[EXOFFI FREELANCE] For Life : Story Begin – (Chapter 1)

1482550352122.JPEG

FOR LIFE: STORY BEGIN

Author: Lible Lander

Length: Chapter

Genre: Fluff, Romance, Hurt/Comfort

Rate: PG-17

Cast: Park Chanyeol (EXO)-Jung Heesuk (OC)

“Amerika, Eropa, benua mana lagi yang belum kuinjak? Sendirian, tak kenal orang. Yang kutau hanya lari, lari, dan lari. Tapi sepertinya, sudah waktunya untuk berhenti./’Tak punya kelebihan! Memalukan!’/’Aku mau pulang. Capek.’/’T-trainee?’/’Mau membalas?’”

EXO belongs to SM, but this story and OC is MINE!

A/N: Nothing.

Happy reading!

.

.

.

Lisse, 9 Oktober xxxx

Emma! Emma!

Gadis kecil itu menoleh.

Pergi, pergi! Kau harus lari!

Nyonya, nyonya! Ada apa?

Wanita itu menarik-narik tangannya panik. “Mereka menemukanmu, nak! Kau harus pergi sekarang juga!

Apa? Se-sejak kapan-

-tak ada waktu lagi, Emma! Kau harus pergi dari sini!

Anak itu berlari, mengikuti pergerakan wanita yang dipanggilnya ‘nyonya’ tadi. Sesekali menoleh ke belakang, memastikan kalau-kalau ada yang mengejarnya.

Dan benar.

Bayangan beberapa pria bertubuh besar mulai terlihat jelas di matanya. ‘Emma’ terbelalak.

Nyonya! Kita dikejar! Kita dikejar!

Ia semakin panik saat salah satu pria itu berteriak keras sambil menunjuk dirinya. Wanita di depannya menoleh sekilas, kemudian berdecak. “Ya Tuhan…

Ayo, kita harus lebih cepat!” pekiknya, lalu memanjangkan setiap jarak langkahnya. Wanita itu menggenggam erat tangan anak kecil dibelakangnya, membawanya menerobos hamparan tulip tinggi di depan.

Nyonya-hhh.. hh.. mereka sema-

“-sedikit lagi!

Pemandangan kota di musim gugur segera menyambut mereka. Syal dan coat, daun-daun merah berguguran. ‘Emma’ terengah-engah.

Ini.. jangan sampai hilang! Cepat, masuklah!” wanita itu mendorongnya ke taksi.

Tunggu! Bagaimana denganmu?!

Jangan pikirkan aku. Pergilah! Tuan, bawa dia ke Schiphol. Pergi secepat yang kau bisa!

Baik, nyonya.

Apa? Tunggu. Jangan dulu. Nyonya!

Wanita itu tersenyum lembut ke arahnya. Bersamaan dengan roda yang mulai menggelinding, ‘Emma’ tak dapat menahan laju air matanya. Anak itu menggedor kaca histeris sambil memanggil-manggil si wanita yang terus tersenyum memandanginya.

.

.

.

Lima tahun kemudian

“Ya! Cukup!”

Chanyeol segera saja terduduk. Remaja tanggung itu meraih handuknya, lalu mengalungkannya di leher. Sementara pelatihnya berbicara, Chanyeol meneguk air, merasakan sensasi dingin saat cairan itu mengalir melewati kerongkongannya.

“-lebih berlatih. Selanjutnya Park Chanyeol. Kau sudah banyak berkembang, tapi sepertinya kau punya masalah untuk fokus saat menari. Matamu selalu berputar kemana-mana. Ingat, aku tak mau hal itu terjadi lagi, paham?”

“Baik!” serunya.

“Keseluruhan, kalian semua sudah cukup bagus. Jauh lebih cepat mengingat koreo yang baru kuajarkan, kemudian gerakan kalian sudah lebih tepat dan tegas. Aku benar-benar terkejut, tapi jangan puas dulu. Berlatihlah dengan keras karena aku sangat membenci kemunduran. Baiklah, evaluasiku sampai disini saja. Silakan kembali.”

“Terima kasih!”

BLAM!

