[EXOFFI FACEBOOK] My Style Love is You! [Chapter 1]

10464161_703507269766660_7127036523480558666_n

 

My Style Love is You! [Chapter 1]

Author : BARLEEY | Main Cast : Wu Yi Fan | Oh Sera [OC/YOU] | Park Chanyeol | Oh Sehun |

Genre : Romance, Sad, Accident, Hurt and other.

Rate-17

WP :

https://dederahmaaldany.wordpress.com/

Prolog :

https://www.facebook.com/notes/exo-fanfiction/member-my-style-love-is-you-prolog-barleey/695013560616031

[Chapter 1]

Happy Reading

Author POV

Alunan music yang dimainkan oleh Dj menyeruak kesegala penjuru ruangan nan gelap, namun dihiasi dengan lampu disco yang memancarkan beraneka ragam warna menyorot sudut demi sudut ruangan night club berkelas yang menjadi pilihan dari anak-anak kalangan atas di Seoul.

 

Ruangan yang menampung ratusan anak remaja itu, seakan bergemuruh meneriakkan suara-suara kebebasan. Sang penari berpakaian minim, seakan menjadi jantung dimalamnya para remaja. Hanyutnya dalam kesenangan membuat lupa akan segalanya. Music yang keras, minuman berakohol, hingga wanita-wanita penghibur lengkap menyatu didalamnya.

 

Sera. Ia cukup tercengang melihat keadaan didepan matanya. Ya, meskipun Sera sering mengelabuhi Sehun untuk keluar malam hanya untuk sekedar minum-minum. Tetapi, sungguh hal semacam ini bukanlah gaya hidupnya. Inilah dunia malam nan liar, yang belum pernah dirasakan Sera.

 

 

“Bagaimana? Apa kau menyukai tempat ini?” Ucap Chanyeol setelah meneguk habis minuman anggur yang ada didalam gelas kacanya. “Ayolah sayang, kenapa wajahmu selugu itu” Memegang dagu Sera lalu mengedipkan sebelah matanya.

 

“O-oh? Tentu. Ini luar biasa” Sera tersenyum sekilas, namun kembali memperhatikan sekitarnya. Mata Sera mulai terfokus pada penari-penari wanita berpakaian minim. Sungguh memualkan bagi Sera melihat keadaan para penari itu. “Kau senang dengan lingkungan yang seperti ini?” Nada suara Sera terdengar ketus, membuat Chanyeol memandanginya cukup lama. “Maksudku, melihat gadis-gadis itu?” Menunjuk kearah yang dimaksud dengan dagunya.

 

Chanyeol melihat kearah yang ditunjuk Sera. Sebelum Chanyeol mendekap wajah Sera untuk melihat kearahnya, Chanyeol tersenyum meremehkan. ”Apa kau sedang memikirkan hal yang macam-macam, hm?” Tersenyum manis lalu melanjutkan, “Mereka—gadis-gadis dengan pakaian sexy dan bertubuh indah—tetapi sayang, tak membuatku tertarik sama sekali” Chanyeol mendekatkan wajahnya pada wajah Sera, dan kini jarak mereka hanya beberapa inci saja. “Kau tahu kenapa? Karena kau gadis yang kucintai”

 

Sera tersenyum malu, hingga merasakan pipinya mulai memanas akibat ucapan Chanyeol barusan. “Kau yakin? Tapi suara ditelefon tadi—”

 

Belum sampai Sera pada ucapannya, tetapi Chanyeol lebih dahulu memotongnya, “Apa perlu aku membuktikannya sekarang?” Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, sungguh pria itu membuat Sera ingin gila rasanya.

 

“Bukti?” Cukup lama memang bagi otak Sera untuk mencoba menebak bukti yang baru saja dikatakan Chanyeol. Apa mungkin Chanyeol menyuruh gadis yang suaranya ada didalam telefon tadi untuk berbicara dan menjelaskan semuanya pada Sera? Sepertinya..

 

Tanpa menjawab, Chanyeol langsung menarik tangan Sera. Membuat Sera kini semakin bingung, “Ya! Kemana kita?!” Pekik Sera namun tak digubris oleh Chanyeol, hingga rasanya sudah puluhan kali Sera bertanya, “Ya! Ya! Kau tak mendengarkanku huh?!”

