GIDARYEO – 3rd Page — IRISH’s Tale

irish-gidaryeo-2

GIDARYEO

| Kajima`s 2nd Story |

|  EXO Members |

| OC`s Lee Injung — Kim Ahri — Park Anna — Maaya Halley — Byun Injung — Lee Jangmi |

|  AU — Crime — Dark — Family — Fantasy — Hurt-Comfort — Melodrama — Romance — Supranatural — Thriller  |

|  Chapterred  |  Rated R for violence and gore, language including sexual references, and some harsh words and/or action   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

Show List:

Teaser Pt. 1Teaser Pt. 2Teaser Pt. 3Teaser Pt. 41st Page2nd Page

♫ ♪ ♫ ♪

In Anna’s Eyes…

“Anna? Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku mencari file yang tertinggal.” Aku menyahut pada seorang rekan yang bekerja di meja resepsionist sementara tungkaiku masih kubawa berlari masuk ke dalam ruangan kerjaku.

Baiklah. Ini dia. Ruanganku.

Ah! Hanya ada beberapa gedung tinggi yang terlihat sejajar. Tunggu… Saat aku bekerja… artinya aku sedang duduk di depan komputerku. Segera, aku duduk di depan komputer, memandang ke depan, ada dua gedung yang terlihat jelas, sebuah hotel, dan… perpustakaan kota.

Lalu… dari belakangku… tidak ada. Tidak ada gedung yang mencapai tinggi gedung ini. Berarti ada dua pilihan… Hotel itu, dan perpustakaan kota.

Kalau di hotel, rasanya tidak mungkin seorang pembunuh akan tinggal di hotel terus menerus. Perpustakaan kota jadi pilihan terakhir. Tapi… Memangnya ruangan apa yang ada di perpustakaan kota dan bisa ditinggali olehnya?

“Anna, apa benda ini yang kau cari?”

Aku mendongak, menyernyit saat melihat sebuah kotak kecil di tangan rekan kerjaku. “Apa itu?” tanyaku.

Aku menemukan nya di atas lokermu, kurasa kau lupa membawanya, ini! rekan kerjaku melemparkan kotak kecil berwarna hitam itu

“Thanks.” ucapku.

Aku membuka kotak itu, dan terkesiap saat ada kertas di dalamnya. Dengan sederet kalimat tertulis di atas kertas tersebut. Kalimat yang… kembali membuat kinerja jantungku tidak karuan.

Jika kau menemukan kertas ini, artinya kau sudah salah menebak keberadaanku, Anna. Asal tahu saja, aku selalu mengawasi dari sisimu, dan juga… aku mengawasinya sepanjang hari. Oh. Apa kau ada waktu untuk minum teh bersama hari ini? Aku akan ada di café Romee sore ini jam 4. Sampai bertemu, Anna.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sudah jam 4 lewat. Sial. Ia benar-benar membodohiku. Tidak ada siapapun yang muncul di cafe tempatku duduk sekarang. Aku sampai mengawasi setiap orang yang masuk ke dalam cafe, sementara diriku sendirian seperti orang bodoh dan menghabiskan hampir satu wadah teh!

Kyaaaaa!”

Aku terperanjat. Di luar cafe, seorang wanita tampak terjatuh di tanah dengan berlumuran darah.

“Shadow of The Dark! Dia beraksi!!”

Aku segera berdiri, dan tatapanku terhenti pada meja kosong di belakang tempatku duduk sedari tadi. Ada dua cangkir teh di sana, dan yang satu masih utuh. Sebuah kertas juga terselip di bawah cangkir teh yang masih utuh tersebut.

Tanganku dengan cepat mengambil kertas itu, membukanya.

Aku minum teh sendirian karena kau tidak berbalik dan melihatku.

Menarik juga melihatmu dari belakang seperti tadi, biasanya aku melihatmu dari samping. Kita bertemu lagi jika ada waktu lain.

Dia… sedari tadi di belakangku!?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Semakin lama, pikiranku semakin di banjiri oleh kemisteriusan sosok itu. Berulang kali ia mengajak bertemu, tapi tak pernah sekalipun aku melihatnya. Bodoh bukan?

