[EXOFFI FREELANCE] Crazy With You (Chapter 3)

CRAZY WITH YOU.jpg

Crazy With You [Chapter 3 : I Dont Understand]

.

Author: Babyjae96

Length: Chapter

Genre: Romance, Comedy.

Rating: PG-17

Main Cast :

Park Yena [OC]

Do Kyungsoo [EXO] & Oh Sehun [EXO ]

Disclaimer : Fanfic ini hasil karya otak ku sendiri dan kemudian tersalurkan kedalam Fanfic ini, jika ada kesamaan dengan ff lain hanya kebetulan semata.

Fanfic ini juga di publish di blog pribadiku https://babyjae96.wordpress.com/

 

“Kenapa kau tidak bisa mengerti?”

.

.

Sudah lama rasannya sejak Kyungsoo sarapan bersama seseorang di sini, bahkan Ibunya jika datang kesini hanya mengunjungi sebentar saja tak ada waktu makan bersama atau lebih seringnya ia yang mengunjungi Ibu dan kakeknya ke sana. Kyungsoo melihat Yena sudah selesai menyantap dua mangkuk sup yang dibuatnya, apa rasanya begitu enak? Ia rasa tidak juga, kemampuan masaknya tak begitu baik dan tak begitu buruk juga karna ia sudah tinggal sendiri sejak lama tapi mungkin kali ini ia membuatnya dengan baik sampai Yena menghabiskan dua mangkuk sup.

“Kyungsoo-ya..”

“Apa?”

Yena sedikit memajukan badannya menaruh kedua tangannya diatas meja makan itu, ia melihat Kyungsoo baru saja menyelesaikan makannya jadi ia berani berbicara padannya “Ada yang ingin kukatakan” Ucapnya hati-hati.

“Tentang apa lagi?”

“Biarkan aku tinggal disini sampai aku menemukan tempat baru”

Kyungsoo menatap serius pada Yena, “Apa kau tidak memiliki tempat tinggal lain?”

Yena menggeleng, sebenarnya ia juga malu mengatakan ini tapi bagaimana lagi ia tak punya pilihan selain harus memohon pada Kyungsoo “Eunsoo akan pindah ke luar kota, dia tinggal bersama Unnie nya.. aku tidak memiliki siapapun untuk menumpang kecuali kau”

“Lalu ayahmu?”

Lagi, Yena menggeleng “Dia belum mengirimku uang selama tiga bulan ini, aku sedang mengumpulkan uang untuk pindah dan menunggunya mengirimku uang lagi .. saat Ayahku sudah mengirim uang aku akan pergi, aku janji” Ucapnya sungguh-sungguh “Seperti ucapanku malam itu, aku akan pergi dan membesarkan anak ini”

Kyungsoo diam, membiarkan Yena tinggal disini? Sepertinya tidak apa-apa, tapi kenapa ia merasa aneh saat Yena mengatakan akan pergi dan membesarkan anak itu? Ada sesuatu yang menganggunya diucapan Yena itu.

“Kyungsoo-ya.. Bagaimana?” Tanya Yena penuh harap  “Aku juga akan membayar sewanya nanti” Tambahnya agar Kyungsoo bisa menerimanya.

“Terserah”

“Jadi aku setuju?”

“Hemm”

“Asssa!” Yena bisa tersenyum lega sekarang, ia kira Kyungsoo tak akan mengijinkannya tapi sepertinya dia sadar jika dia tak mau anaknya terlantar bersamanya, setidaknya ia memiliki hati untuk menerimanya walaupun sampai sekarang Yena masih menunggu Kyungsoo untuk membicarakan anaknya ini, setidaknya dia juga harusnya menanyakan bagaimana kabarnya atau membahas tentang hidupnya nanti, bagaimapun dia adalah Ayah anaknya.

Kyungsoo akan mengambil mangkuknya dan dua mangkuk Yena untuk dicuci tapi Yena keburu mengambilnya “Biar aku yang cuci, mulai sekarang aku yang akan membereskan rumah ini..tapi..”

