[EXOFFI FREELANCE] REPLAY (Chapter 2)

cover-replay

REPLAY (Chapter 2)

-Let’s give perfect ending for this story-

Author : Jung Shafa

Length : Chaptered

Rating : General

Cast : Jung Sena (oc)-Kim Junmyeon-Oh Sehun and other.

Genre : Marriage life, drama, sad, romance

Sena memasuki cafe dimana sebelumnya telah disepakati bersama karyawan baru suaminya. Sungguh Sena tidak ingin kemari sejak 6 tahun yang lalu.

 

“Dia mengenakan kemeja warna biru laut dengan dasi hitam”batin Sena sembari mengedarkan pandangannya. ‘Deg’ detak jantungnya seolah berhenti sesaat kala netranya menangkap seseorang berkemeja biru laut. Sehun, ya karyawan baru Junmyeon adalah Sehun. Sehun tersenyum memandangi Sena yang masih diam terpaku ditempatnya.

 

Sehun, pria yang selama ini masih didambanya. Ia kini tepat berada didepanya. Pria jahat yang terang-terangan mengkhianatinya tanpa ada permintaan maaf itu. Hanya karena Sena tak bisa menemaninya pergi ke pesta ulang tahun teman satu tim basketnya. Oh tidak, mungkin Sehun sudah bersama gadis lain jauh sebelum itu. Dia masih setampan dulu. Satu yang ada dibenak Sena kini ‘apakah dia masih sendiri?’

 

“Jung Sena.”ucap Sena sambil menjabat tangan Sehun. Sehun tersenyum melihat sikap gadis itu.  Sena selalu terlihat lucu jika sedang canggung, pipinya memerah dn matanya selalu mengerjap lucu.

‘Baiklah aku akan mengikuti permainanmu Sena’batin Sehun.

 

“Sehun. Oh Sehun”Sehun tersenyum memandang Sena yang sedikit gugup.

Tidak! Dia sangat gugup bahkan. Sekarang Sena mengerti kenapa Sehun sang karyawan baru itu memilih Nodeul sebagai tempat pertemuan. Sehun ingin membuka ingatan Sena tentang masa lalunya.

 

‘Aku tidak pernah lupa dengan bagaimana caramu mengkhianatiku.’Sena.

 

“Baiklah kau bisa membaca sekilas dulu naskahnya lalu aku akan memulai membangun karakternya untukmu.”jelas Sena seraya menyerahkan naskah dramanya. Gadis itu tak banyak bicara karena dia tak ingin Sehun tahu bahwa dirinya tengah resah.

Ini akan menjadi permainan yang menarik.

 

“Memulai semuanya dari awal.”Sehun bergumam agak keras sambil membuka halaman pertama naskah Sena. Membiarkan Sena yang kikuk menafsirkan ucapannya.

 

Sena larut dalam pesona pria dihadapannya. Sungguh! Tak ada yang berubah darinya. Kulitnya masih seputih susu. Rambut hitam dengan dahi sempitnya yang terlihat itu begitu menawan. Senyumnya selalu berhasil menyembunyikan kedua mata sipitnya. Bagaimana pria itu tersenyum dengan konyolnya ketika melupakan sesuatu. Bagaimana ekspresi kantuknya saat keluar kelas usai jam pelajaran. Bagaimana sikapnya setelah Sena tahu bahwa dia menduakan Sena. Bagaimana brengsek dan bagaimana Sena selalu memaafkannya.

 

“Nyonya? Jung Sena-ssi?”panggil Sehun hingga gadis itu terperanjat kaget.

 

“Ah ya jadi bagaimana?”

 

“Aku akan memerankan Joon Hae? Pria tampan yang berusaha menemukan kembali masa lalunya?”tanya Sehun memastikan dan Sena hanya mengangguk sebagai respon.

 

‘Ya dan kuharap pria itu adalah benar-benar dirimu yang mencoba menemukanku kembali.”batin Sena pilu. Sungguh! Sampai saat ini Sena masih berharap bahwa Sehun akan meminta maaf padanya atas segala yang telah dilakukan. Kemudian memintanya kembali mengulang segalanya. Tidak peduli siapa dia sekarang, Tidak peduli betapa brengseknya pria itu, Sena ingin Sehun kembali.