Dia bilang dia sering mengawasiku dari samping. Dan itu artinya—

Bodoh.

Kenapa aku tidak sadar dari dulu?

Selama di rumah, aku menghadap komputerku, dan menyampingi jendela. Selama di kantor… ah! Waktu itu aku tidak melihat gedung apa yang terlihat dari samping ku!

Artinya… gedung yang terlihat jelas saat aku duduk di apertemen, dan gedung yang terlihat jelas saat aku duduk di kantor.

Aku segera melangkah ke depan komputerku, dan duduk, memandang ke kanan, mencari gedung yang terlihat dari arahku.

Sedikit sudut dari perpustakaan kota, dan jam besar kota.

Aku segera meraih ponselku, dan menelpon rekan kerjaku.

“Ya Anna?”

“Bisa kau masuk ke ruanganku?”

“Oh, tunggu… Uh, aku sudah di dalam ruanganmu.”

“Duduklah di tempat dudukku, dan lihat ke samping kiri, gedung apa yang terlihat dari sana?”

Aku menunggu cukup lama sampai rekan kerjaku menjawab.

“Tidak ada gedung. Hanya jam kota yang terlihat dari sini.”

Gotcha!

“Oke. Thanks.” ucapku sembari menutup teleponku

Disana kau rupanya… Shadow of The Dark.

PIP. PIP. PIP.

Aku segera memandang layar komputerku, ada email masuk.

From: homeseoul@co.kr

Subject: Untuk Park Anna

Message body:

Anna, apa kau baik-baik saja di sana? Bagaimana pekerjaanmu? Apa kau dapat bayaran yang besar? Ada pekerjaan yang sangat menarik di Seoul Anna, keluarga kaya yang membutuhkan penerjemah bahasa Perancis! Dia akan memberimu 70 dollar per hari jika kau mau bekerja padanya. Bagaimana? Ayolah Anna. Kehidupanmu akan membaik jika kau bekerja di sini.

Aku terdiam. Meninggalkan Venezuela untuk pekerjaan itu? Lalu… Misteri yang masih tidak bisa kupecahkan disini?

Ah. Aku bisa pikirkan hal itu nanti.

Aku segera mengenakan jaketku, dan melangkah keluar apertemen, menaiki bus menuju pusat kota, dan berhenti di depan jam kota. Gedung yang sangat tinggi tanpa penghuni. Bagaimana bisa aku tidak berpikir bahwa ia ada di sini? Tempat ini sangat jarang disinggahi oleh orang-orang di kota.

Aku menyusup masuk ke dalam gedung ini melewati celah kecil di bagian belakang jam. Tidak kusangka keadaan di sini begitu gelap dan menyesakkan.

Aku mengeluarkan ponselku, menjadikannya penerangan sampai aku menemukan anak tangga. Aku menyorotkan ponselku ke atas, mendapati bahwa anak tangga ini melingkar sampai ke ujung gedung.

Ada berapa ratus anak tangga yang harus kutempuh?

Aku melangkah naik dengan hati-hati. Entah berapa menit waktu berjalan hingga aku sampai di ujung tangga. Dan mendapati diriku berdiri di sebuah ruangan kecil.

Apa ia benar-benar tinggal disini?

“Lumayan lama juga sampai kau menemukan tempat ini…”

Aku terkesiap. Mendengar suara sosok itu sudah cukup membangkitkan adrenalinku. Membuatku takut.

“Jadi, tempat ini benar-benar persinggahanmu?” ucapku ragu

“Ya…” aku bergerak mundur saat mendengar langkah sosok itu mendekatiku, tapi aku terhenti saat ia mencekal lenganku.

Tangannya terasa sangat dingin, dan menakutkan.

“Kau tidak perlu takut Anna…”

Bagaimana mungkin aku tidak merasa takut sedangkan sekarang aku tengah berhadapan dengan seorang pembunuh sadis?

Sosok itu menarikku pelan, membimbing langkahku ke daerah yang lebih terang. Dan aku sadar, jam kota begitu besar. Bahkan berkali-kali lebih tinggi dariku.

