[EXOFFI FREELANCE] Crazy With You [Chapter 2 : Gift ]

CRAZY WITH YOU.jpg

Tittle : Crazy With You [Chapter 2 : Gift ]

Author: Babyjae96

Length: Chapter

Genre: Romance,School Life, Comedy

Rating: PG-17

Main Cast :

Park Yena [OC]

Do Kyungsoo [EXO] & Oh Sehun [EXO ]

Disclaimer : Fanfic ini hasil karya otak ku sendiri dan kemudian tersalurkan kedalam Fanfic ini, jika ada kesamaan dengan ff lain hanya kebetulan semata.

Fanfic ini juga di publish di blog pribadiku https://babyjae96.wordpress.com/

Hadiah yang kau berikan benar-benar membuatku gila

.

.

“Hadiah apa?”

“Jangan terkejut!”

“Tidak akan!”

Yena melihat wajah Kyungsoo sebal, jika ini bukan sesuatu yang penting ia mana mau menemui pria ini lagi, tangannya itu Yena masukan kealam saku blazer yang dipakainya kini mengambil sesuatu yang akan ia jadikan hadiah untuk Kyungsoo.

Kyungsoo melihat Yena mengeluarkan sesuatu dalam sakunya, sebuah kertas? Tidak, itu bukan kertas tapi seperti sebuah foto. Yena memberikan itu padanya “Ini..lihatlah”

Kyungsoo menerimanya, ia benar ini sebuah foto..foto berwarna hitam –putih itu menambilkan sesuatu yang… ia tidaklah bodoh, ini adalah sebuah foto hasil usg dan gumpalan berwarna hitam itu adalah sebuah janin..mungkinkah?

“Aku hamil” Ungkap Yena tenang. Kyungsoo hanya diam, ia tak bisa berkata-kata karna terkejut tapi itu terlihat dari ekspresi wajahnya, “Aku memberikannya sebagai hadiah untukmu.. itu anakmu!”

“Kau…”

“Aku tidak meminta kau bertanggung jawab karna aku tidak mau menikah denganmu, aku juga tak berniat menggugurkannya tapi aku malah memikirkan untuk membesarkannya sendiri” Yena menjelaskan rencananya, ia memang tak yakin tapi itulah yang ia yakini sekarang.. sungguh ia tak meminta pertanggung jawaban Kyungsoo karna ia memang tak mau menikah dengannya, berpikir akan menjadi istrinya dan hidup bersamanya..Oh, tentu tidak!

“Jadi ini anakku?”

“Lalu anak siapa? Walaupun aku memang nakal tapi aku tetap menjaga diriku, aku hanya melakukannya denganmu.. percayalah, itu anakmu” Yena merapatkan blazernya menutupi perutnya ketika udara dingin menghampirinya “Jangan khawatir, aku akan pergi setelah ini.. maka dari itu aku memberikan itu padamu, setidaknya kau harus tau kau memiliki anak”

Kyungsoo masih diam, ia kembali memandangi foto kecil itu perasaannya sekarang tak pasti, ia tentu terkejut karna tak menyangka hal ini akan terjadi walaupun ia slalu memikirkannya takut Yena akan hamil, ada sesuatu yang menggeletik hatinya ketika melihat janin didalam foto itu.. benarkah itu anaknya? Oh, usianya bahkan baru 20 tahun dan terlalu muda untuk menjadi Ayah.

“Ah.. Dingin, aku pergi… Jangan terlalu memikirkannya, Oh ya.. dia baru berusia 50 hari dan dia sedang banyak mengeluh diperutku” Yena kemudian berdiri “Aku akan benar-benar pergi, selamat tinggal Do Kyungsoo” Salamnya pada Kyungsoo tapi pria itu malah diam tak bergeming sama sekali membuat Yena menggerutu kemudian melangkah pergi dari sana, ini terlalu dingin dan ia tak mau sakit karna kedinginan.

50 hari? Apakah ini benar-benar anaknya? Ya, ini memang pasti anaknya jika tidak mengapa Yena memberikan kepadannya bahkan tak meminta pertanggung jawabannya, Ya Tuhan apa yang harus ia lakukan sekarang?