 

“Kurasa kita pernah bertemu nyonya.”ucap Sehun sengaja.

 

“Ya! Kita pernah bertemu di Myeongdong waktu itu.”Sena kemudian beralih pada secangkir kopinya yang masih berasap itu. Aromanya menyeruak masuk kedalam indra penciumannya,sedikit menenangkan.

 

“Bukan, tapi beberapa tahun lalu.”

 

‘Krak!’Sena meletakkan cangkirnya kasar membuat Sehun tersenyum misterius. Sena selalu bertingkah lucu jika tengah canggung, persis seperti dulu ketika mereka baru saling mengenal.

 

“Bagaimana kau sanggup memerankannya?”tanya Sena.

 

Hari berlalu begitu cepat, hingga tidak terasa bagi Sena bahwa senja telah tiba dan membuatnya harus berpisah dengan Sehun. Berat, namun Sena tak mau mengakuinya pada dirinya sendiri.

“Kau mau pulang bersamaku nyonya?”tawar Sehun kala pria itu hendak masuk kedalam mobilnya. Sena menggeleng pelan “Junmyeon akan segera menjemputku.”ujar Sena tegas. Sehun tersenyum simpul mendengar penolakan istri bosnya itu.

 

“Junmyeon sajangnim di Busan kan?”

 

“Dia tengah perjalanan pulang.”

 

“Makanlah dengan baik, kurasa kau makin kurus.”Sehun mengusap pelan puncak kepala Sena. Hei! Beraninya dia melakukan hal itu pada istri atasannya. Apakah dia tidak takut kehilangan pekerjaannya? Dan Sehun pergi begitu saja. Pergi tanpa berfikir seberapa kalut perasaanya kini. Persis seperti 6 tahun lalu, dia hanya tersenyum pada Sena seperti tak pernah saling mengenal kemudian Sehun pergi begitu saja hilang entah kemana. Sena sangat hancur saat itu dan Sehun tidak pernah tau.

 

“Dear!”panggil seseorang dari dalam mobil yang baru saja berhenti dihadapan Sena. Sena mengerjap kaget, tersadar dari lamunannya.

 

“Ah Junmyeonie kau sudah sampai rupanya.”Sena berusaha mengusir rasa bahagia yang terusmemaksanya untuk meloncat girang. Ingat Sena, usiamu bukan 17 tahun lagi jangan melakukan hal gila.

 

“Bagaimana dear?”tanya Junmyeon. Sena tersentak kaget mendengarnya, oh bukankah ini terlalu berlebihan?

 

“Ah ya, kurasa Sehun mampu mengambil perannya.” jawab Sena seadanya.

 

Junmyeon tersenyum bahagia setelah mendengarnya.

 

“Junmyeon-a?”panggil Sena pelan.

 

“Kenapa kau sepertinya bahagia sekali? Siapa sebenarnya Sehun itu?”tanya Sena curiga.

 

Junmyeon yang mendengarnya kemudian mengalihkan pandangan. Ia lebih memilih fokus pada kemudinya.

 

“Tidak, Sehun hanya karyawan baru ya! karyawan baru.”ucap Junmyeon menegaskan.

 

Sena meremas jari-jarinya, detak jantungnya belum juga normal. Orang yang selama ini berusaha Sena lupakan kini malah muncul dihadapannya dan mungkin akan selalu ada dihari-harinya untuk 1 tahun kedepan.

 

“Lalu siapa pemeran wanitanya?”tanya Sena seolah tahu bahwa Junmyeon tidak suka topik yang tadi.

 

“Kau bisa memilihnya, karena pemeran pria sudah aku yang memilih.”jawab Junmyeon.

 

“Aku.”ujar Sena tegas dan begitu yakin membuat Junmyeon menghentikan mobilnya secara mendadak.

 

“Kau serius dear? Kau yakin?”tanya Junmyeon.

 

“Salah jika aku ingin mencobanya?”

