Pinky Monster (Oneshot) – Shaekiran

ppinkimonster

Pinky Monster

A special story byShaekiran

Dedicated to my best friendShiraayuki ❤

Main Cast

OC’s Choi Hwa Young x EXO’s Oh Sehun

With OC’s Lee Yara

Genres

Romance? Frienship? Comedy? School Life? AU?

Length Oneshot | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Banyak typos yang bertebaran dan ide ceritanya sudah mainstream sekali. Happy reading!

– 

“Hwa Young, aku menyukai seseorang.”

©2017 Shaekiran’s Art and Story All Rights Reserved

 

Seoul, Januari 2017

Hatchi.”

Aku menggosok-gosokkan hidungku pelan. Sialan, kenapa harus ada musim dingin? Melihat onggokan salju yang menghalangi jalan di awal tahun ajaran baru dan kadang bisa membuatku jatuh tergelincir benar-benar membuatku membenci musim ini. Hei, jangan salahkan aku. Aku pernah mengalaminya sendiri, kalian tau? Selain sakit, itu benar-benar memalukan.

“Hwa Young!” Aku memutar mataku malas, lalu dengan enggan memutar badanku menatap seseorang yang sedang berlari ke arahku. Dia lagi.

“Kau sudah mengerjakan PR?” pertanyaan yang tak perlu dipertanyakan. Memangnya siapa yang mau dihukum membersihkan salju di seluruh lapangan sekolah yang luas? Aku tidak segila itu bodoh.

“Tentu saja su- jangan bilang kau belum mengerjakannya?!” pekikku pada lelaki yang sedang cengir di depanku ini. Dia tersenyum penuh arti. Ah, dasar.

“Hwa Young temanku yang baik,” sekarang bisa kurasakan dia memutar badanku lalu membuka tasku. Ah, lagi-lagi.

Kumawo~” dan manusia itu melenggang begitu saja seenak jidatnya. Bahkan dia tidak menutup tasku setelah mencuri PR yang kemarin kubuat bersusah payah hingga begadang 2 malam. Sialan.

Oh iya, sudahkah aku memberitahu siapa manusia astral barusan? Perlu? Sepertinya perlu kalau aku ingin melanjutkan kisahku ini. Iya kan? Baiklah, dia Sehun. Lebih lengkapnya Oh Sehun, si bangsat yang sudah ku kenal sejak dia masih pakai popok bayi. Jangan menatapku seperti itu, aku memang mengenalnya sejak kami masih pakai ‘Mami Poko’ dan minum susu ‘Bebelac’, itu sebuah fakta yang tak mungkin bisa ku sembunyikan.

Sedangkan aku? Ayolah, masa kalian tidak mengenalku? Padahal aku begitu terkenal di sekolah ini, yah..setidaknya menurutku. Namaku Hwa Young, Choi Hwa Young. Keterangan lebih lanjut? Rahasia.

.

.

Ah, kalau rahasia mungkin cerita ini tidak akan selesai-selesai juga, jadi aku akan menceritakan sedikit tentangku pada kalian. Choi Hwa Young, kalau kalian bertanya pada siswa siswi di sekolahku tentangku, aku rasa mereka akan menjawab kalau mereka mengenalku. Sudah kubilang kan? Aku ini terkenal. Lepas dari kata terkenal, tentu ada alasan mengapa mereka mengenalku ‘kan? Alasannya adalah karena aku ini seorang gay yang suka mengintip di toilet laki-laki. Ku akui aku adalah orang aneh, tapi ayolah, tentu saja tidak. Kalian akan tau nanti kenapa aku terkenal disini.

Sekarang tahun pertamaku di SMA Hannyoung, salah satu SMA terfavorit di kota Seoul. Yah, begini-begini aku cukup pintar. Buktinya aku ada di kelas unggulan, kelas 10 A. Bukankah itu artinya aku cukup diperhitungkan? Dan manusia astral bernama Sehun tadi juga berada di kelas yang sama denganku. Alasannya? Dia juga cukup pintar. Puas?

“Young-ah, kau datang? Kenapa lama sekali?” tiba-tiba saja Yara, teman sebangkuku yang paling rajin sedunia datang sambil menarik lenganku padahal aku baru memasuki kelas. “Wae?” tanyaku malas.

“Lihat kelakuan temanmu itu! Lihat tugas yang membuat kau tidak membalas pesanku dengan alasan sibuk mengerjakan PR dari guru Nam killer. Lihat laporan pengamatanmu yang-”

YA OH SEHUN!” Teriakku penuh emosi. Tak perlu menunggu Yara menyelesaikan kalimatnya pun aku sudah bisa melihat kalau sekarang bukuku sudah tergolek tak berdaya di lantai dengan keadaan-robek? Ya! Dia ingin pindah rumah ke kuburan sekarang, eoh?

“Young-ah maaf, tadi bukumu diperebutkan Kai dan Jhonny, jadi..”

Brughh!” Sekarang bisa kulihat semua manusia di kelas, bahkan beberapa siswa lainnya yang sedang lewat di koridor depan kelasku menatapku horror karena aku baru saja memberikan sebuah bogem mentah secara percuma ke wajah lelaki bermarga Oh yang sudah ku kenal sejak bayi itu. Bogem? Tentu saja bogem, aksi tampar-menampar atau jambak-jambakan khas wanita sama sekali bukan gayaku. It’s not my style. 

“Astaga, monster mengamuk,” okay, kalimat yang ntah keluar dari mulut siapa itu adalah salah satu alasan kenapa aku terkenal di sekolah. Monster?

