[EXOFFI FREELANCE] Some Body (Chapter 10)

somebody-4

Some Body

Title: Some Body (chapter 10)

Author: Jung21Eun

Main Cast: Oh Hayoung (Apink), Oh Sehun (EXO), J-hope/Jung Hoseok (BTS).

Cast:

  • Hong Yookyung, Son Naeun, Kim Namjoo (Apink)
  • Xi Luhan, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jongin/Kai (EXO)
  • Park Jimin, Kim Taehyung/V, Jeon Jungkook (BTS)
  • Kim Nara, Lee Miju (Oc)
  • Park Jiyeon (T-ara)
  • Choi Kyungjae (Oc)

Genre: School life, Friendship, Brothership, Romance(?), Sad.

Rating: PG-13

Length:  Chaptered

Disclaimer: Semua pemain bukan milik saya, tapi cerita ini milik saya.

Warning! Typo bertebaran!

Selamat membaca… J

Don’t be sad no no no

You’re not alone no no no

You always became a light for me

Hold my hand,

come and lean on me

I’ll always

be your strength

 

Recommended Song: No No No – Apink, Golden Sky – Jessica Jung.

*~*~*~*~*~*~*

Seoul, 2015

“Kau kenal dengannya?” Tanya Kai heran yang berada disamping Sehun. Kai memang bertanya kepada Sehun, namun matanya hanya menatap lurus Naeun yang berada dibangku ketua kelas untuk sementara waktu.

“Molla. Aku tidak ingat.”

Jawaban yang mengecewakan. Kai memberenggut kesal karena jawaban yang diberikan Sehun bukanlah jawaban yang diharapkannya. Ia hanya berharap Sehun tidak begitu tertarik kepada Naeun, sebagai pengganti Nara.

Sementara ditempatnya, Naeun sedang dikerubungi oleh beberapa siswi yang masih penasaran tentangnya. “Annyeong, aku Hong Yookyung.” Seorang yeoja yang berada disamping Naeun mengulurkan tangan kanannya kea rah Naeun untuk memperkenalkan dirinya kepada teman barunya.

“Annyeong, Yookyung-ssi. Aku Son Naeun, mari kita berteman.” Naeun mengulurkan tangannya kea rah yeoja berpipi chubby itu – Yookyung dan membalas jabatan tangan Yookyung sebagai perkenalan, tak lupa senyuman manis yang selalu terpatri diwajah Naeun sejak awal sebagai kesan pertama yang baik kepada teman-temannya.

“Ne.”

“Annyeong anak baru.” Sapa seorang yeoja bername tag ‘Kang Hye won’ bersama teman-temannya ke bangku Naeun. Dan Naeun pun tetap membalasnya dengan membungkukkan kepalanya disertai senyuman manisnya, demi kesan pertama yang baik. Walaupun didalam hatinya, Naeun sedikit kesal dengan orang-orang itu.

“Aku juga punya nama. Son-Na-Eun. Nama yang cantik yang diberikan oleh ibuku. Geram Naeun didalam hatinya.

“Kukira yang datang tadi itu Haeryung, rupanya bukan.”

“Iya, aku juga sempat berpikir, ‘Heol… kenapa Haeryung ke sini? Padahal kelas dia kan disebelah.’”

“Pantas saja rasanya ada yang berbeda.”

“Tapi, Kalian benar-benar mirip.”

“Geure?” Tanya Naeun sedikit canggung dengan teman-teman barunya yang terus bercerita tentang dirinya dan ‘sepupu’ nya.

“Kenapa kalian bisa mirip? Padahal kalian kan hanya sepupu.”

“Entahlah. Aku juga gak tahu.” Jawab Naeun yang lagi-lagi canggung akan pembicaraan itu.

“Yak! Walaupun mereka sepupu mungkin saja mereka bisa mirip karena terlalu dekat, kan?”

“Ne, mungkin karena itu.” Jawab Naeun canggung LAGI. Yookyung yang melihat itu agak keheranan, namun Yookyung hanya menganggap itu adalah sesuatu yang wajar apabila bertemu dengan orang baru.

Entah kenapa sedari tadi, Naeun hanya tersenyum canggung dan meng-iya-iya-kan semua cerita teman-teman sekelasnya yang tidak menyadari kenapa Naeun seperti itu. Jujur saja, Naeun merasa tidak nyaman dengan semua itu. Ia tidak menyukai gossip-gosip ini, tidak pernah. Ia jarang bergosip seperti ini sebelumnya. Naeun ingin sekali menghentikan semua itu, tapi ia takut akan menghancurkan image ‘yeoja yang menyenangkan dan baik’ didepan teman-temannya, menjadi ‘yeoja penghancur kesenangan orang lain’.

Sementara ditempat lain, Kai yang memperhatikan semua itu menjadi geram sendiri tanpa menghiraukan J-hope yang sedari tadi terus mengoceh tentang apapun itu yang membuat beberapa orang disekitarnya tertawa,bahkan Sehun sampai hampir sakit perut karena itu.

“Tuh kan… Lihat saja aku dan sepupuku, kami cukup mirip kan?”

“Iya. Aku baru ingat.”

“Keunde, kenapa Haeryung tidak pernah bilang bahwa dia punya sepupu yang mirip dengannya?”

“Yak! Geumanhe… bisakah kalian memberikan kenyamanan untuk Naeun?” Tanya Yookyung yang mulai menyadari ketidaknyamanan Naeun akan semua itu disampingnya.

“Aku hanya bertanya.”

“Aku tahu. Lagipula, apakah Haeryung begitu dekat denganmu sampai-sampai dia mengungkit sepupu yang mirip dengannya?” sindir Yookyung pedas karena cukup geram dengan teman-temannya yang hanya mementingkan kesenangan diri sendiri.

“Haishh! Jinja! Dasar nona menyebalkan!”

Tuh kan! Aku sudah mengatakannya tadi! mereka hanya mementingkan perasaan mereka sendiri dibanding perasaan orang lain. Atau mungkin mereka juga menganggap perasaan orang lain itu tidak terlalu berguna untuk diketahui.

Kriiet…

Tepat beberapa saat setelahnya, pintu kelas yang tadinya tertutup, kini telah dibuka oleh seorang pria paruh baya yang merupakan wali kelas mereka tadi – Lee saem bersama seorang namja bername tag ‘Kim Nam Joon’ yang notabenenya adalah ketua kelas mereka yang telah kembali dari misi mencari bangku untuk Naeun sang murid baru. Sementara murid-murid yang lain telah berlari dan memposisikan diri mereka dibangku masing-masing dengan nyaman, seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi sebelumnya.

“Hah… ini mau letak dimana ya?” gumam Lee saem gusar begitu mengetahui bahwa ruangan kelasnya hampir penuh. Kalau dipikir-pikir lagi kasihan juga ya Lee saem, sudahlah tadi capek-capek bareng ketua kelas nyariin bangku untuk Naeun, tapi sekarang malah bingung mau letak dimana.

“Bagaimana kalau disana saja, saem?” usul Naeun setelah menyandang tasnya dan beranjak dari bangku sementara-nya. Lee saem dan beberapa murid lainnya temasuk Sehun melirik kea rah yang ditunjuk oleh Naeun, yaitu sebuah tempat didepan barisan pertama paling ujung.

“Baiklah.”

Lee saem pun meletakkan bangku untuk Naeun ditempat yang telah Naeun usulkan tadi. “Kembalilah ke bangkumu, Namjoon. Terima kasih atas bantuannya.” Ujar Lee saem yang mengalihkan perhatiannya ke Namjoon serta menepuk bahu Namjoon dengan akrab.

“Ne.”

Namjoon melangkahkan tungkai panjangnya ke bangkunya, bergantian tempat dengan Naeun yang tadi duduk dibangkunya untuk sementara waktu. Begitu juga dengan Naeun yang sudah beranjak dari bangku itu ke bangku baru-nya sebelum berpamitan dengan Yookyung, “Annyeong.”

“Annyeong.” Balas Yookyung tak lupa senyuman tipisnya beserta lambaian tangannya.

“Maaf, saem. Saya pasti merepotkan anda.” Sesal Naeun setibanya disana, merasa kasihan dengan Lee saem yang sudah berkeringat dipagi hari karena dirinya.

“Aniya. Ini sudah tugas saya sebagai wali kelas. Semoga kamu nyaman berada dikelas ini.” Ujar Lee saem bijak meyakinkan Naeun yang masih baru dikelasnya.

“Ne.”

Naeun menduduki bangkunya dengan nyaman tanpa menyadari Kai dan Sehun yang sedari tadi menatapnya. Kai? Dia hanya mengagumi kecantikan yeoja itu yang menurutnya bagaikan bidadari yang jatuh dari langit. Sementara Sehun dia masih bingung siapa yeoja itu sebenarnya, entah kenapa dia merasa dirinya pernah bertemu dengan orang itu dan bercakap-cakap sebentar.

“Baiklah, anak-anak! Saya minta maaf atas tertundanya pelajaran kita tadi.”

“Aniyo saem. Anda tidak perlu meminta maaf. Kami sangat bersyukur anda menunda pelajaran itu. Bisakah anda melakukannya lagi?”

“Jadi karena masalahnya sudah selesai, mari kita lanjutkan pelajaran hari ini. Buka buku kalian halaman 101!” titah Lee saem memulai pelajaran matematika dikelas Sehun pagi ini. Pupus harapan, mereka harus kembali belajar matematika. Lagipula mereka akan diberikan waktu bebas/istirahat setelah bel sekolah berbunyi.

