[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 11)

poster-secret-wife4

Tittle             : SECRET WIFE

Author         : Dwi Lestari

Genre           : Romance, Friendship, Marriage Life

Length          : Chaptered

Rating          : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer           : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note        : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

 

 

 

Chapter 11 (Fashion Show)

 

Mobil hitam itu berhenti tepat di jalan depan kediaman keluarga Kim. Di dalam mobil tersebut terdapat Chanyeol yang duduk di bangku kemudi dan Junghae disebelahnya.

Gomawo oppa, sudah mengantarku. Kau mau mampir?”, tawar Junghae.

“Kau bercanda?”, jawab Chanyeol.

“Siapa tahu saja”, Junghae tersenyum kemudian.

“Lain kali saja. Masuklah, ini sudah malam”, perintah Chanyeol.

Junghae mengangguk. Dia segera membuka pintu mobil Chanyeol, namun dia tak kunjung keluar. Dia terlihat memikirkan sesuatu.

Waeyo?”, tanya Chanyeol yang melihat Junghae tak kunjung keluar.

Junghae tersenyum dan menatap lekat Chanyeol. Memajukan wajahnya menghapus jarak diantara mereka. Semakin dekat dan dekat, hingga chu. Junghae mencium singkat bibir Chanyeol. “Gomawo untuk semuanya, oppa”, Junghae segera keluar dari mobil tanpa memperdulikan raut wajah Chanyeol yang terlihat kaget. Junghae melambaikan tangannya setelah menutup pintu mobil. “Hati-hati oppa”.

Chanyeol tersenyum setelah sadar dari rasa terkejutnya. Dia membalas lambaian tangan Junghae, menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melajukan mobilnya. Meninggalkan Junghae yang masih menatap ke arah kepergian mobilnya.

Junghae membuang nafas lega setelah melihat mobil Chanyeol yang menghilang ditikungan jalan. Dia merasa sedikit lelah hari itu, dan memutuskan untuk segera masuk rumahnya. Saat memasuki rumah dia disambut oleh pelayan Song.

“Nona Junghae sudah pulang. Apa anda sudah makan?”, tanya pelayan Song.

“Aku sudah makan ahjumma. Ah, bisakah ahjumma menyiapkan air hangat untukku. Aku ingin berendam”, jawab Junghae.

Ne”, pelayan Song membungkuk hormat sebelum meninggalkan Junghae.

Junghae beralih ke dapur, karena merasa tenggorokannya sedikit kering. Dia bertemu Jongin disana. “Kau baru pulang?”, tanya Jongin yang tengah menuangkan jus ke dalam gelas.

Ne. Dimana semua orang, kenapa sepi sekali?”, tanya Junghae yang berjalan menuju kulkas. Mengambil sebotol air mineral.

“Jungra ke Jeju untuk melihat pembuatan film barunya. Appa dan eomma ke Busan mengunjungi halmoni”, jawab Jongin. Dia kemudian meneguk jusnya.

“Pantas saja, sepi”, Junghae kembali menutup kulkas setelah minum. Dia bermaksud menuju kamarnya untuk berendam, “Aku ke kamar dulu oppa”.

“Tunggu!”.

Junghae menghentikan langkah kakinya, dan berbalik menatap Jongin. “Waeyo?”, tanyanya kemudian.

“Bukankah tadi mobil Chanyeol hyung?”.

Dia ketahuan, batin Junghae. Junghae kemudian menggangguk, “Dia mengantarku pulang!”.

“Bagaimana bisa? Atau kau dan dia…”, belum sempat dia melanjutkan kalimatnya, Junghae sudah menyelanya.

“Ini tak seperti yang kau pikirkan oppa. Kau tahukan jika fashion showku di hotelnya, tadi aku hanya memeriksa tempat, dia mengajakku makan malam. Dan karena tak tega melihatku pulang sendirian jadi dia mengantarku”, bohong Junghae. Ah, tapi tak sepenuhnya dia berbohong.

Jongin hanya menggangguk, seolah dia percaya. “Kalau kalian memang berkencan juga tak apa-apa. Lagipula kalian sama-sama tak memiliki kekasih. Ah, aku lupa, kau kan kekasihnya Sehun”.

Op~pa…”, Junghae terlihat protes. “Ah, molla. Aku mau ke kamar”, Junghae kemudian berjalan meninggalkan Jongin, sebelum dia ditanya macam-macam. Jongin hanya tersenyum melihat tingkah adiknya. Dia tahu jika Junghae hanya berusaha menghindarinya.

