[EXOFFI FREELANCE] Some Body (Chapter 9)

somebody-4

SOME BODY

Title: Some Body (chapter 9)

Author: Jung21Eun

Main Cast: Oh Hayoung (Apink), Oh Sehun (EXO), J-hope/Jung Hoseok (BTS).

Cast:

  • Son Naeun, Kim Namjoo (Apink)
  • Xi Luhan, Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jongin/Kai (EXO)
  • Park Jimin, Kim Taehyung/V, Jeon Jungkook (BTS)
  • Kim Nara, Lee Miju (Oc)
  • Park Jiyeon (T-ara)

Genre: School life, Friendship, Brothership, Romance(?), Sad.

Rating: PG-13

Length:  Chaptered

Disclaimer: Semua pemain bukan milik saya, tapi cerita ini milik saya.

Warning! Typo bertebaran!

Selamat membaca… ☺

Always pretending to be assertive, when alone

Pretending to be a strong woman,

sometimes all it really difficult

But if it’s you,

I really want to lean on you

Recommended Song:  I Need You – Apink, Don’t Think You Are Alone – Kim Bo Kyung.

*~*~*~*~*~*~*

Seoul, 2015

“AKHH!! Oe-oenni appo!!” seru Hayoung sambil menahan sakit dikarenakan lengannya yang tengah dipelintir oleh salah seorang yeoja diantara sekumpulan yeoja yang sedang mengerubunginya, sementara kakinya di injak oleh yeoja yang lainnya.

“Sekali lagi kau memanggilku dengan sebutan ‘oenni’, aku benar-benar akan membunuhmu.” Seru seorang yeoja yang berada didepan Hayoung yang tengah berdiri dengan posisi berlutut. Yeoja itu – Jiyeon adalah yeoja yang beberapa menit yang lalu ditabrak oleh Hayoung dan menjadi korban dari buble tea-nya Hayoung. Tapi bukankah itu berlebihan?

“Choe-choesonghamnida, Jiyeon sunbae.” Ralat Hayoung dengan mata yang terpejam karena ketakutan dan menahan rasa sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya. Yang benar saja, bukankah Hayoung baru saja bahagia karena keluar dari rumah sakit? Kenapa ia harus mengalami hal yang seperti ini yang kemungkinan besar akan membawanya ke rumah sakit lagi?

“Yak! Kalau mau minta maaf lakukan yang benar, sekiya!”

“Choesonghamnida—”

“Kalian pikir apa yang sedang kalian lakukan? Lepaskan yeoja itu sekarang!” seorang yeoja memotong kalimat minta maaf Hayoung membuat Jiyeon dan keempat temannya menoleh kearah yeoja itu, kecuali Hayoung yang masih menundukkan kepalanya namun didalam hatinya ia sangat berterimakasih kepada Tuhannya yang telah mengirimkan seseorang untuk menolongnya walaupun orang itu bukanlah orang yang berada dipikirannya.

“Apa urusanmu?”

“Kubilang lepaskan yeoja itu!!!” Seru yeoja itu lantang, yeoja itu hanya menatap lurus ke arah Hayoung yang masih ditekan bahunya dan tidak menggubris pertanyaan Jiyeon sama sekali. Teman-teman Jiyeon yang tengah menekan bahu Hayoung pun melepaskan tangan mereka dari tubuh Hayoung, membuat Jiyeon yang melihat itu geram seketika. Sementara Hayoung hanya terduduk lemas dan menghela nafas lega.

“Sekarang giliranku yang bertanya.” Jiyeon melangkahkan kakinya secara perlahan ke arah yeoja yang baru saja menghancurkan kesenangannya dan berhenti tepat 1 meter dari yeoja itu yang hanya menyilangkan kedua tangannya serta memandang Jiyeon dengan tatapan malas seakan akan menantang Jiyeon. “Kau pikir apa yang baru saja kau lakukan hah?”

“Apa kau tidak bisa melihatnya? Apa kau buta? Aku baru saja menjadi pahlawan untuk yeoja itu.” jawab yeoja itu tanpa merasa takut sama sekali.

“Memangnya kau siapanya dia?”

“Aku memang bukan siapa-siapanya dia. Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali.” Jawab yeoja itu jujur tanpa menghilangkan kharismanya.

“Lalu?”

“Aku hanya menolongnya saja.”

“Hahaha… yak! Kau benar-benar lucu.” Seru salah seorang teman Jiyeon – Hwang Soomin yang hanya disambut sebuah senyuman miring oleh yang lain.

“Memangnya apa yang lucu dari itu? Selera humormu benar-benar buruk.”

“Tindakan sok pahlawanmu itu lucu sekali. Sebaiknya kau pergi saja sebelum kau menyesal.” Sahut teman Jiyeon yang lain – Lee Yoojung.

“Aku tidak akan pergi.”

“Yeoja ini benar-benar berani. Baiklah, jika itu yang kau mau. Aku akan mengabulkannya.”

Jiyeon mulai memajukan langkahnya ke arah yeoja itu, namun yeoja itu tetap tenang ditempat tanpa merasa risih dengan Jiyeon yang menatap tajam ke arah mereka. Jiyeon memiringkan senyumannya meremehkan yang masih kokoh ditempatnya, disaat Jiyeon sudah melangkan tangan kanannya yang ingin menampar pipi mulus yeoja itu, tangan Jiyeon ditahan oleh seseorang. lalu orang itu memelintirkan tangan Jiyeon sama seperti yang teman-teman Jiyeon lakukan kepada Hayoung tadi, membuat Jiyeon merintih kesakitan.

Teman-teman Jiyeon yang melihat itu pun langsung meninggalkan Hayoung dan segera berlari ke arah Jiyeon untuk membantu Jiyeon. Melihat teman-teman Jiyeong yang mendekat, orang itu pun mendorong Jiyeon sampai Jiyeon terjatuh ke atas permukaan yang membuat sebuah lecetan dilututnya.

“YAK!!”

Orang itu hanya tersenyum miring melihat Jiyeon yang tidak terima telah diperlakukan seperti itu, begitu juga dengan yeoja yang sedari tadi masih tenang ditempatnya.

“Kau akan menyesal telah melakukan hal itu karena aku akan menuntutmu.” Ujar yeoja itu dengan tenang, seperti tidak ada apapun yang terjadi tadi. “Ani, saat ini kau pasti merasa menyesal karena berusaha menyentuhku kan?”

“Ani, aku tidak merasa menyesal sedikit pun. Lagipula kau tidak akan bisa menuntutku karena kau hanyalah seorang yeoja yang tidak tahu apa-apa.” Dibantu oleh keempat temannya, Jiyeon pun akhirnya bisa berdiri dengan tegap dan menatap lurus yeoja itu. Jiyeon terus saja melawan perkataan yeoja itu tanpa memerdulikan lututnya yang mulai mengeluarkan sebuah cairan berwarna merah.

“Memangnya apa yang tidak untuk putri seorang jaksa?” Jiyeon dan teman-temannya tidak dapat berkutik lagi begitu mendengar kata ‘jaksa’ didalam kalimat yeoja itu. “Jadi bagaimana? Kalian yang pergi atau aku akan mengatakan semuanya kepada appaku?”

Jiyeon menggeram didalam hatinya karena yeoja itu memberikan dua pilihan yang tidak ada satupun diantara dua pilihan itu disukai oleh Jiyeon. Jiyeon memberikan kode kepada keempat temannya. Lalu didetik berikutnya, Jiyeon dan teman-temannya melangkahkan kaki mereka pergi dari tempat itu. disaat Jiyeon melewati yeoja yang menantangnya tadi, Jiyeon sengaja menabrak bahu yeoja itu sehingga yeoja itu hampir terjatuh jika saja yeoja itu tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya dengan kilat.

“Boomi oenni, bagaimana mungkin ada yeoja seperti itu di bumi ini?” tanya yeoja itu kepada seseorang yang membantunya tadi – Yoon Boomi. Yeoja itu hanya merasa tidak terima dengan perlakuan Jiyeon kepada dirinya tadi, dan sebenarnya disaat dirinya yeoja itu terus menelan rasa kekesalannya demi membangun kharismanya.