.

.

“Huaaa…. Bagaimana??? Aku harus membesarkannya sendiri Eunsoo-ya…”

Yena menangis keras didalam kamar Eunsoo, ia berniat menginap disini selama beberapa hari selama orang tua Eunsoo keluar kota. Sebenarnya Yena tidak baik-baik saja,  walaupun ia mengatakannya semua pada Kyungsoo dengan tenang tadi sebenarnya tidak, ada sebuah perasaannya yang menyakitinya saat mengatakan semua itu tadi tapi ia mencoba menutupinya.

“Bukankah sudah kubilang minta pertanggung jawabannya untuk menikahimu!”

“Aku tidak mau!! Aku tidak mau menikahinya Eunsoo!!!”

“Lalu apa yang kau inginkan?”

Yena berhenti menangis, ia menaikan kepalanya yang sejak tadi menunduk dan kini menampilkan wajahnya yang berantakan karna make up nya yang luntur, dia belum sempat menganti pakaian dan membersihkan make up nya itu “Haruskah aku mengugurkannya?”

“YA!!!!”

“Aku juga tidak mau” Yena kembali menunduk memeluk perutnya “Maaf. Maafkan Omma.. Omma akan merawatmu sendiri” ia menyesal telah mengatakan kata-kata itu tadi, ia hanya terbawa emosi saja karna ternyata ini tak semudah yang dipikirannya, sebenarnya ia belum siap dengan ini semua.

“Tapi, kenapa kau bilang kau akan pergi? Bukankah apartement mu dekat dengannya”

“Oh Itu…” Itu benar, kenapa juga ia bilang ia akan pergi disaat mereka tinggal berdekataan dan akan memalukan jika mereka tetap bertemu setelah ia mengucapkan selamat tinggal padannya “Itu terjadi begitu saja, aku tidak sadar mengucapkannya..aku hanya ingin dia tak khawatir saja”

“Ya! Lalu sekarang bagaimana?”

“Apakah Sehun akan menerimaku jika aku melamarnya lagi?”

“Kau gila?! Sehun sudah tidak disini, dia sudah ada di Amerika lagipula mana mungkin ia mau menerimamu dengan keadaanmu sekarang”

“Kau benar, seharusnya saat itu aku serius bilang saja mau menikahinya jadi dia bisa membawaku kesana juga” Yena menatap kosong kedepan dan tertawa sendiri, Eunsoo menggelengkan kepalanya berharap temannya tak akan gila “Sudahlah, sekarang kau mandi lalu beristirahat!”

Yena hanya mengangguk diam masih memikirkan nasibnya kelak, ia sudah memiliki rencana jika nanti ia akan pindah kesuatu tempat yang tenang tak peduli jika tempat itu berada didesa yang penting ia ingin memulai hidup barunya disana dan juga membesarkan anaknya nanti, tapi untuk pindah ia membutuhkan uang dan Ayahnya belum mengirimnya uang selama tiga bulan ini bahkan untuk keperluannya sehari-hari ia mengambil uang tabungannyadan  menjual barang-barangnya dan terkadang ia makan dirumah Eunsoo atau dulu Sehun slalu mengajaknya keluar makan. Ah, kenapa Ayahnya juga mengirim uangnya, apa Ayahnya sudah melupakannya?

Ya, sekitar lima tahun lalu Ayahnya pergi berkerja di luar negri entahlah dimana karna Ayahnya itu tidak pernah menjawabnya dan selama lima tahun ini ia tinggal disini sendiri, Ibunya pergi entah kemana dan ia juga tak memiliki sodara, orang tua nya tak pernah membicarakan tentang saudara mereka. Setiap bulannya Ayahnya itu slalu mengirimnya uang, mereka bahkan sudah lama tak saling menelpon dan sudah tiga tahun ini beliau tidak pulang hanya mengiriminya uang saja atau memberinya pesan singkat jika ia sibuk. Tentu saja Yena sedih, tapi bagaimana lagi.. sekarang ia malah seperti anak yang dilantarkan Ayahnya tiga bulan ini, Ayahnya hanya memberinya pesan jika ia akan segera mengirim uang tapi nyatanya sampai sekarang belum bahkan Yena terpaksa menunggak untuk flat nya itu.

