[EXOFFI FACEBOOK] CHOICE

10897889_705413196242734_485126973319560166_n

 

CHOICE

Ficlet 

Anggraeni

 

Sad | Little bit a romance | slice of life | Religi/Islam

Do kyungsoo | Sarah kim OC

Teen

 

 

“Awalnya aku tak tahu, apa itu cinta yang sebenarnya…

Yang kutahu, cinta hanyalah rasa suka yang tak bisa ditahan dan ada rasa ingin memiliki tanpa melihat kasta, derajat, sikap serta perilaku, dan juga agama…”

_Sarah_

 

NOTE   :

FF ini tidak menyinggung pihak manapun. Ini FF Murni hasil pemikiran Author. Terinspirasi dari beberapa sumber kehidupan disekeliling author. FF ini Cuma hasil pendapat dan pemikiran author, INGAT tanpa bermaksud menyinggung pihak manapun J karena itu saya meminta Maaf terlebih dahulu

 

 

 

Happy Reading ^_^

 

 

 

“Maukah kau menikahiku?”

 

Tiba-tiba saja pertanyaan itu kulontarkan padanya. Tentu saja, ia membulatkan matanya dan menghentikan aktifitas menikmati ice cream-nya.

 

“Kau bercanda…”

 

“….entah…..”

 

“Kau tahu. Aku dan kau…”

 

“Berbeda,” lanjutku.

 

Aku menatap matanya sendu. Ia pun memalingkan wajahnya dan menatap lurus kedepan. Wajahnya terlihat sangat sedih. Mianhe.. jika aku membicarakan hal ini kyungsoo-ya. Aku hanya lelah, dan otak ku mulai menyadarinya.

 

“Aku berpikir setiap hubungan pasti memiliki tujuan, tujuan itu tak lain adalah pernikahan. Aku juga baru berfikir, bagaiman nasib hubungan kita? Kita tidak mungkin menikah, kyungsoo-yah… aku tak ingin terbelenggu dalam hubungan ini terus menerus”

 

Ucapku lirih dan masih terus menatapnya. Tak kuasa lagi aku menahan air mata ini. Seketika ia menatapku dalam dan menggenggam kedua tanganku erat seakan tak ingin melepaskannya.

 

“Aku membutuhkanmu. Aku mencintaimu. Tidakkah kedua hal itu cukup membuktikan bahwa aku sangat menyayangimu?”

 

Seketika genggamannya melemah, dan ia memalingkan wajahnya lagi. aku tahu ia ingin menangis, aku tahu apa yang ingin Ia sampaikan saat ini. Aku tahu iapun ingin menikah denganku, tapi aku hanya ingin menyadarkannya dari kenyataan yang selama ini kita hindari.

 

“Kita berpengang teguh pada keyakinan masing-masing. Aku tahu kau tidak akan memaksaku, akupun tak akan memaksamu berpindah keyakinan. Dan satu hal yang ingin aku tanyakan padamu, yang mana yang lebih baik, kita lanjutkan hubungan ini tanpa memiliki tujuan yang jelas dan menyakiti serta mengkhianati keluarga dan juga agama atau kita kembali pada kehidupan masing-masing dan memperbaiki segalanya yang selama ini dirusak oleh hubungan kita?”

 

Pilihan..

Pilihan lah yang saat ini kami jalani. Sejak dulu kami berdiri Antara pilihan, dan kesempatan untuk memperbaiki segalanya masih terbuka lebar. Namun aku membuka mata hatiku, kematian bisa datang kapan saja, sebelum kematian menjemputku aku ingin memperbaiki semuanya terlebih dahulu. Aku pun ingin menyadarkannya dengan pilihan yang aku ajukan tadi.

 

Spontan ia melihat kearahku dengan pandangan yang sulit diartikan. Tak lama ia menjambak rambutnya frustasi. Memang di awal sangat sulit untuk menerima kenyataan ini, namun seiring berjalannya waktu aku yakin ia akan memahaminya.

Ku lepaskan cincin yang tersemat di jari manisku, dan kuraih lengannya dan meletakkan cincin itu tepat diatas telapak tangannya yang besar dan kokoh. Aku tersenyum kearahnya, jujur.. walau akupun masih sulit menerima kenyataan ini. Tapi, aku percaya Tuhan yang menciptakan alam semesta ini merencakan suatu hal yang indah kepada setiap umatnya.

 

Maafkan aku kyungsoo…

 

“Aku lebih memilih pilihan terakhir, memilih memperbaiki semuanya sejak saat ini. Aku tak ingin berjudi dengan hidupku, kyung. Aku harap kau mengerti. Mianhe.. semoga kau dapat bahagia dengan wanita yang lebih baik dariku dan tentunya tidak ada perbedaan… aku pergi…”

 

Tanpa memberinya kesempatan. Aku segera angkat kaki. Sudah tak bisa ditahan lagi, buliran Kristal meluncur bebas di pipiku, seketika langkahku terhenti saat mendengar suara bass-nya.

