entah kenapa meskipun dia tahu bahwa semua itu dilakukan untuk melindungi gadis itu, sesuatu dalam hatinya berteriak untuk tetap membiarkan gadis itu ada di sini. Di sisinya. Dan dengan semua pikiran membingungkan yang dirasakannya, dia menghela nafasnya dengan berat.

Jong-in menoleh ketika merasakan sesorang memegang bahunya. Mendapati Suho yang sedang menatapnya,”Jangan cemas. Dia akan baik-baik saja,” Suho menyunggingkan senyum, “Lagi pula kita akan bertemu dengan dia lagi, benarkan?”

Jong-in mengangguk, “Ya, kita akan bertemu dengannya lagi.” Ucapnya, membalas senyuman Suho dengan tulus.

 

-TBC-

Author note~

Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih pada admin yang sudah membiarkan FFku di publish di sini. Anyway, ini FF pertamaku di blog ini. Mungkin prolognya agak membingungkan, tapi aku akan menjelaskan sedikit demi sedikit tentang makhluk seperti apa Mutans itu di part selanjutnya. Untuk itu, aku mengharapkan apresiasi dari kalian semua. Aku harap kalian semua menyukai ceritanya. Jeongmal Ghamsahamnida~

^O^

 

 

 

 

 

 

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] HAVOCH (Prolog)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] H A V O C (Chapter 4) | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s