[EXOFFI FREELANCE] Marvelous Things (Chapter 1)

wk1

×‖ Marvelous Things

×‖ By Raelixx

×‖ Chaptered

×‖ Romance, sad, comedy, puzzle, family and friendship

×‖ PG 15+

×‖ – Main Cast

  • Cho Ha Ra (OC)
  • Oh Se Hun

– Additional Cast

  • Kim Cheon Sa
  • Park Chan Yeol
  • Oh Ye In
  • Jung Min Yeo
  • Kang Se An
  • Go Dae Han

×‖ Disclaimer : This FF is MINE a.k.a alledays. The cast belongs to owner accept OC. Don’t be a silent reader please… and also don’t be a PLAGIATOR.

×‖ Author’s Note : Annyeong haseo everyone!!! Terimakasih buat yang berminat baca FF aneh nan abal ini (btw this is my first FF). Warning and sorry if there are many typo(s) in here. Comment yaaa buat kalian yang udah bacaa thankiess!! \^O^/. HAPPY NEW YEAR 2017 ALL!!!
Follow me in Wattpad à vtddel dan Email-ku à dellaputri.s@outlook.com

 

You are everything and love is anything” – Cho Ha Ra.

NOW RELEASE à chapter.one {Who Are You?}

.

.

.

~ * ~

Mataku terbuka perlahan, suara burung nyaring dan sesekali bersahut-sahutan, dan sinar mentari membuatku menutupkan kembali kedua kelopak mataku ini. Kuarahkan tanganku menuju dahiku, berusaha menghalau pancaran mentari. Badanku terasa berat sekali memang, tapi harus bagaimana lagi? Aku kan harus segera jalan, apa lagi hari ini adalah hari pertamaku di Universitas Seoul ini.

Ah, aku harus segera bergegas. Aku langsung bangun dan memasang kalung yang memiliki liontin berupa cincin ini. Tanganku mengusap lembut cincin itu. Ini adalah satu-satunya peninggalan dan warisan dari ibuku. Aku memang harus selalu mencopot kalung ini saat tidur, karena kalau tidak leherku akan sakit terkena kalung­­­ sekaligus cicin ini.

Kulangkahkan kakiku menuju pintu kamarku, lalu tanganku menarik gagangnya dan bergegas keluar. Aku segera menuruni anak tangga dan saat sampai di anak tangga terakhir sebelum mendarat tepat di lantai paling bawah, tiba-tiba suara seorang anak kecil perempuan mengagetkanku. “eomma! eomma! Eomma dimana?” suara imut itu hampir saja membuatku terjatuh namun aku langsung mempertahankan keseimbanganku dengan memegang bagian pinggir tangga, aku memang sering kali kaget, bahkan pernah saat itu aku kaget hingga menangis. Yah, cukup memalukan.

“Sea! Kamu membuat kakak kaget tau,” ucap seorang anak remaja laki-laki di belakang anak kecil itu. “Loh, tumben kalian dah bangun, biasanya kamu telat bangunnya deh Sea.” Kakiku akhirnya sampai di lantai terbawah, mataku jelas sekali memancarkan kebingungan. Aku pun mendekati mereka dan jari telunjukku bergantian menunjuk mereka berdua.

Jeno, si anak laki-laki itu menatapku dengan mata cokelatnya yang bulat, lalu bibirnya mengucapkan, “Seara meninggalkan jejak di tempat tidurnya dan aku langsung mengajaknya mencari Eomma. Meminta tolong Eomma untuk mengganti spreinya nanti.” Wajahnya tidak berekspresi apa-apa, seperti biasanya. Namun hanya diam saja dia sudah tampan, apa lagi kalau senyum, wah.

“Sea, kamu ngompol ya?” tebakku untuk Seara. Dia hanya tersenyum membentuk garis tipis di bibirnya dan tangannya saling menggengam dan diletakkannya di depan tubuhnya, ah, aku sudah sering melihat ‘kode’ kalau dia mengaku secara tak langsung.

“Hei, tumben ramai? Ada apa?” Eomma tiba-tiba menyambut kami dari arah dapur.

Umm, sebenarnya ‘eomonim’ bukanlah eommaku yang sesungguhnya. Ya, rumah ini adalah asrama panti asuhan yang sederhana. Dan aku adalah salah satu dari anak-anak eomma disini. Sebetulnya aku sudah menyiapkan rencana untuk pindah dari rumah ini, karena usiaku yang termasuk sudah legal dan juga jarak dari sini ke universitas cukup jauh. Namun, setelah kupikir berulang kali, lebih baik aku tinggal disini selama sebulan dulu dan setelah itu barulah aku pindah ke apartemen yang baru.