 

“Kau yakin ini yang terbaik, sarah?”

 

Kudengar suaranya yang lirih. Aku tahu, walau dia lelaki yang tidak peka. Tapi ia juga punya perasaan, lelaki itu juga bisa menangis bukan?

 

“Aku yakin, Do kyungsoo. Ini yang terbaik,” ucapku mantap tanpa menoleh kearahnya.

 

.

 

.

.

.

.

 

3 tahun aku menjalaninya dan 3 menit aku mengakhirinya.

Aku merasa cintaku dan rasa sayangku pada kyungsoo hanyalah sekedar suka. Jika ditanya ‘apa  yang kau suka dari kyungsoo?’ atau ‘apa yang kau harapkan darinya?’ aku pasti akan menjawab pertanyaan petama dengan membayangkan wajah pria itu dan tingkah lugu pria itu. Dan…, aku bingung menjawab pertanyaan yang kedua. Kenapa? Karena aku tak mengharapkan apa-apa darinya, dan juga aku hanya melampiaskan rasa suka ini dengan cara ingin memilikinya. Aku juga sadar diri, aku tak bisa harapkan apa-apa darinya. Tentu saja karena kami berbeda

 

Dulu aku dibutakan oleh nafsu yang dideskripsikan cinta, dan lebih mengutamakan nafsu ketimbang akal. Keluargaku sangat menentang hubunganku dengan kyungsoo. Sampai-sampai aku kabur dari rumah, dan tinggal di apartemen yang sama dengan kyungsoo, namun catat kami beda kamar, aku juga masih menjaga diri dan kehormatanku.

 

Tapi, aku berpikir aku sudah cukup berdosa. Hubungan yang tak seharusnya terjalin, tapi aku memaksakannya. Maaf… maafkan aku Tuhan.. aku tak mengindahkan peringatanmu melalui orang tuaku dan juga teman-temanku. Maaf..

 

***

 

20 february 2014

Kim House’s

 

Sudah 3 bulan lamanya aku tidak berhubungan lagi dengan kyungsoo, begitupun sebaliknya. Aku yakin ia sudah mulai memahaminya. Dan selama 3 bulan itu pula aku sudah berbaikan dan meminta maaf pada keluargaku. Dan tanggal 20 februari ini aku dijodohkan oleh seorang hafiz qur’an dari turki. Aku belum mengenalnya bahkan melihatnya pun tak pernah.

 

Kata abi-ku alasannya menjodohkanku karena tak ingin terjadi hal yang kufur padaku untuk kedua kalinya. Dan sebenarnya memang islam mengajarkan hal ini. Aku yakin Tuhan merencakan sesuatu yang indah, karena itu aku akan terima dengan ikhlas.

 

“Sarah cepat bersiap dan sambut calon suamimu… sebentar lagi acara ta’aruf kalian dimulai!” panggil Fatimah dari depan pintu kamarku, ia teman kuliahku.

 

“Na’am,”

 

Perlahan kulangkahkan kakiku keruang tengah, tempat pelaksanaan ta’aruf. Senyumku menegmbang seketika mengetahui siapa calon suamiku.

 

“Assalamuailaikum..”

Ucapya dengan menundukan pandangannya.

 

“Walaikum salam…” jawabku tak kalah sopan.

 

Ia teman semasa sekolah SMA-ku. Dulu aku sempat menyukainya, namun dikarenakan keluarganya pindah ke turki karena ayahnya mendapat pekerjaan disana, kami pun berteman dalam waktu yang singkat. Tapi, apa ini yang dinamakan jodoh? Terima kasih ya Tuhan. Aku harap ia dapat menjadi Imam yang baik kelak.

 

Kyungsoo aku pun berharap sudah menemui peggantiku..

 

 

Memungkiri kenyataan..

Tapi kita tak bisa lari dari kenyataan

Begitu pula kehidupan yang saat ini kita jalani,

Hal itu adalah kenyataan

Dalam kehidupan dan setiap kehidupan pasti memiliki….

Pilihan

Kita mempunyai akal

Kita pasti tahu

Mana yang benar dan mana yang buruk

Tinggal kita memilihnya…

 

FIN ~

 

*Na’am = iya/baik

*Kufur = mengingkari dan menutupi

*ta’aruf = perkenalan

*abi = ayah

 

 

Sekali lagi maaf, jika FF ini menyinggung/menyakiti. Sumveh author tidak bermaksud begitu,, author menghormati pihak manapun ._.V intinya FF ini hanyalah sebuah pesan. Hak kalian menentukan jenis FF ini apa, yang paling jelas itu FF ini Murni hasil pemikiran author J

 

Oh, iya.. jika kalian punya ide untuk menambah inspirasi author dalam membuat FF kalian bisa komen FF bergenre apa aja yang kalian pingin, atau bisa sekaligus di sertakan deskripsi kecilnya J

 

Sampai Jumpa di karya author selanjutnya ! ^_^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s