 

***

 

Hari ini seperti biasa Junghae berangkat ke kantornya. Ini hari ketiga semenjak kedatangannya dari Amerika. Sepertinya suasana hatinya sedang bagus, terlihat saat dia tersenyum ramah pada setiap karyawan yang ditemuinya sepanjang perjalanannya menuju ruangnya. Di meletakkan tasnya di meja saat sampai di ruangnya. Menarik kursi dan menghidupkan laptopnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa jadwal sang CEO. Tidak ada yang spesial, hanya ada meeting jam sebelas di Gaya Hotel dengan pemilik Haide Indusrty Group, Zhang Yi Xing.

“Zhang Yi Xing? Sepertinya nama itu tak asing”, Junghae berkata pada dirinya sendiri. Tapi setelah ia fikir, dia tak mengingat siapa pemilik nama itu. Mungkin hanya perasaannya saja dia mengenal nama itu. Dia kembali memeriksa beberapa laporan yang perlu diserahkan pada sang CEO.

Pintu ruangannya diketuk, dan terbuka di detik berikutnya. Junghae masih sibuk dengan beberapa berkasnya tanpa menoleh ke arah orang yang sudah berdiri didepannya. Orang itu hanya memandang lekat Junghae. Junghae terlihat begitu anggun hari itu. Dia juga melihat sesuatu yang berkilau melingkar indah di jari manisnya.

“Sekretaris Kim?”, sapa orang itu karena Junghae tak kunjung melihatnya.

Merasa namanya dipanggil Junghae melihat ke arah suara. Awalnya dia terkejut melihat siapa yang datang, namun dia berusaha bersikap senormal mungkin. “Ah, Manajer Jeon. Ada apa?”, tanyanya yang terlihat kikuk.

“Apa sajangnim sudah datang?”, tanya orang yang dipanggil Manajer Jeon oleh Junghae.

“Belum”, Junghae melirik jam tangannya sebentar. “Mungkin sebentar lagi”, lanjutnya. Dia benar-benar terlihat benar-benar canggung.

“Ini laporan tentang proyek baru di Jeju”, Manajer Jeon memberikan map pada Junghae. “Tolong sampaikan pada sajangnim, aku akan berangkat ke sana sekarang untuk memeriksanya perkembangannya”, lanjutnya.

Junghae menerima map itu. “Ne, akan aku sampaikan”, jawabnya.

“Aku permisi dulu”, Manajer Jeon menunduk hormat sebelum meninggalkan ruang Junghae.

Junghae hanya menatap dalam kepergian Manajer Jeon yang sudah menghilang dibalik pintu. “Kenapa aku masih canggung melihatnya. Lupakan Junghae! Kau harus merelakannya”, dia menyemangati dirinya sendiri. Junghae kembali menyibukan dirinya memeriksa berkas yang sempat tertunda tadi, sebelum di serahkan pada sang CEO.

Tak lama setelahnya pintunya kembali terbuka, namun yang datang kali ini adalah sang CEO yang sudah sejak tadi ditunggunya. “Selamat pagi”, sapa sang CEO pada Junghae.

“Selamat pagi sajangnim”, jawab Junghae dengan senyum manisnya, dia bahkan berdiri dan menunduk hormat padanya. Dia sengaja tak memanggilnya oppa, karena dia sedang berada di kantor. Meskipun dia adalah kakaknya, tapi tetap saja dia juga CEO perusahannya, jadi dia harus bersikap layaknya pegawai kepada atasannya.

“Kau tahu, kau terlihat berbeda, Junghae”, kata sang CEO.

Ya, ini adalah pertemuan pertamanya dengan sang kakak semenjak kembalinya dia dari Amerika. Junghae menatap tak mengerti maksud pembicaraan kakaknya. “Maksud sajangnim?”, Junghae bahkan terlihat seperti gadis bodoh saat mengatakannya.

“Kau terlihat berbeda dari sebelumnya. Entahlah! Aku tak yakin, tapi kau memang benar-benar berbeda. Atau mungkin karena kita tak bertemu selama dua minggu”, jawab sang kakak. Bahkan kakaknya pun tak yakin dengan apa yang ia katakan.

“Mungkin saja”, jawab Junghae yang sebenarnya masih tak paham dengan apa yang dimaksud kakaknya.

