[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 2)

img_70571

Tittle/judul fanfic        : Reason Why I Life

Author                : Park Rin

Length                : Chaptered

Genre                : Romance, Family, Angst

Rating                : PG-13

Main Cast&Additional Cast    : Baekhyun

                 Park Sung Rin (OC)

                 Mingyu Seventeen

                 Ect.

Summary    : Terima kasih telah membantuku…

Disclaimer    : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

Author’s note    : Halo! Ini FF pertama author, semoga kalian suka dengan FF ini. Selamat membaca.

Tak terasa sudah 5 bulan setelah kejadian itu. Aku dan Mingyu makin renggang, apalagi semenjak Mingyu mulai sibuk manggung dan memiliki rencana debut tahun depan. Sekarang Mingyu jarang menemuiku, sebulan bisa hanya 2 kali. Selebihnya kami hanya memberi kabar lewat pesan., itupun Mingyu hanya membalasnya setiap 5 jam sekali, membuatku makin kehilangan sosoknya.

Waktu itu aku disekolah, tak sengaja membuka posenku di tengah pelajaran berlangsung. Sebuah berita menarik perhatianku, berita yang tiba-tiba saja membuat dadakku sesak. “Kris keluar dari EXO” itulah kesimpulanku padahal belum pasti ia keluar. Mataku memanas, tapi aku tidak boleh menangis. Aku segera mematikan ponselku dan membanca berusaha memperhatikan guru yang sedang berceloteh itu.

Di sekolah aku tidak memiliki begitu banyak teman, sehingga tak terlalu banyak orang yang tahu aku menggilai EXO hingga berani menyebutnya alasanku untuk hidup terlebih Baekhyun. Aku berusaha untuk fokus, dan berharap kelas cepat berakhir sehingga aku bisa secepatnya pulang. Sepertinya aku tidak akan bekerja hari ini, moodku benar-benar kacau karena berita itu.

Setelah sampai dirumah, aku segera mengganti bajuku, kemudian mulai tiduran di atas sofa. Jujur, dadaku masih terasa sesak, mataku panas. Sepertinya sebentar lagi aku sudah siap untuk menangis. Aku teringat aku belum menghidupkan ponselku sejak tadi, lalu aku juga ingat belum membalas pesan Mingyu dari kemarin. Aku yakin setelah ini aku akan diomeli Mingyu.

Benar saja 15 pesan masuk ke ponselku dan semuanya berasal dari Mingyu. Aku mengigit bibir bawahku. Entah kenapa terselip rasa senang di hatiku karena Mingyu mengirimiku banyak pesan, namun disaat yang sama rasa senang itu tak bisa menutupi kesedihanku hari ini.

Kris adalah sosok yang dekat dengan Baekhyun, apakah sekarang Baekhyun tak apa-apa? Apakah EXO akan baik-baik saja? Kenapa Kris keluar disaat EXO akan menggelar konser tunggal? Bagaimana jadinya EXO, tanpa Kris?

Tak lama Mingyu menteleponku, memecahkan pikiranku tentang EXO. Aku masih berpikir apakah akan mengangkatnya atau tidak. Terus terang saja, aku sedang malas jika Mingyu menteleponku hanya untuk mengomeliku mengenai pesan yang tak kubala, tapi hatiku butuh Mingyu sekarang. Aku butuh sosok kakakku yang siap menemaniku saat aku merasa risau seperti ini.

“Kau dimana?” Tendengar suara keras dengan logat kesal diseberang sana.

“Aku dirumah, kenapa?” Jawabku setenang mungkin.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanyanya kemudian, kini nadanya melemah seolah ia tahu aku sedang sedih. Setelah itu, aku menangis. “Hey, apa kau baik-baik saja? Ya, jangan menangis!” Katanya panik.

“Hiks… tak bisakah kau pulang? aku membutuhkanmu sekarang!” Tanyaku terbata-bata, berharap ia akan menjawab iya.

“Aku tidak tahu Rin-a… aku masih ada latihan. Hm… tenangkan dahulu dirimu di taman dekat tempatku latihan. Saat istirahat nanti, sebisa mungkin aku akan menemuimu.” Katanya sedikit panik. Aku terdiam setitik kekecewaan hinggap di hatiku. “Rin-a!” Panggilnya lagi.

