[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife – Chapter 10

wp-1483801221116.jpg

Tittle : SECRET WIFE

Author : Dwi Lestari

Genre : Romance, Friendship, Marriage Life

Length : Chaptered

Rating : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 10   (Reward)

 

‘Dia Junghae, hyung’.

Chanyeol membuang nafas pasrahnya. Balasan pesan dari Sehun masih terngiang jelas di fikirannya. Adik kesayangannya mulai menyukai gadisnya.  Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dia bahkan tak dapat berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Seperti saat ini, dia masih terdiam kala salah seorang karyawannya yang baru menyelesaikan persentasinya memberinya pertanyaannya. Dia memang sedang rapat sekarang. Dia masih terdiam, karena memang sebenarnya dia tak sedikitpun mendengarkan apa yang para karyawannya bicarakan. Dia baru tersadar, kala sekretarisnya menepuk tangannya.

Sajangnim, anda baik-baik saja?”, tanya sekretaris Kim.

Ne~”, Chanyeol sedikit kaget mendengarnya.

“Anda baik-baik saja? Anda terlihat pucat”, tanya sekretarisnya kembali.

“Ekhm. Ne, aku baik-baik saja”, jawab Chanyeol kembali.

“Jadi?”.

Chanyeol mengerutkan alisnya, dia tak paham dengan omongan sekretarisnya. “Maksudmu?”, tanyanya kemudian.

“Kau tak akan menjawab pertanyaan Manajer Lee?”,

Chanyeol, memejamkan matanya sebentar. Dia terlihat bingung, jawaban apa yang pantas ia ucapakan. Sebenarnya dia benar-benar tak paham dengan apa yang ditanyakan, lebih tepatnya dia memang tak mendengarkan apa yang mereka rapatkan. Namun demi menjaga imagenya dia menjawab seprofesional mungkin. “Kau bisa melanjutkannya sesuai rencana Manajer Lee. Selama itu menguntungkan hotel, tidak masalah”.

Ne, algeuseumnida”, jawab Manajer Lee. “Baiklah, kurasa rapat kali selesai. Selamat menikmati makan siang kalian”, lanjut Manajer Lee menutup rapat siang itu.

Chanyeol segera berdiri dan pergi meninggalkan rungan itu. Pikirannya sedang kacau sekarang, dia tak ingin terjebak lama-lama di ruang itu. Sekretarisnya segera menyusulnya setelah membereskan berkas yang ditinggalkan Chanyeol. Yang juga diikuti oleh semua perserta rapat meninggalkan ruangan itu.

Chanyeol memasuki ruang kerjanya dengan langkah tergesa. Membuang jasnya ke gantungan samping meja kerjanya. Melonggarkan dasinya, membuka kancing teratas kemejanya, dan menyandarkan kepalanya di kursi ruang kerjanya. Dia terlihat kacau dengan wajah lelahnya. Dia memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan diri. Banyak sekali masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.

Mulai dari hubungan yang tak disetujui ibunya, pernikahan rahasianya, dan adik kesayangannya yang mulai menyukai istrinya, ditambah lagi masalah hotel yang dikelolanya. Hidup memang tak semulus yang ia bayangkan. Dia membuang nafas pasrahnya. ‘Tenanglah Park Chanyeol, semua masalah pasti ada solusinya’, dia menenangkan dirinya sendiri.

Pintu ruangannya diketuk, dia segera mempersilahkan orang itu masuk. Sekretarisnya masuk membawa beberapa berkas untuknya. “Kau baik-baik saja, sajangnim?”, tanyanya.

“Emh”, Chanyeol hanya menjawabnya dengan gumaman.

“Kau terlihat kacau”, sekretaris itu kembali berucap sambil menyerahkan berkas yang dibawanya. “Apa kau bertengkar dengan nona Junghae?”, lanjutnya.

Chanyeol mendesah, ini bukan seperti yang sekretarianya bilang. Hubungannya dengan Junghae baik-baik saja, setidaknya sampai hari ini. Dan memang hanya sekretarisnya dan sahabatnya, Byun Baekhyun yang tahu tentang hubungannya. “Aniyo”, dia menggeleng.

“Lalu?”.

“Ah, molla”, dia mengacak-acak rambutnya sendiri. “Banyak sekali yang aku pikirkan akhir-akhir ini”, lanjutnya.

“Ceritakan saja sajangnim. Siapa tahu, aku bisa membantu. Atau setidaknya beban fikiranmu akan berkurang”.