“Tapi apa?” Kyungsoo berdiri, ia melihat Yena berada didepan wastafel dan tengah memang sarung tangan karet. “Berikan aku makan, aku tidak makan banyak.. aku akan mengantinya nanti”

“Makan? Apa kau benar-benar tidak memiliki uang untuk dirimu huh?

“Ya, aku tidak memiliki uang” Jawab Yena jujur, bukan tak memiliki uang hanya saja ia harus berhemat, ia tak mau memakai uang tabungannya dulu karna uang itu dipakai untuk sesuatu yang mendadak saja lagipula jumlah tabungannya tak banyak..

“Aku tidak akan dirumah saat siang, jadi uruslah dirimu sendiri” Kyungsoo segera berjalan pergi dari sana dan Yena masih bingung, jadi Kyungsoo akan  memberinya uang atau tidak? “Jadi.. kau tidak memberiku uang?” Yena keluar dari dapur dengan sarung tangan karet berwarna pink itu, ia tak menemukan Kyungsoo karna dia berada masuk kedalam kamar. “Kyungsoo-ya..kau akan memberiku uang kan?”

Krekk…

Kyungsoo keluar dari kamarnya, Yena langsung berjalan mengikutinya dan menanyakan hal yang sama terus menerus “Kyungsoo-ya..”

“Ini” Kyungsoo menaruh beberapa lembar uang diatas meja makan “Ini untuk selama tiga hari kedepan, jangan beli yang lain.. belilah makanan yang sudah jadi jika kau tidak bisa memasak”

“Aku bisa memasak” Bela Yena cepat “mau aku buat makan malam nanti?” Tawarnya agar tak meremehkan kemampuan memasaknya.

“Tidak usah, aku pulang tengah malam nanti, lagipula aku tak mau dapurku hancur” Ejeknya dengan wajah datar dan kembali masuk kedalam kamarnya. Yena hanya diam melongo disana, memangnya ia apa.. tidak mungkin ia akan menghancurkan dapur ini, ia masih tau diri sebagai orang menumpang dan ia tau cara memasak, sungguh.

Yena melanjutkan kegiatannya mencuci piring, tak banyak cucian yang kotor jadi ia bisa dengan cepat membersihkannya, ya.. kehidupannya sendiri selama hampir 5 tahun ini membuatnya bisa melakukan hal-hal ini dengan mudah termasuk memasak, terkadang jika ia bosan diapartement nya dulu itu ia sering kali memasak dan kemampuan memasaknya juga cukup baik, Eunsoo mengakui itu dan Sehun juga. AH, mengenai Sehun.. ia jadi penasaran, apa dia benar-benar pergi ke Amerika? Banyak yang bilang seperti itu tapi kenapa dia tak memberitahunya, Sehun  adalah anak bungsu dari seorang pengusaha ternama dan dia satu-satu nya anak yang nakal dikeluarganya jadi orangtuanya mengirimnya ke Amerika, itulah yang mereka katakan. Menyenangkan, dia bisa tinggal diluar negri.

Kyungsoo keluar dari kamarnya, ia sudah berpakaian rapih karna hari ini ia harus pergi ke kampus baru nya untuk mengurus sesuatu. Mendengar suara pintu terbuka, Yena segera melepas sarung tangan karetnya itu lalu berjalan menghampiri Kyungsoo yang tengah memasang sepatunya didepan pintu apartement itu “Oh, kau sudah mau berangkat? Aku dengar kau masuk universitas Seoul, kau benar-benar hebat!” Serunya berjalan mendekati Kyungsoo dan memerhatikan sepatu yang tengah Kyungsoo pasang, tapi pria itu malah langsung keluar apartement tanpa mengucapkan sepatah katapun, apa ia tidak dianggap?

“Apa aku hantu?” Gumam Yena berhenti tak jauh didepan pintu yang sudah tertutup, ia benar-benar harus sabar jika berada disini “Setidaknya kau juga harus pamit pada anakmu” Yena heran pada Kyungsoo, apa dia benar-benar tak akan membahas tentang janinnya ini? Apa dia melupakannya? Apa pura-pura tidak tau? Kenapa dia begitu dingin, itu berarti dia benar-benar tak menganggap mereka.