Benda yang di bawah terlihat sangat kecil, tapi di sini terlihat begitu jelas.

“Aku biasa melihatmu dari sini…” ia menunjuk ke arah sebuah teropong.

Aku mendekatkan mataku ke lubang teropong itu, terkesiap saat melihat jelas jendela apertemenku.

“Kau arahkan sedikit ke kanan, dan kau bisa lihat hal lain…”

Aku menurutinya, dan tatapanku terhenti saat melihat ruang kerjaku. Segera, kupaksa diriku untuk kembali pada realita. Dia. Apa sebenarnya rencananya? Membawaku ke tempat tinggalnya, menunjukkanku semua hal ini? Apa maksudnya?

“Aku sudah datang ke tempatmu, sekarang, kau harus menjawab pertanyaanku.” ucapku sambil menjauh dari teropong itu—sekaligus menjauh darinya.

“Ah, sebelum aku menjawabmu, akan lebih baik jika kau yang menjawab pertanyaanku lebih dulu.”

“Pertanyaan? Yang mana?”

 “Yang tempo hari ku bisikkan padamu…”

 Tunggu, tempo hari… apa mungkin…

“Apa kau juga berpikir bahwa aku pembunuh?”

Pertanyaan itu?

 “Ya. Kau seorang pembunuh. Karena kau membunuh banyak orang tak bersalah. Dan itu membuatmu jadi seorang pembunuh.”

Sosok itu tertawa pelan—bukan tawa yang menakutkan. Hal itu membuatku yakin bahwa ia tidak begitu tua.

“Tapi aku tidak membunuhmu bukan? Kau masih menganggapku seorang pembunuh?” aku menatapnya saat ia lagi-lagi bersuara. “Itu dua pertanyaan. Dan salah satunya adalah pertanyaanku, yang belum kau jawab.”

Sosok itu diam. Tapi ia terus memandang ke arahku. Membuatku yakin bahwa ia tengah menatapku dari balik topeng yang ia kenakan—dan hal itu membuatku mengalihkan pandanganku.

“Karena aku tidak bisa mendengarmu…”

“Apa?” aku menyernyit

“Aku bisa mendengar yang lainnya, tapi tidak denganmu.”

“Apa maksudmu?”

“Kau akan tahu nanti Anna. Pulanglah, malam ini kau akan dapat berita yang bagus, berakhirnya seorang Shadow of The Dark…”

DEG!

Jantungku tiba-tiba saja dipaksa untuk terpompa lebih kencang.

“Apa maksudmu?” ucapku terkejut.

Tangan sosok itu terangkat, membuatku refleks memejamkan mataku. Tapi nyatanya ia melakukan hal yang sama dengan yang hari itu ia lakukan… mengetuk pelan puncak kepalaku dengan jemarinya.

Aku mencekal tangan sosok itu saat hendak beralih. Tapi ia menariknya, membuatku hanya bisa merasakan jemarinya.

“Senang bisa bicara dengan gadis sepertimu Anna. Jarang sekali ada yang mau bicara baik-baik padaku.”

Sosok itu melangkah cepat, dan aku mendengar suara gedebum pelan. Aku tahu. Sosok itu sudah pergi… meninggalkanku dengan pertanyaan baru yang entah kapan akan terjawab.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku terbangun saat mendengar suara sirine polisi yang begitu memekakkan telinga. Mengabaikan rasa kantuk yang masih mendominasi, aku segera meraih tas ranselku, dan mengenakan jaket. Berita baru. Dan berita ini harus kudapatkan.

Dengan cepat kubawa diriku berlari keluar apertemen, dan sadar bahwa orang-orang turut menyaksikan kejadian itu. Aku akhirnya menaiki sebuah taksi, meminta supirnya untuk mengikuti arah sirine polisi tersebut.

Butuh beberapa menit bagiku untuk mencapai tempat tersebut. Usaha taksi untuk masuk sampai ke dekat tempat kejadian juga gagal karena polisi. Aku akhirnya turun di salah satu sudut jalan, dan menyelinap di antara kerumunan orang-orang yang menonton.