Chanyeol diam untuk beberapa saat. Bukan karena tak ingin bercerita namun bingung harus mulai dari mana. Dia sangat mempercayai namja yang kini berdiri dihadapannya. Namja yang setahun lebih tua darinya yang akan selalu setia mendengar keluh kesahnya. Yang sudah ia anggap sebagai kakaknya. Karena memang namja itu selalu ada untuknya.

“Kau tak ingin duduk, hyung?”, ucap Chanyeol. Jika dia sudah memanggilnya dengan sebutan itu, maka Chanyeol benar-benar membutuhkan seorang teman untuk keluh kesahnya. Namja itu bahkan tahu jika ada yang sedang Chanyeol fikirkan.

Waeyo? Apa yang yang mengganggu fikiranmu?”, namja itu duduk seperti yang disarankan Chanyeol.

”Bagaimana jika Sehun mulai menyukai Junghae?”, hanya itu kalimat yang lolos dari mulut Chanyeol. Dia bahkan terlihat begitu frustasi saat mengatakannya.

“Jadi itu yang mengganggu fikiranmu?”, sekretarisnya itu kembali bertanya.

“Emh”, Chanyeol mengusap pelan wajahnya. Dia bahkan membuang nafas pasrahnya.

“Ya, kemungkinan itu memang ada. Mereka sudah lama saling mengenal. Mungkin bagi mereka itu hanya hubungan pura-pura, namun secara tak sadar mereka sudah terikat dalam suatu hubungan. Hubungan kasat mata yang mengharuskan mereka bersandiwara didepan semua orang. Kau mengerti maksudkukan?”.

Chanyeol mengangguk sebagai jawaban.

“Ditambah lagi Jungra yang tak kunjung memahami perasaan Sehun. Sehun bukan tipe orang yang akan teguh dengan satu hal. Dia pasti akan menyerah suatu saat nanti. Dan sebelum saat itu terjadi, kau harus secepatnya mempertegasnya. Mempertegas jika Junghae milikmu”, sekretarisnya bernafas sejenak. Dia kembali melanjutkan sarannya untuk bosnya yang sudah ia anggap seperti adik, “Aku tahu perasaanmu untuk Youngrin belum hilang, karena memang kau bukan tipe orang yang mudah menyukai sesuatu dalam sekejap. Tapi kau juga harus lebih memperhatikannya, bagaimanapun juga kalian sudah berjanji dihadapan Tuhan. Apa kau akan menyerah begitu saja, jika Sehun benar-benar menyukainya?”.

Kalimat terakhir itulah, yang akan menjadi pisau yang siap menusuknya. Dia teramat sangat menyayangi Sehun. Dia bahkan sudah berjanji akan selalu melindunginya. Chanyeol benar-benar sangat bingung, dia sungguh tak ingin menyakiti perasaan adiknya. Dan jika dia menyerah, dia sendiri yang akan terluka. Jujur saja, dia mulai nyaman dengan Junghae. Meski itu belum ke tahap cinta, namun itu dapat ia katakan sebagai perasaan suka.

“Aku tidak tahu harus berkata apa?”, hanya itu yang dapat Chanyeol katakan.

“Apa kau nyaman bersama nona Junghae?”.

“Tentu, bahkan sangat. Dia begitu care pada semua orang”.

“Kau hanya perlu mempertahankannya. Dan cobalah untuk lebih memahaminya, aku yakin kau bahkan belum tahu makanan kesukaannya”.

Chanyeol tersenyum, memang benar apa yang dikatakan sekretarisnya. Bahkan untuk hal sekecil itu dia belum tahu, bagaimana dengan hal lain.

“Hidup memang tak semudah yang kita bayangkan. Tapi jika kita bisa mempertahankan apa yang kita miliki, dan mencoba yang terbaik dalam menghadapinya pasti akan ada hasil yang seimbang”, sekretarisnya kembali berucap.

Chanyeol merasa bebannya sudah mulai berkurang. Dia merasa sedikit lega, nasehat dari sekretarisnya sangat berguna. Dia begitu berterima kasih telah mengenalnya.

 

***

 

Gadis itu terlihat tersenyum puas dengan hasil jahitannya. Setelan jas yang baru ia selesaikan telah di pajangnya disebuah patung di ruang kerjanya. Ini adalah baju terakhir yang harus diselesaikannya. Dia bahkan tak henti-hentinya tersenyum memandanginya. Dia kembali membenarkan letak jas tersebut.

“Apa itu untukku?”, terdengar suara yang sangat familiar ditelinganya.