Mata eomma tiba-tiba melirikku sesaat setelah berbicara kepada Jeno dan Seara. “Cho Ha Ra, bukankah eomma sudah mengakatakan bahwa jarak dari sini ke universitas termasuk cukup jauh? Mengapa masih di sini dan tidak segera bersiap-siap ha?” o-ow, suara eomma sudah meninggi. Dan aku hanya bisa menundukkan kepalaku dan mengalihkan arah pandangan mataku.

Ne, eomma. Aku akan bersiap-siap sekarang juga,” jawabku pelan. Lalu aku segera berbalik badan dan berlari sedikit cepat ke arah kamar mandi. Dan aku segera menutup pintu kamar mandi secara tergesa. Omo, hampir saja!

~ * ~

Kududukan bokongku dikursi halte. Aku sedang mengecek apakah ada benda yang tertinggal di rumah atau tidak. Setelah aku mengecek ternyata tidak ada, baiklah, aku sudah siap untuk hari ini. Akhirnya ada sebuah bis yang berhenti didepanku. Dan aku langsung menaikinya.

Aku akan bercerita sedikit tentangku sekarang. Namaku Cho Ha Ra, lahir di Seoul tanggal 5 Juni 1997. Aku sekarang berumur 20 tahun. Aku seorang yatim piatu, ayah dan ibuku meninggal dalam kecelakaan mobil beruntun saat kami akan pergi menuju pantai. Namun naas, kami malah mengalami kecelakaan, ayah dan ibuku meninggal karena sudah tidak dapat ditolong lagi sedangkan aku mengalami amnesia yang cukup hebat dan trauma untuk  pergi ke pantai lagi. Kejadian itu terjadi saat umurku 10 tahun. Kecelakaan itu membuatku mencicipi bagaimana rasanya maut dan rasanya ditinggalkan oleh orang yang sangat kau kasihi. Oh, itu sangat menyedihkan.

Kemudian karena aku yatim piatu, bibi ku satu-satunya, Bibi So Ye, mengambil hak asuhku. Namun karena wanita itu mengerikan, aku memutuskan untuk tinggal di panti asuhan. Dan beginilah nasib buruk hidupku, sangat flat dan sangat-sangat menyedihkan. Dan entah mungkin keberuntungan sedang berada di pihakku, aku bisa berkuliah di Universitas Seoul dan mendapatkan beasiswa di jurusan Food and Nutrition.

Tak terasa bus ini sudah sampai di tempat perhentiannya. Aku segera menggerakkan kedua kakiku untuk turun dari bus dan berjalan kaki sampai ke dekat gerbang utama Universitas Seoul. Jemariku menyentuh liontin cincin di leherku. Semoga kali ini aku berhasil eomma, doakan aku dari sana ya! Batinku berharap sedikit cemas.

Tiba-tiba instingku mengatakan bahwa aku sedang dilihati oleh sesuatu. Merasa waspada aku pun menolehkan pelan leherku. Lalu mataku menangkap basah seseorang yang tengah menatapku, lebih tepatnya menatap liontin ku yang terpasang di leherku. Jaraknya kira-kira tiga meter di samping kiriku. Siapa dia? Mengapa melihatku seperti itu? Ia memakai pakaian yang formal, sepertinya dia seorang karyawan. Atau jangan-jangan dia guru di universitas ini? Kalau ya, mengapa sedari tadi hanya diam berdiri di sana? Aku segera melepaskan jariku yang tadinya mengusap liontin itu berubah menjadi mengusap tengukku yang tak gatal dan langsung melanjuti perjalananku. Ah, aku terlalu banyak bertanya di dalam hati. Daripada aku tak tahan dipandangi lalu menanyakan siapa dia, lebih baik aku pergi sekarang juga.

Akhirnya aku sampai di kelas ku. Ternyata sudah banyak orang yang menempati bangku di belakang. Hah, mengapa sudah terisi duluan? Gagal sudah rencanaku untuk duduk di belakang. Dengan langkah yang gontai aku berjalan menuju kursi paling pojok dekat pintu masuk kelas. Dan setelah itu aku melangkahkan kaki ku untuk pergi sejenak keluar, karena di dalam kelas tak ada yang ku kenal sama sekali.