“Ah, apa jadwalku hari ini?”, tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Junghae segera membuka catatannya. Dia memang sengaja memilih mencatat semua jadwal kakaknya di buku catatannya. “Ada meeting dengan pemilik Haide Industry Group jam sebelas nanti di Gaya Hotel”, jelas Junghae.

“Hanya itu”.

Junghae menggangguk.

“Baiklah! Kau harus menemaniku nanti”.

Ne”.

Kakaknya berniat memasuki ruangnya. Junghae yang teringat dengan pesan Manajer Jeon segera menghentikannya. “Tunggu”.

Kakaknya berhenti dan menoleh ke arah Junghae. Junghae segera mengambil map yang diberikan Manajer Jeon, berjalan kearah kakaknya dan menyodorkan map tersebut. “Ini laporan proyek baru di Jeju, Manajer Jeon yang menitipkannya. Dia berangkat kesana tadi untuk memeriksa perkembangannya”.

Kakaknya menerima map tersebut, lalu melanjutkan perjalananya menuju ruangnya.

 

***

 

Seperti yang diinginkan kakaknya, Junghae kini ikut menemaninya menuju Gaya Hotel. Dia kini tengah berada dalam perjalan menuju tempat diadakannya meeting.

“Bukankah fashion showmu di sana?”, tanya Jongdae yang duduk dibangku belakang samping Junghae.

Ne. Ini karena Kai oppa dan Baekhyun oppa tak memberiku tempat. Jungra eonni yang merekomendasikannya”, jelas Junghae.

Jongdae mengangguk paham mendengarnya. “Bagaimana persiapannya?”, tanyanya lagi.

“Sudah hampir selesai, hanya tinggal menghias tempat dan menunggu harinya. Kau harus datang oppa. Ah, jangan lupa ajak Ahna eonni juga”, Junghae berbicara banmal pada kakaknya.

“Tentu, dia pasti akan datang dengan senang hati. Kau tahu sendirikan jika dia penggemar beratmu”.

“Emh”, Junghae mengangguk paham.

“Berkunjunglah ke rumahku jika kau punya waktu luang. Ahna pasti akan sangat senang. Dia tak pernah berhenti mengoceh tentangmu. Dan juga dia begitu senang menjadi kakak iparmu”, Jongdae tersenyum saat mengatakannya. Teringat dengan tingkah istrinya yang tak pernah bosan membahas tentang adik bungsunya.

“Benarkah! Aku jadi malu”, Junghae memegang kedua pipinya. Dia sedikit tersipu mendengar penuturan kakak pertamanya.

Mobil yang membawa mereka kini telah berhenti di depan Gaya Hotel. Mereka berjalan pelan memasuki Hotel tersebut. Mereka bertemu Baekhyun di loby.

“Jongdae-ya”, teriak Baekhyun yang melihat Jongdae melintas.

Jongdae berhenti untuk melihat siapa yang memanggilnya. “Owh, Baekhyun-ah. Kau sudah sampai”, jawab Jongdae. Mereka saling memeluk layaknya sahabat, karena memang ini sudah lama sejak pertemuan terakhir mereka. Junghae hanya tersenyum melihat dua orang sepupu itu.

“Junghae-ya, kau juga datang?”, Baekhyun beralih mendekati Junghae dan mengacak halus rambutnya.

Yak, kau merusak tatanan rambutku, oppa”, protes Junghae yang berusaha menyingkirkan tangan Baekhyun dari kepalanya. Dia merapikan rambutnya kembali setelah Baekhyun melepaskan tangannya. “Baekhyun oppa, apa yang kau lakukan disini?”, tanya junghae pada Baekhyun.

“Kau tak tahu? Aku juga ada meeting dengan pemilik Haide Industry Group”, jawab Baekhyun.

Ne~”, Junghae terlihat tak paham dengan maksud Baekhyun.

“Dia benar, Junghae-ya. Sebenarnya Chanyeol lah yang menjalin kerjasama ini. Kami hanya datang sebagai investor”, jelas Jongdae yang membuat adiknya mengangguk paham.

“Lalu kenapa oppa repot-repot mengajakku?”, Junghae kini beralih bertanya pada kakaknya.

“Karena aku akan mengenalkannya padamu. Dia selalu ingin tahu bagaimana rupa adik bungsuku”, jelas Jongdae dengan senyum di wajahnya.