“Eumh… aku akan kesana.” Jawabku setelahnya, kemudian aku meruntuki diriku. Mengapa aku harus menunggunya? Sebesar itukah ketergantunganku dengan Mingyu?

“Baiklah, tunggu aku disana, sepertinya sebentar lagi aku istirahat.” Kemudian terdengar suara seungcheol oppa memanggil Mingyu. “Sudah ya, aku harus latihan lagi.” Katanya lalu menutup telepon.

Aku terdiam, masih menimbang-nimbang akan pergi atau tidak. Bila aku tidak pergi, bagaimana jika Mingyu datang dan menungguku disana? Bagaimana jika ia nanti kedinginan saat menungguku? Bagaimana jika ada orang jahat yang mengganggunya? Aku segera menghilangkan segala pikiran negatifku dan segera mengambil jaket.

Disinilah aku sekarang, disebuah tempat duduk panjang di taman dekat tempat latihan Mingyu. Aku menggosok-gosok tanganku, berharap ada sepercik kehangatan tercipta. Aku disini sudah dari 2 jam yang lalu, namun Mingyu masih belum terlihat dan teleponku pun tidak diangkat padahal jarum jam sudah menunjukan pukul 9 malam.

“Mingyu oppa, kau dimana?” Bisikku pelan. Berharap ia mendengarku dan segera datang.

Jam menunjukan pukul 10 malam, taman benar-benar sudah sepi. Hanya ada aku dan segerombolan orang di ujung sana, sepertinya mereka juga akan pergi. Rasa takut mulai menyergapiku. Entah mengapa, aku merasa udara malam ini begitu mencekam. Jadi, aku memutuskan untuk pulang, sebelum itu aku berkeingina untuk mengirimi Mingyu pesan.

Baru saja aku membuka kunci hpku, tapi tiba-tiba hpku mati. Salahkanlah diriku yang lupa untuk mengisi ulang hpku tadi. Aku kemudian mengigit bawah bibirku. Sebaiknya aku menitipkan pesan saja pada satpam di tempat latihan Mingyu.

Perjananlan dari taman tempat aku berjanji dengan Mingyu membutuhkan waktu 5 menit dengan berjalan kaki. Malam itu benar-benar mencekam, membuat perasaanku tak tenang. Setelah beberapa menit berjalan aku bisa melihat gedung besar tempat Mingyu dan trainee lainnya biasa latihan. Aku mempercepat langkahku menuju bangunan persegi kecil tempat dimana biasanya satpam diam.

“Pak, apakah saya boleh minta tolong?” Tanyaku sopan pada paman satpam itu.

“Minta tolong apa nona?” Tanyanya ramah.

“Bisakah kau menitipkan ini untuk trainee bernama Kim Mingyu?” Tanyaku kemudian setelah memberikans secarik kertas itu.

“Tentu saja. Jika saya boleh tahu, anda siapa nona?” Tanyanya kembali sambil meraih kertas itu.

“Saya adiknya Mingyu.” Jawabku kemudian. “Katakan saja itu dari Rin.” Tambahku lagi, dan dibalas dengan anggukan oleh paman itu. “Terima kasih, paman.” Kataku, kemudian membungkuk. Paman itu hanya merundukan kepalanya sedikit sambil tersenyum.

Aku kemudian pergi. Jarak tempat latihan Mingyu dengan rumah kami tidak terlalu jauh, hanya dibutuhkan waktu 25 menit untuk pergi kesana jika berjalan kaki.. Jalanan disini begitu sepi, apalagi saat malam seperti ini ditambah suasana yang begitu mencekam memperbesar keinginanku untuk mencapai rumah sebelum pukul 11 malam.

“Nona?” Tiba-tiba suara laki-laki terdengar. Seketika aku merinding, kemudian teringat cerita ibu penjaga toko didekat apartemenku mengnai kejadian beberapa tahun lalu. Cerita dimana seorang siswi SMA sempat diperkosa dan dibunuh di dekat sini. Hal inilah yang sering membuat Mingyu selalu mengkhawatirkanku saat pulang malam.

“Hey nona, kenapa tak menoleh? Kami memanggilmu.” Terdengar suara laki-laki lain belakangku. Aku menambah kecepatan langkahku, aku benar-benar takut.

