[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life – (Chapter 1)

img_70571

Tittle/judul fanfic                 : Reason Why I Life

Author                                     : Park Rin

Length                                     : Chaptered

Genre                                      : Romance, Family, Angst

Rating                                      : PG-13

Main Cast&Additional Cast   : Baekhyun

Park Sung Rin (OC)

Mingyu Seventeen

Ect.

Summary                                 : Pertemuan manis ditengah udara dingin… semoga kau selalu mengingatku.

Disclaimer                               : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98.

Author’s note                         : Halo! Ini FF pertama author. Semoga kalian suka dengan FF ini. Selamat membaca… XOXO

Semuanya berawal pada musim dingin 3 tahun yang lalu. Malam itu, udara sangatlah dingin. Aku meruntuki diriku yang lupa membawa sarung tangan tadi sore, sehingga sekarang aku harus berjalan cepat di jalanan licin ini. Aku memasukan tanganku ke saku jaketku dan manik mataku hanya terfokus pada jalanan. Namun, langkahku terhambat saat aku tidak sengaja menabrak orang yang berada di depanku. Tentu saja aku terjatuh.

“Maafkan aku, aku tidak sengaja.” Aku segera bangun dan minta maaf. Aku tak yakin ini salah siapa. Namun, aku harus segera pulang, udara dingin malam ini akan segera membunuhku bila aku tidak cepat-cepat sampai ke apartemen dan menyalakan penghangat ruangan.

“Tidak usah minta maaf, ini salahku yang tiba-tiba berheti ditengah jalan. Apa kau tidak apa-apa?” Suara itu membuatku menonggak. Bukan karena dia minta maaf duluan. Ini karena suara itu sangat familiar bagiku.

“Kau…”

“Apa kau mengenalku?” Ia bertanya dengan wajah imutnya, sambil mengangkat telunjuknya kearah mukanya.

“Tentu saja.” Kataku cepat, mana bisa aku tidak mengenalinya. Jika boleh aku jujur, dialah alasanku untuk hidup sekarang ini. Dia adalah… Baekhyun EXO.

“Wah, aku kira dengan menghapus make upku aku bisa bersembunyi dari orang-orang.” Katanya heran. Aku hanya tersenyum, seketika aku melupakan semua hawa dingin yang mengganguku tadi. “Hm… kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah kau tidak apa-apa.” Tanyanya sambil melihatku dari atas sampai bawah.

“Ya, aku tidak apa-apa.” Aku tersenyum, kemudian aku mulai membuka tas selempang hitamku, mengambil buku agenda dan pulpenku. “Apakah boleh aku meminta tanda tanganmu? Aku adalah fansmu.” Kataku tertunduk, jantungku berdebar begitu kencang.

“Tentu saja. Siapa namamu?” Katanya kemudian.

“Park Sung Rin. Tapi, jika aku boleh tau sedang apa kau disini sendirian?” tanyaku kemudian saat aku menyadari ia tidak bersama menejer ataupun member EXO lainnya.

“Aku sedang ada urusan. Aku telah menyelesaikan jadwalku, jadi tak ada menejer. Member yang lain juga sudah beristirahat.” Jelasnya membuatku hanya ber-“O” ria. “Nah, ini sudah selesai.” Ia menyerahkan agendaku.

“Terima kasih.” Kataku tersenyum dan dibalas dengan anggukan.

Sesaat setelah agenda itu sampai ditanganku, mobil putih berhenti tepat di sampingku dan baekhyun. Dapat kulihat ada senyuman terukir di wajahnya.

“Aku permisi dahulu. Hati-hati dijalan, aku harap kau benar-benar baik-baik saja.” Katanya kemudian lalu masuk ke dalam mobil itu. Aku hanya menangguk, kemudian ia melangkah masuk ke mobil itu.

Setelah Baekhyun pergi, tiba-tiba hawa dingin yang sejenak kulupakan tadi datang. Aku segera memasukan agenda dan pulpenku.

“Aw…” Langkahku terhambat ketika tiba-tiba kakiku terasa nyeri. Aku tertunduk dan mulai memegangi kakiku. Kurasa kakiku terkilir setelah menabrak Baekhyun tadi. Sekarang, aku harus memutar otakku cepat. Tak mungkin aku bisa sampai dirumah dengan keadaan seperti ini, tidak… mungkin bisa tapi aku harus menahan dingin terlebih dahulu karena kecepatan berjalanku akan melambat.

Alunan lagu EXO-Wolf mengagetkanku. Aku berusaha bangun pelan dan membuka tasku. “Mingyu Oppa calling” hal itulah yang aku baca saat aku meraih ponsel putihku.

“Eumh… Oppa.” Kataku pelan. Aku yakin aku akan diomeli jika ia tahu aku belum sampai di rumah.

“Kau dimana?” Tanya suara diseberang sana. Aku langsung terdiam, jantungku kembali berdetak kencang. Aku tak bisa berbohong pada dia. Tapi, aku takut dia akan memarahiku jika ia tahu aku masih di jalan pulang dengan keadaan tidak membawa sarung tangan dan kaki terkilir. “Ya… Jawab aku!” Ia terdengar kesal.