Sebagian dari mereka ada yang menggerutu termasuk J-hope dan Sehun. Namun pada akhirnya mereka menjawab, “Ne.” daripada mendapat amukan dari pria paruh baya itu dan menghancurkan citra mereka didepan murid baru.

“Kim Namjoon, jangan lupa nanti tolong atur kembali tata letak kelas ini, oke?”

“Ne saem.”

***

“Menurutmu, kemarin itu bagaimana?” Tanya Namjoo  dalam perjalanannya dengan Hayoung menuju ke kantin sama seperti beberapa murid lainnya dikarenakan bel sekolah yang menandakan istitrahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.

“Kemarin? Yah… lumayan menyenangkan. Aku menyukainya.” Jawab Hayoung sekedarnya karena memang hanya itulah rangkaian kata yang berada dikepalanya saat ini.

“Jinja?”

“Iya.”

“Assa! Rencana kami berhasil!” seru Namjoo girang melupakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakana didepa Hayoung.

“Rencana? Rencana apa? Seolma… Kalian sudah merencanakan itu semua?!”

“Ani… bu-kan semua-nya.” Sanggah Namjo agak terbata karena mulut embernya.  “Kami hanya merencanakan tentang pesta itu. Kami benar-benar tidak terlibat dalam pembully-annya.”

“Aku tahu. Kalian tidak mungkin setega itu membully-ku yang baru saja keluar dari rumah sakit, kan.” Hayoung mengerti. Tidak mungkin mereka tega menyuruh Jiyeon untuk membully dirinya. Apalagi insiden waktu itu 100% kebetulan dan kesalahannya sendiri yang tidak mendengarkan Sehun untuk tetap berada dirumah atau menjaga rumah.

“Tentu saja. Lagipula, kau tahu? Sebuah kebahagiaan biasanya akan tercipta dari orang-orang disekitar kita setelah kesedihan terjadi.”

“Mwoya? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”

“Itu hanyalah versi perasaannya. Kalau versi materialnya, tidak akan ada hasil tanpa usaha.”

“Memangnya apa hubungannya? Bukankah keduanya adalah hal yang berbeda?”

“Aniyo. Itu sama, seperti bersusah susah dahulu, bersenang senang kemudian.”

“Susah itu berbeda dengan sedih. Itu adalah hal yang berbeda.”

“Haishh… tidak bisakah kau menghagai filosofiku?” Tanya Namjoo memelas karena sedari tadi tidak ada satupun pendapatnya yang disetujui oleh Hayoung. Sabar Kim Namjoo… sahabatmu yang satu ini memang seperti itu.

“Arasseo.” Akhirnya Hayoung lebih mengalah daripada terus memperdebatkan ‘filosofi absurd’ milik Namjoo. “Memangnya siapa yang punya ide seperti itu?” Tanya Hayoung yang penasaran, kembali ke masalah kejutan dihari Minggu. Dan satu nama yang berada didalam kepalanya saat ini.

J-hope oppa.

“Sehun oppa.”

Hayoung membeku, begitu telinganya menangkap nama seseorang yang mungkin masih dibencinya saat ini. Nama yang berbeda dengan nama yang ada dipikirkannya tadi. Hayoung terkejut. Hayoung hanya berpikiran, Sehun tidak akan mau melakukan hal yang seperti itu karena Sehun adalah orang yang menyeramkan dan dingin. “Sehun? Hey… maldo andwae…”

“Haishh, anak ini.  yang merencanakan itu semua benar-benar oppamu.” Kesal Namjoo yang berusaha meyakinkan Hayoung. sementara Hayoung hanya melanjutkan langkah kakinya sedikit lebih cepat dengan padangan yang kosong, meninggalkan Namjoo yang berdecak tidak percaya dibelakangnya.

“Yak! tunggu aku!”

Dengan kesal, Namjoo mempercepat langkahnya mengejar Hayoung yang terpaut sekitar 1 meter darinya. “Kau ini benar-benar menyebalkan.”

“Mian. Aku hanya…”

“Annyeong. Kau Oh Hayoung kan?” Sapa seorang yeoja bersurai hitam panjang yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka, membuat Hayoung dan Namjoo mengerutkan kening mereka bingung dengan peetanyaan yeoja itu.

“Ne. keunde, nuguseyo?” Tanya Hayoung mencoba untuk sopan seperti yang diajarkan oleh J-hope.

“Aku Son Naeun. Dan ini Hong Yookyung.” Ujar yeoja itu – Naeun memperkenalkan dirinya dan temannya – Yookyung yang berada disampingnya.

“Annyeong haseyo.”

“Annyeong. Aku Kim Namjoo. Senang bertemu dengan kalian.” Sapa Namjoo sopan sambil membungkukkan kepalanya. Sementara Hayoung yang berada disampingnya masih bingung dengan ‘siapa itu Naeun-?’. Namjoo yang menyadari bahwa Hayoung tidak berkutik pun menyikut siku Hayoung, memberikan kode kepada yeoja itu agar melakukan hal yang sama dengannya. Setelah menangkap kode itu, Hayoung pun membungkukkan kepalanya dengan sopan.

“Senang bertemu dengan kalian juga.” Balas Naeun dan Yookyung tak lupa membungkukkan kepala mereka.

“Apakah anda mengenal saya?” Tanya Hayoung dengan rasa penasaran yang sudah tidak terbendung lagi. Ia benar-benar ingin menanyakan hal itu sedari tadi.

Pertanyaan tidak bermutu. Tidak seharusnya Hayoung menanyakan hal tersebut, karena pasti jawabannya adalah, “Tentu saja saya mengenal anda.”

“Apakah kalian pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Namjoo lebih sopan.

“Ne.”

“Pernahkah?” Tanya Hayoung heran meminta pengulangan. Yeoja ini hanya terlalu terkejut karena ia masih tidak dapat mengingat siapa yeoja yang berada dihadapannya ini.

“Tentu saja. Kalau tidak, bagaimana aku bisa mengenalmu?”

“Dimana kita pernah bertemu?”

“Kau tidak ingat?” Tanya Naeun balik tidak percaya, ia berharap Hayoung mengingatnya, itu akan lebih baik daripada Sehun – oppanya Hayoung yang pelupa. Namun sayangnya, Hayoung menggelenggkan kepalanya. Kakak beradik sama saja. Gerutu Naeun didalam hatinya. “Minggu kemarin, di gang sempit. Aku melihatmu sedang dibully oleh beberapa yeoja. Jadi aku membawamu kerumah sakit.”

Seakan baru saja mengingat sesuatu, Hayoung membungkukkan kepalanya berkali-kali kepada Naeun seraya meminta maaf atas ucapannya yang tidak sopan. “Maaf, aku baru ingat. Waktu itu, saya langsung pingsan. Jadi saya tidak ingat. Maafkan saya yang tidak sopan karena tidak mengingat jasa anda.”

“Gwenchana, saya bisa memahaminya. Dan jangan memakai bahasa yang terlalu formal. Kita sesama haksaeng.”

“Ne.”

“Daripada kita hanya berdiri saja disini, bukankah akan lebih baik jika kita sekalian berjalan ke kantin?” usul Yookyung yang baru saja membuka suara. Karena yang sedari tadi yang ia lakukan hanyalah menonton pembicaraan Naeun dan Hayoung yang ia sama sekali tidak mengerti.

“Kajja. Aku sudah lapar.” Ajak Namjoo yang mengelus-elus perut datarnya. Mereka berempat pun berjalan beriringan dikoridor yang tidak terlalu sepi.

“Sepertinya kalian adalah sunbae kami. kalau boleh tahu, kalian kelas berapa?” Tanya Namjoo yang sempat melihat name tag Naeun dan Yookyung yang berbeda dari mereka.

“Kami kelas 2-3.”

“Berarti kalian adalah sunbae kami.”

“Bukankah itu kelas J-hope oppa?” bisik Hayoung girang kepada Namjoo. Namjoo menganggukkan kepalanya pelan, membenarkan pertanyaan Hayoung serta menjawab, “Itu juga kelas oppamu.” Membuat mood Hayoung sedikit turun. Entah kenapa, Hayoung masih tidak suka nama namja yang notabenenya adalah oppanya sendiri itu disebutkan.

“J-hope? Nuguya?” Tanya Naeun yang menangkap bisikan Hayoung, karena faktor Naeun yang berjalan disamping Hayoung.

“Jung Hoseok. Aku rasa kalian cukup mengenalnya karena dia adalah orang yang peribut.”

“Dia memang cukup terkenal dikelas kami sebagai pencair suasana. Dia orang yang periang.” Sahut Yookyung sekedarnya. Karena memang itulah faktanya, J-hope tetap tidak bisa diam dikelas.

“Aku juga bertemu dengan oppamu disana.” Tambah Naeun.

“Oenni mengenal oppanya Hayoung?” Tanya Namjoo antusias, berbanding terbalik dengan Hayoung yang menatap aneh yeoja itu. Hayoung merasa aneh dengan sebutan yang diberikan oleh Namjoo kepada kedua yeoja yang baru saja mereka kenal, ‘Oenni? Anak ini kok juga SKSD banget sih?’

“Ne. namanya Oh Sehun bukan?”

“Darimana anda mengenalnya?” bukannya menjawab, Hayoung malah bertanya balik ke Naeun, meminta penjelasan lagi. Lagipula, Hayoung merasa pertanyaan yang tadi Naeun lontarkan bukanlah suatu pertanyaan yang harus dijawab karena Naeun sudah mengetahui apa jawabannya.

“Ketika Hayoung ada dirumah sakit. Oppamu datang dan memperkenalkan dirinya. Dia terlihat begitu khawatir kepadamu. Penampilan begitu berantakan, aku rasa waktu itu dia mengebut dan berlari keruanganmu.” Jelas Naeun panjang lebar.