Grep…

Tangan besar itu memengang lenganku. Kakiku gemetar, tanganku terasa sangat dingin. Ya tuhan, aku benar-benar takut. Aku berusaha melepaskan tangan itu, tanpa menoleh. Tangan itu terlalu kuat…

“Tolong lepaskan aku.” Kataku masih berusaha melepaskan tangan besar itu.

“Ya, tatap kami dulu nona cantik.” Setelahnya tangan itu menarikku. Membuat aku berhadapan dengan 3 orang laki-laki. Kakiku makin gemetar. Aku merununduk, aku takut untuk menatap 3 orang laki-laki ini.

“Tatap kami, nona.” Tangan itu memegang daguku. Aku melihat sekilas wajah orang-orang itu, kemudian menutup mataku rapat. Aku tak yakin wajahnya, tapi aku dapat menarik kesimpulan ketiganya adalah orang-orang yang mengerikan.

“Buka matamu nona cantik, kami bukan orang jahat, hahaha.” Kata laki-laki lain. Tawanya benar-benar mengerikan.

“Tolong lepaskan aku, aku mau pulang.” Kataku pelan. Aku benar-benar takut, suaraku seakan menghilang. Kemudian, aku memberanikan diri melihat wajah mereka.

Wajah yang pertama aku lihat adalah laki-laki yang memegang lenganku, kulitnya paling gelap dari yang lain, namun badannya begitu kekar, terlihat dari kaos hitam ketat yang ia kenakan. Rambutnya cepak dan anting hitam besar menggantung mencolok. Disebelah kirinya berdiri seorang laki-laki tinggi, rokok bertengger dimulutnya sambil memberikan senyuman mengerikan padaku. Kemudian, disebelah kanan terdapat laki-laki berbadan paling kecil dari pada yang lain, namun ada goresan bekas luka di pipi kananya, membuat ia tak kalah mengerikan dengan teman-temannya yang lain.

“Bagaimana, wajah kami tampan bukan?” Kata laki-laki berbadan kekar itu. Aku menunduk lagi.

“Tolong biarkan aku pulang, kumohon.” Kataku memohon. Tangan laki-laki ini begitu kuat, ditambah teman-temannya yang terlihat sama kuatnya. Aku benar-benar tak bisa kabur.

“Bagaimana kau pulang, setelah bermain dengan kami nona cantik?” Laki-laki dengan rokok itu bicara. Tangannya mengelus pipiku pelan. Jangan lupakan senyumnya yang benar-benar mengerikan.

“Tidak… kumohon lepaskan aku, sebelum aku berteriak.” Kataku menggeleng. Aku berusaha melepas cengkraman lengan itu. Mataku sudah berkaca-kaca.

“Teriaklah sepuasnya nona, tidak akan ada yang mendengarkanmu.” Kata laki-laki berbadan kecil itu. Kemudian mereka menarikku ke sebuah lorong kecil di dekat jalan. Lorong itu benar-benar gelap.

“Tolong… tolong… tolong aku…” aku berteriak sejadi-jadinya, ketiga laki-laki itu hanya tertawa. Air mataku sudah mengalir.

Kemudian aku bisa merasakan bibir berbau rokok itu mencium bibirku. Air mataku tak berhenti mengalir saat tangan-tangan yang lain sudah memegang badanku. Aku menutup mataku. “Mingyu, tolong aku…”

“Ya! Lepaskan gadis itu!” Suara yang begitu aku kenal, namun aku tak berani membuka mataku.

Setelah suara itu terdengar, bibir dan tangan itu melepaskanku. Kakiku melemas, aku terduduk dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Aku tak bisa mendengar apapun setelahnya. Entah berapa lama aku diposisi seperti itu.

“Kau tidak apa-apa?” Suara familiar itu memegang pundakku. Setelahnya, aku memeluknya dan menangis sejadi-jadinya. Air mataku terus keluar, pikiranku benar-benar kalut. Kemudian, aku dapat merasakan datangan itu menepuk-nepuk punggungku.

15 meni aku memelukknya, aku sudah mulai bisa mengontrol emosiku. Namun, aku masih bisa merasakan tanganku gemetar. Aku kemudian mengentikan tangisku, tapi belum melepaskan pelukan itu.

“Kau sudah tidak apa-apa?” Katanya pelan. Mataku membulat, otakku sepertinya tadi membeku, sehingga sama sekali tak dapat mengenali suara orang ini. Segera aku melepaskan pelukannya.