.

.

Hadiah yang diberikan Yena berhasil membuat hari-hari Kyungsoo tak tenang, ia tak bisa berkonsentrasi saat berkerja paruh waktu ataupun saat belajar, ini membuatnya frustasi karna tidak tau apa yang harus dilakukannya bahkan untuk menelpon Yena saja ia tak berani, apa dia benar-benar sudah pergi? Ia tak pernah melihatnya sejak hari perpisahan, apartement nya juga sepi padahal biasanya dia menyalakan musik keras. Jadi, dia benar-benar pergi?

Kyungsoo menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidurnya, ditangannya ia memegangi foto yang menjadi hadiah untuknya itu, itu anaknya? Ia tak seharusnya bersikap seperti ini kan? Mengambaikan anak kandungnya sendiri, sejujurnya ia tak mau dan sekali lagi ia mengakui dirinya memang pengecut untuk ini, ia hanya.. ia takut, masa depannya sudah ada didepan mata dan ia berhasil masuk ke universitas yang ditujunya ia tak ingin melepas begitu saja masa depan yang susah payah ia raih selama ini.

“Akkkhhh…” Kyungsoo menaruh foto itu disampingnya, ia memegangi kepalanya dan memejamkan matanya “Hadiah yang kau berikan benar-benar membuatku gila” Gumamnya menyadari betapa gila nya ia karna hadiah itu, sekarang ia masih belum tau apa yang harus dilakukannya, melupakannya? Tentu saja ia tak bisa, kenyataan ia memiliki anak itu benar-benar membuatnya merasa bingung tak tau apa yang harus ia lakukan. Menikahi Yena? Ia sempat memikirkannya tapi… Tidak, keduanya tidak akan cocok bahkan mungkin mereka akan bercerai hanya dalam waktu hitungan hari setelah mereka menikah nantinya, namun jika anak itu lahir itu tanpa Ayah..Oh, Kyungsoo tidak mau, ia tau bagaimana rasannya tak memiliki Ayah dan kesepian karna itu, “Astaga apa yang harus kulakukan?”

.

.

Sudah lima hari Yena menginap di rumah Eunsoo dan setiap pagi ia pasti akan mengalami ini,Pagi ini ia mengalami mual-mual bahkan tadi ia baru saja memakan sesuap sarapannya, Eunsoo dengan setia menungguinya didepan kamar mandi. Yena tak mau Eunsoo melihat hal menjijikan ini, apalagi mereka tadi sedang sarapan.

Eunsoo khawatir dengan Yena yang tak membiarkanya masuk, “Yena-ya.. Kau tidak apa-apa?”Tanya Eunsoo mengetuk pintu kamar mandi yang berada disalah satu kamar dilantai dasar rumahnya. Yena tiba-tiba saja mual saat mereka sarapan dan langsung lari kemari, mengunci pintu agar ia tak bisa kedalam.

Yena sudah berdiri lagi setelah membersihkan mulutnya dan mencuci tangannya, ia bisa melihat wajahnya dicermin dalam kamar mandi itu yang sedikit pucat karna sejak kemarin ia tak banyak makan karna terus saja mual, ia hanya makan sup saja kemarin siang,  “Aku baik-baik saja!” Yena keluar dari sana dan melihat Eunsoo yang langsung memberinya pertanyaan-pertanyaan, dia tau sahabatnya itu khawatir “Bukankah sudah kubilang, aku baik-baik saja”

“Tapi kau pucat”

“Aku hanya merasa sedikit tidak enak badan” Yena memegangi tengkuknya “Oh ya.. sekarang orang tuamu pulang kan?”