 

Tatapan ragu Junmyeon kini berubah menjadi berbinar dan bangga.

 

“Aku senang dear kau selalu saja membuat gebrakan baru yang mengejutkan. Aku yakin ini akan sukses.”tutur Junmyeon sambil mengelus puncak kepala Sena.

 

‘Aku harus menuntaskan segalanya. Menuntaskan rinduku juga rasa cinta ini.’Sena.

 

***

 

Sena menghela nafasnya gusar saat tak mampu lagi menemukan ide yang dipikirnya bagus. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil terus membaca kalimat terakhir naskahnya berharap ada ide yang segera muncul. Nihil, tak ada satupun dan itu membuat Sena jengah.

 

Akhirnya memilih untuk beranjak dari meja kerjanya dan pergi ke balkon untuk mencari udara segar malam ini. Sena mendongakan wajahnya menatap langit malam yang gelap tanpa satupun bintang disana. Sena kemudian memejamkan matanya namun sesaat kemudian ia kembali membuka matanya ketika menemukan wajah Sehun didalam kelopak matanya.

 

“Aku pasti sudah gila sekarang.”gumam Sena pelan.

 

Cukup lama gadis itu termangu disana tanpa ada niatan untuk kembali kedalam meski udara makin dingin.

 

“Minumlah dear.”ucap Junmyeon yang baru saja berdiri disampingnya sambil memberikan secangkir coklat hangat untuk Sena.

 

Sena tersenyum memandangi Junmyeon lalu meraih cangkir berisi coklat hangat dari tangan Junmyeon.

 

“Kau kehabisan ide?”tebak Junmyeon.

 

“Ya.”jawab Sena singkat setelah menyesap coklatnya.

 

“Tidurlah, kau bisa melanjutkannya besok.”ucap Junmyeon.

 

Sena tak menjawab dan lebih memilih memandangi halaman rumahnya yang terlihat menawan jika dilihat dari balkon.

 

“Apa reaksimu ketika istrimu bertemu lagi dengan masa lalunya yang masih amat dicintainya?”tanya Sena pelan.

 

“Naskah terbarumu kah?”tanya Junmyeon tanpa sedikitpun menaruh curiga sedangkan Sena hanya mengangguk pelan.

 

“Mungkin membiarkannya kembali pada masa lalunya, itu lebih baik dear.”Junmyeon tersenyum penuh keyakinan berbeda dengan Sena yang makin kacau mendengarnya.

 

“Meskipun kau juga sangat mencintainya?”Sena memastikan seolah tak percaya akan ucapan Junmyeon. Udara dingin seolah kian menusuk tulangnya.

 

“Untuk kebahagiaan seseorang yang kita cintai, meskipun harus merelakannya pergi berbahagia dengan orang lain. Apakah itu suatu kejahatan? Kurasa bukan. Kejahatan itu jika kita apa yang kita lakukan melukai seseorang dear. Membiarkanmu kembali pada masa lalumu, asalkan kau bahagia aku tidak apa-apa.”Junmyeon tersenyum mengakhiri ucapannya.

 

Sorot mata pria itu selalu tenang dalam keadaan apapun dan sungguh keadaan ini membuat Sena gila.

“Jangan biarkan aku pergi Junmyeonie, pertahankan aku apapun yang terjadi.”kata-kata itu lolos begitu saja dari bibir mungil tanpa disadari oleh Sena. Angin malam ini terasa begitu semakin menusuk. Hening, hanya terdengar derit pilu didalam hati gadis itu.

 

Junmyeon menautkan alisnya bingung.

“Kau bicara apa dear?” tanya Junmyeon.

“Ah tidak! Aku telalu lelah sepertinya. Kajja tidur!” Sena berbalik membelakangi Junmyeon lalu segera beranjak masuk kedalam kamarnya.

 

***

 

Matahari pagi ini begitu bersahabat. Hangat dan menyenangkan meskipun dingin tetap mendominasi. Sena bergegas untuk menemui Sehun. Sehun? Ya Sehun. Gadis itu memulaskan lipstik warna maroon dibibirnya. Cantik! Itulah yang dilihat dari pantulan kaca pada meja riasnya.