Hayoung terdiam sejenak, mendengar informasi tentang oppanya yang begitu khawatir kepadanya dari Naeun – seseorang yang baru saja mereka temui. Tapi yeoja itu sudah tahu, bagaimana mungkin Hayoung yang sudah 16 tahun bersama namja itu tidak mengetahui bahwa Sehun juga khawatir kepada Hayoung. Dan Hayoung masih saja membenci Sehun. Dasar, yeoja itu memang tidak peka!

“Kalian kelas berapa?” Tanya Yookyung mencairkan suasana. Yookyung menyadari itu, Yookyung merasa Hayoung tengah memikirkan seseuatu yang tidak baik untuk mood, sesuatu yang akan menurunkan mood Hayoung.

“Kami kelas 1-2.”

“Rupanya kalian hobae kami.”

“Ne.”

“Bolehkah saya bertanya?” Tanya Namjoo sopan meminta kesempatan.

“Tentu saja.”

“Kalian darimana tadi? Sepertinya kalian dari arah yang berlawanan dengan arah kumpulan kelas 2.”

“Kami habis berkeliling sekolah.” Jawab Yookyung sopan.

“Kenapa berkeliling? Sekolah ini terlalu membosankan untuk dikelilingi.” Canda Hayoung garing yang langsung mendapat sikutan dari Namjoo, karena bersikap tidak sopan kepada kakak kelas. Lagipula, seharusnya kita mempromosikan sekolah kita, bukannya malah memperburuknya.

“Saya adalah murid baru disini.” Jelas Naeun canggung.

“Mianhee… aku tidak tahu.”

“Gwenchanayo.”

“Namjoo-ya!” panggil seseorang yang berada tidak jauh dari mereka. Memutus kecanggungan diantara mereka, karena mereka semualangsung mengalihkan pandangan kea rah sumber suara, begitu juga dengan Namjoo yang merasa namanya dipanggil.

“Oenni!” sahut Namjoo yang mendapati Nara dan Miju yang memanggilnya tadi, tengah berjalan ke arahnya.

“Kalian ma—” kalimat Nara sengaja ia gantung, begitu menyadari ada orang lain disamping Hayoung. “Bukankah kau ‘si anak baru’?” Tanya Nara yang mengarahkan pandangannya ke Naeun yang berada disamping Hayoung. Seperti menunjuk Naeun sebagai ‘si anak baru’ yang ia tanyakan tadi.

“Darimana oenni tahu?”

“Wajahnya berbeda. Kami sudah sering bertemu warga sekolah ini, jadi kami pasti tahu.”

“Seperti… siapa namamu?” Tanya Miju kepada yeoja yang berada disamping Naeun – Yookyung. Yookyung yang merasa ditunjuk awalnya merasa terkejut, namun akhirnya ia menyebutkan namanya, “Hong Yookyung.”

“Seperti Yookyung-ssi, kami sudah sering melihatnya, itu artinya ia adalah warga asli sekolah ini. Namun sayangnya kami tidak mengetahui namanya.” Jawab Miju blak-blakan. “Jangan tersinggung.” Bisik Miju kepada Yookyung yang hanya dibalas anggukan pelan serta senyuman tipis oleh Yookyung.

“Sementara…” Nara sengaja menggantungkan kalimatnya, sementara matanya memberikan kode kepada Naeun agar menyebutkan namanya. “Son Naeun.” Bisik Naeun, ikut dalam permainan Nara.

“Iya. Sementara Naeun-ssi, kami baru saja melihatnya sekarang. Jadi itu artinya dia adalah murid baru.” Lanjut Nara menyelesaikan ‘penjelasan absurd’ mereka – Nara dan Miju.

“Kalian sudah gila ya?” gumam Hayoung yang menonton hal itu. “Ayolah kita ke kantin! Aku sudah lapar.”

“Baiklah. Kajja!”

Mereka berenam pun kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda. Ketika waktu istirahat tinggal tidak lama lagi berbunyi.

“Lagipula Naeun sudah menjadi pembicaraan di angkatan kami.” Ujar Miju, melanjutkan gossip mereka yang tadi. pembicaraan tentang murid baru. Ditengah perjalanan mereka sebegai pencair suasana.

“Waeyo?”

“Katanya kau mirip dengan Na Haeryung. Rupanya kalian benar-benar mirip.” Jawab Nara yang sudah memerhatikan wajah Naeun sedari tadi.

“Kalian kenal dengannya?”

“Kami sekelas dengannya. Dan dia cukup terkenal di angkatan kami karena kecantikannya. Tapi aku rasa kau akan mengalahkan hal itu.”

“Dia adalah sepupunya Haeryung.” Jelas Yookyung singkat.

“Ooh… ternyata kalian sepupu-an.”

“Pantas saja mirip.”

“Naeun-ah, bukankah itu sepupumu?” Tanya Yookyung kepada Naeun sambil menunjuk kea rah yeoja – Haeryung yang notabenenya adalah sepupunya Naeun yang tengah berjalan kea rah yang berlawanan dengan mereka bersama beberapa yeoja lainnya.

“Ne? oh, iya.” Jawab Naeun yang baru menyadari hal itu. Ia terlalu sibuk dengan teman barunya.

“Kau tidak akan menyapanya?” Tanya Nara heran. Karena tampaknya Naeun tidak berniat untuk menyapa sepupunya sendiri.

“Sepertinya tidak.” Jawab Naeun malas, setelah Haeryung berjalan melewati mereka begitu saja bersama teman-temannya tanpa ada semangat untuk menyapa Naeun, begitu juga dengan Naeun. Yookyung, Nara dan Miju yang melihat hal itu mengerutkan kening mereka. Merasa bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

“Apakah yeoja-yeoja itu sedang bertengkar?”

Mereka sangat ingin menanyai hal itu kepada Naeun. Namun hal itu mereka urungkan, melihat Naeun yang tidak lagi menyungging senyuman cerah seperti yang sudah ia pertahankan sedari tadi. sepertinya mood Naeun menurun setelah kejadian tadi.

Sementara Hayoung dan Namjoo, mereka terus berjalan lurus ke kantin, meningglakan kakak-kakak mereka dibelakang. Mereka tidak peduli, itu adalah urusan Nara dan teman-temannya. Akan sangat membingungkan apabila mereka tiba-tiba masuk ke dalamnya.

“Apa yang mereka bicarakan?”

“Molla. Ah! Aku sudah lapar.” Keluh Hayoung sambil mengerucutkan bibirnya kesal dengan perjalanan mereka yang terasa lebih lama dari biasanya.

“Oenni! Palliwa! Sebentar lagi masuk!” seru Hayoung kesal memanggil kakak-kakaknya yang masih tertinggal tidak terlalu jauh dibelakangnya.

“Ne! Tunggu kami!”

TENG… TONG… TENG… TONG…

Bel sekolah yang menandakan bahwa waktu istirahat telah habis dan mereka harus melanjutkan kegiatan belajar mereka akhirnya berbunyi nyaring keseluruh koridor sekolah, diikuti oleh beberapa murid yang berpencar menuju kelas masing-masing.

Hayoung menggerutu kesal, ingin sekali ia menghancurkan benda berenergi listrik canggih yang menyalurkan dan mengeraskan suara itu, karena telah membuatnya tidak jadi memenuhi panggilan perut yang sudah konser sedari tadi. ingin sekali dirinya mengumpat ke kakak-kakak kelasnya yang sedari tadi ber-gossip ria, karena mereka turut andil dalam tidak jadinya Hayoung ke kantin. Namun Hayoung teringat J-hope, J-hope sudah mengajarkannya untuk bersikap baik dan ceria. Maka Hayoung lebih memilih untuk diam dan menelan semua kekesalan itu.

“Ternyata sudah bel.” Gumam Miju yang baru saja menangkap panggilan bel itu. Mereka menghentikan kegiatan gossip mereka.

Aku tahu

“Mian Hayoung-ah.” Sesal Nara mengelus lembut pundak Hayoung yang menurun.

“Sepertinya kita akan ke kantin setelah bel istitrahat kedua berbunyi.” Ujar Namjoo berniat memberikan semangat kepada Hayoung yang sudah tertunduk lemas.

Aku tahu

“Arasseo.”

“Ayo kita kembali ke kelas sebelum diamuk oleh guru masing-masing.” Usul Yookyung yang langsung disetujui oleh mereka semua.

“Iya.”

Mereka pun berpencar, melangkahkan tungkai mereka ke kelas masing-masing sebelum guru yang akan mengajar masuk ke kelas.

“Hayoung-ah.” Panggil Namjoo menyenggol-nyenggol siku Hayoung yang sepertinya sedang tidak mood.

“Apa?”

“Ini. Kau mau?” tawar Namjoo yang menyerahkan sebungkus permen berwarna merah jambu ke Hayoung, membuat yeoja itu mengukir senyuman manis.

“Komawo.” Sahut Hayoung setelah mengambil alih permen itu dari tangan Namjoo. Hayoung membuka bungkus merah jambu permen itu yang menampilkan benda padat yang memiliki warna yang hamper sama dengan bungkusnya, begitu juga dengan Namjoo. Setidaknya permen itu bisa mengganjal perut mereka yang masih kelaparan. Akan tidak lucu, apabila perut mereka berbunyi disaat pelajaran sedang berlangsung.

***

“Baiklah, sampai disitu saja pelajaran kita hari ini. Sekedar informasi, mungkin siang nanti kami akan mengadakan rapat. Jadi kalian bisa melakukan kegiatan klub kalian, tapi kalian belum diperbolehkan pulang. Arasseo?!” jelas Kang saem panjang lebar, membuat beberapa haksaeng berteriak senang didalam hati mereka daripada nanti kena amuk Kang saem yang selalu sedia rotan panjang ditangannya.