“Aku… aku…” Aku memutar otakku cepat, berusaha mendapat jawaban yang akan membuatku selamat dari amukannya.

“Aish, aku tahu kau masih di jalan pulang. Tidak usah berpikir keras, aku berada di seberang jalan. Apa kau yakin bisa pulang dengan cepat dengan keadaan seperti itu?” Ia mengatakan dengan cepat. Jantungku berdebar lebih kencang lagi. Kepalaku menoleh ke seberang jalan. Tidak salah lagi, itu benar dia.

“Maaf…” Kataku kemudian sambil menatapnya. Jalan itu tidak terlalu lebar, jadi aku bisa melihat secara samar wajah kesalnya. Ia kemudian menyebrang jalan. Jalan yang sepi memudahkannya untuk menyebrang dengan cepat. aku menutup teleponku.

Mataku dan matanya bertemu sebentar, setelah itu aku menundukan kepalaku dan menggigit bibirku. Persis seperti seorang anak kecil yang ketahuan mencuri permen.

“Kenapa kau selalu ceroboh, kau selalu melupakan sarung tanganmu dan selalu melukai dirimu.” Katanya pelan, terselip kekesalan di nada suaranya.

“Maaf… tadi aku terburu-buru saat akan bekerja, sehingga melupakan sarung tanganku. Kemudian, aku menggantikan shift seowon eonni karena ia sakit. Lalu, ketika pulang udara jadi semakin dingin jadi aku melangkah cepat sambil menunduk. Tapi, aku malah menabrak seseorang sehingga kakiku terkilir.” Jelasku padanya.

“Sudah tahu dingin dan terluka, tapi masih bisa tersenyum dengan orang yang kau tabrak tadi.” Katanya pelan. Kemudian mengambil tanganku dan memasangkan sarung tangan.

“Ya! Orang yang aku tabrak tadi Baekhyun oppa mana bisa aku tidak tersenyum kepadanya. Kau tahu aku lebih mencintainya dari pada diriku sendiri.” Kataku cepat dan jengkel. Kemudian, aku dapat merasakan kepalaku di pukul olehnya. “Ya! Sakit.” Kataku tambah jengkel.

“Naiklah kepunggungku!” Katanya tak kalah jengkel. Aku hanya menurut karena aku benar-benar merasa kakiku sakit. Sejengkel-jengkelnya aku, aku tidak pernah bisa menolak perintahnya. “Jangan mengatakan kau lebih mencintaunya dari pada dirimu sendiri.” Katanya dingin.

“Bagaimana kau bisa mengetahui aku ada disini? Apa kau tidak latihan? Dan dari mana kau mendapatkan sarung tangan ini?” Tanyaku setelah ia mulai berjalan. Aku tak berniat melanjutkan perbincangan mengenai hal tadi.

“Aku baru saja selesai latihan tadi. Kemudian aku ke apartemenmu, tapi kau tidak membukakan pintu. Jadi, aku masuk dan mendapati sarung tangamu masih ada di rak sepatu, tetapi sepatumu tidak ada. Lalu, aku putuskan mencarimu keluar dan mendapati kau terjatuh di seberang jalan bersama laki-laki itu.” Kata mingyu dingin.

“Kau marah? Maaf.” Kataku pelan. Entah kenapa sesak menyelimutiku, mungkin karena mingyu menggendongku setelah sekian lama.

Sejak ia menjadi trainee di sebuah agensi dan akan segera debut ia mulai jauh. Saat kami masih tinggal di Anyang, mingyu selalu menemaniku kemanapun dan dalam situasi apapun. Namun, sekarang jangankan menemaninya, menjemputnya setelah pulang kerjapun tidak bisa. Mingyu selalu sibuk dengan segudang latihan semenjak ia menjadi trainee.

“Sudahlah, jangan di bahas lagi. Aku akan mengantarkanmu pulang. Aku juga harus bergegas, para member menungguku. Kita akan ada latihan sebentar lagi dan sepertinya aku akan menginap di dorm.” Katanya mempercepat langkah.

“Bukankah ini hari ini kau harusnya menginap di apartemen?” Tanyaku pelan. Benar, ini akhir minggu dan ini adalah jadwal mingyu pulang dan menginap di apartemen.

“Rin-a aku harus bekerja keras agar segera debut, agar kau tidak terus bekerja seperti ini. Setidaknya kita bisa hidup di seoul tanpa bantuan ibu. Lagipula kita sama-sama masih SMA, tidak baik jika terus tinggal berdua, kita akan sama-sama terkena masalah.” Katanya pelan, membuat dadaku makin sesak. Air mata sudah siap mengucur deras, tapi aku berusaha menahannya. Lagipula yang dikatakan Mingyu tak sepenuhnya salah.