“Maaf.” Entah kenapa kata itu yang pertama kali aku ucapkan setelah berhasil melepaskan pelukannya. Aku menunduk tak berani menatap matanya.

“Kau bisa berdiri? Sebaiknya kita pergi. Tempat ini tidak aman.” Katanya kemudian, aku hanya mengangguk. Kemudian berusaha berdiri, namun entah kenapa kakiku masih lemas. Untung ia masih memegangku, sehingga aku tidak jadi terjatuh. “Naiklah ke punggungku.” Katanya kemudian. Aku kaget, tapi aku tidak punya pilihan lain. Jadi, aku naik kepunggungnya.

“Maaf, aku telah merepotkanmu.” Kataku kemudian setelah ia mulai berjalan.

“Tidak masalah, kau fansku jadi sudah seharusnya aku menjagamu. Lagi pula aku sedang ingin memukuli orang, jadi pas sekali.” Katanya kemudian, membuatku kaget. Ia masih mengingatku? Ya, orang ini adalah Baekhyun oppa.

“Kau masih mengingatku?” Tanyaku, entah kenapa jantungku berdetak amat cepat. Aku yakin Baekhyun dapat mendengar suara jantungku.

“Tentu saja, gadis kecil yang menabrakku malam itu. Ia mengatakan ia tak apa-apa, jadi aku meninggalkannya dengan tenang, kemudian dari spion mobil aku bisa melihatnya kesakitan.” Jawabnya cepat.

“Maaf.” Kataku kemudian.

“Mengapa kau selalu meminta maaf?” Katanya terdengar jengkel. “Aih, sudahlah. Rumahmu dimana? Akan ku antar kau pulang.” Katanya membuat aku terbelalak. Seorang Baekhyun EXO mengantarkan aku pulang? Apa aku bermimpi?

Setelah membenarkan perasaanku, aku mengarahakan Baekhyun menuju apartemenku. Di perjalanan aku berdoa, semoga tidak ada yang melihat Baekhyun menggendongku dan mengantarkan aku pulang. Aku tak ingin Baekhyun mendapat masalah karenaku dan membuat perasaan penggemar yang lain terluka karena aku.

“Nah sudah sampai, cepat buka pintunya.” Kata Baekhyun kemudian, ia mendekatkanku pada layar password pintu apartemenku. Astaga, apa Baekhyun akan masuk?

Aku memasukan password, tak lama pintu terbuka. Baekhyun masuk, kemudian menutup pintu dengan kakinya. Persis seperti Mingyu saat menggendongku waktu itu. Ah, entah mengapa aku mengingat Mingyu. Apa Mingyu sudah membaca pesanku? Apakah sekarang ia sudah sampai dorm? Atau ia masih latihan?

Lamunanku tentang Mingyu buyar sesaat setelah Baekhyun mendudukanku di sofa. Aku kemudian melihatnya merenggangkan pinggangnya. Aku menatapnya dengan tatapan sedih.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Aku tidak apa-apa.” Katanya. “O, ya? Tidak apa-apa kan aku diam disini dahulu? Pikiranku sedang kacau sehingga aku malas untuk pulang.” Kata Baekhyun kemudian dan aku hanya mengangguk pelan.

Ia kemudian melepaskan topi dan masker yang melekat didirinya. Aku terkejut, bibir sudut Baekhyun mengeluarkan sedikit darah.

“Astaga, kau tak apa?” Kata ku kemudian, lalu berusaha bangun melihat keadaan Baekhyun. Kakiku masih terasa lemas, tapi aku sudah sanggup berdiri.

“Aku tak apa.” Kata Baekhyun tersenyum.

“Apanya yang tak apa. Tunggu disini, aku akan membersihkan lukamu. Bagaimana jika luka itu merusak wajahmu?” Kataku panik, kemudian berjalan pelan mengambil kotak obat di dapur.

Setelah mendapatkannya, aku kemudian mendekati Baekhyun. Perlahan, aku mengelap darah di sudut bibir Baekhyun dengan kapas alkhol. Aku dapat melihat Baekhyun memejamkan matanya dan sedikit meringis. Kemudian, aku meneteskan obat luka di cotton bud dan mengoleskannya di sudut bibirnya.

“Aku harap itu tak berbekas. Aku mungkin tak bisa hidup jika wajahmu rusak karena aku.” Kataku sambil merapikan peralatan yang kugunakan untuk merawat Baekhyun.