“Oh Sehun, Oh Sehun…Bangun! Oh Sehun…” aku tersenyum miring. Sekarang bisa kulihat beberapa orang sedang mengerumuni Sehun yang mimisan dan terlihat pusing.

“Kau harus mengerjakan tugasku ulang Tuan Oh,” ancamku pada Sehun sambil menaikkan kepalan tanganku meninju udara bebas. Ancaman kalau dia tidak segera membuatku nilaiku aman maka dia akan berakhir di rumah sakit, atau yang lebih parah…kuburan.

^^

“Choi Hwa Young! Kenapa kau memukulnya seperti itu, huh? Kau tidak lihat tampang pesakitannya saat di kelas tadi? Bahkan dia harus meletakkan tissue di kedua lubang hidungnya selama jam pelajaran karena darahnya tidak mau berhenti.” cerocos Yara tanpa henti. Aneh sekali, sebenarnya dia ini memihak siapa? Bukannya dia tadi yang melaporkan tingkah bejat Sehun yang membuat nilaiku kosong padahal aku sudah mati-matian mengerjakan tugas?

Ya!” teriak Yara sambil menarik-narik tanganku yang tengah menyendokkan bakso ke mulut, dan alhasil bakso itu jatuh dan mengotori rok seragamku. Aku mendecakkan lidahku kesal, lalu menatap Yara marah.

“Biarkan aku makan bakso dengan tenang Yara-ah,” gadis itu terdiam seketika, lalu kembali beralih ke bakso kepunyaannya sendiri. Gadis penurut.

“Tapi, kenapa Sehun tidak melaporkan tingkah premanmu ke kantor BK? Bukankah hidung mancungnya yang kini penyot itu bisa jadi bukti?” lagi-lagi, tidak bisakah gadis ini diam? Dia membuatku kesal saja.

Aish! Aku tidak tau!” jawabku kesal kemudian beranjak dari dudukku. Tak perlu waktu lama untuk kaki jenjangku meninggalkan Yara sendirian di kantin dengan wajah melongonya karena sikap tempramenku ini. Yara sudah hampir setahun menjadi teman sebangkuku dan menurutku dia seharusnya sudah paham waktu dimana aku tidak bisa diwawancarai. Namun kali ini ia melanggar batas, dia bertanya terlalu banyak.

Ya! Choi Hwa Young! Aku belum selesai bicara.” teriakan Yara lagi-lagi masih terdengar, namun bukan Hwa Young namanya kalau berbalik. Aku masa bodoh, lebih baik pergi sekarang daripada beradu argument dengan gadis Lee satu itu.

Oh iya, sudahkah kalian tau kenapa aku terkenal di sekolah ini? Monster? Oh ayolah, seharusnya kalian bisa mendapat titik cerah ‘kan?

Baiklah, ku perjelas saja. Aku ini monster sekolah, itu yang mereka bilang.

^^

Brughhh.

Aku merebahkan badanku begitu saja ke lantai atap. Masa bodoh meski kini mataku bertatap langsung dengan sinar matahari siang yang super menyengat. Aku tidak peduli. Yang aku inginkan sekarang hanya tidur dan meratapi nasib, mungkin? Lagi-lagi aku kehilangan temanku.

Tau apa yang kumaksud dengan monster?

Sebenarnya aku tidak seram-seram amat. Hanya gadis berpotongan rambut sebahu dengan warna hitam legam yang kucuci sehari sekali. Rupaku tidak hancur juga. Setidaknya aku tidak punya bekas luka menganga di wajah sehingga aku harus menutupinya dengan poni. Bukan ke masalah fisik, tapi psikis mungkin?

Pertama kali aku mendapat julukan ini di kelas 2 SD. Hari itu aku mendorong teman sekelasku ke parit sekolah karena dia menumpahkan susu kotak yang dia beli di kantin ke atas buku Matematika-ku. Kesal? Tentu saja! Makanya aku mendorog bocah yang katanya tak sengaja itu ke parit yang kotor dan bau. Dan alhasil dia pulang dengan menangis meraung-raung sambil menyumpahiku dalam hati. Pokoknya mulai hari itu aku disebut monster, karena membuat seorang anak laki-laki menangis.

Kejadian berlanjut hingga nama monster itu terus melekat di namaku. Aku bukan tipe pembully, tapi semua orang menganggapku seperti itu. Aku tidak memulai perkelahian, tapi saat perkelahian terjadi, selalu saja aku menjadi pihak yang salah meski sebenarnya aku hanya membela diri. Sehun bahkan pernah bilang aku nampak seperti monster yang tengah mencari mangsa, makanya tidak ada yang mau dekat-dekat denganku. Dan meskipun ada, mereka akan pergi juga. Seperti Yara, dan teman-temanku yang lain yang bahkan tak ku ingat lagi namanya. Aku tau mereka semua akan pergi, makanya aku tidak pernah mau berharap memiliki seseorang. Bahkan aku yakin Sehun pun sebentar lagi akan pergi meninggalkanku.

“Kau bertengkar dengan Yara?” suara khas itu lantas membuatku terhenyak. Aku membuka mataku dengan cepat, dan pemandangan pertama yang kulihat adalah tangan besar Sehun yang menghalangi sinar matahari yang menerpa wajahku.

“Beritanya cepat menyebar. Jadi kali ini karena apa huh?” lanjut Sehun lagi, masih tak beranjak dari posisinya meski kini aku sudah dalam posisi duduk.