Gadis itu menoleh untuk memastikan jika asumsinya benar tentang siapa pemilik suara tersebut. Dan benar saja apa yang ia tebak, dia tersenyum setelahnya. “Tidak, ini bukan untukmu”.

“Apa untuk fashion show?”.

Gadis itu menggeleng.

Namja yang tadi berucap, mengerutkan alisnya. Jika bukan untuk fashion show, lalu untuk apa? Apa untuk kekasihnya? Namja itu memilih bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya. “Lalu untu siapa?”.

Someone”, jawab gadis itu singkat. Dia beralih membereskan peralatannya.

Nuguya? Apa untuk kekasihmu? Ah, tidak. Hanya aku satu-satunya kekasihmu”, namja itu beralih bahasa. Dia bahkan menjawab sendiri pertanyaannya.

Gadis itu tersenyum mendengarnya. “Kau akan tahu nanti, oppa”. Gadis itu kini memasukan peralatannya ke dalam laci meja kerjanya.

“Lalu untuk siapa?”, namja itu tak menyerah. Dia kembali bertanya.

“Kau juga akan tahu nanti”, dan gadis itu masih bersikeras tak memberitahu. “Apa yang membawamu datang kemari?”, kini dia megalihkan pembicaraan.

Namja itu hanya bisa membuang nafas pasrahnya karena gadis yang dihadapannya tak juga memberitahunya. Dia bahkan tahu jika gadis itu sedang mengalihkan pembicaraan. “Apa lagi, kalau bukan mengunjungi kekasihku”, namja itu berniat menggoda gadis yang ada dihadapannya.

Aish”.

Namja itu tersenyum, ia berhasil menggoda gadis yang ada dihadapannya. “Kau sudah menyelesaikan semua?”.

Gadis itu menggangguk, “Emh, kau mau melihatnya?”.

“Jika kau mengizinkannya”.

“Ikutlah denganku?”, gadis itu berjalan menuju ruang yang terletak di sebelah tempat kerjanya. Dia membuka pintu ruang tersebut.

Namja itu begitu kagum, saat memasuki ruangan tersebut. Bagaimana tidak, ruang itu dipenuhi baju, dengan berbagai model. “Wow, kau menyelesaikan ini semua hanya dalam dua minggu?”, tanya namja itu yang terlihat begitu terkejut.

“Tentu saja tidak. Aku hanya membuat lima baju. Ah, enam beserta jas tadi. Sayangnya, Krystal Jung tak bisa ikut dalam fashion show nanti. Dan lagi aku masih kekurangan satu model wanita, apa kau punya usul?”, gadis itu beralih menatap namja yang kini tengah mengamati gaun yang terpajang di sebuah patung.

“Kenapa kau tak meminta bantuan ibumu. Bukankah dulu dia seorang model. Kurasa dia masih pantas berjalan di karpet merah”, namja itu terlihat asal saat mengatakannya, karena pandangannya tak lepas dari gaun tersebut.

Gadis itu tersenyum. Benar apa yang dikatakan namja itu, kenapa dia tak berfikir sampai kesitu. “Ah, kau benar. Kenapa aku tak terfikirkan Momy? Dia memang masih pantas berjalan di karpet merah”, gadis itu berniat pergi mencari ibunya.

“Hei, apa kau akan meninggalkanku?”.

Gadis itu harus berhenti. Dia bernafas pasrah. Ya, namja tadi benar jika dia akan meninggalkannya. Rasanya tak sopan. Gadis itu akhirnya tak jadi pergi. Dia berjalan menuju salah satu rancangannya. Mengambil sebuah jas, dan memberikannya pada namja itu. “Ini untukmu, semoga ukurannya pas”.

Namja itu memperhatikan desainya sebentar. Memang tak semewah jas yang tadi, namun itu terlihat elegan. Ditambah warna yang menjadi favoritnya. “Baiklah, kita coba apa pas atau tidak”. Namja itu melepas mantel bulunya, dan mencobanya. Ukurannya sangat pas ditubuhnya, bahkan rasanya sangat nyaman saat dipakai.

“Bagaimana?”, tanya gadis itu kemudian.

“Ini sangat pas dan juga nyaman. Bagaimana bisa, kau bahkan tak pernah mengukurku. Dan seingatku aku tak pernah memberitahu ukuranku”.

“Aku tak perlu mengukur untuk mengetahui ukuranmu. Aku hanya perlu melihatnya”.

Namja itu hanya mengangguk setuju. Dia kembali melepas jas itu dan memakai mantelnya lagi.

“Kau mau minum?”, gadis itu kembali bertanya.