“Ne.”

Kang saem pun melangkah keluar kelas dengan barang-barang mengajar yang ditentengnya. Tepat setelah Kang saem keluar dari kelas, beberapa haksaeng berteriak bahagia. Walaupun mereka tidak boleh pulang, tapi setidaknya mereka tidak akan berhadapan dengan buku-buku tebal yang membosankan.

“Ayo, Namjoo-ah! Aku masih lapar.” Ajak Hayoung menarik Namjoo keluar dari kelas bersama beberapa haksaeng sekelasnya yang juga ingin keluar dari kelas yang sudah terasa pengap.

“Iya, iya.”

“Guru itu kok ribet sekali sih?” geram Hayoung membuka pembicaraan dalam perjalanan mereka menuju kantin dijam istirahat kedua ini.

“Hmm?” Namjoo hanya berdehem karena ia belum kemana arah Hayoung berbicara.

“Kalau rapat, ya rapat sajalah. Kenapa harus menahan kita disekolah, kalau pada akhirnya kita juga tidak belajar?” protes Hayoung yang tidak terima dengan informasi yang diberikan oleh Kang saem tadi.

“Geure, aku setuju.” Namjoo menganggukkan kepalanya pelan. “Tapi bukankah itu lebih baik daripada kita belajar?”

“Iya sih, tapi akan lebih baik lagi kalau kita dipulangkan kerumah masing-masing.”

“Namjoo-ya! Hayoung-ah!” panggil seseorang ketika Hayoung dan Namjoo sudah menginjakkan kaki mereka di kantin yang tidak terlalu penuh. Merasa dipanggil, sontak Hayoung dan Namjoo melirik kesumber suara, yaitu seorang yeoja yang tengah duduk dibangku kantin bersama tiga yeoja lainnya.

“Oenni!”

Hayoung dan Namjoo pun melangkahkan tungkai mereka ke bangku kantin dan bergabung dengan keempat yeoja yang sudah menunggu mereka sedari tadi. “Kau mau memesan apa, Namjoo-ya?” Tanya Nara ke Namjoo yang sudah duduk disampingnya.

“Ramyeon.” Jawab Namjoo antusias, namun malah mendapatkan death glare dari Nara – oenninya.

“Kau sudah memakannya kemarin! Kau tidak boleh memakan itu!”

“Ah! Sudahlah! Terserah oenni sajalah!”

“Kalau Hayoung?” Tanya Nara beralih ke Hayoung.

“Terserah oenni saja.”

“Arasseo.” Nara dan Miju pun beranjak dari bangku mereka. Meninggalkan Hayoung bercengkrama dengan Namjoo, Naeun dan Yookyung.

Namun… hening. Tidak ada satupun diantara mereka yang mau mengangkat suara. Mereka hanya diam dan tenggelam kedalam pikiran sendiri. Mungkin karena baru bertemu, mereka masih canggung satu sama lain. Sampai akhirnya  Nara dan Miju datang ke bangku mereka membawa beberapa mangkuk makanan.

“Cha! Makanannya sudah datang!” seru Nara memecah keheningan, dan membagikan mangkuk yang dibawanya kepada Namjoo, Hayoung dan Naeun. Sementara Miju membagikan tiga mangkuk yang dibawanya kepada Yookyung, Nara dan dirinya sendiri.

“Bibimbap! Joahyo!” sahut Namjoo yang lagi-lagi antusias.

“Selamat makan!”

Mereka pun melahap makanan makanan mereka dengan tenang. Hanya suara sumpit yang membentur mangkuk yang memenuhi suasana mereka, dan suasana kantin yang selalu rebut apabila telah istirahat.

“Menurutmu bagaimana sekolah ini?” Tanya Nara kepada Naeun memulai pembicaraan mereka. Lenyaplah hawa hening yang tadinya terjadi.

“Sekolah ini bagus. Saya pikir saya akan menyukai sekolah ini dan nyaman belajar disini.”

“Keuromyo. Pilihanmu untuk bersekolah disini adalah  pilihan yang tepat.” Tambah Miju yang selalu semangat.

“Dengar-dengar, nanti para guru akan rapat.” Ujar Namjo mencari bahan pembicaraan yang baru. Setelah dirasa pembicaraan tentang sekolah atau mempromosikan sekolah kepada murid baru cukup membosankan.

“Memangnya untuk apa?” Tanya Yookyung heran.

“Molla. Tapi nanti kita belum boleh pulang. Kita akan berkegiatan di klub masing-masing terlebih dahulu.” Jelas Namjoo yang ia dapatkan dari Kang saem beberapa menit yang lalu.

“Kau akan masuk ke klub apa?” Tanya Nara ke Naeun yang masih bingung.

“Klub?”

“Iya. Seperti Namjoo anggota klub vocal. Kalau Hayoung…”

“Aku tidak ikut apapun.” Sambung Hayoung datar, sambil terus melanjutkan acara makannya.

“Oh iya. Kalau aku dan Nara adalah anggota klub dance.” Lanjut Miju.

“Bukankah J-hope oppa juga disitu?” Tanya Hayoung antusias, padahal sebelumnya dia biasa-biasa aja tuh. Entah kenapa Hayoung selalu semangat kalau pembicaraan mengarah ke oppanya yang selalu ceria itu.

“Iya. Oppamu juga disitu.” Tambah Nara.

“Oppa?”

“Siapalagi kalau bukan Sehun. Kau ini seperti amnesia saja, tidak mengingatnya.” Ledek Namjoo yang langsung mendapatkan death glare dari Hayoung yang berada diseberangnya. Dan Hayoung masih tidak menyukai pembicaraan yang berhubungan dengan oppa kandungnya.

“Bahkan Nara masuk ke klub itu karena oppamu.” Tambah Miju jahil. Nara tersedak,, dan langsung mengambil minuman untuk menyegarkan tenggorokannya. Yeoja itu terlalu salah tingkah didepan Hayoung yang merupakan dongsaengnya Sehun. Nara memandang Miju sebal karena sudah blak-blakan didepan dongsaeng namja itu, sementara Miju hanya terkekeh jahil tanpa merasa bersalah.

“Aku tahu.”

“Kalau Yookyung-ssi?” Tanya Nara yang mengalihkan perhatiannya ke seorang yeoja disamping Naeun yang sedari tadi hanya diam.

“Ne?”

Yookyung mendongakkan kepalanya, dan menyapu pandangannya ke arah lima yeoja yang menatapnya bingung. Begitu juga dengan Yookyung yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Karena yang sedari tadi Yookyung lakukan hanyalah menunduk tanpa merespon apa-apa saja yang mereka katakan.

“Yookyung-ssi, kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat. Apakah mau ke uks?” Tanya Nara khawatir melihat wajah Yookyung yang terlihat tidak baik. Mendengar itu, Yookyung baru menyadari bahwa bahunya basah. Ia berkeringat dingin sedari tadi.

“Saya baik-baik saja kok.”

“Benarkah? Sepertinya kau demam.” Ujar Naeun yang masih curiga. Kalimat yang dikatakan Yookyung tadi tidaklah mempan untuknya. Naeun sudah sering melihat wajah ini. Seperti wajah yang ketakutan. tapi apa yang Yookyung takutkan disini? Tanya Naeun yang menatap heran Yookyung.

“Nan jinja gwenchana. Jangan khawatir.” Yookyung hanya mematri senyuman tipis diwajahnya, menyatakan bahwa dirinya benar-benar tidak apa-apa. Padahal sebenarnya tidak.

“Baiklah, tapi sehabis ini, kau harus ke uks. Istirahat disana, kalau terlalu dipaksakan belajar nanti malah jadi pingsan. Arasseo?” titah Naeun tegas, seperti seorang eomma yang overprotective kepada anak semata wayangnya.

“Ne.”

“Yookyung-ssi. Ani… maksudku Yookyung-ah, kau ikut klub apa?” Tanya Miju yang sempat meralat panggilan untuk Yookyung karena dia baru ingat bahwa Yookyung dan Naeun juga teman mereka, jadi apa salahnya.

“Aku tidak mengikuti klub apapun.”

“Berarti sama seperti Hayoung.”

“Hayoung?” Tanya Yookyung heran, dengan tatapan ‘yang mana itu Hayoung?’.

“Ne. Aku juga tidak ikut apapun.” Yookyung mengalihkan pandangannya ke Hayoung yang baru saja mengangkat suara, seperti menunjukkan bahwa ‘ini yang namanya Hayoung’. Namun lagi-lagi, Yookyung mengeluarkan beberapa tetes keringat dingin, dan Naeun menyadari hal itu. Karena kebetulan Naeun berada ditengah-tengah kedua yeoja itu. Beberapa detik setelahnya, Yookyung langsung menundukkan pandangannya dan melanjutkan kegiatan makannya. Hayoung yang melihat itu hanya memandang aneh Yookyung, “Ada apa dengan yeoja itu?”

“Naeun-ah, kau berencara untuk ikut klub apa?” Tanya Nara lembut.

“Hmm… apa disini ada klub melukis?” Tanya Naeun balik.

“Ada.”

“Kau suka melukis?”

“Ne.”

“Oh iya! Kalau tidak salah sepupumu juga ikut klub itu.” Ujar Miju setelah mengingat sesuatu. Memberikan informasi kecil yang membuat Naeun perlahan melunturkan senyumannya, namun kembali ia tarik karena ia tidak ingin teman-teman barunya khawatir.