“Sedang apa kau disini?” tanyaku sinis. Lain dari jawaban yang diinginkan Sehun tentunya. Bisa kulihat lelaki bermarga Oh itu kini tersenyum tipis, kemudian duduk di sebelahku.

“Hanya ingin meminta pertanggungjawaban dari seseorang yang sudah merusak hidung mancungku.” jawabnya sambil terkekeh kecil. Cih, dasar manusia satu ini.

“Hanya itu? Oh Sehun, matilah. Kau yang salah karena sudah merobek tugas-“

“Ini?”

-Ku.

Sehun menyodorkan sebuah buku tulis yang sepertinya masi baru ke arahku. Dengan langkah cepat aku membuka lembar pertama buku itu. Mataku membola, disana tertulis laporan pengamatanku dengan tulisan rapi dan demi Tuhan! Sehun bahkan sudah menilainya ke pak Nam?

“Kau puas dengan A+ kan?” tanya Sehun seolah menyindirku. Cih, dasar sialan.

“Mau pamer karena kau ini anak pemilik yayasan sehingga mudah saja bagimu mengantarkan tugas yang sudah lewat deadline, begitu?” dan Sehun hanya semakin terkekeh.

“Tau saja kau,” tawanya kemudian. Satu kelebihan Sehun, pasrah. Aku tau sebenarnya Sehun pintar dan mumpuni untuk duduk di kelas favorit di SMA ini, namun embel-embel anak tunggal ketua yayasan seperti merusak Sehun. Mereka pikir Sehun memanfaatkan ayahnya, padahal Sehun berjuang sendiri mendapatkan nilai A. Dan sialnya, Sehun terima saja saat dikatai seperti barusan, dan bahkan dia meng-iya-kannya.

“Dasar tukang pasrah,” cibirku, dan Sehun hanya diam.

“Seharusnya kau melawan bodoh. Aku tau kau tidak menggunakan nama ayahmu. Kau pasti berlutut ‘kan saat mengantar tugas ini? Jangan bohong.” dan bisa kulihat manik Sehun membulat, menatapku tak percaya.

“Jangan tanya kenapa aku tau karena aku juga punya mata Hun,” lanjutku cepat sebelum Sehun sempat memotong ucapanku. Dia nampak tersenyum masam.

“Seharusnya kau juga tidak terlalu pasrah.”

“Memangnya siapa yang bilang aku pasrah? Kau tidak lihat aku selalu melawan arus, eoh?” balasku tak terima. Sehun terkikik geli. Ntah apa yang lucu dari kalimatku barusan sehingga lelaki 16 tahun di depanku ini bisa tertawa.

“Buktinya kau terima saja saat mereka memanggilmu monster.” lantang Sehun, tepat ke telingaku. Ada desir aneh yang melintas di dalam perutku kala nafas Sehun menerpa telingaku hangat, seperti ada sesuatu menggelitik yang membuat hormon bahagiaku meluap-luap.

“Tapi tingkahku memang seperti monster ‘kan? Aku berkelahi, melawan guru, membentak orang, mengacam dan-“

“Bukankah sudah kubilang kau bukan monster Young-ah? Kau itu Hwa Young, temanku. Dan aku sangat-sangat mengenal temanku sendiri. Tak peduli meski betapa seringnya kau merusak wajah dan tubuhku, tapi hatimu bukanlah monster. Kau hanya punya emosi berlebih Young-ah. Kau tau kan?”

“Ah, darimana kau belajar bahasa seperti itu Sehun? Apa karena ini nilai sastramu meningkat?”, balasku tak percaya. Sehun memang pandai bicara asal kalian tau, dan aku tidak ingin menjadi bodoh dan percaya begitu saja dengan ucapan Sehun.

“Aku harus bilang apalagi Young-ah? Kalau memang kau monster, setidaknya jangan menangis.”

Aku terpaku mendengar jawaban Sehun barusan. Dan benar saja, tetes hangat terasa di pipiku. Hei, sejak kapan aku menangis?

“Tidak ada monster cengeng yang selalu menangis diam-diam asal kau tau.” Sehun mengelus kepalaku perlahan, begitu lembut hingga membuatku terlena sejenak.

“Yang ada hanya putri patah hati yang menangis karena pangerannya tak kunjung datang.”

Plakk!”

Ya! Oh Sehun!” pekikku keras setelah sukses menempeleng kepala si Oh bajingan itu. Dia tertawa lagi, puas mengerjaiku kah?

“Makanya, cari pacar sana Choi Hwa Young. Kau itu tidak laku dikalangan namja, apa kau tau? Seharusnya kau merubah penampilanmu dan pergi ke salon mungkin? Kau tau, rambut sebahumu itu benar-benar tak terawat. Gadis mana di Seoul ini yang punya rambut kusut kering bercabang selain seorang Choi-“

Ya! Mau kemana kau Young-ah! Dengar aku dulu!”

Aku masih bisa mendengar langkah kaki Sehun yang berlari ke arahku. Sepertinya dia baru sadar kalau aku sudah pergi dari sebelahnya sedetik setelah dia mengoceh tentang pacar. Lagian, siapa pula yang mau dengar celotehan tak bermutunya itu?

Ya~ kau marah?”

“Ah, arassseo. Tidak usah menatapku seperti itu.” lanjut Sehun cepat setelah aku memasang tatapan mautku.

“Oh iya, kau tidak mau berbaikan dengan Yara, huh? Begitu-gitu kalian sudah sebangku selama-“

“Ah iya, aku diam.”, tatapan maut kedua, dan dia berjanji akan diam-katanya.