“Tidak perlu, aku hanya ingin mengajakmu ke launching prodak baruku nanti malam. Semua orang sudah tahu jika kau kekasihku. Jadi sangat aneh jika kau tak hadir nanti”.

“Baiklah!”, gadis itu mengganggu setuju. “Tapi kau tak perlu repot datang kemari hanya untuk memberitahuku, oppa. Kaukan bisa menghubungiku”.

“Iya, tapi aku ingin melihat wajahmu, Alice”, namja itu beralih memegang kedua pipi gadis itu. Dia bahkan sangat gemas.

Yak, sakit”, gadis itu berusaha melepaskan tangan namja itu.

Namun hal itu tak dindahkan oleh namja tersebut. Dia bahkan menggoda gadis itu kembali. Dan lihatlah, sekarang mereka terlihat seperti sepasang kekasih dengan pertengkaran kecil itu.

 

***

 

Junghae kini telah kembali ke Korea setelah sekitar dua minggu kembali ke rumah ayah dan ibu angkatnya. Dia kembali disibukan dengan persiapan tempat untuk acara fashion shownya. Dia merasa sangat lega setelah berhasil membujuk ibu angkatnya untuk ikut serta dalam acaranya. Ini akan menjadi momen indah kembalinya sang model terkenal yang sudah hiatus selama lebih dari sepuluh tahun.

Junghae kini berjalan anggun menuju ruang CEO pemilik hotel tempat diadakan fashion shownya. Dengan mengenakan setelan kemeja bermotif bunga dan rok pendek polos yang berwarna senada dengan kemejanya, serta mantel yang melindunginya dari udara dingin yang mulai terasa. Rambut panjangnya ia ikat, hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi dengan kalung emas putih berliontinkan kupu-kupu. Dia juga membawa kotak kado yang berukuran sedang ditangan kanannya dan tas ditangan kirinya. Kakinya dihiasi heels berwarna merah maron yang melengkapi penampilannya.

Dia bertemu sekretaris Kim sebelum sampai di ruang sang CEO. Dia tersenyum ramah dan mnundukkan kepalanya pada sang sekretaris.

“Selamat pagi nona Junghae, apa anda ingin bertemu sajangnim?”, tanya sekretaris itu yang juga tersenyum ramah padanya.

“Selamat pagi. Iya, apa dia ada?”, Junghae balik bertanya.

“Sayang sekali, sajangnim masih di Beijing”.

Junghae membuang nafas kecewanya. “Sayang sekali”, dia menirukan kata-kata sekretaris itu. “Kalau begitu aku akan menitipkan ini pada anda. Berikan padanya saat sudah pulang nanti”, lanjutnya. Di memberikan kotak kado pada sekretaris Kim.

Sekretaris Kim segera menerimanya, namun dengan sedikit protes. “Kenapa anda tak memberikannya secara langsung saja nanti setelah dia datang”.

Junghae tersenyum, “Aku akan sibuk dengan persiapan fashion showku. Karena itu aku minta tolong pada anda”, jelas Junghae.

“Baiklah, akan ku berikan nanti. Tapi apa ini?”.

“Hadiah. Jangan dibuka, biar dia yang membukanya”, pinta Junghae lagi.

Sekretaris itu mengerutkan alisnya. Dia memang penasaran dengan isi kotaknya, tapi dia juga harus menghargai privasi orang. Baiklah, dia memutuskan untuk menyimpan rasa penasarannya. Dia bisa bertanya langsung nanti setelah sang CEO membukanya.

“Aku ingin mempersiapkan tempatnya. Dibagian mana aku harus bertanya?”, kata Junghae kembali.

“Manajer Lee yang ditunjuk sajangnim untuk membantu anda. Akan saya antarkan, tapi setelah saya meletakkan hadiah ini”.

Junghae mengangguk setuju. Dia membiarkan Sekretaris Kim masuk ke ruang CEO, dan menunggunya.

 

***

 

Chanyeol meletakkan mantelnya di gantungan samping meja kerjanya. hari ini di kembali bekerja setelah selama lima hari dia pergi ke Beijing. Dia melihat kotak kado di meja kejanya. Siapa yang memberinya hadiah? Apa ini hadiah natal? Dia membuka kotak tersebut. Kotak itu berisi jas yang dilipat rapi dan kartu ucapan. Dia memilih membaca kartu ucapan tersebut sebelum melihat jasnya.