Baru saja kaki ku melangkah, sedetik kemudian badan ku terjatuh karena ditabrak seseorang. “Aduh,” keluhku kemudian. Orang yang menabrak ku tenyata juga terjatuh, “Mianhe… mianhe…,” ucapnya cepat. Seorang perempuan berambut pendek dengan poni di wajahnya membungkuk beberapa kali. “Ah, tak apa, tak apa,” ucapku, aku merasa tak enak hati.

Lalu dengan inisiatif sendiri aku membantunya merapihkan buku-buku yang berjatuhan akibat kami. “Mari kubantu.” Aku membantunya merapihkan buku-bukunya. Dia pun mengucapkan terimakasih kepada ku. “Kau mahasiswa baru jurusan ini?” tanyanya. “Ah, ne,” balasku berbicara secara lambat. “Heol, kita satu jurusan! Ya ampun, maaf karena tak sopan, biarkan aku memperkenalkan diriku. Oh Ye In imnida,” ucapnya memperkenalkan dirinya sendiri. Tangannya dia ulurkan untuk bersalaman denganku seraya tersenyum ramah. “Cho Ha Ra imnida,” balasku, tanganku ku ulurkan juga untuk bersalaman dengannya.

Tak lama kami pun berbincang-bincang mulai dari topik A ke B dan seterusnya hingga kembali ke topik A lagi. Dan tak terasa pelajaran pertama di kuliahku pun berlangsung. Ternyata Ye In adalah seorang tipe teman yang ramah dan juga pendengar yang baik. Meskipun aku jarang berbicara, namun dia selalu punya topik menarik untuk dibicarakan. Dan aku akan selalu tergoda mendengarnya dan bertanya apa saja tentang topik itu. Dia juga berwawasan luas. Saat dosen manapun bertanya, dia selalu menjadi orang pertama yang menjawab pertanyaan itu.

Sekarang sudah pukul 15.00 dan ini adalah waktunya untuk pulang. “Ha Ra!” panggil Ye In saat aku sudah berada di anak tangga yang terakhir. Jadi teringat tadi pagi.

 

Ne? Waeyo?” balasku

“Bisa tidak kamu temani aku di kafe itu,” pintanya seraya mengangkat telunjuknya dan menunjukkan suatu tempat. Bibirku pun terangkat tinggi, aku menganggukkan kepalaku dua kali. Dan tangannya pun menggaet tanganku untuk segera pergi dari tempat.

Aku dan Ye In pergi menuju kafe terdekat untuk sekedar meminum kopi dan menunggu dia yang akan dijemput oleh oppa nya. “Oppa! Kau dimana?” suara Ye In sedang menelepon kakaknya. Sepertinya dia sudah bosan duduk di sini. Baiklah, sepertinya aku harus pamit duluan.

“Um, Ye In-ssi. Sepertinya aku harus pulang duluan,” ucapku setelah ia memutuskan sambungan teleponnya. “Oh, oke. Mianhe ne, Hara. Kau sangat baik, padahal kita baru saja berkenalan, tetapi kau mau kuajak untuk menemaniku.” Ye In mengucapkan itu sangat lembut. Aku pun mengatakan tak apa-apa, dan langsung pergi.

Tepat saat bel pintu depan kafe berbunyi, tanda ada orang yang masuk maupun keluar. Aku melihat orang itu lagi. Ya, dia yang tadi ku lihat di depan gerbang universitas tadi. Kali ini stylenya sangat mewah, di tangannya ada smartphone keluaran baru bulan ini. Ia berdiri di samping mobil mewah yang namanya saja aku tak tahu. Dia seperti orang yang nyasar karena berada sendirian di depan kafe ini. Seperti tahu bahwa aku memandanginya, kepalanya berbelok lalu melihat ku. Mataku ditatapnya sangat intens, meskipun ia jauh aku bisa merasakan auranya yang tegas dan berwibawa. Aku pun bertanya-tanya dalam hati. Who are you?

Aku tak tahan dipandangi oleh manusia tampan seperti itu. Aku langsung mengalihkan pandangan ku dan segera berbelok ke kiri, melewati orang itu yang masih memandangku. Badanku sedikit ku bungkukkan saat melewatinya. Seakan tak peduli, aku pun terus saja berjalan padahal di dalam hatiku, detak jantungku menggema di dadaku.

~ * ~

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Marvelous Things (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s