“Molla. Karakter setiap orang itu bermacam-macam, Naeun-ah. Mungkin ada beberapa karakter mereka yang kau benci. Dan yeoja itu salah satunya.” Jawab Boomi sambil terus menatap arah yang sama dengan yeoja itu – Son Naeun, yaitu punggung Jiyeon yang semakin menjauh.

“Ahh, lupakan saja. Oenni sudah memanggil ambulan kan?”

“Iya, mereka sedang dalam perjalanan kemari. Mungkin sebentar lagi mereka sampai.”

“Baiklah.” Naeun membalikkan tubuhnya dan matanya menangkap Hayoung yang tertidur lemah dengan keadaan yang menyedihkan. “Kasihan yeoja itu.”

“Iya. Kasihan yeoja secantik itu harus mendapat perlakuan seperti tadi. Kau juga kasihan, kau baru saja pulang dari Amerika tapi harus menemukan kejadian seperti ini dinegeri asalmu. Lagipula, tindakanmu tadi gila. Kau terus melawan mereka tanpa memerdulikan tatapan tajam mereka. Daebak! Kau semakin berkembang.” Komentar Boomi panjang lebar memandang iri Naeun yang hanya membusungkan dadanya, menyombongkan dirinya yang baru saja dipuji oleh sepupunya.

“Itu biasa saja.”

“Lain kali jangan seperti itu, itu berbahaya. Apalagi kalau aku tidak ada disampingmu, siapa yang akan menjagamu?” Boomi memberikan nasihat kepada Naeun, namun Naeun hanya mendengus jengkel dengan nasihat yang sama yang selalu Boomi berikan kepadanya apabila ia menolong seseorang. Boomi benar-benar menjaganya dengan baik tanpa ada luka sedikitpun ditubuhnya.

“Aku hanya ingin menolong mereka. Bahkan terkadang aku ingin sekali memberikan kehidupanku yang serba mewah ini kepada mereka.”

“Aku tahu kau sama seperti ayahmu. Tapi jangan sampai kau memasuki sebuah lubang dan terjebak didalamnya hanya karena kau menolong mereka.”

“Apa-apaan itu? Kenapa menolong orang saja harus sampai segitunya? Sepertinya kau menganggap menolong orang lain itu menjijikkan.”

“Lupakan! Berdebat denganmu tidak akan selesai. Lagipula ambulannya sudah hampir sampai.”

***

Sehun pov

Aku menghentikan laju motorku dan memarkirkannya secara asalan didepan sebuah rumah minimalis milik Chanyeol hyung dan keluarganya. Ahh… senangnya. Pesta yang tadi tengah kami persiapkan sudah selesai, persiapannya berjalan dengan cepat karena jumlah kami cukup banyak untuk saling membantu. Dan sekarang, karena aku adalah oppanya Hayoung, aku bertugas untuk menjemput Hayoung dirumah. Aku tidak dapat menyembunyikan senyumanku, membayangkan Hayoung yang akan tersenyum begitu ia datang ke pesta yang telah kami persiapkan.

“Oppa!!” Aku mengalihkan pandanganku ke sumber suara. Netraku menangkap seorang yeoja berambut coklat berlari ke arahku dengan senyuman manis yang terpatri diwajahnya, senyuman yang sudah lama tidak dia berikan kepadaku, senyuman milik adikku – Oh Hayoung. Membuatku secara spontan menarik kedua sudut bibirku, membalas senyumannya.

“Hayoung-ah!”

“Kenapa oppa lama sekali? Aku kebosanan.”

“Mian. Kalau begitu, sebagai bayarannya, kau mau ikut denganku?” tawarku yang dibalas tautan alis oleh Hayoung.

“Kemana?”

“Ke suatu tempat yang menyenangkan.”

“Tentu saja.” Balasnya, tak lupa sebuah senyuman bahagia yang dibuatnya. Dia pun melangkahkan tungkainya dan naik ke atas motorku.

Namun sayangnya itu semua hanyalah ekspektasiku.

Realitanya?

Tidak ada apapun yang terjadi kepadaku. Tidak ada Hayoung disini. Aku hanya turun dari motorku dan melangkahkan kakiku menaiki teras rumah Chanyeol hyung. Namun begitu aku membuka pintu rumah, senyuman sedikit luntur begitu melihat keadaan rumah yang gelap tanpa penerangan kecuali dari sinar matahari yang masuk melalui celah-celah, tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Aku mencoba ber-positive thinking, mungkin Hayoung sedang tidur dikamar.

Aku pun segera berlari ke kamar Chorong noona dengan senyuman yang kembali muncul diwajahku dengan harapan Hayoung benar-benar ada disana. Namun senyumanku lagi-lagi harus luntur begitu sampai ke kamar Chorong noona karena kamar itu bersih dan rapi tanpa satu pun manusia yang berada didalamnya. Hatiku mencelos begitu saja dengan sebuah tanda tanya besar dikepalaku.“Dimana Hayoung?”

“Hayoung-ah!!”

“Hayoungiie!!!”

Aku berlari ke seluruh penjuru rumah sambil terus meneriakkan nama adikku, berharap ia menjawab panggilanku dan muncul dihadapanku agar aku bisa segera membawanya ke pestanya dan tersenyum bersama. Namun hasilnya nihil, tidak ada satu pun panggilanku yang dijawab.

Aku menghentikan lariku. Lalu menyandarkan punggungku ke dinding putih rumah yang terasa dingin begitu kulit putihku yang berlapis kain abu-abu yang agak tipis menyentuhnya dan memerosotkan tubuhku hingga terjongkok dilantai yang terasa dingin juga. Netra coklatku hanya menatap kosong ruang keluarga yang menjadi tempat pemberhentianku. Pikiranku buntu, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu bergetar disaku celanaku. Kurogoh saku celanaku dan mengeluarkan sebuah benda persegi panjang yang lumayan tipis yang bergetar sedari tadi. Aku melirik layar handphoneku yang menampilkan nama ‘Luhan hyung’ yang menelponku. Aku pun menggeser sebuah tombol hijau yang tersedia disisi kanan layar handphoneku dan mengangkat panggilan itu.

“Yak! Oh Sehun! Kenapa kau lama sekali sih?! Sebenarnya pestanya itu jadi atau nggak sih?! Kenapa Hayoung belum kau jemput?!” amuk Luhan hyung begitu aku mengangkat panggilan itu.

Aku berdecak kesal, kalau tahu akan begini jadinya, aku tidak akan mengangkat panggilan telepon ini. Namun sayangnya, aku tidak pernah tahu rencana Tuhan, membuatku hanya bisa pasrah dan berjalan diatasnya.

Tunggu dulu, bukankah ini adalah Luhan hyung? Mungkin aku bisa menceritakan soal Hayoung kepadanya.

“Hyung, Hayoung tidak ada dirumah. Hayoung hilang.”

“Mwo?! Yang benar saja kau, Sehun-ah. Ini bukan waktunya bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

“Haishh, memangnya apa yang kau lakukan kepada Hayoung hah?”

“Molla. Aku tidak tahu apa salahku. Aku juga tidak tahu harus berbuat apa.” Dan karena itu, aku merasa seperti anak kecil yang tidak berguna, sama seperti beberapa tahun yang lalu.

“Kau sudah menghubungi ponselnya?”

Ponsel? Oh iya, kenapa aku tidak menelpon ponselnya saja sedari tadi? bukankah itu akan lebih mudah?

“Belum.”

“Yak! Pabo! Pantas saja Hayoung membencimu. Kau benar-benar oppa yang tidak berguna.”

“Hyung.” Haishh… Bukannya membantuku, tapi dia malah membuatku semakin terpuruk saja.

“Pertama, hubungi Hayoung dulu.”

“Bagaimana kalau dia tidak akan menjawabnya?” menghubunginya? Aku tidak terlalu yakin. Karena terakhir kali ekspresi wajah yang ia berikan kepadaku adalah ekspresi wajah yang dingin, ekspresi yang selalu ia berikan kepadaku.