Sedikit tidak mengerti, aku mempertanyakan keadaan tempat ini karena police line nyatanya terpasang mengelilingi jalanan dan itu artinya, kasus kriminal kali ini terjadi di tengah jalanan. Aku mengedarkan pandanganku, menatap sekeliling dan—tunggu. Tempat ini adalah tempat jam kota berdiri dengan gagah.

Jam kota… Shadow of The Dark

“Menyingkir! Dia sudah mati! Menyingkir!”

Aku menatap sosok yang ada di tanah. Berlumuran darah. Dengan setelan pakaian hitam… Mungkinkah dia… Shadow of The Dark!?

“Menyingkir!”

“Aku wartawan!” ucapku mengelak.

“Tidak ada satupun liputan di perbolehkan! Menyingkir!”

Aku berdiri kaku di dekat ambulance, masih tidak ingin percaya jika Shadow of The Dark mati. Begitu saja? Tanpa ada alasan? Tidak mungkin.

Aku memandang mayat yang kini di bawa oleh polisi, mendekati ambulance, tangan mayat itu terjulur keluar, membuatku dengan cepat menyentuh jemari mayat itu.

Berbeda… Jemari nya berbeda.

Dia bukan sosok itu.

“Jangan menyentuh mayatnya sembarangan!”

“Oh. Maaf.” Ucapku.

Aku melemparkan pandanganku ke sekitarku. Melihat dengan seksama ke arah jalanan gelap di sekitar sana. Dan tatapanku terhenti saat melihat bayangan di ujung jalan.

Dengan cepat aku berlari ke arah jalanan itu, seperti dugaanku, bayangan itu berlari menjauh. Tentu saja aku mengejarnya, tidak akan membiarkannya lolos begitu saja.

Aku kehilangan bayangan sosok itu saat berhenti di sebuah jalan kecil. Percuma saja mengejarnya, ia bahkan bisa menghilang dengan melompati gedung, untuk sekedar berlari dariku yang mengejarnya dengan kaki bukanlah hal yang sulit, tentu saja.

“Aku tahu kau disana!! Aku tahu kau belum mati!”

“Pergi Anna…” kudengar suara itu menyahut, sumbernya pasti tidak jauh dari tempatku sekarang berdiri. Sontak, aku menatap sekeliling meski tidak kutemukan apapun.

Tapi setidaknya, aku benar bukan? Ia belum mati…

“Kenapa? Kenapa membuat dirimu seolah mati? Apa kau benci karena terus diburu? Tenang saja… Aku tidak akan membuat berita apapun. Bahkan tentang kematian palsumu. Aku tidak akan membuat berita lagi…”

Sosok itu tidak menyahut.

“Aku berharap kau tidak akan jadi pembunuh lagi setelah ini… Aku berharap kau akan jadi lebih baik… Tidak lagi menjadi bayangan…” ucapku sambil melangkah menjauhi jalanan kosong itu

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Seoul. Di sini aku sekarang berada.

Setelah menyerah atas kematian Shadow of The Dark yang tidak kuanggap kematian, aku mengundurkan diri dari Venezuela News. Untuk apa aku ada di Venezuela jika Shadow tidak lagi ada?

Sejujurnya aku tidak benar-benar ingin berada di Seoul. Walaupun kota ini adalah kota kelahiranku. Aku sangat tidak menyukainya. Ada banyak kenangan mengerikan yang ingin kulupakan di sini, salah satunya adalah masa kecilku yang tidak bahagia.

“Anna!”

Aku menoleh, melambai pada Jaein yang menjemputku di bandara. Ia adalah sahabatku sejak kecil. Ia bahkan masih menjadi temanku walaupun aku putus sekolah.

Putus sekolah? Ya. Aku tidak menamatkan sekolahku. Sejak di bangku menengah pertama. Di usia empat belas tahun, aku mencuri kartu kredit ayah angkatku, dan membeli tiket pelarian untuk diriku sendiri.

Kemana? Karena bodohnya aku di saat itu. Aku membuang diriku ke Venezuela, tujuan terjauh yang kupikirkan. Dan sekarang… saat seharusnya gadis seumuranku menghabiskan waktu di bangku akhir sekolah menengah atas mereka, aku malah berada disini, sebagai pendatang baru.