“Young, kau tidak mau kucarikan pacar, eoh? Tipemu itu yang seperti apa? Yang tampan, kaya , atau-“ belum sampai sedetik dan ia sudah mengoceh lagi. Diam apanya?

“Baik! Aku diam.”

“Oh ayolah Oh Sehun. Sebenarnya berapa kali aku memicingkan mata biar kau diam eoh?” Sehun hanya terkikik.

“Selamanya kalau kau tidak bosan memandangku Young-ah.”

Cih, dia mulai lagi. Sebenarnya siapa yang mengajarkannya menggunakan kata-kata seperti ini huh? Agak…menjijikkan.

^^

Badan tinggiku yang kelewat kurus bagai tak pernah diberi makan kubaringkan di atas tempat tidur motif bunga-bunga berwarna pink milikku. Jangan salah, mereka memang bilang aku ini seperti laki-laki dan menyerupai monster yang seakan ingin mencari mangsa, tapi aku tetaplah seorang gadis yang punya hati melankolis dan sisi feminim.Warna favoritku? Tentu saja pink! Memangnya seorang Choi Hwa Young tidak boleh suka warna pink apa?

Ting!

Sebuah notifikasi singkat berdering dari ponsel pintarku yang tengah ku charger. Dengan gerak malas-malasan aku menggeser tubuhku -sebenarnya menggeser kaki jenjangku agar menggapai ponselku yang dicharger di atas meja. Setelah kurasa jempol dan jari telunjuk kakiku sudah mengapit ponsel hitamku, dengan cepat kutarik saja ponselku itu dari charger-an, masa bodoh meski kini suara jatuh charger-ku mulai terdengar dan ada kemungkinan benda yang selalu mengisi baterai ponselku itu rusak.

Setelah ponselku sampai di tangan, aku segera melirik pesan itu penasaran. Sebuah pesan line, dari Oh Sehun.

“Kau sedang apa jones?”

Cih, sementang dia playboy cap kapak yang sudah berganti sekian puluh pacar sejak SMP, jadi ia bisa mengataiku jones dengan mudah apa?

“Sedang menghitung berapa banyak jumlah mantan seseorang yang ku kenal. Namanya Oh Sehun, apa mungkin kau mengenal kenalanku itu?”

Balasku dan dalam hitungan detik sebuah balasan dari Sehun sampai.

“Jadi kau tengah memikirkanku? Astaga, aku bahagia sekali Young-ah. Ternyata kau yang seperti tidak normal ini juga kepincut pesonaku.”

Sehun narsis sambil mengirimkan stiker beruang yang tersipu-sipu. Dasar Sehun alay.

“Dasar, lebih baik aku memikirkan Usui Takumi saja daripada kau bodoh,”

Kembali kubalas sambil mengirim emotikon memelet lidah di akhir kalimatku.

“Terus saja bermimpi dengan karakter tak nyatamu itu.”

Aku terkekeh, Sehun selalu begini kalau aku sudah menyinggung soal Takumi-kun, salah satu karakter anime paling sempurna yang pernah ku tau dan cukup ku idolakan hingga Takumi menjadi wallpaper ponselku.

Belum sempat ku balas chat dari Sehun, kini sebuah pesan kembali dikirim Sehun padaku.

“Hwa Young, aku menyukai seorang gadis.”
“Apa kau percaya kalau aku bilang kali ini aku ingin bertobat jadi playboy?”

Seketika aku mencelos. Sebuah pernyataan dan pertanyaan yang Sehun kirimkan padaku sungguh membuatku bagai jatuh ke dalam dasar yang terdalam. Perlahan namun pasti, ku ketikkan sebuah pesa balasan bagi Sehun. Cukup singkat, hanya 2 kata disertai satu tanda tanya.

“Kau serius?”

Sehun mungkin memang sedang asyik memegang ponselnya, atau mungkin Hwa Young saja yang tidak ingin lelaki Oh itu cepat-cepat membalas pesannya. Jadi, setelah balasan Sehun masuk ke ponselnya beberapa detik lalu, Hwa Young belum juga membukanya.

“Choi Hwa Young! Apa-apaan kau ini? Sehun pasti hanya bercanda, kau tau kan bagaimana setiap hari ia bilang dia jatuh cinta pada gadis? Ayolah, dia itu playboy cap kapak Hwa Young!”

Setelah menyakinkan perasaan dan memantapkan hatiku kalau Sehun yang tengah bermain-main seperti biasanya, aku menggerakkan jariku perlahan ke layar sentuh ponselku, kemudian membuka balasan Sehun.

“Kali ini aku serius. Aku memang menyukai seseorang.”
“Kau berbaikanlah dengan Yara, karena mungkin besok aku akan menyatakan perasaanku pada teman sebangkumu itu.”
“Aku menyukai Yara, dan sebagai sahabatku sejak kecil ku harap kau bahagia karena aku melabuhkan hatiku pada Lee Yara.”

Apa boleh aku menangis saja sekarang?

^^

Jatuh cinta mungkin adalah sesuatu yang biasa, namun tidak bagiku. Bisa jatuh cinta adalah suatu keajaiban tak disangka-sangka yang ku miliki, dan aku selalu berpikir kalau jatuh cinta itu adalah karunia Tuhan. Bagaimana tidak, disaat aku tidak pernah memandang lelaki satupun sementara semua gadis sebayaku bergosip tentang lelaki yang mereka suka, aku merasa tak normal. Aku tak pernah menganggap seseorang itu lelaki lewat mata seorang gadis.