“Kenapa kau pesimis sekali hah? Hubungi saja dulu sambil mencarinya!”

“Ne, hyung.”

“Kami juga akan berpencar mencarinya, arasseo?!”

“Ne, komawo hyung.”

Tuut… tuut…

Aku menarik kedua sudut bibirku dan segera bangkit dari keputus asaanku. Aku harus mencari Hayoung. Aku tidak boleh kehilangan dia. Aku berlari keluar rumah dan menaiki motorku setelah aku menutup pintu rumah dengan baik.

Hayoung-ah, tunggu oppa. Oppa akan mencarimu dan oppa juga akan mengembalikan senyumanmu. Oppa berjanji.

Sehun pov end

***

Lagi, yeoja ini harus berbaring lemah diranjang rumah sakit dengan tangan kirinya yang terdapat bekas suntikan jarum yang disambung dengan pipa tempat cairan infuse mengalir kesana. Oh Hayoung. Padahal belum satu hari Hayoung keluar dari rumah sakit tempat dirinya dirawat tadi pagi, lagi-lagi ia harus berada didalam lingkungan yang kurang ia sukai ini, namun kali ini bukan karena obat tidur, tapi karena ulah Park Jiyeon dan teman-temannya.

“Lengannya hampir patah, bisa dibilang keseleo. Dari lutut hingga kaki bagian bawahnya terdapat banyak luka kecil. Dia harus istirahat disini sampai cairan infusnya habis dan dia merasa lebih baik.” Jelas seorang namja yang menggunakan jas putih panjang sebatas lututnya yang biasa kita kenal dengan seorang dokter, kepada seorang yeoja yang hanya memandang lurus kea rah Hayoung yang tertidur. Dokter itu pun mengikuti kemana arah pandangan yeoja itu.

“Kali ini apa, Naeun-ah?” Tanya dokter itu meminta penjelasan. Terlihat dari cara dokter itu memanggil yeoja yang berada dihadapannya itu, sepertinya hubungan mereka cukup dekat atau bisa juga sangat dekat.

“Aku menemukannya dibully disebuah gang sempit. Aku tidak kenapa dia bisa dibully. Yang jelas bukan karena yeoja ini miskin, karena terlihat dari cara berpakaian yeoja ini, dia termasuk yeoja yang mampu. Tapi tadi aku sempat mendengar ia meminta maaf, dan memanggil orang yang membully-nya dengan sebutan ‘oenni’, kurasa dulu mereka cukup dekat.” Jelas Naeun tanpa mengalihkan pandangannya dari Hayoung sambil mengingat kejadian tadi. “Aku rasa yeoja ini sempat membuat kesalahan atau entahlah, tapi kenapa orang itu malah membully-nya? Apa tidak ada cara lain untuk menyelesaikannya?”

Mengingat bagaimana gang sempit tempat Hayoung dibully, Naeun hanya mendengus kesal. “Tapi sepertinya tempat itu benar-benar cocok untuk membully seseorang. Tempat itu jauh dari keramaian dan sepi. Keurigu, aku juga menemukan beberapa bekas darah disana. Apakah aku harus menghancurkan tempat itu agar tidak ada lagi yang dibully?” komentar Naeun panjang lebar dengan perasan kesal yang membara.

“Woah… dongsaengku benar-benar yang terbaik.”

“Tentu saja, aku adalah Son Naeun. Anaknya Son Seung Duk, seorang jaksa terkenal. Dan adiknya Son Dongwon, dokter hebat yang berada dihadapanku ini.” Pamer Naeun dengan dagu yang sengaja ia angkat menyiratkan sebuah kesombongan yang tidak berarti disana.

“Kau selalu saja menyombongkan hal itu. Kau tidak bosan?” Tanya dokter itu – Dongwon.

“Ani. Aku tidak akan pernah bosan menyombongkan itu karena kalian yang terbaik.”

Cukup lama Dongwon menatap lembut kedua mata hazel Naeun seakan akan memberi yeoja itu sebuah kehangatan. Lalu, Dongwon membelai lembut surai hitam panjang milik Naeun. “Kau semakin kuat sejak eomma pergi.”

“Ah, mwoya… jangan membahas itu. Aku bukan anak yang lemah.” Dengan kesal, Naeun melepaskan tangan oppanya yang berada dirambutnya.

“Baiklah. Tapi mianhee, kau baru saja kembali dari Amerika namun kau harus disambut dengan kejadian seperti itu.” Ujar Dongwon lemah merasa prihatin dengan adiknya yang terlalu baik.

“Gwenchana. Aku sudah terbiasa dengan itu.” Naeun menambahkan senyuman tipisnya yang meyakinkan oppanya bahwa ia baik-baik saja dengan itu.

“Kalau begitu, welcome back sis.”

“Chogi…” panggil seseorang membuat kakak beradik Son itu menghentikan perbincangan mereka dan mengalihkan pandangan mereka ke orang itu yang ternyata adalah salah satu perawat dirumah sakit itu, terlihat dari seragamnya yang juga dipakai oleh beberapa orang yang bekerja dirumah sakit ini. “Dr. Son, anda dipanggil oleh kepala.”

“Baiklah, aku akan segera kesana.” Jawab Dongwon tegas. Lalu Dongwon kembali menatap lembut adiknya dan mengusap kepala yeoja itu. “Oppa pergi dulu.”

“Iya, fighting oppa!”

Detik berikutnya, Dongwon melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu meninggalkan Naeun berdua dengan Hayoung yang masih tertidur. Naeun kembali mengalihkan pandangannya ke Hayoung, walaupun Hayoung hanyalah orang yang asing baginya. Naeun sudah terbiasa dengan hal ini, ia sudah beberapa kali membawa seseorang dengan tubuh yang penuh dengan luka, dimana pun dan kapanpun.

Drrtt… drrtt…

Gendang telinga Naeun dapat menangkap sesuatu mengeluarkan sebuah bunyi seperti nada panggilan telepon. Naeun pun mengalihkan pandangannya ke sumber suara yang ternyata berasal dari handphone milik Hayoung yang tergelatak di meja nakas disamping ranjang tempat Hayoung berbaring.

Naeun mengulurkan tangannya meraih benda persegi panjang yang canggih itu dan melirik sebuah nama yang tertera dilayar handphone Hayoung. “Oh Sehun? Mungkin ini keluarganya. Baguslah.” Naeun menekan tombol hijau yang tersedia disana lalu menggesernya ketengah untuk mengangkat panggilan itu.

“Yeoboseyo.”

“Hayoung-ah! Kau dimana?” Naeun sedikit menjauhkan handphone itu dari telinganya begitu telinganya menangkap suara berat yang berteriak dari seberang sana.

Tidak sopan sekali orang ini. Batin Naeun mendengus kesal.

“Anda siapa? Apakah anda keluarga pasien?” Tanya Naeun sopan. Walaupun agak kesal dengan orang itu, setidaknya Naeun masih memiliki tata karma yang baik.

“Pasien?” Naeun dapat mendengar nada kebingungan yang tersirat disana. Mungkin hal itu wajar, disaat kita akan menelpon seseorang tapi malah dijawab oleh orang lain.“Anda siapa?”

“Tolong jawab pertanyaan saya dulu!” bentak Naeun dengan tingkat kesabaran yang sudah menipis.

“Baiklah, saya Oh Sehun. Oppanya Oh Hayoung.”

“Jadi nama yeoja ini Oh Hayoung.” Gumam Naeun, memalingkan pandangannya ke arah Hayoung sebentar.

“Anda siapa?”

“Saya Son Naeun. Tadi saya menemukan adik anda sedang dibully oleh seseorang, jadi saya membawa dia ke rumah sakit.” Jelas Naeun singkat.

“Mwo? Rumah sakit mana?” lagi. Naeun dapat mendengar sebuah nada kebingungan disana namun kali ini ditambah dengan nada kekhawatiran.

“Internasional Seoul Hospital, dibagian UGD.”

“Terimakasih atas informasinya.”