Lalu apa yang Yena lakukan seharian ini? Yena tak mempunyai pilihan lain selain diam di depan televisi, jika Eunsoo ada di Seoul pasti ia akan main bersama Eunsoo tapi dia pasti sudah pergi. Yena belum makan siang karna ia tak merasa lapar, ia hanya memakan buah apel yang ada dikulkas itu saja, ia bingung harus makan apa saat ini.. rasanya tak ada yang menariknya kecuali sup buatan Kyungsoo tadi pagi yang benar-benar menggugah selera makannya, padahal sup ayam itu bisa dibilang biasa saja tapi baginya sekarang itu adalah makanan spesialnya.

Yena menyandarkan punggungnya diatas sofa berwarna putih itu, ia menaikan kakinya keatas dan memikirkan apa yang harus dimakannya, semuanya tidak menarik baginya sekarang padahal dulu ia menyukai segala jenis makanan “Kau mau makan apa? Apa kau tidak bisa memberi tau Omma?” Yena mengelus perutnya yang belum besar, Oh.. bukankah seharusnya ia memiliki nama panggilan untuk janinnya ini? Biasanya orang-orang seperti itu, iya tau ini dari Eunsoo, saat kakak perempuan Eunsoo hamil katanya Unnie nya itu memberikan nama untuk bayi dikandungannya saat itu.

“Ah.. aku harus panggil mu apa?” Yena berpikir keras tentang nama panggilannya, ini bukan nama untuknya nanti tapi kenapa begitu susah “Doodo..Itu panggilan Ayahmu dulu, haruskah aku memanggilmu itu? Doodo-ya..” Panggilnya mengelus-ngelus perutnya, memang menggelikan tapi ia menyukainya, dulu waktu Kyungsoo masih kecil ia sering memanggilnya seperti itu karna saat itu dia baru pindah dan Yena tak mengetahui namanya kecuali marganya saja jadi ia memanggil Dodoo-ya..

Lalu apakah dulu mereka dekat? Yena pikir mereka dulu cukup dekat, keduanya masih kecil saat itu jadi mereka berangkat sekolah bersama, bermain dan pulang bersama tapi setelah mengenjak sekolah menengah mereka tak dekat lagi, terutama Ibu Kyungsoo yang begitu menjauhi mereka karna saat itu ia berubah, katanya. Setelah Ibu kandung Yena pergi, ia memang berubah, ia akui dirinya memang berubah banyak ketika tak ada yang mengurusinya lagi lalu ia semakin berbeda ketika Ayahnya juga pergi. Yena sadar akan itu semua, ia hanya merasa semuanya meninggalkannya disaat ia membutuhkan mereka, disaat ia akan ujian disekolah dasar Ibunya malah meninggalkannya dan entah pergi kemana, lalu dua tahun kemudian Ayahnya juga pergi untuk mencari pekerjaan diluar dan untungnya Ayahnya masih membiayainya selama lima tahun ini, selama lima tahun itu ia hanya bertemu Ayahnya lima kali saat perayaan chuseok  dan natal, lalu dua tahun ini ia tak pernah bertemu dengannya, yang ia lakukan hanya menunggu Ayahnya akan membalas setiap pesannya yang slalu diabaikannya.

Yena tiba-tiba merasa mood nya buruk saat mengingat kembali Ayahnya, apa Ayahnya benar-benar meninggalkannya? Lalu bagaimana dengannya sekarang? Ia sudah tak memiliki apa-apa dan harus segera meninggalkan apartement Kyungsoo ini belum lagi membayar sewa sesuai yang ia katakan, jika Ayahnya tak akan mengirim nya uang sampai akhir bulan.. ia terpaksa akan meminjam pada Eunsoo tapi ia merasa tak enak karna Eunsoo juga masih memakai uang orangtuanya. Ah.. kenapa hidupnya sangat berat, haruskah ia berkerja paruh waktu juga? Sepertinya bukan ide buruk, mungkin setelah ia tak merasa mual-mual lagi ia akan berkerja juga yang penting ia harus segera pergi dari sini dan jika nanti ia berkerja lalu ditambah uang tabungannya, ia rasa akan cukup untuk pindah di desa nanti.