Aku dan Mingyu hidup hanya berdua di Seoul. Kami dulunya tinggal di Anyang, Gyeongido. Tapi jangan salah sangka, aku dan Mingyu bukan bersaudara kandung. Semenjak kecil aku ditinggalkan sanak saudaraku, hingga akhirnya ibuku menitipkanku kepada keluarga Mingyu sebelum dia meninggal. Keluarga Mingyu sudah kuanggap sebagai keluarga sendiri. Tapi, aku lebih dekat dengan Mingyu dibanding adik perempuan Mingyu karena jarak umur kami yang hanya terpaut satu tahun dan aku sekolah lebih cepat jadi aku dan Mingyu dulu satu kelas.

Kamudian Mingyu pindah ke seoul untuk menjadi trainee. Tak berselang lama aku mengikuti jejak Mingyu ke Seoul dengan alasan aku ingin hidup mandiri. Sejujurnya bukan itu alasan utamaku pindah, tapi ini semua karena Minggyu, aku sudah terlalu dekat dengan Mingyu sehingga aku memutuskan untuk ikut pindah. Bukan karena aku tidak dekat dengan orang tua Mingyu dan adik perempuannya. Ini hanya karena aku tergantung pada Mingyu semenjak ia terus menjagaku setelah ibuku meninggal. Ia terus membelaku saat aku diejek dan selalu menemaniku saat aku merindukan keluargaku.

Namun, sepertinya pilihanku ini salah. Bukannya makin dekat dengan Mingyu, aku malah makin jauh dengannya. Awalnya, masalahnya hanya akan sekolah di tempat yang berbeda dengan Mingyu, namun Mingyu lama kelamaan sibuk dengan jadwal latihannya. Saat aku baru pindah, Mingyu akan menginap di apartemenku 4 kali seminggu. Kemudian, setahun setelahnya ia digadang-gadang akan debut dengan boyband bernama Seventeen, Mingyu mulai berubah. Ia hanya menginap di akhir minggu, kemudian sekarang. Ia bahkan tidak mau menginap.

Waktu Mingyu mulai sibuk dan jarang memperhatikanku, aku hampir runtuh, aku benar-benar sedih kehilangan sosok yang selalu menjadi sandaranku. Namun, kemudian aku bertemu dengannya, ya Baekhyun. Sosok yang sangat aku kagumi. Suaranya selalu membuatku tenang saat aku merindukan Mingyu. Itulah mengapa aku begitu mecintainya, karena ialah satu-satunya orang yang bisa menenangkanku saat aku rapuh tanpa Mingyu.

“Nah, sudah sampai.” Katanya sambil menurunkanku di atas sofa. Kemudian, merapikan jaketnya seolah-olah ia akan pergi. Apakah Mingyu tidak mengobatiku dahulu? Apakah ia akan pergi secepat itu?

“Kau sudah mau pergi? Apakah kau tidak mau mengobatiku dahulu?” Tanyaku pelan. Berharap ia akan mengambilkanku air hangat dan mengompres kakiku.

Alih-alih mendengarkanku, ia malah mengambil ponselnya dan sepertinya mengetik beberapa pesan. Aku berdoa dalam hati berharap Mingyu mengirim pesan ke member yang lain bahwa ia tak bisa latihan sekarang.

“Maaf, aku harus pergi. Para member sudah mengirimiku pesan, aku harus segera latihan. Kompreslah kakimu dulu dengan air hangat, nanti ku hubungi lagi.” Pamitnya lalu bergegas keluar.

Aku terdiam, entah kenapa hatiku hancur. Dulu saat aku terjatuh saat olah raga, Mingyu menggendongku dan langsung mengobati lukaku padahal lukanya hanya goresan kecil dan aku masih sanggup untuk ikut olah raga. Tapi, Mingyu begitu mengkhawatirkanku hingga saat berjalan pulang ia menggendongku. Namun, sekarang jelas-jelas aku tidak bisa berjalan tapi ia malah meninggalkanku.

Aku mengambil ponselku, kemudian menghidupkan lagu EXO-Don’t Go. Suara Baekhyun perlahan terdengar, perlahan rasa sesak di dadaku menghilang. Kemudian aku teringat akan tanda tangan Baekhyun. Aku segera mengambil agendaku, kemudian aku membaca pesan Baekhyun yang tertulis disana.

“Untuk : Park Sung Rin, semoga kau baik-baik saja dan semoga kita bisa bertemu kembali.” Aku tersenyum simpul. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu Baekhyun, sebelumnya aku pernah beberapa kali ikut menonton saat EXO tampil di acara musik. Tapi, tidak begitu sering karena saat aku menontonnya berarti aku harus melewatkan jam sekolahku dan akan berakhir di omeli Mingyu.

Aku memejamkan mataku, perasaanku perlahan membaik. Kamudian aku merubah posisiku yang tadinya duduk menjadi tiduran. Suara Baekhyun benar-benar dapat menenangkanku. Beberapa menit kemudian aku tertidur, tanpa mengopres kakiku.

TBC

Note:

Maaf di Chapter ini Baekhyun belum banyak terlihat, tapi semoga kalian suka. Terimakasih sudah membaca… XOXO

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s