 

Chanyeol mulai menghentikan langkahnya tepat didepan lift, lalu menatap Sera dengan wajah malas, “Kenapa kau sangat hobby berteriak hm?” Sera memajukan bibirnya akibat ucapan Chanyeol yang lagi-lagi membuatnya malu.

 

Ting!

 

Lift terbuka, membuat Chanyeol langsung menarik—kembali—tangan Sera untuk segera memasuki lift, sebelum lift itu kembali tertutup. Sera sedikit meringis akibat rasa sakit pada pergelangan tangannya yang dibuat oleh Chanyeol, “Kenapa kau sangat hobby menarikku, huh?” Sera memutarkan bola matanya malas. Membuat Chanyeol terkekeh pelan akibat ekspresi wajah Sera yang menurutnya sangat lucu itu.

 

 

Dinding yang berwarna putih bersih dengan hiasan-hiasan ruangan yang klasik memberikan kesan mewah pada ruangan VIP itu. Disana, terdapat spingbad dengan ukuran king size dan selimut tebal diatasnya. Ya, ruangan VIP yang telah disediakan Chanyeol untuk dirinya dan juga sang kekasih.

 

“Hoah ruangan yang bagus! Bolehkah aku mengambil selfie disini?” Ucapnya pada Chanyeol yang kini sedang tersenyum lalu mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. “Ayo sayang, bergaya yang lucu” Ucapnya sambil menghadapkan ponselnya didepan wajah mereka.

 

“Ng.. Ah ya, kenapa kita kesini sayang?” Sungguh saat ini Sera tengah bingung dengan apa yang akan dilakukan Chanyeol. Bukankah Chanyeol bilang ia akan membuktikan sesuatu? Tetapi kenapa mereka berada disebuah ruangan yang lebih tepatnya dikatakan sebuah kamar? Sera mulai berjalan lebih dalam, memperhatikan ruangan yang mewah dan membuat siapa pun itu menjadi terkesima dan—nyaman.

 

Chanyeol berjalan mendekati Sera yang tengah berdiri sambil memperhatikan kamar. Chanyeol melingkarkan kedua tangannya dipinggang Sera yang ramping, membuat Sera sedikit terkejut, “Bukankah aku sudah bilang kita akan bersenang-senang?” Nafas Chanyeol memburu membuatnya mengenai kulit leher Sera. Hal itu sukses membuat Sera merinding geli.

 

Sungguh perlakuan Chanyeol membuat Sera serasa ingin kehabisan nafas. Bahkan sekarang jantungnya memompa lebih cepat dan rasanya ingin melompat dari tempatnya. “A-apa?” Gugup, ya itulah yang sedang menyelimuti hati seorang Oh Sera.

 

“Aku akan membuktikan jika kau adalah satu-satunya orang yang aku cintai” Chanyeol membalikkan tubuh Sera dengan sebelah tangannya membuat mereka kini saling berhadapan. Chanyeol tersenyum manis dan menatap manik mata Sera dalam-dalam.

 

“Apa yang akan kau lakukan Chanyeol-ah?” Sedikit memundurkan wajahnya dari wajah Chanyeol.

 

Mendengus, lalu tersenyum miring, “Ayolah Sera, menurut mu apa yang akan dilakukan pria normal sepertiku, jika berada dalam keadaan seperti ini bersama gadis semenarik mu, hm?” Chanyeol mulai mendekatkan wajahnya pada Sera, matanya mulai tertutup dengan nafas yang terus memburu.

 

‘Apa Chanyeol akan?—Ah, tidak, aku belum siap untuk melakukannya’

 

 

 

Sera mengedarkan pandangannya kesegala arah mencoba mengalihkan keadaan, “O-oh, kenapa pemandangan dari sini begitu indah?” Sera berjalan kearah jendela lalu mengabaikan Chanyeol begitu saja. Sungguh, Sera kehilangan akal untuk menolak keinginan Chanyeol. Kini ia menggigiti bibir bawahnya akibat rasa takut yang mulai menjalar.

 

Sebelum Chanyeol mendekat kearah Sera, ia sempat menyunggingkan senyum yang terkesan misterius. “Ya, indah sepertimu” Ucap Chanyeol pelan. Entah kenapa suaranya yang berat terdengar begitu lembut ditelinga Sera. Chanyeol menggenggam lembut tangan Sera lalu mengecupnya sekilas.