“Benarkah?” Tanya Naeun mencoba tetap tersenyum manis atau memamerkan senyuman paksa diwajah putihnya.

“Kalian benar-benar sehati. Sama-sama suka melukis.” Puji Yookyung yang mencoba merasa lebih baik.

“Ne. kami memang akrab.” Ujar Naeun membenarkan hal itu. “Dulu.” Lirih Naeun didalam hatinya.

***

Hayoung pov

Bel istirahat siang berbunyi dan menggema keseluruh lorong sekolah. Menghentikan kegiatan Han saem yang tengah mengajar dikelas kami. Bunyi nyaring yang terkadang memekakkan telinga itu bagaikan music indah yang mengalun ditelingaku. Karena arti dari bel itu adalah kami diberikan waktu untuk tidak berurusan dengan berjuta, ani, mungkin bermilyaran rangkaian kata yang sebenarnya berguna untuk nilai ujian kami namun MEMBOSANKAN. Sangat membosankan.

Han saem akhirnya keluar kelas, diikuti sorakan bahagia murid-murid kelasku termasuk diriku sendiri dan Namjoo. Karena rapat itu benar-benar akan terjadi tepat setelah istirahat siang ini dan kami diberikan waktu untuk beraktifitas diklub masing-masing.

“Hayoung-ah, kau benar-benar tak apa sendirian?” Tanya Namjoo yang sudah selesai merapikan mejanya dari buku-buku tebal yang berserakan tadi, begitu juga denganku. Dapat kulihat raut kekhawatiran diwajahnya.

“Iya.” Jawabku sekedarnya. Aku tak tahu lagi harus menjawab apa. Karena aku sudah terbiasa sendirian.

“Kau yakin? Kau bisa saja ikut denganku ke klub vocal. Atau klub melukis bersama Naeun oenni. Atau ke klub dance saja. Disanakan ada Hoseok oppa, Sehun oppa dan yang lain.” Usul Namjoo yang langsung kubalas dengan gelengan kuat. Jujur aku tidak tega menolak kebaikan anak ini yang sebegitunya khawatir kepadaku.

Namun tak ada satupun klub yang ia sarankan cocok denganku. Klub vocal? Suaraku tidak sebagus Namjoo dan nafasku juga tidak panjang. Klub melukis? Menggambar saja masih sama seperti anak SD. Klub dance? Aku ingin, aku suka menari. Sejak awal aku masuk ke sekolah ini aku menghindari klub itu karena seseorang, Oh Sehun. Aku hanya merasa malas dan benci melihat dirinya yang sok cool. Sangat menyebalkan. Mengingat anak itu tidak pernah mau perduli kepadaku apapun yang terjadi.

“Ani. Aku baik-baik saja kok.”

“Tapi bagaimana kalau Jiyeon…”

Andwae! Jangan sebut nama itu juga!

“Jangan khawatir! Nan jinja gwenchana.” Potongku tegas. Berhasil membuat yeoja itu menutup mulut sementara waktu dan tidak berceloteh apapun lagi. Hhh… aku mengerti apa yang Namjoo maksud, tapi aku sangat tidak ingin mendengar nama itu. Mengingat pemilik nama itu selalu menyakitiku.

“Pergilah! Kau akan terlamabat.” Bukannya ingin mengusir, aku hanya tidak ingin Namjoo melewati klub vocalnya karena terus mengkhawatirkanku. Aku mengerti. Namjoo memiliki suara yang bagus dan ia sangat suka bernyanyi.

“Arasseo. Aku pergi dulu ya.” Pamit Namjoo setelah dirinya siap dengan sebuah buku tulis beserta alat tulisnya yang berada dalam pelukannya.

Aku pun menarik senyum simpulku. “Ne. Hati-hati!”

Kini sudah sekitar 10 menit berlalu sejak Namjoo pergi ke klub vocalnya, meninggalkanku sendirian dikelas. Tidak ada siapapun dikelas, hanya ada aku disini ditemani music yang mengalun ditelingaku lewat earphone hitam yang kugunakan. Aku mulai bosan. Menghindari Jiyeon yang mungkin saja akan membully-ku apabila aku keluyuran seperti kemarin. Benar-benar kebetulan yang menyebalkan.

Kebosanan semakin mengerubungiku. Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela kelas. Ada sekelompok anak basket, anak football dan yang lainnya disana. Klub non alademik, sebagian besar mengarah ke bidang olahraga. Hanya untuk anak yang menyukai kebebasan atau menginginkan kepopuleran. Yang ingin menjadi anak kesayangan Goo saem, salah satu guru olahraga kami yang paling berkuasa.

Misalnya Jiyeon, disalah satunya. Makanya dia selalu sok berkuasa untuk membully-ku hampir setiap hari. Aku baru tahu kenapa Jiyeon tidak membully-ku dijam kosong ini. Ani, sebenarnya hanya jamku yang kosong, tidak dengannya. Karena dapat kulihat dari sini, Jiyeon sedang berada di klub tenisnya dengan baju olahraga yang membentuk tubuhnya, rambut panjangnya sengaja ia ikat menampilkan leher jenjangnya, ditambah dengan keringat yang jatuh dari tubuhnya, membuatnya terlihat sexy. Pantas aja anak itu juga jarang tidak punya pacar.

Tapi sepertinya aku sedang beruntung hari ini.

“Min Yonggi! Min Yonggi!”

Walaupun samar-samar, tapi tetap saja aku merasa mereka sangat berisik. Tidakkah mereka memiliki pekerjaan lain selain menyoraki kapten basket yang populer itu? Jangan lupakan Luhan yang merupakan kapten football sekolah kami yang juga populer. Kedua-duanya juga sama seperti Jiyeon, anak kesayangan Goo saem. Ya, Goo saem hanya menggaet anak-anak yang populer, apapun itu pasti diberi dukungan olehnya. Pokoknya kehidupanmu disekolah ini tidak akan seperti berada dipenjara, bila kau anak yang populer.

Tapi kurasa itu semua hanyalah omong kosong belaka. Karena kita ke sekolah untuk belajar dan mendapatkan sertifikat dan ijazah lalu mencari pekerjaan yang layak. Bukannya untuk mencari kepopuleran. Mereka terlalu berlebihan.

Ah! Apa yang sedang kubicarakan?! Kenapa aku malah membahas sesuatu yang tidak berguna?

Eoduul ttaemyeon bichi doeeoseo (Ketika gelap aku bercahaya)
Nal jikyeojwo Like Fireflies
(Dan melindungiku seperti kunang-kunang)
Nunmullo nun api heurige doel ttaemyeon
(Ketika air mataku menutupi penglihatanku)
Mabeopcheoreom neon nal anajwo
(Seperti sihir, kau memelukku)

Dengan alunan lagu ballad berjudul ‘Golden Sky’ oleh seorang penyanyi solo bernama Jessica Jung yang kini berputar ditelingaku, kuraih ponsel canggihku yang sedari tadi kuletakkan begitu saja diatas meja. Kugeser lock screen-nya, menampilkan selcaku dengan Namjoo yang menjadi wallpaper ponselku. Aku mulai mengotak atik isi ponselku sendiri, saking kebosanannya diriku, seperti melihat galeri.  Ada beberapa selcaku dengan Namjoo, J-hope oppa, Nara oenni, dan Miju disana.

Jichyeosseureojyeo isseul ttae (Ketika aku lelah dan pingsan)
Neomeojin nal ireukyeosseo
(Tolong bantu aku untuk bangun)
Geu sarang neomchyeo ujue
(Cinta yang meluap ke ruang)
Geumbit haneuri dwae
(Menjadi langit emas)
Oh binnaneun byeolcheoreom
(Seperti bintang yang berkelap-kelip)

Namun ada satu file khusus disana yang berisikan foto-foto Hyemi oenni yang berhasil ku-scan dan yang kupindahkan dari computer ke ponselku, walaupun tidak terlalu buruk dan tidak terlalu banyak. Namun cukup untuk mengobati rasa rinduku. Kuperhatikan satu persatu foto yang agak usang itu. Aku mendesah berat. Hhh… Aku merindukan yeoja cantik ini.

Today Today Today
I’ll be thanking you neul gyeote isseoseo
(Aku akan berterima kasih untukmu di sisiku)
Every minute second forever
(Setiap menit, detik, selamanya)
Siganui kkeutkkaji hamkke georeogaja
(Mari kita berjalan bersama hingga akhir waktu)

“Oenni… apa kabarmu sekarang?”

“Aku? Aku baik-baik saja disini.”

“Sekarang… aku sudah mempunyai teman yang banyak. Bahkan kemarin kami bermain bersama-sama.”

“Makanya, oenni jangan khawatir lagi kepadaku.”

Tess!

Aku terus berbicara kepada foto Hyemi oenni yang terpampang jelas dilayar ponselku, seiring dengan setetes dua tetes air mata jatuh kepangkuanku. Tak kupedulikan apapun kata-kata orang yang akan melihat ini. Entah itu mereka mengiraku orang gila karena bicara sendiri atau bisa melihat hantu.

Tapi kalau diberi anugrah itu, aku mau mau aja sih. Karena itu artinya aku bisa melihat oenniku dan Kyungsoo oppa. Walaupun aku tidak bisa menyentuh mereka ataupun merasakan kehangatan mereka. Tapi setidaknya hanya dengan melihat mereka, sudah cukup bagiku. Aku akan sangat berterimakasih.

Tess!

Haissh! Jinja! Kenapa aku terlalu bawa perasaan sih? Tapi tidak dapat kupungkiri bahwa aku sangat sangat merindukan oenniku. Aku sangat ingin memeluknya saat ini juga.