Ye~”, kini Junghae begitu kaget mendengarnya.

“Apa benar dia bilang begitu?”, Baekhyun yang sedikit kaget kini bertanya.

Jongdae hanya menggangguk sebagai jawaban.

Baekhyun kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. “Ya, dia memang seperti itu. Dia pasti berharap jika adikmu benar-benar cantik”.

“Dia memang mirip denganmu”, lanjut Jongdae.

“Lalu kenapa kau masih mau mengenalkannya?”, Baekhyun kini terlihat protes pada sepupunya itu.

Waeyo? Lagipula ini hanya kenalan Baekhyun, tak ada salahnya kan. Dan juga dia sudah memiliki istri. Ah, bahkan dia sudah memiliki putra”, kata Jongdae lagi.

Junghae hanya bisa diam menyaksikan adu mulut kakak dan sepupunya itu. Dia bergumam dan menggelengkan kepala melihatnya. “Apa kalian sudah selesai. Bukankah meeting akan dimulai sebentar lagi”, sela Junghae.

“Kau benar sayang. Ayo, mereka pasti sudah menunggu”, ajak Baekhyun.

Mereka segera menuju lift yang akan membawa mereka ke ruang meeting. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit mereka sampai ditempat tujuan.

 

 

“Jadi kalian sudah saling mengenal”, tanya Jongdae.

Mereka memutuskan makan siang bersama setelah meeting selesai. Dan yang membuatnya sedikit terkejut adalah kenyataan bahwa adiknya telah mengenal baik sahabat sewaktu SMA-nya dulu.

“Ya, begitulah! Dulu dia masih sekecil ini, dan sekarang lihatlah dia benar-benar telah menjadi seorang gadis”, jelas Zhan Yi Xing. Dia bahkan menggunakan tangannya untuk menunjukan tinggi tubuh Junghae. Zhang Yi Xing mengenal Junghae saat dia masuk ke salah satu universitas di California. Dia tinggal dekat rumah Junghae. Dia cukup baik megenalnya dan juga keluarganya.

“Tentu saja tuan Zhang, kita bertemu sebelum aku masuk SMA. Hei, tapi aku tak sekecil itu”, bantah Junghae yang tak terima dituduh kecil.

Jongdae mengangguk paham. Dia kembali memakan makanannya. Baekhyun yang duduk di depan Zhang Yi Xing terlihat tenang menikmati makanannya, tak seperti biasanya yang akan selalu cerewet jika sudah berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Di sampingnya terdapat Chanyeol yang juga terlihat tenang menyantap makanannya. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Junghae yang duduk tepat di depannya.

“Apa kau sudah memiliki kekasih?”, tanya Yi Xing sambil berbisik. Mereka memang duduk bersebelahan jadi mereka dengan mudahnya saling berbisik.

“Kenapa memangnya?”, Junghae kini balik bertanya.

“Kau mau aku kenalkan dengan tamanku?”, Yi Xing kembali berbisik.

“Apa dia tampan?”, Junghae juga ikut berbisik. Dia tahu jika Zhang Yi Xing sedang menggodanya, karena itu dia juga berniat menanggapinya.

“Tentu saja. Dia yang paling tampan diantara teman-temanku”, kata Yixing kembali. Mereka masih berbisik saat mengatakannya.

“Kau yakin Mr Zhang?”, jawab Junghae. Dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.

“Sangat! Dia bahkan menjadi pewaris tunggal hotel ternama. Sebenarnya dia berniat menikahi kekasihnya, hanya saja ibunya tak merestuinya. Dan dia terpaksa putus dengan kekasihnya saat ibunya jatuh sakit. Dia sangat berbakti pada orang tuanya. Bukankah dia keren!”, kata Yi Xing dengan tangan yang menghalangi mulutnya, agar hanya Junghae yang mendengar suaranya. Dia lalu kembali memakan makanannya.

“Sepertinya aku pernah dengar kisah itu”, kata Junghae yang juga ikut berbisik.

“Tentu saja! Dia ada dihadapanmu sekarang”, jawan Yi Xing.

Ye~”, Junghae begitu terkejut mendengarnya. Dia lalu menatap namja yang dimaksud Yi Xing. ‘Kalau kau tahu seperti apa hubungan kami sebenarnya, kau tak perlu memperkenalkannya Mr Zhang’, batin Junghae. “Aku sudah mengenalnya Mr Zhang”, jawab Junghae dengan nada sedikit keras hingga dapat di dengar mereka semua.