 

Sera tersenyum malu, hingga merasakan kedua pipinya mulai memanas. Sungguh perlakuan Chanyeol benar-benar membuatnya ingin kehabisan nafas.

 

Chanyeol mulai mendekatkan wajahnya kembali dan mulai menutup kedua matanya. ‘Sekarang apa lagi Tuhan?’

 

Drrt.. Drrt..

 

Sera tersentak karena getaran yang ada didalam saku roknya, “Hm.. Chanyeol, ponselku bergetar sepertinya seseorang sedang menelefon” Ucap Sera dengan senyum nyinyir membuat Chanyeol mendesah pelan. Sungguh Sera akan berterima kasih kepada orang yang sedang menelefonnya saat itu “Aku akan mengangkatnya dulu” Sera mulai menjauhkan jarak dari Chanyeol, dan duduk diatas kasur king size yang tersedia disana.

 

Mengeluarkan ponsel dari saku roknya lalu melihat nama yang tertera dilayar touchscreen itu, “Yifan?” Lalu memutar bola matanya malas, ‘Ck, baiklah terima kasih sudah menolongku. Tapi aku benar-benar tidak akan memaafkanmu. Ya, keselamatanku sekarang lebih penting’ gumamnya dan mulai menggeser symbol hijau—tombol angkat—lalu mendekatan ketelinganya.

 

“Yeobboseo?”

 

“Hm.. Sera-ya maaf atas—“

 

“Eo? Benarkah? Baiklah, aku akan pulang sekarang” Ucap Sera dengan berteriak, bermaksud agar Chanyeol mendengar percakapannya.

 

“Apa yang kau bicarakan?”

 

“Kau tenanglah, aku akan segera kesana”

 

“Sera kau sedang bicara padaku,‘kan?”

 

“Kenapa kau begitu cerewet, huh? Baiklah, ku tutup”

 

Flip. Sera memutuskan sambungan telefon secara sepihak. Setelah itu, Sera kembali keposisi awalnya—berdiri didepan Chanyeol—yang sedang memasang wajah datarnya.

 

“Aku harus pulang, Sehun benar-benar sedang murka” Sera menundukkan wajahnya, seperti menunjukkan ketidak tegaannya. Tentu saja ia berbohong, lebih tepatnya ber-acting didepan kekasihnya itu. Lalu menatap mata Chanyeol, “Maaf..” Sedikit berjinjit untuk mencium pipi Chanyeol sekilas.

 

Namun ekspresi yang ditunjukkan Chanyeol masih sama seperti tadi, menatap kedepan tanpa melihat Sera sedikitpun. Marah, ya tentu Chanyeol sangat marah saat ini pada Sera. Bahkan semuanya sudah disiapkan Chanyeol sebelumnya. Tapi sekarang hancur berantakan dan tak sesuai dengan keinginannya.

 

Tanpa menunggu jawaban dari Chanyeol, Sera segera mengambil langkah untuk pergi. Karena Sera fikir, jika menunggu jawaban Chanyeol pasti akan percuma. Chanyeol pasti tidak akan menjawab sampai sungai Han pun menjadi kering. Chanyeol akan tetap diam karena rasa marahnya.

 

Kini Chanyeol menatap kepergian Sera dalam diam. “Sial!” Memukul dinding cukup keras lalu mengacak rambut saking kesalnya. “Apa kau tidak tahu sewanya begitu mahal?!”

 

 

Sungguh saat ini Sera sedang dilanda kekacauan pada dirinya. Disatu sisi ia tak tega harus menolak keinginan Chanyeol, tetapi disisi lain, ia tak mungkin harus melakukan ‘hal itu’ bias-bisa Sehun akan menggantungnya didalam kamar.

 

Dan, Sera yakin Chanyeol benar-benar tidak akan memaafkannya. Dan kalian tahu? Jika seorang Park Chanyeol sudah marah? Ia tak akan berkata sepatah katapun hingga keinginnnya itu dikabulkan.

 

‘Haish, bagaimana ini? Apa aku harus menuruti keinginannya?’