“Iya”

“Aku akan pulang”

“Kenapa? Disini saja”

“Tidak.. aku harus mengurus sesuatu juga, lagipula disini aku hanya menemanimu karna kau takut sendirian dirumah” Ucap Yena kemudian merangkul Eunsoo “Ya! Ayo kita lanjutkan sarapannya..sekarang aku merasa lapar” ia menarik Eunsoo kembali ke dapur untuk menikmati sarapan yang dibuat Eunsoo, ia tak enak jika tak memakannya bahkan tadi langsung memuntahkannya. Ah, anak nya ini kenapa tak bisa menghargai usaha Eunsoo saja. Sebenarnya, Yena masih ingin tinggal disini dan menghindari Kyungsoo, tapi ia tak mau menganggu keluarga Eunsoo yang akan pulang dan juga akhir pekan nanti Eunsoo akan pindah mengikuti kakaknya ke Gwangju karna ia diterima di salah satu universitas disana.

.

.

Kyungsoo baru saja menyelesaikan pekerjaan paruh waktunya disebuah perpustakaan umum, ia kembali ke gedung apartement nya untuk menganti pakaiannya yang lebih tebal karna nanti malam ia harus berkerja di tempat lain. Langkahnya perlahan menaiki anak tangga menuju apartement sederhana itu, disini memang ada lift tapi buat apa naik lift jika apartementnya berada di lantai dua..lalu dimanakah apartement Yena? Apartementnya juga ada dilantai yang sama hanya berbeda 6 nomor saja darinya.

Kyungsoo tak sengaja melihat kearah depan pintu apartement Yena yang dipenuhi orang, ia memang melewatinya jadi otomatis ia melihat dimana barang-barang didalam rumah itu sudah ada diluar, ia berpikir jika Yena benar-benar akan pindah.

“Oh.. Kau teman anak yang tinggal disini kan?”

“Ne?” Ia menghentikan langkahnya ketika seorang Ahjumma dari dalam apartement Yena menghentikannya, “Kau berteman dengan anak yang tinggal disini kan? Yena?”

“Ahjumma siapa?”

“Aku pemilik apartement ini, Anak itu sudah tidak membayar apartement ini tiga bulan dan handphone nya tidak aktif” Ahjumma itu terlihat menyeramkan ketika menjelaskannya pada Kyungsoo “Kau tidak mengenalnya?”

Kyungsoo menggeleng pelan, matanya melihat kedalam dimana beberapa orang membawa barang-barang Yena keluar, barangnya tidak cukup banyak juga karna sepertinya Ahjumma ini mengeluarkan yang tidak penting saja.

“Oh sudahlah.. Aku akan membuangnya saja”

“Jangan!” Kyungsoo diam sebentar menyadari ia baru saja melarang Ahjumma ini membuang barang-barang Yena dan kini Ahjumma itu memandangnya bingung. Kyungsoo langsup gugup saat itu “Maksudku..mungkin…”

.

Ya, sekarang Kyungsoo berada didepan apartement Yena dengan barang-barang wanita itu disekitarnya, ia sudah menghubungi Yena tapi ponselnya tidak aktif, sebenarnya ia mau tak peduli saja dan membiarkan Ahjumma tadi membuang barang-barang ini tapi… ia masih memiliki peri kemanusiaan, ya ini bentuk kemanuisaan saja dan sekarang ia bingung harus bagaimana dengan barang-barang Yena.

Kyungsoo ingin masuk kedalam apartementnya karna sebentar lagi ia harus berkerja di tempat lain, tapi.. bagaimana jika ada yang mencurinya? Oh.. kenapa ia terjebak dengan barang-barang ini. Kyungsoo menundukan kepalanya sambil menghela nafas berat, tapi matanya tak sengaja melihat sebuah buku catatan kecil yang sepertinya ia kenal.. ia mengambil buku itu dan akan membukanya, saat ia baru membuka sampulnya..

“Oh…. Apa ini?”

Yena terkejut ketika melihat barang-barangnya berada didepan apartementnya, ia malah lebih terkejut ketika melihat Kyungsoo berada disana “Oh..Kau..”

“Uruslah barang-barangmu, Ahjumma itu bilang kau sudah diusir dari tempatnya” Ucap Kyungsoo perlahan memasukan catatan kecil yang diambilnya itu kedalam saku jaketnya.

Yena membuka matanya lebar “Apa?? AHJUMMA ITU!!!” Teriaknya, ia langsung mengambil ponselnya didalam tas gendong yang dibawanya dari rumah Eunsoo tadi, sejak beberapa hari lalu ia memang tidak mengaktifkan ponselnya.