“Ah. Sepertinya tteobeoki enak..” Yena merasa mood nya kembali baik saat tiba-tiba saja ia semangkuk tteobeoki melintas di pikirannya, Oh.. rasanya sudah lama ia tak memakannya, mungkin terakhir saat ia dan Eunsoo masih bersekolah sekitar dua bulan lalu, “Jadi kau mau tteobeoki, huh?” Ucapnya berbicara pada janinnya itu.

.

.

Kyungsoo berjalan pelan di jalana kampus barunya sembari membaca selembaran mengenai acara MT yang akan diadakan sekitar dua minggu lagi, itu berarti ia harus meninggalkan pekerjaan paruh waktunya dan fokus pada kuliah nya saja yang akan segera dimulai, Ah.. tidak ia harus berkerja.. ia lupa jika Yena sekarang tinggal dengannya dan uang pemberian Ibunya tak akan cukup untuk mereka jadi ia harus berkerja lalu malamnya ia bisa belajar.

Sekarang Kyungsoo sudah berada di tempat pemberhentian bus, ia duduk disana menunggu bus yang akan membawanya ke sebuah perpustaakaan kota dimana ia melakukan pekerjaan paruh waktunya disana, selain di pom bensin dan juga toko sepatu. Matanya tak sengaja menangkap sepasang pasangan suami-istri yang berada di sampingnya, mereka membicarakan banyak hal tentang sang istri yang sedang hamil, termasuk makanan-makanan yang ingin dimakannya dan juga membicarakan nama untuk bayi nya nanti.

Kyungsoo mengalihkan pandanganya kedepan, namun ia bisa mendengar apa yang kedua pasangan itu bicarakan walaupun banyak orang lain disekitarnya yang mengobrol dan suara-suara kendaraan disekitarnya ini, ia teringat pada Yena dan juga calon anaknya nanti, ia bahkan tak pernah bertanya apapun tentang kehamilan Yena, saat ia ingin membicarakannya slalu saja Yena mengalihkannya seperti pagi tadi, sepertinya setelah ia pulang nanti ia harus menanyakan dan membelikan jus seperti yang Yena inginkan tadi pagi, ya.. ia harus melakukan apa yang harus ia lakukan, walaupun Yena tak menginginkan ia bertanggung jawab tapi bagaimana pun ia adalah Ayah anak itu dan ia akan berusaha bertanggung jawab sebagai seorang Ayah walaupun ia tak begitu yakin ia akan bisa melakukan itu dan tak akan bertanggung jawab penuh pada Yena.

.

.

Di depan unit apartement Yena ada dua orang pria yang tengah bertatapan saling mengeluarkan tatapan mematikan satu sama lain, pria itu saling tak menyukai karna mereka mendekati wanita yang sama, siapa lagi jika bukan Yena.

“Dia pacarku… kenapa kau disini?”

“Dia istriku.. dia yang melamarku duluan, kenapa kau disini? Dan berhentilah memanggilnya pacarmu” Sehun melipat tangannya dan masih menatap tajam pada pria yang hampir sama tingginya dengannya, dia adalah Seungjun dari sekolah lain yang sama-sama menyukai Yena. Sejak dulu Seungjun menjadi salah satu pesaing kuatnya karna dia sama sekali tak takut dengan semua ancamannya bahkan dia berani mengancam balik padannya.

Seungjun tetawa renyah “Ya dia masih pacarku!Kau sebaiknya berhenti berkhayal!” Teriaknya tak kalah dengan Sehun “Lalu, kenapa kau masih dikorea? Aku dengar kau sudah pindah ke Amerika, kenapa kau tidak tinggal disana selamanya saja!” Sambungnya cepat.