Chanyeol menutup pintu lokernya. Ia hendak memakai sepatu, namun terhenti saat sepasang kaki menginjak kaus kakinya. Chanyeol mengerutkan kening.

“Heesuk!”

Gadis itu menoleh.

“Dimana matamu? Apa kau tak sadar kalau barusan menginjak kaus kakiku?” tanya Chanyeol kesal.

“Hah?” Heesuk menyipitkan matanya. “Kapan aku menginjaknya?”

“Barusan.”

“Ah.. Maaf” sahutnya pendek, lalu berbalik dan kembali berjalan. Chanyeol memandangnya tak percaya. Cepat-cepat dipakainya sepatunya, lalu mengejar gadis itu.

“Hei, hei! Apa kau tak merasa bersalah? Apa kau selalu meninggalkan orang-orang yang kaus kakinya kau injak?”

“Astaga, apa permintaan maafku belum cukup? Aku juga nggak sengaja! Dan, apa itu tadi? Selalu meninggalkan orang yang kuinjak kaus kakinya? Ya Tuhan, aku nggak tau kalau ternyata kau sebegini konyol!”

“Che, ‘nggak’ katamu? Sopan sekali dirimu, nona!” Chanyeol bersedekap sambil memandang sinis perempuan didepannya.

“Memangnya kenapa?” Heesuk mengangkat bahunya kecil. ”Cuma ada kau dan aku disini, jadi nggak masalah.”

“Santai sekali bicaramu! Aku mera-”

“-ya, ya. Minggir, aku mau lewat” Heesuk mendorong Chanyeol pelan, lalu berjalan sambil membetulkan ranselnya.

“Anak ini..” pemuda itu mendecih. “Tunggu, hei!” Chanyeol berlari kecil, lalu menyejajarkan langkahnya dengan Heesuk. Untuk beberapa saat, tak ada yang memulai pembicaraan.

“Apa kau tak bosan?”

“Hm?”

“Aku capek” Heesuk menghembuskan nafasnya kasar. “Aku sudah lima tahun disini. Yang kutau hanya belajar, menyanyi, menari, menyanyi, menari, menyanyi. Begitu terus. Kapan aku akan debut?”

“Kapan-kapan.”

“Aku serius, sialan.”

Chanyeol tertawa. Namun, wajahnya mulai terlihat sendu.

“Aku juga sebenarnya. Kadang, aku sampai di titik dimana aku merasa frustasi. Melihat bagaimana para senior di acara TV, berkeliaran di gedung agensi, aku benar-benar frustasi. Aku sudah mengerahkan seluruh tenagaku, menyanyi hingga suaraku habis, menari sampai kakiku mau lepas, berusaha berekspresi dengan baik, kalau kuingat-ingat lagi, aku benar-benar payah.”

“Kau memang payah” celetuk Heesuk, membuat Chanyeol menjitak kepalanya. Gadis itu memekik.

“Ah! Hei!” ia mengaduh, lalu menoleh pada Chanyeol. “Sakit!”

Pemuda itu tak menjawab. Ia menatap Heesuk lurus. Gadis itu mendadak merasa gugup, lalu mengedip-ngedipkan mata dengan alis menyatu. “Apa?”

“Tapi, kalau melihat teman seperjuangan, apalagi orang sepertimu, rasanya semangatku kembali” senyumnya perlahan mengembang, “sekalipun menunggu membuatku seperti orang gila, sekalipun aku akan debut saat sudah jadi kakek-kakek, aku tetap menerimanya.”

Heesuk terdiam. Ia agak ragu, namun memutuskan untuk bertanya. “Kenapa?”

“Karena itu adalah tujuanku masuk kesini.”

Gadis itu tak membalas. Ia bersitatap dengan Chanyeol. Menatap jauh ke dalam mutiara hitam didepannya.

“Chanyeol..”

Pemuda itu memiringkan kepalanya.

“Apa itu.. ada hubungannya dengan kau yang tinggal di asrama?”

Raut wajahnya berubah, namun Heesuk tak begitu menyadarinya karena cahaya yang minim.

“Aku belum mau menjawabnya.”