Namun semuanya berubah saat aku masuk ke sekolah menengah atas. Pandanganku mulai berubah, khususnya pada Sehun yang ntah kapan sudah tumbuh setinggi itu. Harus kuakui bahunya semakin lebar dan rahangnya semakin tegas. Ntah kapan kini sebuah jakun sudah menghiasi lehernya yang dulu sering kucekik saat bercanda dengannya. Sehun, teman sepermainanku yang kini tumbuh dewasa.

Sedikit canggung bagiku menatap Sehun seperti yang biasanya ku lakukan sejak dulu. Sejak hati ini sadar kalau aku sudah berlabuh padanya, mataku seakan sulit saat menatap Sehun. Ada perasaan tersendiri yang memilihku hanya duduk diam sambil memandangnya dari kejauhan. Ia yang terlihat begitu sempurna, sosok ramah baik hati yang mudah bergaul dengan semua orang, Sehun yang tampan namun cassasnova.

Berulang kali sudah Sehun bilang padaku kalau ia menyukai seorang gadis. Sudah puluhan kali dan aku hanya berusaha tersenyum, membiarkan Sehun dengan hobinya gonta-ganti pacar sesering ia gonta-ganti kaus dalam. Toh hubungannya tak bakal bisa lebih dari seminggu. Sehun sendiri bilang kalau ia hanya bermain-main, dan sebagai seorang sahabat yang berpura-pura tidak tertarik padanya dan lebih memilih bersikap galak dan kasar, aku diam saja meski hatiku remuk juga saat Sehun berpegangan tangan dengan para gadisnya.

Namun kali ini berbeda. Sehun memang mengatakan hal yang sama, namun hati kecilku bilang tidak. Ada sesuatu yang tak enak saat aku membacanya berulang-ulang, kalimat bahwa kali ini Sehun serius menyukai seorang gadis. Aku tau itu hal yang wajar baginya untuk jatuh cinta, tapi apa harus secepat ini? Dan parahnya ia menyukai satu-satunya temanku, Lee Yara, dan aku tidak yakin dengan hatiku sendiri. Apa aku akan sanggup melihat mereka berdua terikat dalam ikatan sepasang kekasih esok hari?

“Lee Yara!” panggilku kini pada sesosok gadis yang berjalan santai di antara keramaian, sementara aku sendiri tengah bersandar di gerbang sekolah selama lebih kurang setengah jam-menunggunya datang ke sekolah pagi ini. Kutatap Yara cukup memandangku kaget, namun aku tidak peduli dan terus melambaikan tangan serta memanggil namanya sekali lagi.

“Apa yang kau lakukan disini Choi Hwa Young?” tanya Yara kini saat ia sudah ada di depanku. Ia memasukkan kedua tangannya ke mantel, sedangkan matanya menatap lurus ke arahku.

“Aku ingin minta maaf Young-ah,” dan kutau, senyum tipis mengembang di bibir Yara.

^^

Kenyataan bahwa aku sudah berbaikan dengan Yara cukup membuatku lega. Kini meja kami tidak dipenuhi hawa dingin lagi, malah suasana yang terkesan hangat karena kami berdua sudah berteman seperti biasanya. Seperti kata Sehun, aku memberanikan diri meminta maaf pada Yara dan gadis itu langsung setuju kembali menjadi temanku. Yara yang sangat baik hati, cocok sekali dengan Sehun ‘kan?

“Aku sudah berbaikan dengan Yara, dan kau seriuslah dengan temanku ini kalau kau tidak ingin aku memesankan nisan untukmu.”

Sebuah pesan sukses ku kirimkan pada Sehun. Aku menunggu sebentar, dan kata read muncul sebegai tanda kalau Sehun sudah membaca pesanku. Namun, selama apapun menuggu, balasan Sehun tak kunjung datang. Bahkan ia agaknya menghindariku hari ini. Dia membolos kelas, hilang secara misterius dari jam pelajaran.

“Oh Sehun, ayo pulang bersama.” Kali ini aku memilih berucap langsung, aku menjumpai Sehun, kemudian mengajak teman masa kecil yang juga tetangga sebelah rumahku itu pulang. Tapi Sehun sepertinya benar-benar lain hari ini.

“Maaf, aku sibuk.” Hanya 3 kata dingin serta mata yang memandang muak padaku Sehun beri sebagai jawaban. Lantas lelaki Oh itu sukses pergi meninggalkanku begitu saja, bahkan deru halus mesin motor Sehun yang pergi menjauh belum bisa menyadarkanku dari keterkejutan hingga hanya diam di tempat.

Mataku memandang kosong langit-langit kamar yang ku hias dengan sebuah dream catcher ukuran sedang. Sudah jam 10 malam, dan Sehun masih belum menghubungiku. Jika ia memang marah, Sehun pasti akan menghubungiku dan mengumpat padaku langsung, bukannya diam seperti ini. Lagipula aku tidak merasa ada kesalahan yang kulakukan pada Sehun akhir-akhir ini.

Lantas kutatap nakas tempatku meletakkan ponsel, namun nihil. Benda canggih itu belum menunjukkan notifikasi apapun. Sehun, sebenarnya apa yang terjadi padamu?

Aku menunggu lagi, barangkali beberapa menit lagi Sehun akan menghubungiku.

.

.