Tuut… tuut…

“Oppa…” telinga Naeun menangkap sebuah gumaman. Naeun pun mengalihkan pandangannya ke sumber suara setelah kembali meletakkan handphone Hayoung diatas meja nakas. “Sehun oppa…” Naeun melirik ke arah Hayoung yang ternyata hanya mengigau.

“Gwenchana, oppamu akan segera datang.”

***

Seorang namja melangkahkan kaki panjangnya dengan langkah yang besar disetiap langkahnya disertai dengan kecepatannya yang tidak seperti biasanya atau bisa dibilang namja itu tengah berlari diantara beberapa orang yang berlalu lalang diatas lantai putih itu, terkadang namja itu menabrak bahu seseorang dan segera meminta maaf kepada orang itu lalu kembali melanjutkan larinya.

Akhirnya namja itu – Sehun berhenti disebuah tempat yang terdapat banyak tirai yang tertutup disana dan mengambil nafas untuk menenangkan dirinya yang baru saja berlarian tadi.

Sehun melanjutkan langkahnya ditempat itu, ada beberapa tirai yang terbuka menampilkan sebuah ranjang yang kosong, sementara beberapa tirai lainnya ada yang tertutup untuk menandai privasi pasien yang menumpang disana. Namun Sehun malah menyibak beberapa tirai yang tertutup itu dan segera meminta maaf begitu mengetahui bahwa pasien yang berada disana bukanlah seseorang yang Sehun cari.

Sampai akhirnya Sehun menyibak satu lagi tirai rumah sakit yang menampilkan seorang pasien tengah terbaring lemah diranjang rumah sakit. Sehun menghela nafas lega, karena pasien itulah orang yang ia cari sedari tadi. Sehun kembali melanjutkan langkahnya

“Hayoung-ah. Oppa datang.” Sehun membelai lembut surai coklat panjang pasien itu – Hayoung, membuat si empunya sedikit terusik. Sehun pun menghentikan pergerakannya dan menarik tangannya dari kepala Hayoung, begitu melihat Hayoung yang merasa sedikit terganggu.

Tiba-tiba Naeun datang dari arah yang sama dengan Sehun tadi, dan sedikit terkejut dengan kehadiran seseorang disana begitu juga dengan Sehun. “Anda siapa?” tanya mereka serempak. Membuat mereka terdiam sejenak untuk mempersilahkan lawan bicara untuk bertanya terlebih dahulu. Namun karena tidak kunjung ada yang bertanya, Naeun dan Sehun pun kembali melanjutkan.“Saya…”

“Anda saja dulu.” Ujar Naeun mempersilahkan Sehun untuk berbicara.

“Saya Oh Sehun, oppanya Oh Hayoung. Anda siapa?”

“Ooh, jadi anda oppanya. Saya Son Naeun.”

Sehun berusaha mengingat sesuatu begitu mendengar nama ‘Son Naeun’. Ia merasa familiar dengan nama itu. padahal beberapa saat yang lalu mereka saling bercakap didalam telepon. “Kau pasti orang yang telah menolong Hayoung.”

“Ne, annyeong haseyo. Senang bertemu denganmu.”

“Nado, annyeong. Terima kasih karena telah menyelamatkan Hayoung.”

“Lain kali, jangan tinggalkan dia sendirian didunia yang keras ini.”

“Terima kasih atas nasihatnya. Aku akan menjaganya baik-baik.” Sehun menundukkan kepalanya sejenak sebagai tanda terima kasihnya. Padahal sebenarnya Sehun merasa malu kepada dirinya sendiri, karena orang yang baru saja ia temui sudah memberikan nasihat yang menyindir dirinya.

Sehun melangkahkan kakinya melewati Naeun, membuat yeoja itu keheranan. Padahal baru beberapa menit yang lalu Sehun sampai ke sini, namun sekarang namja itu mau pergi lagi?

“Anda mau kemana?” Tanya Naeun bingung. Netra yeoja itu mengikuti langkah Sehun yang akan pergi dari tempat itu.

“Saya ingin membayar uang administrasinya.”

“Saya rasa anda tidak perlu melakukan hal itu, karena saya sudah membayarnya.”

“Hah?”

“Apa ada yang salah?”

“Ani. Terima kasih karena telah membayarnya. Dan maaf karena telah merepotkan anda.” Sehun membungkukkan kepalanya dengan sopan beberapa kali yang dibalas sebuah anggukan oleh Naeun.

“Tidak apa-apa kok. Saya sudah terbiasa dengan ini.”

“Sekali lagi terima kasih. Anda benar-benar orang yang baik.”

“Terima kasih kembali.”

***

Hayoung’s dream

Do not think you are alone, do not cry and said it was difficult. You and I, we know it. Lean on my back if you want to survive in this world. You will give me a great dream. (Don’t Think You Are Alone – Kim Bo Kyung)

Lagi. Aku berada disini lagi, disebuah ruangan yang gelap seorang diri. Dan sekali lagi aku takut untuk melangkah, karena aku takut akan tersesat ditempat yang sama sekali tidak kuketahui ini. “OPPA!!” aku berteriak memanggil oppaku, entah itu adalah Kyungsoo oppa atau J-hope oppa atau… Sehun? Ani, aku tidak bermaksud memanggil Sehun.

“Hayoung-ah!”

Samar-samar aku dapat mendengar seseorang memanggil namaku. Aku menarik kedua sudut bibirku. Oppa menjawabku, aku tidak sendirian.

Suara berat itu…

“Se—”

Aku menggelengkan kepalaku cepat. Ani, orang itu tidak mungkin Sehun. Maldo andwae! Sehun tidak pernah ada untukku. Sehun tidak pernah perduli kepadaku, bahkan jika aku dibully didepannya, ia akan lebih memilih kegengsiannya dan segera pergi dari sana. Dan pernah beberapakali ia berpartisipasi dalam pembully-an itu, membuat hatiku benar-benar sakit.

Kegengsian membutakannya, dan menganggap diriku bukanlah siapa-siapanya, menganggap diriku hanyalah yeoja lemah yang menjijikkan.

Orang itu pasti bukan Sehun, pasti itu orang lain.

“J-hope oppa!”

Tiba-tiba sebuah sinar muncul didepanku, membuatku menutup kedua mataku karena kesilauan. Sinar itu membentuk sebuah siluet seorang namja. Tapi namja itu  bukan J-hope oppa, seperti yang kubayangkan. Namja itu adalah namja yang lain. Aku hanya menautkan alisku ketika namja itu mengulurkan tangan kanannya kehadapanku

“Ayo pulang.”

Hayoung’s dream end

***

“Oppa…” gumam Hayoung dengan mata yang masih tertutup, namun berhasil membuat Sehun terbangun dari lamunannya dan menjadi orang pertama yang menghampiri ranjang Hayoung, membuat yang lain juga ikut menghampiri dan mengelilingi ranjang Hayoung.

“Hayoung-ah!” Sehun menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman langka yang iaberikan kepada Hayoung, karena ia pikir Hayoung sudah mau memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’.

“J-hope oppa…”

Namun senyuman itu luntur seketika. Ternyata Hayoung masih belum mau memanggil Sehun dengan sebutan ‘oppa’. Sementara Hayoung mulai membuka matanya dan mengerjapkan kedua matanya untuk memfokuskan pandangannya yang cukup buram.

“Hayoung-ah, akhirnya kau bangun juga.” Sahut J-hope dengan senyuman cerah yang mengembang diwajahnya seperti biasa.

Hayoung mencoba bangun dari tidurnya, namun karena tubuh Hayoung yang masih lemah, Hayoung merasa kesulitan untuk bangun. Sehun yang berada disamping Hayoung pun, membantu adiknya untuk duduk bersandar pada kepala kasur. Ironisnya, setelah itu Hayoung tidak mengucapkan kata ‘terima kasih’ kepada Sehun ataupun menatap namja itu, membuat Sehun kecewa. Sementara J-hope yang melihat ekspresi itu, hanya menepuk pelan bahu Sehun, seakan akan berkata ‘gwenchana’.

