[EXOFFI FREELANCE] RAIN

rain-pics-7

Title: RAIN | Author: reniilubis | Cast: EXO’s Kim Minseok, OC’s Reen | Genre: Romance | Rating: Teen | Length: Oneshoot

Disclaimer: All casts are belong to their self and God

Happy reading~^^

“Gwaenchana?”

Reen tersentak kaget saat suara lembut seseorang menyapa gendang telinganya, dan dalam sekejap ia bisa merasakan sebuah tangan memeluknya dari belakang.

“Minseok-ah, kau mengagetkanku.” Reen segera membalikkan badannya dan menghadapkan tubuhnya pada namja manis yang sedang berdiri dihadapannya saat ini. Ia memasang tampang pura-pura marah sambil mengerucutkan bibirnya lucu.

Minseok yang melihat tingkah menggemaskan Reen tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk yeoja bertubuh mungil itu. Dengan cepat, ia langsung memeluk Reen erat sambil menciumi puncak kepala Reen beberapa kali.

“Mwoya? Apa yang kau lakukan? Ini memalukan, Kim Minseok!” protes Reen sambil berusaha mendorong tubuh Minseok agar terlepas dari tubuhnya. Namun Minseok tidak mempedulikannya dan tetap memeluk Reen dengan erat.

“Kenapa harus malu? Lihat, tidak ada siapa-siapa disini.” Ujar Minseok dengan nada suara yang menggoda.

Reen yang merasa wajahnya mulai memanas segera mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Minseok, menenggelamkan kepalanya pada dada bidang milik Minseok. Bermaksud menyembunyikan wajahnya yang kini sudah memerah dengan sempurna.

“Apa kau sudah merasa lebih baik?” Minseok melepaskan pelukannya dengan perlahan lalu menangkup wajah Reen dengan kedua tangannya. Jarinya dengan lembut mengelus-elus pipi Reen.

Reen membalas tatapan Minseok dengan gugup, rona merah kembali menjalari pipinya. Dengan cepat, ia kembali memeluk Minseok dan menyembunyikan wajahnya di dada Minseok.

“Aish! Jangan menatapku seperti itu.” Sungutnya kesal. Ia tampak begitu malu-malu. “Aku baik-baik saja.”

Minseok yang kini sedang tersenyum geli melihat tingkah Reen, mengeratkan pelukannya pada gadis itu dan mengelus-elus rambut Reen dengan penuh kasih sayang.

“Apa tidak bosan memandangi hujan terus-menerus, eoh?” Reen melepaskan pelukannya dan menatap Minseok sekilas. Ia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke jendela dan mulai memperhatikan tiap tetes hujan yang kini sedang turun dengan derasnya. Memperhatikan lapangan sekolah yang sudah mulai tergenang air.

“Tentu saja tidak. Mereka indah.” Seulas senyum tipis terukir di wajah manis Reen. Sejak dulu, ia sangat menyukai hujan.

“Aku lebih suka memandangi wajahmu daripada memandangi hujan.” Minseok ikut menatap ke luar jendela. Memperhatikan hujan sekilas, lalu mengalihkan tatapannya pada Reen.

Wajah Reen kembali memerah mendengar penuturan Minseok barusan. Ia berusaha bersikap biasa saja dan mengabaikan Minseok yang kini sedang menyampirkan sebuah jaket di pundaknya.

Reen sempat mundur selangkah saat tiba-tiba wajah Minseok kini berada tepat di depan wajahnya. Dalam hitungan detik, Reen bisa merasakan Minseok mengecup bibirnya cepat, lalu segera beralih dari hadapannya dan berjalan meninggalkannya tanpa dosa, membuat wajah Reen kini sudah semerah tomat.

“Kajja, kita pulang.”

“Ya! Kim Minseok!”

*

Hujan kini sedang turun dengan derasnya. Seorang yeoja manis kini sedang berdiri di sebuah halte sambil sesekali menampung hujan dengan tangan mungilnya. Senyuman tak henti-hentinya menghiasi wajah cantiknya. Hey, Nona! Apa yang sedang kau lakukan disitu? Sudah hampir 2 jam lamanya kau berada disitu tanpa tujuan yang jelas. Kau akan sakit jika berlama-lama dicuaca yang dingin seperti ini. Kau tidak mau melihat si tampan Kim Minseok marah, kan?