“Aku tidak berkhayal, Yena memang melamarku” Balas Sehun tak mau kalah “Dan.. aku tidak pindah ke Amerika aku hanya….liburan” Jawabnya ragu diakhir karna sebenarnya ia tak liburan.

“Lebih baik kau tinggal disana saja dan jauhi pacarku..”

“Ya! Dia bukan lagi pacarmu!”

“Kenapa? Ini lebih baik darimu kan.. kau bahkan belum pernah berkencan dengannya kan?”

Sehun yang geram akan meninjunya saat itu juga, ia sudah mengeratkan telapak tangannya mengumpulkan tenaganya disana.

“YA!!!! Anak muda! Jangan bertengkar disini!” Seorang Ahjumma yang berada di samping apartement Yena keluar, dia langsung memarahi mereka berdua dan seperti anak kecil keduanya langsung diam lalu menunduk pada Ahjumma menakutkan itu “Aishh… setelah dia pindah, kalian malah membuat tempat ini bersisik..” Bentak Ahjumma itu pada keduanya.

“Siapa yang pindah?” Tanya Sehun cepat ketika Ahjumma itu menunjuk ke apartement Yena tadi, “Apa Yena pindah?” Tambah Seungjun penasaran sama seperti Sehun lalu Ahjumma itu mengangguk “Ya, dia pindah kemarin.. dia diusir pemiliknya,Ahh.. anak itu kasian juga..”

“Lalu kemana dia pergi?”

“Ahjumma, dimana dia?”

“Kemana dia pindah?”

“Alamatnya dimana?”

“Apa masih Di Seoul?”

Ahjumma itu hanya diam mendengar pertanyaan-pertanyaan dari dua pemuda ini, merasa menghabiskan waktunya dia memilih kembali masuk kedalam apartementnya itu dan membalas mereka dengan ucapan tinggi “AKU TIDAK TAU!” Keduanya langsung menutup mulut mereka karna terkejut dan juga takut dengan Ahjumma itu yang sangat menyeramkan bagi mereka, padahal keduanya terkenal tak takut dengan apapun disekolah masing-masing tapi sepertinya mereka lemah pada wanita terutama pada Ahjumma-ahjumma.

.

.

Yena berjalan-jalan disekitar pusat kota Seoul sejak tadi siang sampai sore ini, dia pergi ke dekat universitas dongguk tadi katanya tteobeoki disana enak jadi ia pergi kesana dan memang benar, ia menghabiskan banyak tadi lalu ia pergi ke cafe favoritnya membeli sebuah cake, entahlah.. ia menginginkan cake coklat. Untungnya ia tidak muntah disana, Ah.. lalu ia harus makan malam apa?

Yena berhenti berjalan ketika melihat sebuah sweater rajutan yang tengah dipajang di toko itu, Oh.. sebentar lagi musim semi, ia menginkan pakaian itu.. Tapi, ia tak bisa. Tak mungkin ia menggunakan uang Kyungsoo atau uang tabungannya kan? Tidak, ia tak boleh. Tapi, ia sepertinya juga membutuhnya sweater itu nantinya, sweater itu cukup panjang tak terlalu tebal juga dan jika ia memakainya saat nanti kandungannya sudah besar pasti terasa hangat.. Oh ya, beberapa jaketnya juga terlalu tipis bahkan yang ia pakai ini sebenarnya sudah tak layak pakai karna sudah kekecilan dan juga banyak yang robek, ia terkadang harus melapisi bajunya dua sampai tiga lapis sebelum memakai jaket disaat musim dingin seperti ini karna jaketnya yang tipis. Ya, daripada membeli pakaian ia masih lebih memilih untuk makan dan membayar sewa apartementnya atau membayar sekolahnya juga.. itu karna uang yang diberikan Ayahnya tak terlalu banyak, ia tak pernah membeli barang untuknya walaupun ia sangat ingin. Terkadang saat itu juga dia pernah berkerja paruh waktu tapi karna ia sudah mendapat peringatan dari sekolah ia berhenti berkerja paruh waktu, sekarang juga ia ingin berkerja tapi tidak dalam kondisinya sekarang mungkin saat ia sudah berhenti mual-mual ia akan berkerja paruh waktu lagi.