 

“Seandainya dulu aku sudah secantik ini apa kau juga akan menduakanku?”tanyanya lirih.

 

Ingatannya kembali berputar pada kenangan-kenangan masa lalunya. Dimana dia tengah mempercantik dirinya dengan make up sederhana. Lalu berangkat dengan seragam SMA nya. Berseri-seri dan penuh harap semoga hari ini bisa bertemu dengan sang idaman. Sena tersenyum miris ketika merasakan matanya mulai pedih hingga sebulir air mata lolos darinya.

 

“Dear kau sudah siap?”tanya Junmyeon dari lantai satu rumahnya.

“Ne!”

 

***

Sena berjalan anggun mendekati Sehun yang telah menunggunya dikolam renang hotel milik Junmyeon yang memang sepi jika jam kerja seperti ini. Karena scene yang harus dipelajari berada dikolam renang maka Sena pikir kolam renang ini cocok.

 

Entah sudah berapa kali dia membenahi make up nya sebelum sampai disini. Ia juga harus terlambat sampai disini hanya karena memilih baju yang dipikirnya bagus.

 

“Baiklah kita akan meneruskan yang kemarin.”ucap Sena langsung pada intinya tanpa sapaan selamat pagi untuk Sehun.

 

“Jangan mencoba bergerak, tetaplah disitu!”ucap Sehun dengan raut wajah serius. Oh tidak! Sena belum siap dengan permainan selanjutnya. Sehun sudah memulai latihannya.

 

“Bisakah kau mengucapkannya dengan emosi yang tekesan ditahan? Aku tidak bisa mendengar nada emosimu!”ucap Sena tenang.

 

Sena mulai mengambil langkah mundur ketika Sehun terus saja melangkah maju mendekatinya. Lagi-lagi jantungnya berdebar amat kencang, oh ayolah! Dia tidak lagi Sena kecil yang mudah dibodohi pria seperti Sehun. Sehun hanya tersenyum mendapati wajah cantik Sena yang memerah.

 

“Kenapa kau terus bergerak? Bagaimana aku bisa memperagakannya padamu?”tanya Sehun santai seperti biasanya.

 

“Sreettt!” oh tidak! Harusnya Sena tidak mengenakan flat shoes seperti ini dilantai yang selicin ini.

 

“Grep!”

 

Sehun dengan cekatan menarik tangan Sena agar gadis itu tidak jatuh ke kolam. Sontak pandangan mereka bertemu dijarak yang teramat dekat bagi Sena.Ada perasaan aneh didalam sana. Letupan-letupan kecil yang begitu terasa oleh Sena, begitu mengganggunya. Apa? Cinta? Sena menggeleng cepat ketika hipotesis konyol itu melintas difikirannya. Tapi tidak ada yang tidak mungkin. Cintanya bisa saja tumbuh kembali, bukankah sejak dulu cintanya pada Sehun memang tidak pernah mati? Hanya sekedar layu.

 

“Lain kali kau harus berhati-hati Sen.”ucap Sehun sambil melepaskan genggaman tangannya saat dirasa Sena tak akan jatuh lagi.

 

Entah apa yang difikirikan Sena saat ini. Ingatannya terus berjalan mundur mencari-cari apa yang dia rasakan ketika Sehun memanggilnya dengan panggilan itu 7 tahun yang lalu. Ketika Sehun menyapanya dengan panggilan ‘Sen’ maka ia akan bahagia sehari semalam. Haruskah dia melakukannya sekarang? Haruskah dia bersorak bahagia lalu mengadu pada suaminya dirumah? Bodoh….

 

“Kurasa aku tidak enak badan, kita akhiri dulu latihan hari ini.”Sena kemudian mengambil tasnya yang ia letakkan  dikursi dekat kolam lalu melangkah pergi dengan segera.

 

“Cepatlah minum obat Sen jangan sampai jatuh sakit.”ucap Sehun agak keras karena Sena telah cukup jauh.