Your love is strong nal kkaewojwo (Cintamu yang kuat membangunkanku)
Sigangwa hamkke urin hanaga dwaesseo
(Kita bersama-sama dengan waktu)
You’ll never know nae maeumeul
(Kau tidak akan pernah tahu, isi hatiku)
Ijen malhalge You’re my golden sky
(Aku akan mengatakannya, Kau langit emasku)

“Karena mereka menjagaku dengan baik, sama seperti oenni dulu.”

“Oenni… Aku merindukanmu.”

Tess!

“Aku akan mengajak J-hope oppa untuk mengunjungimu nanti. Jadi jangan pergi kemana-mana ya.”

Bodoh! Kau bodoh sekali, Oh Hayoung! Bagaimana mungkin kau menyuruh orang yang sudah mati untuk tidak pergi kemana-mana. Padahal tanpa kusuruh pun oenni pasti tetap berada disana, karena dia tidak lagi memiliki kaki untuk berjalan.

“Tunggu aku disitu.”

Tess!

Aku mengakhiri pembicaraan sepihak ini dengan kalimat yang ambigu. Entah apa artinya aku juga tidak mengerti. Aku hanya mengatakannya begitu saja.

Jichyeosseureojyeo isseul ttae (Ketika aku lelah dan pingsan)
Neomeojin nal ireukyeosseo
(Tolong bantu aku untuk bangun)
Geu sarang neomchyeo ujue
(Cinta yang meluap ke ruang)
Geumbit haneuri dwae
(Menjadi langit emas)
Oh binnaneun byeolcheoreom
(Seperti bintang yang berkelap-kelip)

Kriiet…

Tiba-tiba telingaku dapat menangkap suara derit pintu kelasku yang sepertinya sengaja digeser oleh seseorang. Sesegera mungkin aku menghapus air mataku yang masih terjatuh dan berakting sebiasa mungkin agar orang itu tidak tahu bahwa aku habis menangis. Namun…

Nae geumbit haneure binnaneun byeoldeura (Bintang-bintang berkelap-kelip dilangit emasku)

“Oenni…”

Hayoung pov

***

“Kau yakin ingin masuk ke klub ini?” Tanya Yookyung kepada Naeun yang hanya memberikan senyuman simpul kepadanya. Ini sudah 8 menit berlalu sejak mereka keluar dari kelas mereka dan bertengger didepan ruangan klub melukis, klub yang akan diikuti oleh Naeun.

“Sudah berapa kali kubilang. Aku 100% yakin. Aku sangat suka melukis.”

“Tapi kau tidak terlihat nyaman disini.” Ujar Yookyung tepat sasaran. Kalimat itu benar-benar mengena dihati Naeun yang sedikit melunturkan senyuman ‘baik-baik saja’-nya. Sementara Yookyung, ia mulai merasa risih dengan ‘sesuatu’ yang menarik-narik ujung rok-nya.

“Gwenchana.” Jawab Naeun lembut. Yeoja itu seperti berusaha untuk tetap kuat, dan Yookyung menyadari itu. Yookyung menyadari setiap detail raut wajah Naeun dan apapun yang yeoja itu rasakan. Mau bagaimana pun Naeun menyembunyikannya, Yookyung tetap mengetahui hal itu. Just like… tidak ada yang Yookyung tidak ketahui.

“Arasseo. Kau tidak masuk?”

“A-aku baru saja mau masuk. Kalau begitu, aku masuk dulu ya.” Pamit Naeun mengakhiri pembicaraan singkat mereka.

“Hati-hati.”

“Y-yak! Harusnya aku yang mengatakan itu.” Yookyung hanya terkekeh dan hampir melupakan ‘sesuatu’ yang terus menarik-narik ujung roknya.

“Sudahlah. Fighting!”

“Komawo.”

Naeun pun melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam ruangan klub melukis yang mulai dimasuki oleh beberapa haksaeng, setelah Naeun melambaikan tangannya ke Yookyung yang dibalas dengan senyuman simpul oleh Yookyung. Setelah Naeun menghilang dari pandangannya, Yookyung langsung bergegas menelusuri tempat yang sepi.

“Annyeong oenni.” Sapa seorang yeoja kecil yang sedari tadi menarik-narik ujung rok Yookyung, setelah Yookyung berhasil mendapatkan ruangan yang sepi, tidak ada satupun haksaeng ataupun seonsaengnim disana.

“Annyeong.”

Ternyata tidak semenyeramkan yang kukira. Pikir Yookyung setelah mencermati yeoja kecil yang imut itu.

Baru saja yeoja kecil itu ingin kembali membuka suara, yookyung sudah memotongnya dengan bertanya, “Kau tahu aku bisa melihatmu?”

“Tentu saja, oenni. Kalau tidak, aku tidak mungkin menyapamu.”

“Bagaimana kau bisa mengetahuinya?”

“Seorang oppa yang sangat tampan yang memberitahukannya kepadaku.”

“Nuguya?”

“Mollayo.” Jawab yeoja kecil itu seadanya, membuat Yookyung mendesah kasar. Namun tak lama kemudian, Yookyung merasakan kehadiran ‘seseorang’ dan Yookyung tahu siapa itu. Seolma… dia?

“Yak! Kim Seokjin! Kau yang memberitahu yeoja ini tentang keberadaanku?” Tanya Yookyung kesal kepada ‘seorang namja’ yang baru saja datang. Sementara yang ditanya hanya terkekeh tanpa dosa, membuat Yookyung semakin jengkel.

“Haishh! Jinja! Kenapa kau memberitahunya? Kau tahu aku paling malas berurusan dengan hal ini.” Tanya Yookyung meminta penjelasan sambil menghentak-hentakkan kakinya, menandakan bahwa dirinya kesal.

“Mian. Aku hanya tidak tega melihat yeoja itu menangis.”

“Menangis?”

“Iya. Waktu itu aku melihatnya menagis dikoridor depan, jadi aku bertanya kenapa ia menangis. Lalu ia jawab, dia mencari seseorang. Jadi aku beritahukan tentangmu kepadanya. Iya kan?” jelas namja itu – Seokjin yang diikuti dengan anggukan antusias oleh yeoja kecil itu, yang memperkuat penjelasan sederhana Seokjin.

“Sudahlah. Lagipula permintaannya bukanlah sesuatu yang gila ataupun mengerikan. Iya kan?” lanjut Sepkjin yang juga disertai anggukan antusias dari yeoja kecil itu.

“Kau yakin?”

“Kau tidak percaya kepadaku?”

“Arasseo. Memangnya apa maumu, gadis kecil?” Tanya Yookyung yang sudah menyerah, sementara yang ditanya mengulum senyuman manis, membuatnya tampak sangat imut.

“Ikuti aku , oenni!”

Dengan antusias tingkat tinggi, yeoja kecil itu berlari keluar dari ruangan itu. Mau tak mau, Yookyung pun ikut melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Namun sepertinya keberuntungan tidak berpihak kepadanya.

Brukk!

“Akh! Appo!” rintih Yookyung sambil mengelus-elus keningnya yang baru saja membentur pintu ruangan yang masih tertutup, membuat sebuah bercak merah disana. Yookyung terlalu focus kepada pikirannya, sehingga tidak memerhatikan pintu ruangan yang seharusnya ia buka sebelum dirinya keluar dari sana.

“Haishh, Hong Yookyung! Kau itu manusia. Ma-nu-si-a.” gumam Yookyung kepada dirinya sendiri sebelum memutar kenop pintu dan mendorongnya, lalu keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Seokjin yang terkekeh melihat tingkah Yookyung yang lucu (menurutnya) dan menatap teduh punggung Yookyung yang menghilang dari pandangannya. Setelahnya, Seokjin pun ikut menghilang dari ruangan itu, menyisahkan sebuah ruangan yang kosong dan gelap.

“Jadi… siapa namamu?” Tanya Yookyung memulai pembicaraan dengan yeoja kecil itu, setelah melihat keadaan lorong sekolah yang sepi dan aman untuk dirinya berbicara dengan yeoja kcil itu.

“Mollayo.”

“Kau tidak tahu namamu sendiri?” Tanya Yookyung tidak percaya.

“Ne.”

“Bagaimana bisa?”

“Entahlah. Aku juga gak tahu kenapa.”

“Memangnya siapa yang mau kau temui?”

“Oenni-ku.”

Yookyung mengernyit heran. “Kau punya oenni?”

“Ne. keunde, akhir-akhir ini dia banyak menangis. Aku ingin menghiburnya, tapi aku masih belum bisa melakukannya.” Jawab yeoja kecil itu diikuti desahan lemah, membuat yookyung prihatin.

“Kenapa oenni-mu menangis?”

“Banyak hal. Terkadang karena dia merindukan oemma, appa, Hyemi oenni. Dan terkadang dia disakiti oleh seorang oenni yang jahat. Juga karena oppa-ku.” Jelas yeoja kecil itu dengan raut wajah yang tidak jauh berbeda dengan yang tadi.

“Kau memiliki oppa?”

“Ne. dia lebih tua dari Oenni-ku. Sepertinya seumuran dengan oenni.” Yookyung hanya ber-oh ria. Yeoja kecil ini cukup menyenangkan untuk diajak bicara. Namun Yookyung hanya heran, bagaimana mungkkin yeoja kecil itu ada disini dan tidak tahu namanya sendiri. “Oenni, siapa namamu?”

“Aku Hong Yookyung.”

“Yookyung oenni, kita sudah sampai.” Yeoja kecil itu menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Yookyung.

“Mwoya? Kenapa kau mengajakku kemari?” Tanya Yookyung heran, setelah dirinya mengetahui bahwa mereka berhenti didepan sebuah ruang kelas tempat seorang yeoja duduk termenung sendirian.