Oppa, aku selalu terfikirkanmu saat menjahit. Jadi aku membuat satu untukmu. Semoga ukurannya pas dan semoga saja kau menyukainya. Alissa Kim’, itu adalah isi kartu ucapan tersebut. Dia tersenyum saat membacanya. Dia segera melihat jas tersebut. Jas berwarna abu-abu dengan desain yang mewah. Dia tahu saat memegangnya, kainnya bukan dari sembarang kain.

Chanyeol melepas jas yang ia pakai sebelum mencobanya. Sangat pas dan juga nyaman. Bagaimana bisa, dia bahkan tak pernah mengukur tubuhnya. Dia harus bertanya padanya. Cahnyeol beralih mengambil ponselnya.

Terima kasih untuk hadiahnya. Ini sangat pas dan juga nyaman. Bagaimana bisa kau tahu ukuranku?’, itu adalah pesan yang Chanyeol kirim untuk Junghae. Tepat setelah pesan itu terkirim, dia mendengar pintu ruangannya diketuk. Dia segera mempersilahkannya masuk.

Sekretaris Kim masuk bermaksud memberitahukan soal hadiah yang dititipkan Junghae padanya. Namun saat dia tahu jika kotak tersebut sudah terbuka, dia bernafas lega. “Jadi nona Junghae memberikan jas itu?”, tanyanya kemudian.

“Darimana kau tahu jika ini dari Junghae?”, tanya Chanyeol yang sedikit heran.

“Tentu saja aku tahu, dia menitipkannya padaku kemarin lusa. Dan aku bermaksud memberitahu anda sajangnim. Tapi anda sudah membukanya, ya sudah”.

“Jadi dia kemari?”.

Ne. Dan kurasa dia juga akan kemari nanti. Persiapan tempatnya sudah setengah jadi”.

“Semoga saja. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya”.

“Kau tak menghubunginya untuk memastikannya?”.

“Aku sudah mengirim pesan untuknya. Dan~”, ponsel Chanyeol berbunyi menandakan ada pesan masuk. Dia bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Dia segera meraih ponselnya. Dilihatnya siapa yang mengirim pesan untuknya. Dan seperti yang diharapkannya, pesan itu berasal dari Junghae.

Syukurlah! Aku sempat ragu saat membuatnya. Aku hanya perlu melihat untuk tahu ukuranmu, oppa’, begitulah isi pesan Junghae.

Chanyeol mengerutkan alisnya saat membacanya. “Hanya dengan melihat”, Chanyeol berkata pada dirinya sendiri. Mungkin dia sudah terbiasa, fikirnya. Dia kembali membalas pesan tersebut. ‘Apa kau akan kemari nanti?’.

Waeyo?”, tanya sekretarisnya yang heran dengan tingkah atasannya tersebut.

“Bukan apa-apa, hyung. Bagaimana menurutmu?”, Chanyeol bertanya untuk jas yang ia kenakan, dan juga bermaksud mengalihkan pembicaraan.

Perfect, sangat pas dan juga telihat elegan. Tak salah jika dia menjadi desainer yang cukup terkenal”.

Chanyeol kembali melepas jas itu, melipatnya dan memasukan kembali ke dalam kotaknya.

“Aku akan kembali ke tempatku”, kata sekretarisnya dan berlalu meninggalkan Chanyeol.

Chanyeol kembali fokus pada berkas yang menumpuk di mejanya. Lima hari meninggalkan hotel, pasti banyak pekerjaan yang menunggunya. Ponselnya kembali berdering, satu pesan masuk yang ia yakini dari Junghae.

Aniyo. Aku benar-benar sibuk hari ini. Mungkin besok! Waeyo?’.

‘Dia tak kemari?’, pikir Chanyeol. Dia kemabli membalas pesannya. ‘Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Bagaimana jika makan malam bersama? Aku tahu restoran seafood yang enak’.

Baiklah!’.

Chanyeol tersenyum saat membacanya. Dia tak sabar untuk bertemu dengannya nanti malam. Ini sudah lebih dari dua minggu dia tak melihat wajah istrinya. Ada sedikit perasaan rindu untuknya.

 

***

 

Dengan senyum yang menghiasi wajahnya Chanyeol menunggu Junghae disalah satu meja restoran tempat mereka akan makan malam bersama. Dia merogoh saku mantelnya, mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah. Dia membuka kotak tersebut, yang berisikan sebuah cicin yang cukup manis dengan hiasan berlian disisi tengahnya. ‘Semoga kau suka’, dia kembali menutup kotak  tersebut dan memasukan ke dalam sakunya.