Empat tahun berada di Venezuela membiasakanku menjadi seorang yang lebih dewasa dari gadis seusiaanku. Aku dipaksa untuk hidup sendirian tanpa bekal apapun di kota sekeras Venezuela. Dan hebatnya, aku kembali lagi ke Seoul.

“Apa mereka tahu aku kembali?”

“Tidak. Aku tidak memberitahu mereka. Dan aku juga tidak tahu dimana alamat mereka.” ucap Jaein padaku.

“Baguslah. Aku juga tidak tertarik bertemu mereka,” ucapku sambil melangkah naik ke mobil yang Jaein bawa.

“Sebenarnya kenapa kau menunjukku untuk jadi penerjemah?” tanyaku pada Jaein.

“Ah! Seonsaengnim waktu itu bertanya padaku, apa aku kenal penerjemah yang bisa bahasa Perancis? Lalu aku bilang, aku punya teman yang pandai bahasa Perancis, dan seonsaengnim langsung memintaku menghubungimu.” ucap Jaein menjelaskan.

Aish… Kau ini, belum tentu juga gurumu itu akan setuju. Lagipula, dia pasti mencari penerjemah yang benar-benar ahli, bukan seorang yang putus sekolah sepertiku.” ucapku sambil menyandarkan tubuh, berusaha menghilangkan penat selama di pesawat.

“Tidak! Aku sudah bilang seonsaengnim tentangmu, dan dia bilang dia menerima. Lagipula dia tidak mau penerjemah yang sudah tua.” Jaein terkekeh geli, aku bisa membayangkan ekspresinya bahkan tanpa harus melihat wajah Jaein, ia tidak berubah.

Arraseo, lalu apa kau sudah carikan apertemen kosong untukku?” tanyaku.

“Apertemen? Untuk apa? Kau akan tinggal di rumah mewah dari orang yang menyewamu menjadi penerjemah.” ucap Jaein seketika itu juga membuatku terbelalak.

“Apa?”

Aish, sudah anggap saja dengan kembali ke Seoul, artinya kau sudah setuju,” ucap Jaein tertawa geli.

Ingin sekali aku mengomel padanya karena sudah sesuka hati memutuskan apa yang tidak kuinginkan. Tinggal di rumah seseorang yang bahkan belum kukenal? Yang benar saja. Tapi, aku saat ini masih terlalu lelah dan tidak ingin membuang waktu dengan berdebat melawan Jaein.

“Oh, ngomong-ngomong, aku tidak menyangka kau jadi seperti ini…”

“Jadi seperti apa?” ucapku tak mengerti.

“Setahuku dulu Anna adalah anak rajin, tapi sekarang… rambutmu di highlight, dan kau bertambah tinggi juga, aku tadi sempat bingung,” ucap Jaein.

“Hidup di tempatku yang lama benar-benar tidak mengizinkan keberadaan orang rajin,” ledekku pada Jaein.

“Apa? Aish kau ini…” Jaein bergerak mengacak-acak rambut panjangku, tentu saja aku tidak mengizinkannya—dasar Jaein.

“Nah, kau aku antar sampai disini perbatasan kota okay? Dari sini kau naik Bus G dan di halte selanjutnya kau bisa naik angkutan lain,” ucap Jaein.

“Kau tidak mengantarku sampai ke tempatnya?” ucapku kesal

“Tidak, tempatnya ada di Songdakgu, kau mau aku kesana dengan membawa mobil?” ucap Jaein menunjukkan wajah menyedihkannya.

Menyerah untuk kedua kalinya pada Jaein, aku akhirnya turun dari mobil saat Jaein menghentikan laju mobilnya di tepi sebuah jalanan kosong. Usia Jaein sama denganku, meskipun begitu ia pasti tidak terbiasa melakukan perjalanan jauh dan kupikir mengendarai mobil jauh hanya untuk mengantarku hanya akan membuatnya kelelahan.

“Untung saja aku tidak punya banyak barang…” pura-pura aku menggerutu saat aku menurunkan beberapa barang-barang yang kubawa.