Namun yeoja kecil itu hanya tersenyum simpul. “Masuklah.”

“Jebal… bantu aku.” Pinta yeoja kecil itu dengan wajah memelasnya, melihat yookyung yang hanya mengerutkan kening.

“Memangnya apa yang harus kulakukan?”

“Oenni hanya harus menemani oenni-ku, agar dia tidak sendirian. Jebal… aku benci melihatnya sendirian…”

“Arasseo.”

“Komawo oenni.”

***

Back to Hayoung pov

Entah apa yang dilakukan mulutku. Entah apa yang kupikirkan. Begitu netraku menangkap siluet seorang yeoja berdiri dipintu kelasku. Mungkin ini adalah efek dari diriku terlalu merindukan Hyemi oenni. Padahal yeoja itu bukan Hyemi oenni seperti yang kupikirkan. Tapi yeoja itu adalah Hong Yookyung.

Dengan cepat, aku merubah pemikiranku begitu juga dengan posisi dudukku menjadi berdiri. Terlalu ribet ya? Anggap saja aku langsung berdiri begitu aku mengetahui bahwa Yookyung oenni yang berada disana. Oenni? Dia lebih tua satu tahun dariku, dan dia juga termasuk temanku, maka sebaiknya aku memanggilnya dengan sebutan ‘oenni’.

“Yookyung oenni, apa yang kau lakukan disini?” Tanyaku sambil mengambil langkah untuk mendekatinya. Entah kenapa aku merasa matanya tidaklah mengarah kepadaku yang merupakan satu-satu manusia yang masih bertengger dikelas ini, namun matanya mengarah ke arah lain seperti sisi kiri? Atau kanan? Entahlah… aku juga kurang tahu.

“Ne? Aku hanya lewat saja.” Jawabnya setelah pandangannya teralihkan ke arahku.

Dan pandanganku terhadapnya masih sama, yaitu Aneh. Aku tahu ini tidak sopan, tapi dia benar-benar aneh sejak awal kami bertemu, apalagi disaat kami berada dikantin. Ketika melihatku, tatapannya seakan akan ketakutan terhadap sesuatu.

“Apakah oenni sudah merasa lebih baik?” tanyaku ketika aku baru teringat kejadian dikantin tadi, disaat dirinya terlihat sangat pucat. Walaupun aku tampak tidak perduli, namun aku juga khawatir dengan orang yang baru kukenal ini.

“Iya. Aku diberikan vitamin tadi. sepertinya aku hanya kelelahan tadi.” jawabnya disertai senyuman simpulnya yang meyakinkanku bahwa dirinya benar-benar baik-baik saja. Dan aku pun hanya ber-oh ria.

Tapi masih ada satu hal yang mengganjal. “Oenni, ada apa dengan keningmu? Apa itu baik-baik saja?” tanyaku yang baru menyadari bahwa ada bercak merah dikening Yookyung oenni. Bercak itu seperti habis menabrak sesuatu.

“Ini tidak apa-apa kok. Aku hanya tidak sengaja membentur pintu.”

Sudah kuduga.

“Makanya lain kali oenni harus hati-hati. Jangan kebanyakan melamun.” Entah kenapa aku seperti menasehati diriku sendiri, bukan yookyung oenni yang hanya menyengir tanpa dosa.

Namun tidak lama kemudian kami canggung satu sama lain. “Disini membosankan ya?” tanyaku mencoba akrab dengannya. Karena aku bukan Namjoo yang memiliki seribu satu rangkai kata yang akan digunakannya apabila bertemu dengan orang baru. Dengan kata lain, Namjoo dapat dengan mudah menggaet oeang baru untuk nyaman dengannya. Namun tidak denganku.

“Lumayan. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”

Aku baru saja akan mengusulkan hal itu.

“Baiklah.”

Aku pun melangkahkan kakiku mengikutinya yang berjalan keluar kelasku yang sepi.

Hening…

Tidak ada satupun diantara kami yang membuka suara. Apakah dia orang yang pendiam? Ah! Kenapa aku menanyakan hal itu? Padahal diriku sendiri juga pendiam atau kaku jika bersama dengan orang asing atau orang  yang baru kutemui.

“Eumm… Kita mau kemana?” tanyaku memecah keheningan setelah selama beberapa saat kami hanya berjalan berdua dilorong sekolah yang cukup sepi.

“Bagaimana kalau ke rooftop?” usulnya.

Rooftop? Tidak buruk. Disana ada taman kecil, membuat udara disana cukup segar untuk sekedar menenangkan diri.

“Baiklah.”

“Kenapa kau tidak mengikuti satupun klub?” tanyanya memulai pembicaraan yang baru.

Pertanyaan itu…. Sebenarnya aku merasa cukup malas untuk menjawabnya, tapi… entahlah. “Karena tidak ada satupun yang cocok denganku.” Jawabku asal.

“Tapi kukira kau adalah anggota klub dance.”

What? Klub dance? Maldo andwae!

“Bentuk tubuhmu cukup mendukung untuk seseorang yang beraktivitas disana.” Lanjutnya menjelaskan alasannya mengatakan hal tersebut.

Oh… Ternyata karena itu. Kupikir dia bisa membaca pikiranku.

Tapi… tunggu dulu. Bentuk tubuh?

“Memangnya ada apa dengan tubuhku?”

“Kau memiliki bentuk tubuh yang bagus. Tinggi badan yang semampai. Kau juga.memiliki wajah yang cantik. Aku yakin ada banyak namja yang menyukaimu.”

Tinggi badan? Yak! Tinggi badanmu juga semampai kok. Kita hanya berbeda beberapa senti. Tapi kalau urusan namja… Aku tidak yakin.

“Tapi nyatanya tidak.” Jawabku disertau helaan nafas berat. “Bagaimana dengan oenni, kenapa oenni tidak mengikuti apapun?”

“Malas.”

Hanya satu kata yang dia ucapkan, namun itu menjawab semuanya. Kenapa aku tidak menggunakan kata itu tadi? aku rasa jawaban yang itu lebih mudah daripada ‘tidak cocok’. Namun aku hanya ber-oh ria. Karena aku tidak tahu lagi harus merespon apa.

Langkah kami sama-sama terhenti didepan sebuah pintu baja yang masih tertutup. Yookyung oenni memegang kenop pintu itu dan memutarnya, lalu membuka pintu yang menampilkan view indah ala rooftop sekolah.

Angin sejuk langsung menyapa diriku dan Yookyung oenni setibanya kami disana. Rasanya menyegarkan, melihat ada berbagai macam bunga disalah satu sisi rooftop yang dijaga dengan baik oleh penjaga sekolah tentunya. Terima kasih banyak kepada ahjussi itu.

Aku menghirup udara segar ini dan menghembusnya perlahan, merasakan kesejukan yang disediakan oleh tempat ini. Aku dapat merasakan bahwa Yookyung oenni juga melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan tadi.

Lagi-lagi, hening…

Tidak ada satupun diantara kami yang ingin membuka suara. Yookyung oenni tenggelam dalam pikirannya, begitu juga denganku. Membiarkan ketenangan mengalir diantara kami.

Aku memandang kebawah, lebih tepatnya ke arah lapangan tempat para haksaeng sekolahku masih bergelut dengan kegiatan menyenangkan mereka dan tubuh yang sudah dibanjiri dengan keringat. Apa mereka tidak gerah? Pasti bau tubuh mereka sudah sangat bau. Tapi apa yang tidak untuk sesuatu yang kau sukai?

Aku merasa wajar dengan itu. Aku memejamkan kedua mataku, merasakan angin sejuk yang membelai lembut wajahku dan menerbangkan rambut coklat panjangku. Rasanya menyenangkan, aku harap aku bisa merasakan ini bersama Hyemi oenni.

Kriiet…

Namun lamunanku harus terbuyarkan oleh suara derit pintu rooftop ini. Membuatku langsung membuka mataku dan menatap heran ke arah Yookyung oenni yang juga menatap penuh tanya diriku. Apa itu tadi? siapa yang baru saja masuk?

Secara bersamaan, aku dan Yookyung oenni melirik ke sumber suara. Aku membulatkan mataku terkejut begitu melihat dua orang haksaeng yang baru saja memasuki wilayah ini. Sontak, aku langsung menyeret Yookyung oenni untuk bersembunyi di bawah bangku taman rooftop.

Jantungku berdebar dua kali lebih cepat, aku terlalu terkejut. Semoga mereka belum mengetahui keberadaanku dan Yookyung oenni. Namun dapat kulihat Yookyung oenni tidak terkejut sama sekali dengan hal itu. Aneh? Apa dia tahu kedua orang itu akan datang kemari? Kalau dia tahu, seharusnya dia mengatakannya kepadaku. Atau… ah! Molla!

Tapi bagaimana mungkin kedua orang itu bisa ada disini? Bukankah mereka masih memiliki kegiatan? Apakah waktu bebasnya sudah habis? Huh! Menyebalkan!

Hayoung pov end

***

Di rooftop sekolah, dapat dilihat ada seorang namja dan yeoja yang tengah berdiri berhadapan serta saling melempar tatapan datar satu sama lain. Menghiraukan angin sepoy-sepoy yang berusaha menenangkan mereka. “Kenapa kau membawaku kemari?” Tanya Kyungjae yang memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

“Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Jawab Jiyeon yang melipat kedua tangannya didepan dada. Melihat Kyungjae yang hanya diam, Jiyeon tersenyum miring meremehkan namja itu. “Akhir-akhir ini aku jarang melihatmu dengan Nara. Kenapa bisa seperti itu ya?” Kyungjae memutar bola matanya jengah. Ia sangat malas berurusan dengan pertanyaan itu.