Dia melirik jam tangannya. ‘Dia terlambat’, fikirnya. Sebenarnya dia ingin sekali menjemputnya, namun keadaan yang tak menungkinkannya. Dia memanggil waitress dan memesan secangkir latte untuk menemaninya sebari menunggu kedatangan Junghae. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit pesanannya sudah datang. Dia segera meminumnya. Malam itu cuaca cukup dingin, dia bahkan memakai syal untuk menguranginya.

Junghae kembali melirik jam tangannya, ‘Aku terlambat’, fikirnya. Dia bahkan duduk tak tenang dalam taksi. Dia menyuruh supir taksi tersebut untuk menambah kecepatannya. “Ahjussi bisakah anda lebih cepat”, pintanya.

Setelah menganggukan kepala, sang supir menambah kecepatannya. Junghae bernafas lega. Dia merasa sedikit bersalah. Seharusnya dia bisa lebih cepat. Tapi apa yang bisa ia lakukan, setelah meninggalkan pekerjaannya selama dua minggu. Dia benar-benar harus lembur. Dia bahkan belum sempat pulang ke rumahnya hanya untuk berganti pakaian. Dan yang sekarang ia kenakan adalah pakaian kantornya sejak pagi.

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, taksi itu berhenti. Dia segera turun, membayar tagihan dan menunduk hormat sebelum taksi itu kembali melaju. Dia berjalan tergesa memasuki restoran tersebut. Mengedarkan pandangn mencari sosok yang ingin ditemuinya. Dia melihat namja itu duduk di kursi dekat jendela. Namja itu tengah menikmati secangkir minuman yang tak ia ketahui namanya. Junghae segera melangkahkan kakinya menemui namja tersebut.

Namja itu menoleh sebelum Junghae sampai ditempatnya. Dia tersenyum melihat kehadiran Junghae.

“Maaf aku terlambat oppa. Apa kau sudah lama?”, tanya Junghae. Dia menarik kursi dan segera mendudukinya.

Gwenchana. Aku juga belum lama, baru sekitar lima belas menit”, jawab namja itu yang tak lain adalah suaminya.

“Itu sudah cukup lama, oppa. Aku benar-benar minta maaf. Hari ini aku benar-benar sangat sibuk. Aku bahkan tak sepat pulang ke rumah untuk ganti baju. Sebenarnya apa yang ingin oppa bicarakan?”. Junghae bahkan bertanya langsung ke inti.

“Kau tak ingin makan dulu?”, Chanyeol mengalihkan pembicaraan. Benar saja Junghae telihat begitu lelah. Dia yakin jika istrinya itu bahkan belum sempat makan.

“Emh, aku memang sudah lapar”.

Chanyeol melambaikan tangan pada waitress untuk segera memesan makanan. Dia menawarkan beberapa pilihan menu pada Junghae. Junghae hanya menggangguk setuju. Setelah mencatat semua pesanan, waitress itu berlalu meninggalkan mereka berdua.

Junghae memandang ke arah jendela dimana salju mulai turun. Padahal sebelum dia masuk ke restoran tersebut, belum ada salju yang turun. Chanyeol memperhatikan Junghae sejenak, dia kembali mengambil kotak dalam sakunya. Dia menyodorkanya pada Junghae. Junghae yang tersadar menatap lekat Chanyeol.

“Untukmu”, sangat singkat namun mudah dipahami.

Junghae mengambil kotak tersebut. “Apa ini?”, tanyanya yang penasaran dengan isinya.

“Bukalah!”.

Junghae segera membukanya. Dia begitu terkejut melihat isinya. “It’s beautiful”, hanya itu yang dapat ia katakan. Bukan karena apa-apa hanya dia merasa seperti mimpi. Apa dia sedang dilamar. Ah tidak, mereka bahkan sudah menikah. Lalu!

“Kau menyukainya?”, Chanyeol kembali bertanya.

Junghae hanya menggangguk, pandangannya bahkan tak lepas dari cicin itu. Chanyeol merebut kotak itu kembali. Mengambil cicin tersebut, menarik tangan kiri Junghae dan memakaikannya di jari manis Junghae. Cincin itu sangat pas di jarinya, dan juga terlihat begitu indah ditangannya. “Anggap saja ini sebagai cincin pernikahan kita. Ini memang sudah terlambat, tapi aku harus tetap memberikannya”, kata Chanyeol setelah memasangnya. “Aku juga punya satu”, Chanyeol menunjukkan tangannya.