Heesuk menatapnya mengerti. “Kalau begitu besok akan kutanya lagi.”

“Keras kepala” Chanyeol mengacak rambut gadis itu dan tersenyum lebar, sangat lebar hingga Heesuk bisa melihat gigi rapi pemuda itu. “Masuklah.”

Heesuk mengangguk. “Kau hati-hati. Sampai besok.”

Gadis itu mendorong pintu besar di depannya, lalu berbalik. Chanyeol memandanginya, hingga sosoknya menghilang. Pemuda itu menengadah, mengamati papan besar di atas pintu.

Asrama Perempuan.

“Bersabarlah..” lirihnya. “Aku yakin kita akan segera keluar.”

***

“Heesuk? Sudah pagi, Heesuk! Ayo bangun!”

Heesuk mengerutkan alis, lalu membuka mata. Ia langsung menyipit saat cahaya matahari serasa meninju matanya. Heesuk berbalik, lalu menggulung tubuhnya dalam selimut.

“Nah, nah! Kau sudah seperti surimi wrap sekarang! Ayo bangun, pemalas!”

Gadis itu hanya bergumam sebagai balasan. Geunyoung berdecak. “Anak ini..”

BRUK! BRUK!

“Ayo, ayo, ayo! Bangun! Bangun! Ayo bangun!”

“Ah! Aduh, aduh! Hei!”

Geunyoung tetap melompat sesuka hatinya. Gadis itu terus saja melompat di kasur hingga Heesuk menyerah. Heesuk melempar selimutnya, lalu duduk dengan wajah ditekuk.

“Aku bangun, sialan.”

“Begitu, dong” Geunyoung tersenyum puas, namun tak berapa lama ia kembali melompat. “Tapi, kau harus mencoba ini. Ini menyenangkan!”

Heesuk merasakan kepala dan tubuhnya bergoyang-goyang, “Tentu saja. Dan besinya akan patah setelah ini, terima kasih banyak.”

Gadis itu masuk ke kamar mandi, sementara Geunyoung mulai merapikan tempat tidurnya. Tak berapa lama, Heesuk keluar dengan handuk yang membungkus rambutnya.

“Cepatlah. Kita belum sarapan” ucap Geunyoung tanpa menoleh.

Heesuk hanya bergumam. “Dimana dasiku?”

“Belakang pintu. Jangan lupa softlensmu.”

Heesuk tertegun.

Geunyoung (yang sudah selesai dengan seragamnya) mengerjap-ngerjap, memandangi Heesuk yang hanya memegangi dasinya.

“Ayolah, jangan mematung seperti itu. Kau terlihat menyedihkan, Jung!” serunya, lalu menghampiri Heesuk.

“Ini, pakailah.”

Heesuk menatap kosong kotak kecil yang tersodor didepannya. Menatap benda yang selalu dipakainya begitu dia bangun, dan hanya dilepas saat dia tidur. Benda yang nyaris tak terpisah dengan dirinya selama lima tahun ini.

“Bisakah aku tak memakainya? Sekali saja?”

Geunyoung terdiam.

“Pertanyaan bodoh, maaf” Heesuk tertawa getir. “Bahkan aku harus menahan perih setiap aku memakai dan melepasnya. Harus ekstra hati-hati saat berenang dan menatap api.”

“Yah.. kau bisa saja melepasnya dan berkeliaran, tapi tak semua orang sama, Heesuk. Aku bisa menerimanya, tapi orang lain? Aku bahkan tak bisa memikirkan apa yang akan kau terima jika kau memperlihatkan matamu.”

“Kau benar.”

Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin. Mengamati iris biru yang menghiasi penglihatannya. “Meskipun begitu, aku tetap bersyukur. Setidaknya, rambutku warnanya hitam.”

“Nah, itu sudah tau. Kau hanya perlu tersenyum! Aku bahkan suka dengan warna matamu!” Geunyoung tersenyum seperti kuda, “kau tau betul kalau kau cantik, jadi untuk apa kau harus menangisi dirimu sendiri?”

“Soalnya ini perih, tau!”