Reen mengibas-ngibaskan tangannya yang basah ke udara dengan gerakan yang menggemaskan. Ia meremas jaketnya sekilas, lalu merogoh saku jaketnya dan meraih ponselnya dari sana. Ia membuka sebuah pesan, lalu tersenyum manis.

“From: Kim Minseok

Kau sudah pulang ke rumah, kan?”

Reen mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, tampak memikirkan sesuatu. Ia kemudian tersenyum sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.

“To: Kim Minseok

Aish! Kau mengganggu tidur siangku.”

Tanpa menunggu waktu yang lama, ponselnya kembali bergetar. Reen hampir saja tertawa terbahak saat membaca pesan balasan dari Minseok. Ia merasa Minseok sangat mudah dibohongi.

“From: Kim Minseok

Ah, mianhae! Kau boleh memarahiku nanti >< Aku mencintaimu.”

Tanpa berniat membalas pesan dari Minseok, Reen memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya. Ia merapatkan jaketnya karena merasa cuaca sangat dingin. Reen kembali memandangi hujan yang masih setia mengguyur kota Seoul sejak tadi pagi. Ia sudah merasa sangat kedinginan, namun tidak berniat pulang ke rumah. Memandangi hujan seperti ini adalah hal yang paling ia sukai sejak dulu. Ia juga menyukai aroma hujan.

Reen mengulurkan tangannya dan kembali memainkan air hujan. Ia menengadahkan kepalanya ke atas, menikmati pemandangan langit yang gelap. Reen kembali tersenyum. Dengan perlahan ia beranjak menjauhi halte dan berjalan di tengah guyuran hujan yang membasahi tubuhnya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyub, ia tidak peduli dengan dinginnya cuaca saat ini. Ia terus melangkahkan kakinya dengan riang, tidak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang berjalan melewatinya. Apa kau akan pulang dengan keadaan seperti itu, Reen? Bagaimana kalau Kim Minseok melihatmu? Aish!

*

Reen berusaha memasang tampang innocent nya dihadapan Minseok yang kini sedang sibuk mengaduk bubur dengan wajah menahan kesal. Sesekali ia memamerkan cengiran polosnya saat Minseok dengan jelas sedang menahan mulutnya untuk tidak menyemprot Reen dengan kata-kata yang bahkan Reen sendiri sudah sangat menghafalnya.

“Buka mulutmu.” Reen melayangkan sebuah senyuman singkat sebelum ia membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Minseok. Ia mengunyah dengan perlahan, dengan tatapan tak lepas dari Minseok.

“Kau benar-benar keras kepala.” Ujar Minseok sambil menatap Reen lelah. Ia lelah terus-terusan menasehati gadis ini. Nyatanya, tak satupun nasehatnya yang didengarkan oleh Reen.

“Aku minta maaf, Oppa.” Cengir Reen lagi. Biasanya, Minseok akan luluh padanya bila Reen memanggilnya dengan sebutan ‘Oppa’. Ia mengedip-ngedipkan matanya lucu mencoba untuk menggoda Minseok yang masih setia memasang tampang kesalnya.

“Jangan coba-coba menggodaku seperti itu. Aku sedang marah saat ini.”

“Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Kata Reen lagi sambil memasang wajah memelas.

Minseok menghela nafas sejenak. Ia meletakkan mangkuk yang sudah kosong itu ke atas meja, lalu meraih segelas air dan memberikannya kepada Reen.

“Aku sudah mendengar itu ribuan kali dari mulutmu.” Minseok membuka bungkusan obat dan memberikan beberapa pil untuk Reen. Ia memperhatikan Reen yang kini sedang menatap obat-obat itu ngeri.

“Apa aku harus memakan ini semua?” Seru Reen sambil melebarkan matanya. Ya Tuhan, obat-obatan ini sungguh banyak!

“Kau sudah terbiasa dengan itu. Kenapa kali ini kau bereaksi berlebihan begitu?”

“Tapi, lihat! Obat ini sungguh besar!” Teriaknya berlebihan. Ia memperhatikan obat-obatan itu dengan seksama, sesekali merasa mual saat indera penciumannya menangkap aroma yang menyengat dari obat itu.

“Kau akan memakannya sekarang juga atau aku yang akan memaksa obat itu masuk ke mulutmu?” Reen menatap Minseok cepat. Apa maksudnya?