Jongdae dan Chanyeol hanya saling menatap, tak paham dengan pembicaraan mereka. Baekhyun sedikit tak nyaman dengan tingkah mereka berdua. Dia memilih bertanya untuk mengusir rasa penasarannya, “Apa yang kalian bicarakan, sebenarnya?”.

Aniyo. Jangan pedulikan! Aku hanya berniat menggodanya”, jelas Yi Xing. Dia tersenyum ke arah Junghae.

“Hah”, raut wajah Baekhyun terlihat aneh saat mendengarnya. Dia sedikit menyesal karena sudah bertanya. Pasalnya temannya yang satu itu memang mirip dengannya. Suka merayu seorang wanita.

“Bagaimana menurutmu nona Kim?”, Yi Xing kembali berbisik pada Junghae.

“Apa aku terlihat cocok dengannya?”, Junghae masih menanggapi pertanyaan konyol Yi Xing. Dia juga ikut berbisik saat mengatakannya.

Yi Xing manatap Junghae dari atas hingga bawah, lalu beralih menatap namja yang dimaksudnya. “Ya, sangat. Kalian benar-benar terlihat sangat serasi”, bisiknya kembali.

“Baiklah! Akan aku pertimbangkan”, jawab Junghae enteng. Kali ini dia tak berbisik saat mengatakannya. Dan dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.

Jongdae, Chanyeol, dan Baekhyun menoleh ke arah Junghae. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan. Mereka terlihat penasaran, namun karena dua orang itu terlihat begitu menikmati makanannya dan tak mau membaginya, mereka memilih diam dan menikmati makanan yang tersaji di depan mereka.

“Aku dengar kau sudah memiliki seorang putra?”, tanya Jongdae memulai pembicaraannya. Karena memang mereka diam sedari tadi.

“Ya, itulah kenapa aku tak bisa hadir di pernikahanmu. Aku harus menemani istriku yang sedang dalam masa persalinan”, jawab Yi Xing. Dia memang tak menghadiri pernikahan Jongdae beberapa waktu lalu. “Ah, kalian berdua harus melihatnya. Dia sangat tampan, bahkan lebih tampan dariku”, Yi Xing menunjuk ke arah Jongdae dan Baekhyun.

“Kami berdua! Lalu dia?”, Baekhyun menunjuk ke arah Chanyeol.

Chanyeol yang tahu dirinya ditunjuk, dia ikut bersuara. “Aku sudah melihatnya, lusa kemarin saat aku melihat proyek baruku di Beijing. Putranya benar-benar tampan”.

“Kau juga harus melihatnya nona Kim”, Yi Xing menyiku lengan Junghae.

“Aku tak janji”, jawab Junghae ringan. Ponselnya berbunyi tanda ada panggilan masuk.

Dia menyerngitkan alisnya saat melihat nama yang tertera dalam layar ponselnya. “Hello Mom, What happen?”, sapanya setelah menekan tombol hijau dilayar ponselnya.

What?”, dia berteriak cukup keras hingga membuat semua orang menoleh kearahnya. “Okay, aku akan menjemputmu”. Dia mematikan sambungan telfonnya.

Waeyo, apa terjadi sesuatu?”, tanya Jongdae dengan nada khawatirnya.

Junghae tersenyum, dia tahu sudah mengundang perhatian mereka karena teriakannya tadi. “Aniyo. Hanya saja aku terlalu kaget, Momy and Dady sudah tiba di Incheon Airport. Seharusnya mereka tiba besok siang”, jelas Junghae.

Jongdae kembali menggangguk paham pernyataan Junghae.

“Sepertinya aku harus pergi. Aku harus menjemput mereka. Ah, Mr Zhang kau harus hadir di fashion showku. Jangan lupa malam tahun baru nanti. Annyeong”, Junghae segera berdiri, mengambil tas dan menunduk hormat sebelum meninggalkan mereka.

 

***

 

Hari ini adalah hari yang dinantikan Junghae. Hari dimana fashion show pertamanya di Korea digelar. Dia kembali memeriksa riasan wajahnya. Seperti yang diinginkannya, sederhana dan terkesan natural. Dia tersenyum menatap bayangan seseorang di cerminnya yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakangnya. Junghae berdiri, berjalan menghampiri orang tersebut.

Oppa”, sapanya. Junghae mengecup singkat bibir orang yang dipanggil oppa olehnya.