Setengah 12 malam, dan Sehun masih belum menghubungiku. Gondok karena Sehun secara tak langsung membuatku tak tidur karena terus memikirkannya, lantas kuubuah posisi terlentangku menjadi duduk, kemudian kuraih ponselku di nakas. Kalau Sehun tidak mau menghubungiku, maka biarlah aku yang menghubunginya.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan,cobalah beberapa saat lagi,”

Gondokku semakin naik ketika kini mendapati suara seorang gadis operator yang menjawab ponsel Sehun. Namun aku tidak bergeming, segera ku coba lagi menghubungi Sehun.

12 kali panggilan tak terjawab. Aku meringis. Sebenarnya apa yang terjadi pada Sehun sehingga ia mendiamkanku dan bahkan tidak mengangkat telfonku seperti ini? Bahkan jam sudah menunjukkan pukul 00.00 malam, namun Sehun sama sekali belum menghubungiku sekalipun.

Apa ia sudah tidur? Rasanya tidak mungkin karena aku hafal kebiasaan Sehun yang baru tidur setelah jam 2 pagi. Biasanya di jam segini ia masih asyik menonton film atau sekedar blogging. Tapi kenapa sekarang Sehun menghindariku?

Drtttt.. Drttt..

Aku melirik ponselku yang kini bergetar dengan tidak bersemangat, namun berubah begitu semangat ketika aku tau siapa yang baru saja menghubungiku, Oh Sehun!

Yeobseyo?” sapaku ringan, dan suara diseberang sana nampak berdehem sejenak.

“Hmm, aku tau kalau suaraku tidak bagus, tapi tolong dengarkan aku sampai selesai, mengerti?” Apa maksudnya? Kenapa Sehun bilang untuk-

“Born in the winter

this beautiful you

clean like snow

you who belong to me ♩”

Aku melongo. Apa-apaan ini? Sehun, kenapa ia menyanyikan Winter Child lewat telfon seperti ini?

“Born in the winter

my lover

clear as snow

you who belongs to me ♩”

“Apa kau tidak bisa membuka pintu jendelamu gadis bodoh? Aku ini sudah hampir membeku, coblah peka sedikit.” Ucapan Sehun sedikitnya membuatku terhenyak. Lantas ku edarkan pandanganku ke satu-satunya jendela di kamarku, dan betapa kagetnya aku karena menemukan ada sosok Sehun yang tengah menempelkan ponselnya di telinga, tersenyum manis padaku sambil melanjutkan lagunya.

“Regardless whether it’s spring, summer, autumn, or winter

Always clear and clean ♩”

Crashhh!

Aku membuka jendelaku cepat, lalu menatap Sehun bingung.

“Oh Sehun, sebenarnya apa yang-“

“Happy Birthday To You♩”

-lakukan.

Aku terhenyak. Sehun hanya tersenyum, sementara kini air mataku mulai tumpah.

Ya! Kenapa kau menangis?” Sehun menyudahi lagunya, lantas ia melap sudut mataku yang sudah bergenang airmata dengan ibu jarinya. Aku tersenyum kaku, sementara tangisku turun tanpa bisa ku kendalikan. Sialan, aku bahkan lupa kalau ini ulangtahunku.

“Ahhh, kau pasti terharu karena aku ingat ulang tahunmu dan merayakannya tepat tengah malam 10 Januari kan?” Sehun menebak, sementara kini bibirnya tersungging naik penuh kebanggaan meski aku malah memukul dadanya pelan.

Saengil chukhae Hwa Young-ah, selamat karena umurmu di bumi kini semakin berkurang,” ucap Sehun masih mengulum senyumnya, bahkan kini tangannya menyodorkan sebuket bunga mawar merah muda. Aku tersenyum masam. Mawar merah muda, sebuah bunga lambang persahabatan. Aku terkekeh, oh ayolah Hwa Young, jangan terbawa perasaan. Ini hanya ucapan selamat ulang tahun dari seorang sahabat pada sahabatnya.

buket-bunga-mawar.jpeg

“Terimakasih Oh Sehun,” jawabku kikuk sambil menerima buket mawar dari Sehun. Lelaki itu tersenyum, lantas ia mulai mengeluh betapa dinginnnya di luar sana sambil masuk ke kamarku.

“Memangnya siapa yang menyuruhmu mendekam di luar eoh? Sudah berapa jam kau disana?” tanyaku beruntun sambil menyodorkan selimut tebalku padanya yang langsung Sehun lilitkan di tubuhnya sambil duduk di sebelahku –di atas tempat tidurku. Lagipula Sehun agaknya kurang waras, di cuaca musim dingin seperti ini dia malah membuat kejutan yang bisa saja membuatnya mati kedinginan.

Gwenchana. Aku hanya ingin menyenangkanmu. Omong-omong maaf karena aku tidak mengangkat telfonmu, tadi aku menon-aktifkannya karena takut ketahuan sedang bersembunyi.” Ucap Sehun sambil mengeluarkan ponselnya yang terasa dingin. Kulit Sehun semakin memucat, pastinya ia sangat kedinginan di luar sana.

“Dasar bodoh. Tapi terimakasih karena sudah membuatku bahagia. Kau orang pertama yang menyelamati ulang tahunku yang ke-16 omong-omong.” Aku terkekeh, sementara Sehun kini hanya mengacak-acak rambutku seperti biasanya.

“Dan terimakasih juga karena sudah memberiku mawar merah muda. Itu tanda persahanatan kan?” lanjutku sambil menunjuk mawar merah muda yang sekarang ada di pangkuanku. Namun Sehun malah menggeleng.