Gomawo Anna-ya. Mampirlah ke Incheon jika kau ada waktu. Lihat? Di kertas kecil yang aku selipkan di tasmu sudah ada alamat tempat kerjamu dan alamat rumahku,” ucap Jaein.

Aku mengangguk dan menutup pintu mobil Jaein.

Gomawo Jaein-ah…” ucapku saat aku melambai, untunglah Jaein membuka kaca mobilnya, membuat suaraku bisa terdengar.

Cheonma Anna-ya…”

Aku menunggu sampai mobil Jaein tidak tampak di kejauhan sebelum akhirnya aku duduk di halte, bersama beberapa orang lain yang juga menunggu bus.

“Hidup baru… Anggap ini hidup baru, Anna.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Anna memandang ngeri rumah besar di depannya. Gadis itu melemparkan pandangan nya ke kertas kecil di tangan nya, memastikan jika alamat yang di tuliskan oleh Jaein.

“Blok JA… nomor 74. Sudah benar. Tapi kenapa rumah ini menyeramkan sekali?” gumam Anna sambil masih memperhatikan rumah di depannya.

“Siapa yang kau cari?”

Anna berbalik dengan kaget, dan menatap ke arah dua orang pemuda yang tampak mengenakan seragam sekolah.

“A-Ah… Aku mencari rumah di blok JA dengan nomor 74, apa benar rumahnya yang ini?” tanya Anna.

Salah satu dari dua pemuda itu mengangguk.

“Ya. Benar ini rumahnya. Dan ini adalah rumah kami. Kau mencari?” tanya salah satu pemuda itu.

Anna kemudian mengeluarkan kertas kecil yang Jaein selipkan di saku tas ranselnya.

“Ini. Dari temanku. Dia memintaku ke Seoul karena ia bilang pemilik rumah ini membutuhkan penerjemah. Jadi, kedua orang tua kalian yang mencari penerjemah?” ucap Anna

“Oh. Benar. Aku yang mencari penerjemah.” ucap pemuda yang lain.

“A-Apa?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Anna’s Eyes…

“A-Apa?”

Butuh sepersekian sekon bagku untuk sadar kalau aku benar-benar mendengar mereka berkata tentang bagaimana mereka membutuhkan penerjemah.

Di email Jaein jelas mengatakan bahwa aku akan di bayar 70 dollar per hari. Melihat bahwa bocah -lah yang membutuhkan penerjemah, rasanya sangat tidak mungkin jika mereka akan membayar sebanyak itu… mencurigakan sekali.

Lagipula, kenapa seorang anak sekolah menengah membutuhkan penerjemah? Pasti ada sesuatu yang aneh yang mereka—ah, ayolah Anna. Ini bukan Venezuela.

“Kudengar dari temanmu kalau kau pernah tinggal di Venezuela, benarkah?” tanya seorang pemuda lain, tidak sopan sekali, tanpa memperkenalkan diri bertanya sebanyak itu padaku.

“Masuklah. Rumah ini tidak semenyeramkan yang kau lihat.” ucap pemuda yang lain. Lagi-lagi dengan tidak sopannya mereka memerintahku.

Hey! Bocah!” ucapku kesal.

Dua pemuda itu berbalik, memandangku.

“Ya?”

“Jangan bercanda denganku. Kalian benar-benar butuh penerjemah huh? Untuk apa? Bocah seperti kalian kan bisa menggunakan kamus saja. Lagipula memangnya berapa usia kalian huh? Seenaknya memanggilku tanpa embel-embel noona” ucapku tak kuat menahan emosi yang sedari tadi sudah kutahan.

Dua pemuda itu tersenyum samar. Ugh!

“Aku memang membutuhkan penerjemah. Tenang saja, kau akan di bayar sesuai dengan yang di janjikan. Dan satu lagi, kau lahir di akhir tahun bukan? Itu artinya kau hanya beberapa bulan lebih tua dariku. Mungkin saja kau menjunjung tinggi kesopanan. Tapi di rumah ini kami menganggap semua orang sama. Jadi, kupikir aku akan bersikap luar biasa sopan jika aku memanggil namamu, bukan?”