 

‘Tapi, bukan sekarang! Sungguh aku belum siap untuk melakukannya’

 

Tatapan Sera menjadi kosong. Ia takut Chanyeol akan meninggalkannya, sungguh sangat takut kehilangan kekasih seperti Chanyeol—pria idamannya—dari 2 tahun lalu. Dan ketika ia sudah mendapatkannya, ia mensia-siakannya begitu saja. Sera benar-benar kehilangan akal saat ini.

 

Biasanya disaat Sera dalam keadaan seperti ini, ada Yifan yang selalu memberi saran dan masukan untuknya. Tetapi sekarang Sera tak bisa, ia tak mungkin memintai pendapat pada Yifan yang jelas-jelas ia sudah berjanji tidak akan memaafkannya apa lagi melihat wajahnya lagi.

 

Dan, tak terasa setetes cairan bening meluncur mulus dari sudut matanya..

 

Noona, anda sudah sampai” Ucap supir taxi yang ditumpangi Sera. Membuat Sera langsung menghapus air matanya.

 

 

Sera melihat argo meter yang terdapat diatas tape taxi itu. “100 won?!!!” Pekiknya, bahkan matanya ikut membesar. Seberapa jauh jarak Club dengan rumahnya hingga bayarannya begitu mahal? Bukan karena perhitungan, tapi masalahnya dengan apa ia akan membayarnya?! Bahkan didalam rumahnya tak ada uang sepersen pun saat ini. Matilah kau Oh Sera.

 

Ng.. bagaimana ya?” Sera memijit pelipisnya lalu tersenyum nyinyir kearah supir taxi. Membuat supir taxi menjadi curiga padanya. “Aku.. aku tidak—“

 

“Heh Noona! Jangan bilang kau tidak mempunyai uang!!! Kau fikir enak menjadi supir taxi, huh?! Aku tidak mau tahu, kau harus tetap membayarnya dengan uang tunai!!!” Sungguh kata-kata sang supir membuat mata Sera langsung memanas. Sera paling benci jika ada seseorang yang merendahkannya terlebih lagi soal uang, demi apa pun Sera tak akan terima begitu saja.

 

“Heh supir, kau kira aku tidak mempunyai uang?! Begitu?!” Suara Sera tak kalah tinggi dibandingkan sang supir taxi, hingga tingginya 2 oktaf kurang setengah. “Aku ini orang kaya, kau tahu?!!” Berkacak pinggang lalu membuang muka.

 

Sang supir sedikit terkejut, lalu tersenyum ramah. “O-oh maaf Noona, aku fikir kau tak akan membayarnya karena sebelum ini ada yang tidak membayar sewanya. Hehe maafkan aku..” Supir membuang nafas pelan lalu melanjutkan, “Baiklah, sekarang mana bayarannya Noona?”

 

Shit!!! Sekarang apa yang harus Sera katakan?

 

 

Ng.. Tunggu! Ini bukan tempat yang aku maksud!” Ucap Sera sambil menatap rumah yang ada didepannya dengan tatapan bingung. Ya, tentu saja Sera berbohong. “Ya, benar.. ini bukan rumahku” Lalu tersenyum miring kearah sang supir.

 

“Eo? Benarkah?”

 

 

***

 

 

“Sera?”

 

“Kau jangan senang dulu, aku kesini karena kondisi yang mendesak” Ucap Sera ketus dengan tangan yang berlipat didepan dadanya. Namun bukannya kesal dengan ucapan Sera, Yifan malah tersenyum senang.

 

“Lalu apa?”

 

“Eng.. bisa aku pinjam uangmu dulu?” Masih dengan wajah yang sama, “Ini untuk membayar ongkos taxi-ku. Setelah itu aku tidak akan mencarimu lagi” Sera memutar bola matanya malas. Ini benar-benar memalukan..

 

“Aku tidak akan meminjamkannya jika kau tidak memaafkanku” Nada bicara Yifan terdengar sama dengan nada bicara Sera, membuat mulut Sera kini menganga seperti mengatakan ‘MWO?!’ 

 

Sera mengibaskan poninya, lalu mendesah berat. “Okay! Okay.. Sekarang mana uangnya?!” Menjulurkan tangannya didepan Yifan masih dengan tidak mau menatap Yifan. Namun, berbeda dengan yang difikirkan Sera, Yifan malah menarik tangan Sera untuk masuk kedalam kamarnya. “Yaa!!” Pekiknya.