Kyungsoo melihat wajah panik Yena didepannya, entah kenapa ia merasa dia sedikit kurus dan wajahnya juga pucat.. apa dia menderita karna kehamilannya? Oh, kenapa ia merasa bersalah?

“Ahjumma… aku akan membayarnya..beri aku satu minggu saja..Ahjumma” Mohon Yena saat menelpon Ahjumma pemilik apartementnya ini “Oh Ahjumma, yeobseo..Ahjumma…Aishh Sial!!” Yena mencoba menelpon Ahjumma itu lagi tapi panggilannya tidak diangkat..”Ah, bagaimana ini?” ia mulai panik sekarang, sekarang ia sudah tak memiliki tujuan mana mungkin ia kembali ke rumah Eunsoo kan, ia tak memiliki teman lain selain Eunsoo, jika saja ada Sehun dia pasti akan meminta bantuan Sehun tapi sekarang malah ada pria itu disini.

Yena melihat Kyungsoo berjalan melewatinya, ia langsung menahan tangan pria itu memandangnya penuh harap..sialnya ia harus meminta bantuan orang yang ingin ia hindari ini “Kau akan meninggalkanku?”

Kyungsoo menaikan sebelah matanya, “Apa maksudmu?”

“Biarkan aku tinggal diapartement mu,huh?” Mohonnya.

“Mwo? Kau gila..”

Yena langsung memegang perutnya dan Kyungsoo melihatnya, “Aku tidak memiliki tujuan sekarang, setidaknya biarkan aku tinggal malam ini..untuk anakmu juga” Yena sedikit mengerucutkan bibirnya membuat ekspresi memohon agar Kyungsoo luluh padannya, lagipula yang ia katakan itu benar.. mana mungkin dia tega membiarkan anaknya kedinginan kan?

.

Ya, Kyungsoo luluh dia mengangkut barang-barang Yena kedalam apartementnya sedangkan wanita itu hanya mengambil barang-barang kecil saja dan kini sudah duduk santai di atas sofanya bahkan dia sudah menaikan kedua kakinya kesana.

“Ya!!! Kau..”

“Ah, aku lapar..” Yena berjalan menuju kearah dapur yang memang tak dihalangi apapun dari ruangan tengah itu, dia dengan santainya berjalan kesana seolah ini memang berada di apartementnya, ia membuka satu persatu lemari disana “Apa tidak ada rumyun?”

Kyungsoo akan menghampirinya tapi Yena terlanjur menemukan apa yang dicarinya. “Oh ketemu.. kau mau?”

“Tidak, kau saja” Balasnya dingin menahan emosi nya sendiri melihat tingkah Yena.

“Kenapa? Tak usah malu, kau mau kan?”

“Kenapa juga aku harus malu? Ini apartement ku!”

“Aku tau.. tak usah membentakku!” Teriak Yena mulai memasak air panas dalam panci mu itu. “Aku harus pergi” Kyungsoo berjalan masuk kedalam kamarnya untuk menganti pakaiannya sesuai tujuannya pulang kesini. Yena keluar dari dapur sambil membawa rumyun “Kau mau kemana?”Tanyanya sedikit berteriak, tak ada jawaban dari Kyungsoo yang berada didalam kamar itu “Ya!… jawablah..”

Kyungsoo keluar dari kamarnya dan sudah berganti pakaian yang lebih tebal karna cuaca malam ini memang dingin “Aku akan berkerja” Jawabnya cuek kemudian berjalan begitu saja keluar dari apartement meninggalkan Yena yang diam disana “Jadi kau berkerja.. Waw.. anak baik” Yena kemudian kembali ke dapur karna air panasnya sudah mendidih.

Malam ini, Yena menginginkan rumyun dan ia benar-benar kelaparan mungkin karna ia memang tak makan banyak saat dirumah Eunsoo. Bisakah ia makan dengan tenang setelah diusir dari apartementnya, tentu saja tidak.. Yena berpikir keras bagaimana ia bisa pindah jika sekarang ia tak memiliki uang ataupun tempat tinggal sementara, haruskah ia bergantung pada Eunsoo? Yena benar-benar tak mau merepotkannya lagi apalagi sekarang Eunsoo juga akan mempersiapkan kuliahnya di luar kota, bukan di Seoul karna dia tak diterima di universitas-universitas di sini. Yena yang pasrah memang tak berniat kuliah, ia melewatkan ujian universitasnya saat itu.