“Baiklah, aku akan masuk!”

Dan benar saja Yena membeli apa yang ia inginkan, ternyata bukan hanya sweater itu saja yang ia beli ia juga membeli beberapa baju hangat untuk musim semi nanti, bagaimanapun tubuhnya harus tetap hangat agar dia tak terkena flu, ia tak mau sakit dan itu pasti akan berpengaruh pada anaknya juga nanti.

Ternyata berjalan-jalan membuat Yena terus berhenti,setelah dari toko sepatu kali ini ia berhenti disebuah toko bayi.. ia masuk begitu saja kedalam ketika melihat banyak barang-barang lucu didalam sana.

Yena tau masih terlalu lama untuk mempersiapkan ini, ia hanya ingin melihat-lihat saja dan agar bisa memiliki bayangan nantinya barang apa saja yang harus dibelinya. Yena tidak tau bayinya akan lahir perempuan atau laki-laki, apapun itu Yena akan menyanyanginya, memberinya perhatian sebanyak-banyaknya walaupun ia nanti akan membesarkannya sendiri, ia tak mau anaknya nanti kesepian sepertinya jadi ia akan berusaha menjadi Ibu yang baik dan juga seorang Ayah, memang ia masih muda untuk ini pikiran juga masih belum dewasa tapi Yena yakin ia bisa melakukannya sendiri nanti.

“Apa ada yang bisa saya bantu?” Pegawai toko itu menghampiri Yena yang terlihat bingung karna ia sendiri tak yakin apa yang harus ia lihat disini. “Ah.. aku hanya lihat-lihat saja dulu” Yena memegang perutnya “Kandunganku masih dua bulan..”

“Oh, apa anda ingin melihat sesuatu.. mungkin anda tertarik”

Yena mengangguk dan mengikuti pegawai itu semakin masuk ke tengah tokoh, ia juga penasaran apa yang akan pegawai itu tunjukan padannya dan mungkin akan menariknya.

.

.

Kyungsoo masuk kedalam apartementnya malam ini, ini sudah menunjukan pukul 10 malam lebih, ia juga membawa kantong berisi beberapa jus kemasan berukuran besar  untuk Yena dan juga buah-buahan. Ia pikir Yena sudah tertidur lagi di dalam kamarnya tapi.. nyatanya, wanita itu masih menonton tv di ruang tengah dan.. apa ini?

Yena sedang menonton sebuah acara tv, tadinya ia akan menonton drama tapi entah kenapa ia malah menonton sebuah berita dimana disana dikabarkan ada sebuah kapal nelayan yang tenggelam “Ohh.. Semoga semuanya selamat” Gumamnya pelan sambil memakan sepotong cake kecil yang dibelinya tadi, manis.. ia menyukainya.

Kyungsoo berjalan masuk kedalam, ia menaruh bawaannya keatas meja makan dan melihat banyak kantung belanjaan disekitar sofa-nya. Apa dia baru berbelanja?

“Oh, kau sudah pulang… kau sudah makan kan?” Yena berdiri ia tersenyum lebar pada Kyungsoo menyapanya seramah mungkin, tapi yang ia dapat malah tatapan Kyungsoo yang terlihat marah. Apa ia baru membuat kesalahan?

“Kau berbelanja?”

Yena mengangguk, “Iya.. Aku juga membelikanmu sepatu” ia mengambil sebuah dus berisi sebuah sepatu berwarna putih-abu yang tadi dibelinya. Ya, Yena membelikan sepatu untuk Kyungsoo karna ia melihat semua sepatu pria itu sudah terlihat rusak dan tak nyaman, ini sebagai bentuk terima kasihnya karna Kyungsoo sudah membiarkannya tinggal disini dan agar biaya sewanya juga bisa dipotong.