“Mollayo.”

“Kau kan namjachingu-nya. Kau jahat sekali tidak menemaninya setiap saat.”

“Aku bukan namjachingu-nya. Lagipula, kenapa aku harus menemaninya setiap saat? Aku juga punya kehidupanku sendiri.”

“Kau sudah menyatakan perasaanmu waktu itu.”

“Itu bukan perasaanku! Itu perasaan Sehun!” bentak Kyungjae yang sudah geram dengan tingkah Jiyeon. Namun Jiyeon hanya diam tetap pada pose angkuhnya, walaupun didalam hatinya ia merasa sakit karena dibentak oleh sahabatnya sendiri.

Jiyeon berdecak sebal. “Tck! Jangan kekanakan! Kita sudah pernah membahas hal ini.” Ujar yeoja itu dengan nada yang meninggi, mengikuti alur Kyungjae yang kesal dengannya.

“Sudahlah! Hentikan saja semua ini! Aku tidak menyukainya.”

“Kau hanya perlu berpura-pura menjadi namjachingu-nya. Atau kalau bisa, benar-benar menjadi namjachingu­-nya.”

“Shireo!”

Jiyeon memberenggut kesal karena perilaku namja yang berada dihadapannya ini tidak seperti rencananya. “Kenapa kau seperti ini? Kau tidak ingin melihatku bahagia?” Tanya yeoja itu berpura-pura sedih.

“Bahagia apanya? Kau bahagia karena telah menyakiti perasaan orang lain? Bahkan jika itu sahabatmu sendiri?” Tanya Kyungjae tidak percaya, namun Jiyeon hanya menatap tajam ke arahnya, membuat Kyungjae mendengus kesal. “Hentikan. Ini bukan kebahagiaanmu. Apa kau tidak lelah menyakiti orang lain? Padahal kau juga sakit melihatnya.” Tutur Kyungjae melembut, memberikan tatapan teduhnya kepada Jiyeon, berharap yeoja itu mau mendengarkan nasehatnya.

“Jangan buat aku membencimu juga.”

“Wae? Kenapa kau mau membenciku?” Tanya Kyungjae mencoba untuk sabar ke Jiyeon. Namun baru saja yeoja itu ingin membuka suara, Kyungjae memotongnya. “Karena aku tidak mau menuruti permintaanmu?” Tanya Kyungjae sinis, membuat Jiyeon diam karena jawaban itu 80% benar.

Kyungjae mendesah kasar. “Kau berubah Jiyeon-ah.”

Kyungjae melesat pergi dari rooftop setelah mengatakan kalimat itu, meninggalkan Jiyeon yang masih terdiam ditempatnya sembari menatap punggung Kyungjae yang menghilang dibalik pintu rooftop dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

Duk!

Lamunan Jiyeon seketika membuyar disaat telinganya menangkap suara seperti sesuatu yang membentur sesuatu.yang lain. Sontak Jiyeon pun mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Betapa terkejutnya Jiyeon begitu ia melihat ada orang lain disini, apalagi orang itu adalah Oh Hayoung. Itu artinya sedari tadi Hayoung mendengarkan perdebatannya dengan Kyungjae. Ya, memang. Namun Jiyeon tidak memperlihatkan keterkejutannya dan memasang wajah dingin seakan akan ingin menelan Hayoung saat itu juga.

“Oh Hayoung.” Panggil Jiyeon dingin sambil melangkahkan kakinya mendekati Hayoung yang kikuk karena baru saja tertangkap menguping. “Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Jiyeon sinis. Namun Hayoung hanya diam dan balik menatap tajam Jiyeon.

“Ah… rupanya ada si freak juga disini.” Jiyeon tersenyum miring melihat ada seorang yeoja yang berada disamping Hayoung. “Kalian benar-benar cocok bersama.” Ledek Jiyeon serta tertawa remeh.

Tidak mendapat respon dari kedua yeoja yang berada dihadapannya, Jiyeon pun menghentikan tawa remehnya diigantikan dengan tatapan sinis. Jiyeon sempat melirik tangan Hayoung yang sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dibalik tubuhnya. Tanpa bu-bi-bu, Jiyeon pun meraih lengan kanan Hayoung dan merebut benda persegi panjang yang sedari tadi berusaha Hayoung sembunyikan.

“Apa ini?! Kau merekamnya?!” Hayoung menundukkan kepalanya dalam. Ia terlalu takut dan terkejut dengan Jiyeon yang tiba-tiba merebut ponselnya dan membentaknya. Yookyung yang melihat itu, menggenggam erat tangan Hayoung. Mentransferkan sedikit kekuatan kepada yeoja itu agar tidak perlu takut.

“Sudahlah menguping! Sekarang kau malah merekamnya?! Dasar pengadu!”

Hayoung menutup matanya, terlalu takut melihat tangan Jiyeon yang akan melayang ke wajahnya. Namun satu detik dua detik kemudian, Hayoung tidak merasakan apapun di pipinya, seperti rasa nyeri yang biasa ia rasakan. Hayoung pun membuka matanya untuk mencari tahu apa yang terjadi, dan terkejut begitu melihat tangan Jiyeon yang berhasil ditahan oleh Yookyung sebelum mampir ke pipinya.

“Jangan menyentuhnya!”

Jiyeon tersentak, begitu juga dengan Hayoung. Karena ini adalah pertama kalinya mereka melihat Yookyung seperti ini. Dan Hayoung juga merasakan ada aura yang berbeda dari Yookyung, aura ini seperti aura kakaknya sendiri, persis.

“Huh! Kau pikir apa yang sedang kau lakukan hah?!”

“Pergi!! Sekarang juga! Atau akan kupastikan kau berada dibawah tanah saat ini juga!”

“Ani. Aku tidak akan pergi sebelum…” Jiyeon sengaja menggantungkan kalimatnya yang ia ganti dengan tangannya yang membanting kasar ponsel Hayoung ke lantai rooftop, membuat si pemilik ponsel terkejut, sangat sangat terkejut.

“Urusanku sudah selesai. Aku pergi dulu ya.” Tanpa merasa bersalah dengan apa yang baru saja ia perbuat, Jiyeon membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi menjauhi Hayoung yang menatap nanar ponselnya yang hancur berkeping-keping, sama seperti hatinya.

“Yak! Berhenti kau, yeoja brengsek!!” baru saja Yookyung ingin mengejar Jiyeon yang terus melesat hingga menghilang dibalik pintu, ia menghentikan langkahnya begitu mendengar isakan Hayoung dibelakangnya.

“Oenni…” Hayoung menatap kosong ponselnya. Hayoung dapat merasakan hatinya sangat sakit mengingat di ponselnya terdapat banyak foto Hyemi oenni-nya yang terkadang menghibur batinnya, namun apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Rasanya hati Hayoung seperti sudah berhenti berdetak.

“Hayoung-ah. Kau baik-baik saja?” Tanya Yookyung yang khawatir sembari mendekati Hayoung yang memungut serpihan-serpihan ponselnya.

“Oenni, bagaimana ini? Semuanya hancur. Memorinya juga. Ottokheyo?” Merasa prihatin, Yookyung langsung mendekap Hayoung serta mengelus lembut surai coklat Hayoung, memberikan ketenangan kepada yeoja itu.

“Gwenchana, itu bisa diperbaiki kok. Kau tidak perlu khawatir.” Hayoung mendongakkan kepalanya, Yookyung pun melonggarkan dekapannya.

“K-komawoyo oenni.”

“Jangan menangis lagi ya.” Yookyung mematri senyuman hangatnya, sementara ibu jarinya ia gunakan untuk menghapus beberapa air mata yang masih mengalir dipipi Hayoung.

Namun sedetik kemudian, senyuman Yookyung tiba-tiba meluntur diikuti dirinya yang pingsan dibahu Hayoung, membuat Hayoung terkejut setengah mati. ‘Ada apa dengan yeoja ini?’ itulah pertanyaan yang memenuhi isi kepala Hayoung saat ini.

“Oenni! Oenni!”

Hayoung mengguncang-guncang tubuh Yookyung, berniat membangunkan yeoja itu dan memastikan bahwa Yookyung baik-baik saja, dengan kekhawatiran yang menyelimuti dirinya saat ini. Dan sepertinya usaha Hayoung tidaklah sia-sia, karena beberapa detik kemudian Yookyung mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, memfokuskan cahaya yang masuk kematanya. Membuat Hayoung mendesah lega.

“Yookyung oenni, kau baik-baik saja?”

“Apa yang baru saja terjadi?”

 

Tbc…

Annyeong! Akhirnya chapter 10 selesai juga, bukan chapter end ya…

Pada nungguin gak? Nggak ya? Author ke-gr-an nih…

Anyway, semoga kalian semua menyukai ff-ini dan memberikan dukungan kepada ff-ini

Aku berterimakasih banyak kepada yang udah memberikan dukungan kepada ff-ini. Rasanya menyenangkan sekali mengetahui kalian menyukai tulisan ini.

Tungguin kelanjutannya ya…

 

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Some Body (Chapter 10)”

  1. udah curiga sama yookyung ini.. dia aneh..
    semakin aneh pas tau ada yg narik” ujung roknya… hororrrrrrrrrrrr
    .
    trus sipa jg anak kecil itu, apa hubungannya sama hayoung dkk, kan hayoung dkk gk punya adik kan yaaaaa… trus lh kim seokjin itu jg hantu yaaaa… woaaaaaaaaaa

Tinggalkan Balasan ke VeeHun ^^ Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s