Cukup. Belum mulai bekerja rasanya aku sudah ingin mengundurkan diri saja.

“Dan juga, temanmu sudah mengambil gaji seminggu pertamamu. Jadi, kalau kau berniat mengundurkan diri, kau harus mengembalikan uangnya. Totalnya 490 dollar, di tambah 60 dollar bonus. Jadi semuanya 550 dollar. Bagaimana?”

Jaein-semua-kebaikanmu-ternyata-seperti-ini.

“Aku tidak mengundurkan diri. Kalian sok tahu sekali menuduhku mau mengundurkan diri…” gerutuku sambil menarik koperku mendekati rumah menyeramkan itu.

“Namaku Kim Jongin, tapi aku sering di panggil Kai. Dan dia Oh Sehun. Abaikan saja semua sikapnya supaya kau betah di sini,” ucap satu pemuda—yang sejak tadi tidak kudengar suaranya—sambil membantuku membawa koper.

Jadi pemuda bernama Oh Sehun itu yang akan bertindak sebagai Boss dan membayarku? Baiklah. Lihat saja.

“Kamarmu ada di lantai dua. Pintu nomor dua dari tangga. Kalau kau tidak suka kau bilang saja, nanti aku dekorasikan kamar baru.” ucap pemuda bernama Sehun itu.

“Orang tua kalian dimana?” tanyaku pada Kai.

“Kami hanya tinggal bertiga. Dengan hyung kami, dia bekerja sebagai seorang guru di sekolah temanmu.” ucap Kai menjawab.

Aku heran bagaimana mereka bisa tinggal di rumah sebesar ini tanpa ada orang tua. Walaupun ada saudara mereka yang jadi seorang guru, tetap saja kan seharusnya ada—

“Oh, untuk informasi, jika kau lapar, buatlah makanan sendiri.” ucap Sehun.

“Hmm. Lalu, aku harus menerjemahkan apa?” tanyaku.

Sehun memandang ke arah Kai, mengedikkan kepalanya, dan seolah paham, Kai melangkah ke sebuah ruangan, membuka pintunya dengan hati-hati, dan masuk ke ruangan itu.

“Lepaskan aku! Lepas!”

Aku terkesiap. Terutama saat melihat sosok yang di tarik keluar dari ruangan itu.

“Julie?”

“Kau mengenalnya?” tanya Sehun.

“Dia… Asisten dari seorang designer asal Paris. Tapi, kenapa dia di—kalian menculiknya!?” ucapku terbelalak.

“Lepaskan aku!”

“Kami tidak menculiknya. Dia adalah orang yang kami kenal, hanya saja… dia sedang berpura-pura lupa.” ucap Sehun santai.

“Kalian jelas menculiknya!” ucapku melihat keadaan Julie yang diikat.

“Julie? Kau baik-baik saja?” tanyaku pada Julie.

“Pergi dari sini! Mereka bukan manusia!”

Aku segera memandang ke arah Sehun dan Kai bergiliran.

“K-Kalian…”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

AKHIRNYA! Chapter tiga dari cerita ini bisa kuselesaikan revisinya dan kupublish juga. Huhu. Rasanya udah ada hampir dua bulan aku menelantarkan chapter dua dari cerita ini… aku yakin kalian bahkan udah ada yang lupa sama cerita ini dan menghapusnya dari ingatan…. /kemudian ane ceritanya potek/ WKWKWKWK.

Anyway, Sehun udah muncul :v masih inget hubungan Sehun sama Injung ga sih gaes? Sini kucium atu-atu buat yang masih inget, WKWK.