“Aku ada dimana? Bagaimana kalian semua bisa ada disini?”

“Kau ada dirumah sakit.” Jawab Namjoo yang berada disebelah kanan Hayoung.“Keurigu, bagaimana mungkin kami akan membiarkanmu sendirian disini?” canda Namjoo dengan senyum sumringahnya. Sementara Hayoung hanya menatap kosong teman-temannya (walaupun sebagian besarnya adalah temannya Sehun) yang mengelilinginya. Matanya memanas, entah apa yang sedang Hayoung pikirkan, beberapa cairan bening berkumpul dipelupuk matanya.

“Hayoung-ah, ada apa? Apakah masih sakit?” tanya Nara begitu netranya mendapati setetes air mata mengalir dipipi Hayoung.

“Masih. Rasanya sakit.”

“Apakah mau kupanggilkan dokter?” tawar Miju.

“Ani! Aku tidak membutuhkan mereka.”

“Hayoung-ah, kenapa kau menangis?” tanya Namjoo khawatir, melihat Hayoung yang mulai meneteskan beberapa liquid bening dari pelupuk matanya.

“INI SEMUA KARENA KALIAN!! Dasar nappeun saram!!”

Mereka semua tersentak kaget begitu juga dengan J-hope, yang tidak dapat menyangka bahwa dirinyalah yang membuat Hayoung menangis tanpa mengetahui penyebabnya.

“H-hayoung-ah.” Hayoung hanya melirik tajam kea rah J-hope, membuat si empunya terkejut dan salah tingkah karena ditatap seperti itu oleh adiknya.

“Oppa!! Kenapa kau tidak menjawab panggilanmu?! Aku sudah menelponmu beberapa kali, tapi kenapa tidak kau jawab?! Kau juga, Namjoo-ah!!” seru Hayoung penuh dengan emosi yang ia tahan sedari tadi.

“Hayoung-ah…”

“Kupikir aku akan sendirian lagi… Kupikir kalian akan meninggalkanku…” gumam Hayoung melemah dengan wajah yang tertunduk dan tangisan yang tidak dapat lagi ia tahan, menyebabkan air mata itu membasahi baju dan selimut yang digunakannya.

“Mianhee.” Namjoo memajukan tubuhnya untuk memberikan pelukan hangat kepada Hayoung, mengelus lembut punggung yeoja itu, memberikannya ketenangan. Hayoung membalas pelukan itu dan membasahi pundak Namjoo dengan air matanya.

“Kupikir aku akan sendirian lagi…”

“Ani. Kau tidak akan sendirian.”

“Kupikir kau akan meninggalkanku lagi…”

“Ani. Itu tidak akan terjadi. Kami akan bersama denganmu selamanya.”

“Jangan tinggalkan aku sendirian… Jebal…”

Mendengar penuturan Hayoung, mereka pun beranjak memeluk Hayoung beramai-ramai, berusaha meyakinkan Hayoung bahwa dia tidak akan sendirian lagi mulai sekarang dan menenangkan yeoja itu.

***

Sebuah kendaraan dengan dua buah roda hitam yang terus berputar diatas aspal hitam dengan kecepatan sedang, membawa sang pengendara dan penumpangnya membelah jalanan kota Seoul. “Oppa.” Panggil sang penumpang menghancurkan keheningan diantara mereka.

“Hmm? Ada apa Hayoung-ah?” respon J-hope sang pengemudi motor tanpa menghilangkan fokusnya dari jalan.

Hayoung menempelkan kepalanya di punggung J-hope, merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan dari seseorang yang ia harapkan. “Punggungmu sangat nyaman. Aku menyukainya.”

“Jinjayo?”

“Iya.”

“Woah… kau membuat hidungku mengembang. Kau boleh bersandar disana. Atau kalau kau mau, kau boleh bersandar dibahuku juga.” ujar J-hope dengan nada candaannya seperti biasa untuk mencairkan suasana, membuat Hayoung sedikit terkekeh.

“Komawo oppa.”

Setelah itu, mereka kembali membiarkan diri mereka tenggelam kedalam pikiran masing-masing, membiarkan keheningan menyergap mereka, membiarkan angin menerbangkan surai coklat panjang milik Hayoung yang memang tidak memakai helm. Sampai akhirnya, J-hope pun memberhentikan laju motornya didepan sebuah gedung.

“Cha, kita sudah sampai. Turunlah!” seperti yang disuruh oleh J-hope, Hayoung pun melompat turun dari atas motor. Sementara J-hope beranjak memarkirkan motornya diantara beberapa motor lainnya yang berjejeran.

“Bukankah ini basecamp kalian?” Tanya Hayoung setelah memperhatikan gedung yang berada didepannya ini. karena Hayoung merasa, dirinya pernah ketempat ini menemani seseorang.

“Kau masih mengingatnya?”

“Tentu saja. Aku kan si pintar, Oh Hayoung.” Hayoung mengangkat dagunya serta mengibaskan rambut coklatnya, menyiratkan sebuah kesombongan disana karena memang dirinya lebih pintar dari J-hope.

“Cih! Sombong sekali kau sekarang. bahkan kau tidak mengingatku disaat kita pertama kali bertemu.” Ledek J-hope sambil berkacak pinggang.

“Itu karena kau menghilang selama… 1 tahun.”

“Yak! aku tidak menghilang!” sanggah J-hope tak terima dengan pernyataan yang dikatakan oleh Hayoung.

“Lalu?”

“Aku hanya pergi sebentar.”

“Sama saja. Kau menghilang dari hadapanku.”

“Kau tidak marah kan?” Tanya J-hope ragu-ragu, takut kalau sebenarnya Hayoung masih marah kepadanya.

“Kau baru menanyakannya sekarang?” Tanya Hayoung balik disertai tatapan tidak percayanya. Setelah beberapa bulan yang lalu mereka kembali bertemu dan bersahabat seperti dulu, J-hope baru menanyakannya sekarang? Mengenai apakah Hayoung marah kepadanya atau tidak?

“Mianhee…”

“Yak! hentikan itu! Aegyo-mu buruk sekali!”

“Aku tidak akan berhenti sebelum kau memaafkanku.”

“Ah! Lupakan saja! Aku tidak pernah bisa marah kepadamu. Sekarang, hentikan itu!”

“Arasseo.” Sesuai yang diperintahkan oleh dongsaengnya, J-hope pun menghentikan kegiatannya itu. Setelahnya, tiba-tiba saja J-hope merangkul leher putih Hayoung dengan beberapa helai rambut terselip disana, membuat si empunya keheranan. “Ayo masuk!”

“Seharusnya kau membawaku pulang. Bukan ke—”

Kalimat Hayoung terpotong begitu saja ketika mereka berdua telah memasuki basecamp J-hope dan teman-temanny. Netra coklat Hayoung menangkap sebuah ruangan atau basecamp-nya J-hope yang telah dihias sedemikian rupa dan beberapa orang yang telah menunggunya disana, begitu juga dengan beberapa helai kertas kilap yang sengaja dilayangkan ke arah Hayoung.

“Mwoya ige?”

“SURPRISE!!!”

Hayoung terkejut? Tentu saja. Namun kali ini keterkejutan itu disertai rasa haru dan bahagia melihat Namjoo dan yang lainnya berkumpul disana disertai sebuah banner yang cukup besar bertuliskan ‘SELAMAT KEMBALI KE RUMAH HAYOUNG-AH!!’ dan ‘KAMI SEMUA MERINDUKANMU!’.

Namun tatapan Hayoung terpaku pada sebuah banner bertuliskan ‘SARANGHAEYO’ yang dipegang oleh seorang namja yang sedarah dengannya. Tanpa Hayoung sadari, dirinya menarik kedua sudut bibirnya, membuat sebuah senyuman tulus nan indah yang ia berikan kepada Sehun – oppanya. J-hope beserta yang lain yang melihat hal itu tersenyum lega, tanpa terkecuali Sehun sendiri. Apakah Hayoung sudah mulai menerima Sehun?