“Hah, oppa”, Junghae tak dapat berkata apa-apa lagi. Dia terlalu bahagia. Jika sebelumnya dia merasa menjadi istri seorang Park Chanyeol adalah mimpi, tapi sekarang dia ini benar-benar nyata. Pria itu benar-benar mengikatnya. Dia bahkan tak bisa melepaskan pandangannya dari cincin itu.

Gomawoyo oppa”, Junghae kini memandang lekat Chanyeol. Dia teramat merindukan namja itu. Dia meniliti setiap inci wajah suaminya. Masih tak berubah sejak terakhir kali dia bertemu. Namun sekarang terlihat lebih segar. Tentu saja, dia meninggalkannya dalam keadaan sakit dulu.

Waeyo?”, tanya Chanyeol yang tahu jika istrinya tengah memperhatikannya.

Junghae tersenyum manis. Senyum manis itulah yang dirindukan Chanyeol. “Aniyo. Aku hanya merasa ini seperti mimpi”, jelas Junghae kemudian.

“Aku juga. Aku bahkan tak menyangka jika aku telah beristri sekarang”.

Mereka terdiam setelahnya, hanya saling menatap menyalurkan rasa rindu yang mulai timbul diantara mereka. Meski belum lama saling kenal, namun mereka telah terikat dalam hubungan yang mengharuskan mereka saling memahami satu sama lain. Hubungan yang mengharuskan mereka saling melindungi dan melengkapi. Saling berbagi kasih dan sedih.

Mereka bahkan tak sadar jika sejak tadi ada sepasang mata yang mengawasinya. ‘Jadi mereka menikah diam-diam’. Ya, orang itu sebenarnya tak berniat mengawasi mereka. Dia tak sengaja melihat Junghae berjalan tergesa di depan restoran. Dia bermaksud menemui Junghae untuk suatu hal. Tapi niatnya terhenti saat dia tahu siapa yang Junghae temui. Ada sedikit rasa kecewa melihatnya.

To be continue~……

 

 

Hai, saya kembali lagi. Ada yang bisa nebak siapa orang itu?

Maaf ya, hanya sedikit. Lagi sibuk banget.

Tetap tinggalkan jejak kalian.

Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah setia menunggu. Semoga tetep suka dan tambah lebih suka dengan ff ini.

 

Mungkin sudah sedikit terlambat, tapi akan tetap saya ucapkan. Selamat Natal bagi yang merayakan. Dan Selamat Tahun Baru. Semoga apa yang gak bisa kalian capai di tahun kemarin dapat tercapai di tahun ini. Amin.

 

Salam hangat: Dwi Lestari.

Iklan

74 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife – Chapter 10

  1. Eh siapa itu yg ngwasin mereka? duh bnr tuh kata sekretrsnya segera dipertegas deh. Ntr diambil orng lain lagi. Aduh ceritnya smkn seru

  2. Ya ampun qu kok bru baca sekarang ya,emailnya bru msuk kmrin sih😁Jangan” itu sehun tp sehun kn di luar negeri… sok tau ane, lanjut thor

    • ya, bang Sehun memang masih diluar negeri…
      dilihat saja di chapter selanjutnya…
      thanks ya… 🙂 🙂 🙂

  3. Hi thor,, aku reader baru ini.. baru baca juga ini ff.. maaf ya aku langsung baca di chapter 10 soalnya pas lagi searching ff ini nongol makanya aku langsung baca.. jadi ceritanya itu chanyeol sama junghae nikah sembunyi sembunyi gitu? cepat lanjut ya udah gak saabar ini^^

    • jika baca dari awal pasi tahu…
      mereka memang nikah sembunyi-sembunyi……
      kalau mau tahu alasannya, baca di chapter-chapter sebelumnya…

      thanks ya… 🙂 🙂 🙂

  4. astagaa kaak dwi udah apdet scret wife nya^^ wkwk huuhuh maapkeun aku kak bacanya terlambat ya karena aku juga lagi sibuk dengan sekolah, dan ini aku sempet baca karena lagi gak sekolah alias ngelibur karena sakit, sakit karena ditinggalin song Mino wkwkwk:v *lol* *curhad*
    aah~ melting liat junghae sama ceye>< sukaa bangeddd..

    ku tunggu next partnya kaak^_~ lupyuuu:*

  5. astagaa kaak dwi udah apdet scret wife nya^^ wkwk huuhuh maapkeun aku kak bacanya terlambat ya karena aku juga lagi sibuk dengan sekolah, dan ini aku sempet baca karena lagi gak sekolah alias ngelibur karena sakit, sakit karena ditinggalin song Mino wkwkwk:v *lol* *curhad*

    aah~ melting liat junghae sama ceye>< sukaa bangeddd..