Namja itu sudah rapi dengan jas diberikannya tempo hari. Ya, Junghae memilih menginap di salah satu kamar hotel, tempatnya mengadakan fashion sahow. Dengan alasan tentunya untuk memastikan semuanya berjalan lancar.

Ada raut kesedihan di wajah Junghae. Namja itu menyadarinya, dia mengusap pelan rambut Junghae lalu mengangkat wajah Junghae. “Waeyo? Apa ada masalah?”, tanya namja itu setelah menatap dalam mata Junghae.

Junghae menggeleng sebagai jawaban. “Aku hanya merasa gugup tiba-tiba”.

Namja itu beralih memegang kedua sisi kepala Junghae, mendekatkannya, dan mengecup lembut keningnya, hingga membuat Junghae memejamkan matanya. Seperti sihir, rasa gugup Junghae hilang begitu saja. Junghae kembali membuka mata setelah namja itu melepas kecupannya. Mereka saling menatap, tatapan yang sulit diartikan.

Tangan namja itu kemabali turun hingga memegang pipi Junghae. Mereka masih saling menatap, mendekatkan wajahnya. Junghae kembali menutup matanya. Sebuah material lembut menyetuh bibirnya. Ya, ciuman itu kini turun ke bibirnya. Namja itu melumat lembut, sangat lembut. Membuat Junghae melupakan semuanya, bahkan waktu seolah berhenti untuknya. Dia sangat menikmatinya, dia bahkan membalas lumatan namja itu.

Junghae sedikit terengah saat namja itu melepas tautan bibirnya. Dia tersenyum dan memeluk erat namja itu, menyalurkan perasaan bahagianya. Namja itu membalas pelukan Junghae. Dia merasa sangat beruntung memiliki Junghae. Memiliki gadis yang sudah menyatukan kembali hatinya yang sempat hancur oleh keegoisan ibunya. Namja itu mengusap pelan rambut Junghae.

“Apa sudah lebih baik”, tanya namja itu.

Junghae melepaskan pelukannya. Mengangguk dengan senyum mengembang diwajahnya.

 

 

Suara teriakan dan tepuk tangan terdengar setiap kali peraga busana keluar dengan langkah anggunnya. Suara jepretan kamera dengan lampu flashnya mendominasi tempat tersebut. Taman belakang hotel yang sudah disulap sedemikian apik itu kini penuh dengan tamu undangan. Pengadaan fashion show itu berjalan lancar sesuai keinginan. Sebagai penutup, Junghae berjalan anggun dari tempat para peraga busana muncul. Dengan busana yang tak kalah indah dengan peraga busana lain Junghae mendekati para model yang sudah berbaris rapi di panggung utama. Senyum manis terus mengembang di wajah cantiknya.

Junghae diberi microfon oleh pemandu acara untuk menyampaikan pidato singkatnya. “Selamat malam semua”, Junghae membuka pidatonya dengan menyapa semua orang yang hadir di tempat itu. Selanjutnya ucapan terima kasih pada semua pihak yang telah membantunya. Dan cerita sedikit kesusahannya mengadakan fashion show yang terbilang mendadak itu. Suara tepuk tangan terdengar setelah dia mengakhiri pidatonya.

Selanjutnya adalah acara hiburan. Beberapa penyanyi juga ia sewa untuk acara ini. Junghae kembali bergabung dengan tamu-tamu undangannya. Dia juga menyapa satu persatu undangan yang memberinya ucapan selamat atas suksesnnya terselenggaranya fashion shownya. Dia juga mempersilahkan tamu undangannya menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan. Dia begitu bahagia acaranya berjalan sukses.

Seorang namja kini berjalan mendekatinya. “Congratulation Alice”, katanya menyapa Junghae.

Junghae menoleh, dia tersenyum melihatnya. “Thank you, Oppa”, Junghae mencium pipi kanan dan pipi kiri namja itu.

You look’s beautiful”, kata namja itu kembali.

Thanks”, rona merah kini menghiasi pipi Junghae.

“Aku tak melihat ommonim, dimana dia?”.

“Disana, bersama eomma dan appa”, Junghae menunjuk ke arah Park ahjumma yang tengah mengobrol dengan kedua orang tuanya.

“Aku akan kesana sebentar”, pamit namja itu. Junghae mengangguk.