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.24 KST yang artinya hari sudah semakin sore dan matahari pun semakin mengarah ke arah barat berniat menyinari bumi bagian yang lain. Acara itu akhirnya selesai dengan sukses karena mereka berhasil membuat Hayoung kembali bahagia seperti semula, dan kini saatnya untuk pulang kerumah masing-masing.

“Hayoung-ah, aku pergi dulu ya.” Pamit Namjoo yang sudah berada diatas motor milik seorang Kim Taehyung yang akan mengantarkan yeoja itu pulang.

“Ne, hati-hati.” Balas Hayoung disertai senyuman tipisnya. Namun didetik berikutnya ia mengubah air mukanya dan menatap Taehyung tajam. “Yak, Kim Taehyung! jaga Namjoo baik-baik. Jika aku melihat satu saja luka pada Namjoo besok, kau akan mati.”

“Ne, saya mengerti Nyonya Oh.” Balas Taehyung dengan suara beratnya. Taehyung pun menyalakan mesin motornya dan mengendarakannya meninggalkan beberapa orang yang tersisa disana termasuk Hayoung.

Hayoung mengalihkan pandangannya kea rah J-hope yang masih setia bercerita dengan Sehun, Baekhyun, Chanyeol, Jimin dan Jungkook. Sementara tidak jauh dari mereka terdapat dua orang yeoja yang tidak lain adalah Nara dan Miju yang belum diantarkan pulang. Hayoung melangkahkan kakinya mendekati pria gwangju yang belum berhenti gila-gilaan dengan teman-temannya.

“Oppa, bisakah kau mengantarku pulang?” Tanya Hayoung menghentikan percakapan J-hope dengan yang lain, membuat mereka semua melirik kea rah Hayoung.

“Hmm… sepertinya tidak bisa.”

“Waeyo?” Tanya Hayoung meminta penjelasan karena jarang-jarang J-hope menolak permintaannya kecuali itu adalah permintaan yang gila.

“Mian, tapi… aku harus…” J-hope menggantungkan kalimatnya sementara otaknya tengah memikirkan apa yang harus ia gunakan sebagai alasannya. Karena satu hal, Hayoung harus pulang dengan Sehun. Ya, mereka sudah merencanakan hal ini sedari tadi. “Mengantarkan Miju.”

“Mwo?”

“Miju-ssi!! Ayo kuantarkan pulang!”

“Ne?” terkejut? Itulah yang dirasakan Miju saat ini. Hatinya terasa berbunga-bunga begitu dirinya ditawarkan pulang oleh orang yang disukainya. Namun semua itu sirna begitu melihat J-hope meng-kode-kan sesuatu kepadanya. Miju baru ingat bahwa mereka memiliki masih memiliki satu rencana lagi. “Oh, iya. Baiklah.” Ujar Miju sambil melangkahkan kakinya mendekati J-hope yang sudah berada diatas motornya.

Hayoung mendengus kesal ini adalah pertama kalinya J-hope menolak permintaannya yang tidak gila. Karena sebelum-sebelumnya hayoung pernah meminta J-hope mendorongnya ke sungai karena terlalu marah dengan orang tuanya yang tidak bisa hadir diacara teater pertamanya padahal Hayounglah yang menjadi pemeran utama di teater kecil-kecilan itu, atau meminta kembali obat tidurnya yang pernah dibakar oleh J-hope sebagai gantinya J-hope mengajak Hayoung ketaman bermain, atau disaat Hayoung ingin mengerjai siswa-siswa yang pernah membully-nya, J-hope melarangnya karena kata J-hope ‘tidak boleh membully orang lain apapun alasannya’, dan lain sebagainya.

Namun melihat tatapan Miju yang tampak menyukai hal itu, ani, lebih tepatnya J-hope. Hayoung pun membiarkannya saja dan memilih untuk mencari tumpangan yang lain. Hayoung hanya berpikir, pasti J-hope oppa akan sangat cocok dengan Miju oenni.

“Luhan! Tolong antarkan aku pulang!” pinta Hayoung yang sudah beralih ke Luhan yang berada disamping Sehun. Sebenarnya ia ingin meminta Jimin atau Jungkook atau Baekhyun yang mengantarkannya, tapi karena Baekhyun sudah pulang bersama Jimin dan Jungkook sudah pulang bersamaan dengan mereka, Hayoung gak jadi numpang deh…

“Shireo! Kau tidak memanggilku oppa.” Hayoung tertohok. Heol… Apakah hanya karena itu dia tidak mau mengantarkanku pulang? Tanya Hayoung kesal didalam hatinya. “Aku akan mengantarkan Kim Nara pulang.” Lanjut Luhan yang menangkap tatapan tidak percayanya Hayoung namun sayangnya jawaban yang ia berikan masih belum bisa diterima oleh Hayoung.

“Mwo? Andwae!! Kau tidak boleh mengantarkan Nara oenni pulang! Biarkan Sehun yang mengantarkannya pulang!”

“Aku tidak mau.” Hayoung melirik tajam Sehun yang baru saja mengeluarkan suara beratnya.

Gwenchana Nara-ya. Gwenchana. Uljima. Ini adalah bagian dari rencana. Lagipula kau masih mempunyai pacar, Kim Nara. Tidak seharusnya kau masih menyukai Oh Sehun, karena dia bukan siapa-siapamu lagi sekarang.  Batin Nara menyemangati dirinya yang merasa sakit dengan tiga kata penolakan dari mulut dingin Sehun.

“Tuh kan, Sehun tidak mau. Makanya aku yang akan mengantarkan Kim Nara pulang. Benarkan Nara-ssi?” Tanya Luhan yang sudah berada diatas motornya mengarah kepada Nara meminta penguatan fakta.

“Ne. aku pulang dulu ya, Hayoung-ah. Kau bisa pulang dengan Sehun.” Ujar Nara lembut kepada Hayoung agar Hayoung mau.

“Tidak akan!”

Ya, sepertinya tidak sesuai dengan harapan.

Nara hanya menghela nafas berat karena ia rasa hal ini akan lebih sulit dari yang telah mereka pikirkan. Sebelum akhirnya Luhan membawa motornya ke jalanan Seoul yang cukup padat.

Yak! Padahal aku sudah merelakan Nara diantar oleh Luhan hyung supaya kau bisa pulang denganku. Tapi kenapa kamu malah nolak sih?! Gerutu Sehun didalam hatinya sambil menatap tajam kea rah Hayoung yang juga balik menatap tajam ke arahnya.

“Apa lihat-lihat? Hah?” seru Hayoung kesal.

“Gak ada apa-apa tuh!” balas Sehun tak kalah kesal.

Selama beberapa detik mereka saling menatap kesal satu sama lain, sampai akhirnya Hayounglah yang pertama kali memutuskan tatapannya dengan membalikkan arah tubuhnya membelakangi Sehun dan berjalan sendirian meninggalkan Sehun yang merubah tatapannya menjadi tatapan sendu. Ya, Sehun hanya menatap sendu punggung Hayoung yang semakin mengecil, mengingat ia pernah melukai punggung itu.

“Yak! Kau mau kemana?” Tanya Sehun setelah kembali sadar dari lamunannya sambil melangkahkan kaki panjangnya menyusul Hayoung.

“Tentu saja pulang. Memangnya apalagi?” Tanya Hayoung balik tanpa menatap Sehun dan hanya focus ke jalanan.

“Hanya dengan jalan kaki?”

“Mungkin. Aku bisa menggunakan bus.”

“Lalu bagaimana jika kau bertemu dengan Jiyeon lagi?” Tanya Sehun tepat membuat Hayoung berhenti melangkah seperti yang ada dipikirannya. Hayoung tampak melirikkan bola matanya ke sana dan kemari demi mencari sebuah alasan yang sepertinya cukup sulit.

“Eum… yah… itu… aku bakalan gak apa-apa tuh.” Jawab Hayoung agak ragu sambil melanjutkan langkahnya. “Memangnya sejak kapan kau perduli dengan itu?”