“Kau mau membantuku memakannya?” tanya Reen polos. Ia sungguh tidak menyadari kalau Minseok kini sedang menyeringai jahil ke arahnya.

Minseok sepertinya mendapatkan ide cemerlang untuk mengerjai gadis ini. Dengan gerakan cepat, ia beranjak mendekati Reen yang duduk di tempat tidur, lalu memposisikan tubuhnya menghadap Reen sambil tetap memasang seringaian itu di wajahnya.

Melihat tingkah Minseok yang tiba-tiba seperti itu, Reen mengerutkan dahinya. Ia menyadari kalau wajah Minseok kini sangat dekat dengan wajahnya. Ia mengerjap beberapa kali.

“Kau sungguh mau membantuku?” tanya Reen lagi masih dengan wajah polosnya. Ia membuka telapak tangannya, memandangi obat-obat itu nanar, lalu menatap Minseok yang kini wajahnya semakin mendekat. Reen seketika merasa gugup. Apa yang dilakukan namja ini?

“Kau mau apa?” Tanpa berkata apa-apa, Minseok mencium Reen dengan gerakan cepat, membuat Reen mau tidak mau merasa wajahnya memanas.

Reen berdegup kencang saat Minseok melepaskan ciumannya, lalu menatap Minseok dan menyadari tatapan namja itu seolah-olah akan memakannya detik ini juga.

“Kau makan obatmu, atau…”

“Arasseo! Aku akan memakannya sendiri.” Kata Reen cepat sebelum Minseok sempat menyelesaikan perkataannya. Sepertinya ia tahu arah pembicaraan Minseok.

Aish! Dasar namja mesum!

*

Dan disinilah Reen sekarang. Duduk didalam mobil Minseok dengan tampang yang luar biasa cemberut. Ia menekuk wajahnya sambil memandang kesal ke luar jendela dan menyaksikan pemandangan jalanan Seoul yang basah oleh hujan yang turun dengan derasnya. Ia bahkan hampir menangis seperti anak kecil meminta mainan pada ayahnya saat Minseok dengan tegas melarangnya keluar dari mobilnya. Reen sengaja mendiamkan Minseok sejak tadi, menunjukkan kalau ia benar-benar kesal saat ini.

Kenapa?

Itu karena Minseok mengurungnya di dalam mobil. Minseok memarahinya saat ia mendapati dirinya sedang bermain hujan. Bukan bermain hujan dalam artian Reen berlari-lari dibawah guyuran hujan, tetapi ia hanya memainkan hujan dengan tangannya, seperti menampungnya dengan telapak tangannya. Namun, Minseok sudah sangat marah dan dengan tegas segera menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Reen sempat berontak, tapi Minseok malah menyeretnya dan dirinya berakhir seperti ini. Terkurung di dalam mobil Kim Minseok.

“Mau sampai kapan kau mendiamkanku seperti ini?” Reen berusaha menulikan telinganya. Ia tetap fokus memandang keluar kaca mobil tanpa menghiraukan Minseok yang kini sedang menghela nafas di sebelahnya.

“Reen…” Reen tidak bergeming. Ia malah memejamkan matanya, mencoba untuk tidur. Rasanya dirinya sangat tersiksa hanya dengan memandangi hujan seperti ini.

“Reen, aku minta maaf.”

Minseok menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Yeoja ini benar-benar keras kepala. Astaga, kalau gadis ini bukan kekasih yang dicintainya, sudah dipastikan ia mengusir Reen dari mobilnya sejak tadi. Minseok mengusap wajahnya kasar. Sebelah tangannya terulur untuk mengelus rambut Reen.

“Reen, aku minta maaf.” Ujarnya lembut.

“Kalau begitu keluarkan aku dari sini.” Dingin. Nada suara Reen benar-benar dingin. Minseok bahkan sempat merinding beberapa saat. Apa dia sebegitu marahnya?

“Kau tahu aku tidak akan melakukan itu.”

“Kalau begitu tolong tutup mulutmu.” Ya Tuhan! Mereka bertengkar lagi hanya karena hujan? Hanya karena Minseok melarang Reen untuk bermain hujan?