“Junghae-ya. Selamat ya”, kini kakak iparnya berjalan mendekatinya bersama sang kakak. “Aku selalu berharap bisa mendatangi fashion showmu. Dan hari ini semua impianku terwujud”.

Junghae mencium kedua pipi kakak iparnya, begitu juga dengan kakak pertamanya. “Terima kasih eonni”, kata Junghae setelahnya. “Apa aku sudah akan dapat keponakan?”, kata Junghae yang bermaksud menggoda kakak iparnya.

“Tunggu saja. Aku juga berharap akan segera ada”, kakak iparnya mengusap lembut perutnya sendiri.

Oppa, kau harus sering-sering membuatnya”, kata Junghae dengan tampang polosnya pada kakak pertamanya

Jongdae yang mendengarnya mendorong pelan kepala adiknya dengan jari telunjuknya. “Dasar”, umpatnya.

Yak”, protes Junghae. Mereka tertawa setelahnya.

Mereka kemudian memutuskan untuk bergabung dengan orang tuanya. Disana ada kedua orang tua kandung dan orang tua angkat Junghae. Dia berjalan menghampiri ibu angkatnya, memeluk manja padanya. “Thank you so much, Mom”, Junghae mencium singkat pipi ibu angkatnya.

“Sama-sama, darling”, jawab sang ibu yang mengusap lembut rambut putrinya.

Mereka semua memberi selamat pada Junghae, setelahnya mereka mengobrol ringan.

Chanyeol tak pernah berhenti memandang sang pemilik acara. Dia kini meneguk segelas wine yang diambilnya dari meja saji. Dia bahkan tak sadar jika seseorang tengah mengawasinya. Seseorang yang juga mengawasinya saat dia dan pemilik acara tengah makan malam tempo hari.

‘Bagaimana bisa mereka menjaga rahasia itu?’, tanya orang itu pada dirinya sendiri. Orang itu juga dapat melihat cincin yang melingkar manis ditangan Chanyeol. ‘Dan untuk apa mereka merahasiakannya? Aku yakin keluarga mereka akan menerimanya’, orang itu kembali bergumam dalam hatinya. Dia juga kembali meneguk wine yang ada ditangannya.

Sehun berjalan pelan menuju tempat Chanyeol, dia menyiku pelan lengan sepupu yang sudah ia anggap sebagai kakaknya. “Hyung, kau sedang melihat apa?”, tanyanya. Dia melihat kearah pandangan Chanyeol. Dia dapat melihat keluarga Junghae yang tengan mengobrol. Dia juga memperhatikan penampilan. Dia merasa pernah melihat, jas yang dipakai Chanyeol. ‘Bukankah ini buatan Junghae?’, batinnya. Dia sangat yakin. ‘Jadi itu untuknya. Sebenarnya hubungan apa yang mereka miliki’, Sehun begitu penasaran.

“Bukankah mereka terlihat bahagia! Mereka memiliki keluarga yang saling mendukung”, jawab Chanyeol kemudian. Dia baru menanggapipertanyaan Sehun.

“Ya, mereka memang sangat kompak”, Sehun mengangguk setuju. “Apa ada yang mengganggu pikiranmu hyung?”, tanya Sehun kembali yang melihat raut sedih di wajah tampan kakaknya.

“Banyak. Kau salah satunya”, Chanyeol kini menatap Sehun.

Sehun terdiam, dia bertanya-tanya apa yang membuatnya menjadi pengganggu pikiran kakaknya.

“Kau meninggalkanku sendiri disini. Kau tahu betapa frustasinya diriku, setiap ada masalah. Biasanya kau yang akan selalu datang menghiburku, tapi kini!”, Chanyeol dia sejenak, “Kenapa kau tak tinggal kembali saja disini!”, pintanya.

Sehun menepuk-nepuk pelan pungggung kakaknya. “Sebegitu berartikah diriku?”, godanya.

“Tentu saja. Hanya kau satu-satunya saudara yang aku miliki, Sehun”. Itu memang salah satunya, tapi bukan itu sebenarnya, dia hanya khawatir jika adiknya itu benar-benar jatuh cinta pada istrinya.

“Ah, aku jadi tersanjung”. Sehun tersenyum, yang diikuti oleh Chanyeol. Sehun memang menjadi salah satu obat saat hati Chanyeol terluka. Melihat senyum itu, hatinya merasa sedikit lega.