 

Sena menghentikan langkah kakinya lalu sedikit mengatur nafasnya agar tak terlihat gugup. Kemudian dia berbalik menghadap Sehun.

 

“Lain kali mungkin aku harus mengajarimu berbicara sopan dengan istri bosmu!”ucap Sena ketus lalu berbalik arah meninggalkan Sehun dengan senyum kemenangannya.

Menyebalkan, ya. Setelah Sehun berhasil membuatnya malu setengh mati. Kini suaminya tiba-tiba tak ada dikantor. Junmyeon pergi tanpa memberitahu nya terlebih dahulu.

***

 

“Sehun adalah aktor untuk dramamu?”tanya Hyojung yang masih tak yakin dengan ucapan sahabatnya baru saja.

 

“Dan aku akan memerankan peran wanitanya.”ucap Sena datar.

 

Hyojung masih diam, dia tak tahu apa yang harus dikatakan sekarang. Sena terlalu mudah mengambil keputusan berisiko.Ia tak habis pikir dengan Sena. Bagaimana jika Junmyeon tahu?

 

“Aku ingin menyelesaikan segalanya.”

 

Hyojung mengangguk mengerti. Itu alasan cukup kuat, karena hanya dengan ini rindu Sena akan benar-benar hilang.

 

“Hanya satu yang kutakutan, kau akan jatuh cinta lagi padanya.”ucapan Hyojung seolah menjadi peringatan keras untuk Sena.

 

Tidak bisa dipungkiri, Sena masih mengharapkan Sehun hingga kini. Tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan kembali merajut kasih meskipun kini telah ada Junmyeon diantara mereka.

****

Junmyeon kini tiba sebuah rumah yang bergaya klasik. Pria itu berhenti sejenak memandang rumah itu lalu seulas senyum tipis terulas.

“Tidak ada yang berubah.”gumamnya lalu melangkah masuk.

Junmyeon mulai mengamati satu persatu foto-foto yang terbingkai indah disetiap dinding rumah.

Foto semasa kecilnya bersama adik kebanggaannya.

“Kau datang?”tanya seseorang yang baru muncul dari balik pintu kamar mandi. Pria berfigur tajam dengan tubuh tinggi dan rambut coklat itu mengusap-usap rambutnya yang basah.

“Begitukah caramu menyambut bosmu?”tanya Junmyeon.

“Kau bosku jika kita dikantor. Jika kita diluar maka aku ini tetap adik kebanggaanmu kan hyung?”tanya pria itu sembari melemparkan handuknya pada Junmyeon.

“Oh Sehun!”ucap Junmyeon seraya menegaskan marga oh itu.

“No! Kim Sehun. It is my real name.”

Junmyeon terkikik geli.

“Kau baru mandi? Bukankah kau harus menemui istriku?”tanya Junmyeon heran.

“Dia tiba-tiba ingin pulang tadi, tentu aku belum mandi kau menelponku saat aku baru saja bangun. Aku tetap tampan hyung tidak ada yang tahu aku mandi atau belum tadi hehe”jelas Sehun membuat Junmyeon menggeleng tak percaya.

“Ada apa mengunjungiku?”tanya Sehun.

“Hanya memastikan bahwa rumah ini tetap baik-baik saja meskipun sudah kau tinggal ke Kanada 5 tahun lamanya.”jelas Junmyeon menelisik debu-debu yang dikiranya menempel namun nihil.

“Rumah ini selalu bersih hyung.”Sehun menjatuhkan tubuhnya diatas sofa empuk warna maroon.

 

“Kapan kau akan mengenalkan ku pada istrimu hyung?”

 

Junmyeon memandang Sehun sekilas lalu segera mengalihkan pandanganya, sebelum Sehun tahu bahwa ia tengah menyembunyikan sesuatu.

 

“Bukankah kau sudah bertemu dengannya?”

 

“Tapi dia tak tahu kalau aku ini adikmu dan itu sangat menyebalkan hyung, dia memperlakukanku semena-mena.”dusta Sehun.

 

“Sungguh? Istriku begitu?”tanya Junmyeon memastikan.