Terkadang Minseok mengutuk air hujan tanpa dosa itu kenapa Tuhan menciptakannya. Terkadang ia sangat membenci saat-saat dimana hujan turun, karena bisa dipastikan ia akan bertengkar dengan Reen. Terkadang Minseok merasa frustasi kenapa hanya karena hujan mereka selalu bertengkar. Mengapa hujan selalu menjadi pemicu pertengkaran mereka? Sungguh, melihat Reen yang marah seperti ini sangat menyiksanya. Kenapa yeoja cantik itu harus menyukai hujan?

Minseok kembali fokus memperhatikan Reen yang masih memejamkan matanya. Ia menghela nafas lagi, kemudian membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Reen segera membuka matanya, dan mengerutkan dahi saat melihat Minseok kini sedang berjalan mendekati pintu di sebelahnya.

Ia hanya bisa melongo saat Minseok membuka pintu dan mengulurkan tangannya untuk menyuruh Reen segera keluar.

“Kajja.” Reen memperhatikan tangan Minseok sejenak, kemudian beralih menatap Minseok yang kini sudah basah kuyub.

“Minseok-ah, apa yang kau lakukan?” tanyanya heran. Ia juga merasa khawatir dengan Minseok yang sudah basah kuyub seperti itu.

“Ini yang kau inginkan, kan?” Sebuah senyuman manis otomatis terukir di wajah cantik Reen. Tanpa membuang-buang waktu, ia segera menyambut tangan Minseok, dan dengan bahagianya ia segera keluar dari dalam mobil.

Ia tak henti-hentinya melompat-lompat kecil di tengah guyuran hujan yang membasahi tubuhnya. Reen menatap Minseok, lalu memeluk namja itu dengan erat.

“Minseok-ah, gomawoyo~”

“Kau tidak marah lagi padaku?” Minseok membalas pelukan Reen, lalu mengelus-elus kepala Reen beberapa kali.

“Tidak. Aku sangat bahagia sekarang. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Minseok-ah.” Reen melepaskan pelukannya, lalu memberikan cengiran polosnya seperti biasa pada Minseok.

“Tapi besok, sudah kupastikan aku akan menemukanmu terbaring tak berdaya di tempat tidurmu.”

“Itu tidak masalah selama kau bersamaku.” Merasa gemas, Minseok segera menarik tengkuk kepala Reen dan meraup bibir manis itu dengan cepat, memberikan ciuman lembut di bibir Reen.

Ia melepaskan ciumannya, lalu menatap Reen sambil tersenyum.

“Aku mencintaimu.” Katanya cepat, lalu kembali mencium Reen tanpa memberikan kesempatan pada gadis itu untuk berkata apapun.

Minseok mengabaikan setiap tatapan orang yang memperhatikan mereka berdua yang sudah basah kuyub seperti ini. Ia tidak peduli. Mulai saat ini, Minseok rasanya akan menyukai hujan juga. Karena hujan adalah saksi bisu seberapa cintanya ia pada Reen.

-END-

Note: FF ini dipersembahkan untuk yang merasa sebagai si pemilik OC wuakakakakakak Kak Ne, maapin ini FF nya gaje, maapin juga kalo ga berkenan di hati Kak Ne ekekekekekek~

Iklan

7 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] RAIN

  1. Pemilik OC in here, wkwkwk..
    maacih yaaa, baru kali ini dibikinin FF sama author Freelance. Bahagia!!
    kalo punya pacar kek Minsok mah akunyah nurut aja *gulingguling*

    Betewe akunya emang suka sama bau ujan, tapi akunya gabisa kena ujan sama sekali. Dijamin pasti langsung thephar walaupun cuma setetes air hujan saja. :3
    Cucok banget si Reen di sini juga gawenya ujanan terus sakit, kok sama.
    Wkwkwkwk..

    Once again, gomawoyeooo Renii >.<

    P.s: Izin ku reblog yaaa, akunya kalo ada yg bikinin FF buatku pasti ku reblog. Wakwak.

  2. Hujaaannnnn hujaaaannnn aku juga sukaaa hujaaannnn ekekekekek duh itu adegan terakhirnya romantis bangeeeetttt….. awas ntar masuk angin kalo kelamaan main ujan ekekekekek

  3. yawla biasku bang umin~ kenapa dirimu soooo sweet sekaleehhhh di ff ini :”) aku juga suka hujan bang~ ayok kita main hujan bareng-bareng :”)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s