“Aku memberikanmu merah muda bukan karena persahabatan, hanya saja pink itu warna kesukaanmu dan aku ingin memberi favoritmu saja,” akunya dan aku terkekeh. Jadi aku ini bahkan bukan sahabatnya Sehun. Gwenchana, toh Sehun masih menganggapku teman dan mau merayakan ulang tahunku seperti ini.

“Ah begitu rupanya,” kataku dan seketika suasana menjadi awkward.

“Oh, omong-omong apa kau sudah menyatakan perasaanmu pada Yara? Apa kalian sudah jadian?” tanyaku kini ingin tau, dan Sehun malah tertawa setelahnya. Hei, apa yang salah sekarang?

“Maaf Young-ah, tapi aku baru saja membohongimu.” Akunya sambil menangkup kedua pipiku dengan tangannya yang lebar.

“Aku bercanda ketika aku bilang menyukai Yara dan memintanya menjadi kekasihku, maaf karena sebenarnya aku hanya meminjam namanya untuk mengerjaimu.” Kata Sehun sambil berdiri dari duduknya, kemudian membuka lemari kecil di samping tempat tidurku.

“Kau tidak pernah mengunci lemarimu Young, sebaiknya kau rubah kebiasaanmu itu.” Nasihatnya kemudian sambil membawa keluar sebuah kue tart cantik dan meletakkannya di atas sebuah meja kecil tepat di depanku. Ia menyalakan lilin-lilin kecil berjumlah 16 di sana, dan dia mulai bernyanyi sambil bertepuk tangan.

377856759_large.jpeg

“Sange il chukka hamnida, saeng il chukka hamnida, saranghamun uri Hwa Young, saeng il chukka hamnida~♩”

Tangisku jatuh lagi seketika, lantas aku tertawa kecil karena kini Sehun sudah menyuruhnya make a wish. Dengan segera aku melipat tangan, kemudian menutup mataku sambil berdoa. Cukup banyak yang ku doakan di pertambahan usiaku ini, tapi yakinlah, Sehun masih ada di tiap doaku.

Aku membuka mata. Kemudian meniup seluruh lilin itu hingga padam. Sehun tersenyum, dan akupun balas tersenyum secara spontan.

“Selamat karena kau sudah 16 tahun uri Hwa Young,” ucap Sehun dan lagi-lagi aku hanya bisa mengucapkan terimakasih.

“Omong-omong, aku memang sedang jatuh cinta pada seseorang dan aku serius tentang itu Young-ah,” mataku membulat. Apa yang tengah Sehun bicarakan sekarang? Ingin curhat kalau ternyata ia-

Tunggu, apa yang ia keluarkan dari balik punggungnya? Sekuntum mawar merah?

“Sekuntum mawar merah untuk gadis yang sudah merebut hatiku sejak lama,” aku membulatkan mata, sementara kini Sehun sudah berlutut ala Pangeran dan menyodorkan mawarnya ke arahku.

HB (40pcs) Rp 1.000.000,-.jpeg

Saranghae Young-ah. Aku tau ini cukup aneh karena kita sudah tumbuh bersama sejak kecil, tapi tanpa bisa ku cegah rasa itu mekar menjadi sesuatu yang lain.” Aku menahan nafas, sementara kini Sehun masih melanjutkan kalimatnya.

“Young-ah, aku menyukai seseorang dan itu adalah kau, Choi Hwa Young.” Seketika, kumpulan kupu-kupu nampak menari-nari di sekitarku. Ada sensasi aneh ketika Sehun mengaku seperti itu dengan pipi tersipu meski aku tau pipi pasti lebih merah dari pipinya Sehun sekarang.

“Choi Hwa Young, will you be my girlfriend?”

Tanpa perlu ku tulispun, kalian tau kan apa jawabanku?

Saranghae Sehun-ahOff course I’ll.”

FIN

Shaekiran’s Note

RA, ANE GAK TAU MAU NGEMENG APA DIMARI,SUERR DEH.

INTINYA HEPPI BESDEH BUAT ENTE, SELAMAT NETAS KE 16 KALINYA DI BUMI INI. BHAKS. DOA EKI MENYERTAIMU SELALU. MOGA MAKIN SUKSES, MAKIN CECAN, MAKIN BAEK, MAKIN DIDEKATKAN JODOH NYATANYA/PLAKK/, MAKIN RAJIN SEKOLAH, NILAINYA BAGUS, NGEBANGGAIN ORANGTUA, TEMENNYA BANYAK (TAPI INGET ANE JUGA YG NUN JAUH DI MARI -,-) , JANGAN KESERINGAN LAGI BEGADANG DEMI NONTON PILEM (ANE UDAH KENA DAMPAKNYA DAN ITU GAK ENAK BEUT RA -,-) , MAKIN BANYAK AMAL KEBAIKANNYA, POKOKNYE WISH YOU ALL THE BEST VROHHH!!! 😄 😄 ❤

INGET, ENTE DAH TUIR DAN JAN SOK MUDA SAMA ANE, KITA CUMA BEDA BERAPA BULAN :V DAN UMUR ENTE MAKIN BERKURANG DI BUMI INI, JADI SERING-SERINGLAH BERBUAT KEBAJIKAN TERUTAMA SAMA ANE/PLAKK/ 😄