    ku tunggu next partnya kaak^_~ lupyuuu:*

    • iya.. gak papa….
      cepet sembuh ya…..

      eh, BTW, kalau aku dipanggil dwi gimana gitu.. soalnya biasanya aku dipanggil tari…

      Thanks ya…. 🙂 🙂 🙂

  6. baca part ini kok jadi senyum” g’ jls yaa..chanyeol dan junghae cocok bangt..
    part akhir kira” siapa yaa.. apa SEHUN??? atau kakaknya junghae… jdi makin penasaran..
    smoga stelah ini pernikahan itu terbongkar 😀

    • ya, mereka memang romantis…
      Ditunggu saja, aku belum bisa bilang apa itu Sehun atau bukan, atau kakaknya Junghae?
      biar penasaran…

      Semoga saja….!!!! 🙂 🙂 🙂

  7. Yeee akhirnya author up ini juga
    Seneng deh liat junghae sm chanyeol kalo udah bedua romantis banget
    Ehm.. Siapa org yg ngeliat mereka ya? Sehun kh? Ato kakaknya junghae?
    Pokoknya tetap lanjut ya min FIGHTING nulisnya😁😁

    • terima kasih sudah ditungguin…
      Iya, mbak Junghae ma Bang CY mang romantis….

      Ditunggu saja nanti juga tahu…….
      Akan aku usahakan, sampai tuntas… 🙂 🙂 🙂

  8. Haloo thor! Maaf ya baru comment, aku reader baru, salam kenal yah! Makin penasaran sm kelanjutan ceritanya nihh heheheh. Ditunggu ya thor part selanjutnya, keep writing&fighting!😊

  9. waahhh… akhirnya di post juga chapter 10nya. greget deh lihat chanyeol-junghae. so sweet…. suka bgt klo chan-hae lgi berduaan.
    ketahuan nih…

    ku tebak itu sehun deh kayaknya….

    mian ya untuk author, chapter 9 kemarin aq g smpt komen. yahhh…. walaupun g smpt, selalu kutunggu bgt ff ini. aq slalu penasaran ma ceritanya.

    Keep writing!
    Fighting!!!
    untuk kesibukannya author yg di dunia nyata juga, ku do’a.in semoga berjalan lancar. ^_^

    • mereka mang So sweet…
      dan kenapa harus ketahuan? tak selamanya berbohong itu indah, hahaha…..

      aku belum bisa bilang itu sehun atau bukan……

      iya, gak papa kok… pasti juga banyak kesibukan….

      Amin, tapi kayaknya aku akan lebih sibuk,
      sebentar lagi KKN, belum lagi mikirin skripsi yang sudah mulai ditagih, hahaha…….
      Thanks ya… 🙂 🙂 🙂

  10. Jangan jangan yang lihat itu sehun
    Iya kan ya kan sehun kan
    Kok belum bilang bilang sih kalo mereka sebenernya udah nikah
    Gak papa sih makin so sweet aja mereka suka deh
    Lanjut ya ka jangan lama lama hehehe
    Semangatt

  11. Jangan bilang yang lihat itu sehun???
    Iya kan ka
    Kok Belum Ngaku ngaku sih kan hir semua tau dan gak salah paham
    Tapi Gak Papa Sih makin so sweet aja mereka
    Lanjut Ya kak jangan lama lama
    Fighting

    • aku belum bisa bilang apa itu sehun atau bukan…
      ditunggu saja…

      sedang diusahakan tidak lama…
      Thanks ya… 🙂 🙂 🙂

  12. Akhirnya dilanjutan juga. Uda nunggu lama nih ff. Sehunkah yg memperhatikan chanyeol-junghae? ? Nice thor, lanjutanya jgn lama” ya 😄

    • terima kasih sudah setia nunggu…
      Aku belum bisa bilang siapa dia, tunggu saja di chapter-chapter selanjunya….

      iya, sedang diusahakan tidak lama…. 🙂 🙂 🙂

  13. Bener kata sekertaria kim, chanyeol harus tegaskan hubungan dia. So sweet banget deh mereka 😍😍😍 buat kaka penulis, aku juga sibuk ka. Tapi aku sempatkan baca ff kaka. Aku engga mau ketinggalan . semangat buat kita semua kaaa 💪💪💪💪💪
    Makasih

    • Ah, jadi terhura….
      Thanks bingit, sudah disempetin baca…..
      jadi tambah semangat…
      akan kuusahankan pokoknya, supaya bisa cepat update…….
      🙂 🙂 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s