 

“Hm”

 

Junmyeon memandang kearah jendela. Salju turun cukIup deras hari ini. Sena belum pulang dari tempat Hyojung membuat Junmyeon khawatir mengingat Sena sangat rentan suhu dingin.

 

“Pinjam jaketmu ya hun.”ucap Junmyeon seraya meraih jaket hitam disofa.

 

“Hei untuk apa? Itu belum ku cuci!”teriak Sehun namun Junmyeon sudah berlalu.

 

***

 

Sena masih sibuk dengan naskahnya hingga tak tersadar bahwa suaminya telah tiba beberapa saat lalu.

 

“Dia belum makan siang ini.”ucap Hyojung sambil menyerahkan piring berisi dua potong sandwich.

 

Junmyeon hanya menghela nafas kesal. Pria itu sangat takut jika Sena jatuh sakit meskipun hanya sebatas flu dalam batas wajar. Junmyeon tahu betul istrinya itu sangat mudah sakit. Sena juga sangat sering lupa makan.

 

“Dear”panggil Junmyeon.

 

Sena mendongak melihat siapa yang datang lalu gadis itu tersenyum hingga fokusnya kembali pada layar laptopnya. Kemudian Junmyeon duduk didepan Sena.

 

“Kau melupakan makan siangmu dear.”

 

“Aku tidak lupa, aku akan makan jika pekerjaanku sudah selesai.”Sena selalu keras kepala.

 

“Ini sudah pukul 3 dan itu bukan lagi waktu makan siang.”Junmyeon tetap sabar menghadapi Sena. Pria itu tidak pernah lelah menghadapi Sena yang kadang masih kekanakan.  Junmyeon kemudian beranjak memakaikan jaket tebal milik Sehun pada Sena. Gadis itu memejamkan matanya kala menghirup aroma familiar dihidungnya. Aroma lemon dan jeruk segar terasa begitu menganggu konsentrasi Sena.

 

“Jaket siapa ini?”tanya Sena.

 

“Milik adikku.”jawabnya singkat. Sena menautkan alisnya.

 

“Kita sudah menikah berapa lama? Kau tak pernah bercerita tentang adikmu.”Sena menggerutu sebal.

 

“Dia baru kembali dari Kanada beberapa minggu yang lalu. Kami sejak kecil sudah terpisah karena ayah menceraikan ibu.”jelas Junmyeon.

 

“Makanlah, aku tidak ingin melihatmu sakit.”ucap Junmyeon mengalihkan pembicaraan.

 

Sena ingat betul ini mirip aroma Sehun.

 

 

Gadis itu berlari menyusuri koridor sekolahnya yang mulai sepi. Konsentrasinya sudah benar-benar hancur sejak tadi. Setelah menerima kabar bahwa Sehun cidera kala berlatih basket. Fikirannya hanya tertuju pada lapangan basket sejak tadi. Hingga ia memutuskan untuk berlari keluar meninggalkan jam pelajaran yang berlangsung kala itu.

 

Sungguh, ia kembali merasa begitu kacau saat mendapati Sehun terduduk lemah dipinggir lapangan dengan perban dipergelangan kaki kirinya.

 “Sehun-a”panggilnya lalu gadis itu segera menghambur kedalam pelukan pria itu. Aroma jeruk yang bercambur lemon begitu menguar dari baju basketnya.

 

“Aku tidak apa-apa Sen.”ucap Sehun menenangkan.

 

 

“Dear?”panggilan Junmyeon membuyarkan lamunannya.

 

“Ahh ya?”

 

Junmyeon hanya tersenyum lalu menyuapkan sepotong kecil sandwich pada Sena.

“Akhir-akhir ini kau sering murung, apa yang tengah mengganggu fikiranmu dear?”

 

Sena menggeleng kecil. Tak ada respon yang ingin Sena sampaikan selain itu. Meskipun nyatanya ada hal harus dibicarakan dengan suaminya itu.  Haruskah? Haruskah Sena mengatakan bahwa masa lalunya kembali? Oh itu tidak lucu.

 

 

Tbc…

2 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] REPLAY (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s