 

“Kau tunggu disini, aku akan membayarnya”

 

 

“Ya!! Biar aku—“ Terlambat, Yifan sudah melangkah untuk keluar dari kamar apartementnya. Dan langsung menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras, “Ciih! Menyebalkan!”

 

Kini langkah Sera berjalan untuk lebih jauh keruangan itu. “Huh?! Pororo?!!” Senyumnya mengembang seiring melihat gambar yang keluar dari layar datar persegi panjang itu—TV—lalu segera mendekat dan mengambil posisi untuk duduk. “Kenapa ada Pororo malam-malam seperti ini, eo?” Lalu megangkat sedikit bahunya.

 

Sera mulai menikmati aksi yang dilakukan segerombolan anak binatang yang lucu itu. Hingga berkali-kali Sera tertawa karena tingkah yang lucu dilakukan pororo dan teman-temannya. Ya, begitulah Sera jika sudah menonton cartoon kesayangannya, lupa waktu hingga segalanya. Bahkan lupa jika saat ini ia sedang berada diapartement Yifan.

 

“Hoam..” Sera mulai menguap dan menutup mulutnya, lalu bergumam tak jelas, “Jarang-jarang stasiun TV menayangkan Pororo hingga 2 jam seperti ini” Sera sedikit berjalan untuk mengambil remot yang diletakkan disamping TV. “Eo? Jadi ini kaset? Haish, aku tak menyangka Yifan mempunyai kaset Pororo” Tertawa puas sambil mengambil remot, “Hoah!! Bahkan ini banyak!!! Ah, jinjja? Yifan mengoleksi kasetnya?” Sera menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat kaset-kaset yang tersusun rapi ditempatnya

 

Rasa senang kini mulai memudar, tawa berganti dengan rasa bosan. Apalagi matanya mulai berat untuk sekedar melihat gambar-gambar anak binatang yang tengah menari dan menyanyi itu. Sungguh, Sera tak mampu lagi untuk melawan rasa kantuknya. Hingga memilih untuk menutup matanya.

 

 

***

 

 

“Sera-ya?” Panggil Yifan yang baru saja sampai dikamar apartementnya dengan beberapa bungkus kantong ditangannya. “Oh Sera? Kau masih disini?” Yifan meletakkan kantong plastic diatas meja makan lalu mulai berjalan kearah TV yang masih menyala berniat untuk mematikannya.

 

Seketika Yifan dibuat terkejut karena melihat kaset koleksi kesayangannya berserakan diatas meja. “Gadis ini benar-benar..” Gumam Yifan sambil menggelengkan kepalanya. “Astaga! Koleksi Pororo-ku!!!” Yifan menepuk dahinya, “Sera pasti akan menertawakanku setelah ini. Ah bodoh”

 

Kini Yifan memilih untuk merapikan kembali koleksi kaset kesayangannya. Setelah benar-benar rapi seperti semula, Yifan mulai duduk disebelah Sera yang sedang tertidur pulas. Mata Yifan mulai terfokus pada wajah tenang milik Sera. Sungguh, jika gadis itu tengah tertidur wajahnya sangat berbanding terbalik dengan aslinya.

 

Ya, Yifan lebih suka jika Sera sedang tak berada didunia nyata-nya. Karena ia dapat melihat sisi lain dari Oh Sera. Setelah cukup puas memperhatikan wajah cantik gadis itu, Yifan mulai mengangkat tubuh Sera untuk menempatkannya pada tempat tidur yang seharusnya.

 

Yifan meletakkan tubuh itu dengan perlahan, lalu tersenyum sekilas. Mengambil selimut dan segera menutupi seluruh tubuh gadis itu. “Selamat malam Sera-ya..”

***

Sinar matahari yang menerobos melalui kaca jendela, mulai mengganggu kenyamanan tidur seorang gadis. Gadis itu mulai membuka matanya yang masih belum stabil untuk melihat keadaan disekitarnya. Ia sedikit menggeliat lalu menguap pelan. Setelah benar-benar stabil, otaknya mulai bertanya-tanya kenapa kamar miliknya tampak berbeda dari biasanya?