“Sejak aku tahu kalau Jiyeon selalu mem-bully-mu.” Jawab Sehun serius namun sayangnya Hayoung tidak menanggapi hal itu sebagai hal yang benar.

“Huh! Omong kosong-mu berkembang. Lebih baik kau merayu Nara dengan itu.” Sindir Hayoung sinis membuat Sehun geram akan itu.

“Yak! Apa-apaan itu?!”

“Tanyakan pada dirimu sendiri.”

“Yak!”

“Eomma!!” seru Hayoung yang terkejut begitu merasakan kakinya yang tidak lagi menginjak tanah beraspal. Dikarenakan Sehun yang geram mengangkat tubuh Hayoung dan membawanya ke atas motornya yang masih bertengger didepan basecamp.

“Tak seharusnya kau memilih berjalan kaki untuk pulang. Kakimu akan patah, lagipula kau baru saja pulang dari rumah sakit. Lalu bagaimana bila kau bertemu dengan Jiyeon lagi? Aku tidak mau kau dibully lagi olehnya. Sudah cukup bully-annya itu. Akan kupastikan hari ini adalah hari terakhirnya membully-mu.” Oceh  Sehun panjang lebar yang sudah berada diatas motornya ditambah helm keselamatan yang sudah melindungi kepalanya. Sementara Hayoung hanya duduk diam dibelakangnya plus tatapan aneh yang Hayoung berikan kepada Sehun, karena jarang-jarang Sehun mau memperhatikan dirinya.

Tiba-tiba tangan kanan Sehun yang tengah menggenggam sebuah helm keselamatan terulur ke arah Hayoung, seperti ingin memberikan benda itu kepada dongsaeng-nya. “Helm?”

Hayoung pun meraih benda yang menjadi property penting ketika berada dimotor dan memasangkannya ke kepalanya. Sementara Sehun mulai menghidupkan mesin motornya. “Pegangan.” Ujar Sehun memberikan instrupsi kepada Hayoung agar yeojaitu segera bersiap.

“Shireo! Aku tidak akan menyentuhmu seujung jari pun.”

“Baiklah kalau itu yang kau mau.”

Tanpa diduga Hayoung, ternyata Sehun mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, membuat Hayoung mau tak mau menggenggam pundak namja itu agar dirinya tidak jatuh dari motor. Sementara Sehun hanya menyungging senyum kemenangannya begitu merasakan pundaknya yang berat. Sangat tidak lucu apabila muncul sebuah berita ‘Kematian merenggut nyawa seorang yeoja karena jatuh dari motor’, dan menyuruh orang-orang untuk lebih berhati-hati apabila menggunakan motor, tidak seperti yeoja malang itu.

“Yak!” seru Hayoung memekakkan telinga Sehun. “Turunkan kecepatan motormu sekarang juga!”

“Shireo!”

“Yak!”

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Hayoung memukul punggung Sehun secara brutal demi menghentikan laju motor Sehun, membuat si empunya merintih kesakitan. Padahal sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, kekuatan yang Hayoung berikan tidak cukup untuk memberikan rasa sakit kepada Sehun yang memiliki pertahan tubuh dua kali lebih kuat dari Hayoung. Oh iya, sepertinya Sehun hanya berpura-pura kesakitan saja.

“Akh! Akh! Arasseo!”

Sehun pun mulai menurunkan kecepatan motor yang tengah dilajukannya itu sesuai dengan perintah Hayoung. Hayoung mendesah lega begitu merasakan semilir angin yang menyambutnya mulai sepoi-sepoi, tidak sekencang tadi, itu artinya Sehun sudah menurunkan kecepatan laju motornya.

“Ini lebih baik.”

Karena sudah merasa aman, dengan perlahan Hayoung menarik kembali tangannya yang menggenggam pundak Sehun dan duduk dengan nyaman. Sehun kecewa, merasakan beban yang tadinya ada dipundaknya kini sudah tidak disana lagi. Begitu juga dengan Hayoung, entah kenapa ada rasa tidak rela ketika dirinya tidak lagi bersandar dibahu yang lebar itu. Ingin sekali dirinya kembali bersandar dibahu itu, tapi kegengsiannya menghalangi Hayoung untuk bersandar pada bahu nyaman itu.

“Menurutmu, bagaimana hari ini?”

“Hari ini? Sangat menyebalkan.” Nafas Sehun tercekat, memikirkan betapa buruknya dirinya yang tidak bisa menjaga dongsaengnya sendiri. “Pada awalnya. Tapi diakhiri dengan hal yang menyenangkan. Aku sangat menyukai happy ending.” Lanjut Hayoung santai, sementara oppanya menghela nafas lega. Setidaknya hari ini sudah 50:50, dan besok-besok sudah harus lebih meningkat.

Cukup lama mereka berada didalam keheningan, sampai akhirnya Sehun merasakan sesuatu yang berat menimpuk punggungnya. Sehun mengerutkan keningnya keheranan. Bukankah tadi Hayoung ngotot tidak ingin berpegangan padanya? Tapi sekarang?

“Hayoung-ah, kau tidur?” Tanya Sehun lembut, namun tetap saja hening. Tidak ada satu pun jawaban dari Hayoung yang sudah menutup matanya dan berimajinasi ke alam mimpi.

“…”

“Ternyata kau sudah tidur. Sepertinya kau benar-benar lelah, saking menyenangkannya hari ini.” Gumam Sehun pelan karena dirinya tidak berniat untuk membangunkan Hayoung. Sehun merasa khawatir begitu dirinya merasakan kepala Hayoung mulai bergeser dari punggungnya. Sehun pun memelankan laju motornya dan menepikan motornya.

“Seharusnya kau berpegangan padaku, jika kau tidak ingin jatuh.” Lirih Sehun sambil membalikkan tubuhnya kebelakang menghadap Hayoung yang masih tertidur, dan membenarkan posisi kepala Hayoung yang bersandar dipunggungnya, juga mengalungkan tangan Hayoung diperutnya agar Hayoung tidak terjatuh nantinya.

Setelah dirasa cukup, Sehun pun kembali melajukan motornya ke tengah jalan. “Kenapa kau tertidur? Padahal sebentar lagi kita akan sampai.” Gumam Sehun  yang melajukan motornya dengan kecepatan sedang diantara beberapa kendaraan lainnya yang lebih memilih untuk melajukan kendaraan mereka dengan kecepatan yang lebih tinggi, sehingga tidak terhitung sudah berapa kendaraan yang melewati motor Sehun, bahkan kendaraan yang dikendarai oleh bapak-bapak tua sekalipun. Satu alasan untuk itu, Sehun hanya takut Hayoung akan jatuh dari motornya.

(aigoo… oppa yang baik. Fighting Oh Sehun!)

***

Pagi hari yang cerah adalah awalan yang indah untuk memulai hari dengan berangkat ke sekolah, namun sayang hal itu hanya berlaku untuk beberapa orang saja. Pagi yang cerah ataupun pagi yang mendung pun, mereka akan berangkat ke sekolah yang hampir mirip penjara – bagi haksaeng yang malas sekolah – atau apapun itu, selagi hari itu bukanlah hari minggu atau tanggal merah lainnya.

Disalah satu ruangan kelas, terdapat beberapa orang tengah berkumpul disana. Mereka saling bercanda ria, berbagi cerita dan lain-lainnya. Inilah yang selalu mereka lakukan sebelum bel masuk berbunyi, tanpa terkecuali Sehun dan teman-temannya

“Apa yang mereka ributkan?” Tanya Sehun heran melirik beberapa kerumunan yang sepertinya membicarakan perihal yang sama.

“Mereka? Mungkin berbicara tentang murid baru.” Jawab Chanyeol seadanya.

“Murid baru?”

“Hyung yang satu ini benar-benar… kurang update.” Canda Jungkook pelan, takut kalau-kalau hyung yang disindirnya itu akan mengamuk. Tempramen Sehun memang cukup buruk akhir-akhir ini.

Namun ironisnya, Sehun menyadari hal itu. Dan tepat sebelum Sehun akan memarahi Jungkook, J-hope tiba-tiba datang dengan sebuah berita yang tengah gempar disekolah mereka. “Hei! Hei! Hei! Apa kalian sudah tahu? Akan ada murid baru disekolah kita.”