“Uuuw.. kemana perginya manusia mellow tadi? Apa yang terjadi padamu, nak? Apa kau lapar? Haus?”

”Hei!” Heesuk mengunci kamar cepat-cepat, lalu mengejar Geunyoung yang sudah berlari lebih dulu sambil tertawa-tawa.

Kejar-kejaran itu terhenti saat mereka sampai di elevator. Terengah-engah, mereka masuk sambil sesekali tertawa kecil. Begitu pintunya terbuka, meja-meja kotak yang kebanyakan sudah dipenuhi orang segera terlihat.

Staff, beberapa artis, dan para trainee.

“Geunyoung, ayo duduk!” Heesuk menarik perempuan di sebelahnya menuju sebuah meja.

“Kau tunggu disini, biar aku yang ambilkan. Kau mau apa?”

“Bisa berikan aku nasi dengan kimchi saja? Kalau bisa dengan sup ayam dan air.”

Geunyoung mengangguk, kemudian berlalu.

JDUK!

“Ah! Maaf.. maaf!”

Heesuk hanya mengangguk-angguk kecil dengan wajah bingung. “Kau baik-baik saja?”

“Iya, sekali lagi maaf, ya!” gadis itu kembali membungkuk, lalu bergegas pergi.

“Chanyeol!”

Heesuk merasa sesuatu menusuk telinganya. Ia buru-buru berbalik. Dilihatnya perempuan tadi tengah menghampiri seseorang yang familiar, lalu duduk didepannya.

Chanyeol?

Jaraknya tak begitu jauh, hanya terpaut sekitar empat-lima meja. Heesuk memicingkan mata. Chanyeol tampak mengatakan sesuatu, lalu mereka tertawa.

Siapa itu? Heesuk mengerutkan alis. Apa yang mereka lakukan?

“Pesananmu sudah sampai, nona! Ayo makan!” Geunyeoung menaruh nampan di meja.

“Ah..” Heesuk berdehem, lalu mengambil nasinya.

“Kenapa?”

“Nggak.”

***

Chanyeol tak pernah merasa segugup ini dalam hidupnya.

Seingatnya, ia hanya merasa bosan di kelas, lalu datang ke ruang musik dan melihat-lihat. Kemudian mengambil gitar setelah itu memainkannya. Ia hanya memetiknya asal dan bernyanyi dengan keras (persetan dengan fals) tapi tiba-tiba atmosfernya berubah. Dan ternyata, Heesuk sedang menatapnya tajam dari balik jendela.

“Apa?”

Heesuk menatapnya semakin tajam. Rambutnya terjuntai membingkai wajahnya yang ditekuk, membuat Chanyeol merinding.

“Kenapa melihatku seperti itu? Ayolah, jangan diam saja… Kau membuatku takut, tau!” pemuda itu mengacak rambutnya frustasi.

“Bagus kalau kau takut” Heesuk mendengus kesal, “Aku ingin bertanya padamu dan kau harus menjawabnya dengan jujur.”

Chanyeol mengangguk cepat.

“Siapa yang makan denganmu tadi pagi?”

Chanyeol berhenti mengangguk. “Apa?”

“Siapa. Yang. Makan. Denganmu. Tadi pagi.” ucap Heesuk penuh penekanan, “Perempuan, berponi, lebih pendek dariku.”

“Ah..” Chanyeol tampak berpikir. “Oh!” matanya membulat, “Yoo Gaeun?”

“Yoo Gaeun?” Heesuk mengerutkan alisnya.

“Ya, Yoo Gaeun, tetanggaku. Kenapa?”

“Kenapa kau makan dengannya?”

“Dulu aku selalu bermain dengannya, tapi aku tak pernah melihatnya lagi sejak aku masuk kesini. Waktu aku mau makan tadi tiba-tiba dia memanggilku. Kupikir siapa, tapi ternyata kenalanku! Ya ampun, aku hampir memeluknya tadi!” cerita Chanyeol panjang lebar, tak menyadari alis Heesuk yang semakin mengerut.

“Apa dia trainee?”

“Ya. Hampir tiga tahun, tapi aku baru tau kalau dia juga trainee disini. Kau tau kan bagaimana jadwal latihan kita?” Heesuk mengangguk, “dan akhirnya aku ngobrol panjang lebar dengannya.”