 

Aroma wangi mengelinap masuk kedalam rongga hidungnya. Sungguh seketika Sera ingin makan karena bau harum yang sedang diciumnya itu. “Astaga! Jangan bilang aku masih diapartement Yifan?!” Mulutnya mengaga, dan sedetik kemudian matanya langsung menangkap sosok tinggi Yifan yang sedang berdiri disamping tempat tidurnya.

 

“Yifan?” Panggil Sera pelan.

 

“Makanlah, aku sudah membuatkan sesuatu untukmu” Nada suara Yifan terdengar datar, begitupun dengan wajah tampannya. Datar dan dingin..

 

“O-oh. Terima kasih”

 

Sera mulai bangkit dari tidurnya, dan mulai berjalan menuju meja makan. Disana sudah tersedia Currywurst—makanan khas eropa—dan segelas susu putih. Sungguh Sera sangat menyukai makanan yang sedang ada didepan matanya itu. “Woaah.. Kau membuatkan Currywurst untukku?” Senyumnya benar-benar mengembang, dan sedetik kemudian ia langsung duduk dan menyantap makanan tanpa berbasa-basi lagi.

 

“Hm.. Sungguh ini sangat enak, Yifan” Sera sedikit melirik Yifan yang masih berdiri didepannya, “Kau tidak makan bersamaku, hm?” Tersenyum senang lalu kembai melanjutkan makannya.

 

Namun, Yifan masih saja berdiri dalam diam. “Setelah makan kau boleh pergi” Ucapnya tanpa ekspresi. Membuat Sera menghentikan pergerakan tangan dan mulutnya. Kini Sera menatap wajah Yifan dengan tatapan bingung. Apa Yifan sedang marah padanya? Ah tunggu! Bukankah seharusnya saat ini Sera yang marah pada Yifan? Dan seingat Sera, semalam Yifan memperlakukannya sangat baik.

 

 

“Kau mengusirku?” Tanya Sera tak percaya, kemudian berdiri tepat didepan Yifan, “Sebelum kau usir, aku juga akan pergi” Sera langsung mengambil langkah untuk segera meninggalkan pria yang sudah membuat pagi-nya menjadi buruk itu. Sebelum Sera melangkah keluar dari kamar Yifan ia kembali berbalik dan berteriak, “Terima kasih untuk makanannya”

 

BRAKK!!

 

“Ck, sungguh belakangan ini Yifan menjadi aneh dan menyebalkan!!!” Sera menggerutu sendiri ketika sedang menunggu taxi didepan apartement. Dan tak memerlukan waktu lama taxi segera menghampirinya. “Tumben sekali aku tak harus menunggu lama” Dan segera masuk kedalam taxi.

 

 

“Huh? Sudah ada yang membayar ongkosnya?” Tanya Sera tak percaya. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya. Setelah itu taxi langsung meninggalkan Sera didepan rumahnya. “Apa Yifan yang membayarnya?”

 

Sera melangkahkan kaki untuk segera masuk kedalam rumahnya. Dan segera bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Ya, meskipun ia tahu akan terlambat tetapi tak apa daripada harus sendirian didalam rumah tanpa melakukan apapun.

 

Dan sangat beruntung, jarak sekolah dengan rumahnya sangat dekat. Dengan begitu Sera tak harus mengeluarkan uang lagi untuk pergi. Ya, jika saja Sera dan Chanyeol sedang tidak marahan, mungkin Chanyeol sudah menjemput sera sebelum Sera memintainya.

 

Langkah kakinya terhenti, “Park Chanyeol kenapa otakmu sangat kotor, eo?!” Pekiknya lumayan keras. Nafasnya tak teratur, hatinya benar-benar sakit harus menerima semua ini. “Ya!! Seharusnya kau mencuci otakmu!!!” Setetes air bening mulai bergenangan dipelupuk matanya, membuat penglihatannya mengabur. Dan sedetik kemudian air itu meluncur dengan perlahan. “Bodoh!!” Sera berlari sekencang yang ia mampu, untuk sedikit melampiaskan kekesalan pada hatinya.

 

Hingga gadis itu sampai didepan sekolahnya, melihat tak ada seorangpun lagi yang berkeliaran disekitar sana. Ya, tentu saja karena bell masuk sudah dibunyikan dari satu jam yang lalu. Tanpa ada rasa ragu, Sera mulai melangkahkan kakinya untuk segera masuk kearea sekolahnya.