“Sudah.” Jawab Sehun datar yang disambut tatapan aneh dari J-hope.

“Heol… tumben. Biasanyakan uri Sehunie tidak pernah mau peduli. Alias… kurang…” J-hope sengaja menggantungkan kalimatnya, yang ia ganti dengan gelengan kepala yang pelan. Yang mengisyaratkan bahwa itu bukanlah hal yang bagus untuk dibicarakan. Atau sepertinya itu adalah hal yang sudah Jungkook katakana tadi.

“Kurang apa?”

“Kau tahu sendiri apa jawabannya. Aduh… aku jadi gak tega bilangnya.”

“Ah! Lupakan!”

“Hei! Hei! Hei! Apa kalian sudah melihat yeoja itu?” Tanya Kai yang baru saja datang keperkumpulannya.

“Nugu?”

“Si murid baru.”

“Darimana kau tahu kalau dia itu yeoja?” Tanya Jimin heran, karena yang informasi yang baru ia dapat hanyalah kata ‘murid baru’, belum sampai ke informasi yang se-spesifik itu.

“Aku bertemu dengannya tadi. dia benar-benar cantik.” Ujar Kai sambil membayangkan bagaimana paras yeoja itu ketika mereka bertemu tadi. sekedar informasi saja, tadi mereka tidak sengaja bertemu dan berakhir dengan yeoja itu minta diantarkan ke ruang guru, oleh karena itu Kai menebak bahwa yeoja itu adalah murid baru, karena pasti semua murid disekolah ini mengetahui dimana letak ruangan itu. “Karena aku yang pertama kali melihatnya, jadi dia milikku. Jangan ada yang mendekatinya!”

“Hei… kau ini. Bagaimana kalau nantinya dia yang tidak mau dengan orang hitam sepertimu?” sindir Baekhyun disertai kekehan jahilnya dan yang lain, mengingat kulit Kai yang agak berbeda.

“Yak! Aku tidak hitam. Hanya sedikit gelap.”

“Itu adalah hal yang sama.” Tambah Taehyung, membuat namja  berkulit tan itu semakin kesal yang menjadi bahan candaan mereka.

“Tapi dengar-dengar dia agak mirip dengan seorang siswi dikelas sebelah. Siapa namanya ya? Akh! Aku lupa.” Luhan berusaha mengingat-ingat nama siswi yang tidak terlalu ia kenal wajahnya. Luhan hanya sekedar tahu yeoja itu, tapi ia tidak terlalu kenal dengan yeoja yang cukup terkenal itu.

“Dasar orang tua.” Ledek Jimin pelan, sangat pelan agar Luhan tidak dapat mendengarnya.

“Mwo—”

“Haeryung. Na Haeryung.” Potong J-hope, menghentikan kekesalan Luhan yang baru saja mau keluar.

“Seperti biasa, tukang gossip.” Ledek Sehun.

“Itu lebih baik darimu, kulkas berjalan.”

“Yak! Apa-apaan itu?!”

“Hayoung yang memberikannya, khusus untukmu.”

Sehun terdiam mendengar nama dongsaengnya yang baru saja disebutkan oleh J-hope. Bahkan adiknya sendirilah yang memberikan nama itu, kenapa dia harus se-emosi itu?

“Cih! Bahkan yeoja itu tidak jauh berbeda dariku.”

“Geure, kalian sama-sama kulkas berjalan.”

“Haishh!”

TENG… TONG… TENG… TONG…

“Kenapa waktu cepat sekali berlalu?” keluh Jimin begitu mendengar bunyi bel yang menggema ke seluruh sekolah yang menandakan bahwa kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai.

“Aigoo… jangan merindukanku nanti ya, Jiminiie. Fokuslah pada pelajaranmu.” Canda J-hope tak lupa cengiran jahilnya yang disambut tawa lepas oleh yang lain.

“Haishh… Shikeuro!”

Akhirnya Jimin dan yang lain pun keluar dari kelas itu, menyisahkan Sehun, J-hope dan Kai yang merupakan siswa kelas itu bersama beberapa siswa lainnya yang bergerak menuju bangku masing-masing. Karena guru mereka tengah berjalan kemari.

“Selamat pagi, anak-anak.”

“Selamat pagi.”

“Seperti yang kalian ketahui, kita mendapatkan seorang siswa baru hari ini.” Ujar Lee saem – guru yang mengajar matematika sekaligus wali kelas mereka – berbasa-basi terlebih dahulu, sebelum akhirnya mempersilahkan seseorang untuk masuk ke kelas mereka. “Silahkan masuk nak.”

Sepasang kaki beralas kaos kaki putih dengan panjang mencapai lutut beserta sepatu hitam mengkilat yang sedari tadi menunggu diluar kelas pun akhirnya melangkah maju ke depan kelas. Kini seorang yeoja berambut coklat panjang yang memiliki tubuh langsing dengan tinggi semampai itu berdiri disamping Lee saem, menyapukan pandangannya ke seluruh kelas yang akan menjadi teman barunya.

“Annyeong haseyo, joneun Son Naeun imnida. Saya masih baru disini, jadi dimohon bimbingannya.” Ujar yeoja itu – Naeun memperkenalkan diri.didepan kelas. Sehun terperangah begitu mendengar yeoja itu memperkenalkan diri, ia merasa familiar dengan nama itu, tapi ia lupa dimana atau kapan ia mendengar nama yang seharusnya tidaklah asing itu.

“Mungkin ada beberapa diantara kalian yang membingungkan sesuatu. Seperti wajah saya yang mirip dengan seseorang bernama ‘Na Haeryung’, karena dia adalah sepupu saya.” Lanjut Naeun, sementara teman-temannya hanya membalasnya dengan ber-oh ria karena rasa penasaran mereka sudah dijawab oleh yeoja itu. Namun tidak bagi Sehun, jawaban itu tidak membantunya sama sekali.

“Baiklah, eum… sepertinya tidak ada bangku kosong.” Gumam Lee saem menyapukan pandangannya berniat mencari satu set bangku yang dapat ditempati oleh Naeun, namun sayangnya tidak ada lagi bangku yang kosong dikelasnya. “Dasar kakek tua itu, bagaimana mungkin ia memasukkan murid baru ke kelas yang sudah penuh?”

“Ketua, tolong ikut saya mencari satu bangku.”

“Ne.”

“Son Naeun, duduklah dulu dibangku ketua sampai kami kembali. Arasseo?” titah Lee saem sebelum menghilang dibalik pintu bersama sang ketua kelas, membuat beberapa siswa yang berada dikelas itu menghela nafas lega dan mulai meribut dikarenakan pelajaran matematika hari ini akan sedikit tertunda.

“Ne, saem.” Sesuai perintah Lee saem, Naeun pun melangkahkan kakinya diantara beberapa bangku menuju sebuah bangku yang berada dideretan ketiga bagian tengah yang tadinya adalah bangku sang ketua kelas.

“Annyeong, Oh Sehun. Ternyata kita bertemu kembali.” Sapa Naeun yang melewati bangku Sehun sebelum duduk dibanngkunya yang tidak jauh dari tempat Sehun berada.

Sehun mengerutkan keningnya bingung, serta berpikir, pasti dirinya pernah bertemu dengan yeoja itu. Begitu juga dengan Kai yang merasa heran, kenapa Naeun bisa mengetahui nama Sehun dan menyapa namja itu, bukannya dirinya yang sudah menunjukkan letak ruang guru tadi pagi.

Sehun menggelengkan kepalanya gusar. Kenapa aku menjadi pelupa segala sih? Gerutunya kesal didalam hati.

Tbc…

Annyeong!!! Akhirnya aku update juga. Cukup lama ya? Ah… aku benar-benar minta maaf. Karena aku harus focus pada banyak hal.

Anyway, aku ingin berterima kasih kepada semua pembaca yang sudah mendukungku. Tunggu chapter selanjutnya ya…

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s