Yena  berharap Ayahnya akan menjawab panggilanya atau mengirimkan uang yang sudah tak dikirimkannya selama tiga bulan ini, ia benar-benar merasa dibuang sekarang, ia tak memiliki tujuan untuk pergi dan mungkin ia harus memohon lagi pada Kyungsoo untuk membiarkannya tinggal selama beberapa hari ini, Ah… memalukan, ia sudah mengucapkan selamat tinggal tapi malah bertemu lagi dengan Kyungsoo bahkan ia harus menginap disini.

Kyungsoo pulang larut malam saat itu, ia berkerja paruh waktu di sebuah pom bensin dan cukup melelahkan karna seharian ini ia full  berkerja. Oh, ya ia memulai perkulihannya minggu depan jadi ia masih bisa mengumpulkan beberapa uang saku untuknya. Kyungsoo melihat Yena sudah tertidur nyenyak di dalam kamarnya, dia bahkan tak meminta ijin darinya dan begitu saja tidur dikamarnya.

Tak hanya itu ia juga melihat dapurnya berantakan, Yena sama sekali tak mencuci bekas dia memasak rumyun nya itu dan lihatlah ruangan tengahnya yang dipenuhi barang-barang Yena dialam dus-dus itu.

Kyungsoo duduk disofa ruang tengah itu menghela nafas panjang, sekarang.. Yena berada di sini dan dia sedang hamil anaknya.. Oh, sekarang ia harus melakukan apa? Ia sudah berbuat baik dengan membiarkan Yena tinggal disini kan? Ahh..  sial, ia tidak tau harus bagaimana setelah ini apalagi memulai pembicaraan tentang kehamilan Yena nanti, tentu saja ia harus menanyakannya kan, berpura-pura tidak tau membuatnya seperti pria bodoh tapi rasanya sangat sulit di tanyakan.

.

Yena sudah bangun dari tidurnya beberapa menit yang lalu tapi merasa nyaman tidur di atas kasur Kyungsoo ini, awalnya ia masuk kedalam kamar ini hanya untuk melihat-lihat saja, kamar bersih, rapih dan dipenuhi buku ini memang tidak sesuai gayanya tapi.. akhirnya ia malah tertidur diatas tempat tidur empuk itu, ini bahkan lebih empuk dari kasur Eunsoo apalagi tempat tidurnya yang hanya beralasan selimut saja. Ah, ya.. ini memang bukan pertama kalinya ia tidur di tempat tidur ini.. hari itu.. Oh, Yena tak mau mengingatnya lagi kejadian yang membuatnya sekarang menjadi seperti ini.. ia tak mau stress terlalu memikirkannya, biarlah ini mengalir saja sesuai takdirnya mungkin ini yang terbaik agar dia menjadi semakin dewasa.

Yena beranjak dari tempat tidur itu, ia memegangi menepuk-nepuk dadanya karna merasa mual, apa mungkin karna ia terlalu banyak makan rumyun semalam? Oh, mungkin saja. Yena segera keluar kamar dan langsung melihat Kyungsoo yang, dia terduduk di sofa itu dengan rambut berantakan dan wajah seperti baru bangun tidur.

“Oh.. Kau tidur disofa? Kenapa?”

“ Karna kau menempati tempat tidur ku”

“Oh.Maaf, Ah.. aku ingin minum” Yena langsung berjalan ke dapur dan membuka kulkas berukuran sedang itu, ia melihat banyak minuman alkohol disana “Aku tidak pernah tau jika anak secerdas mu suka minum juga”

Kyungsoo tak menjawab, ia bisa melihat Yena melihat-lihat isi kulkasnya.. ia bukanlah anak kecil lagi kenapa juga Yena harus terkejut dengan banyaknya minuman itu disana, ia hanya minum saat merasa banyak tekanan saja apalagi dimusim dingin seperti ini, ini menghangatkannya.