 

“Hey Noona!!!” Teriak sang satpam sekolah, namun tak diindahkan oleh Sera, ia tetap berjalan santai menelusuri koridor, “Ya!!! Apa kau tidak tahu jika kau sudah telat 1 jam, huh?!” Satpam itu menghentikan langkah Sera, membuat Sera kini menatapnya dengan tatapan mematikan.

 

“Ya!!! Aku tahu!!! Jadi kau tidak usah berteriak-teriak ditelingaku!!!” Berjalan santai melewati sang satpam dengan sedikit menyinggung lengannya.

 

Seketika satpam bergelidik ngeri, dan memilih untuk membebaskannya. “Menakutkan sekali” Lalu berjalan kembali untuk menjaga gerbang.

 

Dikoridor, Sera berpapasan dengan Chanyeol yang akan masuk keruangan kepala sekolah. Baru saja Sera akan menyapanya, namun Chanyeol terlebih dahulu membuang muka membuat Sera mengundurkan niatnya. Menyakitkan sekali bagi Sera jika Chanyeol bersikap seperti itu padanya. Itu karena Chanyeol sangat jarang sekali marah padanya.

 

“Kenapa Chanyeol keruang kepala sekolah? Apa dia membuat masalah lagi?” Gumamnya, tersirat rasa penasaran didalam otaknya. Tapi untuk sekedar menatap mata Chanyeol pun tak bisa, bagaimana cara Sera menanyakannya? Dan kini ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju kelas.

 

Sesampainya dikelas, Sera langsung diusir oleh guru Yang. Dan akhirnya Sera memilih untuk menghabiskan waktunya ditaman sekolah. Merutuki diri sendiri, bersedih hati, hingga bertanya-tanya apa yang Chanyeol lakukan didalam ruang kepala sekolah?

 

 

Yifan pasti tahu sesuatu, mengingat mereka—Yifan dan Chanyeol—adalah sahabat dari kecil. Tapi bagaimana bisa Sera bertanya pada Yifan sedangkan hubungan mereka sedang tidak baik. Apa Sera akan meminta maaf saja? Ya! Kenapa ia tidak melakukannya? Jika sebelumnya Yifan-lah yang meminta maaf terlebih dahulu, Sera juga harus bisa melakukannya. Bagaimana pun Yifan-lah satu-satunya tempat ia mengadu. Bahkan rasanya Yifan sudah seperti kakaknya sendiri—melebihi Sehun.

 

Sera menghembuskan nafas panjang, sebelum mengambil ponsel dari saku rok seragamnya. Jari-jari lentiknya mulai menari diatas layar touchsreen. “Yifan-ah, kau marah padaku? Jika benar, tolong katakan apa sebabnya..” Mulut dan jarinya senada untuk mengeluarkan kata-kata dengan apa yang diperintahkan otaknya. Setelah mengirimkan pesan pada Yifan, Sera sedikit merasa lega.

 

 

15 menit lamanya menunggu balasan pesan dari Yifan, membuat Sera mulai jenuh. “Kenapa orang-orang menjauhiku? eo?” Mendengus kesal, lalu mulai beranjak pergi dari taman.

 

Sera berjalan menelusuri koridor dengan hati yang berapi-api. Sekarang Sera yakin, ia akan bertanya langsung pada Yifan, apa yang membuat Yifan hingga bersikap dingin padanya. Tapi seketika langkah Sera terhenti karena nama Chanyeol dan Yifan tiba-tiba terdengar ditelinganya. Dua orang guru tengah berbincang ringan, membuat Sera ingin sekali mendengar pembicaraan dua orang guru itu.

 

“Oh begitu. Memangnya kenapa Yifan bisa memukul Chanyeol?”

 

“A-apa? Yifan memukul Chanyeol?”

***

Terima kasih sudah membaca^^ Meskipun rada-rada absurd, malah typonya banyak pula lagi-_- Tapi aku harap teman-teman suka rela buat komentarin ini FF. Semoga terhibur ya^^

Iklan

One thought on “[EXOFFI FACEBOOK] My Style Love is You! [Chapter 1]

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s