INI EPEP ASTRAL KADO SPECIAL MAYA DARI ANE, BHAKS. ENTE TAU NDIRI KITA TERPISAH RIBUAN KILOMETER ANTAR GUNUNG DAN LAUTAN BHAKS, JADI ANE GA BISA NGERAYAIN ULTAH ENTE CEM SEHUN NGERAYAIN ULTAH HWA YOUNG, WKWKWK. ANGGAP AJA INI GENRENYA FLUFF DAN SESUAI CEM KEINGINAN ENTE DINOTIS BIAS ULTAHNYA. OH IYA, MOGA SEHUN NEGNOTIS ENTE SECEPAT MUNGKIN, ANE DOAIN PASTI >.</DIBALANG/

ENTE MAU CHOI ATAU HAN PAN? INI HWA YOUNG ARTI NAMANYA BAGUS LO, KALO BAYI KOREA HWA YOUNG CEWE ARTINYA CANTIK KALO GAK SALAH, BHAKS. DAN CHOI KEKNYA LEBIH CUCOK AJA T.T

INI UDAH DINOTIS SEHUN PAN? KAN SEHUN UDAH NGERAYAIN ULTAH ENTE AMPE KEDINGINAN DI LUAR KAMAR,MESKI CUMA DI EPEP ASTRAL INI TAPI IYAIN AJA PLISS BIAR ANE SENENG -,-

LAST BUT NOT LEAST,

MOGA PANJANG UMUR TAR, SEHAT SELALU, MURAH REJEKI, DAN SELALU BESERTA TUHAN. WISH YOU ALL THE BEST POKOKNYA.CINTAKUH PADAMUH <3, SEMOGA ENTE GAK BOSAN LDR-AN AMA ANE, BHAKS/PLAKK/ 😄

N.B. DITUNGGU KEMEKNYA SAY, WKWKWK 😄

PELUM KETCHUP CIUM BASAH BERLENDIR BAU JARAK JAUH.

SHAEKIRAN A.K.A RALLYA A.K.A. PRIMATA BUKIT BARISAN A.K.A GENDUT ❤

13 thoughts on “Pinky Monster (Oneshot) – Shaekiran

    • wkwk, ketauan yak kalau sehun bohong? xixixi, ini memang plotnya pasaran mainstream banget chingu, makanya mudah ketebak hehe 😀 😄
      thanks for reading, cintakuh padamuh ❤

  1. AHHHH, SESEORANG TOLONG TAMPAR AKU /PLAK/ ANJIR SAKIT TERNYATA 😂 AHHHH BABY IT’S YOUU~ MAKASIH EKI GENDUT, JONES KARATAN, :V GAK NYANGKA ENTE NGASIH KADO KEK BEGINI, SEMULA ANE GAGAL PAHAM, HWA YOUNG ITU GAY? SUER DAH AKU GAK NGERTI. AKU SENYAM SENYUM BACANYA BUKAN KARENA SEHUN NEMBAK HWA YOUNG TAPI NGEBAYANGKAN MUKA ENTE NGETIK INI GIMANA😂😂😂 WKWK, CEM 16 ITU TUA BANGET YAH, AKU MAH APA ATUH UMUR DI BUMI MAKIN KURANG AJA:V TERUS KENAPA JUDULNYA PINKY MONSTER? ELAAHH, HWA YOUNGNYA TAKEN LAH ANE? 😂 MIRISS YA😂 SEKALGI MAKASIH YA BEBEBKU, AKU CINTA PADAMU 😂😂 😍😍 JARAK DAN WAKTU ITU GAK BERARTI /LAH KOK KITA KAYAK LESBI?/ AKU TUNGGU KADO NYATA DARIMUH, KEMEK-KEMEKNYA KAPAN LAH YA😘 MAKASIH AYANG BEB KU, I LIKE THIS STORY SO MUCH! LOVE YOU! 😍

    • MAAP BEB ANE BALAS INI KOMEN LAMA SANGAT 😄
      BABY IT’S YOUUU~~~
      YASAKIT LAH DITAMPAR NENG, YAKALI ENAK -___-
      DUDUH, SAMA-SAMA SAYANGKU YANG SAYANGNYA SUKA NGEJEK ANE GENDUT SEMENTANG BADAN DIA KURUSNYA NAUZUBILLAH :3
      GAGAL PAHAM BHAKS 😄
      ITU BUKAN GAY, CUMAN DIA NGAKU BEGITU KARENA DIA GAK LAKU/DIGAMPAR/ 😄
      NYEBANGIN MUKA ANE, ASTAGA, AWAS ENTE RINDU NTAR/DIBALANG/ 😄
      16 TAUN ITU TUA, COP TITIK :3
      KARENA CEWEKNYA ITU CEM MOSNTER GALAK NAN TOMBOY TAPI SUKA WARNA PINK, BEGITUH, JADINYA PINKY MONSTER/GAJELASMAHINIJUDULNYA XD/
      BENTAR LAGI ENTE TAKEN KOK, ANE YANG GAK BAKAL TAKEN SEUMUT IDUP, MIRIS :’
      KU JUGA CINTA PADAMUHH ❤
      LESBI PALALU, NYIRRR, ANE NGAKAK. KALO TEMENAN NGE-ALAY BERSAMA CEM KITA INI KALI YA? /DIGAMPAR/ 😄
      KADO NYATA -___-
      NTAR INI EPEP AJA YANG ANE PRINT YAK, KAN JADI NYATA/SEKETIKA DIBUNUH GAREM/ 😄
      POKOKNYA INGAT, KU MENUNGGU 😛
      LUV YUUU, INI GARING EUI, TAPI MOGA ENTE BENER-BENER SUKA NIH CERITA. 😄
      TE AMO~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s