Acara itu tetap berlangsung hingga suara terompet tanda pergantian tahun berbunyi. Semua sangat menikmati pesta itu. Mereka juga menyalakan beberapa kembang api, untuk menghiasi langit malam itu.

to be continue…….

 

Hai hai, saya balik lagi dengan chapter 11.

Kenapa saya rasa semakin saya menulis, semakin tak menarik. Saya sudah baca berulang-ulang, sudah edit sana sini tapi tetep saja tak dapat feelnya.

Semoga saja kalian tetap suka. Thanks ya….

21 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] SECRET WIFE (Chapter 11)

  1. Dapet kok thor feel nyaaa ,, terus lanjutin dan jangan kelamaan update nya yaaa udah gak sabar nunggu lanjutan nya .. Kapan sih chanyeol sama junghae ngumumin status nya ?? penasaran parah 😀

  2. mellttinngggg akuuuh~
    ah junghae ama ceye soswit beuuddd..
    kapan ya mereka bilang “sebenarnya kami sudah menikah.” gtuu^^
    sapose yang udah tau ttg junghae sama ceye..
    kak tariii ayo cepat diungkap semuanyaaa:*

    next part nyaa kak.. i’m waiting for youuuuu kak:*^^ wkwkwk

    • mereka mang so sweet….
      aku tak yakin kapan…
      tapi mungkin jika mereka dan mengungkapnya, ff ini akan berakhir…

      thanks banget ya… 🙂 🙂 🙂

  3. Gk sengaja nemu ff ini waktu searching ff. Eh….. ternyata udah update.
    Wahhh….. makin sweet aja nih chan-hae.
    Junghae nyuruh jongdae punya anak.
    Junghae Kpn punya anaknya???? Kan udah nikah. Klo junghae yg hamil gmn ya???
    *(Nikah aja masih rahasia2an. Mlh ditanya anak) hehe….
    Mnrtku, Ini menarik kok eonni. Sangat menarik.

    Semangat eonni…
    Lanjut teruuusss……

  4. ya ampun chanyeol sama junghae sweet banget, cepet lah kalian umumin kalau kalian udah nikah pasti semuanya setuju ko.. percaya deh sama aku he he..
    next chapter selanjutnya ya aku tunggu jngan lama2 update nya!!

    • iya, terima kasih…… akan aku usahakan sampai tuntas nanti……..
      mang bang Sehun disini radak nyebelin, hahaha… maaf ya, namanya juga ff……. dan ini memang sengaja tak saya buat seperti sifat asli mereka….

      sekali lagi thanks ya.. 🙂 🙂 🙂

  5. Baru buka eh udah di update ternyata tapi kok dijudulnya chap 4?? apa aki yanh salah liat
    Ternyata bukan sehun, lalu siapa?
    jongin??
    cepet diumumin dong kalo udah nikah kan lebih enak gak main sembunyi sembunyian gini hehehe tapi gak papa deh suka sama moment mereka berdua makin so sweet
    Lanjut ya kak
    Fighting

    • iya, ini memang salah, seharusnya chapter 11…
      aku dah minta perbaikan ma adminnya… tunggu saja…

      ya, memang bukan Sehun… Sehun kan masih di Amerika waktu itu….
      bang CY nya belum nemu timing yang pas mungkin…

      Ditunggu saja…
      thanks ya… 🙂 🙂 🙂

  6. Gemes deh sama chanyeol. Bener tuh, ngapain disembunyiin. Toh keluarga mereka bakalan setuju, tapi kayanya sehun engga.
    Gemes banget sama ff ini kaaa. Jangan lama lama updatenya yaa hehehe 😁😁😁😁💪💪💪💪

    • iya sich, tapi bang CY nya kan belum nemu timing yang pas…
      jika misalnya dia tiba-tiba bilang ibunya kalau sudah nikah, bagaimana jika penyakit jantung ibunya kambuh… jadi tambah masalah… hahaha…

      aku gak janji bakalan cepat… tapi tetap aku usahakan…
      thanks ya…. 🙂 🙂 🙂

  7. Uhh makin romantis aja yah ChanHae.
    Siapa sih yang mengawasi ChanHae?? Apa itu Jungkook?? Ah molla…
    Di tunggu next chap nya thor. Keep writing yaa thor.

    • iya, ini memang salah… padahal dikolom updates dah benar chapter 11
      aku sudah minta adminnya buat ganti…
      ditunggu saja……
      thanks ya… 🙂 🙂 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s