“Tenanglah, wajahku tak akan rusak dengan luka sekecil ini.” Kata Baekhyun tersenyum. “Kenapa kau malah mengkhawatirkan aku? Kau sendiri tak apa? Apakah mereka sudah dapat melakukan hal yang tak pantas padamu?” Tanya Baekhyun kemudian.

Ingatan itu muncul kembali, ingatan saat laki-laki itu menciumku dan menyentuh badanku. Aku menyentuh bibirku pelan, kemudian aku beranjak bangun. Aku menuju wastafel di dapur, setelah itu aku aku menggosok-gosok bibirku dengan air. Seketika, aku melupakan Baekhyun di rumahku. Air mataku terus mengalir, tanganku gemetar. Ingatan tadi terlalu mengerikan.

Aku merasakan tangan Baekhyun memeggang lenganku perlahan. Aku menatapnya, ia kemudian memelukku pelan. Aku menangis dalam diam. Saat itu aku merasakan pelukannya begitu hangat, seperti seorang kakak menenangkan adiknya. Aku merasa begitu nyaman didekatnya. Seketika aku melupakan hubungan kami yang hanya sebatas fans dan idolanya.

“Semuanya baik-baik saja, Rin. Tak ada yang terjadi, kau baik-baik saja. Lupakan saja semua yang terjadi hari ini.” Kata Baekhyun pelan. Kemudian aku menangis kencang; ia memelukku makin erat.

Baekhyun kemudian menarikku kembali keruang tengah saat tangisku mulai sedikit reda. Ia mendudukanku di sofa, kemudian pergi lagi kedapur. Aku hanya diam, berusaha kembali menenangkan hatiku. Tak lama, baekhyun kembali dengan 2 buah cangkir. Ia menyerahkan cangkir hangat itu padaku. Aroma teh mulai menyeruak.

“Itu bisa membuatmu lebih baik, minumlah.” Kata Baekhyun, kemudian mengusap kepalaku. Sungguh, aku merasa saat ini bukan bersama Baekhyun EXO. Aku merasa aku sedang bersama Byun Baekhyun, seorang kakak yang hangat. Aku seperti melihat sosok Mingyu dalam rupanya.

Aku menyesap pelan teh hangat itu. Benar, rasanya lebih baik, tapi tetap saja ingatan itu masih tetap terbanyang dipikiranku. Buktinya tanganku masih bergetar saat memengang ganggang cangkir itu.

“Bersandarlah dipundakku. Sepertinya kau belum bisa melupakan kejadian tadi.” Kata Baekhyun.

Aku tak menolak, aku menyandarkan kepalaku di bahu Baekhyun. Tak lama kemudian, Baekhyun mulai bernyanyi Into Your World. Perasaanku yang tadinya masih sedikit kalut, tiba-tiba menenang. Aku memejamkan mataku.

“Tidurlah, aku tahu hari ini adalah hari sulit untukmu… dan untuku…” Baekhyun memutus ucapannya. Suaranya mulai gemetar, tapi aku tak bisa bertanya. Mataku terasa berat, kemudian gelap membayangiku.

Aku merasakan cahaya masuk dari cela-cela jendelaku. Aku membuka mataku pelan, lalu mengucek mataku. Kemudian aku mengingat kejadian terakhir sebelum aku tertidur, mulai melihat keseluruh ruangan mencari Baekhyun. Tapi, aku malah mendapati aku tertidur dikamar bukannya di sofa. Apakah yang semalam hanya mimpi?

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 2)

  1. waaah kalaupun mimpi sialnya itu mimpinya sangat indah. wkwkw tapi sungguh aku berharap itu bukanlah sekedar bunga tidur yg mengerikan sekaligus menyenangkan hehehe. eh apa mingyu suka sama sungrin kenapa sibuk sekali setidaknya datang lebih sering. kalau aku jadi sungrin maka aku akan mengeluarkan segala uneg2 yg ada pada mingyu dan menangis tersedu2 ah terlalu mendramatisir wkwkwkk. semoga cepet di update next chapternya ya author. salam kenal aku reader barumu hihihihihi

    • Halo! Salam kenal juga ya, next chapter semoga bisa di post minggu depannya, ya :D. Alasan sungrin gak ngeluarin uneg unegnya ada di next chapter #spoiler XD. Makasih udah mau baca ff milik author! XOXO

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s