“Apa tidak ada jus?”

“Memangnya ini toko, jika tidak ada disana berarti tidak ada” Balas Kyungsoo masih mengumpulkan kesadarannya, ia tak bisa tidur nyenyak semalam dan malah tertidur disofa padahal tadinya ia akan tidur di kamar yang dulu dipakai Ibunya tapi kamar itu kotor karna jarang ditempati.

Yena menutup kulkas itu, ia merasakan mual lagi dan kali ini ia akan benar-benar muntah.. langsung saja Yena berlari ke kamar mandi yang berada di sebrang dapur ini membuat Kyungsoo melihat padannya dengan bingung karna Yena tiba-tiba berlari, masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintunya dengan suara keras.

Hoekk…

Hoekkk…

Kyungsoo langsung berdiri dan berjalan menuju depan kamar mandi, ia berdiri didepan pintu dengan ragu apa yang harus ia perbuat sekarang,Yena pasti mengalami morning sicknessyang biasa terjadi pada Ibu hamil, ia berpikir harus masuk kedalam tapi bukankah itu tidak sopan tapi ini kan beda situasinya “Yena-ya..” ia membuka pintu itu tapi ternyata dikunci dari dalam.

Yena masih terus memuntahkan cairan menjijikan itu, ia merasa sudah lemas sekarang karna terus-terusan muntah percuma saja tadi malam ia makan banyak jika akhirnya seperti ini. Ini benar-benar menyulitkannya, apa ia tak bisa makan dengan tenang tanpa berakhir muntah, ia juga kasian pada anaknya.Ya, Yena bisa mendengar suara Kyungsoo memanggilnya, sama seperti saat ia melarang Eunsoo masuk.. ia tak mau Kyungsoo melihat ini semua dan bisa merusak selera makannya di pagi ini.

Sekarang Yena benar-benar lemas, energinya seperti sudah ditarik pagi ini, ia hanya bisa berbaring di sofa panjang itu dan bergumam tak jelas karna sekarang ia juga merasa sedikit pusing. Tentu saja, Kyungsoo khawatir “Yena-ya.. kau ingin sarapan apa?”

“Kau saja, aku tidak nafsu” Jawabnya lemah, menarik selimut tipis itu sampai lehernya lalu menutup matanya.

“Aku akan membuatkan sup, jika kau mau kedapur lah”

“Terserah” Yena tak tau kenapa tiba-tiba Kyungsoo menawarkannya sarapan, apa dia tak tau jika wanita hamil sangat sensitif di pagi seperti ini. Kyungsoo menghela nafasnnya kemudian berjalan menuju dapur membuat sup seperti yang dikatakannya tadi, entah Yena akan memakannya atau tidak setidaknya ia akan membuatkan sarapan.

Kyungsoo berdiri didapur melihat Yena dengan lahapnya menikmati sup yang dibuatnya, dia bilang tak nafsu makan tapi apa ini.. kekhawatirannya tadi sudah tidak ada melihat Yena sudah hampir menghabiskan sup itu, ia saja belum mengambil miliknya.

Yena tidak tau kenapa tiba-tiba saja saat ia mencium bau sup ini ia langsung berdiri dari sofa itu dan duduk di meja makan menunggu Kyungsoo memberikanya sup itu, ini aneh juga mengingat biasanya setiap pagi ia tak begitu bersemangat makan seperti ini.  Kyungsoo sedang berbalik memunggungi Yena untuk mengambil sup untuknya.

“Kau senang dibuatkan sarapan oleh Ayahmu kan?”

Kyungsoo bisa mendengar suara ucapan pelan Yena dibelakangnya itu, ia tidak tau kenapa itu membuatnya tersenyum di pagi ini mendengar Yena berbicara pada janin itu dan menyebutnya Ayah bagi janin yang berada di perut Yena itu membuatnya merasa sesuatu hal yang baru, ia bahagia.

To Be Continue…

Komentar Author :

Apakah nanti ada married-life? Kita lihat saja..

 

Iklan

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Crazy With You [Chapter 2 : Gift ]

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s