~

~

~

[    IRISH SHOW    ]

Iklan

46 pemikiran pada “GIDARYEO – 3rd Page — IRISH’s Tale

  1. omg jd sehun n mai bukan manusia lalu apa ?? tp msh penasaran cm identitasnya shadow of the dark , masa dah kelar gtu aj? ato salah satu dr sehun ma kai itu?
    bener² misterius, ceritanya gk bisa ku tebak 😥 tp bikin penasaran

  2. Ping balik: GIDARYEO – 4th Page — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  3. huwwwwaaaa akhirnya aku bisa komen dan baca ff ini… jujur aku kangen ama injung bacon sehun sama chanyeol… tp disini aku berharap si injung tetep jd maincast dan sifatnya kaya kmaren… pokoknya the best deh buak kak irish

    • Omo ka irishhhh bahagia sekali aku baca page yg ini hahahaa. Akhirnya para bias ku muncul hahayyyy. Emhhh semaikin lama semakin menarik nih hehehe. Next ya ka, jgn terlalu lama kalo bisa. Take care your health. Love love pokonya 😙

      • Ka irish kapan nih lanjutin page 4nya?? Diriku sudah haus akan kelanjutan ff ini huhuhu 😣. Kalo aku mau liat langsung bukan dr exo fanfic, dr mana lg ya kaa?? Arigatooo 😘

  4. jujur aku emang udah agak lupa sama ceritanya, ini tadi aja musti buka part 2 buat inget2, haha
    btw pura2 lupa itu bisa ya? sama aja dia sedang berbohong gitu ya,
    daaan pasti ini si kai sama sehun ada hubungannya sama shadow, eh tapi eh tapi, katanya shadow bukan dari exo, duuuh bikin penasaran tingkat dewa aja nih,

  5. Omigat omigat apa injung alias julie bakal ngungkapin ke anna klo sehun kai sama suho itu adalah vpgn ??

    Woaaaaahhhhhh injung lee udah ada di tempat sehun dan pura pura lupa ?? Emang knapa harus pura pura lupa ??

    Biarlah misteri berlanjut ganbatte iriseu

  6. Huhu ;( betapa terharunya aku saat chapter ini publish. Terima kasih banyak kak ❤ ❤ lope lope buat kakak lah. Uh aku selalu menunggu-nunggu cerita ini setiap hari loh, buka email tiap hari buat liat apdetan kakak, ada gidaryeo apa enggak gitu. Ini hari emejing deilah wkw. Lopeyuuu kak irish ❤

  7. ttara!!! sehun kai nongol… hyung satu lg pasti suho.. nih orang tinggal bertiga mulu.. tapi kenapa msh jdi anak sekolahan.. sedangkan hyung atu lg idh jadi guru aja.. heol daebak!!
    julie itu injung kann.. kok disekap.. knpa pura” gk ingat.. gk inget msak hrs ngundang penerjemah..

  8. Sehun kai?WHATWHAT?! Mereka gak tamat tamat sekolah?bhak:v blom bisa mupon dari kajjima kakT_T
    penasaran sama injung. sma yg lain juga:G
    goodluck kaka^_^v

  9. Udah lama nunggu nya kak irish. Sebenarnya siapa itu the dark of shadow itu ?
    Akhirnya sehun sama kai keluar juga, dan siapa julie itu ? Aku agak lupa kak.

  10. udh nunggu berbulan bulan kyknya. wkt buka cuma liat ficlet” trs. akhirnya terbayar juga hari ini buat baca injung sehun. hihi^^.

    julia itu injung ya ? atau siapa? aku lupa lupa ingat. hehehe..
    tak apalah ttp keren looo😊🙌

  11. Wah masih ingat sekali dengan injung dan sehun mana ciumnya kak irish’s
    Julie itu injung nya?
    Lalu klok iya knpa dy di sekap
    ap oppa duel dh lupa nya sama kebaikan ijung yg udh berbaik hati numpangi jiwa mereka.
    Ah ini mungkin karna efek perang it mungkin.
    Uuh jadi penasaran
    tetap semangat kk irish’s
    di tunggu chap selanjutnya

  12. Julie is Injung tp kenapa Sehun malah mengurung Injung?? apa habis perang kemarin mereka pisah. Penasaran tingkat dewa sama identitas si Shadow, dan menunggu dengan sabar kemunculan Ahri.

  13. Sehun injung hmzz, peluk cium eki kak, eki masih ingat dengan jelas/plakk/😂😂
    Eh itu jullie si ahri bukan kak? Eki udah lupa” inget/plakk/😂😂
    Kenapa lupa sama cogan coba, mcmcm/digampar /😂
    Ditunggu next chapnya kak rish, hwaiting!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s