“Oh..” balas Heesuk. Baguslah, kupikir siapa.

“Tapi, tunggu dulu.”

“Hm?”

Chanyeol menatapnya dengan pandangan bertanya, “Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?”

PLAK!

Heesuk mendadak merasa bodoh.

Oh.. oh iya, ya.. batinnya. Aku datang kesini dengan muka cemberut, lalu bertanya siapa yang makan dengannya tadi pagi… astaga, Jung Heesuk! Apa yang kau lakukaaann?!

“Jawab aku, Jung. Aku tak suka menunggu” Chanyeol menyipitkan matanya.

“A-ah.. aku..” Heesuk merasa kehilangan kata-katanya.

“Oh! Aku tau! Jangan bilang kalau kau-” pemuda itu memajukan kepalanya. Heesuk mendadak merasa gugup.

“-kepo?”

Gadis itu mencerna ucapan Chanyeol. Kepo?

“Ke-kepo? Tidak, aku tidak kepo!” bantahnya.

“Lalu kalau bukan kepo, apa?” sahut Chanyeol cepat.

Heesuk berusaha merangkai kata-kata yang tepat, namun otak dan mulutnya sedang tidak sinkron sekarang. Hasilnya, yang keluar dari mulutnya hanya gumaman-gumaman tak jelas.

“A-aku harus kembali ke kelas!” pekiknya tiba-tiba.

Heesuk berdiri, kemudian menepuk-nepuk pipinya yang mendadak terasa hangat.

“Hei.”

Langkahnya terhenti.

“Jangan pergi dulu.”

Sialan, apa yang terjadi? Heesuk membatin mendengar panggilan Chanyeol.

“Kemarilah, duduk disini” gadis itu menatap lurus bola mata jernih si Park, “temani aku.”

“Temani?”

Chanyeol mengangguk. “Aku ingin mendengar suaramu.”

Heesuk merasa jantungnya berhenti berdegup sesaat, lalu kembali berdetak dengan cepat.

“Kau.. mau aku menyanyi?”

Chanyeol kembali mengangguk. “Aku akan mengiringimu” ia mengangkat sedikit gitar di pangkuannya.

“Kemarilah.”

Heesuk tak dapat menahan laju debaran jantungnya. Di depan sana, Chanyeol tersenyum padanya.

Manis, manis sekali.

.

.

.

To Be Continue

A/N:

Annyeong, aku kembali dengan fanfic baruuu… (backsound= reffnya exo-cbx: for you, OST Scarlet Heart).

Well, rasanya udah lama banget sejak update-an Lucky or Not? Chapter 2. Bukannya aku nggak mau bikinnya, bahkan plotnya udah selesai sampe tamat, loh! Tapi untuk beberapa alasan, aku putuskan untuk men-DISCONTINUE-kan ff itu.

Sebenernya, aku udah agak males en hilang semangat buat nulis lagi, tapi berkat pengalaman yang aku dapetin tiap hari, ide-ide baru mulai muncul di otak. Dan juga nggak lepas dari peran seorang temen di real life waktu jaman Lucky or Not?

“KAPAN MAU LU LANJUTIN, HAH? SEMINGGU SEKALI? MAKAN TUH ****!!”

Duh.

Sekalipun ngomongnya lewat chat, tapi kok rasanya pipi gua kayak ketampar beneran ya?

Ups, sori buat kata ‘gua’ di atas. Mau diapus lagi udah malas.

Dan akhirnya, fanfic ini dibuat begitu saja. Ribet mikirin judul, akhirnya nyomot judul dari lagu terbaru oppa-oppaku (nggak mau disebut. Udah cukup shock sama adengan **** antara Chanyeol ama si cewek Jepang). Btw, makasih banyak buat si desainer interior masa depan sama adeknya yang udah mau repot-repot bikinin cover buat aku *yeaayy!

Nah, makasih banyak udah mau capek-capek luangin waktu buat baca. Sampai ketemu di chapter dua! ^^ *lambaikan tangan.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s