“Aku tidak memintanya! Kau…” Kyungsoo menarik rambutnya sendiri menahan emosinya “Apa aku memberikanmu uang untuk ini semua?” ia menunjuk pada semua barang belanjaan Yena yang bisa dibilang banyak.

“Tidak.. ini menggunakan uangku, uangmu kupakai untuk makan saja.. dan sepatu ini juga dari uangku” Yena membela dirinya, itu benar ia menggunakan uangnya sendiri.

“Tapi aku tidak memintanya, dan berhentilah menghabiskan uangmu..pakailah untuk pindah dari sini saja! Dan, kau tidur di kamar Ibuku” Kyungsoo berjalan masuk kedalam kamarnya membiarkan Yena yang masih ingin menjelaskannya.

Yena berdiri didepan kamar Kyungsoo, ia tidak tau dimana kesalahannya? Apa karna ia membelikan Kyungsoo sepatu? Apa itu sebuah kesalahan, “Kyungsoo-ya.. Maaf, aku hanya ingin membelikanmu sesuatu saja, aku merasa tak enak karna tinggal disini”

Kyungsoo juga masih berdiri dipintu kamarnya, ia mendengar apa yang Yena katakan dari sana. Ia tak marah karna Yena berbelanja, entah memakai uangnya atau tidak ia tak peduli juga tapi tak seharusnya Yena juga membelikannya sepatu dan yang lebih penting adalah seharusnya Yena bisa berhemat dengan baik.

Yena merasa kesal sendiri karna setiap ucapannya tak dibalas Kyungsoo padahal ia tau jika Kyungsoo belum tidur, “Kenapa kau tidak mengerti?” Ucapnya lagi menahan air matanya, ia membenci menangis tapi kenapa sekarang ia sering menangis.. “Aku membelikannya untukmu dan aku berbelanja juga untuk anakku.. dia juga membutuhkannya, kau tau? Aku perlu membeli susu Ibu hamil, aku juga membeli buku tentang kehamilan karna aku tidak bisa bertanya pada Ibuku.. Lalu, aku membeli beberapa pakaian untukku nanti.. jika kandungan ku sudah besar otamatis pakaianku juga berubah dan aku ingin mempersiapkannya dari sekarang karna aku tidak tau kapan aku bisa memiliki uang lagi selain hari ini karna aku juga harus menabung untuk biaya melahirkannya nanti, kenapa kau tidak mengerti dan memarahiku huh?” Yena berucap apa saja yang ada dipikirannya tanpa peduli apa ucapannnya jelas atau tidak,  air matanya sudah menetes sejak tadi ia memang sensitif sekarang.

Kyungsoo mendengar itu semua. Ya, ia memang tidak mengerti dan bodohnya kenapa ia tidak mengerti itu.. Yena sekarang sedang hamil dan tentu saja banyak keperluan yang ia butuhkan, tak seharusnya ia bersikap seperti tadi. Oh, sekarang ia menyesal apalagi ia mendengar suara Yena yang menangis disana.. ia memang pria buruk.

To Be Continue….

Komentar Author :

kali ini ada Seungjun, kalian tau kan. KnK Park Seungjun kan. Entah kenapa rasanya wajahnya cocok aja jadi saingan Sehun nantinya (saingan Kyungsoo juga mungkin hehe).  Kalo kalian ada kesel sama karakter Kyungsoo maafkan saya, aku ga bermaksud hanya dia karakternya gitu dan dia masih bingung apa yang harus ia lakukan, antara gengsi, malu sama takut juga karna ia masih muda dan juga sibuk mempesiapkan kuliah yang dinantinya gitu.

Masih ingatkah dengan catatan kecil yang diambil Kyungsoo di chap 2, nanti di chap selanjutnya bakal saja jelasin deh.. Oke.. Bye..

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Crazy With You (Chapter 3)

  1. Dyo Oppa ga boleg jahat gitu ding sama Yeoja,aku marah nih,kamu itukn namja baik-baik,jebal jaga perasaanku juga sebagai yeoja Oppa,hwaiting buat authornimnya,bian udah lama ga nongol

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s